Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Halim Bahriz

mm

Published

on

Pagi yang Tak Lagi Seperti Ibu

Larut malam mirip warisan ayah tiri dan sore hari

mirip wajah perawan yang mati dalam dekapan.

 

Kota seperti sebuah lantai dengan tumpahan liur vagina

yang sempoyongan merangkai kalimat sebab mabuk berat.

Akulah si piatu sintetis yang lahir dari rahim yang amnesia.

 

Cuma asbak penuh putung rokok yang mendengarku

bergumam, ketika kantuk menyederhanakan waktu.

 

Hidup seperti mimpi; cerita usai setelah tubuh terjaga.

 

O, kematian—yang terus berulang. O, adegan-adegan

tanpa sebuah pagi yang membuatku merasa kanak kembali

sebentar: menatap sulur cahaya, bingkai pintu atau jendela

seperti menonton telur menetas dalam adegan lamban.

 

Hari-hari membagi panggung untuk peran-peran aneh,

mirip akar-akar tanaman dalam pot di persimpangan jalan

: harus hijau dan mesti riang berbunga, meski harga diri

dan warna kata telah terlepas dari jalinan semesta.

Bahagia tubuh telah etalase di luar habitat manusia

H.B. 2017

10 Tahun Usia Percintaan Kami

Malam ini, setelah komuter ini berhenti di Cikini

dan tubuhku terlepas dari pintu, maka 10 tahun sudah

kereta dan diriku berbagi cerita dan kebosanan.

Orang-orang itu lagi. Orang-orang itu lagi.

Si pembaca renta dan lelaki belia yang jakunnya

kini telah menggiurkan. Tubuh-tubuh lelah yang lupa

di mana harus meletakan dirinya. Mata-mata marah

yang gagal mencari-cari bidikan. Pula anak-anak kecil

yang selalu tampak piatu di pangkuan ibunya.

 

Merk-merk segar pada penumpang, sajak-sajak iklan

pada bilah pintu, bergilir memberi pemandangan baru.

Di luar, gelap kian gemerlap dan sebingkai kaca jendela

mirip televisi mati; 15 meter kesunyian mengambang

di udara kota.

 

Pernahkah kaulihat wajah sendiri dalam monitor mati,

berlama-lama? Seperti menonton mimpi sesosok mayat,

ruh yang menunggu. Atau, rindu sebuah makam yang

terlalu lama tak diziarahi calon pemiliknya.

 

Sebentar lagi, ketika komuter telah berhenti di Cikini,

setelah kaki-kakiku menapak pinggir jalan dan telingaku

benar-benar mendengar syahdu kesombongan bunyi sepatu,

maka selain angka yang bertambah—sungguh aku tak tahu

: apakah akan ada yang terasa wajar dan tak berulang

setelah ini, pada malam-malam berikutnya.

 

Maksudku, benar-benar berubah.

H.B. 2017

Menyewa Kepulangan

Kami berpulang kepada malam; di bangku taman,

emperan toko, atau losmen pemberian suami orang.

Rumah serupa kondom. Tidur selengang genangan.

***

Hampir tiap subuh, aku terjaga mirip orang berkemas

dari bencana. Seringkali lupa membenarkan letak tulang,

pula terbiasa abai membersihkan sisa-sisa bangkai sejarah

di sela-sela gigi; di dalam rahang tempat mimpi-mimpi

cepat menjadi basi dan darah daging menjelma fosil.

 

Aku seperti tak bisa mencintai apapun di kota ini.

 

Orang-orang melihatku seperti melihat kain sobek dan

melihat kain sobek seperti melihat kain sobek. Orang-orang

melihat caraku berjalan seperti melihat pembalut yang hanyut

dan melihat pembalut yang hanyut seperti melihat pembalut

yang hanyut. Seolah diriku pewarisi arus sungai yang tenang.

 

Ingin kulihat mata; orang-orang yang melihatku seperti melihat

lubang knalpot mobil mewah yang melindas sisa kubangan hujan

dari siklus musim yang mereka lupakan. Tapi mata orang-orang

tak pernah melihatku yang sedang melihat mereka yang juga

sedang melihatku. Melihat diriku seperti pembalut sobek

untuk sejarah yang dilanda menstruasi abadi.

 

Aku tertimpa siklus keharuan buatan partai politik!

 

Mereka membuatku melihat diri seperti tetesan air melubangi

arus sungai yang tenang di bawah malam. Tubuhku menyimpan

seluruh jenis bau toilet umum yang dimiliki pemerintah, serupa

cara orang buta menampung seluruh kosakata percakapan tentang

kota tempatnya tinggal.

Aku tak pernah tahu siapa yang berulang mengencingiku

dan mewariskan perasaan terlantar sebusuk ini.

Mataku melihat waktu mirip lubang sanitasi dalam adegan

bunyi dari keran yang tak sempurna dimatikan.

 

Tapi malam ini tubuhku telah disewa seorang lelaki, yang

kedalaman mata dan dagingnya menyimpan doa-doa tua tak

dikabulkan. Degup jantungnya mirip kebenaran yang menangis,

menahan isak dan bisik. Aku lupakan diriku, sebab lebih dulu

khusuk mendengar bekas jerit kemiskinan yang jauh.

 

“Kelelakianku berabad-abad difermentasi pembangunan,”

katanya. Aku tak mengerti. Lalu ia bilang, aku telah lebih

dari sekadar mengerti. Tapi aku makin tak mengerti. Ia

memandangku seperti megah monumen dan mulai bicara

seperti pidato pemabuk kepada patung pendiri kota.

 

Menjadi miskin adalah kesialan. Menjadi miskin dan

terdidik sekaligus adalah kutukan! Tapi menjadi miskin

dan terdidik dan memiliki istri berlidah alarm adalah

ketololan yang tak mungkin sepenuhnya direncanakan

tuhan. 17 tahun menghuni rumah berlantai seng!

 

“Takkah kau merasa lahir kembali di losmen ini?” ujarnya,

mirip sungai yang telah lama dan bosan jadi milik para pelupa.

“Bukankah pintu itu seperti vagina Ibu; yang memberikan

tubuhmu kepada dunia baru, sekaligus menyediakan

rasa kepulangan paling purba?” Aku diam.

Aku tidak mengerti! Sampai lelaki itu tidur di sampingku

seperti bayi—dan pagi; datang seperti menagih hutang,

aku tetap tidak mengerti.

2017

Dongeng Sebotol Irisan Lemon

Irisan lemon bergoyang-goyang dalam genggaman. Tangan

yang pada hari itu menerima dering kematian akhirnya terbebas

dari gestur basa-basi di sebuah hotel tempat orang-orang hebat

membicarakan rancangan-rancangan rahasia terbodohnya.

 

Tapi ia masih harus menunggu; dua jam menatap pesawat

lalu lalang—dan merapikan kata-kata terakhir yang tercecer

dalam suatu pertengkaran. Lima purnama sebelum sore itu

memaksa diam merangkumnya kembali jadi hadiah natal.

 

“Maaf, ingkar janji, dan penyesalan mesti terjadwal di kota ini.

 Juga jatuh cinta. Selain kematian, semua harus direncanakan!”

 

Jingga senja melapisi bilah kaca. Silau memasuki ruang tunggu

Lalu turun gerimis. Seperti hujan yang berbisik. Ia meminjam aura

langit dan lukisan angin pada awan-awan dari luar jendela; lantas

mengalihkan pandangan pada botol yang ia genggam. Matanya

seakan melihat dasar laut yang tertidur dalam rahim perempuan.

 

Irisan lemon bergoyang-goyang, “Kematian seharga dua hari cuti!”

gumamnya. “Kerja seperti mengunyah permen karet seumur hidup.”

 

23 menit dari kalimat itu, ia sadar: bahwa sesal tak banyak gunanya

dan pesawat yang akan ditumpanginya telah meninggalkan bandara.

2017

Subuh di Sekitar Stasiun Senen

Jika kamu lelaki, kamu boleh mencintai lelaki atau perempuan.

Jika kamu perempuan, kamu boleh mencintai perempuan atau lelaki.

Kaya atau miskin. Seiman atau yang kafir. Tapi jika kamu miskin,

kamu hanya boleh mencintai sesamamu.

***

Ujarnya, subuh itu. Sembari mengemasi barang ke dalam gerobak,

ia mengeluh seperti menyatakan simpulan filsafat untuk terakhir kali

dan tak akan mengatakannya lagi kepada siapapun.

 

Tubuh lelaki itu legam dan dagingnya seolah selalu mengenakan balsam,

tatapannya mengerikan; menyerupai segelas anggur putih yang merendam

sebilah pisau. Matanya seolah jadi gudang fermentasi bagi dusta, dendam,

dan kesulitan memahami kegunaan tuhan dan negara.

 

Ia suguhkan teh hangat, lalu berkata: “Kamu pelanggan terakhirku.”

Kudengar kalimat itu seperti bisikan seorang pemalak di ujung gang.

 

Langit timur memutih ketika ia selesai beres-beres kemudian duduk

di sebelahku. Bokongnya mengeluarkan suara krak cocacola yang jatuh.

Aku terkejut dalam sebuah mode silent. Lalu menjadi getar ketika ia

menebak merek parfumku; dan tepat!

 

Sepasang suami-istri bersarung dan bermukena tiba-tiba melintas,

menyadap ke arah masa depan. Tatapan mereka seperti memergoki

pembalut yang lepas dari sepasang mata kami yang saling sipilis.

2017

Halim Bahriz lahit di Lumajang, 1989. Buku puisinya yang telah terbit, Punggung-Dada (2012). Meraih juara pertama Festival Sastra UGM kategori cipta puisi (2015). Menerima Piala Jendral Polisi Hoegeng dalam acara Proyek Seni Indonesia Berkabung kategori puisi (2015). Mengikuti Penulisan Kritik Seni Rupa dan Kurator Muda (DKJ-Ruangrupa: 2014) dan Bengkel Riset Penulisan Naskah Drama (DKJ: 2015). Buku kumpulan cerpennya yang baru saja terbit, Kolektor Mitos (Langgam Pustaka: 2017). Twitter [@] silakedua

 

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi-Puisi Arthur Rimbaud

mm

Published

on

Lagu Menara Tertinggi

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah

Karena lama tersia

Aku lupa semua

Ngeri dan derita

Nun luput ke langit

Dan dahaga kotor

Menggelap darahku.

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah

Bagai padang-padang yang

Binasa, ditinggal.

Menyebar dan berlipat

Kembang-kembang dan semak

Dalam marah dengung

Lalar yang kotor.

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah.

 

Pesta lapar

 

Laparku, Anne, Anne

Lari di atas keledaimu

 

Jika aku lapar, hanyalah

Lapar bumi dan lapar batu

Ding ! ding! Ding! Santapan kita angina

Batu dan arang, besi.

 

Hai lapar, balik kau. Lapar, makanlah

Rumput padang suara!

Hiruplah racun pesta gila

Dari daun semak;

 

Makanlah batu leburan tangan si miskin

Pintu gerbang gereja tua

Punting hari kiamat

Roti lembah kelabu!

 

Laparku, sobekan angin malam,

Udara bergema;

Itulah perutku, guruh itu,

O, Malam.

 

Tanam-tanaman di bumi lahir kembali;

Mencari buah magang

Kupetik dari lubang jejak

Sayur dan bunga viola.

 

Laparku, Anne, Anne,

Lari di atas keledaimu.

 

*) Jean Nicolas Arthur Rimbaud (IPA: [aʀ’tyʀ ʀɛ̃’bo]) (lahir 20 Oktober 1854 – meninggal 10 November 1891 pada umur 37 tahun) adalah seorang penyair Perancis, lahir di Charleville. Pengaruhnya besar pada sastra, musik, dan seni modern.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Revin Mangaloksa Hutabarat:

mm

Published

on

SEBELUM DUA PURNAMA

 

Tepat dua purnama yang lalu

Kita bertengkar, kawan.

 

Sebelum dua purnama yang lalu,

Kita adalah benang dan kail.

Erat.

 

Aku berkata ini,

Kau berpikir begitu.

Adakah jalan temu untuk kita?

 

Saat ini matamu meninjuku,

Representasi ketidaksetujuanmu.

 

Ketika persegi panjang di hadapan kita,

Air hitam panas di atasnya,

Kau memilih diam.

 

Diammu bukan bodoh.

Diammu bukan bisu.

Diammu adalah perasaaanmu.

Aku tahu itu.

 

Aku menyapamu,

Kau jawab sekenanya.

Tak ada obrolan panjang,

Hanya kecanggungan.

 

Haruskah kita seperti ini?

Padahal dulu kau bilang;

Manusia saling membutuhkan.

Manusia saling mengasihi.

 

Perbedaan bukan lawan, kawan.

Sama dengan wajah manusia,

Perbedan itu nyata.

Dan kalau sudah begitu,

Sebaiknya bertoleransi.

 

Kuharap kau mengerti.

Kuharap kau memahami.

Agar kita jadi sebelum dua purnama lagi.

 

ANDRI

Andri sering memperkosa gitar.

Gitar dibuatnya menangis.

Gitar dibuatnya tertawa.

 

Andri adalah orang kecil,

Suka mencari makan di jalan.

Bersahabat gitar,

Ia isi perutnya.

Warung-warung dijajaki.

Angkutan umum dijamahi.

Berharap segala tempat,

Adalah peluang rezeki.

 

Andri tak punya mimpi.

Ia hanya ingin,

Melanjutkan hari esok,

Tanpa hinaan.

Dan bisa makan.

Bisa minum.

Bisa dicintai orang.

Sederhana bukan!

 

Matahari pulang.

Di depan toko yang tutup,

Ia ratapi nasib.

Matanya kosong.

Semangatnya hampir patah.

“Beginikah selamanya aku hidup?” pikirnya.

 

Lagi-lagi Andri perkosa gitar,

Gitarnya menangis.

 

FRUSTASI

 

Dia hanya berbaring,

Di ruang kotak kecil.

Bingung.

Tak dapat jawaban.

Hampir gantung diri,

Tak jadi.

 

Dia resah,

Anaknya tak menyuap nasi.

Bingung.

Istrinya lelehkan air terjun,

Setiap malam.

 

Mondar-mandir di jalan,

Tak dapat panggilan.

Diselaputi si panas.

Diselaputi si dingin.

Frustasi.

 

Laranya menjadi-jadi.

Wahai sang penguasa,

Dimana janjimu?

 

SAJAK KEBEBASAN

 

Kebebasan adalah hak.

Hak bersuara.

Hak kesetaraan.

Hak memilih.

 

Kebebasan bukan diperintah,

Apalagi dipenjara.

 

Kebebasan berarti tak terbelenggu.

Terlepas dari pengisapan.

Melakukan yang kita sukai.

Dipandang sebagai manusia.

 

Kebebasan bukan diatur-atur.

Kebebasan itu dicari sendiri,

Atas kehendak kita.

Tanpa membunuh orang lain.

 

Kebebasan itu harus nyata,

Bukan mimpi.

Bukan membohongi.

Bukan dipermainkan.

 

Kebebasan harus melekat di bumi.

Di sudut wilayah.

Di pinggir sungai.

Di kolong jembatan.

Di mana pun!

PARA PEKERJA

Sebelum mega hadir,

Bersiap mandi.

Pikiran masih bermimpi.

Dipaksa kena air.

 

Aduh, setiap hari begini!

 

Tapi kalau tak begini,

Perut diisi angin.

 

Rombongan pekerja berdesakan,

Saat mega mengintip.

Semua berangkat ke neraka.

Untuk tenaganya dihabisi.

Dikuras.

Dimanfaatkan.

 

Di jurang bulan,

Dapat hasil.

Baru setengah perjalanan,

Kok sudah habis?

 

Memang begini atau kami dibodohi?

 

Kami berharap dapat hidup layak,

Tapi malah jiwa terkoyak.

Kami berharap dapat menata hidup,

Tapi lubang rezeki selalu tertutup.

 

Kami ini robot atau manusia?

______________________________

*) Revin Mangaloksa Hutabarat: Pecinta musik yang akhirnya berkuliah jurusan Sosiologi.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Nanda Aziz Rahmawan

mm

Published

on

Di Sebuah Kota Yang Membuatmu Menunggu

seperti waktu itu, kereta melaju dari kediamanku

aku di dalam dan menyaksikan  dari balik jendela kaca

pohon dan hamparan hijau menyeru;

jangan pergi, tinggalkan masalalu dan mati!

derit roda dan rel, derum mesin, keduanya mengaum

mereka telah lama mengabarkan perpisahan

langkah kakiki tiada lagi berjejak,

jarak telah mahir mmenghapus bulirnya yang tipis

 

lihatlah awan awan yang berarak

memenuhi tubuh langit, ia berbeda

dari tempatmu berasal

sejam selepas kau beranjak

kau sudah dirundung rindu;

pada sejuk angin dari balik jendela kamarmu,

dan, masakan ibu yang penuh bumbu bumbu

dan sayur dari ladang garapan ayahmu

 

kini kau tahu, dinding dan bangunan kota

telah memisahkan dan mempertemukanmu;

dengan himpunan orang orang kantor yang tergesa gesa

lelampu kota yang senantiasa mengamati langkahmu,

bau anyir keringat pejabat hingga

aroma penderitaan kaum terpinggirkan

 

ada makhluk kecil yang kau tinggalkan dalam dirimu,

dan, dengarlah …

ia menjerit, meronta dari kekangan orang orang

yang mengaku bahagia

orang orang yang tak pernah berhenti menatapmu curiga

orang orang yang gemar merapikan dan mengoleksi topeng

untuk mereka kenakan

 

tapi, kau harus di sini,

di kota yang suka membekukan air mata

perihal negara dan derita yang sesungguhnya

dan waktu telah menyeretku pada rutinitas semu

macam itu, menanggalkan diri dari rumah

dan sesuatu yang lupa kau namai—kenangan atau impian

jiwamu penat tapi kau merasa baik baik saja

dan, kau tentu tidak akan membiarkan

derap langkah orang orang

mencuri makna dalam hidupmu

 

kau mesti pustuskan sekarang

dirimu yang menggigil meski matahari

di langit kota menggigitmu berkali kali

dan begitu panas

kau setia menunggu di bawah ranting pohon yang kusam

menunggu makhluk kecil dalam dirimu bangun, dan kembali berjalan

 

Semarang 13122016

Continue Reading

Classic Prose

Trending