© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Puisi-Puisi Im Midadwathief

Penantian

Sayang, ke mana dikau pergi?

Kudatangi tempat-tempat suci

Kukunjungi rumpun bunga-bunga wangi

Tak kucium gelagatmu sama sekali

 

Sayang, temuilah aku barang sesruput kopi

Cuap-cuap tentang kebahagian sejati

Menata niat, mensejajarkan langkah demi keindahan abadi

 

Sayang, paling tidak wartakan kabarmu padaku

Masih relevankah janji-janji suci?

Masih tersisakah energi revolusi?

Masih adakah rona merah di pipi?

 

Sayang, resolusi hanyalah resolusi

Ia tak mampu berbuat banyak tanpa eksekusi

Ia seperti patung polisi yang menakut-nakuti

Formalitas tanpa arti

 

Nyatanya, kamu hanya ilusi!

 

Mengumpat di mulut-mulut orator ulung

Membaur di suara-suara dalam forum

 

Sayang, kau hanya ada dalam mimpi

Sesekali sosokmu digaung-gaungkan dalam berbagai konferensi

Terbingkai dalam teken tanda tangan yang disetujui

Sudah itu, sekejap kau pergi

 

Sayang, di mana rimbamu kini?

Kau yang memperkenalkan diri sebagai kedamaian kepada negeri

Kau yang menggaransikan cinta bagi tanah pertiwi

 

Sayang, tak tahu lagi ke mana aku harus mencari

Barangkali sempat, ketuklah pintu rumahku dengan hati

Kalau masih ada nyawa, kuantarkan kau melihat-lihat negeri ini

Kalau aku mati, kuburkan jasadku di tanah ini

Sebab biar aku mampus kumus-kurus, datangmu tetap kunanti

 

Agar tenang anak-cucu

Agar mesra jadi satu

 

Depok, 1 Januari 2017

 

Cerutu

Lelaki tua di tepian kali menemui senja

Lama ia pejamkan mata

Wajahya seperti tak pernah jatuh cinta

 

Lalu ia sulut sebatang cerutu

Dua detik kemudian ia buang itu

Membenam di pundak batu-batu

 

“Aku… Aku… Aku…”

Pekiknya lantang meski tak merdu

 

“Kamu… Kamu… Kamu…”

Bibirnya biru

Lidahnya kelu

Tubuhnya kaku

 

Raganya tanpa nyawa

Sementara cerutunya masih menyala

 

Depok, 2 Januari 2017

Bisu

Suara adalah mantra

Lesatnya mampu merapal cinta

Meski seringkali timbulkan huru-hara

 

Mulut menjadi rumah yang menyenangkan bagi Iblis

Dari sana, api mudah menyala

Mereka membeli domba-domba

Tanduknya di adu-picu

Darah bisa mengalir dengan sekali hentak saja

Iblis-Iblis  bersorak gembira

Tertawa-tawa

 

Malaikat tak membangun sarang di kerongkongan

Berat baginya memukul mundur barisan rapat pasukan Iblis

Malaikat terhuyung-huyung meladeninya

Jatuh bangun ia

Terseok-seok

 

Jahit saja mulutnya

Biar jera semua-muanya

Kata Peri di angkasa

 

Tak ada lagi kata-kata

Tiada terdengar suara-suara

Iblis mendekam dalam benang-benang perak Malaikat

yang tersulam kuat berkilat

 

Bisu mulutnya beku

Lesu mukanya biru

 

Hampir terjadi kemesraan global

Kalau saja Dajjal tak datang mengudari jahitan

yang memenjara total

 

Suara-suara terdengar lagi

Huru-hara terjadi lagi

 

Depok, 2 Januari 2017

 

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT