Connect with us

Inspirasi

Persembahan DiCaprio bagi Kemanusiaan

mm

Published

on

Piala Oscar pertama aktor Leonardo DiCaprio yang diraihnya dalam perhelatan Academy Awards Ke-88 ? tak hanya disambut hadirin di Dolby Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (28/2) malam waktu setempat atau Senin pagi WIB. Melalui berbagai platform media sosial, warga dunia juga menyambut pencapaian penting DiCaprio itu.

Oscar diraih DiCaprio lewat perannya sebagai Hugh Glass dalam film The Revenant. Meskipun sebelumnya telah diganjar aktor terbaik di beberapa festival, termasuk Golden Globe, anugerah Oscar tetap menjadi pencapaian yang membanggakan bagi DiCaprio. Anugerah Oscar untuk aktor terbaik itu pun dipersembahkan DiCaprio bagi kemanusiaan.

Pidato DiCaprio mengenai perubahan iklim dan kemanusiaan menyulut tepuk tangan riuh. Ia menekankan, perubahan iklim adalah nyata, dan hal itu sedang terjadi.

Perubahan iklim, menurut DiCaprio, adalah ancaman besar yang dihadapi semua spesies sehingga manusia harus bekerja bahu-membahu. “Marilah kita peduli pada planet ini. Saya juga peduli,” ujar pria kelahiran 41 tahun silam itu. Sebelumnya, dalam wawancara di luar gedung, DiCaprio mengatakan, dirinya datang untuk mewakili film-film yang lebih transenden dan menyuarakan nilai kemanusiaan.

The Revenant mengisahkan Glass, pemburu yang nyaris mati diterkam beruang. Lehernya luka. Dalam kondisi sekarat, Glass diperlakukan seenaknya oleh beberapa orang dalam pasukan yang semula memerlukan dirinya sebagai penunjuk jalan.

Ia pun berjuang untuk tetap hidup guna membalas dendam. Drama tentang ikatan batin yang dalam antara ayah dan anak juga menonjol di film ini.

Dicaprio dan Alejandro G Inarritu, menerima penghargaan Oscar dalam ajang Academy Awards ke-87

Cerita yang diadaptasi dari novel karangan Michael Punke itu menuntut DiCaprio untuk menjiwai peran dengan sungguh-sungguh. Seperti dikatakannya kepada wartawan, ia menghitung ada lebih dari 30 momen sulit yang dilakukannya saat pengambilan gambar, seperti berenang di sungai beku dan tidur di dalam bangkai hewan.

Media sosial

Obrolan mengenai DiCaprio di media sosial riuh karena pemeran Jack Dawson dalam Titanic (1997) ?itu telah empat kali dinominasikan sebagai aktor terbaik di Academy Awards, tetapi Oscar selalu lepas ke aktor lain. Ia sebelumnya dinominasikan sebagai pemeran pendukung dalam film What’s Eating Gilbert Grape (1994), lalu dinominasikan menjadi aktor terbaik di The Aviator (2005), Blood Diamond (2007), dan The Wolf of Wall Street (2014). Dalam perhelatan Academy Awards kali ini, DiCaprio mengalahkan Bryan Cranston (Trumbo), Michael Fassbender (Steve Jobs), Eddie Redmayne (Danish Girl), dan Matt Damon (The Martian).

“Aaaaah…. akhirnya,” seru sejumlah orang melalui berbagai media sosial ketika nama DiCaprio diumumkan sebagai peraih Oscar. Beberapa pemilik akun di Facebook, Twitter, dan Path, antara lain, menyebut, perjuangan keras berbuah manis. Leonardo DiCaprio akhirnya mendapatkan Oscar.

“Kalian harus melihat reaksi Kate Winslet atas kemenangan DiCaprio,” tulis akun Harper’s Bazaar, lengkap dengan potret Winslet (lawan main DiCaprio dalam film Titanic) mendekap DiCaprio. Maniiiiis….

Siaran pers dari Twitter menyatakan, kemenangan DiCaprio menjadi momen dengan jumlah cuitan per menit terbanyak sepanjang sejarah siaran langsung Academy Awards, yakni lebih dari 440.000 tweet. Jumlah ini mengalahkan jumlah cuitan saat Ellen DeGeneres berswafoto bersama aktor dan aktris pada hajatan Oscar 2014, yaitu 225.000 tweet per menit.

Ada tiga hal yang paling banyak dibicarakan di Twitter berdasarkan jumlah tweet. Pertama, ?kemenangan DiCaprio ?sebagai aktor terbaik lewat film The Revenant. Kedua, ?kemenangan Spotlight s?ebagai film terbaik. Ketiga, keberhasilan ?film Mad Max: Fury Road? memenangi Oscar yang ke-6 untuk kategori penata suara. Tentu saja, ada pula apresiasi tertuju kepada Brie Larson yang pertama kali dinominasikan dan langsung menyabet Oscar untuk aktris terbaik.

Kemenangan jurnalistik

Film Spotlight memenangi Oscar sebagai film terbaik (best picture), mengalahkan The Revenant, Room, Brooklyn, Bridge of Spies, Mad Max: Fury Road, dan The Big Short. Kemenangan ini dinilai sebagai kemenangan dan keberpihakan Academy Awards pada dunia jurnalistik, terutama jurnalisme investigasi.

Spotlight mengisahkan penyelidikan yang dilakukan The Boston Globe? ?terhadap kasus pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah pastor di Gereja Katolik di Boston serta upaya lembaga resmi untuk menutupi kejahatan itu. Seperti dikatakan produser Michael Sugar, film ini berupaya menyuarakan korban pelecehan. Oscar membantu memperkeras suara itu hingga ke Vatikan. “Paus Fransiskus, ini saatnya untuk melindungi anak-anak dan memulihkan kembali iman,” tuturnya.

Masih terkait pelecehan seksual, Wakil Presiden AS Joe Biden khusus datang ke Dolby Theatre untuk mengingatkan masalah itu. Ia mengajak semua orang bergabung dengannya bersama Presiden Barack Obama untuk memerangi kejahatan seksual. “Mari kita mengubah budaya agar tidak ada lagi perempuan dan laki-laki yang menjadi korban,” ucapnya.

Biden mengawali penampilan menggetarkan Lady Gaga yang menyanyikan “Til It Happens to You”, lagu pengiring film dokumenter The Hunting Ground. Gaga dengan baju putih, menyanyi sambil memainkan piano putih, menatap kamera dengan tajam. Sesekali kaki dan tangannya mengentak, lalu sejumlah remaja korban pelecehan seksual muncul di panggung.

“Saya menangis,” tulis sutradara Indonesia, Joko Anwar, lewat Twitter, seusai penampilan Gaga. Betul kata DiCaprio, semua orang harus bahu-membahu dan menyokong para pemimpin dunia untuk berpihak dan memperjuangkan kemanusiaan. (Susi Ivvaty, Harian Kompas)

Inspirasi

Etos Kepengarangan Pramoedya Ananta Toer

mm

Published

on

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

Oleh Hasan Aspahani *)

TIAP pengarang punya cara kerja sendiri. Tapi ada etos dasar yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi pengarang yang bersungguh-sungguh. Kita bisa menemukan teladan itu pada Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

Sebagian masa hidupnya dihabiskan di dalam penjara. Tapi ia tak pernah berhenti mengarang. Banyak pengarang dibuang bersamanya dan 800 tapol lain yang dibawa ke Pulau Buru, tapi sepertinya hanya dari Pramoedya kita mendapatkan karya yang monumental.

Banyak tapol yang jatuh dan rusak mentalnya, sakit fisiknya, bahkan meninggal di Pulau Buru. Tapi Pram tidak. Ia bertahan sebagai manusia. Saya yakin kepengarangannyalah yang mengguatkan dia. Dia tegar karena dia – sesulit apapun – masih bisa menulis.

Bagaimanakah etos kepengarangan seorang Pram? Banyak sisi yang bisa kita teladani. Saya membaca “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Hasta Mitra, 2000), dan dari situ, saya butirkan empat hal yang menurut saya adalah yang terpokok dan terpenting:

  • Menulis dalam Keadaan Apapun

Ketika rombongan wartawan datang ke Pulau Buru, pada 1973, dan diberi kesempatan mewawancarai para tahanan politik, Rosihan Anwar dan sejumlah sastrawan lain bertanya jawab dengan Pramoedya Ananta Toer. Rosihan bertanya, “Pram, Jij masih menulis?”

Jawab Pram, “Ya, baru-baru ini hampir separoh dari roman tentang periode kebangkitan nasional telah aku selesaikan.”

Dalam tahanan, dalam buangan dan pengasingan, dengan harga diri yang direndahkan, dengan akses pada bacaan bahkan alat tulis yang terbats, serta diperlakukan dengan tak manusiawi, Pram tetap menulis.

  • Tulis Hanya Apa yang Ingin Kita Tulis

Dalam kesempatan yang sama, Gayus Siagian bertanya pada Pram. Ia menanggapi jawaban Pram atas pertanyaan Mochtar Lubis tentang kenapa Pram menulis cerita berlatar sejarah. Pram bilang ia muak dengan hal-hal yang tidak menyenangkan kala itu.

“Bukankah justru yang memuakkan itu yang harus ditulis?” tanya Gayus.

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

  • Bertekadlah untuk Menghasilkan Karya Besar

Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya yang lahir dari tekad itu. Pram menuliskannya dengan hasrat untuk menghasilkan karya yang abadi. Tak pernah berhenti dibaca, tak pernah kehilangan relevansi.

Ia menulis: … Aku ingin menulis roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang zaman.

  • Bangun Dokumentasi dan Arsip Pribadi

Pramoedya adalah penulis yang mengandalkan riset. Ia percaya bahwa inspirasi adalah produk dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman. Karena itu baginya sumber bacaan itu sangat penting.

Rangkaian roman Bumi Manusia dan tiga serialnya, sudah ia rancang sebelum ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, 1965. Ia memulai dengan riset dan mengumpulkan bahan sejarah.

Ia menghimpun data-data otentik, wawancara, membaca buku, dan menyiarkan bahan-bahan yang didapat itu sedikit demi sedikit, untuk memancing masukan.

Ia juga menyalin bahan dari perpustakaan museum. Ia membayar tenaga pembantu untuk pekerjaan itu. Memang, perlu biaya dan kerja keras untuk menghasilkan karya besar.

Dokumentasi adalah tulang punggung bagu kerja seorang pengarang. Juga “…kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun.”

  • Kesempurnaan Dicapai dengan “Rasa Tidak Puas”

Pram adalah pengarang yang kritis pada diri dan karyanya sendiri. Ia melayani idenya. Ketika ia merasa harus berhenti dahulu menulis “Bumi Manusia”, roman tentang kebangkitan nasional itu, ia merasa perlu  menulis tentang masa-masa “kejatuhn Nusantara”, agar pemahamannya tentang kebangkitan nasional lebih utuh.

Maka ia pun menulis roman lain, yaitu “Arus Balik”.  Ia selesaikan karya itu dengan perasaan tak puas. Karena tak tersedi pustaka yang cukup.  Kalaupun roman itu akhirnya selesai, dia menganggap itu sebagai “naskah belum sempurna”.

__

CTI, Depok, 2019 

Hasan Aspahani
Lahir, di Handil Baru, Samboja Kutai Kartanegara, 1971. Jurnalis di grup Jawa Pos, penyair dengan sejumlah buku dan penghargaan, penulis nonfiksi dan fiksi antara lain ‘Biografi Chairil Anwar” (Gagasmedia, 2016), “Ya, Aku Lari” (DivaPress, 2018).
Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

John Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

by MARIA POPOVA | (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

 

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara. ”

Banyak penulis terkenal menjadian buku harian sabagi detak jantung kreatifnya, hal itu melebihi apa yang bisa kita duga. Tapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar – yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya. Dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, “The Grapes of Wrath” –sebuah judul yang politis dan radikal, Carol Steinbeck, muncul setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer bagi Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian, tetapi buah catatan pribadinya  yang tersimpan dalam buku harian, dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum) – catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya, di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa ( persis seperti Virginia Woolf) tetapi tetap maju ke depan, dengan semangat dan laju yang setara, ia terus didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dengan hadiah yang ia miliki, terlepas dari keterbatasannya. Jurnal hariannya menjadi praktik baik penebusan dan juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu: bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka.” Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

“Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, ‘Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.’ Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.”

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

John and Elaine Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang. (*)

 

Continue Reading

Inspirasi

Yang Dipikirkan Novelis Saat Memikirkan Ide Novel

mm

Published

on

Bill Jones, jr/ unsplash

Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka. Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu-menurutmu dia itu siapa?” Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan.

Tapi aku tidak melakukannya-dan aku melupakan seluruh peristiwa itu. Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga-cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya-sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong. Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

-Joyce Cary

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending