Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Ladinata Jabarti

mm

Published

on

Begonia Rex Frosty Dwarf

lantaran rindu

selalu menggelinjangi jiwa cintaku

dan menyebari sejumlah bakteri pengurai

kubisiki juga kau pada akhirnya

dengan suara cinta

hingga pipimu jadi sumringah

seperti begonia rex frosty dwarf

yang kita lihat bersama

di taman milikmu

pada gerimis sore

 

Sajak Buat Ita

kita pernah bersama, Ita

dalam persahabatan

dan tarian yang kau persembahkan

begitu cepat kurasakan waktu berpacu

meninggalkan ingatan

yang terpaut dan bertahan

pergilah Ita

pergi dengan bunga-bunga dan warna biru

kutahu tak ada yang seperti dulu lagi

 

Boa Noite, N

hari sudah malam, N

udara mulai sangat dingin sekali

tetapi seperti orang yang sudah tak punya rumah

dan tak punya ibu kandung

aku tak akan kembali-kembali

dari malam yang paling akhir

bukan aku, N

semuanya kau hancurkan

impianku, udara yang bersih

dan surat-surat cintamu sendiri

 

 

Solitude

tahun-tahun itu sudah pergi, Ni

banyak yang hilang sebelum datang semua

tidak kukira hanya sebentar

kemudian aku akan sepi kembali

ada daun berguguran di depanku

dibawa angin hingga sendiri

tanpa kurasa, airmataku ikut gugur

 

Sebelum Malam Purnama

tunggu dan sabarlah

besok malam

ketika purnama

aku akan datang padamu

mengadokan rinduku

yang telah kujerat dengan susah payah

selama ini

untukmu

tunggu dan sabarlah

 

Sajak Kepada Go Kim Seng

Kim, kukira telah tiba waktunya bagiku

memiliki keberanian untuk memutuskan sesuatu

kau sendiri tahu

telah beberapa kali musim kemarau

aku tidak pernah dapat menerima

semua yang ada di depan mataku sendiri

kadang-kadang aku merasakan sesuatu yang berharga

jika aku bangun pada jam dua belas malam

atau pada pukul satu pagi

kupikir pada saat seperti itu

aku mulai belajar sendiri dan memiliki kesabaran

dan jika semua yang sunyi

telah berubah menjadi begitu ramai

aku tidak perlu menyesal jika punya pendirian

 

Sejumlah Sinar Matamu

telah kujabarkan

sejumlah sinar matamu

pada sunyi malam

saat kumereguk kemabukan

di bawah sinar rembulan kusam

dan cemara muda, kedinginan

sendirian

menggurat dalam-dalam hatiku

 

Pada Malam Kita, Jen

pada malam kita

langit bagaikan gurun pasir

dan angin sangat teguh pada sepoi

menjadi syair malam pada semua bukit dan padang rumput

pada malam kita, Jen

terasa benar rambutmu pada pundakku

dan nafasmu siang hari

berguguran di telingaku

 

ah, Jen

mengapa kau gigit bibirmu

dan memandangku dengan beku

 

Tadi Malam Ada Bunga Untukmu

tadi malam

aku memetik bunga untukmu

biar pun kau bukan di depanku

dan cinta manis ini

bukan cuma kepunyaanmu melulu

tadi malam

aku memetik bunga untukmu

lantaran banyak rindu padamu

yang merongrongku

 

Tentang Saran

maknakanlah

pabila kau ragu

akan kata sungguhku

setiap binar mataku

yang berkilat aneh

pabila jumpa

pada binarmu

melurku

 

Tentang Samar

manisku, seharian ini

aku mati di pangkuanmu

mencari hemoglobin

pada eritrositmu

yang lama kurasuki

dengan delapan proton

delapan elektron

dan sepuluh neutron rindu butaku

belum kudapati juga

makna lirik anehmu

 

Sajak Kasmaran

mengalir lembut

membasahi pipiku

kuusapi rambutnya

airmatanya semakin deras keluar

bagai telaga

bening dan hangat

bagai airmata seekor merpati

yang jatuh ke bumi

 

Akan Tidakkah

akan tidakkah

tali ini terputus

pabila hatimu mulai buram

dan mencoreng wujudku

dari mimpimu itu

sekarku

 

Tanda Kujadi Satu Juga

anak rambutmu

persis ilalang-ilalang

yang kuinjak kemaren senja

tak kutahu kakiku terluka

saat ini dalam dadaku

membiru resah

ada yang kusisakan buat besok

bekal menyisiri rambutmu

buat dikepang menjadi dua ikat ekor kuda

tanda kujadi satu juga

padamu

 

Sajak Hujan Kecil

sejauhnya dari jarak aku pergi

aku selalu bakalan kembali

lantaran aku punya tempat abadi

untuk selalu kembali

dan menjumpaimu berkali lagi

 

Cantabile Con Moto

selamat tinggal

semua sahabat baik

sinar matahari yang menerpa ruangan

dan lonceng sekolah

selamat tinggal

bangku-bangku

kembang-kembang flamboyan

becak-becak

cinta Jen

dan semua jendela-jendela kelas


 

Ladinata Jabarti: Penterjemah, Dosen dan Alumni Jurusan Sastra di Universitas Negeri Sankt-Peterburg, Rusia. Associate Editors di Galeri Buku Jakarta. Ia baru saja menerbitkan buku terbaru berupa terjemahan karya Maxim Gorky berjudul “Cinta Pertama” (2017)

Puisi

Sajak Sajak Sabiq Carebesth

mm

Published

on

Prometheus

 

Untuk melihat pada yang jauh

 

Jika tidak ada kehidupan

Kisahku tiada rekah

Tapi cintaku

Kusimpan sendiri

Sebagai nyala api

 

Biar aku dikutuk

Biar jantungku habis tertikam

Denyutnya mengisahkan cinta

Sebab tiada cinta

Bebas dari kutuk nestapa

 

Hanya jika kaku tahu

Getarnya membuat burung bul bul

Menari—dan sepasang kekasih

Membumbung dalam dekap dan tari

Tiada kan padamu sesal mencinta

 

Jika taka da cinta

Sajakku tiada kan jadi lagu

Tapi hatiku

Kusimpan sendiri

Supaya dapat kukenang

Cintamu yang menari

Waktu itu…

 

Jakarta, 26 Juli 2018

 

Kadang-kadang

 

Dijariku sebatang rokok

Waktu malam ditinggal

Oleh keributan siang tadi

Aku bicara pada angin

Aku bicara pada bayangan

Aku

Aku

Bicara

Apa kau mendengarnya?

 

Sajak-sajak adalah aku

Aku sajakmu

Kadang-kadang

Sajak-sajak hilang

Seperti waktu

Kadang-kadang

Hanya malam kelu

 

Aku membayangkan

Tentang waktu dan sajak-sajak

Tentang aku dan kamu

Tentang kesia-siaanku

Juga tentang kesia-siaanmu

Kecantikanmu

 

Para penyair adalah kekasih

Bagi kesunyiannya sendiri

Kadang-kadang—tak lebih dari itu.

 

28 Agustus 2018.

 

Sajak Berjudul Namamu

 

; Gui

 

Pergilah pada kejauhan

Tapi tinggalkan wangi tubuhmu

Biar kucumbu;

Rambutmu yang malam

Pipimu yang senja

Suaramu yang subuh

 

Bawa serta lelapku

Di antara lekuk lehermu

Mimpiku yang kusemai

Di punggungmu yang gurun bersalju

 

Matamu gema

Nyanyian sukmaku

Dari mana aku dulu berangkat

Menjemput penantianmu

Dari kesunyian maha purba

 

Pergilah pada kejauhan

Aku takkan kemana-mana

Kenakan gaun warna hitam

Biarkan aku lelap sekali lagi

Dalam debur gemuruh

Dari samudera membentang

Di antara payudaramu yang gemintang.

 

1 September 2018

 

Continue Reading

Puisi

Sajak-sajak Afrizal Malna

mm

Published

on

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.kartu identitas penduduk di china

kartu identitas penduduk di china

untuk lan zgenghui

Aku sudah menyiapkan tas ransel, mesin pencukur jenggot, dan sebuah kebangsaan yang dipotret di kantor kecamatan. Setiap terbangun, aku takut ketinggalan pesawat. Atau menemukan diriku sedang bercinta dengan bahasa China di kamar orang lain. Hari Selasa kemarin tidak datang. Besok masih besok. Kemarin entah ke mana sebelum hari Minggu. Hari Selasa masih menunggu kemarin yang tidak datang. Hari Selasa bukan hari Selasa kalau belum hari Selasa.

Besok, hari Selasa mulai akan melubangi bayanganku dari punggungku, untuk mendengar bahasa China dari sipit mataku hingga hardware komputerku. Besok masih besok sebelum kemarin. Hari Selasa tidak menyimpan 100 tahun dari ketakutan setiap generasi pada Kartu Identitas Penduduk, pendidikan dan lapangan kerja. Orang-orang membuat rumah untuk berdusta. Menjeritkan generasi yang berceceran di tangga eskalator. Dan menjeritkan lagi ketakutan mereka di atas great wall. Sejarah seperti obeng dan gergaji yang menjauhkan manusia dari tangan-tangan waktu.

Apakah kamu dari Indonesia? Tanya supir taksi. Ya jawabku. Seperti menjawab suara jeritan dari toko-toko yang terbakar di Jakarta. Perempuan mereka yang ditelanjangi dan diperkosa. Tubuh-tubuh yang berubah menjadi arang hitam. Sejarah yang mengambil tangan kita, dan membenamkannya kembali berulang ke dalam luka yang sama. Luka yang kembali bertanya: Apakah kamu dari Indonesia?

Pagi itu kabel-kabel listrik di jalan masih menahan dingin, melepaskan sisa-sisa malam, lemak dan kembang api olimpiade. Seorang teman memesan topi Mao. Apa yang aku kenang tentang negeri ini dari great wall, topi bulu musang dari Mongol, teguran politik dari Tibet, air terjun manusia yang tumpah dari lubang langit – hingga manajemen komunis yang mengatur penghasilan penduduk sampai kamar hotelku.

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.

khotbah di bawah tiang listrik

Aku membiarkan malam membuat balok kayu di punggungku. Angin berhembus seperti tiang gantungan yang menyeret talinya sendiri. Seorang lelaki, setelah menutup pintu mobilnya, berlari ke tiang listrik. Suara lubang dari tubuhnya terdengar mengerikan seperti suara sel penjara jam 11 malam. Kenapa kau berada di luar khotbah yang kau buat sendiri? Kenapa ada lendir yang menetes dari jam 11 malam?

Lelaki itu adalah jam 11 malam yang meninggalkan khotbahnya sendiri. Adalah jam 11 malam yang baru menemukan lubang sebesar paku di telapak tangannya sendiri, menyeret kesunyian dari leher tuhan yang telah menciptakan lelaki jam 11 malam. Bekas kawat berduri di keningnya, dan sisa-sisa nikotin di jari-jari tangannya. Lelaki itu membersihkan semua vagina untuk menemukan anaknya, khotbah-khotbah yang selalu ditutup dengan hujan yang digantung di tiang listrik.

Benarkah, tuhan, benarkah aku bisa melihat? Benarkah aku bisa mendengar? Benarkah, tuhan, benarkah aku sedang berdiri di bawah tiang listrik ini? Benarkah aku telah menggantikan khotbah dengan kematianku sendiri, bukan dengan kematian orang lain. Benarkah aku sedang berjalan meninggalkanmu, meninggalkan pakaianku di dalam mobil. Benarkah tubuhku telah menjadi lantai dalam geraja itu.

antri uang di bank

Seseorang datang menemui punggungku. Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu, seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai. Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku.

batu dalam sepatu

Selamat pagi Kamsudi, selamat pagi Busro, selamat pagi Remy dan Aidil yang marah. Kami masih di sini, di warung sop buntut kemarin, gelas kopi kemarin, asbak dan kursi plastik kemarin. Kami masih menjaga sebuah batu yang kami simpan dalam sepatu kami. Kami memotret tubuh kami sendiri di depan warung kopi, di samping tong sampah. Rambut putih yang putus dari kepala kami, setelah tertawa tertahan, dan hari kemarin masih di sini.

Selamat pagi, waktu. Selamat pagi semua yang telah menggantikan malam kami dengan cerita-cerita kecil. Waktu yang melapukkan atap kamar tidur kami, sebelum kami sempat terpulas, mengintip mimpi dari tembok-tembok berjamur. Hampir 50 tahun kami menunggu hingga sepatu kami kembali berubah menjadi kulit sapi. Waktu, seperti makhluk-makhluk asing yang beranak-pinak dalam tubuh kami. Puisi yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana cara menuliskannya: 12 selimut untuk teman-teman dari Makassar. 12 selimut untuk teman-teman dari Padang dan Lampung.

Dan besok, besok kami akan datang lagi ke warung kemarin, ke Jalan Cikini kemarin yang telah menjadikan tubuh kami sebagai percobaan waktu untuk menunggu, percobaan menunggu untuk bisa melihat, percobaan melihat untuk mengenal kedatanganmu tak terduga. Percobaan untuk tetap berada di hari kemarin. Para gubernur datang dan berganti di kota ini, seperti permainan dalam kota-kota kolonial. Membuat peti telur untuk puisi dan teater.

Kemarin. Kami—kami tidak pernah tahu tentang hari ini dan hari esok. Dan batu lebih dalam lagi, lebih keras lagi, antara sepatu dan kulit sapi. Batu—untuk semua negeri yang terlalu curiga pada kebebasan, pada kemiskinan dan orang-orang yang masih tetap berjalan dengan kakinya.

kesepian di lantai 5 rumah sakit

Lelaki itu menatapku setelah selesai mengucapkan doa. Keningnya seperti mau berkata, apakah aku sedang membuat dusta? Aku menghampirinya, dan mencium bibirnya. Tubuh manusia itu sedih dan menyimpan bangkai masa lalu. Tetapi keningnya mengatakan, bahuku sakit dan bisa merasakan ciuman dari seluruh kesepian.

Aku kembali mencium lelaki itu, seperti jus tomat yang tidak tahu kenapa lelaki itu berdoa dan sekaligus merasa telah berdusta. Aku memeluk lelaki itu di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu melihat ambulan datang dan menerobos begitu saja ke dalam jantungnya. Dia tidak yakin apakah ambulan itu apakah jantung itu.

Lalu aku melompat dari lantai 5 rumah sakit itu, lalu aku melihat tubuhku melayang, batang-batang rokok berhamburan dari saku bajuku. Aku melihat kesunyian meledak dari seragam seorang suster, lalu aku tidak melihat ketika tiba-tiba aku tidak bisa lagi merasakan waktu: tuhan, jangan tinggalkan kesepian berdiri sendiri di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu tidak tahu apakah kematian itu sebuah dusta tentang waktu dan tentang cinta.

Lelaki itu kembali menatapku setelah selesai mengucapkan kesunyian, dan membuat ladang bintang-bintang di kaca jendela rumah sakit. Ciumannya seperti berkata, kesunyian itu, tidak pernah berdusta kepadamu. Aku lihat wajah lelaki itu, seperti selimut yang berbau obat-obatan. Perangkap tikus di bawah bantal. Dan kau tahu, akulah tahanan dari luka-lukamu.

__________________

*) Afrizal Malna lahir di Jakarta dan kini bermukim di Yogyakarta. Penulis buku sajak “Bantal Berasap: Empat Kumpulan Puisi (2010). Dan beberapa kumpulan sajak, kritik sastra dan naskah drama lainnya.

 

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Wawan Kurniawan–Variasi Mimpi Setelah Menelan Pil Obat Tidur

mm

Published

on

Variasi Mimpi Setelah Menelan Pil Obat Tidur

 

1.

dua ekor kelinci melompat girang

masuk ke dalam dua bola matamu

lubang sembunyi paling dalam.

 

2.

setengah rumah kita

adalah halaman belakang yang lapang

menampung gugur daun yang subur

membunuh dirinya beserta kebisinganku.

 

3.

anjing merah berlari mengejar

bayanganku – sedang aku berdiri

di atas batu hitam tua yang merana

menangisi kematianku hari rabu nanti.

 

4.

di jalan batua, toko kecil mulai dibuka

para pembeli datang dengan anak kecil

yang merengek minta beli balon hijau

tapi kemudian toko meledak satu per satu.

 

5.

pepohonan di tebang begitu saja

mereka jatuh sebelum diterjemahkan:

kepada aspal yang mendidih, klakson

kendaraan yang bising, serta kepada macet

dari satu waktu ke masa lain yang entah kapan.

mereka tumbuh tak lagi bertubuh.

6.

di pantai losari,

seseorang lelaki bermata sipit

menggendong anaknya yang hitam,

seorang penjual coto membuang mangkuk

dan seketika menjelma perahu raksasa,

kita pun pergi mencari tempat lain yang jauh.

 

7.

kuah coto menjadi ombak kecil

menenggelamkan lambung dan

jantung yang ingin jadi jembatan

antara kematian dan kehidupan hari

kemarin dan masa depan nanti.

 

8.

kulihat kau terbangun

menarik selimut menutup mayatku

dan tidur terasa semakin panjang dan hening.

 

Kwatrin Tentang Seorang Jung

 

Di meja, tumpukan kertas serta debu menjelma kamu

merangkak masuk ke dalam kepala sebagai tamu

dia berjaga di batas kesadaran dan ketidaksadaran

lalu palang di ingatan pun akan musnah berhamburan

 

Tapi kapan pertemuan denganmu tiba tanpa harus menanti

lebih lama lagi, aku tak pernah benar percaya kepada mati

dan apa yang kurapalkan bukan lagi berasal dari hati

melainkan ketakutan – jikalau manusia tak mampu mencintai.

 

Sebut Saja Aku Mimpi Buruk

 

bangunlah sepagi mungkin,

aku paham kau mencari terbit matahari

kau juga telah berkeras menerima gelap

dalam nasib buruk yang berbaik hati lenyap.

 

biar hari kemarin tetap terjalin dalam puisi

besok pun akan demikian adanya.

aku tak beranjak sama sekali,

bahkan selangkah pun.

 

tapi kau ingin melihat kota lain –

dengan kerlap kerlip lampu begitu mewah

serta kabar baik masa depan yang megah.

 

celakanya, aku bersetia pada masa lalu

biar hari berlalu aku terlampau melaju

pada ulang kenangan yang akan menang.

 

kasih tak akan habis berkisah.

meski kau hendak membawa kecupmu

kepadanya.

di masa yang cepat dan kau susun

dengan pasti; aku dengan lamban

mencintai segala yang tak kukenali.

 

maka selamanya,

sebut saja aku mimpi buruk.

 

Kau Belum Bangun Pagi Ini

 

Di jendela, kulihat cahaya mencari cara

Agar diriku percaya pada dunia pagi ini

Tapi tumpukan buku, kertas dan cemas

Berubah jadi semesta gelap yang hangat

Membiarkan tubuh terbaring dan merasa

Jikalau langit kamarku tak terasa tinggi lagi

Aku melihatmu terlelap dan segala di sisimu

Seakan jadi rumput basah dipeluk embun

 

Kau belum bangun pagi ini, setelah semalam

Kita baru saja usai mencatat hitungan bintang

Tiga ribu dua puluh lima juta katamu dan esok

Angka masih akan bicara melampaui waktu

Dan kepercayaan segala risau yang bersuara

Biar aku duduk tenang di kursi ruang tamu

Menerka seberapa lama dan banyak kehilangan

Di meja, kulihat uap teh hijau hendak diterjemahkan

 

*) Wawan Kurniawan, alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul “Persinggahan Perangai Sepi (2013)”. Serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Buku puisi kedua terbit “Sajak Penghuni Surga (2017)” Buku esai pertamanya yang memuat 50 tulisan yang pernah dimuat di Koran Tempo Makassar dari tahun 2013-2016 terbit Februari 2017 dengan judul “Sepi Manusia Topeng” oleh Penerbit Nala Cipta Litera kerjasama komunitas Literasi Makassar dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sulawesi Selatan. Karya-karyanya pernah dimuat di Jawa Pos, Media Indonesia, Riau Pos, Bali Post, Koran Tempo Makassar, Suara NTB, Harian Fajar Makassar, Tribun Timur Makassar, Serambi Indonesia, Republika, Koran Sindo, Kompas, Harian Cakrawala Makassar, Lombok Post dan beberapa website.

Continue Reading

Classic Prose

Trending