© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Pertimbangan Cinta

oleh: Anton Chekov

Nikanor seorang yang juga sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Pada makan pagi di hari kedua disuguhkan pastel-pastel yang begitu lezat, udang dan kotelet[1] daging domba; dan ketika kami makan, juru masak Nikanor datang ke atas menanyakan kepada para tamu, apakah yang mereka inginkan untuk makan siang. Nikanor adalah seorang yang berperawakan sedang dengan wajah gempal dan mata berbentuk kecil-kecil, bercukur, dan kelihatan, bahwa kumisnya bukan tercukur, tetapi seperti bekas dicerabuti.

Alyokhin menceritakan, bahwa Pelageya yang cantik telah jatuh cinta pada juru masak tersebut. Oleh karena Nikanor seorang pemabuk dan bertabiat kasar, Pelageya tidak mau menikah dengannya, namun setuju hidup secara begitu. Nikanor seorang yang juga sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Perbincangan mengenai cinta dimulailah.

“Bagaimanakah munculnya cinta,” Alyokhin berkata, “mengapa Pelageya tidak mencintai orang lain, yang lebih wajar untuknya baik dari sifat-sifatnya yang lembut maupun bentuk lahiriahnya, tetapi dia justru mencintai Nikanor, si wajah jelek ini (di sini kami semua menyebut Nikanor dengan si wajah jelek), karena di dalam cinta terdapat masalah-masalah yang mendasar dari kebahagiaan pribadi: semua ini belum dikenal dan semuanya boleh ditafsirkan secara terserah. Sampai saat ini hanya satu kebenaran yang tak dapat dibantah, yang telah dikatakan mengenai cinta dan tentu saja itu adalah rahasia yang bersifat agung, sedang sisanya, yakni yang telah ditulis dan dibicarakan, masih tidak terselesaikan, tetapi hanya merupakan masalah- masalah yang diangkat, yang dibiarkan berhenti tanpa pemecahan. Makanya penafsiran yang dapat dipakai untuk satu kejadian, kelihatannya, sudah tak sesuai lagi untuk sepuluh kejadian yang lainnya dan menurut saya, yang paling baik, hal seperti itu dapat dijelaskan melalui setiap peristiwa secara terpisah, sambil jangan mencoba untuk menyimpulkan. Sebagaimana dokter-dokter pernah berkata, mestilah menggolongkan setiap peristiwa yang berlainan menurut sifat khususnya masing- masing.”

“Tepat sekali,” Burkin menyetujui.

“Kita, orang Rusia, orang-orang berhati lurus, yang memiliki kelemahan terhadap masalah-masalah, yang ditinggalkan tanpa penyelesaian tersebut. Biasanya kita memuisikan cinta, menghiasinya dengan kembang-kembang mawar dan burung bulbul. Kita juga, orang Rusia, menghiasi cinta kita dengan masalah-masalah mendasar tersebut, terlebih lagi kita memilih yang paling tidak menarik dari masalah-masalah itu. Di Moskow[2], ketika masih menjadi seorang mahasiswa, saya punya seorang kawan setia: seorang nyonya jelita, yang apabila setiap kali saya merengkuhnya di dalam pelukan, dia berpikir tentang, berapakah yang akan saya berikan pada tiap bulan dan mengingatkan, berapakah sekarang harga satu pon[3]daging sapi. Begitulah kami, manakala bercinta, justru tidak berhenti memberikan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri: jujurkah ini atau tidak jujur, cendikia ataukah pandir, yang dirujuk oleh cinta itu dan lain sebagainya. Baikkah itu atau tidak baik, saya tidak mengetahui. Akan tetapi, bahwa itu mengusik, tak menyenangkan dan menjengkelkan: saya tahu.”

Kelihatannya sama, dia ingin menceritakan sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup sendiri, selalu terjadi sesuatu yang demikian di dalam jiwanya, yakni mereka akan bercerita dengan suka hati. Di kota, para bujangan secara sengaja pergi ke tempat pemandian umum dan ke restoran-restoran hanya untuk berbincang-bincang dan terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang begitu menarik kepada para pekerja di tempat pemandian umum dan para pelayan restoran tersebut; di desa pun para bujangan biasanya mencurahkan isi hati mereka di hadapan tamu-tamunya. Sekarang langit yang mendung dan pohon-pohon yang basah karena hujan, terpampang di jendela, dalam cuaca seperti ini orang tidak akan pergi kemana-mana dan bukanlah suatu masalah untuk tinggal lebih lama, bercerita dengan segera dan mendengarkan.

“Saya tinggal di Sofino[4] dan sudah lama mengurus pertanian,” Alyokhin memulai, “sejak menamatkan universitas. Berdasarkan pada pendidikan, saya orang yang menghindari pekerjaan kasar. Berdasarkan pada kehendak hati, mestinya saya jadi orang kantoran. Akan tetapi, di perkebunan, ketika saya datang ke sini ada tagihan yang cukup besar ditujukan pada saya, karena ayah saya sebagian besar berhutang untuk membiayai kuliah saya yang agak mahal, maka saya memutuskan untuk tidak pergi dari sini dan akan bekerja selama saya belum bisa membayar hutang tersebut. Saya memutuskan begitu dan mulai bekerja di sini, terus terang, bukannya tanpa rasa yang menjijikkan. Tanah di sini tak begitu layak menghasilkan, maka agar pertanian tidak jatuh pailit, semestinyalah mempekerjakan petani dengan sistem persahayaan atau sistem kontrak yang maksudnya hampir sama-sama juga, atau, bekerja membanting tulang, seperti yang dilakukan para petani, yaitu pergi sendiri ke ladang dengan seluruh anggota keluarga. Di sini tidak ada tanah tengah. Akan tetapi pada waktu itu, saya tidak bermaksud sampai pada hal-hal yang remeh seperti itu. Saya tidak membiarkan sejumput tanah pun dalam ketenangan, saya mengerahkan semua petani laki-laki dan perempuan dari desa sebelah. Pekerjaan saya di sini berkembang pesat; saya sendiri pun membajak, menyemai, memotong dan manakala saya merasa jemu, saya mengernyitkan dahi dengan rasa mual: bagai kucing kampung, yang karena saking laparnya makan ketimun di sebuah kebun; badan saya berasa nyeri dan saya tidur di atas kaki. Pada kali yang pertamalah tampak bagi saya, bahwa saya mampu secara mudah mensenyawakan kehidupan bekerja ini dengan kewajaran kultural; untuk itu yang berharga hanyalah, pikir saya, bertumpu pada hidup dengan aturan eksplisit yang dikenal. Di sini saya berdiam pada bagian atas, di kamar yang depan dan mengharuskan begini: bahwa sesudah makan pagi dan siang, saya mestilah diberi kopi dengan liker manis dan sambil berbaring tidur saya membaca Vestnik Europy[5]pada malam harinya. Namun entah mengapa muncul pendeta kita yang tua, bapak Ivan, dan dalam sekali teguk meminum semua liker manis saya, sedang Vestnik Europy pun melayang ke anak perempuannya, karena pada musim panas, terutama pada saat memotong jerami, saya tidak lagi sempat berbaring di tempat tidur dan sayapun tidur di lumbung di atas kereta salju atau di suatu tempat di gardu penjaga hutan: bagaimana saya bisa benar-benar membaca di sini? Berangsur-angsur saya pindah ke bawah, mulai makan siang di dapur umum dan hanya seorang pelayan yang tinggal pada saya dari kemewahan masa lalu, yang dulunya melayani ayah saya dan saya tak sampai hati untuk memberhentikannya.

Di sini pada tahun-tahun pertama pula saya dipilih ke pertemuan an honorary justice of the peace[6]. Kadang-kadang memang ada kesempatan untuk pergi ke kota dan mengambil bagian dalam sidang-sidang a convention of magistrates[7]dan district court[8]; ini menghibur hati saya. Jika engkau tinggal di sini selama kira-kira dua-tiga bulan tanpa pernah beristirahat, apalagi pada musim dingin, maka engkau pada akhirnya akan mulai merasa rindu terhadap black frock coat. Dan frock coat[9] itu, full-dress coat[10] dan tail coats galore[11], semua ahli hukum, orang-orang yang mendapat pendidikan umum yang baik, yakni orang-orang, yang dengan siapa kita berbicara; berkumpul di dalam district court. Dibanding sesudah tidur di atas kereta salju, sesudah makan di dapur umum di atas bangku, maka duduk dengan memakai baju bersih, sepatu tipis, dengan rantai di atas dada, itu adalah sungguh-sungguh suatu kemewahan!

Di kota saya diterima dengan penuh keramahan, dengan suka hati saya berkenalan. Akan tetapi dari semua kenalan yang paling kokoh dan memang yang paling menyenangkan bagi saya adalah berkenalan dengan Luganovich, kepala district court. Anda berdua mengenalnya: manusia berkepribadian elegan. Itu terjadi tepat sesudah selesainya kasus pembakaran rumah yang termasyur, yakni setelah pemeriksaan pengadilan yang berlangsung selama dua hari, kami berdua ketika itu sama-sama sudah penat. Luganovich menatap saya dan berkata:

“Anda tahu tidak? Marilah ke rumah saya untuk makan siang.”

Itu terjadi secara spontan, karena dengan Luganovich saya tidak seberapa kenal, kecuali hanya yang bertalian dengan hal resmi dan saya tidak sekali pun pernah ke rumahnya. Hanya sebentar saya masuk ke dalam hotel, tempat saya menginap; berganti pakaian dan sesudah itu berangkat untuk makan siang. Dan di sana saya diperkenalkan dengan Anna Alekseevna, istri Luganovich. Waktu itu dia masih sangatlah muda, usianya tidak lebih tua dari 22 tahun, setengah tahun sebelum masa itu dia sudah melahirkan anaknya yang pertama. Suatu kejadian yang sudah lalu dan sekarang saya merasa sukar untuk memastikan, apakah saya benar-benar sangat menyukai keluarbiasaan yang ada padanya, namun pada waktu itu juga, saat makan siang, segalanya bertambah nyata; saya melihat perempuan, yang cemerlang, baik budi, cerdas, memikat hati, seorang wanita, yang dulu belum pernah saya jumpai dan sekelebatan saya merasakan sesuatu yang dekat, sesuatu yang pernah dikenal, tepatnya profil wajah itu, sifat-sifat yang ramah tamah, mata yang kelihatan cerdik, yang suatu ketika, pada masa kanak-kanak pernah saya lihat, di dalam album, yang ditaruh pada lemari laci milik ibu saya.

            Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada suaminya:

“Dmitry[12], bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?”

Luganovich adalah seorang yang baik hati, salah satu dari orang-orang yang berjiwa lurus, yang dengan gigih berpegang pada opini, bahwa jika ada orang diseret ke muka pengadilan, maka ia memang jadi bersalah juga dan pengungkapan suatu kesangsian di dalam hukum kebenaran tidak boleh lewat cara yang lain, seperti halnya di dalam sistem yuridis, tertera di atas kertas dan agaknya bukanlah pada waktu makan siang serta bukan pula dalam sebuah perbincangan yang bercorak pribadi.

“Saya dan kamu tidak membakar rumah,” katanya dengan lunak, “dan begitu pun juga, kita tidak diadili, tidak dipenjarakan ke dalam bui.”

Dan keduanya, suami istri itu, berupaya agar saya makan dan minum lebih banyak lagi, melalui beberapa hal yang remeh, misalnya bagaimana mereka berdua bersama-sama menyeduh kopi dan bagaimana mereka satu sama lainnya saling cepat memahami tanpa mengatakan apa-apa, saya dapat menyimpulkan, bahwa mereka berdua hidupnya rukun, bahagia dan menyukai tamu. Setelah makan siang mereka bermain piano dengan berpasangan, kemudian setelah langit jadi gelap, saya kembali ke penginapan. Itu terjadi di awal musim semi. Kemudian saya menghabiskan musim panas tanpa henti-henti di Sofino, bahkan saya tidak pernah memikirkan kota, namun ingatan mengenai seorang wanita dengan rambut pirang terawat rapih tertinggal pada saya di sepanjang hari, saya tidak memikirkannya, tetapi bayangan tipisnya seolah-olah bersemayam di dalam jiwa saya.

Pada musim gugur yang panjang, di kota diadakan sebuah pertunjukkan dengan tujuan amal. Saya masuk ke dalam ruang kegubernuran (saya diundang ke sana saat istirahat), saya melihat, Anna Alekseevna di dekat istri gubernur dan sekali lagi perasaan yang paling tak bisa dibantah mengaliri kecantikan yang mengesankan dan biji mata yang lembut serta manis.

Kami duduk bersebelahan, kemudian menuju serambi.

“Anda tampaknya kurusan,” katanya, “Anda sakit?”

“Ya. Rasanya pundak saya kedinginan dan buruknya saya tidur di udara berhujan.”

“Kelihatannya Anda tidak bersemangat. Saat itu, pada musim semi, ketika Anda datang berkunjung untuk makan siang, Anda tampak lebih muda, lebih segar. Anda waktu itu penuh semangat dan banyak bicara, begitu menarik dan terus terang, saya bahkan sedikit terpikat. Entah mengapa di sepanjang tahun Anda sering muncul di dalam ingatan dan hari ini, justru waktu saya berniat pergi ke teater, saya merasa, bahwa saya akan bertemu dengan Anda.”

Dan dia tertawa.

“Akan tetapi sekarang Anda tidak bersemangat,” ia mengulangi, “itu menjadikan Anda tampak lebih tua.”

Keesokkan harinya saya makan pagi di rumah Luganovich, setelah itu mereka pergi ke vila untuk mengatur segala yang menyangkut musim dingin dan saya pun bersama mereka. Saya kembali ke kota dengan mereka dan pada pertengahan malam saya minum teh di rumah mereka dalam suasana yang sepi, penuh kekeluargaan, ketika tempat pembakaran menyala dan seorang ibu muda yang berjalan-jalan melihat, apakah anak perempuannya sudah tidur. Dan sesudah itu pada setiap kunjungan, saya pasti mampir ke rumah Luganovich. Mereka membiasakannya pada saya dan saya jadi terbiasa. Saya biasanya masuk tanpa perlu melapor, seperti layaknya orang rumah.

“Siapa di sana?” terdengar sebuah suara yang bagi saya terasa begitu indah dari kamar yang agak jauh.

“Itu Pavel Konstantinich[13],” jawab perempuan pelayan kamar atau mungkin pengasuh sang anak.

Anna Alekseevna keluar menghampiri saya dengan wajah yang prihatin dan setiap kali ia bertanya:

“Mengapa Anda begitu lama tidak mampir? Apa terjadi sesuatu?”

Sinar matanya, tangannya yang elegan dan halus: yang dia angsurkan kepada saya, pakaian rumahnya, gaya rambut, bunyi suara dan langkah-langkah kakinya setiap saat memancarkan pada saya segala kesan mengenai sesuatu yang baru, yang luar biasa di kehidupan saya dan yang bersifat fundamental. Kami lama berbincang-bincang dan lama juga berdiam-diam sambil memikirkan masing-masing mengenai diri sendiri atau dia memainkan piano pula untuk saya. Seandainya di rumah tidak ada seorang pun, saya akan tetap tinggal dan menanti, bercakap-cakap dengan si pengasuh, bermain-main dengan anak Anna Alekseevna ataupun rebahan di kamar di atas dipan buatan Turki dan membaca surat kabar dan jika Anna Alekseevna kembali, maka saya akan menjumpainya di ruang depan, mengambil alih segala belanjaannya dan entah mengapa saya membawa semua belanjaan itu setiap kali dengan rasa cinta yang sangat, dengan rasa gembira yang sangat: seperti bocah saja.

Maka ada pepatah: jika perempuan tidak memiliki kesibukan, maka ia akan membeli anak babi. Jika keluarga Luganovich tidak memiliki kesibukan, maka mereka akan berkawan dengan saya. Seandainya saya lama tidak berkunjung ke kota, maka saya tentunya sedang sakit atau sesuatu sedang menimpa saya dan mereka berdua begitu khawatir. Mereka khawatir, bahwa saya seorang yang berpendidikan, yang mengetahui beberapa bahasa asing dan selain itu mempelajari ilmu pengetahuan atau karya-karya susastra, tinggal di desa, bagai seekor bajing di atas putaran roda, banyak bekerja, namun selalu tidak mempunyai uang sepeser pun. Bagi mereka kelihatannya, saya menderita dan bila saya berbicara, tersenyum, makan, maka semua itu hanya untuk menyelimuti penderitaan saya, bahkan di saat-saat yang gembira, ketika saya merasa sedang senang, saya merasakan tatapan mata mereka yang menyelidik. Mereka luar biasa pilunya, manakala kesulitan benar-benar menimpa saya, manakala penagih apa saja menekan saya atau jumlah uang yang tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran yang waktunya telah ditetapkan dengan segera; keduanya, suami istri itu, berbisik-bisik di dekat jendela, kemudian Luganovich menghampiri saya dan dengan wajah yang terlihat serius berkata:

“Jika Anda, Pavel Konstantinich, sekarang-sekarang ini memerlukan uang, saya dan istri saya memohon pada Anda, agar tidak usah merasa sungkan dan memakainya dari kami.”

Dan kedua kupingnya jadi memerah, karena gelisah. Namun kembali terjadi, persis sama dengan yang tadi, mereka berbisik-bisik di dekat jendela, Luganovich menghampiri saya dengan kuping berwarna merah dan berkata:

“Saya dan istri saya dengan amat sangat meminta Anda, agar mau menerima pemberian kami ini.”

Dan dia memberikan mata rantai manset, selepah atau lampu meja dan untuk semua itu dari desa, kepada mereka, saya mengirimkan unggas, mentega dan kembang-kembang. Harus dikatakan, secara sambil lewat, mereka berdua adalah orang-orang berpunya. Pada saat pertama kalinya saya sering meminjam dan saya bukan orang yang begitu suka pilih-pilih, saya meminjam hanya di tempat mana yang memungkinkan, akan tetapi tidak ada kekuatan apa pun juga yang dapat memaksa saya untuk meminjam pada keluarga Luganovich. Ya, apa yang bisa dikatakan mengenai hal ini!

Saya adalah orang yang kurang beruntung. Baik di rumah, di ladang, maupun di lumbung saya masih memikirkan Anna Alekseevna, saya berusaha memaklumi rahasia seorang wanita muda, yang cantik dan pintar, yang menikahi seseorang yang kurang menarik, nyaris sudah seperti lelaki tua (usia suaminya lebih dari 40 tahun), dan punya anak darinya. Saya berusaha memaklumi rahasia seorang laki-laki yang kurang begitu menarik, seseorang yang bersifat penuh kebajikan, seseorang yang berjiwa sederhana, yang berhitung dengan pikiran sehat yang menjemukan; di pesta-pesta dansa dan pesta malam laki-laki yang tak bersemangat dan tidak berguna itu bergaul di sekitaran orang-orang berwibawa dengan air muka tunduk dan bersikap tidak pedulian, seperti seekor domba yang di bawa ke sana untuk di jual, meskipun demikian, dia meyakini hak-haknya sendiri untuk bahagia dan memperoleh anak dari Anna Alekseevna dan saya berusaha memahami mengapa Anna Alekseevna justru berjumpa dengan Luganovich, bukan dengan saya dan buat apa ini mesti terjadi, adalah untuk suatu kesalahan yang begitu mengerikan, yang muncul di dalam perikehidupan kami.

Dan setiap kali saya ke kota, setiap melalui sinar matanya, saya melihat, bahwasanya dia menanti; dia sendiri mengakuinya kepada saya: sedari pagi dia memiliki sesuatu rasa yang istimewa, dia telah menduga, bahwa saya akan datang. Kami berbicara lama-lama, berdiam lama-lama, namun kami tidak saling mengaku cinta dan menyembunyikannya dengan rasa takut-takut, dengan rasa cemburu. Kami merasa takut, kalau semua itu akan membuka rahasia kami masing-masing terhadap diri sendiri, untuk apakah cinta kami mampu berjalan seandainya kami tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memperjuangkannya; kelihatannya bagi saya jadi tidak masuk akal, bahwa cinta saya yang muram dan sunyi dengan tiba-tiba membungkam secara kasar kebahagiaan yang mengaliri hidup suaminya, sang anak, segala isi rumah itu, tempat saya merasa begitu dicintai dan begitu dipercayai. Apakah itu jujur? Seandainya dia mau turut dengan saya, ke mana? Ke manakah saya bisa membawa dia? Itu akan menjadi lain masalah, sekiranya saya memiliki kehidupan yang indah dan menarik, seandainya saya, misalnya, berjuang untuk membebaskan negeri sendiri atau menjadi seorang sarjana ternama, aktor, pelukis, tetapi, kalian tahu, saya bukanlah orang yang seperti itu. Jadi saya hanya akan membawanya dari satu kehidupan yang membosankan ke dalam kehidupan lain yang sama-sama membosankan atau bahkan lebih buruk dari itu. Dan berapa lamakah kebahagiaan kami akan berlangsung? Apakah yang akan terjadi dengannya, jika saya jatuh sakit, meninggal dunia atau yang paling sederhana kalau kami tidak saling mencintai lagi satu sama lainnya?

Dan Anna Alekseevna, rupa-rupanya, mempertimbangkan perihal yang sama. Dia memikirkan tentang suaminya, anaknya dan ibunya yang menyukai suaminya seperti anaknya sendiri. Apabila dia mencurahkan perasaannya sendiri, maka itu menjadikan ia berdusta atau juga berkata yang benar, tetapi di dalam posisinya yang sekarang kedua-duanya sama-sama mengerikan dan tidaklah pantas. Dan dia disiksa oleh pertanyaan: apatah cintanya membawa kebahagiaan bagi saya, apatah dia tidak mempersulit hidup saya dan apatah tanpa rasa bahagia, hidup saya menjadi susah, dipenuhi segala kemalangan? Tampaknya Anna Alekseevna merasa, bahwa dia sudah tidak cukup muda lagi untuk saya, tidak cukup lagi rajinnya dan enerjiknya untuk memulai kehidupan yang baru dan dia berbicara dengan suaminya, bahwa saya mestilah kawin dengan seorang wanita yang pintar dan sepadan, yang akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, yang merupakan partner. Dan dengan secepatnya dia menambahi, bahwa di seluruh pelosok kota wanita yang begitu itu sulit sekali dijumpai.

Tahun-tahun terus berlalu. Anna Alekseevna telah mempunyai dua orang anak. Ketika saya berkunjung ke rumah Luganovich, seorang pelayan tersenyum dengan ramahnya, anak-anak menjerit meneriakkan, bahwasanya paman Pavel Konstantinich datang berkunjung dan mereka bergelayutan pada leher saya; keduanya merasa gembira. Mereka tidak mengerti, apakah yang berkecamuk di dalam jiwa saya; mereka pikir, saya gembira juga. Keduanya melihat sifat-sifat insan berbudi pada saya. Anak-anak yang mulai akil baliq itu merasa, bahwa di sepanjang kamar berjalan insan yang mulia dan sifat mulia ini memunculkan suatu daya tarik yang spesifik pada sikap mereka terhadap saya, persisnya terhadap keberadaan saya dan perikehidupan mereka yang menjadi lebih bersih dan indah. Saya dan Anna Alekseevna bersama-sama pergi ke teater, selalu berjalan kaki; kami duduk bersebelahan di atas bangku, pundak kami bersentuhan, dengan diam-diam saya mengambil binokel[14] dari tangannya, pada saat itu pula saya merasakan, bahwa dia teramat dekat dengan saya, bahwa dia adalah milik saya, bahwa kami tidaklah mungkin hidup tanpa satu sama lainnya, akan tetapi, lantaran adanya suatu bentrokan yang aneh, sekeluarnya dari teater, kami saling mengucapkan selamat jalan dan bersimpangan, bagai orang lain. Sementara di kota orang-orang sudah membicarakan kami entah mengenai apa, namun dari semuanya, tidak satu pun kata yang mengandung kebenaran.

Pada tahun-tahun belakangan ini Anna Alekseevna jadi lebih sering berkunjung, kadang kepada ibunya, kadang ke saudara perempuannya; perasaan tidak suka tengah menerpa hatinya, kesadaran terhadap hidup yang berakhlak busuk dan tidak memuaskan sedang menghampirinya, manakala ia tidak mempunyai keinginan untuk melihat pada, baik suaminya maupun anak-anaknya. Dia sudah melakukan terapi lantaran rasa gelisah yang sangat.

Kami berdiam diri dan berdiam, sebaliknya saat seperti orang asing dia merasakan suatu kejengkelan yang aneh untuk menentang saya; apa pun hal yang saya katakan, dia sudah tidak lagi setuju dan jika saya berdebat, maka dia akan mengambil sudut yang berlawanan dengan saya. Kalaulah saya menjatuhkan sesuatu barang, maka dengan dingin dia berkata:

“Saya katakan selamat untuk Anda.”

Jika saat pergi ke teater, saya lupa membawa binokel, maka dia kemudian berkata:

“Saya sudah tahu, bahwa Anda memang akan lupa.”

Beruntung atau tidak beruntung, pada kehidupan kami tidak terjadi apa-apa, tidak berakhir dengan pasti. Waktu berpisah datang, karena Luganovich diangkat menjadi seorang kepala di guberniya[15] bagian barat. Dengan demikian segala barang furniture, kuda-kuda dan vila mestilah dijual. Ketika kami pergi mengunjungi vila dan kemudian pulang kembali, kami menoleh untuk melihat taman dan atap berwarna hijau buat penghabisan kalinya, maka segalanya jadi menyedihkan dan saya mengerti, bahwa waktunya sudah tiba untuk mengucapkan selamat jalan bukan hanya dengan sebuah vila. Keputusan telah diambil, bahwa pada Agustus akhir kami akan mengantarkan Anna Alekseevna ke Krim, ke tempat mana dokter-dokter mengirimnya dan sebentar lagi Luganovich akan pergi dengan anak-anak ke guberniya bagian barat.

Kami mengantarkan Anna Alekseevna di dalam kerumunan yang padat. Ketika dia telah berpamitan dengan suami dan anak-anaknya, maka tinggallah waktu sesaat sampai bunyi lonceng yang ketiga, saya berlari masuk menjumpainya di kompartemen[16] untuk meletakkan ke atas rak penyimpanan salah satu dari tas-tasnya, yang hampir-hampir dia lupakan dan saya harus mengucapkan selamat jalan. Saat di sana, di dalam kompartemen, sinar mata kami saling berjumpa, daya kehidupan di dalamnya sudah meninggalkan kami berdua, saya mendekapnya, dia menjatuhkan wajahnya ke dada saya dan airmata mulai mengalir dari kedua matanya; menyelimuti wajahnya, pundak, tangan, yang jadi basah lantaran airmata. O, betapa malangnya dia dan saya! Saya mengungkapkan cinta kepadanya dan dengan kepedihan yang ada di dalam hati, saya mengerti, bahwa ketika engkau mencintai, maka segala pertimbangan mengenai cinta haruslah berasal dari sesuatu yang lebih tinggi, lebih fundamental, dari sekedar bahagia ataukah tidak bahagia, berdosa ataukah bermoral di dalam pola berpikir kita, atau tidak perlu mempertimbangkannya sama sekali.

Saya menciumnya untuk yang terakhir kali, menggenggam tangannya dan kami pun berpisah: buat selama-lamanya. Kereta sudah berangkat. Saya duduk di kompartemenyang sebelah, kompartemen itu kosong dan sampai di stasiun yang pertama saya duduk di sana dan menangis. Kemudian saya pulang ke Sofino dengan berjalan kaki.

Selama Alyokhin bercerita, hujan telah berhenti dan matahari mulai tampak. Burkin dan Ivan Ivanich keluar menuju ke balkon; dari sana terlihat suatu pemandangan yang indah ke arah taman dan bentangan sungai, yang sekarang berkilauan di bawah sinar matahari, bagaikan sebuah cermin. Mereka berdua sama-sama kagum pada hamparan pemandangan tersebut dan pada saat yang bersamaan mereka menyayangkan, bahwa laki-laki dengan mata yang memancarkan kebaikan dan kecerdasan itu, yang bercerita kepada mereka dengan hati yang begitu tulus, sesungguhnya di sini, di perkebunan yang sangat luas ini, berjungkir-balik, bagaikan seekor bajing di atas putaran roda dan dia tidak mempelajari ilmu pengetahuan atau sesuatu yang lain, yang akan membuat hidupnya jadi menyenangkan dan mereka juga, rupanya, memikirkan mengenai, bagaimana berdukanya wajah seorang perempuan muda, manakala Alyokhin mengucapkan selamat jalan kepadanya di dalam sebuah kompartemen dan kemudian menciumnya di wajah dan di pundaknya. Di kota mereka berdua pernah melihatnya, Burkin bahkan berkenalan dengannya dan dia berpendapat, bahwasanya Anna Alekseevna adalah seorang wanita yang memang cantik. (*)

 

1898

 

Sumber            : Iz russkoy khudozhestvennoy prozy, Russky Yazyk Publishers, Moscow, 1989

Judul asli         : O lyubvi (dibaca A lyubvi)

Penerjemah      : Ladinata, staf pengajar jurusan bahasa dan sastra Rusia FIB Unpad

*Foto Cover    : kawanku.magz

[1] Makanan khas Rusia yang terbuat dari daging cacah halus sebagai bahan utama dan dibentuk seperti perkedel, oval kepipihan

[2] Ibukota Rusia sekarang. Kota ini dikenal pertama kali dari manuskrip tahun 1147. Yury Dolgoruky dianggap sebagai pendirinya. Anggapan terbaru mengemukakan, bahwa seseorang bernama Kuzma, yang sebenarnya mendirikan kota tersebut

[3] Ukuran berat Rusia kuno, setara dengan 405,5 gram

[4] Terletak di Boksitogorsky rayon, Leningradskaya oblast(region)

[5] European Herald. Jurnal bulanan mengenai masalah sosial-politik dan sastra, terbit di Saint Petersburg (1866-1918)

[6] Peradilan kehormatan setempat: berdasarkan reformasi pengadilan tahun 1864, di dalam setiap Uyezd, selain ada hakim yang mengurus kasus minor sipil dan kriminal, terdapat juga jabatan hakim kehormatan yang menjalankan fungsi-fungsi hakim yang tidak hadir

[7] Pertemuan para hakim, yang diberi wewenang untuk merevisi keputusan hakim-hakim atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa

[8] Pengadilan distrik: pada masa sebelum revolusi Rusia merupakan pengadilan pertama untuk kasus sipil dan kriminal

[9] Jenis jas panjang berkancing ganda, biasanya sampai ke pinggang

[10] Pakaian seragam sipil

[11] Jas panjang berbuntut lancip

[12] Dmitry Luganovich

[13] Pavel Konstantinich Alyokhin

[14] Semacam teropong berlensa, untuk melihat jauh lebih jelas di dalam teater

[15] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[16] Ruang duduk tersendiri bagi penumpang kereta api

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT