Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Armen S. Doang

mm

Published

on

Awal Larik

kita duduk di atas waktu yang sama-sama tidak pernah ditunggu
saling membaca puisi dengan judul yang berbeda
karena memang kita tak pernah ada dalam bait yang sama
namun waktu tak berpaling ke arah hati yang saling berpandang
walau kita takut untuk saling mendekat
namun jarak terasa semakin hangat
hingga percakapan menggantikan cahaya bulan
pertemuan berakhir di awal larik perpisahan

Bekasi, 18-Juni-2017

Berjarak

kau adalah jarak
di mana aku tidak dapat menapak di tanah yang kau pijak
namun bumi tetap mengabarkan pesan yang sama
putaran jam kita berbeda
pertemuan mustahil akan tiba

sejak waktu menutup pintu percakapan
dua puluh empat jam yang lalu
aku mulai hidup bersama harapan
jalan-jalan berubah asing
malam-malam terasa lebih dingin
dan kau tetap jarak yang dititipkan angin
kepada ingin

Bekasi, 18-Juni-2017

Membaca Tanda

aku tidak pernah paham
yang ingin disampaikan lambaian tangan
seperti memaksa waktu berhutang dengan kepergian
dan pagi ini angin menyapa daun-daun
yang jatuh di antara ingin
menjadi rindu yang dingin
di dada kota menetap
di mata engkau semakin gelap
aku membesar-besarkan harap

Bekasi, 18-Juni-2017

Memanggil Rindu

aku memanggil
kau tak juga bersahut
aku mengetuk
waktu telah mengutuk
ruang ini bisu
lampu kamar yang bulan telah padam
kehangatan ditinggal percakapan

hingga aku tanya kembali
berapa lagi kerinduan harus mati
sepasang cecak membusuk
tak sanggup bertahan

dan ruang masih bisu
sekali lagi aku mengetuk
tak ada suara menyahut
setelah daun dibangunkan embun
setelah kicau burung berciuman
aku menjadi penyair yang dibungkam perasaan

Bekasi, 29-Juni-2017

Sandera Kenangan

di kiri dan kanan kemudi
kerap aku bercermin ke belakang
sebagian wajahmu menghilang
sebagian lagi menjadi bayang
demikianlah perjalanan
berkejar-kejar harap sepanjang jarak
kepulangan merupakan arah terakhir
di mana biasa aku melaju
di atas tubuhmu
bibir saling berpegangan
aku bumi yang tenggelam
di kiri dan kanan
lampu penerang
seperti kunang-kunang
cahayanya membelah malam
dengan jaring di tangan
waktu berlari mengejar
kita tertangkap
dibawa sebagai
sandera bagi kenangan

Bekasi, 30-Juni-2017

__________________

Armen S. Doang  Lahir di Jakarta 05 September 1980. Tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya pernah di muat dalam Buletin Jejak FSB, Buku Tifa Nusantara 3 serta Litera.com, Galeri Buku jakarta. Pernah pula dibacakan dalam acara Sastra Reboan. Aktif bergiat di PFI ( Puisi Film Indonesia )

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Classic Poetry

Puisi-Puisi Arthur Rimbaud

mm

Published

on

Lagu Menara Tertinggi

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah

Karena lama tersia

Aku lupa semua

Ngeri dan derita

Nun luput ke langit

Dan dahaga kotor

Menggelap darahku.

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah

Bagai padang-padang yang

Binasa, ditinggal.

Menyebar dan berlipat

Kembang-kembang dan semak

Dalam marah dengung

Lalar yang kotor.

 

Semoga datang, ya datang

Masa yang penuh gairah.

 

Pesta lapar

 

Laparku, Anne, Anne

Lari di atas keledaimu

 

Jika aku lapar, hanyalah

Lapar bumi dan lapar batu

Ding ! ding! Ding! Santapan kita angina

Batu dan arang, besi.

 

Hai lapar, balik kau. Lapar, makanlah

Rumput padang suara!

Hiruplah racun pesta gila

Dari daun semak;

 

Makanlah batu leburan tangan si miskin

Pintu gerbang gereja tua

Punting hari kiamat

Roti lembah kelabu!

 

Laparku, sobekan angin malam,

Udara bergema;

Itulah perutku, guruh itu,

O, Malam.

 

Tanam-tanaman di bumi lahir kembali;

Mencari buah magang

Kupetik dari lubang jejak

Sayur dan bunga viola.

 

Laparku, Anne, Anne,

Lari di atas keledaimu.

 

*) Jean Nicolas Arthur Rimbaud (IPA: [aʀ’tyʀ ʀɛ̃’bo]) (lahir 20 Oktober 1854 – meninggal 10 November 1891 pada umur 37 tahun) adalah seorang penyair Perancis, lahir di Charleville. Pengaruhnya besar pada sastra, musik, dan seni modern.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Revin Mangaloksa Hutabarat:

mm

Published

on

SEBELUM DUA PURNAMA

 

Tepat dua purnama yang lalu

Kita bertengkar, kawan.

 

Sebelum dua purnama yang lalu,

Kita adalah benang dan kail.

Erat.

 

Aku berkata ini,

Kau berpikir begitu.

Adakah jalan temu untuk kita?

 

Saat ini matamu meninjuku,

Representasi ketidaksetujuanmu.

 

Ketika persegi panjang di hadapan kita,

Air hitam panas di atasnya,

Kau memilih diam.

 

Diammu bukan bodoh.

Diammu bukan bisu.

Diammu adalah perasaaanmu.

Aku tahu itu.

 

Aku menyapamu,

Kau jawab sekenanya.

Tak ada obrolan panjang,

Hanya kecanggungan.

 

Haruskah kita seperti ini?

Padahal dulu kau bilang;

Manusia saling membutuhkan.

Manusia saling mengasihi.

 

Perbedaan bukan lawan, kawan.

Sama dengan wajah manusia,

Perbedan itu nyata.

Dan kalau sudah begitu,

Sebaiknya bertoleransi.

 

Kuharap kau mengerti.

Kuharap kau memahami.

Agar kita jadi sebelum dua purnama lagi.

 

ANDRI

Andri sering memperkosa gitar.

Gitar dibuatnya menangis.

Gitar dibuatnya tertawa.

 

Andri adalah orang kecil,

Suka mencari makan di jalan.

Bersahabat gitar,

Ia isi perutnya.

Warung-warung dijajaki.

Angkutan umum dijamahi.

Berharap segala tempat,

Adalah peluang rezeki.

 

Andri tak punya mimpi.

Ia hanya ingin,

Melanjutkan hari esok,

Tanpa hinaan.

Dan bisa makan.

Bisa minum.

Bisa dicintai orang.

Sederhana bukan!

 

Matahari pulang.

Di depan toko yang tutup,

Ia ratapi nasib.

Matanya kosong.

Semangatnya hampir patah.

“Beginikah selamanya aku hidup?” pikirnya.

 

Lagi-lagi Andri perkosa gitar,

Gitarnya menangis.

 

FRUSTASI

 

Dia hanya berbaring,

Di ruang kotak kecil.

Bingung.

Tak dapat jawaban.

Hampir gantung diri,

Tak jadi.

 

Dia resah,

Anaknya tak menyuap nasi.

Bingung.

Istrinya lelehkan air terjun,

Setiap malam.

 

Mondar-mandir di jalan,

Tak dapat panggilan.

Diselaputi si panas.

Diselaputi si dingin.

Frustasi.

 

Laranya menjadi-jadi.

Wahai sang penguasa,

Dimana janjimu?

 

SAJAK KEBEBASAN

 

Kebebasan adalah hak.

Hak bersuara.

Hak kesetaraan.

Hak memilih.

 

Kebebasan bukan diperintah,

Apalagi dipenjara.

 

Kebebasan berarti tak terbelenggu.

Terlepas dari pengisapan.

Melakukan yang kita sukai.

Dipandang sebagai manusia.

 

Kebebasan bukan diatur-atur.

Kebebasan itu dicari sendiri,

Atas kehendak kita.

Tanpa membunuh orang lain.

 

Kebebasan itu harus nyata,

Bukan mimpi.

Bukan membohongi.

Bukan dipermainkan.

 

Kebebasan harus melekat di bumi.

Di sudut wilayah.

Di pinggir sungai.

Di kolong jembatan.

Di mana pun!

PARA PEKERJA

Sebelum mega hadir,

Bersiap mandi.

Pikiran masih bermimpi.

Dipaksa kena air.

 

Aduh, setiap hari begini!

 

Tapi kalau tak begini,

Perut diisi angin.

 

Rombongan pekerja berdesakan,

Saat mega mengintip.

Semua berangkat ke neraka.

Untuk tenaganya dihabisi.

Dikuras.

Dimanfaatkan.

 

Di jurang bulan,

Dapat hasil.

Baru setengah perjalanan,

Kok sudah habis?

 

Memang begini atau kami dibodohi?

 

Kami berharap dapat hidup layak,

Tapi malah jiwa terkoyak.

Kami berharap dapat menata hidup,

Tapi lubang rezeki selalu tertutup.

 

Kami ini robot atau manusia?

______________________________

*) Revin Mangaloksa Hutabarat: Pecinta musik yang akhirnya berkuliah jurusan Sosiologi.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Nanda Aziz Rahmawan

mm

Published

on

Di Sebuah Kota Yang Membuatmu Menunggu

seperti waktu itu, kereta melaju dari kediamanku

aku di dalam dan menyaksikan  dari balik jendela kaca

pohon dan hamparan hijau menyeru;

jangan pergi, tinggalkan masalalu dan mati!

derit roda dan rel, derum mesin, keduanya mengaum

mereka telah lama mengabarkan perpisahan

langkah kakiki tiada lagi berjejak,

jarak telah mahir mmenghapus bulirnya yang tipis

 

lihatlah awan awan yang berarak

memenuhi tubuh langit, ia berbeda

dari tempatmu berasal

sejam selepas kau beranjak

kau sudah dirundung rindu;

pada sejuk angin dari balik jendela kamarmu,

dan, masakan ibu yang penuh bumbu bumbu

dan sayur dari ladang garapan ayahmu

 

kini kau tahu, dinding dan bangunan kota

telah memisahkan dan mempertemukanmu;

dengan himpunan orang orang kantor yang tergesa gesa

lelampu kota yang senantiasa mengamati langkahmu,

bau anyir keringat pejabat hingga

aroma penderitaan kaum terpinggirkan

 

ada makhluk kecil yang kau tinggalkan dalam dirimu,

dan, dengarlah …

ia menjerit, meronta dari kekangan orang orang

yang mengaku bahagia

orang orang yang tak pernah berhenti menatapmu curiga

orang orang yang gemar merapikan dan mengoleksi topeng

untuk mereka kenakan

 

tapi, kau harus di sini,

di kota yang suka membekukan air mata

perihal negara dan derita yang sesungguhnya

dan waktu telah menyeretku pada rutinitas semu

macam itu, menanggalkan diri dari rumah

dan sesuatu yang lupa kau namai—kenangan atau impian

jiwamu penat tapi kau merasa baik baik saja

dan, kau tentu tidak akan membiarkan

derap langkah orang orang

mencuri makna dalam hidupmu

 

kau mesti pustuskan sekarang

dirimu yang menggigil meski matahari

di langit kota menggigitmu berkali kali

dan begitu panas

kau setia menunggu di bawah ranting pohon yang kusam

menunggu makhluk kecil dalam dirimu bangun, dan kembali berjalan

 

Semarang 13122016

Continue Reading

Classic Prose

Trending