Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Muhammad Luthfi

mm

Published

on

Rabu

Jika kita tak bertemu di hari Rabu,
mungkin semua takkan jadi abu,
takkan ada yang beradu,
bahkan mungkin langit enggan kelabu.

Semua kini serba terbelah dua,
antara bujangga dan pujangga,
antara yang ulama dan yang cina,
semua terbelah dalam lautan kuasa.

Salahkanlah waktu yang mencipta hari rabu,
walau ia menjadi misteri semesta,
namun tak dicipta agar kita menunggu,
tapi untuk memilah setiap kata,
dalam kalimat padu, atau paragraf nyala.
Dan kini kita terpaksa memilih; antara yang nyata atau fana,
di atas panas tungku waktu.

Otak yang hangus dalam tungku mencipta sikap yang bulus,
Dan itulah yang kini ada di atas horizon salihara,
atau muncul di atas sorban sang imam plus.
yang tiap detiknya selalu menerkam dalam kejaran kuasa.

Hai,
Rabu sudah usai,
sudah saatnya kita saling melambai,
dalam nikmat kopi yang santai,
atau dalam hirup asap yang ramai.

 

Malam Berlinang

Ada getir dalam tiap desir,
Melalang dalam gelap gerimis,
Seolah diterkam oleh cahaya petir,
Yang dibuai oleh sang penyihir.

Tanpa nama, tapi berasa.
Dengan nama tapi tak berasa.
Inikah yang disebut sihir?
Dengan mantra kau jelma asa.
Kau ubah ia menjadi duka.

Lenggak asap secair ombak,
Decit cangkir selengking kilat,
Kau jelma semua dengan mantra,
Menjadi linangan air mata.
Tak lain tak bukan untuk bersua,
Mengadu luka atau tuk menggagas suka.

Sempatkah kita berjumpa?
Setidaknya bertatap mata.

 

Senjalina

Kupandang senja,

Bergelora seperti burung camar yang pulang ke sarangnya.

saling berkejar ataupun bercakap diudara.

menerpa awan dalam jalannya.

 

Kuingat si Lina, sang pembawa asa,

penghapus derita, penyapu luka.

Diam menggetar dalam kesunyian,

Namun ribut berbisik dalam percakapan.

 

Pembenci senja, pembenci pagi.

baginya hanya ada malam,

karena ia dewi cahaya dalam kegelapan.

 

sambil kutatap senja kurapal malam dalam doa,

agar sang dewi mendengar dalam mutiara kata,

tariklah aku menuju malam, seperti kau seret matahari dalam rendaman.

Doronglah aku menerangi bumi, sebagaimana kau dorong matahari ke atas pagi.

 

Lelapalelap

Tiapku berbaring,

hanyalah tuk tertidur harapku.

Tiapku merebah,

hanyalah tuk terlelap mimpiku.

 

Tidur dan lelap semakin lama semakin langka,

bersembunyi dibalik tirai derita.

Kadang terserak dalam air mata.

Tercerai berai dalam luka.

 

Kutungkup semua Indera,

menangkal setiap gelombang dalam otak,

yang beriak-riak merangkai masa,

demi mengukuh tidur dan lelap dalam pangku malamku.

 

Salam dari bulan pada cahaya tak kunjung sampai,

begitu pun nikmat kantuk yang enggan sampai.

Padahal kuumpan cita untuk mengail lelap,

Atau ku sesap harap untuk memburu bengap.

 

Pesanku pada tiap malaikat,

yang berdiam pada sudut-sudut malam,

Kembalikan kantukku agar tidur terlelap.

 

Sekerat Kretek

Sempurna sudah,

sempurna sudah hilang jiwa di dalam sebatang kretek.

Ditiupkan api ke dalam udara tanpa jejak,

membawa pesan kehidupan yang selalu retak.

 

Ke mana kesempurnaan kretek akan kucari lagi?

Batang-batang selanjutnya pasti akan mati,

Diuntai api hingga jasad kecil bernama puntung,

yang sigap untuk terbuang dan mengapung.

 

Kretek yang sempurna melampaui samudera derita,

Samudera yang dalam, bahkan berbahaya untuk diarungi para pujangga.

Kretek selalu mau menemani dengan sesapnya,

Sigap menggerus garam, menghantam karang, dengan sempurna.

Memberi daya pada pujangga melalui lika-liku pena,

Dalam menyampaikan pesan nikotin cinta.

 

Sekerat, tinggal sekerat.

harus kubagi-kah sekerat ini dengan panjangnya malam?

 

Bujuk Rasa

Pipimu memerah
seolah marah, seolah resah.

rambutmu tergerai,
mengingatkanku ketika kau melambai,
saat aku pergi ke tanah landai.

tangan dan kakimu,
kau gerakkan tanpa lelah. padahal kau sedang menahan lelah.

Tiap malam kau sediakan waktumu melepas lelah.
Menghindar dari terkaman resah.
Tiap siang kau tahan bosan dan kantuk.
Hanya untuk membiarkan harap.

Tiap hari langit tak mampu lagi cerah,
namun kau tetap membujuk matahari agar tak sendu.

kau tunggang bumi untuk rujuk dengan matahari.
kau kumpulkan kupu-kupu agar kau lukis langit,
membujuk rayu awan yang malu.

lalu kau lari terburu-buru. Melukis langit agar tak kelabu.

 

 

Mencintaimu Tanpa Frasa

Aku berbicara padamu tanpa kata.

Aku melihatmu tanpa tatapan mata,

Aku menyapamu tanpa kalimat-kalimat sapa,

dan Aku mencintaimu tanpa frasa.

 

Gerakmu, adalah gerik lirihmu,

yang selalu memandang dunia dengan semu,

Dalam genggammu kau selalu menggambar fana,

setidaknya gambar-gambar wajah sedih yang penuh luka.

Bolehkah aku membantumu mencabut duka?

agar aku mencintaimu tanpa frasa yang tak akan butuh klausa.

 

Aku tahu.
Pagi itu kau menangis sendu,

siang itu kau tertawa menahan duka,

petang itu kau habiskan marah membara,

agar malam itu kau dapat melagu,
Dalam lagumu kau bilang padaku;

“jangan kau cintai aku tanpa frasa.”

 

Ada lusinan manusia, tapi kenapa dirimu yang selalu?

Ada ribuan nama, tapi selalu namamu yang merdu?

Ada ratusan wajah, tapi kenapa wajahmu?

Apa ini ilusi yang kan kuingat selalu, yang kurapal selalu?

bolehkah aku mencintaimu tanpa frasa tanpa cela?

 

Aku mencintaimu tanpa frasa,

agar kau berbahagia.

 

Langit Kelabu

Langit kelabu
Aku menyesap asap dan debu
sesambil menghitung kendaraan berlalu
yang berkejaran menyusuri gundah dan ragu

Langit kelabu,
Angin berembus macam puasnya nafsu,
sesejuk suara yang penuh rayu,
yang bersiap-siap ditipu waktu.

Langit kelabu,
Aku terduduk dibangku kayu,
tengah merapal lagu janji-janjimu,
yang terus tersingkap dari bibirmu.

Langit kelabu,
mungkin hendak meramu rasa haru,
ntah kedatanganmu, ntah kepergianmu
yang akan menitik serupa air mata ibu.

Sudah setitik demi setitik
Gerimis semakin menitik,
siap untuk membasahi wajahmu yang cantik
hingga larut di setiap detik.

Detik itu semakin berdetak,
Tanah itu semakin retak,
hidup semakin mendesak,
yang akan tinggal hanya jejak.

Wajahmu kan semakin keriput,
Darahmu kan semakin kecut,
Tenagamu pun akan semakin ciut,
Hanya tinggal kenangan yang larut.

Jejak apakah yang telah kau tinggalkan dalam perjalananmu menyusuri waktu?

Manusia dilahirkan dengan tangis,
telahkah kau mengubahnya dengan senyum?
setidaknya sekali dalam perjalanannya yang penuh kehendak untuk melawan kehendak?

Manusia dilahirkan dengan tak memiliki apa pun,
telahkah kau mengubahnya dengan memberinya sesuatu untuk dimiliki?
Sedikitnya memberi waktu.

Langit kelabu,
Di kota biru,
di tepi jalan enam ruas laju,
menunggu, merindu.

 

Pulang Kemana?

Pulang ke mana?
Jika aku hidup dalam perantauan,
selalu dan selamanya.
Jika rumah bukanlah rumah,
hanya sepetak tanah untuk rebah.

Pulang ke mana?
Jika asap dimana-mana,
jalan sebidang-pun tak tampak menunjuk arah.
Jika panas dan kering mengganti sejuk hujan,
setia menjebak orang dalam lindungan.

Pulang ke mana?
Hatimu, katamu,
Janjimu, katamu.
Sukamu, katamu.
Dukamu, katamu.
Itu tempat pulangku menurutmu?

Itu bukan pulang!
Itu hanya singgah, persinggahan yang menarik.
Persinggahan yang indah yang kadang merunduk kadang menukik.
Yang kadang mengapung kadang tenggelam.
Itukah yang kau sebut rumah?

Rumah itu kokoh,
Tempat saksi lahir dan mati.
Halamannya tempat bertumbuh,
ruangnya tempat berteduh,
kamarnya tempat bersungguh,
dapurnya tempat menyeduh.

Seperti itukah hatimu?

 

Menebus Hujan

Masih belum berlabuh,

masih jauh,

tidak ada angin,

layar berkembang tapi tak menggerakkan sauh sejengkal-pun,

laut masih mengapungkan sauh,

tak bergerak,

badai datang tapi tak berangin,

cerah merah membakar tapi tak berangin.

 

Terlalu lama terombang-ambing.

Mana angin?

Gerakkan sauh ini mesti sedikit.

mestikah aku turun ke laut lalu kudorong sauh?

baik, ku lakukan itu.

 

Aku berenang mendorong sauh,

Sejengkal-pun sauh tak bergerak,

sauh ini terlalu besar.

mereplika sauh Nuh.

kaki keram, sauh karam.

aku tenggelam,

Ah, tidur sejenak didasar laut dalam.

Mati, lalu bangun lagi sebagai ikan.

—————–

Muhammad Luthfi (David Nomicu) adalah Civitas Akademik Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Twitter: @luthfinomics

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi B.B. Soegiono

mm

Published

on

PINTU KAMAR

 

pintu kamar       adalah hati

yang mempersilahkan siapa saja masuk

kecuali              kamu;

yang pernah tinggal

jadi                   penghuni

akan dijadikannnya abadi

namun             tak sampai.

terseret arus kehidupan

bahkan            tak kembali,

bukan karena mati

bukan karena di makam

bukan karena di penjara

ataupun          disekap

tapi karena telah nyaman

dengan pintu kamar yang baru.

lebih              mewah,

megah,

bersih,

dan tanpa aroma busuk masa depan.

 

Probolinggo, 6 Juni 2019

 

AKU DAN WANITA ITU

 

yang mengganggu pikiranku

semenjak berusia 22 tahun

yang memenjara tubuhku

sampai jadi mayat

adalah kamu

wanita malaikat

yang membunuhku

tanpa menyentuh

urat-urat saraf, seketika macet

ruas-ruas tubuh jadi sumbat

dan selonjor kaki dan tangan

tiba-tiba kaku

tak berani bergerak

atau sebatas berjingkrak

merayakan luka dan duka

jadi darah dan nanah kehidupan

 

kau, wanita itu

kau, yang disebut

sebagai malaikat

ganti profesi

jadi pembantai

 

aku, lelaki itu

aku, yang dimaksud

sebagai korban

tindak kejam

pembantaian

 

ketika darah mengalir cepat

napas hidung masih mengedus

ketika luka kian melebar

tidak kuasa:

badan,

nadi,

dan jantung bergejolak;

memberontak

sampai menodong telinga

yang berdetak, yang berdebar.

 

Probolinggo, 9 Juni 2019

 

KEMATIAN CINTA  I

 

kulihat setiap laju matamu mengintai

dalam arus air dan busa kali watuewu

kadangkala juga memburuku dari sela-sela

rumput yang tenggelam di dasar

dengan batu-batu

ikan-ikan menatapi

saat tengah beranjangsana

mencari sepi

 

lalang-lalang air kau biarkan mati

bahkan sampai membusuk

kicauan burung

dan sayap-sayap tuanya, jatuh perlahan

mengiringi terjun air ke dasar kali

asap dan api jadi tidur di puncak gunung

 

inilah aku di antara itu

dengan cinta yang kini tergusur waktu

dijarah;

dan tak pernah kokoh meski dihimpit

bantaran-bantaran kali

 

daun-daun jati berserakan

batang tinggi menjulang

kupu-kupu kecil

mondar mandir

menatap penuh gelisah

bertegur padaku

yang menangis karenamu

 

matahari membantu membuat hangat

meski tubuh terbaring lemah

karena cinta, kasih, sayang lebur;  jadi masalah

bahkan mencekik pada setiap urat nadi

dan hendak ingin membawa segenap jiwa

melayang-layang di udara

meski akan tersapu juga dengan gibasan angin

dari pohon-pohon sengon

serta sayup kecil

memberontak keluar dari kebun jagung

 

menjadi jarum

menusuk;

menjadi pisau

merombek,

mengiris,

memotong,

urat pembungkus jantung

bahkan sampai ke dasar dada,

ingin menculik namamu

yang telah sekian tahun mengakar

bahkan jadi museum cinta

“ya, itulah yang ingin direbut,

nama dan kasih sayang untuk dipersembahan kepadanya.”

 

tergeletak

mayat hidup

yang kini kosong tanpamu.

meski tetap ditunggu burung-burung pipit

sambil melepas beraknya

di tengah wajah.

 

Resongo, 6 Juni 2019

 

*) B. B. Soegiono, lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, tanggal 11 Oktober 1996. Kini mengembara di Singaraja—

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Melki Deni

mm

Published

on

Oil Painting on Canvas, Sleeping Woman by Anonymous Via http://www.artnet.com

Doa Seorang Pelacur

 

Kecewa memang ekor terkeren dari perjuangan keras.

Ia selalu menari dari belakang,

Mengejar cela-cela perjuangan sang teguh.

Kecewa ialah dosen tergratis dalam memberikan kuliah-kuliah kehidupan.

Sebab hidup selalu bergerak, berkembang dan bermaju.

Kematian hanyalah tempat bagi yang tak mau menerima perubahan dan perkembangan.

Tiada yang bisa memaksa tuk bertandang dalam medan pertempuran yang sama.

dan tak ada yang berhak tuk mengurungi kehidupan ini.

Tak boleh ciptakan sangkar sehingga aku dipenjarakan di dalamnya.

Aku hanya mau memupuk tanaman kejujuran dan kesetiaan.

dan setiap pagi aku berusaha mencabut kebohongan, gombalan, munafik dan tipu daya sampai ke akar-akarnya.

Tapi tetaplah di-tumbuh-kan dengan siraman air yang mengalir dalam hati itu.

Tak apalah, yang sia-sia bukanlah sia-sia atau terakhir.

Memang kita tidak lebih dari dua orang yang tidak berpikir tentang hal yang sama,

kendati menggunakan bahasa yang sama.

 

Mengapa Aku Tanya!

 

Sedari kecil aku bertanya tentang yang tidak bisa dijawab lengkap.

Memang pertanyaan adalah jawaban yang harus ditanya terus-menerus.

Mengapa harus ada peperangan di dunia yang dihuni oleh daging-daging murahan dari debu tanah?

ada bahasa yang dilahirkan nenek moyang kita!

Mengapa tidak berpikir suci, bertutur manis, dan berlaku lembut.

Bibir-bibir sudah dilas dengan aluminium murahan di bengkel pinggir jalan.

Aku tetap bertanya,

Mengapa ada ayahanda bertuhan memerkosa anak gadisnya?

Ibunda dibunuh anak kandung di tempat tidur?

Otak-otak sudah dicemar oleh puing-puing elektromagnetik di depan emperan maya.

Mengapa ada manusia mengobral murah manusia lain di tangan manusia tidak bermoral?

Aku haus akan jawaban yang jujur, tanpa melilit ngawur.

Atau jika sudah dijawab dengan analogi dan metafora,

aku tetap bertanya.

Mengapa harus ada yang rela gugur di kota-kota besar demi Tuhan,

kekuasaan, nama, kepentingan, melayani tuan nafsu dan nafsu tuan-tuan monster?

Aku tetap bertanya kepada siapa saja yang rela mendengar.

Mengapa ada Tuhan yang haus akan pujian dan belaan?

Mengapa aku harus bertanya!

 

*) Melki Deni, mahasiswa semester III STFK Ledalero Maumere, berasal dari Reo Manggarai. Penyair aktif menulis pada beberapa media.

 

Continue Reading

Puisi

(Terj) Puisi-Pusi David Lehman

mm

Published

on

David Lehman--The book consists of daily poems he combined into one bigger poem, and he said it is inspired by songs he heard on the radio. (Courtesy of David Lehman)/ Getty Image Via dailybruin

Puisi-Puisi David Lehman | Diterjemahkan oleh A. Nabil Wibisana *)

 

Seksisme

Momen terindah dalam hidup seorang perempuan

Adalah ketika ia mendengar suara suaminya

Memutar kunci pintu, sementara ia pura-pura terlelap

Saat lelaki itu memasuki ruangan—diam-diam

Tapi ceroboh, sehingga menabrak barang-barang—

Ia bisa mencium bau alkohol dari napas si lelaki

Tapi ia memaafkannya karena senang lelaki itu kembali

Dan ia tidak harus tidur sendiri.

 

Momen terindah dalam hidup seorang lelaki

Adalah ketika ia bangkit dari ranjang

Seorang perempuan—setelah satu jam tidur bersama,

Sehabis bercinta begitu rupa—dan memakai

Celana panjangnya, kemudian berjalan keluar

Dan kencing di semak-semak, sambil melihat

Langit bulan Agustus yang penuh bintang

Lalu masuk ke mobilnya dan beranjak pulang.

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Ketika Perempuan Mencintai Lelaki

Ketika perempuan itu berkata margarita, yang ia maksud ialah daiquiri.

Ketika ia bilang majenun, yang ia maksud ialah temperamen.

Dan ketika ia berujar, “Aku tak akan pernah bicara denganmu lagi,”

yang ia maksud sebenarnya, “Peluk aku dari belakang

saat aku berdiri merana di depan jendela.”

 

Lelaki itu seharusnya paham.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia di New York dan perempuan itu di Virginia

atau ia membaca di Boston dan si perempuan menulis di New York,

atau perempuan itu memakai sweter dan kacamata hitam di Taman Balboa

sedangkan ia sibuk menyapu daun-daun di Ithaca

atau ia menyetir mobil ke East Hampton dan perempuan itu berdiri getir

di depan jendela yang menghadap ke arah teluk,

di mana perahu layar warna-warni meluncur dengan tenang

sementara ia terjebak kemacetan di jalur cepat Long Island.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, pada pukul satu dini hari

ia terlelap dan lelaki itu menatap skor bola di televisi

makan setumpuk pretzel dan minum segelas limun

dan dua jam kemudian si lelaki bangkit dan terhuyung-huyung ke ranjang,

di mana ia masih terbaring pulas dengan tubuh sehangat wol.

 

Ketika perempuan itu berkata besok, yang ia maksud ialah tiga atau empat minggu.

Ketika ia berujar, “Kita sedang membahas diriku sekarang,”

lelaki itu berhenti mengoceh. Sahabatnya berkunjung dan bertanya,

“Apa ada seseorang yang mati?”

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, mereka pergi

berenang telanjang di satu sungai kecil

pada suatu hari cemerlang di bulan Juli

bahana air terjun bagaikan gelak

air deras di batu-batu halus,

dan tak ada apa pun yang asing dalam semesta itu.

 

Apel masak jatuh di sekitar mereka.

Apa lagi yang bisa dilakukan selain memakannya?

 

Ketika lelaki itu bersaksi, “Era kita adalah masa peralihan.”

“Pikiranmu memang tak bisa ditebak,” sahut si perempuan,

kering seperti martini yang ia sesap.

 

Mereka bertengkar sepanjang waktu

Cekcok yang kocak

Memang aku berutang apa?

Mulailah dengan permintaan maaf

Baiklah, maafkan aku, berengsek.

Sebuah tanda terangkat, mempertontonkan “Tawa.”

Sebuah gambar bisu.

“Aku begitu kacau tanpa ciuman,” kata si perempuan,

“dan kau boleh percaya seratus persen,”

yang terdengar keren dalam aksen orang Inggris.

 

Dalam setahun mereka putus tujuh kali

dan mengancam akan berpisah sembilan kali lagi.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia meminta lelaki itu menjemputnya

di satu bandara di negara asing, mengendarai jip pula.

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia benar-benar berada di sana.

Ia tak mengeluh meski perempuan itu terlambat dua jam

dan tak ada makanan sedikit pun di lemari es.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia ingin tetap terjaga

sepanjang malam, menangis layaknya bocah kecil

karena ia sungguh-sungguh tak ingin hari itu berakhir.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia mengawasi perempuan itu tidur,

seraya berpikir: tengah malam bagi bulan adalah tidur bagi kekasih.

Seribu kunang-kunang berkedip padanya.

Suara kawanan katak bagaikan kuartet gesek

dalam sebuah geladi orkestra.

Bintang-bintang berjuntai serupa anting-anting anggur.

*) Dari Columbia: Journal of Literature and Art (1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Perintah Kesepuluh

Perempuan itu berkata ya, ia mau pergi ke Australia bersamanya

Kecuali si lelaki salah dengar dan perempuan itu berkata Argentina

Di mana mereka bisa belajar Tango dan memburu janda-janda

Penjahat perang Nazi yang tidak sudi bertobat sampai akhir.

Tapi tidak, perempuan itu meyebut Australia. Ia lahir di Selandia Baru.

Perbedaan antara dua wilayah itu sama dengan perbedaan antara

Setangkup hamburger dan segelas malt cokelat, ujarnya.

Di toko permen di seberang gedung sekolah dasar,

Mereka merencanakan kencan. Perempuan itu melafalkan Australia,

Yang artinya ia bersedia diajak bercinta, dan semua peristiwa itu terjadi

Sebelum suaminya kena serangan jantung koroner, pada masa ketika

Seorang perempuan tak akan melepas celana dalamnya

kecuali untuk orang yang ia sukai. Perempuan itu berkata

Australia, lantas si lelaki melihat koleksi kerang musim panas

Tahun lalu dalam sebuah kantong plastik di ruangan kotor

Yang dipenuhi lumpur pasir. Siklus tawanan seksual

Dimulai dari romansa dan berakhir dengan perzinahan

Apakah era kiwari merupakan fase paruh akhir, cara Amerika

Meluncur dari barbarisme ke amnesia tanpa diselingi

Periode keruntuhan moral dahsyat, yang mestinya bermakna

Sesuatu, tapi apa? Rakit di tengah jeram? Pemain biola

Di depan gerbang? Oh, absolutisme adalah hukum biologi.

Untuk seminar pornografi, busana apa yang mesti perempuan itu pakai?

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman American Poems.

 

Dua Puluh Pertanyaan

Mengapa ngengat terbang menuju nyala api? Apa sama dengan alasan

Mengapa Achilles mati muda? Siapa yang memperoleh lebih banyak kenikmatan

Dari seks, lelaki atau perempuan? (Jelaskan bagaimana kau bisa tahu pasti.)

Mana yang lebih nyata bagimu, surga atau neraka?

 

Mengapa para pendosa hidup sejahtera? Apa penyebab kematian cinta—

Atau cinta akan kematian? Apa Adam dan Eva punya pilihan?

Apa Perawan Maria punya pilihan? Apa yang kita takutkan sebenarnya?

Bahkan kaum agnostik punya hak untuk berkata terima kasih tuhan, bukan?

 

Menatap atom-atom itu menari, mestikah aku bersaksi aku melihat cincin

Cahaya murni yang tak berujung? Atau aku hanya memimpikan semuanya?

Siapa yang harus kupanggil? Apa kau akan ikut jika orang itu adalah istrimu?

Apa kau bersedia pindah? Apa kau menyukai hidupmu?

 

Apa yang membedakan malam ini dengan malam-malam lain?

Apa kau akan berkata bahwa memang sudah nasibmu untuk selalu,

Tanpa kecuali, terlambat lima menit? Jika kau tiba

Pada pukul 9:10, acara ternyata dimulai pukul 9:05

 

Padahal jelas-jelas dijadwalkan pukul 9:15? Saat kau melintasi

Lorong, dan orang-orang memaku perhatian mereka padamu,

Apa kau bertanya pada diri sendiri apa yang akan kaulakukan,

Seolah-olah semua itu penting, seolah-olah kau memang paham?

*) Dari An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986), dipublikasikan kembali di laman Poetry Foundation.

 

Film Prancis

Aku hanyut dalam sebuah film Prancis

dan hanya punya sembilan jam sisa hidup

dan aku tahu benar

bukan karena aku berencana mencabut nyawaku

atau menelan racun mematikan yang bekerja lambat,

jenis ramuan yang biasa ditujukan untuk para juri

dalam persidangan pembunuhan oleh mafia,

aku pun tak berharap akan dihabisi

seperti pakar kimia yang keliru

ditarget sebagai seorang penting di Milan

atau jurnalis Yahudi yang diculik di Pakistan;

tidak, tidak satu pun; tak ada dasar untuk

curiga, tak ada plot pembunuhan

atas diriku, dengan pesan telepon rahasia

dan petunjuk semacam syal atau lipstik

yang tertinggal di kursi depan sebuah mobil;

tapi aku tahu aku akan mati

di ujung hari itu

aku tahu, dengan kepastian paripurna,

sewaktu aku melintas di jalan itu

dan mata kami bersirobok

saat perempuan itu melangkah ke arahku,

aku tahu belaka bahwa ia pun tahu,

dan meski kami belum pernah bertemu sebelumnya,

aku tahu ia akan menghabiskan sisa hari itu

bersamaku, sembilan jam berjalan bersisian,

bertualang, pergi ke toko buku di Roma,

merokok Gitane, berjalan dan

terus berjalan di London, naik kereta

ke Oxford dari Paddington atau ke Cambridge

dari Liverpool, lantas berjalan

di sepanjang tepi sungai dan melewati jembatan,

berjalan dan berbincang, sampai jatah sembilan jam

habis dan film hitam-putih itu

berakhir dengan satu kata TAMAT,

dalam huruf kapital putih di layar hitam pekat.

*) Dari Yeshiva Boys (Scribner, 2009), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

_____________________

TENTANG PENYAIR

David Lehman adalah penyair, editor, dan kritikus sastra terpandang. Lahir di New York tahun 1948, ia meraih PhD dari Universitas Columbia. Menulis sejumlah buku puisi, di antaranya New and Selected Poems (Scribner, 2013), Yeshiva Boys (Scribner, 2009), When a Woman Loves a Man (Scribner, 2005), The Daily Mirror: A Journal in Poetry (Scribner, 2000), Valentine Place (Scribner, 1996), dan An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986). Editor buku antologi penting The Oxford Book of American Poetry (Oxford University Press, 2006) dan editor seri antologi tahunan The Best American Poetry sejak 1988 sampai sekarang. Ia menerima berbagai penghargaan dari beberapa lembaga terkemuka, di antaranya National Endowment for the Arts, Guggenheim Foundation, Academy of Arts and Letters, dan Lila Wallace-Reader’s Digest Writer’s Award.

TENTANG PENERJEMAH

Nabil Wibisana bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang – NTT. Menulis puisi dan esai yang telah dipublikasikan di berbagai media massa. Penerjemah lepas, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending