Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Arya Adikristya

mm

Published

on

Salatiga

 

Ini kota tapi desa.

Desa tapi kota.

Kota kedesa-desaan.

Desa kekota-kotaan.

Kota rasa desa.

Desa rasa kota.

Jadi, di sini,

tidak ada yang namanya orang kota.

Tidak juga orang desa.

Ya orang kota-desa.

Ya orang desa-kota.

Ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Hingar bingar siang kota ya ada.

Sunyi lewat jam 10 bengi ya ada.

Tak sepadat Jakarta atau Surabaya.

Tak sesunyi Dukuh Paruk.

Ia ada di tengah-tengah kota tetangga:

Semarang, Solo, Magelang, dan Yogyakarta.

Itulah sebabnya orang-orang kota-desa ini,

hampir setiap pekan pergi keluar kota.

Mereka cari pusat perbelanjaan

dan tempat hiburan murni rasa kota, tanpa desa.

Tapi yang cinta rasa desa,

Mereka ‘kan pergi ke tempat yang lebih sunyi,

tapi tak sunyi-sunyi amat:

Kopeng, Bandungan, Selo, Ambarawa.

Tak ada salahnya.

Tak ada benarnya.

Kota-desa ini memang tak menyajikan kemurnian.

Karena yang murni memang tidak ada.

Yang ada ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Ya ramai ya sunyi.

Ya sunyi ya ramai.

 

Salatiga, 2016

 

Budaya(m)

 

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku tak mau menghujat penggemar nasi ayam (broiler)

meski nasi ayam menjamur di mana-mana

mulai ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki,

dan ayam sambalasambalabalasambalado

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku jadi bertanya-tanya tentang popularitas nasi ayam (broiler)

apa benar mereka kekinian

karena McDonaldisasi membumi demikian rupa

tsk tsk tsk, ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki, dan ayam sambalasambalabalasambalado

ini bukan menyoal soal Timur dan Barat

bukan juga soal asing dan lokal

mahal dan murah

populer dan kebalikannya

sehat dan penyakitan

baik dan buruk

capek aja liat makanan berkomposisi ayam!

 

Salatiga, 2016

 

Makanria

 

Senja itu, di rumah makan Manado “Nyiur Melambai”, kukatakan padamu:

“Mudah sekali mencari makanan banyak suku di Salatiga.”

Kau mengangguk setuju,

sambil melahap sate babi di genggaman tangan kananmu.

Aku melanjutkan makan nasi dengan babi tinorangsak di piringku.

 

Benar saja,

sebentar di Manado, bila ingin, kita bisa saja langsung di Makassar.

Kita pernah makan coto di sana, es palu butung, gogos,

tapi tak pernah memesan sop konro, karena harganya selangit.

Makan coto denganmu,

aku jadi teringat kapan pertama kali aku makan coto.

Semula kupikir coto adalah soto.

Rupanya berbeda. Apalagi, rasanya.

Tapi sampai sekarang,

diam-diam aku terus mengira kalau coto adalah soto khas orang Makassar.

 

Bila ingin, usai makan babi tinorangsak,

kita bisa lengang bersama ke rumah makan Toraja.

Di sana kita pernah makan bersama.

Memesan babi panggang merah,

komplit dengan sayur daun ketela rebus.

Tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Car, bila kamu tak takut perutmu melebar,

bolehlah kita menjajal ke rumah makan Batak.

Letaknya hanya beberapa rumah dari rumah makan Toraja.

Aku sudah pernah ke sana.

Tapi kita belum.

Percayalah, di sana,

Bang Petrus siap sedia babi masak Sangsang.

Aku tak pernah tertarik dengan arti namanya,

selain melahap sepiring atau dua atau tiga.

Pun begitu dengan sayur asin dan babi panggangnya,

komplit dengan bumbu darah babi

yang lebih mirip seperti sambel kacang.

Aku tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Cukuplah dengan babi.

Kata orang yang tak memakannya, itu daging haram.

Tapi perut tak mengenal haram atau halal.

Perut hanya mengenal bisa atau tidak bisa dicerna.

Maka marilah makan ke tempat kesukaan kita: warung rica waung.

Warung ini sedia daging hitam, berlumur bumbu pedas.

Kadang ada lalapannya, ada sambel dabu-dabu,

dan juga merica bubuk atau kecap manis.

Di Pattimura dan Pasar Sapi,

kita pernah tanpa bicara,

sibuk melahap daging anjing hitam ini. Ingat?

 

Atau mau makanan yang sudah populer di seantero negeri?

Nasi Padang namanya.

Nasi Padang yang enak,

setahuku ada di manapun.

Asalkan gratis.

Yang enak tapi mbayar,

setahuku ada di Jensud, depan Hotel Grand Wahid.

Kamu biasanya makan rendang dan aku gule kambing.

Lalu biasanya kita berbagi lauk.

Bila sayurmu tak habis, aku yang menandaskannya.

 

Sayang, apa kamu benar-benar tak takut kolesterol dan diabetes?

Kalau tidak,

kita bisa singgah lagi ke warung nasi tumpang koyor di Banjaran.

Di situ langganan kita.

Katamu: “Tumpang koyor paling cocok ya di sini.”

Aku sependapat dan makin cinta padamu saat itu.

Berbeda dengan Sangsang di warungnya Bang Petrus,

aku justru tertarik dengan asal-usul tumpang koyor.

Makanan ini cuma ada di Salatiga.

Tumpang sendiri berasal dari kata “tumpang”.

Artinya “menumpahkan”,

“menumpuk”, atau “menjadikan satu”.

Apanya yang dijadikan satu?

Tempe busuk yang dihancurkan,

cabe-cabean, dan beberapa rempah-rempah

yang tak kumengerti wujudnya.

Sedangkan koyor adalah otot.

Tapi bukan otot daging.

Koyor adalah otot yang menempel di tulang.

Lunak, kenyal, mudah hancur bila dikunyah.

Selain di Banjaran,

kita juga pernah makan di warung Mbah Rakinem.

Tapi katamu: “Di Mbah Rakinem lebih sedikit dan mahal pula.”

Aku setuju. Dan makin cinta padamu saat itu.

 

Pernah kutanya padamu: “Ada rumah makan apa lagi di Salatiga?”

Kau menyebut satu yang kulupakan: Rumah makan orang Palu.

Aku baru ingat.

Kita pernah sekali makan di sana.

Lalu tak pernah makan lagi.

Entah, aku jadi lupa pernah makan apa di sana.

Barangkali kamu ingat?

 

Jika kuhitung-hitung, tapi sayangnya aku malas menghitung,

Mungkin sudah ratusan kali kita makan bersama.

Menerangkan malam karena puasa dengan satu tempat makan.

Atau meredupkan siang hanya karena debat soal tempat makan.

Saat ini aku kenyang menulis, tapi lapar di perut.

Lain kali kita harus menjajal gecok di Nanggulan,

sop konro di Kridanggo,

sop brenebon di Nyiur Melambai,

sate kambing Pak Dhar, rica menthok di Pujasera,

lotek Bu Atien di depan kampus UKSW,

nasi goreng empat ribuan di Gamol,

nasi kucing subuh di Pasar Sapi,

soto bening di Jensud,

nasi ruwet di perempatan Sukowati,

warung nasi babi Bali di depan Pizza Hut,

tahu campur Pak Min di Kalitaman,

RW Patemon di Ngawen

dan mengulang lagi tempat-tempat yang tertulis sejak awal.

Meninggalkan familiaritas pada sebuah makanan.

Menelusuri ratusan rasa yang selama ini luput dari lidah.

 

Salatiga, 2016

 

 

The SL3

 

2013 kudatang ke Salatiga.

Kusenang karena tak ada mol dan gedung tinggi seperti di Surabaya.

Sejuk dan tak terlalu sibuk.

2014 tersiar kabar pembangunan mol. The SL3 namanya.

Kubaru tahu kalau persoalan mol sudah mulai sejak 2010.

2010 investor dari  Yogyakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Dan tidak jadi.

2014 investor dari Jakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Tapi jalan lagi.

2015 kulihat beberapa kali kendaraan besar

lalu lalang masuk lahan pembangunan.

Terakhir kulihat benda cagar budaya

yang ada di sana sudah roboh.

2016 kuingat satu ungkapan klasik:

“Salatiga. Silahkan mengota, asal jangan men-Jakarta.”

Kubertanya-tanya sendiri,

apakah The SL3 akan mengubah wajah Salatiga mirip Jakarta?

Oh ya, dekat kosku juga akan dibangun pusat perbelanjaan lainnya:

Pattimura Centre.

 

Salatiga, 2016

 

Arya Adikristya: Lahir di Surabaya. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Aktif di LPM Scientiarum. Biasa menulis di blog sendiri: adikristya.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi-Puisi Arthur Rimbaud

mm

Published

on

Lagu Menara Tertinggi

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah

Karena lama tersia

Aku lupa semua

Ngeri dan derita

Nun luput ke langit

Dan dahaga kotor

Menggelap darahku.

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah

Bagai padang-padang yang

Binasa, ditinggal.

Menyebar dan berlipat

Kembang-kembang dan semak

Dalam marah dengung

Lalar yang kotor.

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah.

 

Pesta lapar

 

Laparku, Anne, Anne

Lari di atas keledaimu

 

Jika aku lapar, hanyalah

Lapar bumi dan lapar batu

Ding ! ding! Ding! Santapan kita angina

Batu dan arang, besi.

 

Hai lapar, balik kau. Lapar, makanlah

Rumput padang suara!

Hiruplah racun pesta gila

Dari daun semak;

 

Makanlah batu leburan tangan si miskin

Pintu gerbang gereja tua

Punting hari kiamat

Roti lembah kelabu!

 

Laparku, sobekan angin malam,

Udara bergema;

Itulah perutku, guruh itu,

O, Malam.

 

Tanam-tanaman di bumi lahir kembali;

Mencari buah magang

Kupetik dari lubang jejak

Sayur dan bunga viola.

 

Laparku, Anne, Anne,

Lari di atas keledaimu.

 

*) Jean Nicolas Arthur Rimbaud (IPA: [aʀ’tyʀ ʀɛ̃’bo]) (lahir 20 Oktober 1854 – meninggal 10 November 1891 pada umur 37 tahun) adalah seorang penyair Perancis, lahir di Charleville. Pengaruhnya besar pada sastra, musik, dan seni modern.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Revin Mangaloksa Hutabarat:

mm

Published

on

SEBELUM DUA PURNAMA

 

Tepat dua purnama yang lalu

Kita bertengkar, kawan.

 

Sebelum dua purnama yang lalu,

Kita adalah benang dan kail.

Erat.

 

Aku berkata ini,

Kau berpikir begitu.

Adakah jalan temu untuk kita?

 

Saat ini matamu meninjuku,

Representasi ketidaksetujuanmu.

 

Ketika persegi panjang di hadapan kita,

Air hitam panas di atasnya,

Kau memilih diam.

 

Diammu bukan bodoh.

Diammu bukan bisu.

Diammu adalah perasaaanmu.

Aku tahu itu.

 

Aku menyapamu,

Kau jawab sekenanya.

Tak ada obrolan panjang,

Hanya kecanggungan.

 

Haruskah kita seperti ini?

Padahal dulu kau bilang;

Manusia saling membutuhkan.

Manusia saling mengasihi.

 

Perbedaan bukan lawan, kawan.

Sama dengan wajah manusia,

Perbedan itu nyata.

Dan kalau sudah begitu,

Sebaiknya bertoleransi.

 

Kuharap kau mengerti.

Kuharap kau memahami.

Agar kita jadi sebelum dua purnama lagi.

 

ANDRI

Andri sering memperkosa gitar.

Gitar dibuatnya menangis.

Gitar dibuatnya tertawa.

 

Andri adalah orang kecil,

Suka mencari makan di jalan.

Bersahabat gitar,

Ia isi perutnya.

Warung-warung dijajaki.

Angkutan umum dijamahi.

Berharap segala tempat,

Adalah peluang rezeki.

 

Andri tak punya mimpi.

Ia hanya ingin,

Melanjutkan hari esok,

Tanpa hinaan.

Dan bisa makan.

Bisa minum.

Bisa dicintai orang.

Sederhana bukan!

 

Matahari pulang.

Di depan toko yang tutup,

Ia ratapi nasib.

Matanya kosong.

Semangatnya hampir patah.

“Beginikah selamanya aku hidup?” pikirnya.

 

Lagi-lagi Andri perkosa gitar,

Gitarnya menangis.

 

FRUSTASI

 

Dia hanya berbaring,

Di ruang kotak kecil.

Bingung.

Tak dapat jawaban.

Hampir gantung diri,

Tak jadi.

 

Dia resah,

Anaknya tak menyuap nasi.

Bingung.

Istrinya lelehkan air terjun,

Setiap malam.

 

Mondar-mandir di jalan,

Tak dapat panggilan.

Diselaputi si panas.

Diselaputi si dingin.

Frustasi.

 

Laranya menjadi-jadi.

Wahai sang penguasa,

Dimana janjimu?

 

SAJAK KEBEBASAN

 

Kebebasan adalah hak.

Hak bersuara.

Hak kesetaraan.

Hak memilih.

 

Kebebasan bukan diperintah,

Apalagi dipenjara.

 

Kebebasan berarti tak terbelenggu.

Terlepas dari pengisapan.

Melakukan yang kita sukai.

Dipandang sebagai manusia.

 

Kebebasan bukan diatur-atur.

Kebebasan itu dicari sendiri,

Atas kehendak kita.

Tanpa membunuh orang lain.

 

Kebebasan itu harus nyata,

Bukan mimpi.

Bukan membohongi.

Bukan dipermainkan.

 

Kebebasan harus melekat di bumi.

Di sudut wilayah.

Di pinggir sungai.

Di kolong jembatan.

Di mana pun!

PARA PEKERJA

Sebelum mega hadir,

Bersiap mandi.

Pikiran masih bermimpi.

Dipaksa kena air.

 

Aduh, setiap hari begini!

 

Tapi kalau tak begini,

Perut diisi angin.

 

Rombongan pekerja berdesakan,

Saat mega mengintip.

Semua berangkat ke neraka.

Untuk tenaganya dihabisi.

Dikuras.

Dimanfaatkan.

 

Di jurang bulan,

Dapat hasil.

Baru setengah perjalanan,

Kok sudah habis?

 

Memang begini atau kami dibodohi?

 

Kami berharap dapat hidup layak,

Tapi malah jiwa terkoyak.

Kami berharap dapat menata hidup,

Tapi lubang rezeki selalu tertutup.

 

Kami ini robot atau manusia?

______________________________

*) Revin Mangaloksa Hutabarat: Pecinta musik yang akhirnya berkuliah jurusan Sosiologi.

Continue Reading

Classic Prose

Trending