Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Arya Adikristya

mm

Published

on

Salatiga

 

Ini kota tapi desa.

Desa tapi kota.

Kota kedesa-desaan.

Desa kekota-kotaan.

Kota rasa desa.

Desa rasa kota.

Jadi, di sini,

tidak ada yang namanya orang kota.

Tidak juga orang desa.

Ya orang kota-desa.

Ya orang desa-kota.

Ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Hingar bingar siang kota ya ada.

Sunyi lewat jam 10 bengi ya ada.

Tak sepadat Jakarta atau Surabaya.

Tak sesunyi Dukuh Paruk.

Ia ada di tengah-tengah kota tetangga:

Semarang, Solo, Magelang, dan Yogyakarta.

Itulah sebabnya orang-orang kota-desa ini,

hampir setiap pekan pergi keluar kota.

Mereka cari pusat perbelanjaan

dan tempat hiburan murni rasa kota, tanpa desa.

Tapi yang cinta rasa desa,

Mereka ‘kan pergi ke tempat yang lebih sunyi,

tapi tak sunyi-sunyi amat:

Kopeng, Bandungan, Selo, Ambarawa.

Tak ada salahnya.

Tak ada benarnya.

Kota-desa ini memang tak menyajikan kemurnian.

Karena yang murni memang tidak ada.

Yang ada ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Ya ramai ya sunyi.

Ya sunyi ya ramai.

 

Salatiga, 2016

 

Budaya(m)

 

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku tak mau menghujat penggemar nasi ayam (broiler)

meski nasi ayam menjamur di mana-mana

mulai ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki,

dan ayam sambalasambalabalasambalado

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku jadi bertanya-tanya tentang popularitas nasi ayam (broiler)

apa benar mereka kekinian

karena McDonaldisasi membumi demikian rupa

tsk tsk tsk, ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki, dan ayam sambalasambalabalasambalado

ini bukan menyoal soal Timur dan Barat

bukan juga soal asing dan lokal

mahal dan murah

populer dan kebalikannya

sehat dan penyakitan

baik dan buruk

capek aja liat makanan berkomposisi ayam!

 

Salatiga, 2016

 

Makanria

 

Senja itu, di rumah makan Manado “Nyiur Melambai”, kukatakan padamu:

“Mudah sekali mencari makanan banyak suku di Salatiga.”

Kau mengangguk setuju,

sambil melahap sate babi di genggaman tangan kananmu.

Aku melanjutkan makan nasi dengan babi tinorangsak di piringku.

 

Benar saja,

sebentar di Manado, bila ingin, kita bisa saja langsung di Makassar.

Kita pernah makan coto di sana, es palu butung, gogos,

tapi tak pernah memesan sop konro, karena harganya selangit.

Makan coto denganmu,

aku jadi teringat kapan pertama kali aku makan coto.

Semula kupikir coto adalah soto.

Rupanya berbeda. Apalagi, rasanya.

Tapi sampai sekarang,

diam-diam aku terus mengira kalau coto adalah soto khas orang Makassar.

 

Bila ingin, usai makan babi tinorangsak,

kita bisa lengang bersama ke rumah makan Toraja.

Di sana kita pernah makan bersama.

Memesan babi panggang merah,

komplit dengan sayur daun ketela rebus.

Tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Car, bila kamu tak takut perutmu melebar,

bolehlah kita menjajal ke rumah makan Batak.

Letaknya hanya beberapa rumah dari rumah makan Toraja.

Aku sudah pernah ke sana.

Tapi kita belum.

Percayalah, di sana,

Bang Petrus siap sedia babi masak Sangsang.

Aku tak pernah tertarik dengan arti namanya,

selain melahap sepiring atau dua atau tiga.

Pun begitu dengan sayur asin dan babi panggangnya,

komplit dengan bumbu darah babi

yang lebih mirip seperti sambel kacang.

Aku tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Cukuplah dengan babi.

Kata orang yang tak memakannya, itu daging haram.

Tapi perut tak mengenal haram atau halal.

Perut hanya mengenal bisa atau tidak bisa dicerna.

Maka marilah makan ke tempat kesukaan kita: warung rica waung.

Warung ini sedia daging hitam, berlumur bumbu pedas.

Kadang ada lalapannya, ada sambel dabu-dabu,

dan juga merica bubuk atau kecap manis.

Di Pattimura dan Pasar Sapi,

kita pernah tanpa bicara,

sibuk melahap daging anjing hitam ini. Ingat?

 

Atau mau makanan yang sudah populer di seantero negeri?

Nasi Padang namanya.

Nasi Padang yang enak,

setahuku ada di manapun.

Asalkan gratis.

Yang enak tapi mbayar,

setahuku ada di Jensud, depan Hotel Grand Wahid.

Kamu biasanya makan rendang dan aku gule kambing.

Lalu biasanya kita berbagi lauk.

Bila sayurmu tak habis, aku yang menandaskannya.

 

Sayang, apa kamu benar-benar tak takut kolesterol dan diabetes?

Kalau tidak,

kita bisa singgah lagi ke warung nasi tumpang koyor di Banjaran.

Di situ langganan kita.

Katamu: “Tumpang koyor paling cocok ya di sini.”

Aku sependapat dan makin cinta padamu saat itu.

Berbeda dengan Sangsang di warungnya Bang Petrus,

aku justru tertarik dengan asal-usul tumpang koyor.

Makanan ini cuma ada di Salatiga.

Tumpang sendiri berasal dari kata “tumpang”.

Artinya “menumpahkan”,

“menumpuk”, atau “menjadikan satu”.

Apanya yang dijadikan satu?

Tempe busuk yang dihancurkan,

cabe-cabean, dan beberapa rempah-rempah

yang tak kumengerti wujudnya.

Sedangkan koyor adalah otot.

Tapi bukan otot daging.

Koyor adalah otot yang menempel di tulang.

Lunak, kenyal, mudah hancur bila dikunyah.

Selain di Banjaran,

kita juga pernah makan di warung Mbah Rakinem.

Tapi katamu: “Di Mbah Rakinem lebih sedikit dan mahal pula.”

Aku setuju. Dan makin cinta padamu saat itu.

 

Pernah kutanya padamu: “Ada rumah makan apa lagi di Salatiga?”

Kau menyebut satu yang kulupakan: Rumah makan orang Palu.

Aku baru ingat.

Kita pernah sekali makan di sana.

Lalu tak pernah makan lagi.

Entah, aku jadi lupa pernah makan apa di sana.

Barangkali kamu ingat?

 

Jika kuhitung-hitung, tapi sayangnya aku malas menghitung,

Mungkin sudah ratusan kali kita makan bersama.

Menerangkan malam karena puasa dengan satu tempat makan.

Atau meredupkan siang hanya karena debat soal tempat makan.

Saat ini aku kenyang menulis, tapi lapar di perut.

Lain kali kita harus menjajal gecok di Nanggulan,

sop konro di Kridanggo,

sop brenebon di Nyiur Melambai,

sate kambing Pak Dhar, rica menthok di Pujasera,

lotek Bu Atien di depan kampus UKSW,

nasi goreng empat ribuan di Gamol,

nasi kucing subuh di Pasar Sapi,

soto bening di Jensud,

nasi ruwet di perempatan Sukowati,

warung nasi babi Bali di depan Pizza Hut,

tahu campur Pak Min di Kalitaman,

RW Patemon di Ngawen

dan mengulang lagi tempat-tempat yang tertulis sejak awal.

Meninggalkan familiaritas pada sebuah makanan.

Menelusuri ratusan rasa yang selama ini luput dari lidah.

 

Salatiga, 2016

 

 

The SL3

 

2013 kudatang ke Salatiga.

Kusenang karena tak ada mol dan gedung tinggi seperti di Surabaya.

Sejuk dan tak terlalu sibuk.

2014 tersiar kabar pembangunan mol. The SL3 namanya.

Kubaru tahu kalau persoalan mol sudah mulai sejak 2010.

2010 investor dari  Yogyakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Dan tidak jadi.

2014 investor dari Jakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Tapi jalan lagi.

2015 kulihat beberapa kali kendaraan besar

lalu lalang masuk lahan pembangunan.

Terakhir kulihat benda cagar budaya

yang ada di sana sudah roboh.

2016 kuingat satu ungkapan klasik:

“Salatiga. Silahkan mengota, asal jangan men-Jakarta.”

Kubertanya-tanya sendiri,

apakah The SL3 akan mengubah wajah Salatiga mirip Jakarta?

Oh ya, dekat kosku juga akan dibangun pusat perbelanjaan lainnya:

Pattimura Centre.

 

Salatiga, 2016

 

Arya Adikristya: Lahir di Surabaya. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Aktif di LPM Scientiarum. Biasa menulis di blog sendiri: adikristya.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Puisi

Dalam Tungku Waktu Sajak-Sajak Membakarku

mm

Published

on

I

Angin dari ujung waktu

Menyergapku—oleng aku

Oleh hampa

Luruh dalam waktu

 

Hanya dentang lonceng

Membawaku pada segala berlalu

Jembatan fana yang menghubungkan derita

 

Dalam sendiri kini kupagut

Cinta yang maha…

 

Lagu-lagu mengalun

Menghilangkan bahasa

Dari tiap jengkal sisa jiwa

Hanya bunyi-bunyi tersunyi

Menyergapku dalam ria tanpa umpama

 

Dewa-dewa dan dewi-dewi

Menaburkan daun-daun asmara

Membungkus sukmaku yang telanjang

Aku beringsut seakan tenggelam

Dalam lautan paling jauh

 

II

 

Kutunggu kapal-kapal berlabuh

Kapal-kapal kekosongan

Yang tersesat dari dermaga

Didorong angin dari ujung waktu

Buat menyusulku kembali

Menjemputku pada derita sehari-hari

 

O betapa takut sukmaku

Terdampar dalam riuh kota

Yang dindingnya terbuat dari sajak palsu

Dari para penyair yang sibuk

Memantaskan diri dalam bianglala

Sementara lampu-lampu kota

Telah jadi kesepian

Ditinggalkan para penyair

Dilupakan para pelacur kota

Entah ke mana mereka…

 

Aku sendiri telah lupa

Cara bicara dengan lampu-lampu kota

Sejak berumah dalam dingin AC

Gorden-gorden dirapatkan

Jendela dimatikan

Tak serintik pun lembab hujan

Dapat kujadikan kanvas

Untuk melukis kehilanganku

 

III

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Telah berganti menjadi gambar belaka

Maka dengan kepedihan kumakamkan

Rembulan dan gemintang dalam pikiranku

Kutaburi dengan kembang kemuakkan

Aku terjatuh pada rasa iba

Pada hasrat manusia kota

 

Seperti air terjun gemuruh dimataku

Sukmaku terlempar

Dalam pusaran keriuhan

Beserta segenap omong kosong

Yang tak satu kembang pun

Tumbuh mekar karenanya

IV

 

Dari sunyi ke sepi

Orang-orang berlari

Aku tertinggal sendiri

Duduk di kursi sunyi

Ragu buat turut berlari

Menuju entah

 

V

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Kuhunus sajakku

Jika mungkin kan kubelah sunyi

Yang ditinggalkan penyair musim

 

Kesunyian adalah buah anggur

Atau kursi dari kayu eboni

Di malam perjamuan, atau

Lampu-lampu di jembatan New York

Atau sedu bocah kecil

Yang mengira ibunya pergi dengan terluka

 

Tapi taka da kesunyian di New York

Tak ada sunyi dalam perjamuan

Atau dalam anggur khayalan

Yang telah berganti menjadi sorgum—

Tak ada kesunyian dalam tangis bocah lelaki

yang kalah main gundu

Kesunyian telah dibawa lari

Oleh Don Quixote—

Tapi bukan oleh kudanya.

 

“Kesunyian selalu berlari sendirian

Membelah lautan terjauh

Dalam bola mata para pecinta

Yang ratapnya menjelma kuda-kuda

Dan rindunya menerbangkan rajawali

Ke dalam ruh orang-orang terhukum

Mesti menanggung ganti

Dari tiap jengkal jantung Prometheus.”

 

VI

 

Aku sudah menunggu tiga hari

Ketika langit hilang warna

Pucat seperti kesunyian yang terabaikan

Tapi kulihat rambutmu berwarna kemerahan

 

Kukira… tapi itu telah jauh sekali

Aku tak ingin mengatakannya

Tapi coba lihat dalam jiwaku

Segala telah kukuburkan hari ini

Kau yang membunuh segala yang kanak-kanak

Dan aku dalam kegugupan

Menghadapi surga dan neraka tanpa perjanjian

 

VII

 

Lalu pada punggungmu kurebahkan amarahku

Kota-kota marah—atau memendamnya

Di antara omong kosong dan lampu malam

Siapa begitu perduli pada lukanya jiwa?

 

Kita terbenam pada segelas kopi

Terisi penuh oleh dendam

Tapi ada kekasih jiwaku

Mengajakku pulang dari rasa muak

 

Tapi sungguh aku ingin pergi

Menyusuri sungai dalam belantara sepi

Seolah di sana kita telah pergi begitu jauh

Seolah kita kelana dalam dunia kabut

Di mana batu-batu berlumut

Dan harimau paling ganas—

Sama mengadu tentang kesunyiannya

 

Tapi aku hanya tergolek dalam kamarku

Menunggu subuh yang dingin

Subuh yang suci—berumur hanya sejenak

Dari deru pertama kereta;

Segera memboyong derita dari peraduan

Melemparkan setiap orang ke dalam

Ruang-ruang paling terasing

Untuk kembali membisu

menahan derita sendiri-sendiri—

Seperti subuh yang suci.

 

VIII

 

Kini seakan dermaga terbelah cahaya pertama

Seekor burung tergagap dari ingatan-ingatan

Tentang wadag nun jauh

 

Aku menepi dari tengah gelombang

Dengan perahu yang terbuat dari sajak derita:

 

“Kita telah terkutuk wahai penyair,

Siapa masih peduli pada burung-burung?

Juga pada penyair?

Kita lelah memeluk gelombang

Menerjang malam hanya untuk

Kesunyian yang asing—

Tapi orang-orang lelap

Mengubur dunianya sendiri

Hanya untuk berlari, mengejar kereta pagi

Atau berebut saling melewati

Untuk sampai pada segala benda-benda

Mereka tak mengerti omong kosong

Atau merayakan kesia-siaan, lantaran

Mereka tak punya impian apa pun

Kecuali gaji bulanan, yang segera berganti rupa

Menjadi hiburan atau kepandiran.”

 

O betapa pandir para penyair?

Mengira surga seperti taman paling sepi

Bagi hasrat yang berlari

 

O malam yang lain kembali

Seakan kita terjebak lagi

Dalam keterpisahan yang jauh

Kita duduk lagi, lalu berusaha

Menggambar kengerian

Kengerian yang rapuh

Kerapuhan yang halus

Seperti aroma kopi;

Lalu segala jadi sepi;

Seperti angin dingin kala subuh suci.

 

IX

 

Dari lembah-lembah Merapi dalam ingatanku

Kabut dan dingin;

Orang-orang bicara pada rumput dan ranting

Pada sepi dan anjing

Mereka bicara pada diri sendiri

Seakan Tuhan tengah

Menatap dari balik kabut, menjelmakan

Dingin dan juga sepi—

 

Tak ada lagu-lagu atau balada

Segala yang hidup, hidup dalam sunyi,

Cahaya mentari adalah waktu

Senja berwarna merah tomat

Adalah penanda musim bercinta

Bagi lelaki renta dan perempuan senja usia;

Keduanya duduk menghadap tungku

Api membakar; kayu membakar

Jiwa-jiwa terbakar

Mereka dalam batas-batas terdekat

Dari kehidupan dan juga kematian—

Cinta begitu dingin

Asmara alangkah hangatnya

 

Sementara gelap telah menjadi gelap

Aku menghisap sebatang rokok

Seketika menjadi seonggok dingin

Membeku, aku menjadi kabut menjadi dingin;

Aku mencari lembah di antara bayangan dadamu

Seketika seakan dingin dan api

Tiada berbeda, dalam dadaku

Kehilangan-kehilangan membakarku.

 

Aku telah berlalu dan tak pernah kembali lagi

Kabut dan dingin, tungku api dan rindu yang purba

Tarian debu dan ranting-ranting

Kesunyian di antara hutan jati dan

Sungai paling sunyi—kubawa serta

Kupikul di pundakku: seperuh kesedihan

separuh tarian paling ceria, seakan tida beda

Bagi hidup yang terus menjauh…

 

X

 

Di depanku kini segelas kopi

Atau tuak—

Setiap kali hanya membenamkan

Ingatan yang kureguk

Di antara lagu-lagu disko atau

Bunyi klakson yang menghancurkan

Setiap kesunyian—

Lagu-lagu tentang waktu

Yang tak bisa kumengerti

Aku duduk sendiri;

mencarimu dalam kabut di dadaku

Lalu kutemukan kau

Di antara waktu; kita duduk bersama

Di antara lampu-lampu yang kau sukai

Segelas air putih dan gelak tawa

Aku memastikan diri, bahwa

Kau akan juga mengajakku pulang

Sebab jika tidak aku akan lagi

Terpelanting dalam kabut dan dingin

Tertinggal sendiri—tersesat di antara

Belukar rasa bosan dan sungai-sungai

Yang hanya berupa bayangan:

 

Lelaki tua dan perempuan senja usia itu

Memandangku kembali dari kejauhan

Seperti bayangan-bayangan atau hanya ingatan;

“Setiap jiwa memendam lukanya;

Seorang memilih pergi, yang lain tinggal

Itulah kenapa kita menyalakan tungku

Sendiri-sendiri membakar kengerian

Sebab hanya dalam sunyi

Luka-luka menjadi kembang

Yang mekar dalam kabut dan dingin

Sisanya sepi…”

 

Kabut menelan hamparan cerita

Habis juga pandangku

Kunyalakan sebatang rokok

Meraih tanganmu yang dingin

Sepanjang jalan di Jakarta

Tak ada kabut dan dingin

Lalu kupandangi bola matamu

Aku tersesat lagi…

 

Sabiq Carebesth | Kalibata, 10-14 Juni 2016

 

Continue Reading

Cerpen

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak

mm

Published

on

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak[1] | Karya: Svava Jakobsdóttir[2] | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Sepanjang ingatannya, ia telah menetapkan hati untuk setia pada sifat dasarnya dan mengabdikan seluruh tenaga untuk rumah dan anak-anaknya. Saat ini ada beberapa anak dan dari pagi hingga malam ia dibanjiri pekerjaan, melakukan kegiatan rumah tangga dan mengurus anak. Ia sekarang sedang menyiapkan makan malam dan menunggu kentang mendidih.[3] Majalah wanita Denmark tergeletak di atas bangku dapur seakan dilempar dengan tidak sengaja; kenyataannya, ia memang sengaja menaruh majalah itu disana dan meliriknya ketika ada kesempatan. Tanpa mengacuhkan panci kentang dari pikirannya, ia mengambil majalah dan membaca sepintas kolom nasihat Fru Enson[4].  Bukan berarti kolom itu terlihat paling menarik baginya, namun karena tulisannya pendek-pendek. Mungkin juga akan memakan cukup banyak waktu untuk membacanya sehingga kentang yang dimasak akan mendidih ketika, ia selesai membaca. Surat pertama di kolom itu singkat: Kepada Fru Enson, saya hidup demi anak saya dan selalu melakukan segala sesuatunya untuk mereka. Sekarang saya ditinggal sendiri dan mereka tidak pernah mengunjungi saya. Apa yang harus saya lakukan? Fru Enson membalas: Lakukan lebih untuk mereka.

Tentunya, ini jawaban yang logis. Sangat jelas hingga tidak ada lagi hal yang lebih memungkinkan. Ia berharap tidak akan mulai menulis untuk majalah itu tentang hal yang sudah jelas adanya ketika waktunya tiba. Tidak, kolom ini tempat orang-orang mengerang dan mengeluh bukanlah kesukaannya.  Kolom yang berisi cara pengasuhan anak dan peran ibu – lebih terdengar positif. Aspek fundamental pengasuhan anak tentunya telah familiar baginya sekarang ini, tapi ada saatnya ia merasa lemah dan letih di beberapa waktu. Di saat itu, ia akan buru-buru membalik halaman majalah untuk segera membaca kolom pengasuhan anak demi mencari keteguhan hati dan penegasan bahwa ia memang berada di jalur yang benar dalam hidup. Ia hanya menyesal memiliki sedikit dan semakin sedikit waktu untuk membaca.

Ikan yang belum dibersihkan menunggu dirinya di bak cuci piring dan kali ini ia menahan godaan untuk membaca kolom pengasuhan anak. Ia menutup majalah dan kemudian berdiri. Ia sedikit pincang sejak anak-anaknya memotong satu jari besar di kaki kanannya. Mereka penasaran apa yang akan terjadi jika seseorang hanya memiliki sembilan jari kaki. Di dalam dirinya, ia merasa bangga atas kepincangannya dan atas hasrat belajar anak-anaknya, dan terkadang ia bahkan pincang lebih sering daripada seharusnya. Sekarang ia mendinginkan kentang dan mulai membersihkan ikan. Pintu dapur terbuka dan anak laki-laki kecilnya, yang berusia enam tahun, bermata biru dan berambut agak ikal, menghampirinya.

“Mama,” katanya, dan menusukkan peniti ke tangannya. Ia kaget dan hampir mengiris jarinya dengan pisau.

“Ya, sayang,” jawabnya, dan membentangkan tangannya yang lain sehingga sang anak bisa menusuknya juga.

“Mama, ceritakan aku satu kisah.”

Ia menaruh pisau, mengeringkan tangan dan duduk dengan anaknya di pangkuan untuk menceritakan sebuah kisah. Ia sudah setengah jalan bercerita ketika terpikirkan bahwa salah seorang anaknya bisa menderita gangguan psikologi akibat tidak makan malam tepat waktu. Di wajah anaknya, ia mencoba melihat bagaimana anaknya akan bereaksi ketika ia berhenti bercerita. Ia merasakan keraguan menggenggam tangannya dan menjadi tidak konsentrasi bercerita. Ketidakmampuan dirinya untuk membuat keputusan semakin bertambah beriringan dengan banyaknya anak dan tugas rumah tangga yang tak ada habisnya. Ia mulai mengkhawatirkan hal-hal tadi yang menyela kesibukannya dari pagi hingga malam.  Lebih dan lebih sering ia kehilangan ketenangan jika berhenti membuat keputusan. Kolom pengasuhan anak sedikit sekali, bahkan tidak membantu, pada saat-saat seperti itu, meskipun ia mencoba mengingatnya. Kolom itu hanya membicarakan satu masalah dan satu anak di satu waktu. Masalah-masalah lainnya selalu harus menunggu hingga minggu depan.

Kali ini ia menghindari membuat keputusan. Pintu terbuka dan semua anaknya berbondong masuk ke dapur. Stjani, si sulung, memimpin yang lain. Di usia yang amat dini, dia telah menunjukkan minat mengagumkan akan biologi manusia dan hewan. Anak laki-laki yang sedaritadi mendengarkan cerita sekarang meluncur dari pangkuan dan mengambil posisi di antara saudara-saudara lelaki dan perempuannya. Mereka membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya dan ia memandang mereka satu persatu.

“Mama, kami mau tahu rupa otak seseorang.”

Ia melirik jam dinding.

“Sekarang juga?” tanyanya.

Stjani tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dengan anggukan kepala dan pandangan tajam, dia memberikan tanda kepada adik laki-lakinya, dan si adik laki-laki keluar dan kembali dengan tali, sementara Stjani mengencangkan pisau gergaji ke pegangan kursi. Tali kemudian diikatkan disekitar sang ibu. Sang ibu merasakan ketika tangan-tangan kecil meraba punggungnya sementara simpul dikencangkan.  Talinya dibuat longgar dan tidak butuh banyak usaha untuk meloloskan diri. Namun ia berhati-hati agar anak-anak tidak mengetahui hal itu. Stjani selalu sensitif akan kecerobohan tangannya sendiri. Tepat ketika anaknya, Stjani, mengangkat gergaji ke kepalanya, gambaran akan sang ayah dari anak-anak muncul di pikirannya. Ia melihat lelaki itu di hadapannya seperti dia sesekali terlihat: berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di satu tangan dan topi di tangan lainnya. Ia tidak pernah melihat lelaki itu kecuali di pintu depan rumah, entah ketika lelaki itu sedang berjalan keluar atau masuk ke rumah. Ia pernah sekali berhasil membayangkan lelaki itu sedang berada di luar rumah di antara orang-orang atau di kantor, tapi sekarang, setelah anak-anak mereka lahir, mereka pindah ke rumah baru dan lelaki itu bekerja di kantor baru, dan ia kehilangan arah.  Lelaki itu akan pulang lebih cepat dan ia bahkan belum mulai menggoreng ikan. Darahnya sekarang mulai menetes dari kepalanya. Stjani sudah selesai dengan gergaji. Operasi itu nampaknya berhasil, dan lumayan singkat.  Lalu dia berhenti seakan sedang mengira-ngira dengan matanya, seberapa besar lubang yang dihasilkan. Darah memuncrat ke seluruh wajahnya dan makian terucap dari mulutnya. Dia menganggukkan kepala dan adik laki-lakinya buru-buru keluar ruangan untuk mengambil ember pel. Mereka menaruh ember itu di bawah lubang dan tak lama ember terisi setengah penuh. Prosedur itu selesai dilaksanakan tepat di saat sang ayah muncul di pintu rumah. Sang ayah berdiri kaku sesaat dan merenungkan pemandangan yang tersuguhkan kepadanya: istrinya terikat, dengan sebuah lubang di kepala, anak laki-laki bungsunya memegang otak berwarna abu-abu di tangan, anak-anak dengan rasa penasaran saling berkerumun membentuk grup, dan hanya ada satu panci di kompor.

“Anak-anak! Bisa-bisanya kalian berpikiran melakukan ini di saat waktunya makan malam?”

Sang ayah mengambil potongan tengkorak istrinya dan memasangnya kembali saat sang istri hampir mati karena pendarahan. Lalu dia mengambil kendali dan segera setelahnya anak-anak sibuk merapihkan diri mereka. Dia mengelap hampir semua noda darah di dinding sebelum memeriksa panci di kompor. Ada suara mencurigakan dari panci itu. Air sudah lama mendidih dan dia memindahkan panci dari kompor dan menaruhnya di meja besi di sebelah bak cuci piring. Saat dia melihat ikan yang setengah bersih di bak cuci piring, dia sadar bahwa istrinya belum bergerak dari kursi. Bingung, dia mengerutkan alis. Tidak biasanya istrinya hanya duduk-duduk ketika ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dia menghampiri istrinya dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ternyata, anak-anak lupa membuka tali yang mengikat istrinya.

Saat dia telah membebaskan istrinya dari tali, mereka saling menatap mata satu sama lain dan tersenyum. Tidak pernah ada saat harmoni mereka terasa lebih dalam dibanding ketika mata mereka bertemu karena rasa bangga atas anak-anak mereka.

“Anak-anak malang,” katanya, dan suara lelaki itu dipenuhi nada khawatir sekaligus sayang untuk keluarganya.

Tak lama setelahnya mereka duduk di meja. Semuanya kecuali Stjani. Anak laki-laki itu sedang di kamar mempelajari otak dibawah mikroskop. Sementara itu, ibunya menghangatkan makan malamnya di dapur. Mereka semua lapar dan menghabiskan makanan dengan lahap; makan malam kali ini lebih telat dari biasanya. Tidak ada perubahan terlihat pada sang ibu. Ia sudah keramas dan menyisir rambut melewati bekas luka sebelum ia duduk. Ekspresi tenangnya menampakkan kesabaran dan penyangkalan diri yang biasa terlihat pada waktu makan. Ekspresi ini pertama kali muncul bertahun-tahun lalu ketika ia selalu menomorsatukan anaknya dan hanya menyimpan bagian yang teramat kecil bagi dirinya sendiri. Sekarang anak-anaknya sudah cukup besar hingga mereka dapat mengambil potongan terbaik untuk diri mereka sendiri dan ekspresi sebenarnya tidaklah penting, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan makan. Sebelum makan malam berakhir, Stjani masuk ke ruangan dan duduk. Sang ibu segera mengambilkannya makan malam. Di dapur, ia membersihkan ikan dari tulang dengan cermat sebelum meletakkannya di piring. Saat mengambil ember sampah untuk membuang tulang-tulang ikan, ia berteriak kencang. Otaknya ada di bagian paling atas ember itu.

Anggota keluarga lainnya bergegas keluar sesaat setelah teriakannya mencapai ruang makan. Sang ayah memimpin di depan dan segera mengetahui permasalahan ketika dia melihat istrinya menundukkan pandangan ke ember sampah. Teriakan istrinya telah padam, namun masih bisa terlihat di garis wajahnya.

“Kamu malu membuangnya, bukankah begitu, sayang?” dia bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya dan menatap dengan penuh rasa maaf. “Aku tidak berpikir.”

“Mama engga berpikir, mama engga berpikir, mama engga berpikir,” ejek salah seorang anaknya yang berselera humor tajam.

Mereka semua tertawa terbahak dan tawa itu nampaknya menyelesaikan masalah. Sang ayah berkata dia punya ide; mereka tidak harus membuang otak itu, mereka bisa merendamnya dalam alkohol.

Maka, sang ayah meletakkan otak itu di toples bening dan menuangkan alkohol di atasnya. Mereka membawa toples itu ke ruang tamu dan menaruhnya di rak pajangan. Mereka semua sepakat otak itu cocok ditaruh disana. Kemudian mereka menyelesaikan makan malam.

Tidak ada perubahan kentara pada rutinitas rumahtangga akibat hilangnya otak. Awalnya, banyak orang berkunjung. Mereka datang ingin melihat otak itu, dan mereka yang membanggakan diri karena memiliki mesin pintal tua nenek mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu sekarang tampak iri akan otak yang ditaruh di rak itu. Sang ibu tidak merasakan sedikitpun perubahan pada dirinya bahkan sejak awal. Tidak juga sulit baginya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau untuk mengerti majalah Denmark. Banyak hal bahkan menjadi lebih mudah dimengerti dibandingkan sebelumnya, dan situasi yang dahulu sempat membuatnya harus putar otak tidak lagi berlaku sekarang. Namun lama-kelamaan ia mulai merasa sesak di dada. Seakan paru-parunya tidak lagi punya cukup ruang untuk berfungsi dan setelah setahun berlalu ia pergi ke dokter. Melalui pemeriksaan seksama terungkap bahwa di dalam hatinya telah tumbuh usus in naturalis et adsidui causa.[5] Ia meminta maaf pada dokter karena telah melupakan Bahasa Latin yang pernah dipelajarinya di sekolah, dan dengan sabar sang dokter menjelaskan padanya bagaimana hilangnya satu organ bisa berdampak perubahan pada organ lainnya. Sama halnya dengan seorang pria yang kehilangan penglihatan akan menderita gangguan pendengaran akut, hatinya telah mengalami peningkatan aktivitas yang pesat di saat otaknya tidak lagi tersedia. Ini adalah perkembangan yang alami, lex vitae[6], konon begitu katanya – dan karena hal itu, sang dokter tertawa – tidak perlu khawatir karena dalil tersebut pasti adil. Maka ia tidak perlu takut. Ia dalam kondisi primanya.

 Ia merasa lega karena kata-kata itu. Belakangan ini ia khawatir hanya memiliki sedikit waktu tersisa dalam hidup, dan ketakutan ini telah menjadi suara lantang di dalam dadanya yang berkata: Akan jadi apa mereka jika aku mati? Namun sekarang ia menyadari bahwa suara ini, yang kekuatan dan kemurniannya semakin bertumbuh, bukanlah ramalan, melainkan suara hatinya. Hal ini membuatnya senang sebab suara hati seseorang dapat dipercaya.

Tahun demi tahun berlalu dan suara hatinya menunjukkan jalan: mulai dari kamar anak-anaknya dan ruang kerja suaminya hingga ke dapur dan kamar tidur. Rute ini berharga baginya, dan tidak sedikitpun angin yang menghempas dari pintu rumah cukup kuat untuk menyapu jejaknya. Hanya satu hal yang bisa bangkitkan ketakutan dirinya: perubahan yang tidak terduga di dunia ini. Tahun ketika orang-orang lima kali memecat dan mengganti gadis-gadis konter di toko susu, ia tidak pernah merasa baik-baik saja. Namun anak-anak tumbuh. Ia bangun bersamaan dengan mimpi buruk saat anak tertuanya, Stjani, mulai merapihkan kopernya untuk pergi menjelajah dunia. Dengan kekuatan berapi-api yang tak terkontrol ia melemparkan dirinya ke ambang pintu untuk menghadang anaknya keluar. Suara sesapan terdengar saat anak laki-laki itu menginjaknya kala melangkah keluar. Anak laki-laki itu mengira ia sedang merintih dan berhenti sejenak lalu berkata bahwa semua salah dirinya sendiri. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berbaring di lantai. Wanita itu tersenyum kala ia bangkit karena apa yang telah dikatakan anak laki-laki itu tidaklah benar. Hatinya berkata untuk berbaring disana. Ia telah mendengar suara itu teramat jelas dan sekarang, saat ia melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalanan, suara itu kembali berbicara padanya dan berkata kalau ia masih bisa merasa senang karena telah melunakkan langkah pertama anak laki-lakinya keluar menuju dunia. Setelahnya mereka semua, anak-anaknya, pergi satu per satu dan ia ditinggal sendirian. Ia tidak lagi punya hal untuk dilakukan di kamar anak-anaknya dan ia seringkali duduk di kursi goyang di ruang tamu belakangan ini. Jika ia mendongak, toples di rak terlintas di pandangannya, dimana otaknya berada selama bertahun-tahun ini, dan nyatanya, hampir terlupakan. Budaya membuat hal ini lumrah adanya. Kadang ia merenungkan ini. Sejauh yang ia lihat, otaknya baik-baik saja disana. Namun ia kehilangan kesenangan menatap itu. Membuatnya teringat anak-anaknya. Dan lambat laun ia merasa suatu perubahan sedang terjadi dalam dirinya, namun ia tidak bisa mengatakan hal ini pada suaminya. Ia jarang melihat suaminya akhir-akhir ini, dan kapanpun suaminya muncul di rumah, ia segera beranjak dari kursi, seakan tamu baru saja tiba. Suatu hari suaminya dengan sendirinya bertanya apakah ia tidak baik-baik saja. Puas, ia mendongak, tapi ketika ia lihat suaminya sedang menghitung rekening di saat yang bersamaan, ia jadi bingung menjawab (ia tidak pernah mahir dalam berhitung). Dalam kebingungannya ia berkata tidak punya cukup banyak hal yang bisa dilakukan. Suaminya melihat ke arahnya takjub dan berkata bahwa ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan hanya jika orang menggunakan otak mereka. Tentu saja lelaki itu berkata demikian tanpa berpikir. Lelaki itu tahu benar kalau ia tidak punya otak, tapi bagaimanapun juga ia tidak mengartikannya secara harfiah. Ia menurunkan toples dari rak, membawanya ke dokter dan bertanya jikalau otak itu masih bisa digunakan. Dokter tidak meniadakan kemungkinan otak itu masih berfungsi untuk satu dua hal, namun di sisi lain, semua organ akan mengalami penyusutan setelah diawetkan dalam alkohol dengan rentang waktu sedemikian lama. Oleh karena itu, akan menjadi perdebatan apakah sebanding jika harus memindahkannya; sebagai tambahan, nervi cerebrales[7] telah berubah bentuk menjadi memprihatinkan, dan dokter bertanya apakah pernah ada sosok ceroboh yang melakukan operasi sebelumnya.

“Ia masih sangat kecil waktu itu, menyedihkan sekali,” kata si wanita.

“Omong-omong,” kata dokter, “Saya ingat anda pernah punya hati yang tumbuh pesat.”

Sang wanita menghindari tatapan menyelidiki sang dokter dan sebersit samar hati nurani mencengkeramnya. Ia berbisik pada dokter apa yang tidak berani ia ungkapkan pada suaminya:

“Suara hatiku telah bungkam.”

Saat mengatakan ini ia sadar mengapa ia datang ke tempat itu. Ia membuka kancing blusnya, melepaskannya, dan menyampirkannya rapi di belakang bangku. Bra nya juga bernasib sama. Lalu ia berdiri siap di hadapan dokter, telanjang dari pinggang ke atas. Dia mengambil pisau bedah dan menyayat, lalu sesaat kemudian dia menyerahkan hati yang merah juga berkilauan. Hati-hati dia menaruhnya di atas telapak tangan wanita itu dan tangan si wanita lalu mendekapnya. Detak ragu-ragu hati itu serupa kepakan burung dalam sangkar. Ia menawarkan untuk membayar sang dokter, namun dia menggelengkan kepala dan, melihat bahwa ia sedang dilanda kesulitan, dia membantunya berpakaian. Dia lalu menawarkan untuk memanggilkan taksi untuknya mengingat ia memiliki banyak hal untuk dibawa. Ia menolak, menyumpalkan toples berisi otak ke tas belanjanya dan menyampirkan tas itu di lengannya. Kemudian ia pergi dengan membawa hatinya di kedua tangannya.

Sekarang dimulailah long march dari anak yang satu ke yang lainnya. Mulanya ia pergi menemui anak laki-lakinya, tapi tak satupun dari mereka ada di rumah. Mereka telah menemukan tempat berlabuh di kapal Negara dan mustahil untuk berkata kapan mereka akan kembali. Terlebih lagi, mereka tak pernah berlabuh di rumah cukup lama untuk memiliki waktu melakukan hal lain alih-alih mengurus anak. Ia menarik diri dari kegetiran menantu perempuannya dan pergi mengunjungi putri sulungnya, yang membuka pintu rumah. Ekspresi terkejut dan jijik muncul di wajahnya saat melihat hati merah, berlendir, yang berdenyut di telapak tangan ibunya, dan ketakutan, ia membanting pintu. Tentu ini hanya reaksi sesaat dan segera ia membuka pintu kembali, namun ia menekankan pada ibunya bahwa ia sama sekali tidak peduli akan hati ibunya; dan ia tidak yakin hati itu akan cocok dengan furnitur baru di ruang tamu. Sang ibu lalu sadar bahwa sia-sia melanjutkan long march-nya, sebab anak-anak perempuannya yang lebih muda bahkan memiliki furnitur baru. Maka, ia pulang. Di sana ia mengisi toples dengan alkohol dan menjatuhkan hatinya ke dalam toples. Suara sesapan yang dalam, seperti hembusan napas dalam dada manusia, bisa terdengar saat hati itu tenggelam ke dasar. Dan sekarang, mereka berdiri beriringan di rak dalam toples masing-masing, otaknya dan hatinya. Tapi tak ada satupun orang yang datang untuk melihatnya. Dan anak-anaknya tidak pernah datang berkunjung. Mereka selalu beralasan sibuk. Namun kenyatannya, mereka tak suka bau steril yang melekat pada segala hal yang ada di rumah. (*)

______________________________________________

[1] Teks asli berjudul Saga Handa Börnum dalam Bahasa Islandia diterjemahkan oleh Dennis Auburn Hill ke dalam Bahasa Inggris berjudul A Story for Children. Teks diunduh dari http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/.  Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti untuk perempuan dan dia adalah kata ganti untuk pria.

[2] Svava Jakobsdóttir (1930-2004) ialah seorang penulis, politikus, juga feminis asal Islandia. Ia banyak menyuarakan hak-hak perempuan dalam karyanya. Jane Simmonds (1999) dalam buku berjudul Iceland (1999) menyebutnya sebagai penulis yang berhaluan feminisme surealis.

[3] Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti orang ketiga perempuan, dan dia adalah kata ganti orang ketiga lelaki

[4] Fru Enson, Bahasa Denmark: Nyonya Kesepian

[5] Latin: kasus yang melibatkan penggunaan yang tidak wajar dan terus-menerus

[6] Latin: dalil kehidupan

[7] Latin: saraf otak

 

Continue Reading

Cerpen

Anton Chekhov: Oh! Masyarakat

mm

Published

on

Karya: Anton Pavlovich Chekhov[1] (1885) | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

“Baiklah, cukup sudah aku minum-minum! Tidak… t-ti-dak akan aku tergiur lagi. Saatnya ambil kendali, aku harus bangkit dan bekerja… Tentunya kau senang mendapat gaji, jadi kau harus bekerja dengan jujur, tulus, teliti, tanpa peduli tidur dan kenyamanan. Mesin membuat segalanya mudah. Kau mendapat gaji secara cuma-cuma, kawanku – itu bukan hal baik… bukan hal baik bagaimanapun juga…”

Setelah menceramahi dirinya sendiri, Podtyagin, Kepala Pengumpul Tiket, mulai tergerak hatinya untuk kembali bekerja. Kala itu sudah lewat pukul 01.00 dini hari, walaupun begitu, ia membangunkan pengumpul tiket lainnya dan bersama mereka naik dan turun gerbong kereta, memeriksa tiket.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” ia terus berteriak, begitu lihainya merobek kertas dengan alat pemotong.

Sosok-sosok yang mengantuk, terselimuti senja gerbong kereta api, tersentak, menggelengkan kepala, dan menyerahkan tiket mereka.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” Podtyagin berbicara pada penumpang kelas dua, pria ramping, kurus kering, yang terbungkus mantel berbulu dan tikar dan dikelilingi bantal. “Mohon tiketnya!”

Si pria kurus kering tak memberikan jawaban. Ia benar-benar terlelap. Kepala Pengumpul Tiket itu menyentuh pundaknya dan mengulang perkataan dengan tidak sabar: “M-m-mohon t-t-tiketnya!”

Si penumpang tersentak, membuka matanya, memandang Podtyagin dengan gelisah.

“Apa? … Siapa? … Eh?”

“Anda ditanya dengan bahasa yang sederhana: m-m-mohon t-t-tiketnya! Jika Anda berkenan!”

“Ya Tuhan!” erang si pria kurus, menunjukkan wajah sedihnya. “Yang benar saja! Saya menderita rematik…. Sudah tiga malam saya tidak tidur! Saya baru saja minum morfin supaya bisa tidur, dan Anda… dengan tiket Anda! Anda tidak kenal ampun, tidak manusiawi! Kalau saja Anda tahu betapa sulitnya saya supaya bisa tidur maka Anda tidak akan mengganggu saya hanya untuk hal yang tidak masuk akal… Tak kenal ampun, ini kejam! Dan apa yang Anda inginkan dengan tiket saya! Perbuatan Anda sungguh bodoh!”

Podytagin mempertimbangkan apakah harus membalas ucapan tersebut atau tidak – dan memutuskan untuk membalasnya.

“Jangan berteriak di sini! Ini bukan bar!”

“Tidak, bahkan di bar, orang-orang lebih manusiawi…” kata si penumpang sambil terbatuk. “Mungkin Anda akan membiarkan saya tidur di lain waktu! Luar biasa: Saya telah bepergian ke luar negeri, ke semua tempat, dan tidak ada yang menagih tiket saya di sana, tapi sekarang Anda menagih lagi dan lagi, seperti sedang dikejar setan….”

“Nah, harusnya Anda pergi saja ke luar negeri jika benar-benar suka di sana.”

“Itu bodoh, Tuan! Ya! Tidak hanya membunuh penumpang dengan asap dan kesesakan dan udara dingin, mereka juga ingin mencekik kami dengan birokrasi yang sulit, terkutuklah semua ini! Anda harus menagih tiket itu pula! Ya ampun, antusias sekali! Kalau bukan karena kepentingan perusahaan – setengah penumpang bisa bepergian tanpa tiket!”

“Dengar baik-baik, Tuan!” teriak Podtyagin, marah. “Jika Anda tidak berhenti berteriak dan mengganggu masyarakat, saya berhak mengeluarkan Anda di stasiun berikutnya dan melaporkan kejadian ini!”

“Ini memuakkan!” seru ‘masyarakat’, naik pitam. “Menganiaya seorang invalid! Dengar dan pedulilah sedikit!”

“Tapi pria itu sendiri juga kasar!” kata Podtyagin, sedikit takut. “Bagus sekali… saya tidak akan menagih tiketnya… seperti yang Anda mau… Hanya, tentu saja, seperti yang Anda ketahui dengan baik, sudah tugas saya untuk melakukannya… Jika itu bukan tugas saya, maka tentu saja… Anda bisa tanya kepala stasiun… tanyakan siapa pun yang Anda mau…”

Podtyagin mengangkat bahunya dan berjalan menjauhi si invalid. Awalnya ia merasa dirugikan dan agak terluka hatinya, lalu, setelah melewati dua atau tiga gerbong, ia mulai merasa gelisah.

“Sebenarnya tidak perlu membangunkan si invalid,” pikirnya, “meskipun itu bukan salahku… Mereka pikir aku melakukannya tanpa alasan, tanpa tujuan. Mereka tidak tahu aku terikat kewajiban… kalau mereka tidak percaya, aku bisa bawa kepala stasiun untuk bertemu mereka.”

Stasiun. Kereta berhenti setiap lima menit. Sebelum bel ketiga[2] berbunyi, Podtyagin memasuki gerbong kelas dua yang sama. Kepala stasiun mengikuti di belakangnya.

“Laki-laki ini,” mulai Podtyagin, “menyatakan bahwa saya tidak memiliki hak untuk meminta tiketnya dan… dan dia merasa tersinggung. Saya mohon pada Anda, Pak Kepala Stasiun, untuk menjelaskan padanya… Apakah saya menagih tiket menurut peraturan atau untuk menyenangkan diri saya sendiri? Tuan,” Podtyagin memanggil lelaki kurus itu, “Tuan! Anda bisa tanya kepala stasiun sekarang jika Anda tidak percaya ucapan saya.”

Si invalid terkejut seperti baru saja disengat, membuka mata, dan dengan wajah sedihnya ia tenggelam di kursinya.

“Ya Tuhan! Saya baru saja minum puyer dan terlelap barang sekejap ketika ia sekarang mulai lagi… lagi! Saya mohon kasihanilah saya!”

“Anda bisa tanya kepala stasiun… apakah saya punya hak untuk menagih tiket Anda atau tidak.”

“Benar-benar keterlaluan! Ambil tiketnya, ambil! Saya bersedia membayar lima kali lipat jika Anda membiarkan saya mati dalam damai! Tak pernahkah Anda sakit? Dasar orang tak punya hati!”

“Ini adalah penganiayaan!” Seorang pria berbaju militer naik pitam. “Saya rasa tidak ada penjelasan lain dari kekeraskepalaan Anda ini.”

“Jatuhkan tiketnya…” ucap si kepala stasiun, memberengut dan menarik lengan baju Podtyagin.

Podtyagin mengangkat bahu dan berjalan perlahan melewati kepala stasiun.

“Tidak untuk menyenangkan hati mereka!” pikirnya, kebingungan. “Demi ia lah saya membawa kepala stasiun kemari, agar ia bisa paham dan lebih tenang, dan ia… mengumpat!”

Stasiun lainnya. Kereta berhenti sepuluh menit. Sebelum bunyi bel kedua, saat Podtyagin sedang berdiri di bar makanan dan minuman, meminum air soda, dua pria menghampirinya, seorang berpakaian seperti insinyur, dan seorang lainnya mengenakan mantel militer.

“Dengar, petugas pengumpul tiket!” seru si insinyur, mengalamatkan Podtyagin. “Perlakuanmu terhadap penumpang invalid membuat muak semua orang yang menyaksikannya. Nama saya Puzitsky; saya seorang insinyur, dan pria di sebelah saya ini seorang kolonel. Jika Anda tidak meminta maaf kepada penumpang tadi, kami harus mengadukan hal ini kepada kepala lalu lintas yang juga adalah teman kami.”

“Tuan-tuan sekalian! Mengapa tentunya saya… mengapa tentunya Anda…” Podtyagin diserang kepanikan.

“Kami tidak mau dengar penjelasan apa pun. Tapi kami peringatkan Anda, jika Anda tidak meminta maaf, kami harus memastikan keadilan berlaku pada penumpang tadi.”

“Tentu saya… saya akan minta maaf, pastinya… saya pastikan…”

Satu setengah jam setelahnya, Podtyagin yang sedang memikirkan ucapan permintaan maaf yang akan meyakinkan si penumpang tanpa merendahkan harga dirinya, berjalan menuju gerbong. “Tuan,” ia berkata pada si invalid. “Dengar, Tuan…”

Si invalid terkejut dan melompat: “Apa?”

“Saya… bagaimana ya? … Anda tidak seharusnya merasa tersinggung…”

“Argh! Air…” ucap si invalid megap-megap, mencengkeram dadanya. “Saya baru saja minum dosis ketiga morfin, jatuh tertidur, dan… lagi! Oh Tuhanku! Kapan siksaan ini akan berhenti!”

“Saya hanya… Anda harus memaafkan…”

“Oh! . . . Turunkan saya di stasiun berikutnya! Saya tak tahan lagi… saya… saya sekarat…”

“Benar-benar jahat, menjijikkan!” seru ‘masyarakat’, muak. “Enyahlah! Kau harus bertanggung jawab atas penyiksaan yang kau lakukan. Enyah dari sini!”

Podtyagin melambaikan tangannya berputus asa, mendesau, dan pergi keluar gerbong. Ia menghampiri kompartemen[3] pegawai kereta, duduk di meja, kelelahan, dan mengeluh:

“Oh, masyarakat! Tak ada gunanya menyenangkan mereka! Tak ada gunanya bekerja dan melakukan yang terbaik! Karenanya orang jadi tergerak untuk minum-minum dan bersumpah-serapah… Kalau kau tidak mengerjakan apapun – mereka marah, kalau kau mulai mengerjakan tugasmu, mereka juga marah. Lebih baik minum-minum daripada memikirkannya!”

Podtyagin menenggak habis sebotol minuman keras saat itu juga dan tidak mau lagi memikirkan pekerjaan, kewajiban, dan kejujuran! (*)

_____________________________

[1] Karya ini pertama kali dipublikasikan di Rusia pada 30 November 1885. Versi bahasa Inggris berjudul Oh! The Public diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris oleh Constance Garnett. Teks sumber berasal dari http://www.eldritchpress.org/ac/jr/

[2] Penumpang kereta diberikan 3 bel peringatan: bel pertama (1 kali denting) menandakan 15 menit sebelum keberangkatan, bel kedua (2 kali denting) menandakan 5 menit sebelum keberangkatan, dan bel ketiga (3 denting) dibunyikan saat kereta meninggalkan stasiun.

[3] Ruang terpisah di kereta.

Continue Reading

Trending