Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Lailatul Kiptiyah

mm

Published

on

Berjalan Meninggalkan Supermarket
sebaris semut melintas
menuju ujung batas
di mana remah roti dikibaskan

dan setetes chablis menggelincir
pelan dari bibir sebuah gelas

di atas, kabel-kabel listrik serupa
rel-rel hitam memanjang
jalur bagi burung-burung  kecil
hinggap sebelum haribaan

di jalan, sebaris mimpi melintas
menuju gemerlap lampu

dan ketika maghrib tiba
apakah ada batas
antara kepuasan dan kehampaan itu?

Pagesangan, November 2016

 

Tangga
Kau hanya perlu hati-hati dalam mendaki
tangga yang melingkar ini. Lihat! Tubuhnya
yang meliuk bagai ular lapar menggeliat

di ladang penghabisan itu, mampu menciptakan
gentar tak tertakar. Ke sekujur kelenjar tubuhmu.
Maka kau harus yakin sepasang kakimu kuat

dan seimbang. Tidak! Jangan kau biarkan masa
lalu menang, merebut jalanmu di depan. Apa
lagi membikin nyalimu bimbang.

Lalu tangan. Dalam mencakup susuran demi
susuran, tanganmu juga harus tenang, bersih
dari keringat. Dari dusta-dusta tak terlihat.
Sebab ada yang suka melempar tapi tangannya
tak terlihat.

Jangan kau tiru yang seperti itu

Bagaimanapun,  berjalan mendaki tak perlu
buru-buru. Bukankah kerdip cinta lebih abadi
ketimbang kerjap kembang api tahun baru?

Apalagi jika kau membawa penuh
muatan. Pada pundak, pada dada, pada pikiranmu.
Seperti doa yang teratur mengetuk pintu rumahmu
datang dari sebuah alamat;
kamar ibumu.

Pagesangan, November 2016

 

Puisi yang Menunggumu
sebuah puisi berdiri di luar pagar
ia menunggu tanganmu memutar
gagang pintu lalu keluar

: menyapanya dengan senyuman
seorang petani
: menyentuhnya dengan kesedihan
anggun sekali

Pagesangan, November 2016

 

Diwali*
diwali datang di awal musim
nyala dupa harum samosa
meruap diantara kidung kitab-kitab tua

orang tua dan anak-anak berkumpul
ritus doa bagi leluhur
ada yang tumpah ke atas lembar
tikar; serbuk-serbuk merah melingkar

holi, holi diwali
limpahkan berkat sepanjang tahun ini”

diwali datang dalam nyala lilin dan
semangkuk manisan
ada yang selalu tertinggal
dari getar perayaan

;nama-nama yang bersemayam
dalam abu
gemertap di antara jajaran cahaya itu

November 2013 – 2016

*hari raya umat Hindu India

 

Melankoli Januari
kuncup basah di sebuah pagi Januari
serupa bulir embun pecah
menyeka kedua belah pipi

kau tahu,
dulu seseorang kerap datang
menerabas padang ilalang
lalu meneruskan melayari sepi
di sepanjang pematang
di ujung kelam pagi

dan aku selalu menunggu,
musim bediding itu
dimana anak-anak puyuh
riuh berkerumun
di selia batang padi,
di bawah gigilan halimun

hingga tiba musim menuai
di mana bulir-bulir padi
memisah diri dari tubuh
sabar jerami;
seusai petani menggelar kenduri

oh, kini lihatlah,
langit di atas sawah itu redup
dan burung-burung pipit
perih memintal kuyup
lewat sayap-sayapnya yang terkulai

mengitari atap dangau
yang telah masai
hanya kulihat bunga-bunga liar,
mekar di celah pagar
menggantikan aroma jerami
yang dulu kerap meruapi latar

terbasahi pendar hujan Januari
menderas jatuh
di petak-petak kesedihan ini

Jakarta, Januari 2012

Obituari

              : Mei

ada kabar tiba
oh, dukacita masal
berangkat dari sebuah kota;
ribuan kupu-kupu dengan sayap kuning
tanpa daya
tertancap duri-duri luka

selajur sungai berganti warna
kental dan kekal
diam mengarus melintasi Katedral

“tolong, jangan sakiti kami
dalam tubuh kami mengalir
keringat pribumi.”

dari ketinggian mendung rimbun
setelahnya hujan tumpah bagai jarum
membangunkan akar-akar duka
menusuknya dengan marak
dan sejarah;
serupa debu-debu menebar
menutup halaman-halaman merah

2013-2016
Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur. Puisi-puisinya dimuat di Indopos, Media Indonesia, Bali Pos, Suara Karya, Suara NTB, Padang Ekpres, Sumut Pos, majalah remaja Story, Dll. Juga tergabung ke dalam beberapa antologi bersama. Pernah diundang menjadi peserta pada; Temu Sastrawan Indonesia ke IV di Ternate (2011), Pertemuan Penyair Nusantara ke VI di Jambi (2012), Tifa Nusantara 1 di Tangerang (2013). Tifa Nusantara 2 di Tangerang (2015), Tifa Nusantara 3 di Marabahan, Barito Kuala (2016). Setelah lama bekerja di Jakarta,  sejak tahun 2014 tinggal menetap di Mataram dan turut bergabung pada komunitas Akarpohon Mataram – NTB.

Continue Reading

Puisi

Puisi Musim Hujan

mm

Published

on

Nyanyian Hujan

Kita yang membakar api
Kau yang memilih tersedu

Jika tidak karena lukanya, kita telah sirna
Jika tidak karena ratapmu, kita telah menua;
Dan sia-sia

Nyanyikan lagi lagu jiwamu
Aku telah terkutuk mendenger deritamu
Cinta kita yang semi tanpa musim
Tumbuh dari akar kengerian
Jika tidak karena lukanya, kita telah sirna
Jika tidak karena ratapmu, kita telah menua;
Dan sia-sia

Betapa fana cinta betapa lara asmara
Betapa abadi rasa betapa dalam tangis
Kita yang terbakar dan habis
Jika tidak karena lukanya, kita telah sirna

*

Jika saja kau ingat
Betapa lembut tatapmu dulu
Betapa gairahku pada sekujur jiwamu
Seakan seluruh bumi menjadi musik
Kita lagut dalam tari yang mabuk
Betapa tak perdulinya
Jiwa kita alangkah bebasnya
Tidak gerak dari kerling matamu
Adalah madah dan sihir bagi jiwaku
Hidupku karena kerling matamu
Sungging senyummu nyawaku
Walau telah pasti kita kan sama pergi
Ke kubur tergelap nun abadi

Kenakan gaunmu warna merah
Tunggu aku di puncak kesunyian
Aku datang dengan selendangmu
Mengantarkan nasibku pada kengerianmu
Kita sama pergi kita sama abadi
Biarkan musik mengalun, kita terus saja
Menari-narikan tarian jiwa
Nyalakan api dalam matamu
Biar kita terbakar; dan puisi menjelma mantera
Dari dalam jiwa paling diliputi cinta.

Sayangku, siapa itu mengintip dari celah langit
Seperti maut menyungging; dan kita terus menari..

O, apa yang lebih ngeri dari matamu yang berhenti
mengerling?
Dan jiwaku ingin mati dalam kerling cintamu, pada
matamu..

Jakarta, 7 April 2016

Yang Hilang Dalam Hujan

Rambutmu cahaya petang
Kakimu tarian abadi
Kerling matamu ranjang sukmaku
Aku luruh pada sejengkal tulang dilehermu

Keindahan sepanjang kemabukan
Pada bibirmu aku menuju kebebasan
Kita berpagut tiada henti
Seolah sebantar lagi kita pergi…

*

Hentakkan lagi dan tertawalah
Lepas itu kita ke laut
Menacari kebebasan biar pasti karam
Tapi telah pasti kita pemberani
Mengayuh sampan walau rapuh
Ke tengah ke intinya penghidupan
Tiada sawan menali
Kita memang memilih pergi…

*

Jika saja kau ingat
Bagaimana aku luput
Ketika rambutmu tergerai
Dan matamu melesat ke dalam jiwaku
Kuserahkan seluruh
Kau menali—kita telah luruh.

Jakarta, 23 Maret 2016

___________________________

*) Sabiq Carebesth: Lahir pada 10 Agustus 1985. Pendiri Galeri Buku Jakarta (GBJ). Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012), “Seperti Para Penyair” (2017).

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending