Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Arya Adikristya

mm

Published

on

Salatiga

 

Ini kota tapi desa.

Desa tapi kota.

Kota kedesa-desaan.

Desa kekota-kotaan.

Kota rasa desa.

Desa rasa kota.

Jadi, di sini,

tidak ada yang namanya orang kota.

Tidak juga orang desa.

Ya orang kota-desa.

Ya orang desa-kota.

Ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Hingar bingar siang kota ya ada.

Sunyi lewat jam 10 bengi ya ada.

Tak sepadat Jakarta atau Surabaya.

Tak sesunyi Dukuh Paruk.

Ia ada di tengah-tengah kota tetangga:

Semarang, Solo, Magelang, dan Yogyakarta.

Itulah sebabnya orang-orang kota-desa ini,

hampir setiap pekan pergi keluar kota.

Mereka cari pusat perbelanjaan

dan tempat hiburan murni rasa kota, tanpa desa.

Tapi yang cinta rasa desa,

Mereka ‘kan pergi ke tempat yang lebih sunyi,

tapi tak sunyi-sunyi amat:

Kopeng, Bandungan, Selo, Ambarawa.

Tak ada salahnya.

Tak ada benarnya.

Kota-desa ini memang tak menyajikan kemurnian.

Karena yang murni memang tidak ada.

Yang ada ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Ya ramai ya sunyi.

Ya sunyi ya ramai.

 

Salatiga, 2016

 

Budaya(m)

 

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku tak mau menghujat penggemar nasi ayam (broiler)

meski nasi ayam menjamur di mana-mana

mulai ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki,

dan ayam sambalasambalabalasambalado

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku jadi bertanya-tanya tentang popularitas nasi ayam (broiler)

apa benar mereka kekinian

karena McDonaldisasi membumi demikian rupa

tsk tsk tsk, ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki, dan ayam sambalasambalabalasambalado

ini bukan menyoal soal Timur dan Barat

bukan juga soal asing dan lokal

mahal dan murah

populer dan kebalikannya

sehat dan penyakitan

baik dan buruk

capek aja liat makanan berkomposisi ayam!

 

Salatiga, 2016

 

Makanria

 

Senja itu, di rumah makan Manado “Nyiur Melambai”, kukatakan padamu:

“Mudah sekali mencari makanan banyak suku di Salatiga.”

Kau mengangguk setuju,

sambil melahap sate babi di genggaman tangan kananmu.

Aku melanjutkan makan nasi dengan babi tinorangsak di piringku.

 

Benar saja,

sebentar di Manado, bila ingin, kita bisa saja langsung di Makassar.

Kita pernah makan coto di sana, es palu butung, gogos,

tapi tak pernah memesan sop konro, karena harganya selangit.

Makan coto denganmu,

aku jadi teringat kapan pertama kali aku makan coto.

Semula kupikir coto adalah soto.

Rupanya berbeda. Apalagi, rasanya.

Tapi sampai sekarang,

diam-diam aku terus mengira kalau coto adalah soto khas orang Makassar.

 

Bila ingin, usai makan babi tinorangsak,

kita bisa lengang bersama ke rumah makan Toraja.

Di sana kita pernah makan bersama.

Memesan babi panggang merah,

komplit dengan sayur daun ketela rebus.

Tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Car, bila kamu tak takut perutmu melebar,

bolehlah kita menjajal ke rumah makan Batak.

Letaknya hanya beberapa rumah dari rumah makan Toraja.

Aku sudah pernah ke sana.

Tapi kita belum.

Percayalah, di sana,

Bang Petrus siap sedia babi masak Sangsang.

Aku tak pernah tertarik dengan arti namanya,

selain melahap sepiring atau dua atau tiga.

Pun begitu dengan sayur asin dan babi panggangnya,

komplit dengan bumbu darah babi

yang lebih mirip seperti sambel kacang.

Aku tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Cukuplah dengan babi.

Kata orang yang tak memakannya, itu daging haram.

Tapi perut tak mengenal haram atau halal.

Perut hanya mengenal bisa atau tidak bisa dicerna.

Maka marilah makan ke tempat kesukaan kita: warung rica waung.

Warung ini sedia daging hitam, berlumur bumbu pedas.

Kadang ada lalapannya, ada sambel dabu-dabu,

dan juga merica bubuk atau kecap manis.

Di Pattimura dan Pasar Sapi,

kita pernah tanpa bicara,

sibuk melahap daging anjing hitam ini. Ingat?

 

Atau mau makanan yang sudah populer di seantero negeri?

Nasi Padang namanya.

Nasi Padang yang enak,

setahuku ada di manapun.

Asalkan gratis.

Yang enak tapi mbayar,

setahuku ada di Jensud, depan Hotel Grand Wahid.

Kamu biasanya makan rendang dan aku gule kambing.

Lalu biasanya kita berbagi lauk.

Bila sayurmu tak habis, aku yang menandaskannya.

 

Sayang, apa kamu benar-benar tak takut kolesterol dan diabetes?

Kalau tidak,

kita bisa singgah lagi ke warung nasi tumpang koyor di Banjaran.

Di situ langganan kita.

Katamu: “Tumpang koyor paling cocok ya di sini.”

Aku sependapat dan makin cinta padamu saat itu.

Berbeda dengan Sangsang di warungnya Bang Petrus,

aku justru tertarik dengan asal-usul tumpang koyor.

Makanan ini cuma ada di Salatiga.

Tumpang sendiri berasal dari kata “tumpang”.

Artinya “menumpahkan”,

“menumpuk”, atau “menjadikan satu”.

Apanya yang dijadikan satu?

Tempe busuk yang dihancurkan,

cabe-cabean, dan beberapa rempah-rempah

yang tak kumengerti wujudnya.

Sedangkan koyor adalah otot.

Tapi bukan otot daging.

Koyor adalah otot yang menempel di tulang.

Lunak, kenyal, mudah hancur bila dikunyah.

Selain di Banjaran,

kita juga pernah makan di warung Mbah Rakinem.

Tapi katamu: “Di Mbah Rakinem lebih sedikit dan mahal pula.”

Aku setuju. Dan makin cinta padamu saat itu.

 

Pernah kutanya padamu: “Ada rumah makan apa lagi di Salatiga?”

Kau menyebut satu yang kulupakan: Rumah makan orang Palu.

Aku baru ingat.

Kita pernah sekali makan di sana.

Lalu tak pernah makan lagi.

Entah, aku jadi lupa pernah makan apa di sana.

Barangkali kamu ingat?

 

Jika kuhitung-hitung, tapi sayangnya aku malas menghitung,

Mungkin sudah ratusan kali kita makan bersama.

Menerangkan malam karena puasa dengan satu tempat makan.

Atau meredupkan siang hanya karena debat soal tempat makan.

Saat ini aku kenyang menulis, tapi lapar di perut.

Lain kali kita harus menjajal gecok di Nanggulan,

sop konro di Kridanggo,

sop brenebon di Nyiur Melambai,

sate kambing Pak Dhar, rica menthok di Pujasera,

lotek Bu Atien di depan kampus UKSW,

nasi goreng empat ribuan di Gamol,

nasi kucing subuh di Pasar Sapi,

soto bening di Jensud,

nasi ruwet di perempatan Sukowati,

warung nasi babi Bali di depan Pizza Hut,

tahu campur Pak Min di Kalitaman,

RW Patemon di Ngawen

dan mengulang lagi tempat-tempat yang tertulis sejak awal.

Meninggalkan familiaritas pada sebuah makanan.

Menelusuri ratusan rasa yang selama ini luput dari lidah.

 

Salatiga, 2016

 

 

The SL3

 

2013 kudatang ke Salatiga.

Kusenang karena tak ada mol dan gedung tinggi seperti di Surabaya.

Sejuk dan tak terlalu sibuk.

2014 tersiar kabar pembangunan mol. The SL3 namanya.

Kubaru tahu kalau persoalan mol sudah mulai sejak 2010.

2010 investor dari  Yogyakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Dan tidak jadi.

2014 investor dari Jakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Tapi jalan lagi.

2015 kulihat beberapa kali kendaraan besar

lalu lalang masuk lahan pembangunan.

Terakhir kulihat benda cagar budaya

yang ada di sana sudah roboh.

2016 kuingat satu ungkapan klasik:

“Salatiga. Silahkan mengota, asal jangan men-Jakarta.”

Kubertanya-tanya sendiri,

apakah The SL3 akan mengubah wajah Salatiga mirip Jakarta?

Oh ya, dekat kosku juga akan dibangun pusat perbelanjaan lainnya:

Pattimura Centre.

 

Salatiga, 2016

 

Arya Adikristya: Lahir di Surabaya. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Aktif di LPM Scientiarum. Biasa menulis di blog sendiri: adikristya.com

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tidak Ada Kunang-Kunang Malam Ini

mm

Published

on

Oleh: Khoirul Anam*

            Di samping rel kereta api, terdapat gubuk kecil berbilik bambu. Bagian atapnya terkadang bocor ketika hujan deras. Jika siang, seng itu bisa membuat orang di dalamnya merasa panas dan gerah. Tetapi bukan hanya satu gubuk, sepanjang rel dari selatan hingga utara ada lima—jaraknya berjauhan. Tempat yang strategis, agak jauh dari lingkungan warga.

            Untuk menuju ke sana, Sasha menempuh perjalanan sekitar satu jam setengah. Dia berangkat jam sembilan malam, bersama dua orang teman—di antaranya memiliki motor bodong—yang satu kontrakan. Setibanya mereka berpisah. Ada yang di ujung selatan, di tengah dan Sasha di utara. Dua germo—laki-laki bertubuh kekar dan perempuan dengan dada menyembul ke depan—menyambutnya.

“Sudah ada empat orang malam ini. Tiga lainnya menunggu di sana.” Perempuan itu menunjuk tiga bara api rokok, tidak terlalu jauh. Sasha menganguk dan tersenyum. Semenjak Rani dan Indah tak lagi bekerja, terkadang dia senang, terkadang sebaliknya. Pertama, karena dia mendapat uang lebih. Kedua, bagaimana mungkin dia mampu menemani banyak orang dalam satu malam, setiap hari. Tenang saja, sebentar lagi ada orang baru yang akan menemanimu, kata germonya. Setiap gubuk pasti ada yang menjaga, selain karena wanita di dalamnya bukan sembarangan, tentu agar transaksi mudah dan tidak ada kegaduhan. Tempat ini meski di samping rel dengan kondisi gubuk yang sederhana, tetap mengundang gairah banyak orang.

Namun, sekarang adalah malam yang sial bagi Sasha. Dia sudah berpesan kepada salah satu dari mereka akan pulang jam sebelas, tidak seperti biasanya—jam tiga-empat pagi. Kekasihku mengajak kencan, katanya. Tapi, apa boleh buat. Langganannya akan datang dan dia, harus menemaninya.

            “Barusan dia menelepon dan menanyakanmu. Bersiap-siaplah. Malam ini pasang wajah tercantikmu.” Perempuan itu—germonya— menjelaskan. Sasha mendengus menandakan penolakan.

“Dengar cantik, kamu mau jalan, temani pria itu. Dia akan memberi kita uang lebih jika kamu menemaninya.” Ucapan itu selalu terulang. Padahal Sasha sudah berkali-kali bilang, bahwa pria itu memacu dirinya dengan beringas.

Jelas, Sasha tidak bisa berkata apa-apa. Dia duduk di lawang pintu yang ditutup dengan karung jika ada seseorang masuk. Malam ini, seperti kebiasaan yang sering dia lakukan, matanya menatap kosong ke depan. Dari kejauhan, orang-orang hilir-mudik. Di sana tidak ada kunang-kunang yang bertengkar dengan lampu-lampu jalan. Melainkan, ditatapnya lekat kupu-kupu beterbangan, menemani malam kota yang pekatnya kental sekali. Lamunan itu terkadang buyar karena melintasnya kereta atau datangnya pria yang minta ditemani.

Saat ini, Sasha dengan terpaksa harus memuaskan nafsu bengis langgananya. Pria itu datang tiga-empat minggu sekali. Bayangkan saja, setiap Sasha melayaninya main, dia akan terkapar lemas. Kalau sudah begitu, tak bisa lagi dia menemani pria lain hingga pagi. Sasha mengambil ponsel dan mencari nama di sana. Dia menekan tobol hijau—memanggil.

“Sayang, mungkin aku sedikit telat malam ini. Tak apa, kan?” dia berdiri dengan langkah maju-mundur. Terdengar suara dengusan kesal dari seberang sana.

“Baiklah, sayang. Di tempat biasa, kan? Oke, kita bermalam di sana.” Telepon terputus. Dia kembali duduk di lawang pintu dengan gelisah. Selang beberapa menit, dia berdiri dengan kaki gemetar. Orang yang sedang bercakap dengan germonya pasti pria itu.

Sasha masuk dengan perasaan sangsi. Pria itu mengekori dari belakang. Karung yang tersingkap dia tutup, paku ditancapkan ke bilik bambu agar karung tidak diterpa angin malam.

            “Apa kabar, sayang. Sudah dua minggu aku tidak berkunjung kemari. Lagi banyak urusan. Kamu pasti kesepian, yah? Ayo jawab! Minggu depan aku perbaiki gubuk ini, memberinya selimut dan bantal. Tapi hanya untuk kita berdua.” Dia tertawa nyaring, satu kereta melintas membuat tawanya menciut.

            Sasha menggeleng-geleng seperti ketakutan. Dia tatap wajah di depannya. Pria tambun itu membuka kaus, ikat pinggang dan celana jeansnya. Satu tahi lalat agak besar di dagunya akan selalu Sasha ingat. Jika sewaktu-waktu dia bertemu dengannya di luar, mungkin Sasha akan memukul kepalanya dengan palu atau menyuruh orang bayaran.

            “Ayolah, cantik. Sekarang malam purnama, lihatlah di luar sana. Bulan memberkati kita untuk berpelukan hari ini.” Sasha menelan ludah. Pria itu memegang pundaknya. Satu ciuman di pipi kanan. Tanpa memberinya sedikit bernapas sejenak. Sasha terbujur paksa. Nyala remang-remang lampu senter kecil di dekatnya tak lagi dia rasakan.

***

Fajar, sudah muak dia duduk termangu sendirian. Telepon kekasihnya tidak dapat dihubungi. Sempat kesal dia karena tidak menjemputnya barusan. Dia pun memutuskan untuk bersabar menunggu. Ketika pertama kali menyatakan cinta padanya, jujur, dia bukan modus agar mendapatkan gratisan. Tetapi dia memang tertarik sejak awal melihatnya, di suatu senja, di taman kota. Fajar membuntutinya hingga tahu, bahwa wanita yang mengusik jiwanya setiap malam ada di sebuah gubuk kecil, di dekat rel kereta api.

Tempat itu tidak sama seperti yang pernah dia kunjungi. Meski gubuk kecil tapi bersih. Wanita di dalamnya menyenangkan mata bila dipandang, katanya saat nongkrong di warung kopi Ma Ijah. Di tempat lain, tak ada ketertarikan apa pun, dia hanya iseng. Ya, seperti kebanyakan anak muda. Hanya tawar-menawar, akhirnya tak jadi.

            Fajar tetap menaruh rasa, meski dia tahu wanita yang menjadi kekasihnya bekerja seperti itu. Entah karena landasan apa, Fajar hanya merasa nyaman setelah menjalin hubungan dengan Sasha sekitar satu tahun lebih. Dia pria pertama yang mengajak Sasha agar bersedia menjadi kekasihnya. Awal mula Sasha terkejut setelah menemaninya tidur. Brengsek, ini akal-akalan pria untuk bisa tidur gratis dengan embel-embel kasih sayang. Waktu itu, dia tidak memberi jawaban, hanya melempar senyum karena Fajar menidurinya dengan pelan, penuh kenikmatan.

            Hari berikutnya dia rutin datang ke sana hampir tiap minggu. Dan ternyata dugaan Sasha salah, dia kira Fajar akan mengajaknya tidur di hotel atau semacamnya. Tetapi, Fajar tetap berkunjung. Memberi uang pada germo. Dan, sesekali menyelipkan beberapa lembar di kutang Sasha.

            Sudah lama dia menunggu, giginya bergemeretuk geram. Dia meneleponnya lagi.

            “Halo, sudah berangkat, kah? Oke, aku tunggu.” Fajar memejamkan mata. Satu tarikan nafasnya panjang. Rokok dia selipkan di bibirnya. Kopi masih belum tersentuh.

***

            Purnama menyelimuti malam. Dua pasang kekasih duduk berhadapan. Sasha belum menjawab satu-dua pertanyaan. Nafasnya tak teratur. Setibanya Sasha melangkah dengan sedikit ngangkang, seperti kesakitan. Dia mengenakan Off Shounder Sweeter dengan bahu terbuka sedikit. Satu syal merah melingkari leher. Rambut diikat dan berponi, setengah lainnya tergurai ke belakang. Dia duduk dan memejamkan mata. Tiga kali pertanyaan berhasil membuyarkan lamunannya.

            “Sayang, kamu kenapa?” Fajar memegang tangan kekasihnya. Sasha membuka mata.

“Aku sudah tak kuat melayani pria tambun itu.” Matanya berkaca-kaca. Satu tangan mengusap kewanitaanya yang tertutup tas kecil.

            “Sial. Dia masih sering datang ke sana? Aku harus segera mencari orang bayaran untuk membunuhnya.” Kali ini nada bicaranya sedikit pelan, masih banyak orang di sekitar. Sasha menganguk-angguk, menyetujui. Pesanan dua sandwich dan satu kopi flat white datang. Sasha menatap wajah kekasihnya, dalam sekali.

            “Kamu masih ingat janji itu, kan? Apakah sungguh dengan perempuan sepertiku?”

            “Aku mencintaimu, Sayang!” kali ini bicaranya agak nyaring. Seseorang yang duduk di bangku sebelahnya menoleh. Sasha melekatkan jari terlunjuknya di bibir Fajar.

            “Suaramu membuat orang lain kehilangan konsentrasinya, sayang.” Mereka berdua tertawa liar.

            Bulan sudah dari tadi sempurna menggantung di langit. Obrolan semakin hangat. Fajar menanyakan kesediaan Sasha untuk bertemu keluarganya esok lusa. Setelah aku wisuda kita menikah, katanya. Aku sudah berencana merintis usaha desainer grafis dari awal, katanya lagi. Sasha tersenyum.

“Tadi di kutangku ada uang dari pria tambun-jelek itu,” dia berbisik pelan setelah hening saling tatap. Fajar dan Sasha tertawa liar.

            “Buang saja uang itu, nanti aku ganti yang lebih banyak.”

            Begitu bahagianya Sasha malam ini setelah ditindih penuh siksa. Sepasang kekasih, menikmati dua sandwich ditambah ketang balado. Selang beberapa menit, sayup-sayup terdengar suara sirine ambulans di parkir di pinggir jalan. Sasha melihat-lihat keluar. Apakah pemilik kafe sedang berduka? Satu orang pria dengan langkah tergesa masuk. Sasha menatap lekat pria itu. Tahi lalatnya? O, benarkah itu tahi lalat yang dia kenal? Dadanya bergemuruh.

            “Tiga sandwich, segera.” Pria itu memesan.

            “Ayah, sedang apa di sini?” suara Fajar membuatnya menoleh dan menghampirinya.

            “Owh, kamu. Ada warga terkena serangan jantung malam-malam seperti ini. Untung saja selamat. Sekarang perjalanan menuju pulang. Ibu menelepon, adikmu bangun meminta sandwich.” Ujarnya menjelaskan, tatapannya sesekali menusuk Sasha.

            “Oalah, maaf  Yah, biasanya Fajar yang membawakan sandwich itu buat Raihan. Malam ini mungkin pulang lebih larut.”

            “Ya sudah, tak apa.”

            “Perkenalkan, Yah. Wanita yang besok lusa akan aku bawa ke rumah. Cantik, bukan?”

            “Owh, ya. Wanita yang sempurna, kamu pandai memilih ternyata. Saya tunggu kedatangannya.” Dia melemparkan senyum pada Sasha, dadanya semakin kencang bergemuruh.

            Pelayan menyebutkan pesanan. Pria itu pamit dan keluar. Ambulans melaju tenang, suara sirine dimatikan. Sasha termangu, suara Fajar di depannya samar seolah tak terdengar. Di tempurung kepalanya akar-akar pohon upas mulai mengakar-meracun.

            Sasha menatap Fajar. Kuku-kupu yang sering dilihatnya bertengger di atas kepala kekasihnya.

Sampang 2020

Khoirul Anam, dia menulis cerita pendek. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Dan sekarang, berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Suatu Hari di Tahun Epidemi


Jarum-jarum hujan menghujam wajahku
Seperti kenangan yang datang tiba-tiba

Menjemput ingatan entah tentang apa
Mandi bersama ibu dulu sewaktu kecil

Atau melihat tubuh telanjang kekasih
Bersama nafas yang makin memburu

Kota menjadi basah setelah panas itu
Wabah membuat kecemasan panjang

Berita kematian terus hadir di telinga
Kau bersedih melihat badut menangis

Berdiri di mal yang sepi tanpa pembeli
Di depan kaki kotak uang tak jua terisi

Kita ingin semua kembali seperti biasa
Bekerja dengan tenang penuh keriangan

Hamparan gunung terlihat di layar ponsel
Awan-awan di kotamu kabarkan rindu ini

2020


Menunggu Nasi Matang

Sup di meja telah dingin. Sambil menanak nasi,

aku asyik pandangi ponsel kabarkan kematian

dimana-mana. Detik demi detik, setiap hari.

Dunia kini bersedih karena wabah membunuh

jutaan nyawa. Kehilangan pekerjaan, banyak

orang menjadi depresi. Ada yang bunuh diri.

Katanya setelah ini lahir era baru, bumi

sedang membersihkan diri. Kematian

membuat sedih, kau belum alami hal itu.

Lelaki mengundang makan orang lapar,

baru saja ia kehilangan pekerjaan. Dia jauh

lebih mulia daripada mulut yang bicara.

Aku teringat nyanyian guruku, bersama

anaknya ia bergumami tentang ubi goreng

dan sayur bayam. Makan apa yang ada.

Nasiku telah matang. Puisi adalah angin

berlalu, sebab aku belum bisa membuktikan

apa-apa. Seperti lelaki pemberi makan itu.

2020

Jika Corona Berlalu


Katamu kamu bosan
Di rumah memakai daster
Mengurus cucian-setrikaan

Kamu sudah puas rebahan
Setelah membeli kebutuhan
   Digawai secara online
Kuota internetmu berkurang
Kamu merasa tak tahan lagi

Tak ada yang tahu kapan
         wabah ini berakhir
Kita teringat liburan terakhir
Kini tak bisa kemana-mana
Warga disarankan di rumah
       Agar tak tertular virus

Mal dan toko-toko tutup
    Karyawan dirumahkan
Tak ada lagi yang datang
Pengusaha susah, tak tahu
         mesti berbuat apa.

Jalan malam hari sepi
     Kota hampir mati
Kecemasan terbayang
Di wajah tertutup masker
Perawat diam menangis
Kematian di depan mata

Jika Corona berlalu
Ada yang menunggu
Tangan keriput ibu
   Kucium penuh haru
Bertemu kembali
Di rumah kenangan

2020

Catatan:
Puisi terinspirasi dari lagu @tante_moji yang banyak didengar di media sosial


*) Angga Wijaya, bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali 14 Februari 1984. Puisi-puisi tersebar di banyak media dan antologi bersama. Buku puisi terbarunya ‘Tidur di Hari Minggu’ (2020) merupakan buku kumpulan puisi kelima yang ditulisnya di sela-sela rutinitas sebagai wartawan lepas dan guru jurnalistik sebuah SMA di Kuta, Badung, Bali.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Masih Ada Pengimbang

Karena akal bisa mengatur kekuatanmu

Karena jiwa bisa menahan nafsumu

Jiwa pun bisa menjadi kemudi

Di kala akalmu bisa menilai

Mengatasi pertempuran

Saat nafsu dan kerakusan mulai membuncah

Akal membawa selaras

Menyatu saat layarmu mulai terombang-ambing

Patah karena gelombang

Akal mengimbangimu agar tak terguling dalam karam samudra

Sedang jiwamu, mengangkat akalmu

Menghindari dari nafsu

Sehingga mampu menyanyi dan bangkit dari atas abumu

Kamu pun bisa mengatakan itu

“Tuhan masih bersemayam dalam akal”

Maumere, 2020

Tak Ingin Kamu Ambil

Aku ingin merengkuhmu, dalam satu kata

“ingat”

Pikiranku ini tak mampu tenang apalagi untuk suruh tidur

Ketika pagiku merekah

Menatap bukit

Hanya melihat percikan debu dari tanah kami

Lantas kuingat pesan bapa

“kamu perlu merawat kerudung kayu di sini

Agar kamu bisa duduk tenang dan menahan

Teriknya matahari”

Damai pun kamu terasa

Maumere, 2020

Di kala kamu mulai mengambilnya

Kesenanganmu

Menjadi kesedihan yang tersembunyi  bagiku

Ketertawaanmu

Membuat kami lama

Mengisak air mata

Semakin engkau menggali lubang kami

 Secara sengaja menguburkan kami

Aku hidup dalam melarat

Anakku pun menatap sebuah kekosongan

Masa depannya

San Camillo, Akhir Juni

Sajak dalam Kekeringan

Kau berusaha memetik air mataku

Mulai menyergap bunga-bungaku

Hingga, luka mahkotaku

Puas, lantas kamu tinggalkan

Pergi tanpa pamit

Kamu pun datang tanpa permisi

Gelak tawa yang kau lepaskan pada mereka

Kini memantulkan gaungnya

Aku hanya memikul rasa sakit

Saat mata air

Telah kau ganti dengan harapan “gelisah”

Masa depanku ini menjadi takdir

Hanya hidup dalam angan dan baying

Lantas, yang dulu tak mungkin kembali

Kau telah menyediakan kain kafan

Tanah yang menjadi sukacita

Menjadi cuka yang menguburkan angan

Camilians, 23 Juni

Kubangunkan

Yang  kita susun bersama

 waktu itu

telah mulai mengempas, satu per satu

Ku ingin maju meninggalkan jejak lama

Kemudian kataku waktu itu

Hanya menjelma menjadi syair-syair yang mengalir

Kadang kutergesah untuk melangkah

Lalu mengingat kembali, siapa yang menolong mereka?

Aku ingin kau kan mengerti

Kami butuh sentuhan, entah selembut ciuman Yudas

*) Agust Gunadin, penghuni di Seminari Tinggi St. Kamilus (Camilians)-Maumere. Sedang menyiapkan buku ontologi puisi perdana (Kesunyian). Masih dipercayakan sebagai ketua kelompok sastra “Salib Merah San Camillo”.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending