Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Sabiq Carebesth

mm

Published

on

Cikini Telah Berlalu

 

Hujan hampir reda

Tapi kadung aku terjebak

 

Betapa usang cinta

Betapa memabukkan kenangan

 

Penyair telah menguburkan rindu

Dalam sajak-sajak daging

atau cinta yang menjengkelkan

 

Kita telah sama terjebak

Dalam kurun kegelapan

Di mana puisi tak lagi bisa

Dilukiskan atau diperdengarkan

 

Puisi telah jadi basah kuyup

Oleh deras hujan

Atau dipentaskan bersama lagu disko

 

Musim semi puisi takkan kembali

Bagi tanah keterasingan

Kita hanya akan tersesat

Kita telah dikutuk

Oleh dingin dan kesunyian

Sebab mengira puisi

Bisa hadir dari kesemuan

 

Tak  ada puisi di Cikini

Puisi telah sembunyi

Di lorong-lorong hotel

Atau di antara lidah-lidah

Puisi telah jadi kelu

Sebab Cikini kini telah berlalu.

 

Cikini, 2016

 

Sajak Cinta Dalam Es Kopi

Di kota ini cinta seperti es, beku

Terpelanting ke dalam segelas kopi

Kita menyesap buihnya

Lalu ia pergi—kita tertinggal

Tapi ia membawa serta dingin

Menggigilkan kalbunya

Bila malam nanti kembali

Ia bertanya:

 

“Cinta hadir setiap hari

Di jalan-jalan, di kafe-kafe

Tiap kali kita lelah dan bertanya:

Bagaimana kita akan menghabiskan waktu?

Cinta hadir setiap hari

Cinta berpaling setiap hari—

Atau kita yang memilih pergi?”

 

Kulihat bibir seorang dara

Menyesap masa silam

Menggodaku kian terbenam

Aku telan sendiri bagianku

Kehilangan-kehilangan;

 

Demikianlah setiap kali kita terjatuh

Tanpa bercium atau merengkuh

Hanya bibir yang lagut

Hanya kelopak mata melambai

 

Cinta di kota ini—

Berakhir ketika senja jadi kuyuh.

 

CIkini, 31 Mei 2016

 

Larung Jiwa

Aku sudah di akhir kata-kataku
Tapi hujan tak kunjung berlalu
Maka kusudahi dan kularungkan
Surat cintaku dalam gelombang
Tanpa kartu pos dan namamu
Tapi aku yakin kan sampai juga padamu
Sebab memang kutulis surat-suratku
Untuk engkau yang sudi mencari jiwaku

Kalibata, 2016

 

Dalam Segelas Kopi di Cikini

 

Duka di antara rambutmu yang keemasan

Tubuhku gigil dalam balut kemuraman

Aku tersungkur di antara ceruk punggungmu

Aku telah habis dalam sajak kengerian

Lantaran pernah; hujan dan kita tertinggal

Menjadi asing—sampai ketika

Aku merasuk ke dalam matamu;

Lalu bibirmu memagut kaku—

 

Esok kita akan kembali pada sepi

Kita bukan kekasih atau tak perlu

Tiap malam kita kesepian

Batin kita terjerembab dalam senja khayalan

Atau pada malam dan segelas kopi

O tapi tiada pertolongan, untuk lukanya jiwa

 

Apa yang kita punya adalah masa silam

Yang kengeriannya telah menjelma dinding

Atau meja atau asbak atau gelas di kafe-kafe

Di mana padanya kita saling bicara

Menemukan sepi yang sama

Hanya untuk jeda sejenak

Menuju sepi yang lain…

 

Cikini, 9 Juni 2016

 

Kepada Lampu-Lampu di Cikini

 

Sebentar lagi aku harus berjalan

Tinggal kau sendirian—bersama bayangan

Aku tak persis tahu apa masih ada

Seorang peduli pada kemuramanamu—lebih dariku.

 

Lampu-lampu di Cikini

Aku tahu kita pernah bersekutu

Pada malam-malam lalu

Kau yang menyaksi—

Seakan segala hal akan berakhir

Hanya kita saling menopang

Agar tak terjatuh dari jendela hotel

Dan seorang penyair mengira

Ada lautan di bawahnya

Hanya karena ia tak sanggup

Meneruskan sajak yang ia tulis untukmu

 

Cikini adalah mimpi-mimpi

Di mana para penyair memulai

Di mana para penyair mengakhiri

 

Tapi Cikini adalah kengerian kini

Orang-orang berpesta

Di antara gelak tawa dan segelas coca-cola

Tak ada cinta di Cikini

Selain percumbuan sepi

Antara para tuan dan hidup yang nyeri

 

Seorang selalu tak mengerti

Apa yang akan terjadi esok pagi

Di Cikini—kehidupan dirayakan

Di atas panggung kepalsuan

Dari hidup yang terus menjauh

Dari asal mula penderitaan.

 

Cikini, 2016

*Sabiq Carebesth: Pecinta Puisi. Chief Editor “Galeri Buku Jakarta” (GBJ). Buku kumpulan sajaknya “Memoar Kehilangan” (2011). Kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit,  “Seperti Para Penyair” (2016). Twitter: @sabiqcarebesth

Continue Reading

Puisi

Puisi Sabiq Carebesth

mm

Published

on

 

“Cinta macam apa yang tak membuatmu muda?”

Dalam dunia di mana daun-daun menguning berguguran

Kau kenakan gaun warna merah—dadamu bertalu dipenuhi

Kucup rindu dan cinta yang berbahaya

Rindu yang jadi semenjana semenjak musim menjadi lalu

Dan usia tak lagi muda—dalam dunia yang tua

Kenangan telah menumpuk menjadi temaram pura

Kebebasan yang dulu gemuruh berganti sepi yang lagut

Siapa akan datang mengabarkan nyanyian baru

Hanya para kelana penuh ratap—yang melupakan cinta

Cinta macam apa yang tak membuatmu muda?

Yang tak membuat dunia penuh gemintang abadi

Atau tak ada bedanya sebab waktu telah menjadi kegilaan

Tiap jengkal darinya adalah masa lalu dan masa depan

Masa kini adalah hayalan yang meloloskan diri

Dari dendam masa lalu dan kengerian esok;

Oh sampan itu yang membawa usia mudaku dan usia mudamu

Ke mana perginya masa—larung di sungai yang mana

Labuh di bandar kota mana atau tersesat dan tertambat?

Tapi betapa tak satu pun ingatanku padamu sirna!

Bila saja kota berganti rupa dan dunia baru menyepuh

Biarlah ingatanku padamu tinggal—tak soal bila hanya kenangan

Tapi rambutmu yang berseri, matamu binar—bibirmu segar

Seolah kita hendak berlari di atas laut,

Bagaimana bisa ingatan padamu padam? Meski dunia lupa

Bagaimana kota-kota dibangun; dengan cinta para pertapa

Yang papa dihadapan dunia—

Oh kota macam apa ini? Dibangun untuk membinasakan usia muda

Tidak cinta; tidak rindu; tanpa nafsu tanpa jiwa menari!

Ayo pulang sayangku pada kota lama kita—di mana kita muda

Rambutmu yang berseri, matamu binar—bibirmu segar

Seolah kita hendak berlari di atas laut; atau pergi ke museum

Nanti kubelikan untukmu kembang warna merah

Yang dibuat dari kertas berisi sajakku yang terbakar.

2018

 

“kelam sajak-sajak; ngeri lagu-lagu”

Betapa gersang dunia kita—tanpa musik dan lembar koran

Seorang datang entah dari dunia yang mana

Meski ia hanya sejengkal dari rumah kita

Seorang bernyanyi tapi ia tak pernah tahu

Dari mana nyanyian dan kidungnya bermula;

 

Betapa mengerikan dunia kita—

Aku tak menginginkan dunia baru

Hingga dunia kita sekarang kembali menjadi kehidupan

Seorang datang membawa tanda dan kengerian

Seorang lain datang membawa

Tanda dan kengerian yang lain;

Aku memandang pada hidup yang sepi

Tapi kesepian akan menjadi korban sejarah

 

Siapa bisa tahan, hidup dalam kenang tanpa cinta

Luput dari kasih dan kecantikan jiwa

Nanti lautan berhenti menderu—kalah oleh gemuruhmu

Aku akan terbang menjadi kupu-kupu mona

Mengabarkan kematian jiwa-jiwa

 

Kelam sajak-sajak; ngeri lagu-lagu

Dunia kita yang padam dunia kita yang muram

Dari jendela rumahmu hujan telah jadi angin

Dengan bau-bau kuburan—menjelang petang

Dunia kita berkabut penuh ketakutan—

hanya pemuja kegelapan berpesta dalam hujan

 

Tak ada lagi kecantikan—kita telah berhenti menatapnya

Di hadapan dan belakang dari penjuru-penjuru

Orang-orang siap memadamkan cahaya

Betapa rindu aku pada binar matamu…

Betapa pilu jiwaku melihat keletihan manusia.

 

2018

 

 

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending