Connect with us

Tabloids

Pre Order Buku Memikirkan Kata

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini untuk membantu anda hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Profile Buku

“Memikirkan Kata”

Description

Judul: “Memikirkan Kata” | Penerbit: Galeri Buku Jakarta | Tahun Terbit: Agustus, 2019 | Tebal: Xviii + 556 Hlm | Bahasa: Indonesia | ISBN: 978-979-1442-84-8 | Size : A5 / Full Colour/ Magazine Layout | Harga: Rp. 200.000,- Free Shipping *(only Jabodetabek)

Buku “Memikirkan Kata” terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Essay on Art of Writing—Catatan batin dan tanggung jawab para penuis pada zamannya. (8) Interview—obrolan dengan para pengarang tentang dapur menulisnya. (9) Tips Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk 3 pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini akan cocok tidak hanya untuk para pengarang/ penulis baik baru mau pun mereka yang telah bergulat dengan dunia menulis, tapi juga dalam perangkat teknis penulisan guna kebutuhan kerja di era digital saat ini. Sehingga layak dibaca sebagai upaya peningkatan kapasitas staf kantor/ lembaga baik bisnis, pemerintah atau non-pemerintah khususnya staf media-publikasi, periset dan lainnya.

Principal Writers

Para penulis dunia terbaik mau pun para penulis indonesia yang karyanya diterjemahkan dan pemikiraannya ditulis dalam buku ini baik dalam bentuk esai mau pun disajikan dalam wawancara oleh tim editor Galari Buku Jakarta di antaranya adalah:

Orhan Pamuk, Virginia Woolf, Truman Capote, Italo Calvino, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Ivan Bunin, Octavio Paz, Anton Chekhov, Isabel Allende, TS. Eliot, George Orwell, Haruki Murakami, Donald Hall. Joan Didion, E. L. Doctorow, William Faulkner, Leon Edel, Aldous Huxley, John Hersey, Robert Graves, Saul Bellow, John Ashbery, Jon Barth, John Berryman, William Maxwell, Robert Lowell, Stanley Kunitz, Joyce Cary, May Sarton, Jack Kerouac, Katherine Anne Porter, Philip Roth, Robert Penn Warren, Henry Miller.  Eudora Welty, Donald Hall, Natalie Goldberg, Kurt Vonnegut, Louis Dodge, W. Adolphe Robert, Pauline Bloom, J. Everet Courtney, Richard Deming, M.L Stein, Allen Ginsberg, Brian Garfield, Susan Mase, Maria Rita Roewiastuti, Gunawan Wiradi, Ilene Kalish, Afrizal Malna, Sabiq Carebesth, Joko Pinurbo, Albert Payson Terhune, Hugh C. Sherwood, Ernest Hemingway, John Updike, Intan Paramaditha, Alexander McCall Smith, Emily Ruskovich, Caroline Webb, Fiona Davis.

Book Detail

 

Jumlah Halaman

 

Xviii + 556 Hlm
Tanggal Terbit

 

 Agustus 2019

 

ISBN

 

978-979-1442-84-8
Bahasa

 

Indonesia

 

Penerbit

 

Galeri Buku Jakarta
Size/ Colour A5 / Full Colour/ Magazine Layout
Harga Pre Order Rp. 200.000,- Free Shipping *(only Jabodetabek)

 

Books Contents/ Daftar Isi Buku:

Poster Pre Order Buku “Memikirkan Kata” untuk dibagikan.

  • Essay on Reading and Writing: Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis: Mendengar | Eudora Welty (1909-2001), Membaca Fiksi | Donald Hall (1928-2018) : Kaidah Praktik Menulis | Natalie Goldberg (1948-  ), Bagaimana Menulis Dengan Gaya Tertentu | Kurt Vonnegut (1922-2007), Menulis Dengan Pengolah Kata | William Zinsser (1922-2015)
  • Voice of Editor: Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan: Pengarang dan Gaya Penulisannya | Louis Dodge, Mengapa Ribuan Karya Dibuang Editor ke Tong Sampah | W. Adolphe Robert, Yang Membuat Karya Fiksi Memikat Pembaca | Pauline Bloom, Tiga Resep Rahasia Menulis | J. Everet Courtney, Riset Untuk Penulisan Fiksi | Richard Deming, Nasihat Bagi Yang Ingin Menjadi Penuis Lepas | M.L Stein, Cara Aku Menulis ! | Allen Ginsberg, Sepuluh Aturan Untuk Fiksi Suspense | Brian Garfield, Tuntutan Editor Untuk Cerpen Layak Terbit | Susan Mase dkk.
  • The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan: Tentang Membaca, Menulis dan Menyunting, Argumentasi dan Persuasi, Mengilustrasikan Ide, Klasifikasi, Bagaimana Menulis Esai Deskriptif, Bagaimana Menulis Esai Naratif, Bagaimana Menulis Esai Persuasif, Bagaimana Menulis Esai Menggunakan Contoh, Bagaimana Menulis Esai Menggunakan Klasifikasi.
  • Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu : Tulisan Bermutu Tinggi; Modal Yang Perlu Dimiliki Seorang Penulis | Maria Rita Roewiastuti, Mau Menulis? | Gunawan Wiradi, Buku-Buku Bagus Tidak Ditulis, Tetapi Ditulis Ulang | Ilene Kalish, Cara Menulis Artikel “How-to” Berkualitas | Hugh C. Sherwood , Menulis Dengan Kesederhanaan | Albert Payson Terhune.
  • Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez: Cara Terbaik agar Tidak Gagal Menulis Novel | Joan Didion, Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa | E. L. Doctorow, Aku Tak Pernah Mengenal Inspirasi | William Faulkner, Bagaimana Menulis Bagian Awal Sebuah Cerita | Yang Paling Susah adalah Paragraf Pertama | Gabriel Garcia Marquez, Ide Tak Terbentuk | Tiba-tiba, Ia Mengendap Lama | Katherine Anne Porter, Kalimat Pembuka Novel Butuh Perjuangan | Philip Roth, Menemukan Ide Itu Mudah, Yang Susah Menulisnya | Robert Penn Warren, Mereka di Udara, Menunggu Kesempatan Bersuara | Henry Miller, dll
  • Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah: 6 Nasihat UtamaMenulis Prosa Dari Ernest Hemingway, Begini cara para penulis dunia menaklukan lembaran kosong & “writer’s block, Tips Utama untuk Tulisan yang Lebih Baik | Tips Utama Menulis sebuah Ulasan, Tips Utama untuk Menulis Online, Bagaimana Caranya Puisi dapatMeningkatkan Keahlian Menulismu, Tips Menulis Cerpen ala Kurt Vonnegut, Menemukan Ruang untuk Menulis.
  • Artist at Work: Bagaimana para pengarang itu begitu keras bekerja : Koper Milik Ayah | Orhan Pamuk, Terkadang Kata-Kata Melipat Sayapnya, Lalu Mati | Virginia Woolf, Truman Capote Meets an Idol | Dotson Rader, Italo Calvino: Sebuah Memoar | Pietro Citati, Life into Art | Tiga Hari Bersama Gabo | Silvana Paternostro, Catatan Tentang Jorge Luis Borges | André Maurois, Merenda Suara Rendra | Sabiq Carebesth, Tentang Chekhov | Ivan Bunin, Mencari Masa Kini | Octavio Paz, Virginia Woolf Was More Than Just a Women’s Writer | Danny Heitman, Inspirasi Rahasia Gabriel Marquez Akhirnya Mengungkapkan Dirinya | Nicholas Shakespeare.
  • Interview: Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni: Menulis dan Jalan Hidup Isabel Allende | Alison Beard, Percakapan Dengan TS. Eliot | Shiv K Kumar, Afrizal Malna Di Antara Tubuh dan Kematian | Sabiq Carebesth, Motif Politik dalam Kepengarangan Orwell | Sabiq Carebesth, Intertekstualitas dan Sihir Intan Paramaditha | Sabiq Carebesth, Gabriel Márquez dalam Labirin Sastra dan Imajinasi | Adam Nossiter and Rodrigo Garcia, Jokpin Yang Tak Pernah Lelah Mennghisap Bahasa | Sabiq Carebesth, Haruki Murakami: Saya Kurang Suka Pada Gaya Kepenulisan Realis, Kaos Kaki Hangat Eliot Untuk Penyair Hall | Uldis Tīron dan Arnis Rītups, Octavio Paz: Antusiasme Dan tanda (resmi) perpuisian.

        _________

Tata Cara Order Buku

  • Order : untuk melakukan pre order silakan ikuti langkah berikut (1) Transfer pembayaran buku ke rekening Bank BCA: No. Rekening: 7180045290,  atas Nama ANTO. / Rekening Bank Mandiri : 0060009767587 an Sabiq M (2) Simpan dan kirim bukti transfer ke WhatsApp: : +62 82 111 450 777 (3) Kirim juga Nama dan alamat pos untuk pengiriman paket Buku.
  • Order Information: Pengiriman paket buku akan dilakukan pada Agustus, 2019. Update informasi hubungi: +62 82 111 450 777 (Whatsapp-Galeri Buku Jakarta) or email: galeribukujakarta@gmail.com

___

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Setelah Memikirkan Kata..

mm

Published

on

Editor’s Note:
Dan apa yang saya rasakan setelah buku “Memikirkan Kata” resmi rilis? Perasaan itu bercampur aduk, senang, bahagia, kecongkakan pada diri sendiri membumbung, dan pengalaman luar biasa yang diakibatkan semua proses terlewati— yang nyaris semua sisinya tidak mudah, lambat, sangat pelan, menjenuhkan dan menguras nyair semua!—Tetapi kadang juga bahwa hal itu berlangsung biasa saja, berjalan sebagaimana mestinya dan bisa dilalui tanpa beban psikis atau perasaan berlebihan—rasanya kerja semacam itu, terkadang, tak ubahnya seperti keharusan seorang untuk mandi pada ketika ia merasa rambutnya kaku, gatal dan badannya seperti lengket oleh debu.

Apa yang yang sebenernya saya rasakan? Saya tidak berusaha memikirkan atau merasakannya, biasa saja, tapi juga tidak sepenuhnya biasa, begitulah…

Hanya saja saya rasa, ini perasaan yang sama dalam keumumannya, seperti yang dirasakan semua yang pernah terlibat dan membangun sebuah dunia kreatif; menyelesaikan sebuah proyek penerbitan buku—berangkat dari dunia yang tidak ada, abstrak, lalu mewujudkannya untuk bisa disinggahi sejenak sebelum sepenuhnya dibakar atau ditinggalkan sebagai sarang atau menjadi milik bagi kehidupan siapa saja; mereka yang mau singgah, dan tak ada hak milik atas dunia semacam itu berikut hasil kerjanya, kecuali sedikit kenangan untuk diri sendiri; sebagai bekal melanjutkan perjalanan menuju gelap yang lain, dunia gersang di antara pohon pohon waktu yang angkuh, bebatuan dalam sungai jiwa yang suram, entah di mana akan duduk lagi untuk istirah sambil menipu diri sendiri bahwa pekerjaan semacam ini ada artinya, berguna atau katakanlah memiliki manfaat..

Terserah sajalah, saya tidak dalam tanggung jawab seperti selayaknya seorang kepala penerbitan, dan tidak juga dalam kapasitas sebagai editor atau penulis, saya harus kembali ke dunia saya, melanjutkan menapaki gersang dan sesekali istirah menulis sajak—sesekali saja karna saya juga bukan penyair beneran…

Hal semacam itu bagi saya sekedar untuk. Paling tidak memastikan saya tidak hanyut dalam kerumunan fatamorgana, dan saya berusaha meninggalkan sedikit jejak untuk anak-anak, sebagai bukti keadaban manusiawi—iya karena pekerjaan semacam itu yang bagi saya mungkin dan saya bisa lakukan, seorang bisa saja melakukan dalam ragam yang lain, seperti anda juga atau siapa pun saja; berbuat sesuatu untuk generasi indonesia dan keadaban kemanusian kita…

*

Dalam keintiman personal yang lain, dalam keumuman perasaan kreatif, saya rasa Woolf, Steinbeck mewakili keumuman yang saya maksudkan di atas; Woolf punya kronik umum atas hal itu dan anda telah banyak menngetahuinya, membaca bukunya, mendengar kisah juga menonton film tengan kehidupan kreatifnya yang diperankan apik aktris Kidman.. tapi saya ingin mengutipkan kerawanan dan ambiguitas itu di sini dari Steinbeck—lantaran jarang diketahui dan saya pun baru membacanya. Penulis Maria Popova menulis begini tentang cerita itu—yang jika bisa saya ringkas, singkatnya bagi Steinbeck, proses kreatif adalah upaya tak berkesudahan.. tiap kali usai, ambiguitas menyerbu, keraguan puncak antara baik dan sia-sia, kebermanfaatan dan juga cara curang di sisi lain—bahwa kita mengambil keuntungan tetapi kadang tidak bekerja dengan kemampuan pikiran dan perasaan terbaik yang bisa kita letakkan di atasnya.

Popova menggaris bawahi Steinbeck melalui catatan hariannya: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”, Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya (Steinbeck) tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak.

Popova mendapati Steinbeck dalam buku hariannya menulis begini: “Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.” Lalu.. “Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Dan lalu.. Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir. Dan di tempat lain Steinbeck menulis lagi : Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir. Tetapi lalu… “Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa: “Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja…. Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis: Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dan akhirnya, Yaaa… begitulah, saya rasa itu semua sudah cukup mewakili, lagi pula apa peduli anda pada saya dan proses ini, juga sebaliknya saya sendiri tidak terlampau peduli dengan anda juga—mungkin saja dan memang saya berpikir begitu, tapi itu hanya perangkat untuk saya memiliki hati kuat dan besar supaya bisa lanjut lagi, saya tidak sepenuhnya berkata begitu meski saya rasa itu banyak benarnya, tapi itu perasaan, bukan kebenaran hahaha selamat malam Jakarta…

Ah tapi saya harus mengatakan hal terpenting ini sekali lagi; saya sampaikan terimakasih kepada semua yang terlibat dalam penerbitan buku ini, para contributor (penerjemah, red): Affan Firmansyah, Ladinata, Susan Gui, Addi M Idham, Regina N. Helnaz, Agus Teguh, Fleur de Nufus, Virdika Rizky Utama, Marlina Sopiana—mereka orang-orang dengan bertumpuk-berlimpah pekerjaan pribadi dalam profesinya masing-masing; sebagai pengajar/ dosen, jurnalis, editor penerbitan dan pimpinan lembaga, begitu rupa kesibukan dan padatnya jadwal tapi dedikasinya untuk penerjemahan bagi buku ini dengan sigap mereka “singsingkan lengan baju !”—meski kita berjalan begitu lambat, tapi itu semua sepadan dengan hasilnya! Nama yang tidak bisa ditinggalkan adalah Aldia Putra, tanpa dia buku ini tidak bisa hadir dengan perwajahan yang telah dupayakan membuat anda menyukainya, untuk berkenan membawanya ke dalam kamar dan menempatkannya di tempat layak. Aldi untuk empat bulan lebih menemani saya duduk bekerja menggarap desain dan layout isi buku ini, sigap bekerjasama untuk ide yang kadang berubah saban jam bahkan menit, menggeser dan memindah, membuang dan menambahkan apa yang berkelebat dan terasa lebih bagus, itu selalu dengan gairah seorang berusia cukup lanjut dan tiap kali sesak nafas untuk melewati pukul sebelas malam. Kepada Genta dan Ndari, terimakasih untuk mengerjakan sampul buku ini degan sangat mendalam! Begitulah buku ini melibatkan orang-orang dedikatif, ceria dan tanpa batas dalam bekerja untuk hal yang mereka pikir baik dan akan bermanfaat. Tanpa mereka semua, buku ini dengan segala kekurangannya tidak akan di tangan anda saat ini. Hampir satu tahun lebih pengerjaan buku ini, semoga bermanfaat untuk  generasi indonesia dan terutama kemanusiaan kita. Dan harapan pribadi saya, untuk tidak sampai mengecewakan pada hasil akhir buku ini kepada semua rekan yang terilbat dalam pengerjaan “Memikirkan Kata”.

Buku “Memikirkan Kata” pada satu sisi juga jadi momen baik, suatu modal keberanian untuk saya meminta secara resmi kepada Afrizal Malna, Damhuri Muhammad, Hamdy Salad dan Iman Budi Santosa untuk menjadi semcam penasihat redaksi Galeri Buku Jakarta. Dan untuk berkenannya, saya tentu sangat bahagia dan berterimakasih.

Sementara itu, kepada para pembaca buku yang kerena telah membeli buku “Memikirkan Kata” saya sampaikan permohonan maaf atas beberapa kekurangan yang anda dapati dalam buku itu, baik dari segi typografi, tema dan bahasan yang ternyata bagi anda mungkin tidak istimewa, hal-hal yang seharusnya ada tetapi tidak ada, dan kekurangan lainnya, saya berharap pemakluman lantaran tenaga, keterburuan dan ketiadaan sabar untuk menunggu waktu lebih lama lagi guna penebritan buku tersebut, semantara saya dan anda sama-sama berharap buku ini terbit segera.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

 

Jakarta, 10 Agustus 2019
Sabiq Carebesth—editor buku dan pendiri Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

John Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

by MARIA POPOVA | (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

 

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara. ”

Banyak penulis terkenal menjadian buku harian sabagi detak jantung kreatifnya, hal itu melebihi apa yang bisa kita duga. Tapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar – yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya. Dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, “The Grapes of Wrath” –sebuah judul yang politis dan radikal, Carol Steinbeck, muncul setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer bagi Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian, tetapi buah catatan pribadinya  yang tersimpan dalam buku harian, dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum) – catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya, di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa ( persis seperti Virginia Woolf) tetapi tetap maju ke depan, dengan semangat dan laju yang setara, ia terus didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dengan hadiah yang ia miliki, terlepas dari keterbatasannya. Jurnal hariannya menjadi praktik baik penebusan dan juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu: bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka.” Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

“Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, ‘Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.’ Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.”

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

John and Elaine Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang. (*)

 

Continue Reading

Tabloids

Memikirkan Kata?

mm

Published

on

Layout isi buku "Memikirkan Kata" | Photo by Sabrina Puisi AZ

Editor’s Note

Memikirkan Kata?

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

*

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreeatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

*

Dalam ruang editor’s note yang sempit dan terbatas ini, izinkan saya—dan sekalian saya meminta maaf untuk menjadikan paragraf ini menjadi begitu pribadi—tapi saya harus menyampaikan rasa terimakasih mendalam kepada para “penyumbang” tulisan dalam buku ini melalui karya penerjemahan yang dikerjakan: Ladinata, Virdika R Utama, Susan Gui, Marlina Sopiana, Regina N. Helnaz, Addi M Idham, Fleur d Nufus, Agus Teguh—mereka orang-orang dengan bertumpuk-berlimpah pekerjaan pribadi dalam profesinya masing-masing—sebagai pengajar/ dosen, jurnalis, editor penerbitan dan pimpinan lembaga, begitu rupa kesibukan dan padatnya jadwal tapi dedikasinya untuk penerjemahan bagi buku ini dengan sigap mereka “singsingkan lengan baju !”—meski kita berjalan begitu lambat, tapi itu semua sepadan dengan hasilnya! Nama yang tidak bisa ditinggalkan adalah Aldia Putra, tanpa dia buku ini tidak bisa hadir dengan perwajahan yang telah diupayakan membuat anda menyukainya, untuk berkenan membawanya ke dalam kamar dan menempatkannya di tempat layak. Aldi untuk empat bulan lebih menemani saya duduk bekerja menggarap desain dan layout isi buku ini, sigap bekerjasama untuk ide yang kadang berubah saban jam bahkan menit, menggeser dan memindah, membuang dan menambahkan apa yang berkelebat dan terasa lebih bagus, itu selalu dengan gairah seorang berusia cukup lanjut dan tiap kali sesak nafas untuk melewati pukul sebelas malam. Kepada Genta dan Ndari, terimakasih untuk mengerjakan sampul buku ini degan sangat mendalam! Begitulah buku ini melibatkan orang-orang dedikatif, ceria dan tanpa batas dalam bekerja untuk hal yang mereka pikir baik dan akan bermanfaat. Tanpa mereka semua, buku ini dengan segala kekurangannya tidak akan di tangan anda saat ini. Hampir satu tahun lebih pengerjaan buku ini, semoga bermanfaat untuk  generasi indonesia dan terutama kemanusiaan kita.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

 

Continue Reading

Trending