Connect with us
Promotheus Promotheus

Kolom

Promotheus di Dunia Bawah Tanah

mm

Published

on

Oleh : Albert Camus

Aku merasa bahwa Dewa-dewa kehilangan sesuatu begitu lama karena tidak ada yang bangkit menentang mereka.Promotheus di Kaukasus, Lucian. (1946)

APA arti Promotheus untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang merentang Dewa ini adalah model bagi manusia kontemporer, dan bahwa protesnya yang bangkit ribuan tahun yang lalu di padang pasir Scythia, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak parallel. Namun, pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiayaan ini masih berada di Antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian.

Manusia modern tentu saja memikul serangkaian penderitaan di atas permukaan bumi yang sempat ini, kekurangan makanan dan kehangatan, dan memandang kebebasan sebagai semata-mata kemewahan yang menunggu; dan yang bisa dilakukannya hanyalah menderita sedikit lebih banyak lagi, dan yang bisa dilakukan oleh kebebasan dan saksi-saksi terakhirnya itu hanyalah menghilang sedikit lebih jauh lagi. Promotheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya api dan kebebasan, teknologi dan seni. Kini memberinya api dan kebebasan, teknologi dan seni. Kini umat manusia memerlukan dan peduli hanya terhadap teknologi. Umat manusia memberontak melalui mesin-mesinnya, menganggap seni dan apa yang dinyatakan oleh seni sebagai suatu rintangan dan symbol dari perbudakan. Sebaliknya, apa yang menjadi ciri Promotheus adalah bahwa ia tidak dapat memisahkan mesin dari seni. Ia percaya bahwa jiwa dan tubuh keduanya dapat dibebaskan pada waktu yang sama. Manusia hari ini percaya bahwa pertama-tama kita harus membebaskan tubuh, bahkan apabila pikiran harus menderita kematian sementara. Tapi dapatkah pikiran mati sementara? Pasti, jika Promotheus datang kembali ke muka bumi, manusia hari ini akan bertindak seperti yang dewa-dewa lakukan lama berselang: mereka akan memakunya ke batu karang, atas nama kemanusiaan di mana ia pertama kali menjadi simbolnya. Suara-suara bermusuhan yang kemudia akan mencemooh korban yang dikalahkan ini adalah suara-suara yang bergaung pada permulaan tragedy Aeschylan: suara Kekuatan dan Kekejaman.

Apakah aku menyerah kepada kekejaman zaman, kepada pohon-pohon telanjgan dan musim dingin dunia? Namun nostalgia ini bicara padaku mengenai dunia yang lain, mengenai negeriku yang sebenarnya. Apakah nostalgia ini masih berarti sesuatu bagi beberapa manusia? Di tahun ketika perang dimulai, aku akan berlayar dan mengikuti peralanan Ulysses. Pada waktu itu, bahkan seorang pemuda yang tidak beruang bisa melakukan projek yang mewah menyebrangi lautan dalam pencaharian cahaya matahari. Namun kemudia aku melakukan seperti semua orang lain. Namun kemudian aku melakukan seperti semua orang lain. Aku tidak berlayar. Aku menempatkan diriku dalam antrian sambil menyeret kaki menutu mulut neraka yang terbuka. Sedikit demi sedikit, kami masuk. Pada tangisan pertama dari orang tak bersalah yang dibunuh, pintu dibanting tertutup di belakang kami. Kami berada di neraka dan kami tidak meninggalkannya sejak saat itu. Selama enam tahun, kami sudah mencoba mencapai kata sepakat dengannya. Kami berada di neraka, dan kami tidak meninggalkannya sejak saat itu. Selama enam tahun, kami sudah mencoba mencapai kata sepakat dengannya. Kami sekarang mendapat pandangan sekilas dari hantu-hantu hangat dari kepulauan orang-orang yang diberkati hanya melalui tahun-tahun yang panjang, dingin, tak bermatahari yang masih akan menjelang.

Bagaimana kemudian, di Eropa yang lembab dan gelap ini, kita bisa terlepas dari gemetar dengan penyesalan dan membagikan tangisan ini di mana di masa tuanya Chanteaubriand mengucapkan kepada Ampere ketika pergi ke Yunani: Kau tidak akan menemukan kembali sehelai daun pohon zaitun ataupun sebutir biji anggur yang aku lihat di Attica. Aku bahkan menyesali rumput yang tumbuh di sana di Zamanku. Aku tidak memiliki kekuatan untuk membuat tumbuh sebidang bunga heather. Dan kita juga, tenggelam meskipun darah muda kita yang berada di abad yang lalu yang tua dan mengerikan ini, kadang-kadang menyesali rerumputan yang selalu tumbuh, daun zaitun yang tidak lagi akan kita pandang, dan buah anggur kebebasan. Manusia ada di mana-mana, dan di mana-mana kita menemukan tangisannya, penderitaannya dan ancamannya. Ketika banyak manusia berkumpul bersama, belalang tidak bisa menemukan tempat. Sejarah adalah bumi yang mandul di mana Bunga heather tidak akan tumbuh.

Namun manusia zaman sekarang telah memilih sejarah, dan mereka tidak bisa dan tidak boleh memalingkan wajahnya dari sejarah. Namun alih-alih menguasainya, mereka sepakat sedikit demi sedikit setiap harinya untuk menjadi budaknya. Di sinilah mereka mengkhianati Promotheus, anak laki-laki ‘yang berani dalam pikiran dan ringan di dalam hati’. Di sinilah mereka kembali kepada keterpurukan manusia yang dicoba selamatkan oleh Prometheus. ‘Mereka memandang tanpa melihat, mendengar tanpa menyimak, seperti makhluk dalam mimpi.”

Ya, satu malam di Provence, hembuasan bau garam sudah cukup utuk memperlihatkan pada kita bahwa segala sesuatunya masih ada di depan kita. Kita perlu untuk menemukan kembali api, menciptakan kembali keahlian itu yang bisa mengatasi kelaparn tubuh. Attica, panen anggur kebebasan, roti dan jiwa kita, harus datang kemudian. Apa yang bisa kita perbuat kecuali berteriak kepada diri kita sendiri: ‘Mereka tidak akan pernah kembali, atau mereka akan kembali untuk yang lainnya’, dan melakukan apa yang harus kita lakukan untuk melihat bahwa yang lainnya paling tidak akan kehilangan mereka? Dan bagaimana dengan kita, yang merasakan ini dengan begitu pedihnya, namun mencoba menerimanya tanpa kepahitan? Apakah kita tertinggal di belakang, ataukah kita maju ke depan? Akankah kita memiliki kekuatan untuk membuat bunga heather tumbuh kembali?

Kita dapat membayangkan bagaimana Prometheus akan menjawab pertanyaan ini yang timbul di negeri kita. Memang, ia telah memberikan jawabannya: ‘Aku berjanji padamu, O makhluk fana, baik kemajuan maupun perbaikan, jika kau cekatan, berbudi luhur dan cukup kuat untuk mencapainya dengan tanganmu sendiri.’ Maka,jika memang benar penyelamatan terdapat di tangan kita sendiri, aku akan mengatakan Ya atas pertanyaan abad ini, karena kekuatan yang bijaksana dan keberanian yang masih aku rasakan dalam diri orang-orang yang aku kenal. ‘O Keadilan, O ibu,’ jerit Prometheus, ‘kau melihat aku diciptakan untuk menderita.’ Dan Hermes mengolok-olok pahlawan ini: ‘Aku heran bahwa, kau yang setengah dewa, tidak bisa meramalkan siksaan yang sekarang kau jalani.’ ‘Aku sudah meramalkannya,’ jawab si pemberontak. Semua yang sudah aku sebutkan, seperti ia, adalah putera keadilan. Mereka juga menderita karena kesedihan semua manusia, tahu apa yang mereka perbuat. Mereka benar-benar tahu bahwa keadilan yang buta itu tidak ada, bahwa sejarah tidak memiliki mata, dan bahwa karenanya kita harus menolak keadilannya untuk diletakkan di tempatnya, sejauh ini bisa dilakukan, keadilan yang ditemukan oleh pikiran. Di sinilah Prometheus sekali lagi kembali ke dalam abad kita.

Mitos tidak bisa hidup dengan sendirinya. Mitos menunggu kita membangunkannya untuk bangkit. Jika seorang manusia di dunia ini menjawab panggilan mitos itu, ia akan memberikan kekuatannya dengan sepenuhnya. Kita harus mengawetkan mitos ini, dan meyakinkah bahwa masa tidurnya tidak berlangsung selamanya sehingga kebangkitannya kembali menjadi mungkin. Aku kadang-kadang ragu apakah manusia zaman sekarang bisa diselamatkan. Namun tetap mungkin untuk menyelamatkan anak-anak mereka, baik tubuhnya maupun pikirannya. Masih mungkin menawarkan pada anak-anak ini sekali dan bersamaan kesempatan akan kebahagiaan dan keindahan. Apabila kita harus menerima nasib kita untuk hidup tanpa keindahan, dan kebebasan yang dinyatakannya, mitos Prometheus adalah satu di Antara yang meningatkan kita bahwa mutilasi manusia hanyalah sementara, dan bahwa kita tidak bisa melayani kesuluruhan manusia itu. Jika ia lapar akan roti dan bunga heather, dan jika benar bahwa roti adalah lebih penting, marilah kita belajar bagaimana menjaga kenangan mengenai bunga Heather tetap hidup. Di jantung paling gelap sejarah manusia-manusia Prometheus, tanpa berhenti meneriakkan seruannya yang kejam, akan terus mengawasi bumi dan rerumputan yang tak pernah letih. Pahlawan yang terantai ini tetap menjaga, dii tengah-tengah geledek dan kilat para dewa, kepercayaannya yang diam-diam terhadap manusia. Begitulah bagaimana ia menjadi lebih keras dari pada batu karangnya dan lebih sabar daripada burung pemangsanya. Lebih dari pada pemberontakannya terhadap dewa-dewa, kekerasan hatinya yang tak pernah padamlah yang berarti bagi kita. Ini mengiringi kepastian yang mengagumkan untuk tidak memisahkan dan mengecualikan apapun, yang sudah selalu dan akan selalu menyatukan hati manusia yang menderita dan musim semi dunia. (*)

Continue Reading

Kolom

Merefleksikan 20 Tahun Reformasi

mm

Published

on

Oleh: Sugeng Bahagijo | Direktur Infid 

Tahun 2018 Indonesia memasuki usia 20 tahun sejak reformasi 1998. Tanpa banyak disadari, 20 tahun masa reformasi, Indonesia sedang merambah perubahan-perubahan sosial yang disebut sebagai “large scale social change”. Sebuah perubahan sosial berskala besar.

Perubahan skala luas penting dicatat untuk bahan berpikir: (a) sejauh mana capaian 20 tahun reformasi; (b) untuk merawat dan memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia dari berbagai godaan dan pengaruh masa lalu, yang masih kuat. Hal ini agar Indonesia tidak ditawan oleh hantu masa Lalu.

Perubahan luas ini berbeda dengan perubahan operasional dan level kelembagaan. Perubahan skala luas ditandai bukan saja perubahan kuantitatif (sarana dan institusi), juga kualitatif (nilai-nilai, asumsi-asumsi). Disebut perubahan-sosial skala raksasa karena kebijakan atau langkah itu melampaui atau menembus batas terakhir yang ada. Juga karena dampaknya (positif) sangat signifikan pada tatanan sosial dan nilai-nilai sosial (menjadi lebih baik).

Lima perubahan luas

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Setidaknya ada lima contoh perubahan skala luas yang layak disebut. Baru-baru ini, Menakertrans Hanif Dhakiri mengumumkan bahwa pemerintah akan meluncurkan dua skema kebijakan untuk mendukung angkatan kerja dan pasar kerja Indonesia. Program itu adalah tunjangan pengangguran (unemployment benefits) dan skill development fund (SDF)—dana khusus untuk memperluas kesempatan pelatihan dan pemagangan bagi semua warga dan angkatan kerja.

Ini merupakan terobosan untuk bisa setara dengan negara maju dan negara tetangga sebaya, dan lebih menjanjikan ketimbang sistem jaminan sosial yang ada sekarang. Juga karena negara-negara tetangga lain sudah memilikinya: Thailand dan Vietnam untuk tunjangan pengangguran; Malaysia dan Singapura untuk SDF.

Perubahan skala luas juga dilansir Menteri Keuangan. Dalam pidatonya di Washngton DC, Oktober 2017, Menkeu Sri Mulyani menyatakan Indonesia akan mempelajari sistem jaminan sosial baru, yaitu universal basic income atau tunjangan pendapatan warga. Ini untuk mengimbangi trend lenyapnya tenaga kerja manusia akibat perkembangan teknologi-otomatisasi, robot, dan kecerdasan buatan.

Sebelumnya, pemerintahan Jokowi-JK memulai perubahan skala luas dengan melansir kebijakan dana desa atas dasar UU Desa. Dengan 30 persen angkatan kerja berada di desa, maka dana desa menjadi super penting. Kebijakan ini contoh perubahan skala luas. Tanda-tanda perubahan luasnya dapat ditilik dari: (a) membalik arah alokasi belanja dari perkotaan ke pedesaan; (b) menempatkan warga desa pinggiran sebagai subjek dan aktor pembangunan.

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Yang terakhir tetapi tidak kalah penting adalah pelembagaan dan kodifikasi hak asasi manusia dalam sistem hukum Indonesia. Dengan demikian kedudukan dan nasib warga jadi prioritas utama. HAM akhirnya juga menjiwai UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2004 dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) 2011, yang berjanji akan menjangkau dan melindungi “semua warga”. Sistem ini sangat jauh berbeda dengan sistem terdahulu, yang hanya melayani melindungi pekerja dan aparatur negara.

Sejarah

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perubahan skala luas bukanlah baru. Jika hari ini kita memiliki jaminan sosial (BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan), meski belum 100 persen warga tercakup, kita berutang ide besar ini kepada Thomas Paine.

Karena dia (Agrarian Justice) sudah mengusulkan jaminan sosial untuk warga. Paine menolak ide penghapusan hak milik pribadi dan UU Kemiskinan di Inggris yang menimbulkan stigma bagi penerimanya. Gagasan Paine juga menjadi cara memastikan setiap warga memiliki aset di tengah sistem tanah yang sudah menjadi milik pribadi

Dalam sejarah, kita juga mengenal perubahan skala luas lain yang menjadi landasan bagi HAM modern: (i) penghapusan sistem perbudakan, dimulai di Inggris lalu merambat ke Amerika Serikat dan dunia; (ii) hak memilih untuk semua warga, tidak hanya untuk yang kaya dan laki-laki.

Dampak langsung dan tidak langsung dari perubahan skala luas ini yang akhirnya berembus juga ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia (Hindia Belanda) dan ikut memberikan andil dalam gerakan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perkembangan dunia

Indonesia tak sendiri. Berbagai negara juga berlomba menemukan dan melaksanakan perubahan skala luas. Karena setiap zaman melahirkan perkembangan sendiri. Perubahan iklim terbukti membuat frekuensi dan dampak bencana alam semakin besar di seluruh dunia. Energi kotor (batubara, minyak) menjadi biang penyebabnya. Maka, perlu ditemukan energi bersih dan lestari.

Itulah sebabnya, baru-baru ini, Pemerintah Norwegia mengumumkan akan menggelar penelitian dan uji coba energi listrik. Ditargetkan pesawat komersial bersumber listrik jadi dominan dalam 5-10 tahun ke depan. Ini artinya, maju satu langkah sesudah mobil listrik yang dikomersialkan oleh Tesla Motor.

Perkembangan teknologi seperti internet, otomatisasi, robot, memperluas kesenjangan antara pekerja ber-skill tinggi dengan skill rendah, antara pekerja dan yang menganggur. Akibatnya, ketimpangan pendapatan dan kekayaan meningkat. Maka, perlu ditemukan cara memperkecil ketimpangan ekonomi (pendapatan dan kekayaan).

Barangkali itulah sebabnya para pionir sekaligus superkaya seperti Zukerberg (Facebook) dan Elon Musk (Tesla) menyuarakan dukungannya pada sistem jaminan sosial baru: universal basic income, maju satu langkah ketimbang sistem tunai bersyarat-PKH (conditional cash transfer). Sebuah langkah untuk mengimbangi laju pesat teknologi yang berpotensi menghilangkan tenaga kerja manusia.(*)

*) Sugeng Bahagijo, Direktur Infid 

 

 

Continue Reading

Kolom

Menangkal Berhala Hoaks Transaksional

mm

Published

on

J. Kristiadi | Kolumnis Politik Kompas | Peneliti Senior CSIS *)

Ramalan kecanggihan teknologi sejalan dengan naluri hasrat manusia untuk berinterkasi sehingga kehidupan di bumi lebih harmoni di huni karena orang bebas bicara dan bertukar  gagasan, ternyata hanya ilusi. Sejarah membuktikan sebaliknya, sejak diketemukan mesin cetak yang memermudah penyebaran informasi, bukan hanya gagasan sehat yang diperdebatkan, tetapi pidato dan berita beracun  bernuansa dan terang-terangan menebarkan kebencian karena alasan perbedaan terhadap suku, ras, agama, keyakinan, membahana pula.  Misalnya, perseteruan antara Kekristnan dan Kekatolikan abad pertengahan, berujung  “Perang Agama ” antara penganut Agama katolik dan Kristen Protestan selama kurang lebih tiga dekade yang mengkibatkan puluhan ribu manusia kehilangan nyawa. Tragedi semacam itu dalam skala yang berbeda terjadi  sepanjang sejarah, dan semakin mudah terulang karena dipicu oleh kecagihan tekonologi.  (Nial Ferguson, The False Prophecy of Hyperconnection, How to Survive The Networked Age, Forein Affairs, September/October 2017). Selain factor teknologi, alasan lain yang lebih fundamental dan fenomena ” homopily”, gejala kecenderungan manusia mempunyai naluri mencari teman yang mempunyai kepentingan, ide dan karakter  yang sama. Relasi yang homopilik semakin mudah kalau di dasarkan atas sentiment primordial dan karakter yang sama. Ibaratnya, burung akan bergerombol dengan jenis burung yang sama. Ungkapan populernya, birds of  a  feather flock together”.

Mengingat ancaman bahaya tuturan kebencian dapat menghancurkan negara, bangsa serta peradaban, maka akun semacam Seracen yang pengelolanya menjual kebencian dan permusuhan demi seonggok rupiah harus di berantas seakar-akarnya. Pengalaman kompetisi politik, khususnya sejak Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nampaknya semakin memicu para pemilik modal untuk memfasilitasi mereka yang merindukan belaian nikmat kuasa mewujudkan impiannya. Para pembiak kekuasaan meramu menu campuran kekuatan uang dan rasa permusuhan merupakan jalan lapang untuk mengakumulasi capital.   Sementara itu para politisi yang berhasil meraih  kedudukan dapat di salah gunakan untuk memupuk modal sehingga mereka juga akan menjadi bandar politik transaksional, bukan lagi peminta-minta kekuasaan.

Berhala Hoaks Transaksional bila di biarkan dapat dipastikan akan mengikis habis secara sitematis dan bengis pilar-pilar fundamental bangsa dan negara. Mereka dengan agresif meyakinkan public dengan mengeksploitasi perbedaan kodrati dan pasti akan menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.  Oleh sebab itu tidak mengherankan banyak negara buyar karena hasrat nafsu yang membakar nalar tidak dapat dikendalikan karena  sudah terlalu liar. Berhala politik tansaksional semakin fatal bagi tatanan hidup normal karena nilai moral ditukar asal dibayar seuai hasil tawar nenawar. Mereka mengejar sampai martabat pudar karena nafsu kuasa tidak dapat dikontrol oleh nalar serta kedap terhadap ajar.

Maka sangat tepat Presiden dan Ketua Mejelis  Permusyawaratan rakyat ( MPR) kompak menunjukan kegeraman mereka terhadap  SERACEN ( Kompas, senin, 27 Agust 2017). Demikian pula respon Menteri Komunikasi dan Informatika yang  memberikan peringatan keras terhadap pengelola Facebook, Twitter, Google agar hengkang dari Rapublik Indonesia bilamana tidak memperhatikan kemanan nasional,   patut di apresiasi. Momentum kemistri tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi politik mengingat kompetisi politik massif Pilkada serentak 2018 dan Pilpres tahun 2019 amat mudah meruntuhkan  iman politik para politisi yang sangat rentan terhadap belaian nikmat kuasa.

Megingat laga politik sudah akan dimulai kurang dari setahun lagi, maka diperlukan beberapa kebijakan urgensi sebagai berikut. Pertama,  Menteri Komunikasi dan informasi melakukakn koordinasi dengan lembaga terkait memonitor ketat perusahaan (penyedia/operator) media sosial dan bagaimana mereka  merespon laporan mengenai ujaran kebencian dan permusuhan. Sebaiknya respon harus segera dilakukan, real time, agar tidak terlanjur menyebar lebih luas lagi. Kedua, edukasi literasi digital kepada masyarakat, khususnya
para imigran digital ( Digital Immigrants), komponen masyarakat yang lahir sebelum era teknologi digital. Lawannya,  Digital Native (Natif Digital), mereka yang sejak kecil ibaratnya menghabiskan waktunya menggunakan komputer, video gamems, vide kamera, hand phone, dan mainan digital lainnya. ( Digital Natives, Digital Immigrants; Marc Prensky,  On the Horizon (MCB University Press, Vol. 9 No. 5 October 2001).

Ketiga, kampanye besar-besaran dan terorganisir melawan Hoaks transaksional. Sekedar contoh penangkalan terhadap Hoaks dilakukan oleh The Council Of Europe ( Dewan  Eropa) memprakarsai kampanye Gerakan tidak bertutur Kebencian ( No Hate Speech Movement) dengan target generasi muda ; Aktifis Blogger di Myamar, Nay Phone, mengampanyekan “ Bicara tentang  Bunga (Flower Speech) utuk melawan tuturan  kebencian.

Perjuagan menangkal berhala Hoaks Transaksional pasti berhasil. Modal utama antara lain temuan Survei SMRC tentang NKRI DAN ISIS PENILAIAN MASSA PUBLIK NASIONAL bulan Mei 2017 antara lain menegaskan. Pertama, Orang Indonesia hampir semuanya bangga menjadi warga RI. Hampir semuanya menyatakan kesediaan untuk menjadi relawan mempertahankan NKRI. Namun semua itu harus disertai dengan niat politik dan strategi yag tepat serta tegak lurus mengacu kepada Pancasila. (*)

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Kolom

Sastra dan Rekor

mm

Published

on

Kita sudah biasa menjumpai sastra dalam teks, diskusi, dan yang paling mutakhir: berperistiwa di media sosial. Padahal, sudah cukup lama sastra Indonesia berurusan juga dengan rekor. Kita sering mendengar buku-buku sastra paling laris, paling diakui dunia, paling banyak diberi penghargaan, dan sebagainya. Semua itu dapat kita anggap rekor-rekor dalam sastra Indonesia. Kita memang hanya bisa menganggap. Sebab, yang paling memiliki legitimasi untuk menyebut rekor ini-itu tentu Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pendiri sekaligus Ketua Umum MURI, Jaya Suprana, menyatakan, “Museum Rekor-Dunia Indonesia berusaha mengabdikan diri dalam mendukung pembangunan mental dan spiritual bangsa Indonesia melalui jalur anugerah perhatian dan penghargaan terhadap karsa dan karya superlatif para insan warga bangsa Indonesia.”

Pernyataan yang bertitimangsa Januari 2012 itu dapat kita temukan dalam sekapur sirih buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) susunan Aylawati Sarwono. Rekor bukan cuma soal perhatian dan penghargaan, melainkan juga pencatatan. Kita mafhum, di luar negeri sana rekor-rekor membuku dalam Guinness Book of World Records. Kata book (buku) menandai pencatatan sebagai pengesah rekor. Kita lantas sedih, pencatatan rekor di Indonesia rupanya terlambat sekian tahun. Pencatatan tentu dilakukan pada hari saat rekor tercipta. Namun, buku sebagai hasil pencatatan rekor itu terlambat disampaikan ke publik. Rekor-rekor MURI sepanjang tahun 2008-2009 baru kita ketahui melalui buku yang terbit pertama kali di tahun 2012. Aduh!

Demi menjaga mentalitas dan spiritualitas bangsa, sebagaimana diharapkan Jaya Suprana, maka kita tak pantas mengeluh. Kita memaklumi saja keterlambatan itu, yang penting pencatatan rekor sempat hadir dalam wujud buku. Rekor-rekor di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) dibagi dalam puluhan kategori. Salah satu kategori perlu kita perhatikan, yakni karya tulis. Saat membaca urutan-urutan awal, kita menjumpai rekor “profesor kedokteran pertama di Indonesia yang menulis buku tentang teknik jazz”. Kita pantas bingung, mengapa ada rekor seperti ini di Indonesia? Profesor kedokteran yang punya pengetahuan mumpuni di bidang terkait semestinya dianugerahi rekor “penemu teknik pengobatan…”, “dokter pertama yang…”, dan lain-lain, bukan malah dianugerahi rekor untuk penulisan buku di luar bidang yang ditekuni.

Rekor lainnya yang boleh kita persoalkan adalah “penerbit buku dengan komentar tokoh Indonesia terbanyak”. Dalam bahasa termutakhir, komentar yang mendampingi penerbitan sebuah buku lazim kita sebut endorsement. Perannya adalah menggoda calon pembaca agar tertarik membeli buku itu. Maka, seringkali komentar tokoh ditaruh pada sampul belakang, bahkan tak jarang di sampul depan, supaya langsung terbaca meski buku masih bersegel plastik. Satu-dua komentar tokoh kondang sebetulnya sudah cukup mengangkat daya jual sebuah buku, tidak perlu sampai puluhan. Ada pula yang bahkan tak membutuhkan komentar tokoh, dan menyerahkan tanggung jawab apresiatif kepada penulis kata pengantar, entah dari pihak penerbit atau tokoh yang ditunjuk. Komentar tentang buku tak lebih penting dari buku itu sendiri.

Kita lantas menengok rekor-rekor sastra yang tercatat di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009). Nadya Nadine mencatatkan diri sebagai “penulis puisi tunggal terbanyak” di buku itu. Dalam keterangan, tertulis, “Nadya Nadine berhasil menulis 900 judul puisi dalam waktu 3 bulan, ditambah 101 puisi karya terdahulunya sehingga total puisi yang kemudian dibukukan ada 1.001 judul.” Buku kumpulan puisi Nadya Nadine diterbitkan berjudul Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine (2012).

Buku kumpulan puisi Nadya Nadine mengalahkan 630 puisi Sitor Situmorang di buku Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2008 (2016) secara ketebalan maupun harga. Namun, jika kita menimbang kualitas dan terutama etosnya, kepenyairan Sitor Situmorang tentu lebih baik ketimbang Nadya Nadine.

Membandingkan Nadya Nadine dengan penyair ampuh sekelas Sitor Situmorang sekilas terasa tidak adil. Namun, kita sebetulnya dapat mengabaikan keagungan nama Sitor Situmorang dengan berfokus pada proses kreatifnya. Kita sedang membandingkan antara 900 puisi yang ditulis dalam kurun 3 bulan (101 puisi Nadya Nadine yang lain kita abaikan dulu, karena tidak ada keterangan waktu penulisannya) dengan 630 puisi yang ditulis sepanjang 60 tahun. Puisi yang ngebut kita bandingkan dengan puisi yang menangkap setiap peristiwa sepanjang hidup seseorang. Seandainya penulis puisi bukan Sitor Situmorang pun, proses penulisan yang alamiah itu jelas akan menghasilkan puisi-puisi yang lebih baik ketimbang yang dikejar tenggat waktu demi rekor.

Karya dan kepenyairan Nadya Nadine pun berpeluang berumur pendek dibanding penyair lainnya. Ia lebih memilih menumpahkan semua daya kreatifnya demi mengejar rekor MURI dalam sebuah buku kumpulan puisi amat tebal, alih-alih secara konsisten hadir menyapa pembaca pada rubrik sastra surat kabar edisi akhir pekan atau di laman-laman daring yang menyediakan ruang untuk puisi. Para penyair yang rajin menyapa pembaca, lantas rajin menerbitkan buku kumpulan puisi secara rutin, umur karya dan kepenyairannya bakal jauh lebih panjang. Tentu saja, kita berhak berambisi dalam kerja sastra. Namun, kita mesti paham bahwa kerja sastra adalah kerja budaya, alih-alih kerja mekanis yang bisa begitu saja terkekang target dan tenggat waktu. []

*) Udji Kayang Aditya Supriyanto; Pembaca buku dan pengelola Bukulah!

Continue Reading

Classic Prose

Trending