Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Arif Purnama Putra

mm

Published

on

Peladang Gambir

katanya jalan-jalan itu dipenuhi lumpur dan bebatuan besar

di kelilingi pohon-pohon menjulang,

landung bukit yang melihat ke pantai dan ciling

mondarmandir.

di sana ditanami anak-anak gambir,

tumbuh subur bagai ilalang padang rumput

berakar mekar di tanah bukit,

di mana hiruk-pikuk kaki berdoa subur.

 

di tanah itu harapan digantung,

perlahan daun-daunnya muncul, hijau dengan bintik coklat akibat ulat

di naungi rumah penghuni, api tungku menggumpal menuju awan

daun-daun dituai tangan-tangan tebal yang dilapisi getah gambir

kasar dan tahan api, tahan belati. ia habiskan seharian di sana,

memasak, menumbuk daun.

 

datanglah pasar ahad, orang hilir membawa keranjang-keranjang

mengebut motor penuh lumpur kuning,

ban tahu mementalkan tanah-tanah

sumringah gigi kuning menerpa matahari,

puas dikenang, anak bini menunggu jajan.

ia datangi toke, ia bongkah karung-karung berisi gambir

ditimbang dan selesai dengan memelas naikkan harga,

“harga gambir turun,

karena sebagian orang ketahuan mencampurkan tanah saat mencetak”

ia jawab dengan doa, semoga semuanya kembali seperti semula,

berharap yang lain tidak kena sial akibat mereka.

Padang, 2017

 

Koto Baru

(sebuah kampung)

lalu banjir mendatangkan keruh air hulu

kecoa-kecoa bekejaran keliling rumah,

dedaun kering sangkut pada semak keladi

bocah-bocah berenang, riuh suara girang air datang

orang-orang malang berkokoh badan di antara dingin dan kelaparan,

ia sampaikan kepada

suara bising bahwa yang lapar adalah perut, bukan rumah.

 

di perintang malam, dinihari juga sampaikan kemalangan

periuk hanyut dibawa bandang,

ngigau bapak-bapak membuat pecah suara hening malam

di luar, air mengalir tenang, sesekali terdengar semilir angin selatan

ia kabarkan tentang bertahan, ia gelar banjir berhari-hari

pasang surut tak lagi datang, kadang datang lalu pergi

“lamanya pasang surut kembali, lelah kami menanti”

memelas seorang ibu, mengucapkan sebuah permohonan,

namun ia tamukan lagi hujan nan

deras bersama badai-badai membawa tampias tangis.

 

Padang, 2017

 

Kisah Mantra Limau Puruik

kita telah sampai pada pertemuan antara duduk dan berdiri

mengenang segala kesakitan serta kesembuhan

menuliskan puisi-puisi malang, menyanyikannya menjadi lagu pengingat

kadang menimbang kebaikan, menyimpulkan tentang suara-suara sumbang

perihal parau dan irama indah, pun kalimat-kalimat drama

dan selalu berujung kelupaan

 

dari kisah bertuah sampai legenda jawara yang katanya sejarah

muncul berabad-abad tahun, terkenal bertuah seantero semenanjung malaya

orang pesisir namanya, tempat berkumpulnya mistis nan melegenda

pemecah ilmu lainnya, mulai mantra penyembuh sampai penggila wanita ada di sana.

 

sajak-sajaknya indah, dipakai bila malam tiba

menggema suara mantra di telinga penerimanya,

terjaga mengenang sianu yang

melafalkannya.

dia antara duduk dan berdiri, berjalan tidak tahu arah

hanya tinggal cerita juga dongeng mantra-mantra

cerita sakti mandaraguna, pelafal handal,

pengguna asam limau purui yang melegenda

 

katanya jaman berganti, semuanya hanya cerita

tapi selalu jumawah, pemilik segala mantra,

ketika ditanya itu hanya kisah.

Padang, 2017

 

Pelaut Malang

pelaut-pelaut itu mengabarkan badai dan gelombang

air yang asin menyulut risau, menyampaikan ketakutan

pulau-pulau kecil penuh semak berduri,

pandan-pandan dan kelapa menjulang ke pantai

ia kabarkan tentang ketakutan,

ia sebutkan kapal-kapal bernama diterjang ombak

suara-suara tolong disampaikan,

riak penuh buih ombak-ombak mengempas ke pantai tak

bernama

 

cadik-cadiknya yang patah diterima tepian pantai

tidak ada berita juga kabar bahagia

awak-awak tanpa cadik berenang dengan sesak,

kapalnya pecah di tengah

“riak gelombang mengantarkan kemalangan,

tiada doa yang berguna, selain berenang menuju daratan”

seorang awak tergeletak, terkapar di sebuah pulau tak bernama

ia ceritakan tentang gemuruh menyelinap lalu mengganas menerpa kapal

ia tuturkan puluhan ketakutan, dari kematian nun jauh dari pertolongan.

Padang, 2017

 

Berita Dari Lagu Lama

kudengarkan lagu itu, melewati keramaian pasar minggu

dengan suara rintang ia katakan kesedihan,

kampung-kampung yang ditinggalkan

juga orang-orang yang terlupakan

digadang-gadang negeri pesona, menyimpan banyak sejarah

kaba nan diceritakan melalui biola,

nyanyian sejuta umat kaum parewa dulunya

sekarang berganti artis-artis ibu kota, gaya-gaya mewah

ia tinggalkan peristiwa sejarah kaum, pun anak bini di rumah

“ini waktu yang berganti, bung”

kata seorang pria parubaya memakai kemeja kotak-kotak,

ia berjalan menuju suara keriuhan acara pemuda.

Padang, 2017

Jalan Pulang

di jalan menuju rumah, ilalang melambai menyambut kepulangan

desirnya sampai ke sela telinga

siluet batu karang terlihat indah, menghempas berirama ombak pulang pergi

teringat nyanyian-nyanyian pengantar tidur ibu,

katanya “tidurlah, Nak. tidurlah. cepat besar membantu orang tua”

 

lalu tampak juga layang-layang putus, dikejar bocah-bocah,

meneriaki kawan-kawannya,

nun jauh terdengar burung-burung gereja pulang,

bapak-bapak penuh lumpur gontai berjalan membawa cangkul sawah

—serta ibu menanti di rumah.

 

ia pulang dengan gagah, luka-luka yang menganga serasa kering

seraya doa-doa, ia sampaikan keselamatan

cerita-cerita dari negeri serakah, pun wanita-wanita tanpa busana

ia sebutkan bahwa rantau bukan peraduan indah, hanya pelarian tanpa nama.

Kemudian beranda rumah menyamput kepulangan,

ia rebahkan diri, sepanjang napas doa keselamatan dijabahkan

“ayah, ibu, dunsanak, dan tepian mandi. Saya pulang”

 

Pesisir Selatan, 2017

Arif Purnama Putra, lahir di Pesisir Selatan, selatan Sumatera Barat. Sekarang tinggal di Padang, melanjutkan kuliah di STKIP PGRI PADANG, dengan jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Menulis adalah cara menghilangkan perbuatan buruk dan tidak bermanfaat. Berusaha menyukai ketertinggalan daerah dan lokalitas tempat tinggal, sebelum mengetahui kehidupan luar. Tergabung bersama komunitas menulis “Daun Ranting” karya pernah dimuat beberapa media (koran dan media online).

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Puisi

Puisi-Puisi Muhammad Husein Heikal

mm

Published

on

Kita Mengetahui Cara Keluar untuk Mendekat ke Paris

__untuk The Chainsmokers

 

mendekatlah

aku tak dapat berhenti memikirkan betapa menariknya dirimu

anugrah apa yang diberikan pencipta padamu

dan keajaiban apa pula yang diberikan padaku

tubuh kita yang menyatu meluruh segala detak waktu

kita memutuskan untuk berpindah kota demi kota

tak bisa berhenti, setiap sudut habis kita jelajahi

kita meyakini tak pernah bertambah tua bila terus berkelana

dan terus bersama

 

jangan pernah meninggalkan tubuhku

disaat gigil yang membutuhkan pelukanmu

masuklah dalam diriku dan keluarkan segala gelisah

dan kegelapan yang memerangkap resah

bawalah aku menuju kerlap-kerlip lantai dansa

aku pikir itu akan membahagiakan

bagi pengelana seperti kita

 

ayo, kita lakukan semua secara perlahan

setiap belokan tak menjadi kesulitan

bila kita memahami diri kita masing-masing

seperti menyadari merahnya mawar

senantiasa lebih indah dan lebih mekar

bila disematkan diatas telingamu

 

semua yang kita ketahui

hanyalah tentang kita berdua

dan kota demi kota yang kita lalui bersama

hingga kita memutuskan untuk tinggal dikota yang sama

pada Paris, kita berikan seluruh cinta

kau tak meninggalkanku

aku tak meninggalkanmu

senantiasa

2017

Liburan ke Amsterdam

 

ketika argometer taksi yang kita naiki rusak

kita memutuskan untuk menjadi pejalan kaki

menghirup aroma malam Amsterdam

lampu gas sepanjang jalan, dan embun yang

menetas dimekar bebunga satu persatu

kita terhenti sejenak

 

menikmati titik-titik cahaya dari jembatan

mencoba mengingat masa lalu masing-masing

dalam genggaman tangan

dan merasakan cincin yang dingin

nafas kita yang berasap

dan kita berciuman

diujung malam

Amsterdam

 

2017

 

Kamera

__untuk Ed Sheeran

 

secangkir kenangan bisa membuatmu tidak bisa tidur

dirimu menjadi teman bagi malam yang tenang

 

serta teman bagi hewan-hewan nocturnal

pemangsa bagi siapa saja yang lewat didepannya

 

kau mengambil kamera yang diberikan kekasihmu

sebagai hadiah ulang tahun, yang kau sendiri

 

tidak ingat: apa aku pernah dilahirkan?

kau potret bulan, kau potret malam

 

pepohonan, tanah, udara, air, rumah vertikal

hewan kecil yang lupa pulang

 

semua masuk kedalam memori kamera

maka itu kau sebut sebagai kenangan

 

esok paginya, matamu merah kekasihmu datang

ia mengecup bibirmu berulang dan membuka baju

 

kau diam seperti seorang pesuci

kekasihmu tak peduli dan ia mengambil kamera

 

pergi kekamar mandi untuk mengecek kenangan

sampai malam menjelang matanya tidak berkedip

 

sebelum ia menyadari kekasihnya telah mati

karena terlalu banyak melihat kelamnya kenangan

2017

 

Efek Hibernasi Hari Sabtu

aku sudah terlalu bosan dengan masa lalu

hanya berisi kenangan yang tak dapat diulang

aku ingin masa depan sebagai masa akan datang

dan akan ku isi masa depan dengan puisi

untuk menjadi pelindung dingin dihari tua

sebab aku tahu diriku akan mati

 

akan meninggalkan dirimu dan puisi

mungkin juga sebuah rumah sederhana

dengan taman bunga dan sepasang anggora

untuk kau nikmati setelah aku tiada

semestinya aku takut dengan masa depan

sedikit pun aku tidak punya persiapan

 

setiap hari aku hanya berkeliling

menjajakan kata-kata dibeberapa kantor media massa

ada yang tertarik, dan aku memaknai itu

sebagai kemenangan, meski lebih banyak yang tertawa

menuduh aku adalah bagian masa silam yang terlupa oleh sejarah

 

ya, hanya itu masa sekarang yang dapat kulakukan

pernah aku mencoba untuk mencari beasiswa masa depan

betapa sayang umur harus dihitung dengan tahun, kata mereka

sedang aku telah setia menjadi detak bagi setiap detik

pernah pula kulihat ditelevisi seorang peramal

yang bisa melacak masa depan

 

aku bergegas melompat masuk kedalam televisi

mengejar peramal yang langsung lari begitu melihatku

aku tak ingin memaksanya, aku kembali keluar dari televisi

ketika suasana telah malam, kabut telah mengelam

entah mengapa, tiba-tiba aku ingin belajar cara merenovasi waktu

2017

Penyair Kelana

[titimangsa menjadikanmu pengelana

bagi kota demi kota

dan

puisi menjadikanmu petarung

menakluk kata demi kata]

 

ketika kau berada di Djibouti kau teringat

gadis-gadis kecil berkerudung letih

 

berlarian untuk pergi mengaji ke surau

tapi di Palestina mereka memanggul luka

 

sedang ayahnya menjadi mortir dan senjata

darah menyemerbakkan amisnya

 

sampai ke Tanah Suci

tanah damai yang riuh makhluk pemuja Tuhan

 

ayat-ayat suci dilantun mendengung hingga ke Selatan

tempat hewan berbulu tebal mendekap lembut anaknya

 

seperti orang Amerika yang cinta pada tanah airnya

setelah merdeka dari tuan tanah Inggris

 

kau menyadari ketika mentari menyapa pagi

perang adalah kodrat bagi manusia

 

agar bumi tidak terlalu sempit

dan pedang Izrail tak perlu ditebaskan

 

seperti orang Prancis yang menebang tiang bendera

negara dan kaum sendiri sebangsanya

 

airmata menumpah dilayar televisi

seorang anak berkulit hitam berumur lima tahun

 

melemparkan topinya hingga ke Aljazair

semestinya dibulan rajab Raja Arab

 

harus menemui Nebukadnezar

untuk bercerita tentang Ratu Balqis menyantap kurma

 

dari kota Spinx, patung berkepala singa

kau terlanjur meyakini perkataan ilmuwan

 

dunia itu berputar, sedang jiwamu bergetar

ketika mengangkat telepon dari ibumu

 

Tanah Air, tanah tempat kau mengais masa kecil

bersama sekumpulan anak bugil

 

menceburkan diri pada kedalaman makna kehidupan

yang kini kau saksikan diseberang samudera

 

memisahkan berbagai pengetahuan

meski di Berlin kau baru menyadari

 

hidup terlalu penuh kekesalan dan kekejaman

nyawa bisa kehilangan arti

 

bahkan kata bisa kehilangan makna

dan barangkali kau telah kehilangan Dia

 

seperti grizzly yang buta

kau memutuskan terjun ke dasar lembah

2017

______________________

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Saat ini tengah menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Menulis puisi, terkadang cerpen dan esai, yang termuat Horison, The Jakarta Post, Kompas, Utusan Malaysia, Media Indonesia, Koran Sindo, Koran Jakarta, Republika, Investor Daily, Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Mimbar Umum, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Lampung Post, Riau Pos, Rakyat Sumbar, Merapi, Haluan, Sumut Pos, Suara Karya, Rakyat Sultra, Koran Amanah, Koran Madura, Koran Pantura, Tanjungpinang Post, Pontianak Post, Tribun Bali, Malang Pos, Lombok Post, Kabar Madura, Tribun Jateng, Harian Fajar, Aksara, Majalah Puisi, Majalah Sagang, Jejak. Selain itu termuat pula dalam buku antologi Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Esai Pilihan Riau Pos, 2015), Merenda Hari Esok (Aksara, 2016), Perayaan Cinta (Puisi Inggris-Indonesia Poetry Prairie, 2016), Ketika Tubuhmu Mawar (Puisi Terbaik Sabana Pustaka, 2016), Menenggak Rindu (Puisi Pilihan Sabana Pustaka, 2016), Pulang (Sajak-sajak Anak Negeri, 2016), Perempuan yang di Pinang Malam (Puisi Pemenang Negeri Kertas, 2016), Mengais Makna (Puisi Pilihan Stepa Pustaka, 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara, 2016), Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016), 1550 MDPL (Pesta Penyair Kopi Dunia, 2016), Cinta yang Terus Mengalir (Ta’aruf Penyair Muda Indonesia, 2016), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (Festival Puisi Bangkalan II, 2017) dan Antologi Rupa Sastra (Negeri Kertas, 2017).

 

 

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Armen S. Doang

mm

Published

on

Awal Larik

kita duduk di atas waktu yang sama-sama tidak pernah ditunggu
saling membaca puisi dengan judul yang berbeda
karena memang kita tak pernah ada dalam bait yang sama
namun waktu tak berpaling ke arah hati yang saling berpandang
walau kita takut untuk saling mendekat
namun jarak terasa semakin hangat
hingga percakapan menggantikan cahaya bulan
pertemuan berakhir di awal larik perpisahan

Bekasi, 18-Juni-2017

Berjarak

kau adalah jarak
di mana aku tidak dapat menapak di tanah yang kau pijak
namun bumi tetap mengabarkan pesan yang sama
putaran jam kita berbeda
pertemuan mustahil akan tiba

sejak waktu menutup pintu percakapan
dua puluh empat jam yang lalu
aku mulai hidup bersama harapan
jalan-jalan berubah asing
malam-malam terasa lebih dingin
dan kau tetap jarak yang dititipkan angin
kepada ingin

Bekasi, 18-Juni-2017

Membaca Tanda

aku tidak pernah paham
yang ingin disampaikan lambaian tangan
seperti memaksa waktu berhutang dengan kepergian
dan pagi ini angin menyapa daun-daun
yang jatuh di antara ingin
menjadi rindu yang dingin
di dada kota menetap
di mata engkau semakin gelap
aku membesar-besarkan harap

Bekasi, 18-Juni-2017

Memanggil Rindu

aku memanggil
kau tak juga bersahut
aku mengetuk
waktu telah mengutuk
ruang ini bisu
lampu kamar yang bulan telah padam
kehangatan ditinggal percakapan

hingga aku tanya kembali
berapa lagi kerinduan harus mati
sepasang cecak membusuk
tak sanggup bertahan

dan ruang masih bisu
sekali lagi aku mengetuk
tak ada suara menyahut
setelah daun dibangunkan embun
setelah kicau burung berciuman
aku menjadi penyair yang dibungkam perasaan

Bekasi, 29-Juni-2017

Sandera Kenangan

di kiri dan kanan kemudi
kerap aku bercermin ke belakang
sebagian wajahmu menghilang
sebagian lagi menjadi bayang
demikianlah perjalanan
berkejar-kejar harap sepanjang jarak
kepulangan merupakan arah terakhir
di mana biasa aku melaju
di atas tubuhmu
bibir saling berpegangan
aku bumi yang tenggelam
di kiri dan kanan
lampu penerang
seperti kunang-kunang
cahayanya membelah malam
dengan jaring di tangan
waktu berlari mengejar
kita tertangkap
dibawa sebagai
sandera bagi kenangan

Bekasi, 30-Juni-2017

__________________

Armen S. Doang  Lahir di Jakarta 05 September 1980. Tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya pernah di muat dalam Buletin Jejak FSB, Buku Tifa Nusantara 3 serta Litera.com, Galeri Buku jakarta. Pernah pula dibacakan dalam acara Sastra Reboan. Aktif bergiat di PFI ( Puisi Film Indonesia )

 

Continue Reading

Editor's Choice

Alangkah Kanak-Kanaknya Cinta

mm

Published

on

Alangkah Kanak-Kanaknya Cinta

Kabut menggelayuti sepanjang punggungmu, sisa hujan masih menggenang di antara jalan-jalan yang menyembunyikan jejak tari-tarian paling sublim dari jiwamu yang hendak menyongsong sedalamnya getaran yang tak pernah dapat kau pahami bagaimana sebuah puisi tiba-tiba menjelma keheningan sebuah rumah dimana kau hanya ingin bersandar pada jendelanya; memandangi hujan kian lagut.

“Bagaimana jika kabut dingin itu berlalu dari kebun bunga yang kutanam di pematang kalbumu? Apa masih kau ingat bunyi dari setiap angin yang membawakan aroma asing tentang masa depan?”

Betapa takutnya kita dengan masa depan; sebab di sana lingkaran tanganmu pada punggungku hanya tinggal kenangan; di pundak ringkihku hanya tersisa halus bekas bibirmu dahulu.

Aduh bagaimana aku harus memohon untuk sebuah kenangan? Agar tetap tinggal di antara reruntuhan waktu yang telah memilih berduka waktu itu? Oh jika saja waktu tak pernah terbelah; sebagaimana sebauh usia muda menghamparkan keluasan dan getaran; sebelum sebuah nyanyian mengambilmu dari keriangan. Oh, alangkah kanak-kanaknya cinta;

Jakarta, 2013

Tentang Kenangan Di Buku Harian

Kutemukan kenangan di buku harian, tentang malam dan kesunyian: tentang penantian tanpa musim dan angin, hanya sebuah waktu, yang terlalu pendek untuk akhirnya tahu sepucuk surat cintamu urung terkirim; melapuk dan menua, sepertiku sekarang, sepertimu sekarang. Kamu di mana, sekarang?

Kelam menengadah muka di ujung malam; menjadi halaman-halaman kosong dari buku harian yang gagal membangunkan rumah bagi waktu kita yang enggan menjelmakan kuda pacu agar bisa kita melaju ke dalam waktu; di mana kita akan duduk, sambil menganyam kerudungmu agar bila nanti turun hujan bisa kusembunyikan wajahmu dari kebekuan yang menarikmu ke dalam masa silam sewaktu sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu.

Di gurun yang tiada terik, hujan tiba sepanjang senja, akankah pada kalbumu merentang kelambu dari benang paling halus kerudung kalbumu? Kerudung kenangan terbuat dari helaian bulu matamu yang telah jadi kaku sebab dingin dari hujan; kau resapi dengan pandangan penuh duka di antara suara-suara malam yang mengabarkan keberangkatan? bahwa hari itu kita berpisah. Pada hujan sewaktu kita gagal melukis nama kita di kaca jendela. Kita lalu sama beringsut dalam dingin kaku, ingatkah kau?

Aku mencarimu di antara hujan yang merobohkan pohon-pohon, merobohkan pula jembatan-jembatan waktu—itu yang kutakutkan; dadaku menyesak luruh lunglai, terhuyung menembus kabut mencari sepanjang batas gapai, alangkah rindu kalbuku.

Oh di mana jalan agar petang mengantarkan kelam dan bisa lagi kutempuh jalan ketika puisi menjelma hujan sewaktu wajah kita memadahkan asmara di kabut kelam kota saat sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu usai membaca surat terakhir yang urung mengatakan–aku cinta padamu.

Di Kamar, Kalibata, Desember 2012

Tentang Kenangan

Kalbuku di tengah awan mencari sebuah kenangan yang tercuri dari hening masa silam; apakah ini sudah berakhir? Dan bumi meluruhkan sebuah impian yang menunggu waktu ketika seorang akan berdiri lebih tegak untuk mimpinya. Oh..oh.. sebuah suara melandakan keintiman dalam dirinya; sebuah janji tentang waktu yang menunggu: benarkah kau takkan menggenggam kalbuku walau seribu nama–nama kau hapuskan dari keningku?

Ke mana kau akan pergi nanti? haruskan kuturut pada matamu; tersesat lebih dalam ke inti kalbumu tanpa jembatan yang menghubungkan dengan sebuah genta dari bunyi nama-nama yang kau serukan sebagai pemujaan pada kenihilan?

Bawalah kalbuku diam-diam menarikan bunyi dari nama-nama yang dinyanyikan dengan dentuman kenangan akan waktu yang tak mengenal bahasa; bawalah kalbuku diam-diam ke tempat tanpa bahasa-bahasa; tanpa nama-nama; di sana kau mungkin menemukan kenangan–seolah-olah kita pernah bersama…

Maret, 2012

Tentang Waktu Yang Ketika Sore Hari Tiba Seorang Penyair Gagal Menitipkan Rindunya Pada Masa Lalu

Memanggili hari dengan tahun-tahun dimana sore yang kita lewatkan telah menyadarkan betapa jauhnya kita telah berlalu dari waktu; tentang waktu yang ketika sore hari tiba seorang penyair gagal menitipkan rindunya pada masa lalu.

“Aku tahu apa artinya senja yang berakhir hari itu? Betapa kita tak pernah sanggup menyandingkan senja dengan hujan yang melanda kota; di mana kita pernah ingin menangis sebeb cinta rupanya adalah kerinduan abadi senja kepada hujannya. Ah..”

Kenapa hatimu begitu tertutup? Adakah ketakutan pada rindu mencegahmu lelap di bantal masa lalu? Seperti penyair yang tak akan pernah memahami puisinya sendiri.

Sesekali seorang penyair boleh gagal menulis puisi. Dan ia akan lagi teringat kepada anak kecil yang mengira ranjang tidurnya adalah panggung dimana semua orang siap melemparinya dengan bahasa sampai ia terbakar; dan seorang penyair menulis sajak untuk puisinya hari itu:

“Adakah ketakutan pada rindu mencegahmu lelap di bantal masa lalu? Seperti penyair yang tak akan pernah memahami puisinya sendiri.”

Jakarta, 2012

__________________

SABIQ CAREBESTH, buku kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017)

Continue Reading

Trending