© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Promotheus di Dunia Bawah Tanah

Oleh : Albert Camus

Aku merasa bahwa Dewa-dewa kehilangan sesuatu begitu lama karena tidak ada yang bangkit menentang mereka.Promotheus di Kaukasus, Lucian. (1946)

APA arti Promotheus untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang merentang Dewa ini adalah model bagi manusia kontemporer, dan bahwa protesnya yang bangkit ribuan tahun yang lalu di padang pasir Scythia, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak parallel. Namun, pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiayaan ini masih berada di Antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian.

Manusia modern tentu saja memikul serangkaian penderitaan di atas permukaan bumi yang sempat ini, kekurangan makanan dan kehangatan, dan memandang kebebasan sebagai semata-mata kemewahan yang menunggu; dan yang bisa dilakukannya hanyalah menderita sedikit lebih banyak lagi, dan yang bisa dilakukan oleh kebebasan dan saksi-saksi terakhirnya itu hanyalah menghilang sedikit lebih jauh lagi. Promotheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya api dan kebebasan, teknologi dan seni. Kini memberinya api dan kebebasan, teknologi dan seni. Kini umat manusia memerlukan dan peduli hanya terhadap teknologi. Umat manusia memberontak melalui mesin-mesinnya, menganggap seni dan apa yang dinyatakan oleh seni sebagai suatu rintangan dan symbol dari perbudakan. Sebaliknya, apa yang menjadi ciri Promotheus adalah bahwa ia tidak dapat memisahkan mesin dari seni. Ia percaya bahwa jiwa dan tubuh keduanya dapat dibebaskan pada waktu yang sama. Manusia hari ini percaya bahwa pertama-tama kita harus membebaskan tubuh, bahkan apabila pikiran harus menderita kematian sementara. Tapi dapatkah pikiran mati sementara? Pasti, jika Promotheus datang kembali ke muka bumi, manusia hari ini akan bertindak seperti yang dewa-dewa lakukan lama berselang: mereka akan memakunya ke batu karang, atas nama kemanusiaan di mana ia pertama kali menjadi simbolnya. Suara-suara bermusuhan yang kemudia akan mencemooh korban yang dikalahkan ini adalah suara-suara yang bergaung pada permulaan tragedy Aeschylan: suara Kekuatan dan Kekejaman.

Apakah aku menyerah kepada kekejaman zaman, kepada pohon-pohon telanjgan dan musim dingin dunia? Namun nostalgia ini bicara padaku mengenai dunia yang lain, mengenai negeriku yang sebenarnya. Apakah nostalgia ini masih berarti sesuatu bagi beberapa manusia? Di tahun ketika perang dimulai, aku akan berlayar dan mengikuti peralanan Ulysses. Pada waktu itu, bahkan seorang pemuda yang tidak beruang bisa melakukan projek yang mewah menyebrangi lautan dalam pencaharian cahaya matahari. Namun kemudia aku melakukan seperti semua orang lain. Namun kemudian aku melakukan seperti semua orang lain. Aku tidak berlayar. Aku menempatkan diriku dalam antrian sambil menyeret kaki menutu mulut neraka yang terbuka. Sedikit demi sedikit, kami masuk. Pada tangisan pertama dari orang tak bersalah yang dibunuh, pintu dibanting tertutup di belakang kami. Kami berada di neraka dan kami tidak meninggalkannya sejak saat itu. Selama enam tahun, kami sudah mencoba mencapai kata sepakat dengannya. Kami berada di neraka, dan kami tidak meninggalkannya sejak saat itu. Selama enam tahun, kami sudah mencoba mencapai kata sepakat dengannya. Kami sekarang mendapat pandangan sekilas dari hantu-hantu hangat dari kepulauan orang-orang yang diberkati hanya melalui tahun-tahun yang panjang, dingin, tak bermatahari yang masih akan menjelang.

Bagaimana kemudian, di Eropa yang lembab dan gelap ini, kita bisa terlepas dari gemetar dengan penyesalan dan membagikan tangisan ini di mana di masa tuanya Chanteaubriand mengucapkan kepada Ampere ketika pergi ke Yunani: Kau tidak akan menemukan kembali sehelai daun pohon zaitun ataupun sebutir biji anggur yang aku lihat di Attica. Aku bahkan menyesali rumput yang tumbuh di sana di Zamanku. Aku tidak memiliki kekuatan untuk membuat tumbuh sebidang bunga heather. Dan kita juga, tenggelam meskipun darah muda kita yang berada di abad yang lalu yang tua dan mengerikan ini, kadang-kadang menyesali rerumputan yang selalu tumbuh, daun zaitun yang tidak lagi akan kita pandang, dan buah anggur kebebasan. Manusia ada di mana-mana, dan di mana-mana kita menemukan tangisannya, penderitaannya dan ancamannya. Ketika banyak manusia berkumpul bersama, belalang tidak bisa menemukan tempat. Sejarah adalah bumi yang mandul di mana Bunga heather tidak akan tumbuh.

Namun manusia zaman sekarang telah memilih sejarah, dan mereka tidak bisa dan tidak boleh memalingkan wajahnya dari sejarah. Namun alih-alih menguasainya, mereka sepakat sedikit demi sedikit setiap harinya untuk menjadi budaknya. Di sinilah mereka mengkhianati Promotheus, anak laki-laki ‘yang berani dalam pikiran dan ringan di dalam hati’. Di sinilah mereka kembali kepada keterpurukan manusia yang dicoba selamatkan oleh Prometheus. ‘Mereka memandang tanpa melihat, mendengar tanpa menyimak, seperti makhluk dalam mimpi.”

Ya, satu malam di Provence, hembuasan bau garam sudah cukup utuk memperlihatkan pada kita bahwa segala sesuatunya masih ada di depan kita. Kita perlu untuk menemukan kembali api, menciptakan kembali keahlian itu yang bisa mengatasi kelaparn tubuh. Attica, panen anggur kebebasan, roti dan jiwa kita, harus datang kemudian. Apa yang bisa kita perbuat kecuali berteriak kepada diri kita sendiri: ‘Mereka tidak akan pernah kembali, atau mereka akan kembali untuk yang lainnya’, dan melakukan apa yang harus kita lakukan untuk melihat bahwa yang lainnya paling tidak akan kehilangan mereka? Dan bagaimana dengan kita, yang merasakan ini dengan begitu pedihnya, namun mencoba menerimanya tanpa kepahitan? Apakah kita tertinggal di belakang, ataukah kita maju ke depan? Akankah kita memiliki kekuatan untuk membuat bunga heather tumbuh kembali?

Kita dapat membayangkan bagaimana Prometheus akan menjawab pertanyaan ini yang timbul di negeri kita. Memang, ia telah memberikan jawabannya: ‘Aku berjanji padamu, O makhluk fana, baik kemajuan maupun perbaikan, jika kau cekatan, berbudi luhur dan cukup kuat untuk mencapainya dengan tanganmu sendiri.’ Maka,jika memang benar penyelamatan terdapat di tangan kita sendiri, aku akan mengatakan Ya atas pertanyaan abad ini, karena kekuatan yang bijaksana dan keberanian yang masih aku rasakan dalam diri orang-orang yang aku kenal. ‘O Keadilan, O ibu,’ jerit Prometheus, ‘kau melihat aku diciptakan untuk menderita.’ Dan Hermes mengolok-olok pahlawan ini: ‘Aku heran bahwa, kau yang setengah dewa, tidak bisa meramalkan siksaan yang sekarang kau jalani.’ ‘Aku sudah meramalkannya,’ jawab si pemberontak. Semua yang sudah aku sebutkan, seperti ia, adalah putera keadilan. Mereka juga menderita karena kesedihan semua manusia, tahu apa yang mereka perbuat. Mereka benar-benar tahu bahwa keadilan yang buta itu tidak ada, bahwa sejarah tidak memiliki mata, dan bahwa karenanya kita harus menolak keadilannya untuk diletakkan di tempatnya, sejauh ini bisa dilakukan, keadilan yang ditemukan oleh pikiran. Di sinilah Prometheus sekali lagi kembali ke dalam abad kita.

Mitos tidak bisa hidup dengan sendirinya. Mitos menunggu kita membangunkannya untuk bangkit. Jika seorang manusia di dunia ini menjawab panggilan mitos itu, ia akan memberikan kekuatannya dengan sepenuhnya. Kita harus mengawetkan mitos ini, dan meyakinkah bahwa masa tidurnya tidak berlangsung selamanya sehingga kebangkitannya kembali menjadi mungkin. Aku kadang-kadang ragu apakah manusia zaman sekarang bisa diselamatkan. Namun tetap mungkin untuk menyelamatkan anak-anak mereka, baik tubuhnya maupun pikirannya. Masih mungkin menawarkan pada anak-anak ini sekali dan bersamaan kesempatan akan kebahagiaan dan keindahan. Apabila kita harus menerima nasib kita untuk hidup tanpa keindahan, dan kebebasan yang dinyatakannya, mitos Prometheus adalah satu di Antara yang meningatkan kita bahwa mutilasi manusia hanyalah sementara, dan bahwa kita tidak bisa melayani kesuluruhan manusia itu. Jika ia lapar akan roti dan bunga heather, dan jika benar bahwa roti adalah lebih penting, marilah kita belajar bagaimana menjaga kenangan mengenai bunga Heather tetap hidup. Di jantung paling gelap sejarah manusia-manusia Prometheus, tanpa berhenti meneriakkan seruannya yang kejam, akan terus mengawasi bumi dan rerumputan yang tak pernah letih. Pahlawan yang terantai ini tetap menjaga, dii tengah-tengah geledek dan kilat para dewa, kepercayaannya yang diam-diam terhadap manusia. Begitulah bagaimana ia menjadi lebih keras dari pada batu karangnya dan lebih sabar daripada burung pemangsanya. Lebih dari pada pemberontakannya terhadap dewa-dewa, kekerasan hatinya yang tak pernah padamlah yang berarti bagi kita. Ini mengiringi kepastian yang mengagumkan untuk tidak memisahkan dan mengecualikan apapun, yang sudah selalu dan akan selalu menyatukan hati manusia yang menderita dan musim semi dunia. (*)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT