© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Puisi-Puisi Ladinata Jabarti

Cinta Sejati

     kepada amang dei

     perempuan dari Odisha

 

Girangnya Amang Dei yang mati

Dipanggul lakinya

Di derai angin kemaren hari

Dipenuhi rasa laranya.

 

Hebat bukan kepalang Dana Majhi,

Dia sudahlah pasti memang lakinya

Lantaran punya cinta paling sejati

Dan pemenuh setiap janjinya.

 

Dan di deraian angin segala hari,

Amang Dei yang mati betah menanti datangnya,

Kekasih hati yang abadi

Dalam kepastian pertemuan sejatinya.

Jakarta, 1 September 2016

Sang Juara

  kepada mirna ashrifiyanti

       perempuan dari Jatinangor

Bukantah manusia masih juga bisa tangguh

Buat tetap bertahan hidup

Meski tidak pernah dimiliki?

Bukantah manusia dapat tidak mesti berpura-pura

Dan mampu menyederhanakan banyak keinginannya?

Sudahlah kekal bagi para pengemban takdir:

Angin yang memberaikan awan,

Hujan dan sinar matahari yang menyapa bumi,

Selalu memunculkan ingatan:

Hidup tidaklah lebih dari sekedaran

Jalannya waktu yang memang tidak lama

Dan pernik-pernik kebiasaan yang jadi lalu

Dan juga sedikit serpihan keabadian

 

Jakarta, 14 Agustus 2016

Bunga, Samudra Dan Ikan-Ikan

surat buat yuyun dari rejang lebong

 

Yun, bapak bawakan bunga,

yang terbuat dari airmata,

tempatkanlah di beranda rumah surgamu,

agar Yuyun selalu tahu,

itu airmata semua ayah yang memiliki anak perempuan,

anak perempuan seperti Yuyun.

Yun, bapak buatkan untukmu, bapak buatkan bunga,

yang terbuat dari airmata,

tempatkanlah di hatimu, ya, wahai anak yang baik

agar Yuyun selalu tahu,

itu airmata bapak yang kehilangan segalanya,

lantaran kehilangan Yuyun,

kehilangan tawa, bahkan lara,

Bapak janji, Yun,

bapak akan buatkan samudra di surgamu nanti,

yang airnya tidak pernah bakalan surut,

lantaran asalnya dari airmata 14 laki-laki,

yang tidak pernah habis,

yang pada ketika itu, Yun,

yang pada ketika itu,

mereka diberkahi dengan anak-anak perempuan,

anak perempuan seperti kamu Yun,

ya seperti kamu, Yun,

yang kamu sayangi,

yang selalu kamu sayangi, Yun,

lantaran mereka mengirimkan kepadamu ikan-ikan,

ya ikan-ikan, Yun,

ikan-ikan yang terbuat dari airmata mereka sendiri,

yang jadi para penghuni samudra,

samudra yang ada di dalam surgamu itu, Yun,

ya samudra di dalam surgamu itu, wahai anak yang baik

Jakarta, 4 Mei 2016

 

Menjadi Ingatan

       meski dengan tanpa jeda aku selalu belajar untuk jadi dilupakan,

       satu catatan mayapada mirna ashrifiyanti

       perempuan dari Jatinangor

Jadi, biarkanlah saja derai angin menetapkan takdirnya,

Bumi menetapkan takdirnya,

Begitu juga cerahnya langit.

Aku pun telah ditetapkan dengan jauhnya jarak darimu,

Ditetapkan dengan dukaku,

Ditetapkan dengan patah hati yang kelewat abadi,

Bukan sekedar kesaklakan yang rupanya biasa saja:

Kau haruslah diberi tahu, pada akhirnya juga,

Aku pergi bukan untuk melupakan,

tetapi selalu untuk mengingatmu.

Jadi, biarkanlah saja derai angin menetapkan takdirnya,

Bumi menetapkan takdirnya,

Begitu juga cerahnya langit,

Begitu juga bunga-bunga berwarna di atas hamparan tanah,

yang perlahan menuju hilang, tetapi selalu saja menjadi ingatan.

Jakarta, 26-27 Juli 2016

Bidadari Kecil

kepada Angeline

     gadis kecil dari Denpasar

 

Bidadari, bidadari

Indahnya engkau dalam kilau matamu,

Gemilang binarnya, sungguh gemilang

Betapa senyummu, betapa

Mengendapkan lara dan sedih merepih

Sekali-kali tiadalah engkau menghukum siapapun juga,

Menderitakan, melarakan

Tetapi aku menghukum diriku

Begitu rupa, sampai batas waktuku,

Merasakan salah abadi,

Tak terperi, tak terperi

Jatinangor, 3 Mei 2017

Rupawannya Tuhan

kepada Mistianah

      gadis kecil dari Labuhan Ratu

 

Ah, sekarang kau jadi rupawanku,

Karena kebersihan dan kepercayaan hati:

Kehebatan yang tak tertandingi

Di jagat raya mana pun

Dan aku akan mengenangmu

Pada sepanjang hidupku

Menyapamu di dalam hadaroh:

Menyejenakkan diri untuk mengagumimu

Dan pada setiap waktu yang bergerak

Rasa-rasanya aku jadi mampu percaya

Kau memang rupawannya Tuhan

Jatinangor, 3 Mei 2017

Cahaya Yang Hebat

  kepada Putri Nurfaizah

      gadis kecil dari Kalideres

 

Marilah aku kisahkan satu cerita

Mengenai kekuatan anak manusia

Terutama yang berpijak

Bahwa semua manusia layak dipercaya

Dan ketika ada yang meruyak rasa percayanya,

Ketika itu juga anak manusia itu

Telah menunjukkan cahaya yang maha hebat,

Cahaya yang menyinari pengapnya jiwa manusia

Dan manusia yang memberikan cahaya kemenangan itu

Adalah kau, kekasih hati,

Kekasih yang ada di rumah Tuhan:

Yang menggugu setiap suara hati,

Menegur halus perilaku

Menegur peradaban

Jatinangor, 3 Mei 2017

____________________

LADINATA JABARTI: Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Pernah bekerja di Russian Center for Science and Culture, (pernah) menjadi pengajar di Pusbasa Hankam dan Tour Leader di Bali, Jakarta City Tour dan Java Overland.  Pengabdian yang konstan sebagai pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Pekerjaan abadi rasanya jauh lebih baik sebagai penerjemah, dalam area fiksi atau pun bukan fiksi. Telah mengeluarkan dua buku penerjemahan kesusastraan Rusia: Pertimbangan Cinta (2010) dan Cinta Pertama (2017).

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT