Connect with us
Pablo Neruda Pablo Neruda

Classic Poetry

Puisi-Puisi Pablo Neruda

mm

Published

on

Di El Salvador, Kematian

Di Elsalvador kematian selalu mengawasi. Darah dari kematian petani-petani tak terkeringkan, waktu pun tak mampu mengeringkannya, hujan tak dapat membersihkannya dari jalan-jalan.

Lima puluh ribu memberondong. Martinez nama pembunuh-pembunuh itu. Sejak itu tanah, roti dan anggur di El Salvador berasa darah.

 

Munoz Marin

Disana cacing hidup melekat di air-air, cacing buas: dia lumat bendera-bendera yang ada dan naikkan panji para mandor, yang gizinya berasal dari darah tawanan kuburan pejuang-pejuang yang malang.

Cacing-cacing pun digemukkan diatas mahkota emas gandum Amerika, kesuksesan melindungi uang, buat darah dalam derita bersama tentara, bangun monumen-monumen semu, mengatur negeri dari warisan ayah ke ayah lalu memperbudak tanah, bentuk pulau terang dan gemerlap bagai bintang dalam kekangan suram untuk budak-budak, dan cacing pita hidup riang diantara penyair-penyair, ditaklukkan di pengasingan mereka sendiri, pesanan kepatuhan bagi para gurunya, membayar Pythagorian Peruvian-peruvian untuk meluaskan pemerintahannya dan tempat ini putih bersih luar dalam lebih dalam ada neraka laiknya Chicago, tempat hidup misai, hati, cakar-cakar seperti penghianat Luiz Munoz, Cacing, Munoz Marin untuk pendukungnya, daerah berdarah Judas, pemerintah pulau penindasan, makan daging saudara-saudara miskinnya menerjemah bilingual bagi penjagal-penjagal, mencicipi wiski Amerika Utara.

 

Puerto Rico, Puerto Pobre

Aku tahu semua sudah terlambat, tapi kurasa ini perlu dilakukan; sekarang, sebelum aku berangkat untuk menyanyi atau untuk mati: sekarang kumulai. Tak ada kekuatan yang membungkamku tapi sesuatu yang besarkan hari kesedihan dan ini sekutu: mati dengan bajak lalu taburkan tulang-tulang.

Aku terpilih sebagai subjek mendidih dengan darah, dengan pohon-pohon palem dan kesunyian, kisah daratan yang dikelilingi banyak air dan kematian tak berujung: disana sungai meratapi darah dan duka mereka yang menanti gunung-gunung.

Kemiskinan ini, ulang penjarahan pulau hari-hari kelabu datang dan pergi, ketika cahaya melonjak dan serangan dari atas pohon-pohon palem, ketika perjalanan malam di empat kapal hitam disana, sebagai tawanan pulau derita.

Dan darah kita menetes di atasnya sebab cakar emas ikut menyobek pecinta-pecintanya dan hak asasinya.[]

 

PABLO NERUDA: Penyair Amerika Latin yang dikenal secara internasional, dilahirkan di Parrel, Chile 1904. Tahun 1920 Neruda pergi ke Santiago untuk mempublikasikan karya-karyanya; La Concion Dela Fiesta (1921), Grepuscularia (1923) Veinte Po Emas De Amor Yuna Cancion Desesperada (1924), Canto General (1950). Kumpulan puisi epik yang mencari jejak-jejak historis Amerika Latin dan pembangkit kebesaran bangsa-bangsa yang teraniaya. Pada 1971 Pablo Neruda menerima hadiah Nobel Kasusastraan. Ia juga pernah menjadi duta besar negaranya untuk Prancis tahun 1970-1973. Pablo Neruda meninggal di tahun 1973.

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Friedrich Nietzsche

mm

Published

on

Eco homo (lihat, manusia)

 

Ya! Aku tahu asalku dimana

Tak terpuaskan, nyala laiknya

Aku membubus menelan diri

Terang jadinya segala kupegang

Sisa kutinggal; semua arang

Memang nyala hakikat diri.

 

Mentari Silam

 

Hari hidupku!

Mentari silam.

Sepuh emas meliputi laut yang rata

Bukit batu panas bernafas; istanakah di atasnya:

Bahagia, dalam nikmat tidur petangnya?

Dalam cahaya hijau

Masih main-main

Bahagia mendaki jurang nan jingga.

 

Hari hidupku !

Senja telah dibatas

Telah hampir padam nyala matamu

Telah mulai turun rinai tangis embunmu

Telah merata di laut putih;

Merahmu mesra,

Nikmat bimbangmu yang penghabisan….

 

Dilamun Sepi

 

Gagak-gagak riuh

Berisik terbang menuju kota

Sebentar… salju turun—

Bahagia orang, yang kini masih—ada kampungnya!

 

Kini kau kelu

Menoleh, ah, sekian lamanya!

Yang lari kedunia sebelum waktunya!

 

 

Duna—gerbang

Keribuan gurun dingin dan bisu

Jang kehilangan,

Bagai kau kehilangan, tak kunjung lesu.

 

Kini kau lagut

Ternasib kelana dimusim dingin

Ya—asap, tak henti

Mencaari langit-langit lebih dingin

 

Terbanglah burung

Kumandangkan lagu ala burung gurunmu!

Sembunyikan, anakku

Dalam es dan cerita, hatimu yang luka.

 

Gagak-gagak riuh.

Berisik terbang menuju kota:

Sebentar… salju turun—

Celaka orang, yang tiada kampugnya.

 

*) Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), selain penyar adalah seorang filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kuno, filsuf, kritikus budaya, dan juga komposer. | editorial team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending