Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Sabiq Carebesth

mm

Published

on

SEPERTI PARA PENYAIR

 

Mata kita tambah redup

Tapi jiwa kita menyala

Berkobar di malam larut

Esok kita tak perduli

 

Kita terkutuk pada pagi

Dikutuki para penakut

Tapi kita burung rajawali

Pengembara malam

Tuan bagi kesepian sendiri

 

Mata kita terpejam

Hati kita berjarak

Pemberani kerap sendiri

Seperti para penyair

yang tak lagi menulis puisi

Tapi dalam hati

Terukir bahasa-bahasa

Sebagai puisi sunyi

Bagi jiwa yang sepi

Nasib kita malam ini

Bukan nasib kita subuh nanti

Selagi sepi memberi arti

Kita mau tambah merasuk

Dalam puisi—

yang ditulis dengan luka jiwa

untuk dibaca para pengelana

yang jiwanya bebas kembara

 

O pra penyair

Tergelatak di ranjang

Dadanya menyesak

Jiwanya berontak

Ingin ke luar

Menembus dinding

Barangkali rembulan

Menitip salam dari kejauhan

Rindunya yang dulu

Cintanya yang lalu

Jiwa kanak-kanaknya ambigu

Kenangan yang tak henti pergi

Pada waktu yang telah jadi abadi

 

Wahai para penyair

Sesekali menjauhlah

Berhenti dari rasa ngeri

Dalam segelas kopi

Barangkali ada kanak-kanak

Serupa kau dahulu..

 

Jakarta, 2016

 

PENYAIR DAN KUDANYA

 

Terdengar seperti suara genderang

Siapa akan berperang dengan kesunyian?

Aku melihat seekor kuda

Melompat dari dalam segelas kopi

Kuda dengan mata tampak beku

Sungguh jauh perjalanannya..

 

Apakah ada ksatria memanggilnya?

Hendak menyusuri kota

Menantang kebekuan

Atau mencari cinta

yang entah milik siapa

 

Seorang gadis berdiri dari duduknya

Di deretan kursi di kedai kopi

Aku tak menyangka—

Ia bercermin pada mata kuda

Lalu pergi menuntunnya

Barangkali ia mencari cintanya

Seorang kstaria yang telah menjelma

Menjadi pelana kuda

 

Tapi ia hendak ke mana?

O, dia ke arahku

Matanya menembus kalbuku

Kuhirup nafas penghabisan;

 

“Aku mencarimu penyairku

Pulanglah bersamaku

Tempat kau dimuliakan

Sebagai penunggang kuda

Yang bebas kelana..

Tinggalkan dunia di mana

Kuda-kuda memakan rumput

Dalam dunia kita, penyairku

Kuda-kuda memakan debu

Menenggak sisa badai

Kemudian berlari dalam kabut”.

 

Segelas kopiku tandas

Aku harus pulang

Menidurkan Puisi

Menjaganya dari mimpi buruk tentangku

 

Jakarta, 2016

 

JIWA TERAKHIR

 

Penyair adalah kuda-kuda selatan

Yang datang dari dalam lautan

Tak sudi jadi tunggangan

Tapi rela terluka demi perjalanan

 

Baginya tiada jalan kembali ke mula

Setiap kejauhan adalah mula

Bagi tujuan paling hampa

Yang telah dipilihnya

 

Ia adalah penderitaan

Ia adalah keluhan jiwa peradaban

Ia adalah penyair;

 

Yang fana waktu, luka-luka abadi

Betapa menderita penyair

Entah kapan keluh jiwanya berakhir.

 

Jakarta 2016

 

SABIQ CAREBESTH: Lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Buku kumpulan sajaknya “Memoar Kehilangan” (2011). Kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit,  “Tentang Waktu Penyair” (2016).

Continue Reading

Puisi

Puisi Sabiq Carebesth

mm

Published

on

 

“Cinta macam apa yang tak membuatmu muda?”

Dalam dunia di mana daun-daun menguning berguguran

Kau kenakan gaun warna merah—dadamu bertalu dipenuhi

Kucup rindu dan cinta yang berbahaya

Rindu yang jadi semenjana semenjak musim menjadi lalu

Dan usia tak lagi muda—dalam dunia yang tua

Kenangan telah menumpuk menjadi temaram pura

Kebebasan yang dulu gemuruh berganti sepi yang lagut

Siapa akan datang mengabarkan nyanyian baru

Hanya para kelana penuh ratap—yang melupakan cinta

Cinta macam apa yang tak membuatmu muda?

Yang tak membuat dunia penuh gemintang abadi

Atau tak ada bedanya sebab waktu telah menjadi kegilaan

Tiap jengkal darinya adalah masa lalu dan masa depan

Masa kini adalah hayalan yang meloloskan diri

Dari dendam masa lalu dan kengerian esok;

Oh sampan itu yang membawa usia mudaku dan usia mudamu

Ke mana perginya masa—larung di sungai yang mana

Labuh di bandar kota mana atau tersesat dan tertambat?

Tapi betapa tak satu pun ingatanku padamu sirna!

Bila saja kota berganti rupa dan dunia baru menyepuh

Biarlah ingatanku padamu tinggal—tak soal bila hanya kenangan

Tapi rambutmu yang berseri, matamu binar—bibirmu segar

Seolah kita hendak berlari di atas laut,

Bagaimana bisa ingatan padamu padam? Meski dunia lupa

Bagaimana kota-kota dibangun; dengan cinta para pertapa

Yang papa dihadapan dunia—

Oh kota macam apa ini? Dibangun untuk membinasakan usia muda

Tidak cinta; tidak rindu; tanpa nafsu tanpa jiwa menari!

Ayo pulang sayangku pada kota lama kita—di mana kita muda

Rambutmu yang berseri, matamu binar—bibirmu segar

Seolah kita hendak berlari di atas laut; atau pergi ke museum

Nanti kubelikan untukmu kembang warna merah

Yang dibuat dari kertas berisi sajakku yang terbakar.

2018

 

“kelam sajak-sajak; ngeri lagu-lagu”

Betapa gersang dunia kita—tanpa musik dan lembar koran

Seorang datang entah dari dunia yang mana

Meski ia hanya sejengkal dari rumah kita

Seorang bernyanyi tapi ia tak pernah tahu

Dari mana nyanyian dan kidungnya bermula;

 

Betapa mengerikan dunia kita—

Aku tak menginginkan dunia baru

Hingga dunia kita sekarang kembali menjadi kehidupan

Seorang datang membawa tanda dan kengerian

Seorang lain datang membawa

Tanda dan kengerian yang lain;

Aku memandang pada hidup yang sepi

Tapi kesepian akan menjadi korban sejarah

 

Siapa bisa tahan, hidup dalam kenang tanpa cinta

Luput dari kasih dan kecantikan jiwa

Nanti lautan berhenti menderu—kalah oleh gemuruhmu

Aku akan terbang menjadi kupu-kupu mona

Mengabarkan kematian jiwa-jiwa

 

Kelam sajak-sajak; ngeri lagu-lagu

Dunia kita yang padam dunia kita yang muram

Dari jendela rumahmu hujan telah jadi angin

Dengan bau-bau kuburan—menjelang petang

Dunia kita berkabut penuh ketakutan—

hanya pemuja kegelapan berpesta dalam hujan

 

Tak ada lagi kecantikan—kita telah berhenti menatapnya

Di hadapan dan belakang dari penjuru-penjuru

Orang-orang siap memadamkan cahaya

Betapa rindu aku pada binar matamu…

Betapa pilu jiwaku melihat keletihan manusia.

 

2018

 

 

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending