Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Dedy Yudha Christian

mm

Published

on

Pintu

 

Gigil pagi masih memeluk sendi

Tetapi tangan penuh mimpi

Telah tersemat di antara jemari

Selepas firman-firman ku telan dari kitab suci

 

Malaikat kecil pun masih tertidur pulas

Terbungkus kain agar tetap hangat

Sambil sesekali menggeliat

Sebab kecup rindu telah mendarat

 

Di depan pintu mataku terpana

Kepada cahaya yang melulu gelisah

Terangi langkah tinggalkan cerita-cerita lama

Sebelum waktu memagut sisa usia

 

(2016)

 

 

Di Beranda Rumah

 

Di beranda sebuah rumah

Aku menanti tergesa

Sampai habis cuitan rencana

Hanya sendiri saja

 

Sesekali kubaca mantra

Dari lot-lot batu merah delima

Di sana tergambar paras tak sempurna

Aku: tetap sendiri saja

 

(2016)

 

 

 

Sumpah Serapah

 

Aku sebut kau dengan menyumpah serapah

Saat aku mulai melepas genggam tangan mereka

Pasrahkan angin membawa kantung-kantung rahasia

Mengisi peluh yang tak terencana

Karena susah payah memilih pada akhirnya

Mencerai satu karena beda

Takut jika dunia tak sepadan pinta

Rasanya Ingin kuucap kata-kata kotor

Tapi ini bukan meja kantor

Yang berisi otak dan kepala gelisah

Menjilat pemimpin empunya kuasa

Telan ludah yang telah di tadah

Dari tangan pemuja-pemuja dunia

 

Aku sebut kau dengan menyumpah serapah

Sebab hanya kau-lah yang punya

Satu-satunya

 

(2016)

 

Memoar Pintu Kamar

 

Hanya kamar

Selalu dengar berbaris-baris kata keluar

Dari bibir yang tersulam benang ingatan

Bersama sedu pun semakin sedan

 

Semula lutut bersimpuh pada-Nya

Hingga kening turut menyentuh tanah

Tak lantas sumpah berhenti hina

Karena perih mengiris kelopak mata

 

Jika ini hendak-Nya

Biar ku gambar memoar-memoar sesal

Tuntaskan jalan kala begitu terjal

Yang tak memudar dari balik pintu kamar

 

 

(2016)

 

Seribu Tahun Lagi

 

Bukan salah harap di meja

Semua hanya kumpulan rencana

Disusun begitu berharga

Agar hari-hari tak mesti bersusah payah

 

Cita-cita yang tak kunjung terbeli

Perut-perut yang tak juga diumpani

Kaki-kaki yang lupa berlari

Sampai fana pun akhirnya dipilih

 

Jika memang demikian, di manakah letak kerja tangan Tuhan

Yang bisa saja bosan dengan keluhan-keluhan

Hanya sekadar mencari kata mapan

Sebab hidup semakin digerus zaman

 

Saat kisah dongeng di anggap menjadi nyata

Penguasa berubah bak ratu dan raja

Tak peduli carut marut pinta sesama

Hanya tahu tawa mencekik batang kepala

 

Teriak pengais duka makin menjadi

Air bercampur mimpi tumpah seiring petang pergi

Mencari sebab alasan

Untuk hidup seribu tahun lagi

 

(2016)

 

Dedy Yudha Christian. Lahir di Depok 4 Desember 1988. Saat ini bekerja di salah satu televisi swasta di Jakarta  sekaligus melanjutkan pendidikan di Universitas Bina Nusantara. Beberapa coretan, catatan serta puisinya dapat ditemui di akudancatatanku.tumblr.com. Twitter : @dedych00

Continue Reading

Classic Prose

Toni Morrison: Takut

mm

Published

on

Tidak terjadi apa-apa pada rasa takut itu. Dia berbaring di ranjang milik Guitar diterpa cahaya matahari, mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika ganco pembelah es membacok lehernya. Dia membayangkan semprotan darah segar semerah anggur dan bertanya-tanya apakah sodokan tongkat tajam itu akan membuatnya terbatuk-batuk. Rasa takut melanda bagaikan sepasang cakar yang menggaruki dadanya.

Dia menutup mata dan melemparkan kedua tangannya menutupi wajah untuk menahan cahaya yang mengganggu lamunannya. Dalam kegelapan di bawah tangannya ia bisa melihat tongkat pemecah balok e situ melaju ke arahnya lebih cepat dari siraman air hujan yang pada masa kecilnya sering berusaha ditadahnya dengan lidah.

Lima jam yang lalu, sebelum dia mengetuk pintu rumah Guitar, dia berdiri di tangga, berlindung dari hujan musim panas yang masih memercik ke jendela, membayangkan tetesan itu sebagai paku-paku baja yang tajam. Lalu dia mengetuk pintu.

“Ya?” Suara itu begitu tajam. Guitar tak pernah membukakan pintu sebelum yakin siapa yang mengetuknya.

“Aku – Milkman,” jawabnya, dan menunggu suara gerendel kunci dibuka.

Milkman masuk, menggoyangkan bahu di bawah jaketnya yang basah. “Ada minuman?”

Guitar tersenyum, sepasang mata emasnya berkilat sejenak. Mereka lama tak saling jumpa sejak perdebatan seru tentang Honore lawan Alabama, namun pertengkaran itu tak berbekas lagi di antara mereka. Mereka tak punya beban satu sama lain sehingga tak perlu berpura-pura. Jika dalam suatu percakapan mereka terperosok dalam pertengkaran karena berbeda pendapat, perkataan mereka masih tetap dipenuhi lelucon. Lebih jauh lagi, persahabatan mereka telah teruji oleh berbagai hal. Enam bulan terakhir ini adalah saat-saat berbahaya bagi Milkman, dan Guitar terus-menerus memperingatkannya.

“Kopi saja,” kata Milkman. Dia duduk di ranjang seperti seorang tua yang amat letih.

“Bagaimana kalau the?”

“Oh, Tuhan…”

“Seperti kapas Louisiana… Orang kulit hitam menggunakannya sebagai popok dan ganjal kepala. Di seluruh India kamu bisa melihatnya. Semak-semak dengan kantung-kantung the bermekaran. Betul kan?”

“Beri aku the, Guitar! Hanya the. Tanpa geografi.”

“Tanpa geografi? Baiklah. Bagaimana dengan sedikit sejarah di dalam tehmu? Atau sedikit sosio-politik—Tidak! Itu juga geografi. Setan, Milk, aku percaya seluruh hidupku adalah geografi.”

“Kamu tidak mencuci dulu poci itu sebelum memasak air di dalamnya, ya?”

“Contohnya:aku tinggal di Utara sekarang. Pertanyaan pertama adalah sebelah Utara apa? Utara ada karena Selatan ada. Tapi bukankah itu berarti bahwa Utara berbeda dengan Selatan? Tak mungkin! Selatan hanyalah sebelah selatan dari Utara…”

“Hei, kamu tidak meletakkan daun teh itu dalam air mendidih! Kamu malah menyiramkan air ke atas daun the. Dalam poci, Sobat. Dalam poci teh!”

“Tapi ada beberapa perbedaan kecil yang layak diperhatikan. Orang-orang Utara, contohnya, pelit soal makanan. Kamu paham maksudku? Poci dan kotoran. Kini, mereka bicara amat menggelikan soal poci itu. Tapi teh? Mereka tak tahu apa-apa soal teh instan Lipton.”

“Aku cuma mau teh…”

“Orang tua Lipton memborong New York Times dan menyimpannya dalam tas putih yang bagus, dan orang-orang Negro di Utara mengamuk. Mereka tak puas. Kamu memperhatikan itu tidak?”

“Oh, Yesus!”

“Yesus juga orang Utara. Ya, dia memang tinggal di Israel , tapi sebenarnya dia seorang Utara dalam lubuk hatiNya. Hati yang berdarah. Hati yang mungil dan indah, yang berdarah-darah sejak lama. Orang-orang Selatan mengira mereka memiliki-Nya, itu karena pada awalnya mereka melihat-Nya saat bergantung di sebuah pohon. Tapi orang-orang Utara tahu lebih baik tentang….”

“Siapa yang sedang kamu bicarakan? Orang kulit putih atau kulit hitam?”

“Hitam? Putih? Jangan bilang padaku bahwa kamu salah seorang negro rasialis itu! Siapa yang bicara soal orang kulit hitam? Ini hanyalah pelajaran geografi.” Guitar memberikan pada Milkman secangkir teh yang masih mengepulkan uap.

Yeah, baiklah, jika ini the, aku adalah telur goring yang lunak.”

“Hei, kenapa kamu ingin menjadi telur goreng yang lunak? Kenapa bukan hanya telur goreng saja? Dan kenapa mesti telur? Orang negro sudah pernah menjadi apa pun, tapi bukan sebutir telur.”

Milkman tertawa. Dia datang di depan pintu dengan basah kuyup, siap untuk rubuh dan mati, dan kini da tertawa-tawa, menyeruput teh dan menyahut, “Bagaimana mungkin, katamu? Seorang negro akan menjadi sebutir telur jika dia mau.”

“Tidak. Tak bisa! Itu berhubungan dengan gen. gennya tak akan membiarkan si negro itu menjadi sebutir telur, sekeras apa pun dia berusaha. Alam berkata tidak. ‘Tidak, kamu tak akan pernah menjadi sebutir telur, Negro. Kamu bisa saja menjadi seekor gagak jika kamu mau. Atau seekor monyet besar. Tapi bukan telur. Menjadi telur itu sulit dan rumit. Dan rapuh. Lagi pula, telur itu berwarna putih.’ “

“Ada telur yang berwarna coklat,”

“Itu kesalahan. Lagi pula orang tak menyukainya.”

“Orang-orang Prancis menyukainya.”

“Di Prancis, memang. Tapi tidak di Kongo. Orang-orang Prancis di Kongo tak mau menyentuh telur berwarna coklat.”

“Kenapa?”

“Mereka takut. Dikiranya itu berakibat buruk pada kulit mereka. Seperti matahari.”

“Orang Prancis menyukai matahari. Mereka selalu berusaha mendapatkan matahari. Di Riviera…”

“Mereka berusaha mendapatkan matahari Prancis, tapi bukan matahari Kongo. Di Kongo mereka membenci matahari.”

“Aku berhak menjadi apa pun yang kuinginkan, dan aku ingin menjadi sebutir telur.”

“Telur goreng?”

“Telur goreng.”

“Kalau begitu, seseorang akan melahapmu.”

Lebih cepat dari detak jantung, ucapan terakhir Guitar telah mengubah suasana. Milkman, mengelap mulutnya, menghindari tatapan Guitar karena dia tahu arti kilatan di belakang matanya. Ruang kecil itu terpaku dalam hening. Tempat itu adalah serambi lantai dua yang disewakan sehingga nyonya rumah bisa mengambil uang sewa sekaligus memiliki seorang penjaga. Tangga di luar membuatnya makin sempurna. Khususnya untuk orang misterius macam Guitar Bains.

“Bisakah aku minta benda itu sekarang?” Milkman bertanya padanya. Dia mempermainkan telunjuknya.

“Buat polisi?”

Milkman menggelengkan kepala.

Guitar tak mempercayainya. Tak percaya kawannya sungguh ingin menyendiri di malam sebelum hari pembunuhannya. “Ini mengerikan, Sobat. Amat mengerikan.”

Milkman tak menyahut.

“Semua orang tahu kamu seorang pemberani jika kamu menginginkannya.”

Milkman menatapnya tapi masih tak menjawab.

“Masih dan akan terus begitu,” lanjut Guitar hati-hati, “kamu mungkin akan membiarkan jantungmu berhenti berhentak. Lalu kamu akan menjadi seorang negro pemberani yang sia-sia seperti yang lainnya.”

Milkman meraih kotak Pall Mall. Karena kotak rokok itu kosong maka dia mencari-cari punting yang masih panjang dari tutup selai kacang yang digunakan oleh Guitar sebagai asbak. Dia merentangkan tubuhnya di ranjang, memasukan jemarinya yang panjang ke dalam saku bajunya, mencari-cari korek api. “Semua akan baik-baik saja,” katanya.

“Gila!” kata Guitar. “Tak ada yang baik-baik saja. Di mana pun! Bahkan biar di Kutub Utara sekalipun.” Guitar berdiri, kepalanya nyaris menyentuh langit-langit. Terganggu oleh ketakpedulian Milkman, dia mengalihkan perhatiannya dengan membereskan ruangan itu. Dia menarik sebuah kotak kosong dari bawah kursi yang meringkuk di pojok dan mulai membuangi sampah ke dalam kotak itu: bekas korek api dari sela-sela jendela, tulang babi sisa barbeque yang dimakannya kemarin, dan kertas-kertas bekas cangkir. “Setiap negro yang kukenal ingin semuanya baik-baik saja. Tak sulit untuk mengendalikan orang lain.” Dia menatap dari samping ke wajah Milkman, waspada terhadap tanda-tanda apa pun. Kebisuan semacam ini adalah sesuatu yang baru. Sesuatu pasti telah terjadi. Guitar sungguh-sungguh khawatir tentang kawannya itu, tapi dia juga tak ingin terjadi sesuatu di kamarnya yang bisa membawa polisi berdatangan ke situ. Dia mengambil asbak yang berasal dari tutup selai kacang.

“Tunggu! Masih ada puntung yang bagus di situ, “Milkman berkata lunak.

Guitar membuang seluruh isi asbak itu ke dalam kotak.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu tahu kita kehabisan rokok.”

“Pergilah dan beli beberapa batang.”

“Ayolah, Guitar.” Milkman bangkit dari ranjang dan mengulurkan tangannya ke arah kotak itu. Dia nyaris mendapatkannya ketika Guitar melangkah mundur dan melemparkannya berhamburan ke seberang ruangan, membuatnya kacau seperti semula. Guitar melayangkan lengannya dan menghempaskan tinjunya ke dinding.

“Perhatikanlah…” Guitar bersuara dalam nada rendah. “Dengarkan baik-baik saat aku mengatakan sesuatu padamu.”

Mereka berdiri berhadap-hadapan, kepala dengan kepala, jari dengan jari. Kaki kiri Milkman gemetar di atas lantai dan mata Guitar yang berkilat menakutkan hatinya sejenak, tapi dia balas menatap. “Dan kalau tidak? Kamu mau apa? Kamu mau cari perkara? Ingat, aku sudah mati.”

Guitar tak tersenyum mendengar lelucon itu.

“Seseorang sebaiknya mengatakan hal itu pada pembunuhmu,” ujar Guitar.

Milkman tertawa pendek dan mundur ke arah ranjang. “Kamu terlalu khawatir, Guitar.”

“Aku khawatir sewajarnya. Aku mau tahu kenapa kamu sama sekali tak merasa khawatir. Kamu datang ke sini saat sadar bahwa ini adalah hari ketiga puluh. Tahu bahwa seseorang sedang mencarimu. Dan kamu menyuruhku meninggalkanmu sendirian. Katakan apa yang akan kamu lakukan.”

“Lihat,” kata Milkman. “Selama ini aku telah menanganinya, bukan?”

“Ya. Tapi ada sesuatu yang lucu saat ini.”

“Tak ada yang lucu.”

“Ya, ada. Kamu. Kamu lucu!”

“Tidak. Aku hanya lelah. Lelah pada orang-orang gila di sekitarku, lelah pada kota ini, lelah pada kota ini, lelah mondar-mandir di jalanan tanpa tujuan…”

“Baiklah, rumah ini bebas buatmu jika kamu lelah.”

“Mungkin perempuan itu tak akan datang kali ini.”

“Dia tak akan pergi selama enam bulan ini.”

“Aku tak bisa bersembunyi lagi dari pelacur itu. Aku harus menghentikannya.”

“Kenapa kamu tak menyuruh anak buahnya melakukan sesuatu.”

“Akulah anak buahnya.”

“Dengar, Milk. Dengarkan aku sebentar. Terakhir kali, perempuan itu punya sebilah pisau Carslon. Kamu tahu betapa tajamnya pisau itu? Dia akan memotongmu seperti sinar laser.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu tak tahu.”

“Aku tahu apa yang dia punya.”

“Kali ini dia mungkin punya pistol.”

“Orang bodoh macam apa yang memberi seorang perempuan negro sepucuk pistol?”

Guitar menyeringai. Dia tahu mereka telah kembali ke jalur persahabatan.

“Baiklah, Tuan Mayat. Terserah padamu. Apakah aku mesti meminta seorang tamu untuk merapikan segala sesuatu sebelum dia pergi? Aku tak mau saat pulang ke tempat ini menemukan puntung rokok berserakan di sekitar kepalamu. Hati-hatilah jika kamu hendak rubuh, jangan di tempat yang aku sulit membersihkan bercak darahmu. Dan jika kepala perempuan itu yang tertinggal, ada handuk di kamar mandi.”

“Tenanglah. Tak ada seorang  pun yang akan meninggalkan kepalanya di sini.”

Mereka tertawa. Guitar meraih jaket kulit coklatnya dan beranjak ke pintu.

“Rokok!” Milkman berteriak padanya. “Bawakan aku rokok sebelum kamu pergi.”

Dia tak kembali lagi malam itu. (*)

*) Toni Morrison (terlahir Chloe Anthony Wofford pada 18 Februari 1931 di Lorain, Ohio, Amerika Serikat) adalah seorang penulis Afrika-Amerika. Romannya Beloved mengantarkannya memenangkan Penghargaan Pulitzer pada 1988. Pada 1993 ia dianugerahi Hadiah Nobel dalam Sastra, dan merupakan tokoh pertama Afro-Amerika yang menerimanya.

 

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending