Connect with us

COLUMN & IDEAS

Prosa dan Puisi dalam Politik Indonesia

mm

Published

on

“Politik jelas bukan puisi, tetapi kedua bidang itu hidup di atas ambivalensi yang sama. Puisi dan politik berjumpa dalam serba-kemungkinan. Politik, sejak Bismarck, dikenal sebagai seni-kemungkinan (the art of the possible), sedangkan puisi sudah sejak Aristoteles dikenal sebagai dunia-kemungkinan (the world of the possible)”.

Oleh: Ignas Kleden*

Novelis Inggris, Charles Dickens (1812-1870) dikenal antara lain sebagai pengritik sosial yang paling galak terhadap masyarkat Inggris abad ke-19 ketika industri sedang mengembangkan sayapnya. Hampir tidak ada lembaga-lembaga social di negerinya pada masa itu yang luput dan kritik: system hukum, pemerintahan parlementer, system pendidikan, kehidupan keluarga kelas menengah, dan keadaan dan nasib kelas rendahan. Anehnya, dia dapat mengritik setiap orang dan segala hal tanpa membuat seorang pun merasa resah (attacking everybody, agonizing nobody). Sebaiknya, buku-bukunya justru menjadi bacaan yang begitu menggairahkan banyak orang sesudah masa hidupnya. Sekalipun dia mencoba menjadi dickens (setan/sompret) untuk zamannya, para pembaca tetap menggemari sebagai penulis yang mengasyikkan dan dicintai, bukan pengarang yang menjengkelkan dan membuat sakit hati. Kenapa gerangan?

Seorang pengeritiknya yang tidak asing lagi di Indonesia, George Orwell, mencoba memberikan jawaban. Kata Orwell, Dickens memang seorang pengritik masyarakat dan zamannya, tetapi dia bukan seorang yang digerakkan oleh semangat revolusioner. Dia hidup sebagai anggota kelas menengah Inggris yang tidak puas dengan tingkah laku kelas sosialnya. Dickens tidak menolak dan tidak pula membenci system dan masyarakat kapitalis, tetapi mencoba memperbaiki moral orang-orang yang  hidup didalamnya. Yang dikehendaki, bukan kelas proletariat yang bersatu dan memberontak, melainkan agar kelas kapitalis menjadi lebih bermoral. Tipe ideal bagi Dickens bukan masyarakat yang memperjuangkan keadilan sosial dan menegakkan kesamaan, melainkan masyarakat yang penuh dengan orang-orang kaya yang baik dan murah hati. Kritik Dickens, dengan demikian, memenuhi segala syarat yang dikehendaki oleh kritik membangun ala Orde Baru di Indonesia. Efek kritik itu tidak destruktif terhadap apa yang dikritiknya, tetapi justru semakin meneguhkan apa yang sedang dilabraknya. Asumsi Dickens adalah juga asumsi pemerintah Orde Baru: bukan system yang salah, tetapi orang-orangnya yang salah. Maka itu, kalau kelakukan dan cara pikir orang-orang itu diperbaiki, system itu akan dengan sendirinya bekerja untuk kepentingan orang banyak.

Kritik seperti itu, menurut Orwell, adalah kritik moralis, dan, boleh ditambahkan disini, sangat mirip dengan kritik seorang montir mobil. Dia mengecek segala begian yang rusak, membenahi kembali agar mobil itu dapat meluncur lagi di jalanan.

Moralisme seperti ini dari pihak pemikir-pemikir Marxis sering ditolak sebagai ideology, yaitu gagasan yang hanya sanggup mengubah alam pikiran, tanpa harus mengubah situasi sosial di mana seseorang berada, khususnya  situasi sosial yang penuh ketidakadilan. Atau dalam bahasa antropologi modern, yang diubah hanya system simbolik tanpa harus mengubah system social. Dalam arti ini, ideology hanya suatu istilah yang lebih halus untuk apa yang sering dinamakan kesadaran palsu, yaitu kesadaran yang menipu seseorang tentang posisinya dalam struktur social yang ada, kemudian menghilangkan semangat seseorang untuk mengubah struktur yang semula dianggapnya tidak adil. Ideologi dalam pengertian Marxis tidak lain dari semacam penipuan, dengan suatu perbedaan kecil tetapi nyata. Kalau saya menipu teman saya, tetap saya sadar bahwa saya menipu, sedangkan kalau saya berpikir ideologis, saya menipu diri saya dan menipu orang lain tanpa saya sadari lagi bahwa saya sedang melakukan penipuan, bahkan percaya bahwa saya justru berbuat baik kepada orang yang sedang mengalami penipuan saya.

Pemikiran ideologis dalam pengertian ini hanya akan memperkuat status quo karena dia hanya mengubah kesadaran agar membenarkan dan semakin melestarikan struktur social yang ada dan kemudian menghilangkan dorongan dan niat untuk mengubah susunan masyarakat yang dianggap tidak adil. Pengertian opium yang digunakan Marx dalam hubungan dengan agama dapat dipahami dalam hubungan ini. Dalam arti yang diperluas, pengertian opium dapat diterapkan pada semua pemikiran yang bersifat ideologis.

Untuk kembali ke jalan pikiran Orwell, dapat kita bertanya secara iseng atau sungguhan apakah reformasi yang dicanangkan pada tahun 1998, sesuatu yang bersifat revolusioner atau bersifat moralis? Pada titik ini, kita dapat melihat kelemahan dari gagasan Orwell tersebut, karena dari pengalaman selama satu setengah tahun reformasi di Indonesia menjadi jelas, bahwa sesuatu yang oleh Dickens dianggap hanya bersifat moralis, untuk kasus di Indonesia dapat menjadi amat revolusioner dalam akibatnya. Kesulitan dengan Indonesia pada saat ini disebabkan, antara lain banyak lembaga telah diubah dan diperbarui, bahkan diciptakan lembaga-lembaga baru, seperti Dewan Ekonomi Nasional dan sekarang ini Komisi Hukum Nasional. Namun kita belum bisa banyak berharap bahwa alam pikiran orang sudah berubah sebagaimana dituntut oleh reformasi.

Ini juga bukti kelemahan dari tesis umum para Marxis bahwa begtu struktur social berubah, pikiran dan hati orang juga akan berubah. Pers Inodnesia misalnya, mengalami perubahan yang relative structural sifatnya karena dia tidak lagi dikuasai negara, tetapi sepenuhnya kini berada di tangan masyarakat. Namun, belum bisa dikatakan bahwa mutu pers menjadi lebih meningkat sekarang atau mengalami sesuatu yang secara kualitatif berbeda dengan pers menjadi lebih meningkat sekarang atau mengalami sesuatu yang secara kualitatif berbeda dengan pers sebelum reformasi. Tidak setiap orang siap pada waktunya untuk menghadapi dan menggunakan kebebasan yang begitu leluasa sekarang. Ibaratnya, orang yang terbiasa memegang uang hanya beberapa puluh ribu, sekonyong-konyong memegang ratusan juta di tagannya, dan tidak sanggup memanfaatkan uangnya secara produktif selain meningkatkan konsumsi dan belanja saja. Sikap new rich dalam gaya hidup sebetulnya dapat dibandingkan dengan new free dalam budaya politik.

Reporter yang tiba-tiba menikmati kemerdekaan yang jauh lebih besar tidak selalu siap mempergunakan kebebasan itu untuk melakukan investigasi langsung secara lebih serius dan mendalam, tetapi mulai dengan menyebarkan kabar dan kasak-kusuk yang tidak jelas sumbernya. Pada masa Orde Baru, ucapan pejabat dan para pakar memang menjadi sumber berita. Ini dapat dimaklumi, karena dalam banyak hal, para wartawan dan reporter tidak dapat memperoleh akses langsung ke sumber-sumber primer untuk suatu beritanya. Maka kelompok yang dianggap lebih dekat dengan sumber-sumber primer tersebut dijadikan andalan, yaitu para pejabat dan para pakar. Keadaan sekarang sudah berubah sama sekali, ketika para wartawan dapat menerobos ke mana saja untuk mendapatkan keterangan tangan-pertama tentang suatu berita atau sebuah isu. Namun, karena budaya professional ini belum berubah, tetap saja ucapan pejabat dan komentar para pakar dikejar-kejar sebagai berita. Rosihan Anwar sudah lama mengatakan bahwa berita-berita dalam surat kabar kita lebih banyak bersifat opinionated news daripada hard news. Daripada mendapatkan keterangan tentang apa yang sesungguhnya terjadi, pembaca korang justru disuguhi cerita tentang apa kata si pejabat A atau si pakar B tentang apa yang terjadi, seakan pembaca tidak bisa berpikir sendiri tentang kejadian tersebut.

Puisi dan Politik

Puisi dan politik memang dua bidang yang amat berbeda. Dalam jargon yang lama, yang satu dianggap bidang yang mengolah kemurnian sikap, dan ini kemudian diharapkan membersihkan semua kekotoran yang harus terjadi dalam bidang lainnya. Dengan dasar itu, misalnya, John F. Kennedy membaca Longfellow dan John Greenleaf Whittier, atau Soe Hok Gie membaca Walt Whitman dan Chairil Anwar. Mungkin baru belakangan kita belajar dari para teoretisi post-kolonial bahwa hubungan antara politik dan puisi bukan hanya “hubungan kesucian”,  melainkan lebih merupakan hubungan interaksi biasa.

Puisi menjadi hidup karena ambivalensi maknanya dapat ditarik ke titik yang satu atau ke titik yang lain. Dari satu sajak yang sama, tiap orang dalam keadaan yang amat berbeda dan bahkan bertentangan, dapat memperoleh makna yang cocok dan relevan untuk situasi masing-masing. Denotasi bahasa prosa yang tunggal-makna, ditransformasi menjadi konotasi bahasa puisi yang aneka makna.

Politik jelas bukan puisi, tetapi kedua bidang itu hidup di atas ambivalensi yang sama. Puisi dan politik berjumpa dalam serba-kemungkinan. Politik, sejak Bismarck, dikenal sebagai seni-kemungkinan (the art of the possible), sedangkan puisi sudah sejak Aristoteles dikenal sebagai dunia-kemungkinan (the world of the possible).

Kesulitan dengan politik Indonesia selama ini bahwa perubahan politik dan perubahan sosial, lebih cenderung dipahami secara prosaik dan bukan secara puitis. Perubahan sosial yang muncul, dilihat secara tunggal-makna dan bukannya secara aneka-makna dan ini membawa berbagai akibat. Yang jelas, persepsi prosaik tehadap politik menyebabkan munculnya harapan tunggal yang berlebihan, dan lemahnya antisipasi terhadap kemungkinan sebaliknya dari yang semula diharapkan. Kaum post-kolonialis adalah kelompok ilmuwan sosial yang secara khusus mendalami masalah ini dengan penuh keterlibatan dan rasa gelisah.

Dalil yang mereka temukan: bahwa setiap konstruksi sosial (misalnya sistem politik Orde Baru) bersifat ambivalen dan setiap dekonstruksi  (misalnya perubahan politik oleh reformasi 1998) mengandung ambivalensi yang sama banyak dan sama kuat.

Sebagai contoh, patriarki merupakansebuah konstruksi social yang menjadi sasaran serangan dan dekonstruksi kaum feminis. Namun, kalau seluruh focus perjuangan kaum feminis terus-menerus dipusatkan pada patriarki saja, maka dengan itu patriarki justru selalu ditempatkan pada titik sentral perhatian, diperkuat kedudukannya, malahan menjadi semakin penting, sekurang-kurangnya menjadi penting sebagai sasaran gempuran dan pokok pembicaraan dan diskusi. Usaha menghapuskan patriarki dari teks kebudaaan manusia, dalam tahap akhirnya justru menghasilkan suatu efek yang tak terduga, yaitu efek patriarchy writes back, yang dalam pesedan kaum post-kolonial lalu berarti patriarchy writes back.

Dialektika moral antara baik dan jahat mendapatkan padanan dalam dialektika sosial-politik antara dekonstruksi dan rekonstruksi. Tidak ada konstruksi social yang demikian ketat wujudnya sehingga tidak memungkinkan peluang untuk melemahnya atau bahkan kehancuran dirinya melalui suatu proses dekonstruksi dari dalam atau dari luar. Dalam pembentukan struktur social terdapat juga semacam point of diminishing return.  Sebaliknya, tidak ada proses dekonstruksi yang demikian tuntasnya, sehingga tidak memungkinkan lagi bertumbuhnya benih-benih kekuatan lama yang tengah dihancurkan. Persoalannya, proses ini berlangsung tidak selalu dalam hubungan dengan niat dan harapan dari orang-orang yang terlibat dari prose situ, dan seandainya pun disadari, tidak selalu dapat mereka kuasai. Sifat aneka-makna dalam puisi mendapatkan padanan dalam sifat aneka-daya dalam politik.

Bagi kita di Indonesia pada saat ini yang tiap hari menghadapi pasang-surut perkembangan reformasi dari hari ke hari, cara membaca politik Indonesia sebagai sebuah teks prosa atau puisi akan menentukan tingkat antisipasi terhadap berbagai ketakterdugaan, dan tingkat realism menghadapi the unintended results dalam reformasi. Setelah lewat beberapa waktu, keadaan ini lebih mudah dipahami dan dijelaskan.

Reformasi 1998 telah muncul sebagai gelombang besar yang menyapu semua yang ditemuinya ke tepi pantai: perahu nelayan, perlengkapan berselancar, kapal penumpang, anak-anak yang lagi berenang atau sampai dan daun kambangan, tetapi sekaligus merenggut semua yang ada di daratan ke tengah laut pohon kelapa, rumah penduduk, hewan liar, bahkan orang-orang yang kebetulan berada di pesisir. Pada saat munculnya, reformasi menjadi tempat pertemuan dari demikian banyak kekuatan. Secara mudah semua kekuatan ini dapat dibedakan ke dalam dua kelompok utama. Pertama, mereka yang menerima reformasi sebagai tujuan yang harus dicapai dan tugas yang harus dijalankan. Kedua, mereka yang memanfaatkan reformasi sebagai kesempatan untuk mencapai tujuan yang lain sama sekali dari cita-cita reformasi.

Kedua pihak ini berusaha membangun konstruksi sosialnya masing-masing dengan menghancurkan konstruksi politik Orde Baru. Kecemasan pihak pertama adalah jangan-jangan konstruksi politik Orde Baru itu menguat kembali dan mengalahkan cita-cita reformasi. Ini kecemasan yang selalu dibungkus dengan istilah kembalinya status quo. Kecemasan pihak kedua adalah jangan-jangan kesempatan reformasi ini lebih menguntungkan pihak lain, yang barangkali juga mempunyai agenda sendiri dalam memanfaatkan momentum reformasi ini, tanpa merasa terikat kepada cita-cita reformasi yang mana pun. Ini kecemasan yang selalu dibungkus oleh retorika tentang adanya kelompok-kelompok yang ingin menyelewengkan reformasi dari tujuan semula.

Yang sama dalam kecemasan kedua pihak itu bahwa konstruksi social mana pun, pada tahap tertentu, akan berjalan dengan dinamika sendiri, dan tidak selalu bisa dikendalikan sesuai dengan desain para perencana social atau keinginan para aktivis politik. Ini dilemma kaum post-modernis yang demikian menekankan peranan actor (agencies) dalam perubahan social dan pembentukan kebudayaan, tetapi kemudian lalai atau sengaja menolak melihat momen obyektif dalam seluruh prose situ, ketika konstruksi social yang dibangun akan bergerak dengan tenaga sendiri dan tidak selalu memperlihatkan kepatuhan pada rencana atau keinginan yang telah melahirkannya. Bahkan kebetulan kalau para penganut teori konspirasi, misalnya, bingung menghadapi gejala ini dan kemudian berteriak tentang adanya provokator yang tak pernah sanggup ditemui atau ditangkap, karena “provokasi” itu muncul dari proses konstruksi social itu sendiri, dan bukan dari niat jahat atau keisengan siapa-siapa. (*)

—————————————————-

IGNAS KLEDEN:
Atau Dr. Ignas Kleden, M.A. (lahir di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948; umur 68 tahun) adalah sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra berkebangsaan Indonesia. Dia merupakan salah satu penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2003 karena dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan tajam melalui esai dan kritik kebudayaannya.

Ignas Kleden lahir dan besar di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948. Sempat bersekolah di sekolah calon pastor berkat lulus dengan predikat terbaik di sekolah dasar. Namun keluar dari sekolah tersebut lantaran tidak dapat berkhotbah dengan baik. Lalu ia memilih menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT Ledalero, Maumere, Flores (1972), meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (1982), dan meraih gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman (1995). Ketika masih di tinggal Flores, ia sudah mengenal majalah Basis Yogyakarta dan rutin mengirimkan tulisannya ke majalah itu. Dia juga menulis artikel di majalah Budaya Jaya Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah Tempo. Ignas juga pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores.

Setelah hijrah ke Ibu Kota, tahun 1974, Ia makin aktif menulis, baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolumnis tetap majalah Tempo. Sempat pula bekerja sebagai editor pada yayasan Obor Jakarta (1976-1977), Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta (1977-1978), dan Society For Political and Economic Studies, Jakarta.Tahun 2000 turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur, yang mengkaji penguasaan beberapa bahasa asing, teologi, filsafat, dan sosiologi banyak membantu peningkatan kariernya. Esainya mengenai sastra dimuat di majalah Basis, Horison, Budaya Jaya, Kalam, harian Kompas, dan lain-lain. Buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997) juga memuat esainya, Simbolis Cerita Pendek. Tahun 2003, bersama sastrawan Sapardi Djoko Damono, menerima Penghargaan Achmad Bakrie. Ia dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tajam lewat essai dan kritik kebudayaannya. (*)

COLUMN & IDEAS

“Salah Pilih” Puisi dan Anak

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Dulu, kita di TK sering bertepuk tangan dan bersenandung. Setiap hari bermain dan bergembira. Pasti! Di TK, bocah-bocah diajak belajar belum mengacu ke serius-serius. Mereka mengerti binatang, tumbuhan, kata, angka, langit, dan lain-lain cenderung dengan bermain, belum menanggungkan kaidah-kaidah ketat keilmuan. Peristiwa menggirangkan tentu bersenandung. Selama di TK, bocah-bocah mengenal dan menghapal puluhan lagu tanpa guru mengumumkan nama para penggubah: Ibu Sud, Pak Dal, Pak Kasur, atau AT Mahmud. Nostalgia di TK adalah bersenandung merdu atau teriak-teriak menjadikan lagu berantakan.

Bandung Mawardi, Esais.

Lagu memang cespleng mengenalkan dan mengantarkan bocah-bocah ke pelbagai pengertian. Guru pun memiliki peristiwa mengajak bocah berpuisi meski gairah tak semeriah lagu. Kita mungkin lupa atau sulit melacak lagi episode belajar membacakan puisi diajarkan oleh guru atau orangtua. Puisi belum keutamaan di TK. Pengingat puisi mungkin bocah ditunjuk guru ikut dalam lomba deklamasi. Puisi kadang dibacakan dalam pentas seni atau peringatan hari-hari nasional. Kita menduga bocah sulit mengingat kata-kata dalam puisi dibandingkan lagu.

Pada 1992, terbit buku berjudul Kumpulan Sajak untuk Anak TK. Buku tipis terbitkan Depdikbud. Buku mustahil tercatat dalam sejarah sastra Indonesia, tersingkir dari perbincangan arus kesusastraan anak di Indonesia. Buku itu “milik negara, tidak diperdagangkan.” Cap mengartikan buku-buku lazim berada di perpustakaan atau pihak-pihak berkepentingan. Para pengarang berlagak berpihak ke pengajaran sastra terduga tak meminati dan memiliki buku bersampul warna hijau tanpa gambar. Buku itu pasti bukan referensi penting bagi Taufiq Ismail, dosen-dosen di jurusan sastra, pengamat bacaan anak, atau kritikus sastra.

Buku terbitan di masa Orde Baru tentu wajib turut dalam capaian pembangunan nasional. Bocah-bocah diajak berpuisi tapi “dipatuhkan” oleh petunjuk-petunjuk cenderung politis ketimbang estetis. Bocah memang tak lekas merasakan tapi tata cara mengajarkan puisi mengikuti alur bentukan situasi pendidikan nasional cap Orde Baru. Misi mengajarkan puisi adalah pengembangan: Pendidikan Moral Pancasila; perasaan, kemasyarakatan, dan kesadaran lingkungan; pengetahuan; jasmani dan kesehatan.

Buku disusun oleh tim. Kita tak bakal mengetahui nama-nama penggubah puisi-puisi dimuat dalam buku. Kita mengutip puisi berjudul “Indonesia” berimajinasi kepulauan: Alangkah banyak pulaumu/ Tak dapat aku menghitungnya/ Tapi ada lima yang kau tahu/ Pulau yang besar di Indonesia// Pulau Sulawesi, pulau Jawa/ Pulau Kalimantan dan Sumatera/ Yang akhir Irian Jaya/ Itulah Indonesia. Guru mungkin mengajarkan sambil menunjuk peta Indonesia di dinding kelas.

Ada puisi bertema makanan berjudul “4 Sehat 5 Sempurna”. Dulu, propaganda pemerintah menginginkan jutaan orang sehat. Sekolah, puskemas, dan posyandu bertugas mengumumkan “4 sehat 5 sempurna” dengan poster atau pidato. Di TK, bocah-bocah menikmati puisi: Sayuran makanan yang bergizi/ Telur, daging, tempe dan tahu/ Jangan lupa buah dan nasi/ Ditambah dengan segelas susu. Masalah besar adalah susu dan buah. Di keluarga-keluarga miskin dan sederhana saat Orde Baru mementaskan muslihat kemakmuran, usaha mengadakan buah dan susu di atas meja itu sulit. Pengecualian di keluarga pejabat, pegawai, atau saudagar. Puisi agak memicu masalah imajinasi dan pengalaman bocah dari keluarga-keluarga miskin. 

Pada masa berbeda, institusi bahasa di naungan pemerintah ingin membuktikan melakukan kerja riset dan publikasi bertema sastra anak. Ikhtiar mengarah ke pendidikan-pengajaran sastra di sekolah. Buku mungkin ingin terbedakan dari selera kebijakan-kebijakan masa Orde Baru. Pada 2003, terbit buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak disusun oleh Suyono Suyatmo, Joko Adi Sasmito, dan Erli Yati. Mereka berpredikat pegawai bahasa di instansi pemerintah.

Kita membaca kutipan penjelasan pejabat dicantumkan di buku sepanjang dua halaman: “… Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia, secara berkesinambungan menggiatkan penelitian sastra dan penyusunan buku tentang sastra dengan mengolah hasil penelitian sastra lama dan modern ke dalam bentuk buku yang disesuaikan dengan keperluan masyarakat, misalnya penyediaan bacaan anak, baik untuk penulisan buku ajar maupun untuk keperluan pembelajaran apresiasi sastra. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka akan semakin mengenal bentuk keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.” Kalimat-kalimat khas pejabat tapi wajib ada dalam buku-buku jarang bermutu.

Buku ingin berfaedah tapi mengandung masalah. Tim memiliki dalil-dalil pemilihan puisi dalam apresiasi sastra untuk anak: “Puisi yang menampilkan hal-hal yang akrab dengan dunia anak-anak ataupun hal-hal lain yang bisa diterima oleh kalangan anak-anak; Puisi yang secara estetis cukup bernilai tinggi sehingga memperkenalkan dan mengakrabkan pembaca anak-anak pada puisi yang berkualitas.” Tim sudah bekerja keras dalam mencari sumber-sumber bacaan dan bermufakat dalam seleksi puisi. Semua disajikan di buku menantikan pendapat para pembaca.

Kita menduga tim sulit mencari buku-buku puisi (selera) anak sudah diterbitkan sejak masa kolonial sampai masa 1990-an. Dulu, ada puluhan buku cap Inpres adalah buku puisi, tak selalu novel atau kumpulan cerita. Majalah-majalah memuat puisi anak tercatat puluhan: Kunang-Kunang, Si Kuntjung, Gatotkaca, Taman Putra, Ananda, Kawanku, Bobo, dan lain. Koran-koran pun memiliki rubrik puisi anak. Tim sengaja membatasi pilihan sumber atau gagal dalam lacakan sumber.

Buku bermisi apresiasi sastra untuk anak itu malah membuat komposisi: 80% gubahan orang dewasa dan 20% gubahan anak. Kekagetan dalam daftar puisi gubahan kalangan dewasa. Di situ, anak-anak disuguhi puisi-puisi gubahan Amir Hamzah, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, Hammid Jabbar, A Mustofa Bisri, dan lain-lain. Pilihan itu berpengaruh dalam lomba-lomba membaca puisi untuk murid-murid SD. Mereka membacakan puisi-puisi gubahan orang dewasa dengan pengucapan dan gerak “dipaksa” dewasa. Keluguan dan keriangan anak terlalu cepat diselerakan dewasa. Panitia lomba atau dinas-dinas pendidikan tak terlalu mengurusi masalah kepantasan dan kenikmatan puisi-puisi bagi murid-murid SD.

Di situ, dimuat puisi berjudul “Nyanyian Preman” gubahan Rendra. Anak-anak membaca: Wajahku disabet angin jadi tembaga./ Ketombe di rambut, celana kusut./ Umurku ditelan jalan dalam kembara./ Impian di rumput cerita butut// TKW/ Susu macan./ Ijazah SD/ Pengalaman// Adresku pojokan jalan tapi merdeka./ Hidupku bersatu bersama rakyat./ Jiwaku menolak menjadi kuku garuda./ Hatiku setia meskipun cacat.// Kugenggam nasibku mantap tanpa sesalan./ Bapakku mentari bundaku jalan./ Hidupku berlangsung tanpa buku harian./ Berani konsekuen pertanda jantan. Pada masa Orde Baru, puisi itu pernah digarap menjadi lagu oleh Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, dan lain-lain. Kita mengandaikan saja guru dan murid membaca puisi Rendra sambil “kebingungan” dan sulit menuruti penasaran-penasaran mengacu ke situasi anak.

Buku itu terbit, tak diketahui diminati atau berpengaruh dalam pendidikan-pengajaran sastra anak. Kita mendingan menilik ulang masalah sastra anak. Sekian tahun, perbincangan atau ulasan sastra anak sering prosa ketimbang puisi. Penerbitkan buku-buku anak di Indonesia pun berlimpahan prosa. Burhan Nurgiyantoro dalam buku berjudul Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) menggunakan pelbagai referensi asing menjelaskan ulang: “Puisi anak juga memiliki karakteristik yang identik dengan sastra anak: pengungkapan sesuatu dari kacamata anak. Sebagaimana halnya dengan puisi dewasa, puisi anak juga ditulis dengan seleksi kata yang ketat, pendayaan metafora dan citraan untuk menggambarkan imajinasi, memori, dan emosi.”

Kita bakal bertele-tele memahami dan menambahi penjelasan untuk memasalahkan kehadiran puisi-puisi gubahan para penulis moncer dalam buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak. Kita semakin membuktikan sedikit buku mau berpihak ke puisi anak. Artikel dan buku membahas prosa anak sering terbaca, berbeda nasib dengan puisi. Begitu.   

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Marah: Cerita dan Berita

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Bocah itu sasaran marah. Album biografi memiliki bab-bab awal sebagai bocah dimarahi bapak atau ibu. Bocah mungkin bersalah diganjar marah. Bocah tak bersalah kadang terkena marah. Episode menjadi bocah sudah mengalami dan mencipta ingatan-ingatan marah. Pada saat “pementasan” kemarahan, bocah memilih diam, menangis, atau membalas dengan omelan-omelan. Marah itu peristiwa “dramatis” di pembentukan diri bersama keluarga, teman, guru, dan orang-orang pernah bersama si bocah membuat bab-bab biografis.

*) Bandung Mawardi, Esais.
Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Marah memiliki tata cara? Sekian orang menganggap marah tak memiliki kaidah dan urutan. Marah sering mendadak atau “meledak” dalam usaha memendam di hitungan detik, menit, jam, dan hari. Bahasa dan gerak saat marah dimiliki si pemarah tanpa wajib mengikuti petunjuk di sekolah, kursus, les, atau pelatihan secara “profesional”. Pemarah itu aktor. Ia pun mengumbar kata-kata sulit dipelajari melalui tata bahasa formal dan berpijak di kamus-kamus. Kata-kata dalam marah justru peristiwa bahasa mengejutkan tapi mendebarkan bila terduga berdampak fatal.

Kita ingin membaca (lagi) rekaman-rekaman marah dalam gubahan sastra. Pilihan memang mengandung imajinasi. Kita membaca dengan tokoh dan latar berbeda, menginginkan penemuan mutu atau selera marah. Kita mulai dengan buku cerita berjudul Tono dan Tini (1979) gubahan Annie MG Schmidt. Buku cerita disimak bocah-bocah di Belanda, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Alma Evita Almanar. Pada hari hujan, Tono dan Tini cuma bisa bermain di dalam rumah. Ibu Tono menganjurkan dua bocah itu menikmati waktu dengan menggunting gambar-gambar bagus di buku sudah tak dipakai. Gunting dan 3 buku diberikan ke mereka. Tono dan Tini senang menggunting beragam gambar.

Hujan belum reda, mereka masih ingin menggunting dan mengoleksi gambar. Tono melihat buku-buku di lemari koleksi bapak. Ia sengaja mengambil lagi buku-buku di bagian bawah. Tiga buku tadi sudah habis digunting. Mereka ingin buku-buku lagi, menambahi kegembiraan menggunting. Sekian buku menjadi sasaran penggutingan. Dua bocah girang dan saling pamer. Meni-menit berganti, bapak Tono datang tercengang. Tono dan Tini menggunting, kertas-kertas sisa guntingan dari buku-buku berserakan. Bapak marah melihat buku-buku penting ikut diguntingi. Bapak pun berteriak. Marah! Tono dan Tini berhenti, gunting lepas dari tangan. Pengarang menceritakan: “O, dia sangat marah! Alangkah marahnya dia!” Tono sedih sekali dimarahi. Pada malam hari, Tono tak dibacakan buku oleh bapak. Konon, Tono mendapat hukuman. Rumah memang tempat “pementasan” marah mungkin terjadi setiap hari. Tono mengerti berbuat salah. Marah itu memastikan pihak bersalah. Hukuman pun wajar.

Kita bergerak ke Tiongkok, membaca marah di keluarga miskin berlatar Revolusi Kebudayaan. Marah diceritakan dalam novel berjudul Kisah Seorang Pedagang Darah (2015) gubahan Yu Hua, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo. Kemarahan biasa terjadi setiap hari dengan pelbagai pemicu. Tiga bocah hidup dalam “roman” kemarahan dicipta bapak dan ibu. Marah mengartikan mengingatkan, mendidik, merendahkan, melukai, dan lain-lain. Tokoh bapak dalam novel memiliki kebiasaan marah dengan parade kata mengejutkan. Kita cuma membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia. Kemarahan bapak pada anak: “Kamu genjik cilik. Kamu telur kura-kura cilik… Suatu hari nanti kamu pasti bakal bikin aku mati marah-marah.” Kemarahan akibat makanan, sikap, pekerjaan, politik, atau asmara “diselenggarakan” di rumah. Sekian kata “aneh” itu mengesankan kemarahan memiliki referensi kata dan khazanah kata terwariskan. Pemarah bisa mengumbar kata-kata lugas atau sejenis metafora. Pembaca novel Yu Hua menemukan sekian “pementasan” kemarahan khas dalam kata.

Kita memiliki dua bacaan mengandung marah berasal dari Belanda dan Tiongkok. Kita menemukan tokoh bocah terkena marah. Kesalahan bocah mudah menghasilkan marah. Konon, orangtua berdalih marah untuk memberi “pelajaran” atau membuat si bocah kapok. Marah terasakan serbuan tanda seru. Suara keras, pilihan kata, dan wajah membuat marah itu “bermakna”. Marah itu “api”, “letusan”, “ledakan”, atau “gempuran”. Marah pun menerbitkan sumpah atau kata-kata bertuah “mengundang” petaka. Di hadapan buku cerita atau novel, kita belajar marah di pelbagai peradaban. Kita perlahan mengerti sejarah peradaban besar disahkan kemarahan-kemarahan. Arus peradaban di Yunani, India, Tiongkok, Persia, Mesir, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, dan lain-lain pasti memiliki bab-bab marah dengan daftar para tokoh kondang: raja, ratu, jenderal, pengarang, saudagar, filosof, seniman, buruh, dan lain-lain. Kemarahan melegenda dalam album peradaban dunia. Marah mengubah arah kekuasaan. Marah memicu duka dan darah dalam masalah agama. Marah pun bermula dari asmara membuat orang-orang bergelimpangan.

Novel penting bercerita marah digubah oleh Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart, diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Segalanya Berantakan (1986). Ungkapan dan dampak kemarahan dalam novel menguak sejarah rumit Afrika. Kehidupan suku guncang gara-gara kedatangan “orang kulit putih” membawa misi-misi besar: agama, bisnis, pendidikan, kekuasaan. Novel mengajak pembaca ke halaman-halaman bercerita antropologis. Kemarahan melanda keluarga-keluarga di suku mengakibatkan petaka-petaka. Pembaca mafhum “berantakan” bermula dari salah paham, penghinaan, pelanggaran, atau penindasan Marah dilancarkan sebagai konsekuensi melawan, balasa dendam, putus asa, dan lain-lain. Marah di Afrika itu menggerakkan sejarah: ditolak dan diterima. Buku sejarah sering memiliki halaman-halaman marah. “Berantakan” dari ratusan tahun lalu belum berakhir.

Kita sudah mengingat tiga buku, berusaha mengerti marah di Belanda, Tiongkok, dan Afrika. Buku-buku cerita tak bermaksud menjadi sumber pelajaran sejarah secara “resmi”. Kita membaca dan mengutip saja dalam membuka ingatan-ingatan kemarahan berlangsung di pelbagai negeri, dari masa ke masa. Kita sengaja belum ingin membaca buku-buku cerita gubahan pengarang Indonesia dalam menguak makna dan dampak marah. Buku-buku biar tetap tertutup, menunggu saat paling tepat untuk terbaca dengan tenang.

Konon, orang-orang Indonesia sedang dihebohkan kemarahan tokoh berdampak ke ikhtiar penanggulangan wabah dan pemulihan nasib Indonesia. Kemarahan itu anggaplah “resmi” berkaitan kekuasaan dan pemenuhan amanah sudah diberikan dalam tata cara berdemokrasi, sekian tahun lalu. Kita tak lagi berurusan dengan fiksi tapi fakta. Kemarahan itu ditonton jutaan orang, menimbulkan tafsir-tafsir mungkin memberi pujian atau ledekan. Kemarahan pun menjadi berita di koran-koran terbit 29 dan 30 Juni 2020. Kita pastikan membaca berita-berita, bukan cerita-cerita bergelimang imajinasi. Wabah belum rampung, kita sibuk “bergosip” dengan tema marah. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Emha, Satra dan Pengakuan

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi *)

Semula, orang-orang mengenali Emha Ainun Nadjib di sastra. Para pembaca majalah Horison masa lalu sering membaca puisi dan cerpen gubahan Emha Ainun Nadjib. Majalah itu tercatat dalam biografi tokoh telah menua. Kini, ia masih lantang saat omong dan sregep menulis. Leren atau tamat tak tercantum dalam “kamus” milik Emha Ainun Nadjib. Di toko buku, kita memastikan puluhan buku Emha Ainun Nadjib menggoda orang untuk membeli dan membaca. Buku lama cetak ulang. Buku baru pun terbit. Di situ, kita membaca nostalgia dan kecenderungan mutakhir ibadah keaksaraan Emha Ainun Nadjib dengan pelbagai ke-mbeling-an dan kesantunan.



Muhammad Ainun Nadjib (born 27 May 1953), best known as Emha Ainun Nadjib or Cak Nun, is an Indonesian poet, essayist, and humanist. Born in JombangEast Java, Nadjib began writing poetry while living in Yogyakarta, publishing his first collection in 1976. He became one of the city’s predominant poets by the late 1980s, and by then had also began writing essays. He is the leader of the Kiai Kanjeng group, which stages dramas and musical performances on religious themes. Early poems by Nadjib have elements of social criticism. However, more prominent are Islamic values, variously described as santri or Sufi. Islam is also a common subject for his essays. His writings have taken a variety of forms, including poetry, essays, novels, and short stories. (Wikipedia)

Keranjingan bersastra memiliki kaitan dengan Horison, sebelum Emha Ainun Nadjib sering menulis kolom di pelbagai koran dan majalah. Kita ingin menghormati Emha Ainun Nadjib saat ulang tahun dengan mengingat babak pergulatan dan pergaulan sastra masa lalu. Di Horison edisi Oktober 1991, kita simak hasil wawancara bersama Emha Ainun Nadjib. Ia tak melulu di sastra. Emha Ainun Nadjib terbukti mumpuni pula di teater dan musik. Ia rajin berceramah atau membuat obrolan-obrolan bertema agama di pelbagai tempat. Sastra mungkin masih pijakan atau titik mula.

Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu acara”. Sibuk! Ia kangen bersastra tapi harus berhitung dengan segala peristiwa dan perjumpaan manusia di keseharian. Ia mengaku ingin “menjadi sastrawan kembali”. Sulit! Kita simak perkataan Emha Ainun Nadjib berlatar 1980-an dan 1990-an: “Tapi sebenarnya bertahun-tahun saya hampir tak punya peluang bersastra-sastra ria. Artinya, ragam kegiatan saya yang ‘disusun’ oleh orang banyak kurang toleran terhadap berlangsungnya metabolisme kreativitas sastra saya.” Ia tak mengeluh atau pamer sesalan telah berada dan mengalami pelbagai peristiwa di luar sastra. Sekian kegiatan memang semakin jarang berkategori sastra. Emha Ainun Nadjib telah milik umat beragam tema, tak cuma sastra. Orang-orang memang mulai terpikat dan menganggap Emha Ainun Nadjib itu kolomnis tanpa tanding. Tulisan-tulisan menggairahkan opini publik bersikap atas keadaan aktual. Sastra masih disinggung tapi menipis.

Tarik-ulur dalam menempatkan diri untuk pergulatan keaksaraan dan omongan masa 1990-an memicu dilema. Emha Ainun Nadjib memilih berkelakar: “Yang menyangkut sastra adalah keinginan saya agar kelak saya sanggup merepresentasikannya melalui bahasa sastra. Tapi susah, ya? Sastrawan itu pasti kekasih gelap Tuhan, diizinkan dilalui oleh keindahan-Nya.” Sekian orang tetap membaca puisi-puisi gubahan Emha Ainun Nadjib terbit menjadi buku berjudul 99 Untuk TuhankuSyair Lautan JilbabSeribu Masjid Satu JumlahnyaCahaya Maha Cahaya, dan lain-lain. Di mata kalangan sastra, Emha Ainun Nadjib itu pujangga religius dengan memberi bobot kritik sosial dan sikap-sikap kemanusiaan. Ia tak perlu dipaksa masuk dalam kategori menghasilkan sastra sufistik, sastra profetik, atau sastra transendental.

Pada masa 1970-an dan 1980-an, diskusi sastra dan penulisan kritik sastra menempatkan para pujangga dan buku puisi dalam kategori-kategori mengarah ke keagamaan. Publik membaca dan memberi predikat pada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan lain-lain. Di pelbagai perbincangan sastra, nama Emha Ainun Nadjib mungkin disebut tapi ia perlahan tak terlalu “terpandang” dalam gejolak kesusastraan Indonesia. “Saya bukan apa-apa, belum ‘seseorang’ dalam dunia sastra Indonesia,” pengakuan Emha Ainun Nadjib.

Pendapat atau pengalaman bersastra Emha Ainun Nadjib selama sekian tahun terbit menjadi buku berjudul Sastra yang Membebaskan (1984). Buku kecil bekertas buram. Kita membaca (lagi) sebagai pembukti ingatan masa keranjingan bersastra, sebelum Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu peristiwa” dan harus “merebut” kewaktuan untuk sastra di masa 1990-an. Tulisan-tulisan dokumentatif dan menjelaskan posisi Emha Ainun Nadjib sebagai penggubah atau pengamat sastra.

Emha Ainun Nadjib menerangkan: “Sejak awal 1982, kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekadar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu pilah modern, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur modern, tumbuhnya solidaritas-solidaritas dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” Sastra “diwajibkan” terbuka, tak sendirian atau dalam pengistimewaan tanpa jamahan atau keterjalinan dengan hal-hal lain.  

Pada 2020, Emha masih menulis beragam tema. Wabah pasti dituliskan dengan kelenturan sikap dan acuan. Orang-orang merasa berhak memberi penghormatan meski tanpa acara besar dan menghebohkan. Situasi tak memungkinkan, Emha Ainun Nadjib mungkin tak menginginkan. Di hadapan kita, Emha Ainun Nadjib telah berubah menandai tua. Wajah itu masih ganteng dan berwibawa dengan sekian kerut. Ketuaan mustahil menghentikan ibadah menulis dan membuat obrolan-obrolan di seantero Indonesia. Ia belum letih. Emha Ainun Nadjib belum ringkih.

Kita mengingat masa muda bersatra di Jogjakarta melalui pengakuan Emha Ainun Nadjib: “Kompetisi yang ketat, suatu perjalanan penuh api, hidup koyak sekolah terbengkalai, hingga akhirnya tiba di sampai ke sampai, meskipun tak akan pernah selesai…. Di Pelopor Yogya ketika itu, suatu hari, puisiku tiba-tiba telah terpasang di ruang ‘Sabana’, suatu tempat tinggi yang di perasaanku waktu itu bagaikan di Arsy. Sesudah membeli sebiji koran itu rasanya ingin aku berlari ke setiap jakan dan gang-gang di kampung-kampung seluruh Jogjakarta untuk melaporkan puisiku.” Kegirangan seorang muda ingin mendapat tempat di sastra, setelah tekun belajar dan mendapat pengasuhan dari Umbu Landu Paranggi. Ia merasa sah sebagai pujangga.

Pulang ke Jombang, Emha Ainun Nadjib mengumumkan ke ibu mengenai puisi di Pelopor Yogya. Puisi tak setinggi pemaknaan bagi ibu dan keluarga. Emha Ainun Nadjib terkejut melakukan kesalahan dugaan dan pengukuran. Ia pun menceritakan pada kita: “Ibuku sama sekali tak terkejut. Bahkan tak sedikit pun ada perubahan di roman mukanya. Meskipun pancaran kasih sayangnya tak pernah berhenti mengalir, tapi aku tahu betul ‘Sabana’ itu tak berarti sama sekali bagi alam hidup pribadi ibuku. Segera sesudah itu aku pun makin melihat juga bahwa semua sahabatku di desa, orang-orang tua, seluruh anggota keluargaku, tidak bergeming oleh pameran itu. Mereka asing.” Emha Ainun Nadjib mulai berhitung ulang: diri, puisi, keluarga, agama, Indonesia, dan lain-lain. Puluhan tahun lalu, ia telanjur menjadi pujangga. Kini, kita tetap mengakui ia adalah pujangga, memberi puisi-puisi di arus penginsafan dan kesadaran mengarah ke religiusitas dan kemanusiaan. Begitu. (*)     

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending