Connect with us

Art & Culture

Perjumpaan Iman dan Arsitektural

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih
Penulis Kitab Cerita (2020)

Presiden Joko Widodo menamainya terowongan silaturahim. Sebuah tanda persetujuan dari bakal terowongan penghubung Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang tercetus dari dialog antar pemangku kedua rumah ibadah. Dua rumah Tuhan saling bertetangga harus semakin diharmonikan oleh infrastruktur fisik yang secara simbolik menopang gairah toleransi dan keberagaman dalam naungan kebangsaan (Republika, 14 Februari 2020). Bakal terowongan sudah tentu mencipta kesetujuan dan ketidaksetujuan. Yang mempertanyakan dengan istilah “apa urgensinya” atau “nilai strategis” menganggap (manusia) Indonesia lebih butuh infrastruktur sosial atau pembangunan di sektor (mental) ekonomi.

Pertanyaan tentang urgensi dengan penekanan sikap ‘mengabaikan’ pengagungan materialitas adalah ironi ketika hari ini semakin memasuki masa materialisme masjid. Inilah masa benar-benar membangun secara fisik menuju Indonesia jutaan masjid dari tingkat RT. Dalam radius beberapa meter, kita dengan mudah bisa bertemu masjid, termasuk lembaga-lembaga pemerintah atau non-pemerintah yang memiliki masjid atau musala sendiri di kompleks kerjanya. Sepertinya tidak ada elite-agamawan yang berani bertanya “apa urgensinya” karena berpura-pura tidak melihat sikap fanatik berpunya bangunan masjid. Fanatisme kepemilikan ini tidak jarang memicu konflik yang melukai iman.   

Sejak digagas dan dikembangkan pada 1954-1955 lewat sayembara perancangan masjid nasional, Masjid Istiqlal menaungi perjumpaan dan bahkan pergolakan iman. Inilah proyek monumental Sukarno yang dilanjutkan pembangunannya di masa Soeharto. Sang arsitek, Friedrich Silaban, adalah seorang Batak Kristen. Dalam buku biografi arsitektur mewah berjudul Friedrich Silaban (2017), Setiadi Sapandi membabarkan kerja Silaban secara arsitektural sekaligus rohani-psikologis. Silaban menekuni bentuk demi menemukan jiwa dari ruang teologis yang kelak menaungi sembahyang orang-orang Islam. Silaban pun sempat resah karena merancang tempat ibadah yang bukan agamanya.

Perjumpaan iman dalam arsitektural jelas tidak bisa mengabaikan material-duniawi untuk sampai pada hal yang transendental. Di sini, rancangan Silaban berhasil menjembatani dua hal ini dengan kelegaan sekaligus kekudusan tidak saja bagi pemeluk Islam. Kita cerap, “Emper kelililing inilah yang mendefinisikan “emper raksasa”. Di area ini umat dihadapkan pada suatu pemandangan spektakuler komposisi arsitektural yang telah “dibersihkan” dari berbagai elemen kota; hiruk-pikuk jalanan, pepohonan, dan berbagai gangguan visual lainnya telah ditiadakan di luar “bingkai”. Yang disaksikan di hamparan raksasa ini adalah pucuk kubah, menara yang menjulang, deretan kolom jangkung agung, bingkai emper keliling, dan langit berawan Jakarta. Emper ini mempersiapkan kita memasuki ruang utama melalui celah-celah gelap di antara kolom-kolom raksasa, melewati batas suci, hingga bersujud menghadap kiblat di bawah kubah raksasa.”

Meruang

Di masa kolonial, nama CP. Wolff Schoemaker menempati lembaran penting dalam perancangan arsitektur tropis modern. Schoemaker turut dalam gairah perdebatan akademis tentang identitas-tropikalitas arsitektur Indonesia yang ditandai oleh dua hal penting; pembukaan sekolah arsitektur pertama di THS (Technische Hoogeschool) pada 1921 di Bandung dan pembentukan NIAK (Nederlandsch Indischen Architecten Kring atau Lingkar Arsitek Hindia Belanda) pada 1923. Di buku Arsitektur Tropis Modern (2018) garapan C.J. van Dullemen, Schoemaker tanpa sebab yang diketahui, berpindah dari agama Katolik ke Islam pada 1915.

Meski pilihan iman tidak terlalu tercermin dalam garapan arsitektural, Schoemaker sangat tertarik dengan seni serta arsitektur Hindu dan Islam. Menurutnya, arsitektur Barat yang modern dengan India klasik adalah adaptasi pas untuk lingkungan tropis. Schoemaker hanya pernah merancang tiga rumah ibadah; dua gereja dan satu masjid. Dibangun pada 1934, Masjid Nijlandweg di Bandung menjadi salah satu bangunan penting dalam pencarian jati diri arsitektur di Hindia Belanda dan satu-satunya ekspresi perjumpaan Schoemaker dengan iman yang “baru” dikenalnya.

Kita cerap, “Orientasi masjid Nijlandweg sempurna, seperti yang diharapkan dari seorang arsitek Muslim. Wolff Schoemaker memasukkan semua elemen yang secara tradisional ada di masjid karena “pada kedua sisi masigit terdapat dua tempat wudu segi delapan yang dilapisi dengan ubin berglasir untuk ritual pembersihan diri”. Adapun masjid tidak memiliki menara minaret tempat azan dikumandangkan. Walaupun demikian, bagian tengah dinaikkan di atap piramida untuk memanggil jemaahnya melaksanakan salat. Puncak atap dihias dengan bola dunia dan bulan sabit dari keramik.” Tidak ada kubah, konstruksi masjid memang mirip pendopo Jawa.

Tubuh meruang memang peristiwa yang sangat ragawi. Di sini, para arsitek menentukan keruangan yang akan menaungi pengalaman teologis-personal banyak orang. Segala elemen arsitektural, entah pintu, jendela, lantai, dinding, langit-langit, atau atap yang membawa potensi menaungi dan meruangi, adalah sarana menuju pelukan ilahiah yang hening, hangat-bercahaya, dan hening. Tepat seperti yang dikatakan oleh arsitek sekaligus penyair Avianti Armand (2017), “…sesungguhnya sebuah rumah ibadah, lengkap dengan simbol-simbol dan kualitas sakralnya, hanyalah sebuah ruang transisi yang dimaksudkan untuk membantu kita pergi ke satu ruang yang lebih pribadi. Lebih sakral. Suwung.” Ruang dan Tuhan mengajari momentum kefanaan sekaligus kekekalan, yang material sekaligus spiritual.

Tidak banyak masjid yang semakin berhasil mengantarakan dua hal fundamental. Kita tidak tahu apakah setiap orang yang beribadah di masjid menyadari momentum bersujud itu sebagai peristiwa amat personal atau sekadar suatu rutinitas yang kolektif. Begitu banyak hari ini masjid dibangun, orang-orang dibuat melihatnya sebagai bangunan sangat material saja. Sedang di era wisata (bangunan) masjid ini, bentangan sajadah di pematang sawah atau alas di tanah lapang yang jelas tidak dinaungi secara spasial tidak lagi memiliki arti. Era wisata bangunan butuh memotret, berpose, dan mematri di Instagram. Ruang tinggal ruang untuk didatangi, lalu ditinggalkan.

Saya teringat adegan di film The Ottoman Lieutenant (Joseph Ruben, 2017). Pada sebuah masjid di Istanbul masa kejayaan dinasti Ottoman, secara sederhana terjadi pertemuan iman dari seorang perempuan Kristen di naungan arsitektural Muslim. Ada rengkuhan ilahiah bercampur takjub meski di balik arsitektural itu tersembunyi biografi perang, penaklukan, kuasa-menguasai. Saat menatap langit-langit masjid, perempuan Kristen itu berkata, “Seperti berada di dalam pikiran Tuhan.”     

Ah, kita memang butuh masjid, tapi tidak perlu sampai jutaan jumlahnya!

Continue Reading
Advertisement

Philoshopia

Merajut Nalar Masyarakat melalui Filsafat Publik

mm

Published

on

Samuel Jonathan *)

Indonesia sedang darurat filsafat, katanya. Kemiskinan pemahaman dan radikalisme agama adalah kondisi yang menunjukkan bahwa negara ini darurat nalar. Filsafat, sebaliknya, mengajar untuk berpikir secara jernih dan menekankan dialog daripada koersi. Dengan demikian, kata Reza Watimena, filsafat adalah jalan keluar bagi semuanya itu.[1]

Tidak berlebihan apabila filsafat dianggap sebagai obat penawar bagi berbagai penyakit nalar: dogmatisme yang tidak berdasar, ikut arus pendapat mayoritas, atau takhayul – ringkasnya, dalam terminologi yang Tan Malaka gunakan, terkungkung dalam logika mistika.

Dogmatisme yang tidak berdasar menjadikan seseorang merasa paling benar, tanpa pernah memiliki niat untuk berefleksi akan kemungkinan bagi dirinya untuk pernah salah. Semata ikut arus mayoritas menjadikan seseorang serupa dengan hewan ternak yang hanya tahu soal makan dan tidur. Takhayul menjadikan seseorang pasrah akan keadaan yang ada tanpa berusaha mencari penjelasan bagaimana sesuatu bisa terjadi – untuk mencari kebenaran, memakai nalar, atau meneliti.[2]  

Filsafat membawa para pembelajarnya berbalik dari hal-hal tersebut. Mengutip Bertrand Russell di dalam The Problems of Philosophy bahwa filsafat,”… dipelajari bukan demi jawaban pasti … melainkan (ia dipelajari) demi pertanyaan itu sendiri; karena ia memperluas konsepsi kita akan yang mungkin, memperkaya imajinasi intelektual dan menyingkirkan kepastian dogmatis yang menutup pikiran dari spekulasi; namun, dari keseluruhannya … pikiran diubah dengan handal, dan menjadikannya satu dengan semesta.”[3] Belajar berfilsafat adalah belajar untuk bertanya dengan baik: itu kuncinya.

Permasalahannya adalah filsafat memiliki terminologi-terminologi teknis yang tidak mudah dipahami oleh kebanyakan orang awam yang tidak mempelajari ilmu filsafat secara formal – oleh publik. Terminologi-terminologi teknis yang ada di dalam ilmu filsafat acap kali membuat publik memiliki impresi pertama yang buruk. Kadang kelihatan terlalu besar, sehingga publik merasa kecil untuk berhadapan dengan filsafat; atau, terlalu rumit, sehingga publik khawatir tersesat di dalamnya.

Para ahli filsafat boleh ribut kalau Indonesia darurat filsafat, tetapi pertanyaannya adalah: apa yang sudah mereka kerjakan bagi publik? Apakah selama ini ada satu upaya untuk turun dari menara gading, dan bergaul bersama orang awam – mereka yang tidak belajar filsafat secara formal? Sejauh ini, rasa-rasanya, tidak banyak. Nampaknya, memang benar apa yang Marx sampaikan bahwa para filsuf terlalu sibuk untuk mendeskripsikan dunia, ketika seharusnya mereka mengubahnya.

Dibandingkan membawa publik ke dalam akademia filsafat, ada baiknya untuk mencoba mengerjakan yang sebaliknya, yaitu: membawa filsafat bagi publik.[4] Itulah yang disebut sebagai filsafat publik.

Perlu realistis bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendalami filsafat secara formal, tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak boleh mempelajari filsafat dengan cara mereka sendiri – sebuah pembelajaran filsafat yang ramah bagi publik.

Publik tidak lagi memerlukan dewa-dewi lainnya, ahli-ahli filsafat, yang berdiam di atas gunung Olimpus, di akademia, yang asyik dengan urusannya masing-masing. Publik memerlukan dewa Hermes yang tidak berdiam di Olimpus, melainkan pergi turun darinya untuk menyampaikan pesan dewa-dewi – yang tidak bisa secara langsung dimengerti manusia – dan menyampaikannya, dengan menerjemahkannya, bagi manusia.

Publik memerlukan orang-orang yang mampu memijakkan filsafat: seorang komunikator filsafat. Sains punya Richard Feynman, Neil deGrasse Tyson, Richard Dawkins, atau bahkan Ryu Hasan. Mereka menyederhanakan sains, tapi tidak membuat sains terlihat bodoh.

Sama seperti sains bagi publik, filsafat publik tentu bukan pengganti dari ilmu filsafat itu sendiri. Ilmu filsafat memiliki permasalahan, metodologi, pemecahan yang khas di dalam ilmunya, dengan terminologi yang eksklusif pula. Filsafat publik memiliki sifat yang lebih komplementer, atau bersifat pengantar bagi mereka yang bersedia, atau tertarik, untuk mencicip kedalaman dari ilmu filsafat. Ia bukan yang sesungguhnya, tetapi, mudah-mudahan, memimpin ke yang sesungguhnya.[5]

Apa yang bisa kita harapkan dari filsafat publik? Mengutip Warburton, filsafat memiliki kemampuan untuk mengubah kehidupan bagi mereka yang mempelajarinya[6] – pertama-tama secara intelek, kemudian afektual, terakhir laku hidup.

Setidak-tidaknya, ada tiga hal mendasar yang pertama mempengaruhi intelek dari publik, yaitu: kritisisme, perasaan kagum, dan keingin tahuan. Dalam pendidikan, ketiga hal tersebut adalah yang paling fundamental untuk memberikan alasan, makna, atau motivasi, bagi seseorang berkeinginan untuk belajar. Bayangkan apabila ketiga hal tersebut terbentuk fondasinya sedari masa remaja seseorang. Betapa transformasionalnya!

Meski begitu, filsafat yang ditawarkan bagi publik bukan bertujuan untuk menjadikan mereka intellectual snob. Filsafat memang soal diskursus, argumentasi, dan sebagainya, tetapi bukan semata yang itu-itu saja. Karena, dibandingkan bicara soal orang yang lain, filsafat, pertama-tama, adalah ajakan untuk menjadi reflektif terhadap diri sendiri, kehidupan yang tidak diuji (melalui refleksi) bukanlah kehidupan yang layak untuk dihidupi. Filsafat adalah sebuah usaha untuk mengenal diri sendiri, sesama, dan semesta.

Beruntung bahwa di masa pandemi ini, bermunculan komunitas-komunitas filsafat yang berbasis daring yang berusaha untuk menghadirkan filsafat bagi publik dengan cara yang khas masing-masingnya. Sebut saja @logos_id dan @schole_id di Twitter, atau @kelas.isolasi di Instagram, juga berbagai profil lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Bermunculannya komunitas-komunitas tersebut boleh jadi sebuah kabar baik bagi diskursus filsafat di Indonesia. Apabila dahulu orang-orang Yunani memiliki Agora atau Gimnasium untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar, mudah-mudahan, di era ini kita bisa mengerjakan ketiganya di internet. Tantangannya adalah bagaimana filsafat boleh dihadirkan bagi publik tanpa ada distorsi makna, atau membuatnya terlalu dangkal; sekaligus menghindarkannya dari teminologi teknis yang menghalangi kebanyakan orang untuk mempelajari filsafat. Filsafat publik harus berjalan di garis tipis yang memisahkan antara yang pertama dan yang kedua, untuk selalu berjalan dengan seimbang.

*) Samuel Jonathan, S.Hum. seorang pendidik dan penggiat filsafat yang berusaha menyajikan filsafat yang lebih mudah diakses oleh publik. Menyelesaikan pendidikan sarjananya di departemen filsafat Universitas Indonesia. Selain sibuk untuk bekerja sebagai tutor sejarah dari perusahan rintisan Zenius Education, juga merupakan inisator dari komunitas filsafat berbasis daring Schole Indonesia.


[1] Reza Wattimena, Indonesia darurat Filsafat, 2018, diambil 16 Agustus 2020 dari https://rumahfilsafat.com/2018/08/27/indonesia-darurat-filsafat/

[2] Franz Magnis-Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin, PT Gramedia, Jakarta, 2016, hlm. 213.

[3] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, Oxford University Press, UK, 2001, Hlm. 93-94.

[4] Gary Gutting, What Philosophy Can Do, W. W Norton & Company, New York, 2015, hlm. xii.

[5] Julian Baggini, New British Philosophy: The Interviews, Taylor & Francis, UK, hlm. 280

[6] Ibid., hlm. 282

Continue Reading

Art & Culture

Soekanto SA: Mengarus di Sastra Anak (Indonesia)

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih

“Cerita anak-anak lebih subtil dan esensial. Pantangan-pantangan dalam cerita anak-anak memaksa seorang pengarang untuk lebih kreatif. Hasil pencarian, eksplorasi hidup bisa disampaikan lebih tersaring. Di sinilah pesonanya!” inilah jawaban Soekanto SA ketika Agus Dermawan T. menyinggung pilihan berlabuh di dermaga cerita anak (Kompas, 16 Desember 1979). Berpindah dari Tegal ke Jakarta pada 1949, Pak Kanto kepincut sastra. Saat itu, ia mondok di rumah guru bahasa, Soeparto Dirdjowinoto, yang berlangganan majalah sastra Mimbar Indonesia. Di majalah ini, cerpen pertama dimuat. Pak Kanto mulai bergaul dengan para sastrawan-seniman, seperti Ajip Rodisi, Ramadhan KH, Trisnoyuwono. Pak Kanto juga menulis cerita untuk harian Pikiran Rakyat, majalah Kisah dan Siasat serta ngantor di Penerbit Indrapress dan Gaya Favorit.   

Soekanto SA

Usai 90 tahun nan panjang, Soekanto SA (18 Desember 1930-8 Juni 2020) berpulang. Pak Kanto memang lebih karib sebagai penulis cerita anak, pendongeng, pemikir kepustakaan anak-remaja. Terutama sejak 70-an, namanya tidak asing meriuhkan pertemuan mendongeng untuk anak-anak, kelas diskusi-penulisan cerita anak, seminar sastra anak, sampai forum perbukuan anak bersifat nasional dan internasional. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, ed., 1983) mencatat bahwa lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini pernah menjadi redaktur majalah Arus (1954) dan redaktur harian Jakarta Post (1995).

Disebutkan buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group), dan terkhusus majalah anak Si Kuncung (1956) didirikan Soedjati SA, sosok yang juga mengajurkan Pak Kanto bertungkus lumus di bacaan anak.    

Di tahun 70-an, menguat perbincangan identitas bacaan anak Indonesia bertaut dengan penulis cerita anak “dalam negeri”. Indonesia tidak saja mengalami masalah kemandirian dan politik impor pangan, tapi juga impor bacaan. Di majalah dua mingguan Mutiara, edisi 1-14 Juni 1988, pernah memuat liputan panjang tentang asupan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Asupan rohani berwujud buku digelisahkan. Indonesia lebih didominasi bacaan impor (terjemahan). Anak-anak Indonesia masa itu lebih karib dengan serial Lima Sekawan, Tin Tin, Oshin, Asterix, Donald Bebek. Kepala Bidang Penerbitan Balai Pustaka saat itu, Sudibyo Z. Hadisutjipto, mengatakan masalahnya bukan krisis naskah masuk, tapi mutu cerita. Penulis seperti mengalami kegersangan ide karena cerita berkisar di kedurhakaan anak, gembala, atau dramatisasi kemiskinan.

Buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group)

Pak Kanto urun tulisan berjudul “Lintas Sejarah Bacaan Anak-anak”. Setiap tahun, lahir buku-buku dianggap sebagai “karya-karya asli”. Misal di akhir 40-an, makin bergaung nama Aman Dt. Majoindo pengarang cerita klasik Si Doel Anak Betawi. Ada juga Duapuluh Dongeng Anak-anak garapan Zuber Usman, atau Dari Anak untuk Anak garapan Ibu Munah. Selain berpredikat asli, cerita sanggup menggembirakan hati dan imajinasi anak-anak. Pak Kanto juga menandai upaya-upaya intelektual sekalipun birokratis untuk menyokong bacaan dan anak. Pada tahun 1973 di Bogor misalnya, diadakan “Makan Siang Bersama Presiden” sekaligus sebagai ajang menghimpun dana bagi Yayasan Buku Utama untuk menobatkan buku-buku fiksi dan nonfiksi terbaik. Buku-buku anak turut ditimbang sejak 1981.  

Pesta dan Gila Buku

Yang sangat seru sekalipun masih memusat di Jakarta, Indonesia pernah menghelat “Pesta Buku Anak-anak dan Remaja” I dan II (1984 dan 1985). Seperti dipercayai anak-anak bahwa buku itu membahagiakan, Pak Kanto mengatakan bahwa buku “memberikan kenikmatan kepada anak-anak dan bukan sebaliknya, membuat anak-anak lari darinya karena jemu.” Setidaknya pada 1993 dan 1994, anak-anak masih memiliki perayaan bacaan bernama “Pesta Buku Anak ’93” dan Pesta Buku Anak ‘94” yang melibatkan pelbagai penerbit; Gaya Favorit Press, Djambatan, Balai Pustaka, Indira, BPK Gunung Mulia, dan lainnya.

Kita bisa menyepakati jika laporan khusus bacaan anak di Prisma (Mursidi Musa, M. Ahmad Soemawisastra, dan Edward S. Simandjuntak, Mei 1987) menyebut anak-anak Indonesia mengalami “sakit gila baca”. Meski bukan indikator satu-satunya, kegilaan tampak dari serbuan anak sekolah dasar ke pameran buku yang dihelat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Gunung Agung, toko buku berjaya di masa itu bahkan hampir mirip perpustakaan atau tempat penitipan anak saking lama dan sering pembaca belia singgah. Inilah peristiwa di masa-masa kejayaan asupan bacaan cetak sebelum globalisasi memasukkan televisi ke rumah ruang keluarga atau mukjizat internet lebih dikagumi daripada ilustrasi-ilustrasi apik sampul majalah Kawanku.

Namun, laporan khusus sekaligus membabarkan dampak aliran dana Inpres sejak 1973 yang membuat ribuan eksemplar buku dibeli dan disebar ke sekolah se-Indonesia. Penerbit yang awalnya emoh menerbitkan buku bacaan anak karena takut merugi, berbalik berburu naskah. Memang muncul penulis-penulis baru dengan jaminan finansial, tapi mutu terkadang tidak berbarengan dengan naskah-naskah yang digarap serba cepat dan banyak. Di luar sokongan pemerintah, penerbitan bacaan anak masih membawa beban sampingan sampai hari ini seperti pernah diungkap Pak Kanto; royalti, idealisme penulis dan penerbit, dan kualitas.

Kebijakan pemerintah dan politik perbukuan memang terlihat menonjol saat buku masuk masalah nasional. Perubahan kebijakan berdampak besar, tapi upaya-upaya “bawah” lebih menjanjikan dampak seismik. Inilah yang diingat dan dibagi Pak Kanto usai melakukan pelawatan ke Tokyo, Jepang, memenuhi undangan Asian Culture Centre for Unesco bersama Perhimpunan Penerbit Buku Jepang dalam acara “The Elevent Training Course/ Seminar on Book Production in Asia” pada 7 September-7 Oktober 1978 (Kompas, 27 November 1978). Asupan buku untuk anak di Jepang, salah satunya ditekuni oleh ibu-ibu yang merintis Katei Bunko atau rumah pustaka setingkat RT tanpa sponsor pemerintah. Katei Bunko tidak hanya menyediakan buku bacaan. Setiap bulan, diundang para ahli membuat pertimbangan dan saran tentang buku-buku. Hasilnya akan disebar lewat siaran pers. Katalog atau brosur buku anak juga diterbitkan untuk pegangan para ibu. Hal ini dilengkapi dengan tindakan 20 menit ibu dan anak membaca buku tanpa penjadwalan khusus. Serunya, ada majalah bulanan Japan Children Book Publishers yang mengabarkan buku-buku terbit bulan depan. Tentu ditegaskan Pak Kanto, Jepang adalah negeri yang bersemangat menerjemahkan dan menerbitkan buku.       

Jika ditimbang di Indonesia, potensi PKK bertahan sampai hari ini bisa saja menyejahterakan asupan buku anak. Tapi, sepuluh program pokok belum menyasar bacaan anak dan keluarga dengan tepat. Lalu, apa kabar “Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita untuk Anak?” Gerakan tidak menimbulkan dampak seismik karena diserukan dari “atas” sebagai program. Kita justru lebih bersemangat menyaksikan gairah mengantarkan buku ke setiap pelosok Indonesia oleh ibu, bapak, mas, dan mbak dengan gerobak, bronjong, kuda, perahu, bahkan noken. Mengantarkan buku berarti mengantarkan harapan dan kegembiraan kepada anak-anak.

Penulis sekaligus pernah wartawan Kompas, Maria Hartiningsih, dalam pengantar penerbitan ulang kumpulan cerita anak Pak Kanto berjudul Orang-orang Tercinta (Kompas, 2006) mengatakan bahwa Pak Kanto “tinggal dalam kenangan banyak anak yang sekarang sudah menjadi orang tua.” Suatu hari di kantor Si Kuncung, kedatangan anak bernama Gustini. Ia bertemu Pak Kanto sekaligus menghibur diri karena ikan-ikan peliharaannya megap-megap karena akuarium kena tendangan bola adik. Kedatangan Gustini membuat Pak Kanto menulis serial Hari-hari Bersama Gustini. Pertemuan pembaca kecil dengan Pak Kanto ini pasti istimewa. Bukan dari hal-hal muluk atau menggurui, Pak Kanto mencipta cerita-cerita hangat bagi jiwa anak-anak.

Saya membayangkan salah satu peristiwa di Lantai III Aldiron Plaza Blok M pada Sabtu sore, 20 Mei 1980 (Kompas, 20 Mei 1980). Para bocah berebut duduk paling depan menantikan Pak Kanto mendongeng dalam rangkaian acara pameran buku. Suara dan cerita itulah semesta yang dipanggil setiap anak di dalam kepala dan pendar matanya. Tidak boleh ada satu kata pun berkelit. Tiga tahun kemudian, bukan dari representasi pahlawan super, selebritas, tokoh militer, atau penguasaha sukses anak-anak memilih sosok lekat di tepian biografinya. Mereka menahbiskan Pak Kanto sebagai sang “Tokoh Favorit di Mata Anak-anak.”

Selamat jalan, Pak Kanto! Terima kasih untuk cerita-cerita bersahaja nan lembut..     

*) Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Continue Reading

Art & Culture

Apa Yang Kreatif?—Melawan Suara-Suara Penyederhanaan

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Siapa orang kreatif atau mari bertanya lebih dulu apa (orang) yang kreatif itu? Apa bahaya-bahayanya untuk menjadi “siapa” sementara ruang reflektif meminta menuntaskan maksud dan tujuan dari “apa” penulis atau pribadi kreatif itu sendiri?

Orhan Pamuk dalam pidato untuk penerimaan hadiah nobel sastra yang diterimanya mengisahkan sosok ayahnya; sebagai pribadi yang menyendiri di dalam kamar, dengan buku-buku dan menulis. Merenungkan dunia dan, terus bertanya lalu apa? Tetapi pertanyaan itu hanya menghasilkan ruang lebih luas dan kemampuan menyendiri lebih jauh lagi—dan tidak selalu berarti keberuntungan—untuk katakan menjadi penulis atau pribadi kreatif yang berhasil. Camus menuliskan:

“Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. [o]rang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. [s]etelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin. “

Mary Oliver, penyair perempuan yang dikasihi publik, memastikan bahwa dunia kreatif dihuni mereka yang memiliki kebernaian dan komitmen menuruti laku aliran batinnya, suatu panggilan jiwa yang berlaku sebagaimana kesetiaan air pada gaya gravitasi. Seseorang yang berjalan dengan susah payah melalui hutan belantara ciptaan, “mereka yang tidak mengetahui hal ini – yang tidak ‘menelan’ ini – akan hilang.”

Itulah yang dibutuhkan untuk menyelam dalam dunia kreatif dan mengambil dari dalamnya mutiara.

Maka seperti Pamuk, Oliver mengandaikan bahwa bagaimana pun [b] idang kreatif butuh kesendirian. Bidang kreatif membutuhkan konsentrasi tanpa interupsi. Itu membutuhkan seluruh langit untuk dituju, dan tak ada sorot mata melihat hingga sampai pada kepastian yang diinginkannya. Privasi. Sebuah tempat yang terpisah—untuk melangkah, untuk mengunyah pensil, untuk mencoret-coret dan menghapus kemudian mencoret-coret kembali. Tetapi sama seringnya, jika tidak lebih sering, interupsi tidak datang dari orang lain namun dari diri sendiri, atau diri lain di dalam diri.”

Suatu gagasan dari Keats tentang “kemampuan negatif,” Dani Shapiro mendesak bahwa seorang seniman, seorang pribadi kreatif, tak terhindarkan “untuk merangkul ketidakpastian, untuk diasah dan dikikir olehnya,”—untuk petualangannya yang tidak diketahui.

Pada kenyataannya, pekerjaan kreatif itu adalah bagian dari petualangan itu sendiri. Dan tidak ada seniman yang dapat mengerjakan pekerjaan ini, atau ingin melakukannya, dengan energi dan konsentrasi yang tidak utuh.

Halanya seperti laku kesendirian. Itu lebih seperti pengambil resiko (risk-taker) daripada pengambil tiket (ticket-taker). Bukannya itu akan mengecilkan arti sebuah kenyamanan, sosialitas, atau menetapkan rutinitas dunia, namun perhatiannya lebih mengarahkan ke tempat lain. Perhatiannya ada pada batas, dan pembuatan bentuk dari ketidakberwujudan yang melebihi batas.

Seperti pepatah Turki yang menjadi kredo menulis Pamuk, mereka para pribadi kreatif, para seniman dan penulis, dalam kesendirian dan kesunyiannya “menggali sumur dengan jarum”—maka tentu saja itu membutuhkan nyaris seluruhnya, dan lagi pula, tak selalu berhasil. Tetapi itu tetap tak mematahkan hidup yang memberinya perasaan berarti, untuk mengambil risiko dan memenuhi panggilan jiwa.

Panggilan jiwa yang memastikan mereka memahami, sebagaimana narasi Sontag yang menggugah, pekerjaan pertama para penulis atau bidang kreatif lainnya, adalah “untuk melawan suara-suara penyederhanaan.”

Dalam seni menulis khsusnya, Sontag menekankan bahwa; tugas penulis adalah mempersulit orang untuk memercayai para perampok batin. Tugas penulis adalah membuat kita melihat dunia apa adanya, penuh dengan berbagai klaim dan bagian, serta pengalaman. (*)

*) Sabiq Carebesth—Editor in Chief Galeri Buku Jakarta—Catatan ini adalah pengantar redaksi untuk Majalah “Book Coffee and More” yang akan dirilis perdana oleh Galeri Buku Jakarta pada Agustus 2020.

Continue Reading

Trending