Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Arya Adikristya

mm

Published

on

Salatiga

 

Ini kota tapi desa.

Desa tapi kota.

Kota kedesa-desaan.

Desa kekota-kotaan.

Kota rasa desa.

Desa rasa kota.

Jadi, di sini,

tidak ada yang namanya orang kota.

Tidak juga orang desa.

Ya orang kota-desa.

Ya orang desa-kota.

Ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Hingar bingar siang kota ya ada.

Sunyi lewat jam 10 bengi ya ada.

Tak sepadat Jakarta atau Surabaya.

Tak sesunyi Dukuh Paruk.

Ia ada di tengah-tengah kota tetangga:

Semarang, Solo, Magelang, dan Yogyakarta.

Itulah sebabnya orang-orang kota-desa ini,

hampir setiap pekan pergi keluar kota.

Mereka cari pusat perbelanjaan

dan tempat hiburan murni rasa kota, tanpa desa.

Tapi yang cinta rasa desa,

Mereka ‘kan pergi ke tempat yang lebih sunyi,

tapi tak sunyi-sunyi amat:

Kopeng, Bandungan, Selo, Ambarawa.

Tak ada salahnya.

Tak ada benarnya.

Kota-desa ini memang tak menyajikan kemurnian.

Karena yang murni memang tidak ada.

Yang ada ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Ya ramai ya sunyi.

Ya sunyi ya ramai.

 

Salatiga, 2016

 

Budaya(m)

 

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku tak mau menghujat penggemar nasi ayam (broiler)

meski nasi ayam menjamur di mana-mana

mulai ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki,

dan ayam sambalasambalabalasambalado

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku jadi bertanya-tanya tentang popularitas nasi ayam (broiler)

apa benar mereka kekinian

karena McDonaldisasi membumi demikian rupa

tsk tsk tsk, ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki, dan ayam sambalasambalabalasambalado

ini bukan menyoal soal Timur dan Barat

bukan juga soal asing dan lokal

mahal dan murah

populer dan kebalikannya

sehat dan penyakitan

baik dan buruk

capek aja liat makanan berkomposisi ayam!

 

Salatiga, 2016

 

Makanria

 

Senja itu, di rumah makan Manado “Nyiur Melambai”, kukatakan padamu:

“Mudah sekali mencari makanan banyak suku di Salatiga.”

Kau mengangguk setuju,

sambil melahap sate babi di genggaman tangan kananmu.

Aku melanjutkan makan nasi dengan babi tinorangsak di piringku.

 

Benar saja,

sebentar di Manado, bila ingin, kita bisa saja langsung di Makassar.

Kita pernah makan coto di sana, es palu butung, gogos,

tapi tak pernah memesan sop konro, karena harganya selangit.

Makan coto denganmu,

aku jadi teringat kapan pertama kali aku makan coto.

Semula kupikir coto adalah soto.

Rupanya berbeda. Apalagi, rasanya.

Tapi sampai sekarang,

diam-diam aku terus mengira kalau coto adalah soto khas orang Makassar.

 

Bila ingin, usai makan babi tinorangsak,

kita bisa lengang bersama ke rumah makan Toraja.

Di sana kita pernah makan bersama.

Memesan babi panggang merah,

komplit dengan sayur daun ketela rebus.

Tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Car, bila kamu tak takut perutmu melebar,

bolehlah kita menjajal ke rumah makan Batak.

Letaknya hanya beberapa rumah dari rumah makan Toraja.

Aku sudah pernah ke sana.

Tapi kita belum.

Percayalah, di sana,

Bang Petrus siap sedia babi masak Sangsang.

Aku tak pernah tertarik dengan arti namanya,

selain melahap sepiring atau dua atau tiga.

Pun begitu dengan sayur asin dan babi panggangnya,

komplit dengan bumbu darah babi

yang lebih mirip seperti sambel kacang.

Aku tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Cukuplah dengan babi.

Kata orang yang tak memakannya, itu daging haram.

Tapi perut tak mengenal haram atau halal.

Perut hanya mengenal bisa atau tidak bisa dicerna.

Maka marilah makan ke tempat kesukaan kita: warung rica waung.

Warung ini sedia daging hitam, berlumur bumbu pedas.

Kadang ada lalapannya, ada sambel dabu-dabu,

dan juga merica bubuk atau kecap manis.

Di Pattimura dan Pasar Sapi,

kita pernah tanpa bicara,

sibuk melahap daging anjing hitam ini. Ingat?

 

Atau mau makanan yang sudah populer di seantero negeri?

Nasi Padang namanya.

Nasi Padang yang enak,

setahuku ada di manapun.

Asalkan gratis.

Yang enak tapi mbayar,

setahuku ada di Jensud, depan Hotel Grand Wahid.

Kamu biasanya makan rendang dan aku gule kambing.

Lalu biasanya kita berbagi lauk.

Bila sayurmu tak habis, aku yang menandaskannya.

 

Sayang, apa kamu benar-benar tak takut kolesterol dan diabetes?

Kalau tidak,

kita bisa singgah lagi ke warung nasi tumpang koyor di Banjaran.

Di situ langganan kita.

Katamu: “Tumpang koyor paling cocok ya di sini.”

Aku sependapat dan makin cinta padamu saat itu.

Berbeda dengan Sangsang di warungnya Bang Petrus,

aku justru tertarik dengan asal-usul tumpang koyor.

Makanan ini cuma ada di Salatiga.

Tumpang sendiri berasal dari kata “tumpang”.

Artinya “menumpahkan”,

“menumpuk”, atau “menjadikan satu”.

Apanya yang dijadikan satu?

Tempe busuk yang dihancurkan,

cabe-cabean, dan beberapa rempah-rempah

yang tak kumengerti wujudnya.

Sedangkan koyor adalah otot.

Tapi bukan otot daging.

Koyor adalah otot yang menempel di tulang.

Lunak, kenyal, mudah hancur bila dikunyah.

Selain di Banjaran,

kita juga pernah makan di warung Mbah Rakinem.

Tapi katamu: “Di Mbah Rakinem lebih sedikit dan mahal pula.”

Aku setuju. Dan makin cinta padamu saat itu.

 

Pernah kutanya padamu: “Ada rumah makan apa lagi di Salatiga?”

Kau menyebut satu yang kulupakan: Rumah makan orang Palu.

Aku baru ingat.

Kita pernah sekali makan di sana.

Lalu tak pernah makan lagi.

Entah, aku jadi lupa pernah makan apa di sana.

Barangkali kamu ingat?

 

Jika kuhitung-hitung, tapi sayangnya aku malas menghitung,

Mungkin sudah ratusan kali kita makan bersama.

Menerangkan malam karena puasa dengan satu tempat makan.

Atau meredupkan siang hanya karena debat soal tempat makan.

Saat ini aku kenyang menulis, tapi lapar di perut.

Lain kali kita harus menjajal gecok di Nanggulan,

sop konro di Kridanggo,

sop brenebon di Nyiur Melambai,

sate kambing Pak Dhar, rica menthok di Pujasera,

lotek Bu Atien di depan kampus UKSW,

nasi goreng empat ribuan di Gamol,

nasi kucing subuh di Pasar Sapi,

soto bening di Jensud,

nasi ruwet di perempatan Sukowati,

warung nasi babi Bali di depan Pizza Hut,

tahu campur Pak Min di Kalitaman,

RW Patemon di Ngawen

dan mengulang lagi tempat-tempat yang tertulis sejak awal.

Meninggalkan familiaritas pada sebuah makanan.

Menelusuri ratusan rasa yang selama ini luput dari lidah.

 

Salatiga, 2016

 

 

The SL3

 

2013 kudatang ke Salatiga.

Kusenang karena tak ada mol dan gedung tinggi seperti di Surabaya.

Sejuk dan tak terlalu sibuk.

2014 tersiar kabar pembangunan mol. The SL3 namanya.

Kubaru tahu kalau persoalan mol sudah mulai sejak 2010.

2010 investor dari  Yogyakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Dan tidak jadi.

2014 investor dari Jakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Tapi jalan lagi.

2015 kulihat beberapa kali kendaraan besar

lalu lalang masuk lahan pembangunan.

Terakhir kulihat benda cagar budaya

yang ada di sana sudah roboh.

2016 kuingat satu ungkapan klasik:

“Salatiga. Silahkan mengota, asal jangan men-Jakarta.”

Kubertanya-tanya sendiri,

apakah The SL3 akan mengubah wajah Salatiga mirip Jakarta?

Oh ya, dekat kosku juga akan dibangun pusat perbelanjaan lainnya:

Pattimura Centre.

 

Salatiga, 2016

 

Arya Adikristya: Lahir di Surabaya. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Aktif di LPM Scientiarum. Biasa menulis di blog sendiri: adikristya.com

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Cerpen

Tentang Kematian

mm

Published

on

By Mena Oktariyana

KEMATIAN. Manusia mana yang bersedia membicarakan kematian, seperti mereka membicarakan makanan enak? Kematian meninggalkan kita dalam keputusaasaan. Menelantarkan kita dalam kekosongan. Mereka yang pergi, bagai meninggalkan kita dalam kesedihan dan penderitaan untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Tentu saja, ada banyak kisah menyedihkan tentang mereka yang ditinggalkan oleh kematian. Dan mungkin orang selalu berpikir, bahwa mereka yang ditinggalkan kematian adalah orang-orang yang paling menderita. Namun, bagaimana jika mereka yang meninggalkan kehidupan juga sama menderitanya dengan kita yang ditinggalkan? Dan kau tidak akan mengerti maksud ucapanku, sampai kau mendengar kisahku. 

Semua berawal di bulan Desember tahun lalu. Aku resmi menjadi relawan kematian. Sebuah pekerjaan anti-mainstream yang membuatku bergelut dengan kematian. Hari itu, di sore hari yang mendung, aku mendapatkan klien pertamaku. Dia adalah arwah seorang gadis berusia 18 tahun bernama Adelia. Dia datang mengenakan piyama abu-abu lusuh dan rambut berantakan yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Pucat, dengan lingkar mata hitam dan sayu. Kulihat bekas luka yang sudah membiru di lehernya. Kuraih tangannya, dan kulihat, dia mati gantung diri. Dia berdiri tepat di hadapanku, seorang gadis yang putus asa, sedih, dan seakan beban dunia berada tepat di pundaknya. 

Aku merasa canggung, tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku berpikir, haruskah aku tanyakan bagaimana kabarnya, apa dia lapar, atau haruskah aku seperti dokter dan menanyakan apa keluhannya. 

“Apa kau punya sisir?” tanyanya padaku. 

Aku, yang sudah siap untuk membuka percakapan, seketika terdiam kembali, “Si…sisir?” tanyaku.

Aku terkejut mendengarnya dan merasa sangat norak di hari pertamaku. Aku membuka laci meja dan mencari apakah ada sisir di sana. Aku tidak menemukan sisir. Kemudian aku teringat kalau aku selalu membawa ikat rambut di kantong celanaku. Aku pun memberikan ikat rambutku.

Setelah dia mengikat rambutnya, aku memintanya bercerita tentang kematiannya dan apa yang harus aku lakukan untuk menolong jiwanya.

Dia bercerita, dulu dia mengidap leukimia stadium akhir. Dia menjalani banyak kemoterapi dan pengobatan dengan biaya yang tidak sedikit. Biaya pengobatan yang sangat mahal itu menguras habis harta orang tuanya. Rumah, tanah, tabungan, perhiasan habis demi menyembuhkannya. Hutangpun mencekik kehidupan mereka. Akhirnya, semua berujung pada perceraian kedua orang tuanya. Ayahnya memilih pergi meninggalkannya yang sekarat, istri yang frustasi dan hutang yang menumpuk.

“Aku selalu berdoa untuk mati. Tapi aku juga selalu berusaha bertahan untuk Ibuku. Aku sadar, penyakitku cuma membawa penderitaan untuk mereka. Hidup kami jadi kacau.” dia berusaha keras untuk melanjutkan, seperti ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya. Dia melanjutkan, “Dan aku mengakhiri semuanya.” 

Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi terlintas di benakku untuk mengatakan Kenapa kau tidak mencoba untuk bertahan sedikit lagi. Tapi aku sadar, itu adalah perkataan seorang idiot.

“Aku akhiri hidupku sendiri.” ucapnya, gemetar, “Yang kuingat, aku terbangun di suatu tempat. Di sana aku hanya melihat kabut tebal dimana-mana. Tak ada seorang pun, aku sendirian. Aku merasakan sakit luar biasa di leherku. Aku kesakitan bahkan untuk untuk menelan ludahku sendiri. Aku hanya merasakan lelah, lelah, dan lelah. Rasanya seperti aku sudah menghabiskan bertahun-tahun di sana. Aku terus merasa, bahkan setelah mati pun aku masih harus menderita.”

“Setiap hari, aku teringat ibuku. Dan ketika aku memejamkan mata sambil mengingat wajahnya, aku serasa terlempar jauh. Dan saat aku membuka mata, aku berada di rumah. Di sana, aku melihat ibuku sedang duduk di meja makan sendirian dan hanya menatap kosong pada makanannya. Aku coba memanggilnya, menyentuhnya, tapi aku tidak bisa. Semua itu terjadi terus menerus.”

“Setiap pagi, aku melihat ibu berkunjung ke makamku. Menaruh bunga dan membersihkan nisanku. Kemudian dia hanya menangis sampai tengah hari. Aku hanya berharap bisa menghapus air matanya.”

“Setiap hari aku terus menemaninya. Rasa sepiku pun berkurang. Aku seperti merasa sedih dan bahagia disaat yang bersamaan. Sampai suatu malam…” suaranya terhenti, karena dia tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi selanjutnya, maka kuraih dan kugenggam tangannya.

Bayangan itu datang ke kepalaku, aku seperti ditarik mundur ke putaran waktu yang begitu jauh. Di sana, di rumah itu, aku melihat seorang perempuan paruh baya sedang mengunci semua pintu dan jendela rumahnya. Dia mengambil tali dan masuk ke dalam kamar. Dia duduk sambil terus memandangi foto anaknya, Adelia. Dia mulai menangis, tetes demi tetes air mata itu jatuh membasahi tangannya. Seketika itu juga ia bangkit dan meletakkan sebuah bangku di atas tempat tidur. Dengan tubuh yang gemetar, dia mencoba naik ke atas kursi tersebut. Kemudian dia mulai memasangkan tali yang sedari tadi ia genggam kepada sebuah lampu gantung di langit-langit kamar itu. Aku tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tubuhku sudah siap bergerak dan melangkah untuk menghentikannya dan, semuanya menghilang begitu saja. Aku pun kembali, dan kulepas genggaman itu.

“Apa ibuku masih hidup?” tanya Adelia, cemas.

“Maaf, aku belum bisa memberitahumu. Lalu, apa yang sebenarnya kau lihat malam itu?” tanyaku.

“Ibu…ibu masuk ke kamarku dan membawa tali di tangannya. Tali yang sama persis dengan yang dulu aku pakai. Tapi aku tidak bisa masuk ke kamar itu, aku tidak tahu apa yang dia lakukan dengan tali itu. Semenjak malam itu, aku tidak bisa melihatnya lagi. Kumohon, katakan kalau ibuku masih hidup, katakan dia tidak melakukan apa yang aku lakukan.” tangisnya pecah kembali.

“Jangan khawatir, kita kunjungi Ibumu besok pagi.” aku mencoba menenangkannya. 

“Apa aku benar-benar bisa bertemu dengannya? Apa dia bisa melihatku, seperti kau melihatku?” tanya Adelia ragu. 

Aku hanya tersenyum. Kuantar dia untuk beristirahat di sebuah ruangan bersama arwah-arwah yang bernasib sama dengannya.

Keesokan harinya, kubawa dia pulang ke rumahnya. Rumah yang nampak tidak terurus. Rerumputan tumbuh subur di halaman, meninggi dan hampir menutupi rumah tersebut. Kukatakan padanya untuk menunggu di luar, dan membiarkan aku masuk ke dalam. Aku mengelilingi rumah itu, membuka pintu demi pintu, memeriksa, apakah masih ada kehidupan di sana. Foto-foto keluarga masih terpajang rapi di setiap dinding dan lemari kaca rumah tersebut. Hanya saja, semua wajah si ayah seperti dicoret dengan sengaja. Ketika aku memegangnya, aku hanya merasakan kebencian dan kemarahan melalui coretan-coretan itu.

“Siapa kamu?” kudengar suara perempuan di belakangku. Aku berbalik dan memberikan salamku padanya. Ya, dia adalah ibu Adelia, persis berdiri di hadapanku, pucat pasi.

Belum sempat aku menggenggam tangannya, Adelia datang berlari ke arah kami sambil berteriak, “Ibu!!” dia memeluk tubuh ibunya erat-erat. Kerinduan yang sudah tak tertahankan.

“Aku senang ibu masih hidup, maafkan Adel bu, maaf bu, maaf.”

Adelia terdiam sejenak, kemudian melepas pelukannya. Dia menatap lekat-lekat wajah ibunya, meraba-raba tubuhnya. Yang dia rasakan hanya dingin, dingin seperti tubuhnya selama ini. Tangisnya semakin keras ketika dia melihat bekas jeratan tali di leher ibunya yang sama dengan miliknya. Dia menatapku, seolah ingin memastikan. Apakah ibunya masih hidup?

Dari mataku, aku yakin dia mengerti jawabannya. Dia kembali memeluk ibunya, menghela napas dan mencoba menerima. Kulihat mereka memudar perlahan, bersama tangis, senyum, dan peluk yang mereka bawa.

Aku pergi. Tugasku selesai.

Di bulan Januari. Aku kedatangan arwah yang lain. Laki-laki paruh baya dengan kemeja putih berlumuran darah dan tanah. Luka demi luka ada di sekujur tubuhnya. Aku raih tangannya, dan kulihat sebuah kecelakaan kereta yang begitu mengerikan. Aku lepas, tak sanggup melihatnya.

“Apa yang bisa kubantu, Pak?”

“Aku ingin bertemu isteri dan anakku,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah foto dari saku kemejanya.

Kulihat foto itu baik-baik, mereka, Adelia dan Ibunya.

(*)

Continue Reading

Cerpen

Truman Capote: Miriam

mm

Published

on

Miriam by Truman Capote | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Selama beberapa tahun, Bu H. T. Miller tinggal sendirian di sebuah apartemen yang nyaman (dua kamar dengan dapur kecil) di sebuah gedung berbahan batu bata yang sudah direnovasi di dekat East River. Ia adalah seorang janda: Pak H. T. Miller meninggalkan sejumlah asuransi yang layak. Hanya sedikit hal yang menarik minatnya, ia tidak memiliki teman untuk diajak bicara dan jarang berjalan-jalan lebih jauh daripada ke toko kelontong. Para penghuni lain di gedung itu sepertinya tidak pernah memperhatikannya: pakaiannya bernuansa kelabu, rambutnya abu-abu, dijepit dan bergelombang; ia tidak menggunakan kosmetik, wajahnya polos dan tidak mencolok, dan pada hari ulang tahunnya yang terakhir, ia berusia enam puluh satu tahun. Aktivitasnya jarang spontan: ia menjaga kedua kamar itu tak bernoda, merokok sesekali, menyiapkan makanannya sendiri dan merawat burung kenari.

Lalu ia bertemu Miriam. Malam itu turun salju. Bu Miller telah selesai mengeringkan piring-piring usai makan malam dan membolak-balik koran sore saat ia melihat sebuah iklan berisi poster film yang diputar di bioskop setempat. Judulnya terdengar seru, jadi ia berjuang memakai mantel berbulunya, mengikat tali sepatu karetnya, dan meninggalkan apartemen, membiarkan satu cahaya menyala di selasar: tidak ada yang lebih mengganggu daripada sensasi kegelapan.

Salju turun dengan lembut, belum menghiasi trotoar. Angin yang berhembus dari sungai terbelah di persimpangan jalan. Bu Miller bergegas, kepalanya menunduk, tak sadar seperti tikus yang menyusuri jalan dalam kegelapan. Ia berhenti di apotek dan membeli sebungkus pepermin.

Antrean panjang membentang di depan box office; ia mengantre paling belakang. Harus menunggu sebentar (suara kelelahan mengerang) untuk semua kursi. Bu Miller mengaduk-aduk tas kulitnya sampai ia bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk tiket masuk. Antrean itu tampak mamakan waktu, dan, ketika sedang melihat sekeliling untuk distraksi, ia tiba-tiba sadar ada seorang gadis kecil berdiri di bawah tenda.

Bu Miller tidak pernah melihat rambut sepanjang dan seaneh itu: benar-benar putih perak, seperti rambut albino. Rambut itu menjulur sepanjang pinggang dengan garis-garis halus dan lentur. Dia kurus dan terlihat rapuh. Ada keanggunan yang sederhana dan spesial dalam cara dia berdiri dengan jempolnya di saku mantel beludru prem yang dibuat penjahit.

Bu Miller merasa sangat senang, dan saat gadis kecil itu melirik ke arahnya, ia tersenyum hangat. Gadis kecil itu berjalan mendekat dan berkata, “Maukah Anda membantuku?”

“Aku akan senang melakukannya,” kata Bu Miller.

“Oh, cukup mudah kok. Aku cuma ingin Anda membelikanku tiket; kalau tidak, mereka tidak akan membiarkanku masuk. Ini, aku ada uangnya.” Dan dia menyerahkan dua koin 10 sen dan 1 koin 5 sen.

Mereka pergi ke bioskop bersama-sama. Petugas mengarahkan mereka ke sebuahruang duduk; dalam dua puluh menit filmnya akan berakhir.

“Aku merasa seperti penjahat sejati,” kata Bu Miller riang, saat ia duduk. “Maksudku, hal semacam itu melanggar hukum, bukan? Aku berharap aku tidak melakukan hal yang salah. Ibumu tahu kamu di mana, sayang? Maksudku, dia tahu, kan?”

Gadis kecil itu diam saja. Dia membuka kancing mantelnya dan melipatnya di pangkuannya. Gaunnya rapih, berwarna biru tua. Rantai emas menggantung di lehernya, dan jari-jarinya, terlihat sensitif dan seperti jari pemusik, memainkan rantai itu. Memeriksanya saksama, Bu Miller memutuskan bahwa ciri khasnya sebenarnya bukan rambutnya, tapi matanya; mata coklat kekuningan, mantap, tidak seperti mata anak kecil dan, karena ukurannya, seperti mengonsumsi wajah kecilnya.

Bu Miller manawari pepermin. “Siapa namamu, sayang?”

“Miriam,” katanya, seakan, dengan anehnya, nama itu informasi yang sudah familiar.

“Mengapa, lucu sekali- namaku juga Miriam. Dan nama itu bukan nama yang pasaran. Jangan bilang nama belakangmu pun Miller!”

“Cuma Miriam.”

“Tapi, tidakkah itu lucu?”

“Biasa saja,” balas Miriam, dan memainkan pepermin di lidahnya.

Bu Miller merona dan bergerak tak nyaman. “Kosakatamu luas sekali untuk anak perempuan seusiamu.”

“Iya kah?”

“Hm, ya,” kata Bu Miller, dengan tergesa-gesa mengubah topik: “Kamu suka filmnya?”

“Aku tak tahu,” jawab Miriam. “Aku belum pernah menontonnya.”

Para perempuan mulai memenuhi ruangan; gemuruh cuplikan berita meledak di kejauhan. Bu Miller berdiri, menyempilkan dompetnya ke bawah lengan. “Kurasa aku sebaiknya lari sekarang kalau ingin dapat tempat duduk,” katanya. “Senang bertemu denganmu.”

Miriam mengangguk sedikit.

Selama seminggu salju turun.  Roda dan langkah kaki bergerak tanpa suara di jalan, seolah urusan hidup berlangsung diam-diam di balik tirai yang pucat namun tak tertembus. Di tempat yang sunyi sepi tidak ada langit atau bumi, hanya salju yang terangkat angin, membekukan kaca jendela, mendinginkan ruangan, mematikan dan mendiamkan kota. Penting untuk membiarkan lampu menyala di sepanjang jam, dan Bu Miller kehilangan jejak hari-hari: Jumat tidak ada bedanya dengan hari Sabtu, dan di hari Minggu, dia pergi belanja, tentu saja tutup.

Malam itu ia memasak telur dadar dan menyiapkan semangkuk sup tomat. Lalu, setelah mengenakan jubah flanel dan mengoleskan krim dingin di wajahnya, ia menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur dengan sebotol air panas di bawah kaki. Ia sedang membaca Times saat bel pintu berdering. Mula-mula ia mengira itu pasti sebuah kesalahan dan siapa pun itu akan pergi nantinya. Tapi, bel terus berdering dan berdering dan semakin menuntut. Ia melihat jam: pukul sebelas lewat sedikit; sepertinya tidak mungkin, ia selalu sudah tertidur pukul sepuluh.

Beranjak dari kasur, ia berderap tanpa alas kaki melintasi ruang tamu. “Aku ke sana, mohon bersabar.” Grendel pintu itu tersangkut; ia mengutak-atiknya begini dan begitu dan bel tidak berhenti barang sebentar saja. “Berhenti,” teriaknya. Bautnya membuka jalan dan ia membuka pintu selebar satu inci. “Siapa gerangan di sana?”

“Halo,” sapa Miriam.

“Oh … kenapa, halo,” jawab Bu Miller, ragu-ragu melangkah ke aula. “Kamu gadis kecil kemarin.”

“Kukira Anda tidak akan menjawab, tapi aku terus memencet bel; aku tahu Anda di rumah. Bukankah Anda senang melihatku?”

Bu Miller kehilangan kata-kata. Miriam, ia lihat, mengenakan mantel beludru prem yang sama dan sekarang dia memakai topi baret melengkapi mantelnya; rambut putihnya dikepang dua lapis dan dililitkan di ujungnya dengan pita putih yang sangat besar.

“Karena aku sudah lama menunggu, Anda setidaknya bisa membiarkanku masuk,” katanya.

“Tapi ini sudah malam sekali …”

Miriam menatapnya kosong. “Apa bedanya? Biarkan aku masuk. Di sini dingin dan aku memakai gaun sutra.” Kemudian, dengan gerakan lembut, dia mendesak Bu Miller ke samping dan masuk ke apartemen.

Dia menjatuhkan mantel dan baretnya di kursi. Dia memang mengenakan gaun sutra. Sutra putih di bulan Februari. Rok itu memiliki lipit yang indah dan panjang; membuat gemersik samar saat dia melangkah memasuki ruangan. “Aku suka tempat Anda,” katanya. “Aku suka permadaninya, warna biru favoritku.” Dia menyentuh sebuah mawar kertas di vas bunga di atas meja kopi. “Imitasi,” komentarnya lemah. “Betapa menyedihkan. Bukankah imitasi itu menyedihkan?” Dia duduk di sofa, dengan lembut melebarkan roknya.

“Apa maumu?” tanya Bu Miller.

“Duduk,” kata Miriam. “Melihat orang berdiri membuatku gugup.”

Bu Miller tenggelam di sebuah kursi kecil. “Apa yang kamu inginkan?” ia mengulangi.

“Kurasa Anda tidak senang aku datang.”

Untuk kedua kalinya Bu Miller tidak menjawab; tangannya bergerak samar. Miriam terkikik dan kembali menekanan dirinya ke tumpukan bantal katun berbunga. Bu Miller memperhatikan bahwa gadis itu tidak sepucat yang ia ingat; pipinya memerah.

“Bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”

Miriam mengernyit. “Itu bukan pertanyaan. Siapa namamu? Siapa namaku?”

“Tapi aku tidak terdaftar di buku telepon.”

“Oh, ayo kita bicarakan hal lain.”

Bu Miller berkata, “Ibumu pasti sudah gila karena membiarkan anak sepertimu berkeliaran di malam hari – dan dengan pakaian yang tidak masuk akal. Pasti dia sudah gila.”

Miriam berdiri dan pindah ke ujung ruangan di mana ada sangkar burung yang tertutup kain tergantung dari rantai langit-langit. Dia mengintip ke balik kain. “Burung kenari,” katanya. “Anda keberatan kalau kubangunkan dia? Aku ingin dengar dia bernyanyi.”

“Tinggalkan Tommy sendiri,” jawab Bu Miller, cemas. “Awas kalau kau bangunkan dia.”

“Tentu saja,” kata Miriam. “Tapi aku tak mengerti kenapa aku tidak boleh mendengarnya bernyanyi.” Dan juga, “Anda punya sesuatu yang bisa kumakan? Aku kelaparan! Bahkan susu dan roti lapis selai juga tak apa.”

“Dengar,” kata Bu Miller, bangkit dari bantal, “Dengar – kalau kubuatkan kau roti lapis, maukah kau jadi anak baik dan lari ke rumah? Sudah lewat tengah malam, aku yakin.”

“Di luar bersalju,” bujuk Miriam. “Juga dingin dan gelap.”

“Yah, dari awal kau harusnya tidak ke sini,” balas Bu Miller, berjuang mengontrol suaranya. “Aku kan tidak bisa mengatur cuaca. Kalau mau makanan, kau harus berjanji akan pulang.”

Miriam menyapukan kepangan ke pipinya. Matanya berpikir, seolah menimbang proposisi itu. Dia berbalik ke arah sangkar burung. “Baiklah,” dia berkata. “Aku janji.”

Berapa usianya? Sepuluh? Sebelas? Bu Miller, di dapur, membuka sekaleng stroberi fermentasi dan mengiris empat potongan roti. Dia menuangkan segelas susu dan berhenti sejenak untuk menyalakan rokok. Dan kenapa dia datang? Tangannya terkejut saat memegang korek, tercengang, hingga membakar jarinya. Burung kenari bernyanyi; bernyanyi seperti saat pagi hari dan tidak di waktu lainnya. “Miriam,” panggilnya, “Miriam, sudah kubilang jangan ganggu Tommy.” Tidak ada jawaban. Ia memanggil lagi; yang terdengar hanya suara kenari. Ia menghisap rokok dan menyadari ia membakar ujung gabus penutup anggur dan – oh, sungguh, harusnya ia tidak kehilangan emosi.

Ia menaruh makanan di nampan dan mengaturnya di meja kopi. Yang pertama dilihatnya ialah sangkar burung masih mengenakan kain penutupnya. Dan Tommy sedang bernyayi. Hal itu memberikan sensasi aneh. Dan tidak ada seorang pun di ruangan. Bu Miller melewati sebuah ceruk yang menuju ke kamarnya; di pintu, ia menahan napas.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Miriam.

Miriam melirik ke atas dan matanya memancarkan pandangan yang tidak biasa. Dia sedang berdiri di samping meja tulis, sebuah kotak perhiasan terbuka di depannya. Sejenak dia mengamati Bu Miller, memaksa mata mereka bertemu, dan dia tersenyum. “Tidak ada yang bagus di sini,” katanya. “Tapi aku suka ini,” tangannya memegang bros ukiran. “Menarik sekali.”

“Seandainya-mungkin kau sebaiknya mengembalikannya,” kata Bu Miller, tiba-tiba merasa perlu mendapat dukungan. Ia bersandar pada kusen pintu; kepalanya terasa berat tak tertahankan; sebuah tekanan memberatkan irama detak jantungnya. Cahaya lampu seakan bergetar seperti lampu rusak. “Kumohon, Nak … hadiah dari suamiku.”

“Tapi itu cantik dan aku mau itu,” kata Miriam. “Berikan padaku.”

Selagi ia berdiri, berjuang keras untuk membentuk kalimat yang akan menyelamatkan bros itu, Bu Miller tersadar tidak ada seorang pun yang bisa ia andalkan; ia sendirian; suatu kenyataan yang sudah lama tidak ada di pikirannya. Penegasan itu sungguh menakjubkan. Tapi di sini, di kamarnya sendiri, di kota penuh pertunjukan yang sunyi itu, adalah bukti yang tidak bisa ia abaikan, atau, ia tahu dengan kejelasan yang mencengangkan, tolak.

Miriam makan dengan rakus, dan saat roti lapis dan susunya hilang, jari-jarinya menyisir di atas piring, mengumpulkan remah-remah. Bros itu berkilau pada blusnya, sosok pirang itu seperti bayangan belaka pada pemakainya. “Enak sekali,” dia menghela napas, “Meskipun kue almon atau ceri pasti terasa enak juga. Makanan manis itu menyenangkan, bukan?”

Bu Miller bertengger di atas meja makan, mengisap sebatang rokok. Ikat rambutnya terlepas sebelah dan helai-helai longgar melintang di wajahnya. Tatapannya kosong dan pipinya berbintik-bintik merah, seolah tamparan sengit telah meninggalkan bekas permanen.

“Ada permen – kue?”

Bu Miller menepuk debu di karpet. Kepalanya terayun sedikit saat ia mencoba memusatkan perhatian ke matanya. “Kau berjanji akan pulang kalau kubuatkan roti lapis,” katanya.

“Ya ampun aku ini, masa sih?”

“Kau berjanji dan aku capek dan aku merasa kurang sehat.”

“Jangan jengkel,” kata Miriam. “Aku kan cuma bercanda.”

Dia mengambil jaketnya, menggantungkannya di tangan, dan mengatur topi baretnya di depan kaca. Sekarang dia menunduk mendekat ke Bu Miller dan berbisik, “Berikan aku ciuman perpisahan.”

“Oh – aku tidak mau,” kata Bu Miller.

Miriam mengangkat bahu, melengkungkan alis. “Terserah dirimu,” katanya, dan langsung pergi ke meja kopi, mengambil vas berisi kertas mawar, membawanya ke tempat yang permukaan lantainya keras dan telanjang, dan melemparkannya ke bawah. Kaca tersebar ke segala arah dan dia menancapkan kakinya di atas buket bunga.

Lalu perlahan dia berjalan ke pintu, tapi sebelum menutupnya, dia kembali menatap Bu Miller dengan rasa penasaran yang nampak polos namun licik.

Bu Miller menghabiskan hari berikutnya di tempat tidur, bangun sekali untuk memberi makan burung kenari dan minum secangkir teh; ia mengukur suhu tubuh dan tidak demam, namun mimpinya menggelisahkan; suasana mimpi yang tidak mengenakkan itu tetap bertahan meski ia terbaring menatap lebar ke langit-langit. Satu mimpi beriringan melalui yang lain seperti tema misterius dalam simfoni yang rumit, dan adegan yang ditunjukkan digambarkan dengan tajam, seolah digambar oleh tangan dengan intensitas berbakat: seorang gadis kecil, mengenakan gaun pengantin dan karangan bunga, memimpin sebuah prosesi kelabu ke jalan setapak, dan di antara mereka ada keheningan yang tidak biasa sampai seorang wanita di belakang bertanya, “Ke mana dia membawa kita?” “Tidak ada yang tahu,” kata seorang pria tua yang berbaris di depan. “Tapi, bukankah dia cantik?” balas suara ketiga. “Bukankah dia seperti bunga yang beku … sangat bersinar dan putih?”

Selasa pagi, ia terbangun dengan perasaan lebih baik; sinar matahari yang terang, menembus miring melalui tirai Venesia, melepaskan cahaya yang mengganggu pada mimpi buruknya. Ia membuka jendela dan melihat hari yang mencair dan ringan seperti musim semi; sapuan awan baru yang bersih menggumpal di langit yang sangat biru, langit yang tidak pada musimnya; dan di seberang deretan atap rendah, ia bisa melihat sungai dan asap melengkung dari tumpukan kapal tugboat yang berbaris di antara angin yang hangat. Sebuah truk perak besar menaiki jalan bersalju, suara mesinnya berdengung di udara.

Setelah merapikan apartemen, ia pergi ke toko kelontong, menguangkan cek dan melanjutkan ke Schrafft’s, tempat ia sarapan dan mengobrol gembira dengan pelayannya. Oh, ini adalah hari yang indah, lebih seperti liburan dan bodoh sekali kalau pulang ke rumah.

Ia menaiki bis Lexington Avenue dan pergi ke Eighty-sixth Street; di sinilah ia memutuskan untuk sedikit belanja.

Ia tidak tahu apa yang ia inginkan atau butuhkan, tapi ia terus berjalan, memperhatikan orang yang lewat, bergegas dan sibuk dengan pikirannya sendiri, yang memberinya rasa keterpisahan yang mengganggu.

Saat sedang menunggu di sudut Third Avenue, ia melihat pria itu: seorang pria tua, dengan kaki yang pengkar dan membungkuk ke bawah bungkusan yang menggembung; dia mengenakan mantel cokelat lusuh dan topi kotak-kotak. Tiba-tiba, ia menyadari mereka bertukar senyuman: tidak ada yang ramah tentang senyuman ini, hanya dua emosi dingin. Tapi, ia yakin ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

Ia berdiri di samping pilar El, dan saat ia menyeberang jalan, dia berbalik dan mengikuti. Dia terus mendekat; dari sudut matanya, ia melihat bayangan pria itu bergelombang di jendela toko.

Lalu di tengah blok ia berhenti dan menghadap le pria itu. Dia juga berhenti dan memiringkan kepalanya, menyeringai. Tapi apa yang bisa ia katakan? Lakukan? Di sini, di siang bolong, di Eighty-sixth Street? Tidak ada gunanya, dan, membenci ketidakberdayaannya sendiri, ia mempercepat langkahnya.

Sekarang Second Avenue adalah jalan yang suram, terbuat dari sisa-sisa bahan bangunan dan jalan buntu; sebagian jalanan setapak dari batu, sebagian aspal, sebagian semen; dan atmosfer desersinya bersifat permanen. Bu Miller berjalan sejauh lima blok tanpa menemui siapa pun, dan sementara itu, jejak langkah kaki pria tadi di salju tetap dekat. Dan saat ia datang ke toko bunga, suara itu masih bersamanya. Ia bergegas masuk dan melihat melalui pintu kaca saat pria tua itu lewat; dia terus menatap lurus ke depan dan tidak memperlambat langkahnya, tapi dia melakukan hal aneh: dia memiringkan topinya.

“Enam bunga putih, kan?” tanya si penjual bunga. “Ya,” Bu Miller berkata pada pria penjual bunga, “Mawar putih.” Dari sana, ia pergi ke toko barang pecah belah dan memilih vas bunga, mungkin pengganti yang sudah Miriam rusak, meski harganya tidak dapat ditolerir dan vas itu sendiri (menurutnya) tidak istimewa. Tapi, serangkaian pembelian yang tidak masuk akal telah dimulai, seolah-olah dengan rencana yang sudah diatur sebelumnya: rencana yang tidak ia ketahui atau kontrol sedikit pun.

Ia membeli sekantong ceri, dan di tempat yang disebut Knickerbocker Bakery, ia membayar empat puluh sen untuk enam kue almon.

Dalam satu jam terakhir, cuaca berubah menjadi dingin lagi; seperti lensa yang kabur, awan musim dingin menyinari bayangan matahari, dan kerangka senja dini mewarnai langit; kabut lembap bercampur angin dan suara beberapa anak yang berlarian di atas tumpukan salju terasa sepi dan tak ceria. Tak lama, serpihan pertama jatuh, dan saat Bu Miller sampai di gedung berbatu bata, salju turun dengan cepat dan jejak kaki yang tercetak jadi lenyap.

Mawar putih diatur secara dekoratif di dalam vas bunga. Ceri bersinar di piring keramik. Kue almon, ditaburi gula, menunggu dijamah. Burung kenari bergerak-gerak di ayunannya dan mengambil sebatang biji buah.

Tepat pukul lima, bel berbunyi. Miller tahu siapa orang itu. Ujung mantel rumahannya mengikuti langkahnya saat ia melintasi ruangan. “Apakah kau di dalam?” Dia memanggil.

“Sewajarnya,” kata Miriam, kata itu menggema keras dari aula. “Buka pintunya.”

“Pergi sana,” kata Bu Miller.

“Cepatlah … aku bawa bungkusan berat.”

“Sana pergi,” kata Bu Miller. Ia kembali ke ruang tamu, menyalakan rokok, duduk, dan dengan santai mendengarkan bel; terus-terusan. “Kau harusnya pergi saja. Aku tak berniat membiarkanmu masuk.”

Tak lama, bel berhenti berbunyi. Sekitar sepuluh menit Bu Miller tidak bergerak. Lalu, mendengar tidak ada suara, ia mengira Miriam sudah pulang. Ia berjingkat ke pintu dan membuka pintu sedikit; Miriam setengah berbaring di atas kotak kardus dengan boneka Prancis yang indah di pelukannya.

“Sungguh, kukira Anda tidak akan buka pintunya,” katanya, kesal. “Ini, bantu aku membawanya ke dalam, berat sekali.”

Bukan suatu paksaan serupa mantra yang Bu Miller rasakan, namun lebih seperti kepasifan yang aneh; ia membawa masuk kotak itu, Miriam si boneka. Miriam meringkuk di sofa, tidak repot-repot melepas mantel atau baretnya, dan mengawasi dengan tidak acuh ketika Bu Miller menjatuhkan kotak itu dan berdiri gemetar, berusaha menarik napas.

“Terima kasih,” katanya. Di siang hari dia tampak kurus dan letih, rambutnya kurang bercahaya. Boneka Prancis yang dia cintai itu mengenakan wig indah dan mata kacanya yang konyol nampak mencari hiburan di mata Miriam. “Aku punya kejutan,” lanjutnya. “Lihatlah ke dalam kotakku.”

Berlutut, Bu Miller membuka tutupnya dan mengangkat boneka lain; kemudian gaun biru yang ia ingat pernah dikenakan Miriam pada malam pertama di teater; dan ia berkata, “Semuanya pakaian. Kenapa?”

“Karena aku datang untuk tinggal bersama Anda,” kata Miriam, memutar batang ceri. “Bukankah Anda baik sekali sudah membelikanku ceri …?”

“Tapi kau tidak boleh tinggal di sini! Demi Tuhan, pergilah – pergi dan tinggalkan aku sendiri!”

“… dan mawar dan kue almon? Benar-benar luar biasa murah hati. Anda tahu, ceri ini lezat. Tempat terakhir yang kutinggali adalah rumah seorang lelaki tua; dia sangat miskin dan kami tidak pernah makan enak. Tapi aku pikir aku akan senang di sini.” Dia berhenti sejenak untuk merengkuh bonekanya. “Sekarang, kalau Anda tunjukkan di mana aku bisa menaruh barang-barangku …”

Wajah Bu Miller berubah serupa topeng dengan guratan-guratan merah yang jelek; ia mulai menangis, semacam tangisan yang tidak alami, seolah-olah lama tidak menangis dan ia lupa bagaimana caranya. Dengan hati-hati, ia mundur ke belakang sampai menyentuh pintu.

Ia meraba-raba lorong dan menuruni tangga ke bawah. Ia memukul dengan panik pintu apartemen pertama yang ia datangi; seorang pria pendek berambut merah menjawab dan ia mendorong melewatinya. “Apa-apaan ini?” kata pria itu. “Ada yang salah, sayangku?” tanya seorang wanita muda yang muncul dari dapur, mengeringkan tangannya. Dan Bu Miller menghadap wanita itu.

“Dengar,” serunya, “Saya malu berperilaku seperti ini tapi — yah, saya Bu H. T. Miller dan saya tinggal di lantai atas dan …” Ia menekankan tangannya ke wajahnya. “Kedengarannya sangat tidak masuk akal …”

Wanita itu membimbingnya ke kursi, sementara pria itu dengan penuh semangat memainkan uang receh di kantongnya. “Ya?”

“Saya tinggal di lantai atas dan ada seorang gadis kecil yang mengunjungi saya, dan saya kira saya takut padanya. Dia tidak kunjung pergi dan saya tidak bisa membuatnya pergi dan — dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan. Dia sudah mencuri bros ukiran milik saya, tetapi dia akan melakukan sesuatu yang lebih buruk — lebih buruk.”

Pria itu bertanya, “Dia kerabatmu?”

Bu Miller menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu siapa dia. Namanya Miriam, tapi saya tidak tahu pasti dia siapa.”

“Tenanglah, sayang,” kata wanita itu, sambil mengelus lengan Bu Miller. “Harry lah yang akan mengamankan anak itu. Ayo, sayangku.” Dan Bu Miller berkata, “Pintunya sudah terbuka — 5A.”

Setelah pria itu pergi, wanita itu membawa handuk dan mengelap wajah Bu Miller. “Anda baik sekali,” kata Bu Miller. “Maaf saya berperilaku seperti orang bodoh, hanya saja anak jahat ini …”

“Tentu, sayang,” menghibur wanita itu. “Sekarang, lebih baik santai saja.”

Bu Miller mengistirahatkan kepalanya di lekuk lengannya; dia cukup tenang untuk tidur. Wanita itu memutar radio; piano dan suara serak mengisi keheningan dan wanita itu mengetukkan kakinya, memberi jeda waktu yang sangat baik. “Mungkin kita harus naik juga,” katanya.

“Saya tidak ingin melihatnya lagi. Saya tidak ingin berada di dekatnya.”

“Uh-huh, tapi yang seharusnya Anda lakukan, Anda seharusnya memanggil polisi.”

Saat ini mereka mendengar pria tadi di tangga. Dia melangkah ke ruangan sambil mengerutkan dahi dan menggaruk bagian belakang lehernya. “Tidak ada orang di sana,” katanya, dengan jujur merasa malu. “Dia pasti menghabisi anak itu.”

“Harry, kamu keterlaluan,” kata wanita itu. “Kita duduk di sini sepanjang waktu dan kita pasti sudah melihat kalau …” Dia berhenti tiba-tiba, karena pandangan pria itu tajam.

“Saya mencari ke semua tempat,” katanya, “Dan tidak ada orang di sana. Tidak ada orang, mengerti?”

“Katakan pada saya,” kata Bu Miller, sambil berdiri, “Katakan pada saya, apakah Anda melihat kotak besar? Atau boneka?”

“Tidak, Bu, saya tidak lihat.”

Dan wanita itu, seolah memberikan vonis, berkata, “Yah, setelah menangis tersedu-sedu begitu …”

Bu Miller masuk ke apartemennya dengan lembut; ia berjalan ke tengah ruangan dan berdiri diam. Tidak, dalam arti tidak ada yang berubah: mawar, kue, dan ceri berada di tempat masing-masing. Tapi, ini ruang kosong, lebih kosong daripada ketika perabotan belum ada di sini, tak bernyawa dan membatu layaknya pemakaman. Sofa membayang di hadapannya dengan keanehan baru: kekosongannya memiliki makna yang kurang tajam dan mengerikan seandainya saja Miriam pernah meringkuk di atasnya. Ia menatap lekat-lekat ruangan di mana ia ingat pernah mengatur boks, dan, untuk sesaat, bantal kakinya berputar putus asa. Dan ia melihat melalui jendela; tentu saja sungai itu nyata, tentu saja salju turun — tetapi kemudian, seseorang tidak bisa menjadi saksi tertentu untuk hal apa pun: Miriam, begitu jelas di sana — namun, di mana dia? Di mana? Di mana?

Seolah bergerak dalam mimpi, ia tenggelam di kursi. Ruangan itu kehilangan bentuk; hari sudah gelap dan semakin gelap dan tidak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu; ia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyalakan lampu.

Tiba-tiba, menutup matanya, ia merasakan lonjakan ke atas, seperti penyelam yang muncul dari kedalaman yang sangat dalam dan hijau. Pada masa penuh kesulitan atau teror, ada saat-saat ketika pikiran menunggu, seolah-olah untuk mendapatkan sebuah wahyu, sementara gumpalan ketenangan ditenun dari pikiran; seperti tidur, atau hipnotis supernatural; dan di masa ini kita menyadari kekuatan penalaran yang tenang: bagaimana jika ia tidak pernah benar-benar mengenal seorang gadis bernama Miriam? Bahwa ia dengan bodohnya ketakutan di jalan? Pada akhirnya, seperti yang lainnya, itu tidak penting. Satu-satunya hal yang hilang dari dirinya untuk Miriam adalah identitasnya, tetapi sekarang ia tahu ia telah menemukan lagi orang yang tinggal di ruangan ini, yang memasak makanannya sendiri, yang memiliki burung kenari, yang merupakan seseorang yang dapat dipercayainya: Bu H. T. Miller.

Sambil mendengarkan dengan perasaan senang, ia sadar ada suara ganda: laci meja terbuka dan tertutup; ia sepertinya mendengarnya lama setelah laci itu selesai — terbuka dan tertutup. Kemudian secara bertahap, suara lantang itu digantikan oleh desiran gaun sutra dan, sesuatu ini, yang gerakannya halus dan lemah, bergerak lebih dekat dan semakin intens hingga dinding gemetar hebat dan ruangan itu runtuh di bawah gelombang bisikan. Bu Miller menegang dan membuka mata dan berpandangan langsung dengan tatapan membosankan itu.

“Halo,” kata Miriam.

(*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending