Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Elang Ade Iswara

mm

Published

on

Jendela, Halaman, dan Bayang-bayang

 

di luar sana 22 tahun kau tak terjangkau kaca-kaca jendelaku

22 pasang sayap yang mengepak-ngepak membuat gemetar tubuh kau

membawa pergi ke lubang galian kau sendiri

 

ijinkan aku bertanya,

mengapa kau begitu takut menghadapi sesuatu yang tidak bisa dihindari?

takut menghadapi tubuh kau sendiri?

menghadapi tanya yang kau sudah tau jawabanya dari guru-guru agama

 

22 sayap itu gugur dua di ruang tamuku

dan pertanyaan-pertanyaan perihal dirimu patah di halaman rumah

dan pertanyaan-pertanyaan baru bertamu

kulihat ia di depan jendela termangu

aku menatapnya seperti aku menatap bait pertama

denyutku kian mengencang ketika ia mengetuk pintu

 

di kaca jendela yang mulai basah

dan halaman rumah tempat bermain kenangan

gagang pintu terbuka lagi tanya masuk melalui celah

 

kenapa kau begitu bodoh menunggu yang sudah ada pada dirimu

serta mencari yang sudah menjadi kepunyaanmu

 

 

Tiada

adalah riuh

yang merintih

di dada kita

 

kita tahu

apa yang kita tak tahu

 

angin adalah sunyi

deru laut adalah tuli

daun memukul angin

ranting yang patah

langit yang menyerah

 

kita tak tahu

karena hati ada dua

kuncir yang lepas

dan kita asik

mengusik diri sendiri

, kata kau

 

pekalongan, 2019

(*bait ani as)

 

Raung

sebuah dongeng merajah sendi-sendi waktu

tentang orang-orang tua  dan muda yang dibawa paksa

di sarang rusa itu kakak dari nenekku

menaruh angka di meja perjudian kuasa

 

terdengar siut angin menghembuskan luka

ia berpesan, di kota pemburu sudah membredel rusa-rusa berbulu merah itu

tidak lama lagi pemburu akan datang kemari.

kakak dari nenekku tak perlu merenung untuk ketawa

 

udara malam begitu panas

langit memerah

kakak dari nenekku melipat selembar kertas

dan tetes peluh

ia tak memberi pesan

sebelum ke hutan

dua malam di gubuk lusuh

ia tertelan kembali oleh tubuh

 

sementara adiknya diam seribu pertanyaan

dalam raung suara yang tak jelas arahnya

kakaknya hilang ditelan cerita-cerita hantu purba

 

(untuk mengabadikan simbah kakung Rasmadi,  dalam peristiwa berdarah ’65)

 

Menghabiskan Malam

kita belum tahu nama-nama arah mata angin

bagai selembar daun yang entah ke mana jatuh

pukul enam langit bersuara

adalah di mana langgar kecil menemukan jalan ke dalam

 

kita bagai koma di barisan shaf aksara

sering kali tak baku lagi tentu

berputar mencari jalan kalimat

 

panjang lagi lantang kita bersuara

saat imam mentitikan al-fatihah

amiiinnnnn…!

beberapa wajah orang tua kesal

dari sembunyi kita tertawa tanpa suara

 

pada sandal

terukir sajak

mengikis jejak lelah dari pintu sawah

 

pada sarung lusuh

kita ikatkan di kepala menjelma ninja

menaklukan kerut orang-orang dewasa

 

sebuah hujan

menahan kita lebih lama

sambil berpura-pura menjadi orang dewasa

kita bertanya,

kau tadi baca doa apa?

___

Elang Ade Iswara, lahir di Pekalongan 15 Mei 1998. Menempuh pendidikan di Universitas Muria Kudus jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Berkomunitas di Tapa Ngeli dan Omah Aksi. Saat ini berdomisili di Kota Kretek.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi-Puisi Melki Deni

mm

Published

on

Catatan Kecil

 

Aku hanyalah catatan kecil pada kaki halaman-halaman hidupmu.

Entah sebagai ibidem,

Tidak peduli hanya sebagai opere citato,

dan bisa jadi sebagai loco citato.

Semoga tidak lupa.

 

Balada Bayi di dalam Plastik

Duduk di beranda rumah pada malam jumat,

anjing-anjing galak kelaparan mondar-mandir di pinggiran jalan,

mencari tulang-belulang dan bangkai di got-got.

Bulan sabit memberitakan setan-setan berkeliaran di dunia,

menyabit ibu-ibu hamil yang dibuang lelaki brutal di ruang pilu.

 

Seorang ibu hamil mengecam kenerakaan napsu masa silam,

digoyang-goyang tubuhnya dengan tempo yang tidak teratur,

dimandikannya dengan cairan-cairan putih ke seluruh tubuh molek.

Rahim membunting, anak para lelaki semalaman di kosnya.

 

Ditelannya obat-obatan di bilik kosnya,

Binatang-binatang malam tiba-tiba tiada bersuara lagi.

Membubung nyanyi polifoni sampai ke sudut-sudut dusun,

Rerumputan malam menggigil kedinginan dahsyat,

bayi melitanikan elegi tragisnya kehidupan di balik perut besar.

 

Tertangkap segerombolan anjing merebut mangsa di sekitar rumah,

Matilah bayi sebelum mengenal dunia manusia.

Bayi disabit-sabit seusai dikeluarkan sendirian di tolilet tadi malam.

 

Demikianlah dicincang-cincangnya bayi mungil sayang,

tanpa memungut satu pun dosa manusia.

Tiada sebutir pun debu.

 

* Melki Deni, Mahasiswa semester II STFK Ledalero Maumere, dari Reo-Manggarai.

Aktif menulis pada pelbagai media dan beberapa tulisan pada buku jurnal kampus.

 

Continue Reading

Puisi

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

 

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening dan kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

 

*

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku

 

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

*

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

 

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

 

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

*

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

 

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

 

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

*

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

 

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

 

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

 

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

 

*

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

 

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

 

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

 

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

 

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

 

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

 

*) High Camp—Mardihimal 2019 | Sabiq Carebesth

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Muhammad Husein Heikal

mm

Published

on

Sekekal Lingkaran Amerigo Vespucci

 

Kepadamu datang aku

berparas orang mati

“menjauhlah!”

usirmu jengah

“aku telah usai,

aku telah usai.”

 

Tiga langkah sebelumnya

Amerigo Vespucci berkaca

pada air yang jujur

angin yang berusaha kabur

tak pernah ada yang mendekat

tak pernah benar-benar ada

 

Sekerat candu

mengiringi jazz sudut jendela

“menarilah,

menarilah Amerigo..”

seolah mereka berkata

padahal ia tak ada

tak ada

 

Hanya seorang Penakut

yang tidak berani hidup

hidup hanya untuk keberanian

berani untuk hidup

berani untuk mati

 

Ketika petang

didengarnya tujuh salak anjing

dari lubuk hatinya

tiga kepak sayap

dari tubuhnya

entah bagian mana

ia tak sadar

atau tak sempat sadar

 

Waktu bermula

dari sekian banyak gejala

Amerigo memetik Merah

tepat dari muasalnya

“dari manakah aku,

dan manakah diriku?”

Ia bertanya

tapi tanyanya tersangkut jadi jelaga

 

Di pelabuhan itulah

dilihatnya tiga orang renta

terbata menata jubah-jubah tua

terbata menuju arahnya

“kemanakah arah surga.”

Amerigo terkaget (sumbang)

“aku tak tahu,

tidak pernah tahu,

tak pernah ingin tahu.”

 

Kepadamu datang aku

membawa paras sama

kau tertawa

meriang-riang serupa anggora

barangkali aku jenaka

atau kau memang telah lupa

entahlah

 

Amerigo terlena

menggelap ruas ditempuhnya

semakin

semakin

kelam

 

Ia, tak pernah mengerti

peristiwa dan derita

tak tampak beda

hidup dan mati

tampak serupa

seperti roda

berputar-putar lintas

tepat seperti lingkaran

 

Gelas Kopi dan Buku Puisi

 

gelas kopi keempat

telah kering

buku puisi kedua

telah asing

cerita berbeda

dua cerita berbeda

bukan soal kau

atau buku-buku

 

empat gelas kopi

hanyut perlahan

dua buku puisi

ikut merangkak

menjalari apa yang bermula

dari sudut ruang

dan gelap menggejala

 

gelas-gelas

dan rentetan puisi

menari, saling memecah

-mecah diri

mengerubungi aku

mati sendiri.

 

Ruh

aku lahir

memecah malam

bintang berpesta

aku jadi cerita

dongeng tawa

pesiang cahaya

pra kala singgah

di hadapan kata

 

selamat pagi, ruh

keasing pekat

tinta tak terbaca

surya menggarang

aku raba sunyi

dalam bejana

penuh anjing

dan lolong

yang punah

 

terbitkan aku

sebagai biru

sebagai damai

sebagai tenang

 

terketuk surga

ku sapa aku

aku jadi siapa

di masa lalu?

 

Sunyimeter

tiga sunyimeter

tegak mengukur sepi

kesadaran hilang timbul

dilalap malam

 

temaram melintas kelu

nyisakan ngilu

hadapan kaca itu

tegak menara

tetap dingin

udara tak peduli

apalagi angin

 

tak sempat mengerti

hari ini

entah siapa lagi

bakal meledak

tersedak mimpi.

*Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 1997. Menempuh studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis di Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia dan beberapa buku antologi.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending