Connect with us
Recently Commented

Kereta-Kereta di Kepala Zialo

Rp100.000

Di tengah pusaran masa kini-masa depan yang selalu berbalik ke masa lalu, puisi-puisi Herlinatiens membentangkan perjalanan ala Sisyphus yang tak kunjung usai. Rasa-ingatan terjebak dalam dunia metafora kereta api, jam stasiun, gerbong,peluit keberangkatan, rel kereta dan bantalannya, kursi kereta dan remah-remah di lantai, yang menjelma secara surealis menjadi biduk terombang-ambing di samudra tak berpantai, atau serangga di gurun pasir tak bertepi. Rindu tak sampai, cinta tersangkal, gelegak yang tak bisa meledak menjadi purgatori bagi akulirik yang—meminjam frasa viral Sapardi—terluka dengan (cara yang tak terlalu) sederhana. –Melani Budianta, Pengajar Ilmu Susastra, FIBUI

Description

Kereta Kereta Di Kepala ZIALO
“Kereta-kereta di kepala Zialo” merupakan sebuah topeng memori dalam memandang cinta yang telah berlalu maupun yang sedang terjadi. Pengalaman, ingatan dan pemaknaan atas peristiwa cinta, membangun topeng memori yang khas. Dan bisa menjadi jebakan: hubungan jatuh sebagai pemaknaan tentang lelaki atau tentang perempuan. Pengalaman dibekukan ke dalam pencarian identitas dalam konteks hubungan cinta. Berbagai nilai, situs sejarah, mitos-mitos, perjalanan lintas budaya saling berkelindan untuk mendapatkan stasiun yang bisa menyatukan seluruh retakan ini. Rujukan-rujukan yang dilacak atau dipetakan di sekitar topeng memori itu bisa berlompatan antara “maling”, “begal”, “rusa betina” maupun “anjing liar” di mana cinta dan puisi dipaksa mendapatkan identitas kelaminnya. Atau jebakan antara birahi dan spiritualitas.