Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Melki Deni

mm

Published

on

Oil Painting on Canvas, Sleeping Woman by Anonymous Via http://www.artnet.com

Doa Seorang Pelacur

 

Kecewa memang ekor terkeren dari perjuangan keras.

Ia selalu menari dari belakang,

Mengejar cela-cela perjuangan sang teguh.

Kecewa ialah dosen tergratis dalam memberikan kuliah-kuliah kehidupan.

Sebab hidup selalu bergerak, berkembang dan bermaju.

Kematian hanyalah tempat bagi yang tak mau menerima perubahan dan perkembangan.

Tiada yang bisa memaksa tuk bertandang dalam medan pertempuran yang sama.

dan tak ada yang berhak tuk mengurungi kehidupan ini.

Tak boleh ciptakan sangkar sehingga aku dipenjarakan di dalamnya.

Aku hanya mau memupuk tanaman kejujuran dan kesetiaan.

dan setiap pagi aku berusaha mencabut kebohongan, gombalan, munafik dan tipu daya sampai ke akar-akarnya.

Tapi tetaplah di-tumbuh-kan dengan siraman air yang mengalir dalam hati itu.

Tak apalah, yang sia-sia bukanlah sia-sia atau terakhir.

Memang kita tidak lebih dari dua orang yang tidak berpikir tentang hal yang sama,

kendati menggunakan bahasa yang sama.

 

Mengapa Aku Tanya!

 

Sedari kecil aku bertanya tentang yang tidak bisa dijawab lengkap.

Memang pertanyaan adalah jawaban yang harus ditanya terus-menerus.

Mengapa harus ada peperangan di dunia yang dihuni oleh daging-daging murahan dari debu tanah?

ada bahasa yang dilahirkan nenek moyang kita!

Mengapa tidak berpikir suci, bertutur manis, dan berlaku lembut.

Bibir-bibir sudah dilas dengan aluminium murahan di bengkel pinggir jalan.

Aku tetap bertanya,

Mengapa ada ayahanda bertuhan memerkosa anak gadisnya?

Ibunda dibunuh anak kandung di tempat tidur?

Otak-otak sudah dicemar oleh puing-puing elektromagnetik di depan emperan maya.

Mengapa ada manusia mengobral murah manusia lain di tangan manusia tidak bermoral?

Aku haus akan jawaban yang jujur, tanpa melilit ngawur.

Atau jika sudah dijawab dengan analogi dan metafora,

aku tetap bertanya.

Mengapa harus ada yang rela gugur di kota-kota besar demi Tuhan,

kekuasaan, nama, kepentingan, melayani tuan nafsu dan nafsu tuan-tuan monster?

Aku tetap bertanya kepada siapa saja yang rela mendengar.

Mengapa ada Tuhan yang haus akan pujian dan belaan?

Mengapa aku harus bertanya!

 

*) Melki Deni, mahasiswa semester III STFK Ledalero Maumere, berasal dari Reo Manggarai. Penyair aktif menulis pada beberapa media.

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Joe Hasan

mm

Published

on

Pelarian

pelarian yang percuma

melewati ladang, menyeberangi sungai

dari rumah sakit orang-orang berjiwa kacau

menemui nenek

berharap kejujuran

pembunuhan di samping rakit

siapa suruh

mengejar sampai kesini

perempuan tanduk

duduk santai di gubuknya

menunggu kabar

tanpa harus terkejut

darah sudah menjadi kawan

sejak kuda melepas perawannya

kini beranak pinak

dengan kutukan dan luka bernanah

dewasa tak ada arti

pelarian adalah cara

bercinta dengan damai

ternyata percuma

kosong

berujung mati

tersadar oleh penyesalan yang terlambat

mengapa harus lahir dari selangkangan

yang membawa kutukan hingga turunan

                                (Bau-Bau, 2020)

Ragu

kembali pada ragu yang mengudara

wajahnya masih terselip di sela-sela jari

waktu itu malam hari

tempat untuk ia berbohong

mata dengan pandai mencari meneranwang

lalu waktunya habis

selesai

bagaimanalah nasib rindu

terkungkung sudah

meratapi kisah malangnya

katanya sampai bertemu lagi

detik telah menahun

lincah nian mulut itu membujuk

janjikah?

atau hanya penghibur

wajahnya kembali lagi

namun ragu aku menghampiri

berbeda sudah temnpat kita

memang ada pesan singkat

aku telah lupa

isinya tentang menjemput pergi

wajahnya lesuh

akan kembali pada ragu

      (Bau-Bau, 2020)

Sudah Cukup

aku mengatakan sudah cukup

sebab penatku yang menua tanpa batas

dan kemalasan tiada tara untuk menggambar

kebejatan orang-orang dalam diari yang masih begitu polos

aku mencari tuhan dimana-mana

tak kenal letih

ternyata sedang di samping rumah

duduk menikmati kopi pagi

bercakap dengan matahari

semalam orang-orang liar itu berulah

tanganku tertarik

murkaku tertahan

mengapa sulit untuk menghadirkan benci

pada mata telanjang

setidaknya kesalahan itu tertanggung oleh tuannya

berhentilah berbesar ucap pada yang lembut

mereka marah

tapi tak pandai melampiaskan

sejenak

renungkan kembali nafas yang berulang kali berdegup

tuhan merencanakan banyak hal

kita tinggal jalankan hari ini

dengan segala keruwetan

dengan rindu yang tak tuntas

masihkah kita menunggu

aku ingin bergerak

kau juga

dimana kan berlabuh janji-janji kita

sekali lagi aku katakan cukup

sudah cukup

sudah cukup sempurna sakit yang kau titip

lagi pula kau tak lagi jadi kau

dan aku masih setia memuji

                                                                                      (Surabaya, 2020)

*) Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ayu Pawitri

mm

Published

on

DUKA

Pengulangan

sama halnya seperti kumpulan

kemuakan

pada yang tak kau harap

pada yang kau harap

ia tak menjelma

bermutasi

mengimitasi

dirimu

Lahirlah benci

yang Tuhan tanam

pada segala hal yang

yang kau masukkan

ke dalam

jauh, ke dalam

Denpasar, 2020

PERAYAAN

Menatap layar persegi empat

Menekan huruf-huruf

yang simetris

Bersimpuh

Memeluk dinginnya lantai

di rumah yang sepi

Kau berpidato

berucap selamat

pada tiap kepedihan

yang tak kau rasakan

Taka ada foto

ayah ibu tetap bekerja

Layar-layar hanya bisa

menangkap potret

diriku yang lalu lalang

Aku tamat

Denpasar, 2020

RAUP

Dalam riuh rendah

yang bukan kau

Ada kala

kau bungkam riaknya

Dalam dunia

yang tak kau kenal

Tetap kau simpulkan

tangan di bahunya

Dalam ruang

yang menyempit

Sempat kau lambaikan

kedua tangan

Dalam raga

yang kau ragukan

Tetap terselip

gurat di pipimu

Denpasar, 2020

*) Ayu Pawitri adalah mahasiswa Ilmu Politik tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Bali. Sesekali menulis, seringkali tidak percaya pada diri dan hanya menulis di blog pribadi.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Suatu Hari di Tahun Epidemi


Jarum-jarum hujan menghujam wajahku
Seperti kenangan yang datang tiba-tiba

Menjemput ingatan entah tentang apa
Mandi bersama ibu dulu sewaktu kecil

Atau melihat tubuh telanjang kekasih
Bersama nafas yang makin memburu

Kota menjadi basah setelah panas itu
Wabah membuat kecemasan panjang

Berita kematian terus hadir di telinga
Kau bersedih melihat badut menangis

Berdiri di mal yang sepi tanpa pembeli
Di depan kaki kotak uang tak jua terisi

Kita ingin semua kembali seperti biasa
Bekerja dengan tenang penuh keriangan

Hamparan gunung terlihat di layar ponsel
Awan-awan di kotamu kabarkan rindu ini

2020


Menunggu Nasi Matang

Sup di meja telah dingin. Sambil menanak nasi,

aku asyik pandangi ponsel kabarkan kematian

dimana-mana. Detik demi detik, setiap hari.

Dunia kini bersedih karena wabah membunuh

jutaan nyawa. Kehilangan pekerjaan, banyak

orang menjadi depresi. Ada yang bunuh diri.

Katanya setelah ini lahir era baru, bumi

sedang membersihkan diri. Kematian

membuat sedih, kau belum alami hal itu.

Lelaki mengundang makan orang lapar,

baru saja ia kehilangan pekerjaan. Dia jauh

lebih mulia daripada mulut yang bicara.

Aku teringat nyanyian guruku, bersama

anaknya ia bergumami tentang ubi goreng

dan sayur bayam. Makan apa yang ada.

Nasiku telah matang. Puisi adalah angin

berlalu, sebab aku belum bisa membuktikan

apa-apa. Seperti lelaki pemberi makan itu.

2020

Jika Corona Berlalu


Katamu kamu bosan
Di rumah memakai daster
Mengurus cucian-setrikaan

Kamu sudah puas rebahan
Setelah membeli kebutuhan
   Digawai secara online
Kuota internetmu berkurang
Kamu merasa tak tahan lagi

Tak ada yang tahu kapan
         wabah ini berakhir
Kita teringat liburan terakhir
Kini tak bisa kemana-mana
Warga disarankan di rumah
       Agar tak tertular virus

Mal dan toko-toko tutup
    Karyawan dirumahkan
Tak ada lagi yang datang
Pengusaha susah, tak tahu
         mesti berbuat apa.

Jalan malam hari sepi
     Kota hampir mati
Kecemasan terbayang
Di wajah tertutup masker
Perawat diam menangis
Kematian di depan mata

Jika Corona berlalu
Ada yang menunggu
Tangan keriput ibu
   Kucium penuh haru
Bertemu kembali
Di rumah kenangan

2020

Catatan:
Puisi terinspirasi dari lagu @tante_moji yang banyak didengar di media sosial


*) Angga Wijaya, bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali 14 Februari 1984. Puisi-puisi tersebar di banyak media dan antologi bersama. Buku puisi terbarunya ‘Tidur di Hari Minggu’ (2020) merupakan buku kumpulan puisi kelima yang ditulisnya di sela-sela rutinitas sebagai wartawan lepas dan guru jurnalistik sebuah SMA di Kuta, Badung, Bali.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending