Connect with us

Puisi

Puisi: Indonesia Dalam Seribu Luka

mm

Published

on

Indonesia Dalam Seribu Luka

Oleh : Najani Poetri

Selamat datang!
Semoga bertahan
Atau mari bergerak lakukan perlawanan
Kondisi sekarang sangat miris
Empati dan toleransi dalam masa kritis
Hati nurani makin terkikis
Kedamaian eratnya cinta antar bangsa mulai tercerai berai
Pondasi tulusnya kasih kian ringkih
Karena manusia sudah bertemu pamrih dan pilih-pilih
Seumat saja bisa saling menghujat
Bagaimana jika dengan yang tak segolongan?
Oh, tentu saja. Tak usah ditanya
Tentu lebih bahaya dan memilukan
Mereka semakin tertindas karena status minoritas
Ingin beribadah pun tak bebas
Untuk mendapat tempat kematian pun tak diizinkan
Alangkah lucunya negeriku
Jika tak suka, tak setuju, atau terganggu
Lantas menegurnya dengan kekerasan
Membunuhnya dengan hinaan kebencian
Bukankah agama mengajarkan hal-hal baik?
Apakah ada ajaran rohani yang mengajarkan caci maki?
Atau siksa keji hingga hilang jiwa manusiawi?
Apakah religiusitas itu menanamkan moral yang sungguh tak pantas?

Pertikaian,
Perselisihan,
Pendiskriminasian
Tak terhentikan
Seirama dengan derasnya arus perubahan
Yang membawa kita pada perpecahan
Perkembangan tekhnologi semakin pesat
Tapi laju kesadaran tersendat
Bagai kali-kali Jakarta yang dipenuhi ‘sampah’ dan bau menyengat
Modernisasi membuka portal dunia yang seolah tak lagi bersekat
Tapi keterbukaan pola pikiran justru terhambat
Bagai kemacetan yang menghiasi jalan-jalan di ibukota
Atau kota-kota elit lainnya
Apa yang tersisa dalam segala sesak ini?
Resah! Gerah! Lelah! Amarah yang tumpah ruah

Keadilan tak lagi dalam jalur kenetralan
Hukum begitu mudah diperjualbelikan
Selama punya beribu hektar harta
Terbebaslah kau dari jeruji penjara
Atau selama punya status sosial yang ‘istimewa’
Terlindungilah kau dari ketukan palu pengadilan
Hebat bukan cara penggunaan uang di masa sekarang?
Para kapitalis makin bengis
Menyiksa kemiskinan dengan cara-caranya yang lebih kejam dari pembunuhan sadis

Para pemain dari lihainya panggung politik
Tanpa letih berkompetisi meraup simpati
Begitu licik namun diracik sedemikian apik
Sangat picik namun tertutupi topeng cantik
Begitulah manusia
Jika sudah dibelenggu nafsu menggebu
Segala cara dilakukan demi meraih kursi kekuasaan
Atau menjaga singgasana agar tak berganti kepemilikan
Agama semakin disalahgunakan
Dogma-dogma dijadikan senjata
Memusnahkan musuh dengan berbagai kisruh
Menyerang yang ‘tak sama’
Dengan teror yang melumpuhkan keberanian
Untuk bisa bebas bernafas
Harus tunduk dan patuh!

Lihat! Situasi makin memprihatikan
Kebudayaan asli tak lagi asri
Yang tersisa hanya mulut-mulut beracun mematikan dengan segala sumpah serapah
Yang terus meluap adalah sampah-sampah berwujud manusia yang tak jua jengah berlaku serakah
Padahal harta dan kemewahan sudah berlimpah
Sungguh! Kekufuran membawa manusia dalam serba kekurangan

Betapa bumi pertiwi semakin dekat dengan kehancuran
Ketentraman menjelma bagai omong kosong belaka
Kepedulian digerus apatis
Kebaikan diiris jiwa skeptis
Ah, sungguh rindu aku pada suasana dulu
Indahnya multikultural menjadikan negeriku kaya keberagaman
Kini menjadi krusial yang mengancam keselamatan
Ah, tidakkah mereka sadar bahwa
Kemajemukan di sini adalah harta yang begitu berharga
Tak tergantikan dengan kecanggihan apa pun yang dibuat negara adidaya

Sungguh ini perubahan yang menyakitkan
Semakin mundur kita dari peradaban
Semakin sulit mencapai kemajuan
Semakin jauh dalam ketertinggalan
Jangankan untuk menggapai selangkah perkembangan
Untuk menjaga pertahanan kesatuan saja
Nampaknya begitu susah
Pondasi kian goyah
Sebagian kekuatan mulai rapuh
Mendekati runtuh
Sebab cinta antar sesama tak lagi utuh
Belas kasih dibantai belati keegoisan
Kegetiran pekatnya nurani yang mati
Menjelma kehidupan yang tak lagi berarti
Semboyan Bhineka Tunggal Ika
Ideologi Pancasila
Merah putih warna dari bendera yang kita punya
Tak lagi memiliki makna
Indonesia kini
Menyisakan kesedihan yang tak terperi
Menyisakan kepedihan yang tak kunjung pulih
Indonesiaku dalam seribu luka
Seribu duka dan derita
Air mata yang tak kunjung reda
Indonesiaku dalam lorong kegelapan
Dalam seribu luka yang tak menemui kesembuhan.

____

*) Najani Poetri, perempuan berdarah Sunda yang lahir dan dibesarkan di Jakarta 20 tahun lalu. Menyukai kegiatan membaca sejak kali pertama memasuki sekolah melalui perkenalannya dengan cerita-cerita dongeng, puisi dan cerpen dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Mulai aktif menggeluti dunia tulis-menulis sejak tahun 2015. Tulisan-tulisannya dapat ditemui melalui laman blog di sini : https://mengukirkanaksara.wordpress.com/ dan di salah satu akun media sosialnya di https://www.instagram.com/mengukirkanaksara/ .

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi-Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Ketika Iman Butuh istirahat

Semua yang kau yakinkan butuh istirahat

Tak perlu resah, tuk secepat mungkin saling menyahut

Apalagi dalilmu itu, batas pada keyakinanmu saja

Akhirnya tak saling sepaham hingga perlu meregangkan jiwa

Imanmu menyelamatkanmu, kata-Ku di atas perahu Galilea

Jika memang kau kuat pada keyakinan itu, yakinlah ada keselamatan

Kau tak perlu berceloteh membela di depan umum

Sebab yang Ku-kehendaki bersujud di tempat sembunyi

Saudaramu tak perlu tahu, kau seringkali menyembah

Itu urusanmu!

Sebab dirimu hanyalah milikmu

Lagi-lagi tak perlu resah pada keyakinanmu, yakinlah!

Jika dalam dirimu ada keyakinan

Kau tak perlu menyanggah kebenaran yang lain

Sebab semua benar, hanya beda jalan, menuju

Kembalilah apa yang kau sebut iman yang memiliki harapan pada kasih

Hingga kau hidup damai, walaupun itu beda keyakinan

Kau hanya beda jalan tetapi saling menuju

Kepada sang Khalik

Pau, kentol: GND 082019

 

Balada anak minta air

Setelah bayi itu dilahirkan, dunia tersenyum dan menyapa

Lalu pagi pun merekah sehingga tahu ini kehangatan mentari

Bayi yang masih mungil menampakan ceria tanpa memikul beban

Sebab memang ibu masih memberi asuh dan asih

Membopongnya, ini ibumu anak!

Hingga bayi tertidur pulas

Ini memang hidup sejahtera dimiliki sang bayi

Tetapi, manusia punya fase untuk meningkat

Cerita saat masih bayi, kini berubah menjadi kanak-kanak

Maklum…

zaman kanak-kanak ingin tahu banyak hal

saat ibu, keluar rumah memikul tempat air

anak itu, mulai bertanya: aku ingin ikut bu!

Ibunya menyahut: tempatnya jauh, ibu ingin menimpa air

Bukan karena ibunya takut tetapi usaha mencari

Air di tanah kering, melahap lahan membuka sumur, memang sia-sia

Karena terpaksa ditolak, anak itu merenung diri

Bahwa hidupnya susah di zaman kekurangan air

Lantas, mau ke mana mencari air?

Tanyakan pada diri-mu dan mereka, kemanakah mencari air?

Saat kerongkongan mulai lelah akibat ketiadaan air

San Camillo, 240809

 

Ketika Nasib Membalut Luka

Di bawah pendar, indahnya pulau Nusa Bunga

Masih berdiri dalam sebuah potret

Yang nampaknya seperti ajal

Sebab, telah lama dimulai

Tentang Perdagangan Orang yang bertumbuh

Humus lagi indah dari kejauhan saja

Jika pemberian predikat wilayah toleransi

Patut diapresiasi

Lantas, menjadi kusam dan memperpucat

Bahwa orang kita sering diangkut dalam sebuah Koper

Yang tak bertuan! Dan mungkin bertanya: Kemanakah mereka?

Kita tak lagi bisa berlari

Ini memang nasib, kita yang tak punya berpijak

Soal hidup sejahtera

Katanya tak perlu belagu, sebab beranjak dari tanah ini!

Bias menikmati

Malaysia yang katanya “Ringgit Melangit” menjadikan hidup

Tak perlu kredit

Karena alasan nasib sekaligus ekonomi yang meradang

Gadis belia nan manis dan lugu, pergi…

Dengan hati yang tak karuan, dipicut gaji yang tinggi

Namun, apa? Tak disangka-sangka

Pulang hanya bawah dengan tangan hampa

Sebab segala gajian menjadi ratapan dan kreasi imajinatif para penyelundup

San Camillo, GND: Dohut, 060809

 

Kerinduan Menyoal Stunting

Memang kehidupan menjadi sebuah perdebatan

Sebab di dalamnya ada gelap dan cahaya

Cahaya selalu diimpikan

Namun, bagi orang yang Gennya bercahaya

Itu bukan impian tetapi sebagai akibat “kita ini keterunan sejahtera”

Bagaimana dengan kami?

Katanya “tubuh pendek” ini karena Gen orangtua

Lalu kini dilabeli kata metafora “Stunting”

Lalu cahaya mataku hanya menatap tembok

Sebab ini soal peradaban

Alih-alih pemerintah ingin menyentuh! Ini masalah kelam

Mengapa kita sering menyukai terlambat pencegahan

Daripada mengatasi

Riwayat stunting jarak mulai membentang, meluas dan menjangkit

Namun perlu kesadaran pilu selama waktu di punggungmu

Menanggung rindu dalam kata “sama-sama mengatasi”

Menjadi soal

Pemerintah jangan larut dalam APBD untuk keperluan beli ASPAL

Sebab garis ibu-ibu memiliki jejak

Mendapat asupan gizi, saat janin mulai bertumbuh

Lembah Pau: Kentol 082019

 

 

 

 

Sajak Berkarakter Menggaris Jejak

Apa yang bisa disentuh, ketika sekolah menjadi cacat!

Jika sekolah hanya menyentuh Kognotif

Lantas Psikologis yang memuat karakter

Belum ditempa secara matang

Kita sudah larut dalam mengacungkan kuantitatif lalu melupakan kualitatif

Untuk apa sekolah, jika pulang membawa

Busungkan dada, meninggi diri karena label Sarjana

Sedang masalah Korupsi, Pemerkosaan dan Pencurian

Masih saja termuat dalam kasus

Anak Sekolah Belum Berkarakter

Masihkah kita meninggi diri, saat kakek bertanya

Sebutkan empat pilar kebangsaan lalu

Kita dengan enteng menjawab, saya sudah lupa!

Kata lupa saja, berarti kita belum sepenuhnya menjadi terdidik

Memang dipinta tak bisa usai

Sekolah menjadi dipuja ketika embun-embun jiwa menjelma menjadi bijak

Dalam bertingkah dan berkata

Agust Gunadin: Pecinta Kata di San Camillo, Ketua Kelompok Sastra “Salib Merah”. Beberapa puisi pernah diterbitkan Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah GSS OFM, Galeri Buku Jakarta, Flores Muda dan media onlinenya

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Syukur Budiardjo

mm

Published

on

Wajah, Nama, dan Facebook

Wajahmu di Facebook setelah kulihat
Sekejap membuatku berkeringat
Karena kau tiba-tiba menjadi perempuan
Padahal yang kutahu kau lelaki jantan

Wajahmu di Facebook setelah kutatap
Sekejap membuatku tergagap
Karena kau tiba-tiba menjadi laki-laki
Padahal yang kutahu kau perempuan sejati

Namamu di Facebook setelah kubaca
Sekejap membuatku terkesima
Karena kau mengubah namamu
Untuk menipu atau mengecohku

Rupanya kemajuan dan kegilaan
Tampaknya kini sulit dibedakan
Rupanya kejujuran dan kebohongan
Tampaknya kini sulit dipisahkan

Cibinong, 27 Desember 2013

Telepon Genggam

Telepon genggam
Mencengkeram orang-orang

Telepon genggam
Berjuta tangan menimang
Berjuta pikiran dikekang
Apa dan siapa melenggang

Telepon genggam
Menjelma sebagai berhala

Telepon genggam
Berjuta tangan menjaga
Berjuta pikiran disandera
Apa dan siapa menyapa

Telepon genggam
Memenjara siapa saja

Cibinong, 25 Desember 2013

 

Lidahmu dan Nero

 

/1/

Ketika kau menatapku dengan foto selfie,

juga wajah ayu atau cantik itu barangkali

mata elang tak berkedip walau cuma sekali,

degup jantungku jadi kencang berlari.

Karena kau seolah tepat di depanku berdiri.

 

/2/

Ketika kilatan lidah indahmu itu kau julurkan

dipeluk bibir merah merekah nan menawan,

aku teringat Nero si penjaga rumah mewah kawan.

Anjing herder bermata tajam bertaring menakutkan

menjulurkan lidah kelu dan galau memabukkan.

 

/3/

Wahai, mungkinkah tajamnya matahari siang

menjadi neraka atau setitik air kau harap menjelang.

Atau mungkinkah itu sebuah isyarat menantang

dengan sabar kau menungguku agar segera datang

masuki kamar rahasiamu hingga malam mengguncang.

 

Jakarta, 14 Desember 2015

 

Ada Wajah Gundah Terbaring di Beranda Facebook

Ada air mendidih mengalir di beranda facebook
Memancar keluar dari sepasang mata legam
Penghuni tubuh berbulu lentik beralis kelam
Uapnya menembus layar beraroma mawar yang terpuruk

Ada angin puyuh membadai di beranda facebook
Berkesiur keluar dari bibir merah merekah
Penghuni tubuh bergigi putih berwajah indah
Getarnya menembus layar bernada tangis yang mabuk

Ada paras gundah terbaring di beranda facebook
Membisu kemudian bersujud di telaga kenang
Lewati hamparan duri dan kobar api menjulang
Tubuhnya menembus layar berbalut cinta yang khusuk

Cibinong, 30 Agustus 2015

*) Syukur Budiardjo, Pensiunan Guru Bahasa Indonesia SMP di DKI Jakarta. Dengan suka hati menulis artikel, cerpen, dan puisi di media massa cetak, media online, dan media sosial. Kontributor puisi di sejumlah buku antologi bersama. Buku kumpulan puisi tunggalnya Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (Intishar Publishing, 2018). Selain itu, juga menyusun buku Strategi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (Intishar Publishing, 2018).

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi B.B. Soegiono

mm

Published

on

PINTU KAMAR

 

pintu kamar       adalah hati

yang mempersilahkan siapa saja masuk

kecuali              kamu;

yang pernah tinggal

jadi                   penghuni

akan dijadikannnya abadi

namun             tak sampai.

terseret arus kehidupan

bahkan            tak kembali,

bukan karena mati

bukan karena di makam

bukan karena di penjara

ataupun          disekap

tapi karena telah nyaman

dengan pintu kamar yang baru.

lebih              mewah,

megah,

bersih,

dan tanpa aroma busuk masa depan.

 

Probolinggo, 6 Juni 2019

 

AKU DAN WANITA ITU

 

yang mengganggu pikiranku

semenjak berusia 22 tahun

yang memenjara tubuhku

sampai jadi mayat

adalah kamu

wanita malaikat

yang membunuhku

tanpa menyentuh

urat-urat saraf, seketika macet

ruas-ruas tubuh jadi sumbat

dan selonjor kaki dan tangan

tiba-tiba kaku

tak berani bergerak

atau sebatas berjingkrak

merayakan luka dan duka

jadi darah dan nanah kehidupan

 

kau, wanita itu

kau, yang disebut

sebagai malaikat

ganti profesi

jadi pembantai

 

aku, lelaki itu

aku, yang dimaksud

sebagai korban

tindak kejam

pembantaian

 

ketika darah mengalir cepat

napas hidung masih mengedus

ketika luka kian melebar

tidak kuasa:

badan,

nadi,

dan jantung bergejolak;

memberontak

sampai menodong telinga

yang berdetak, yang berdebar.

 

Probolinggo, 9 Juni 2019

 

KEMATIAN CINTA  I

 

kulihat setiap laju matamu mengintai

dalam arus air dan busa kali watuewu

kadangkala juga memburuku dari sela-sela

rumput yang tenggelam di dasar

dengan batu-batu

ikan-ikan menatapi

saat tengah beranjangsana

mencari sepi

 

lalang-lalang air kau biarkan mati

bahkan sampai membusuk

kicauan burung

dan sayap-sayap tuanya, jatuh perlahan

mengiringi terjun air ke dasar kali

asap dan api jadi tidur di puncak gunung

 

inilah aku di antara itu

dengan cinta yang kini tergusur waktu

dijarah;

dan tak pernah kokoh meski dihimpit

bantaran-bantaran kali

 

daun-daun jati berserakan

batang tinggi menjulang

kupu-kupu kecil

mondar mandir

menatap penuh gelisah

bertegur padaku

yang menangis karenamu

 

matahari membantu membuat hangat

meski tubuh terbaring lemah

karena cinta, kasih, sayang lebur;  jadi masalah

bahkan mencekik pada setiap urat nadi

dan hendak ingin membawa segenap jiwa

melayang-layang di udara

meski akan tersapu juga dengan gibasan angin

dari pohon-pohon sengon

serta sayup kecil

memberontak keluar dari kebun jagung

 

menjadi jarum

menusuk;

menjadi pisau

merombek,

mengiris,

memotong,

urat pembungkus jantung

bahkan sampai ke dasar dada,

ingin menculik namamu

yang telah sekian tahun mengakar

bahkan jadi museum cinta

“ya, itulah yang ingin direbut,

nama dan kasih sayang untuk dipersembahan kepadanya.”

 

tergeletak

mayat hidup

yang kini kosong tanpamu.

meski tetap ditunggu burung-burung pipit

sambil melepas beraknya

di tengah wajah.

 

Resongo, 6 Juni 2019

 

*) B. B. Soegiono, lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, tanggal 11 Oktober 1996. Kini mengembara di Singaraja—

Continue Reading

Trending