Connect with us

Cerpen

Percakapan Dua id

mm

Published

on

Ikra Amesta *)

Setelah dua tahun tak berbagi kabar Sundari dan Mahisa bertemu lagi di sebuah kafe yang belum lama ini dibuka. Meskipun sempat diserang rasa segan di awal-awal, sehingga gestur mereka tampak agak kikuk dan menjurus salah tingkah, keduanya tetap meluluskan niat untuk bicara. Mereka duduk saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah meja kayu impor dari India, dan siap memuntahkan satu-dua hal yang masih tersangkut di tenggorokan masing-masing, Keduanya beradu pandang dengan cara yang satu sama lain telah akrab. Tidak ada lagi yang menemani mereka selain sisa-sisa sejarah yang belum rampung.

“Kenapa selama ini kamu cuma diam, Isa?” Sundari mulai melonggarkan sekat di tenggorokannya. “Diam terus seolah-olah aku ini tak ada.”

“Sama seperti waktu kamu diam-diam selingkuh di belakangku ─ kamu juga menganggapku tak ada,” Isa melontarkan suaranya yang parau akibat lama teredam.

“Aku sudah minta maaf, tapi reaksimu hanya diam. Harusnya kamu marah.”

“Aku marah ─ dan sakit hati.”

“Kamu tidak menunjukkannya. Aku pernah melihatmu marah, kamu membanting barang-barang. Aku juga pernah melihatmu sakit hati, kamu menangis sesenggukan. Bukan diam.”

“Kamu lebih suka kalau kuberitahu aku membanting barang dan menangis di rumah hari itu?”

“Lebih enak kalau aku bisa melihatnya langsung. Itu juga kalau memang seperti itu kejadiannya.”

“Memang seperti itu. Aku membanting barang-barang dan menangis di rumah karena semua perkataanmu masih terngiang jelas di kepala.”

“Tapi di hari itu yang kulihat kamu hanya diam. Setelah aku membeberkan kisah perselingkuhanku dengan sejujur-jujurnya dan aku siap menerima apa saja darimu, kamu tidak melakukan apa-apa. Sama sekali tanpa kata.”

“Bukannya hari itu aku juga bilang aku tidak mau bicara denganmu lagi?”

“Aku ingat yang itu,” Sundari menganggukkan kepalanya seperti tangkai pohon digoyangkan angin, “tapi, apa cuma itu? Setelah semua yang terjadi di belakangmu?”

“Itu sudah cukup buatku.”

“Dan sekarang akhirnya kamu mau bicara lagi denganku. Apa ini artinya kamu sudah menerima maafku?”

“Aku masih belum pasti. Yang pasti adalah aku sudah melupakanmu. Aku mau bicara lagi denganmu sekarang karena bagiku kamu sudah tidak ada. Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku dan semua yang membentuk perasaanku terhadapmu sudah hilang. Kamu sama seperti petugas kasir di kafe ini, atau pelayan di kafe ini, atau orang-orang yang duduk memesan makanan di kafe ini ─ sama-sama terasing dari perasaanku sebagai sesama manusia.”

“Melupakanku dengan diam? Tanpa suara kamu hanya akan mendengar suaraku dengan lebih nyaring. Kamu akan terus membawa suaraku ke mana pun kamu pergi. Suaraku bakal menggantikan suaramu di setiap jalan pikiran yang kamu tempuh. Jadi tidak mungkin kamu bisa mengabaikan aku. Aku tahu tentang itu semua karena aku sendiri mengalaminya. Selama kita pacaran kamulah yang selalu banyak bicara dan aku yang selalu mendengar ocehanmu, dan lama-lama suaramu masuk menggantikan suara-suara di alam pikiranku, dan kamu seperti mengawasiku dalam segala hal.”

“Benar, suaramu memang masih tetap bising di dalam pikiranku, tapi aku bisa mengalahkan itu. Tujuan utama dari diamku adalah untuk menyesatkanmu dalam menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Selama ini kamu tidak bisa merasa benar karena diamku tidak mengkonfirmasi ke arah sana. Kamu juga tidak bisa merasa salah karena waktu itu diamku tidak mewakili rasa iba. Kamu pasti bingung selama 2 tahun ini dalam menyikapi dirimu sendiri. Dan itulah yang kumaksud dengan membuatmu tak ada, karena tanpa pegangan terhadap apa yang benar dan yang salah kamu tak lagi punya eksistensi,” Isa menudingkan telunjuknya beberapa kali dalam gerak yang serupa seorang dukun menyipratkan air suci.

“Aku sama sekali tak terjebak dalam masalah moralitas. Bagiku persoalan ini bukan tentang benar atau salah. Bagiku ini adalah persoalan rasa. Apakah diam artinya marah? Apakah diam artinya sedih? Aku tak pernah tahu. Kamu bilang kamu mengamuk dan menangis di rumah tapi di depanku kamu hanya diam. Aku harus menebak-nebak perasaanmu selama 2 tahun ini dan itu yang membuatku kesal.”

“Tapi kamu tidak bisa begitu saja mengabaikan masalah moral denganku. Aku sudah berusaha sebaik mungkin menempatkanmu dalam posisi bersalah”

“Tadi kamu bilang tujuanmu adalah membuatku bingung menentukan benar atau salah. Sekarang kamu terang-terangan menginginkan aku bersalah.”

“Kamu sama sekali tidak merasa bersalah?”

“Ada sedikit rasa bersalah saat melakukannya. Tapi saat aku mengakui semuanya di depanmu dan kamu hanya diam, aku merasa telah melakukan hal yang seharusnya, karena tujuanku adalah membuatmu sakit hati. Jangan pura-pura tidak tahu kalau aku melancarkan balas dendam,” nada suara Sundari terdengar mengancam.

“Oh, itu. Justru aku sangat tahu, apalagi apa yang kamu lakukan itu mirip dengan yang pernah kulakukan kepadamu. Tapi hasilnya berbeda karena sebelumnya kita bertengkar hebat,” Mahisa mendaratkan pukulan ke telapak tangannya sendiri dengan tiba-tiba. “Dan kamu mengancamku dengan pisau. Lalu aku mengajakmu bercinta. Dan kamu terus diam saat aku menusukmu berkali-kali.”

“Karena aku tak merasakan apa-apa. Saat itu aku malah menemukan momen buat memikirkan bagaimana caranya membalasmu. Terus terang, aku menikmati proses yang kujalani dari awal sampai akhir apalagi semua itu kulakukan dengan adikmu sendiri. Dan lucunya adalah kamu sama sekali tidak menyangka kalau aku bisa melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan dengan si anak SMA itu. Tapi yang mengecewakan adalah reaksimu.”

“Kita sudah sepakat kalau insiden itu terjadi gara-gara tingkah sepupumu yang binal. Kamu tahu sendiri kan, sepupumu yang menggodaku,.”

“Insiden? Mungkin adikmu juga mengakui kalau akulah yang menggodanya seperti  seorang perempuan binal, ya kan? Hah, setiap perdebatan denganmu sepertinya bisa selesai dengan menyalahkan pihak ketiga yang tidak hadir.”

Lalu di tengah-tengah itu seorang pelayan datang mengantarkan makanan dan minuman ke atas meja. Piring dan gelas ditata rapi di hadapan Sundari dan Mahisa, dan kehadirannya yang tiba-tiba itu membuatnya cocok diakui sebagai pengalih perhatian yang ulung. Bahkan baik Sundari dan Mahisa sepenuhnya lupa dengan menu yang telah mereka pesan.

“Aku senang kita sudah tidak bersama lagi,” ungkap Mahisa setelah udara kembali berputar.

“Aku juga.”

“Kelihatannya kamu bahagia dengan pacarmu yang sekarang.”

“Ya, kita selalu membicarakan tentang rencana pernikahan setiap hari, bukannya malah asyik membicarakan tentang aborsi seperti waktu bersamamu. Hubunganku yang sekarang lebih serius.”

“Ada banyak topik pembicaraan di dunia ini selain pernikahan, dan aku bisa membicarakan banyak hal dengan pacarku yang sekarang. Kita juga punya selera musik yang sama.”

“Wah, pasti asyik bisa mengobrol tentang Foo Fighters dari malam sampai subuh,” cibir Sundari.

“Bukan cuma ngobrol, yang lebih asyik adalah kita bisa menyanyikan lagu-lagunya bersama-sama,” cibir Mahisa.

“Lalu memasang video norak kalian di Instagram dan mengumumkan bahwa kalian adalah pasangan paling bahagia di dunia.”

“Kamu lihat isi Instagram-ku? Baguslah kalau begitu.”

“Aku tahu kamu sengaja membuat akun Instagram cuma untuk pamer kepadaku tentang betapa bahagianya hidupmu yang sekarang. Motifmu sudah ketebak. Kamu sengaja memancingku buat mengintip aksi-aksi pencitraanmu yang palsu!”

“Tapi aku berhasil kan? Aku berhasil membuktikan kalau kamu belum bisa melepaskanku sepenuhnya.”

“Kamu juga. Akui saja, kamu pasti memikirkan reaksiku setiap kali kamu mau posting sesuatu di Instagram kan?”

“Aku cuma membayangkan bagaimana kamu dan pacar gembrotmu itu selalu berusaha mengimitasi apa pun yang kulakukan bersama pacarku.”

“Dengar ya!” Sundari menggebrak meja dan telapak tangannya langsung memerah, “kenapa selama ini aku tidak bisa menerima caramu diam adalah karena aku tahu kalau kamu masih hidup. Akan lebih mudah buatku kalau yang terjadi adalah kamu diam karena kamu memang sudah mati, dan makanya itu aku selalu tidak sabar mengecek berita kematianmu di Instagram!”

“Lonte!”

“Hei, jangan sok suci!”

“Sok cantik!”

“Diam kamu!”

 

*

Sundari dan Mahisa saling tatap. Mereka ada di kafe yang sama, tapi terpisah jarak duduk sekitar 3 meja di sana, dan jarak itu hanya mempersilakan mereka untuk sedikit berkomunikasi lewat mata. Takdirlah yang mengatur posisi duduk mereka agar bisa saling berhadapan sehingga dalam satu waktu kedua mata mereka bertautan. Sundari dan pacarnya, lalu disusul Mahisa dan pacarnya. Yang lucu dari semua itu adalah, dalam momen saling tatap yang sekilas itu, entah di kepala Sundari, entah di kepala Mahisa, atau mungkin di kepala kedua-duanya, sebuah percakapan sengit terjadi. Dan setelah itu, Mahisa melancarkan senyum canggung kepada Sundari yang tak pernah berbalas. (*)

 ________

*) Ikra Amesta, lahir dan tinggal di Bandung. Saat ini bekerja di sebuah agensi digital.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Pencarian

mm

Published

on

Setibanya di rumah, Thaleb tak menemukan kedua anak dan istrinya. Bumi terus berguncang dengan hebatnya. Beton-beton retak dan rubuh, pohon kelapa berayun-ayun ke kiri dan kanan, semua orang memadati jalanan dan berteriak histeris. Ia terus mencari istri dan kedua anaknya. Ia lihat ke belakang rumah, istrinya tidak ada di sana. Thaleb terus memanggil-manggil mereka, tapi tak ada yang menjawab. Ia pun keluar dari rumah, berdiri terpaku di jalannan. Ia melihat ke kiri dan kanan, orang-orang berlari kocar-kacir dan kalimat suci terus terucap lewat mulut mereka.

Tiba-tiba seorang tetangga melintas di hadapannya.

“Uneng, lihat istri dan anakku?” tanya Thaleb pada perempuan tua itu.

“Tadi istrimu membawa anakmu lari pakai sepeda motor,” jawab orang itu. “Menuju arah kota.”

Tanpa pikir panjang, Thaleb pun menyetop seseorang pengendara motor.

“Bang! Bang!” Thaleb menghadangi jalannya. “Boleh aku numpang ke kota?”

“Naiklah!” jawab si pengendara motor.

Thaleb pun langsung naik, dan motor berlalu menuju kota. Di jalanan, banyak anak-anak menangis ketakutan. Bumi terus berguncang tak henti-hentinya. Motor melaju cepat seolah tak mempedulikan guncangan itu.

Setibanya di jalan raya, banyak motor, becak dan mobil mamadati jalan raya, melaju tak tentu arah, sampai-sampai ada yang tertabrak. Suara tangisan anak-anak masih terdengar memadati kuping Thaleb. Ia terus melihat kiri dan kanan, mencari anak dan istrinya. Tiba-tiba motor yang ditumpanginya menabrak sebuah becak yang melaju melawan arah. Mereka pun jatuh.

Lalu ia lihat orang-orang yang ada di dalam becak, kira-kira ada delapan orang, Thaleb langsung menyadari kedua anaknya ada di antara meraka. Ia pun langsung bangun dan menghampiri becak itu. Ternyata yang membawa becak adalah Wak Kasem, orang kampungnya sendiri.

“Ibu di mana?” tanya Thaleb pada kedua anaknya.

“Istrimu tadi tertabrak di jalan raya sana,” jawab Wak Kasem sambil menunjuk tempat istri Thaleb tertabrak. “Tadi istrimu menyuruhku membawa kedua anakmu pergi. Sedangkan dia dibawa mobil yang menabraknya. Kalau aku tidak salah, mobil itu membawanya ke rumah sakit terdekat. Segeralah cari istrimu!”

Kendaraan lain sudah antri panjang di belakang becak dan membunyikan klakson. Thaleb mengelus kedua kepala anaknya, lalu menciumnya.  Becak pun berlalu meninggalkannya.

Ia segera pergi ke tempat istrinya tertabrak. Ia menyetop pengendara lain yang melintas menuju arah itu dan kembali menumpang. Jalan raya padat, suara klakson tak henti-hentinya dibunyikan.

Setiba Thaleb di tempat istrinya tertabrak, ia mendapati motor yang dipakai istrinya tergeletak di pinggir jalan. Motornya hancur dan bannya gembos. Kepala Thaleb tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang membayangkan bagaimana keadaan istrinya. Bunyi klakson dan suara tangisan anak kecil menyadarkannya dari lamunan.

Guncangan bumi sudah berhenti sesaat. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melangkah mencari rumah sakit terdekat. Ia terus berjalan cepat di tengah-tengah kerumunan orang dan kendaraan yang melaju tak tentu arah. Sesekali ia bertabrakan dengan orang lain yang juga terlihat panik.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang lari dari arah pantai berteriak mengabarkan sesuatu. Ia dengarkan teriakan itu hati-hati, ternyata orang-orang itu mengatakan bahwa air laut sudah naik setinggi pohon kelapa. Orang-orang dari arah pantai terus berlari menuju kota. Thaleb pun juga ikut berlari menuju kota, sambil mencari istrinya. Ia lihat bangunan roboh, seseorang terjepit di sana terkena reruntuhan beton. Hatinya bergidik ngeri. Di antara yang terjepit reruntuhan itu, hanya kakinyalah yang terlihat, sedangkan separuh badannya terjepit beton besar.

Tiba-tiba dari arah pantai terdengar suara yang cukup berisik. Suara patahan pepohonan, suara seng-seng dan kayu-kayu bangunan. Dari kejauhan, Thaleb melihat air hitam besar datang menggulung semua yang menghalanginya. Ia berlari menuju kota. Sebentar lagi akan sampai di Masjid Raya, pikirnya.

Suara air mengerikan itu membuat hati semua orang takut. Thaleb terus lari berdesak-desakan dengan orang lain. Suara tangisan anak kecil terus memadati pendengaran, berlomba-lomba dengan suara air besar itu. Di tengah-tengah perlariannya, ia menemukan jeringen plastik dan mengambilnya, mungkin ini akan diperlukan nanti, pikirnya. Ia terus berlari menjauh dari air hitam yang terus mengejarnya di belakang sana. Tiba-tiba ia pun terjatuh, tubuhnya terinjak oleh orang-orang. Satu dua orang juga ikut jatuh. Tanpa disadari, air itu pun menyapu dirinya. Air itu menggulung tubuhnya, membenturkannya ke tembok ruko. Jerigen itu masih dipegangnya kuat-kuat. Ia membuka mata ketika di dalam air, tak satu pun yang dapat ia lihat. Tanpa ia sadari, sepotong kayu menghantam kepalanya. Di sisi lain, sebuah seng membelah betisnya. Ia terus digulung air hitam yang mengerikan itu.

Dalam keadaan lemah di dalam air, ia berdoa: “Jika saya masih dibutuhkan di dunia ini, selamatkanlah saya dari bencana ini, ya Allah!” Di dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa dan bersalawat.

Tiba-tiba tubuhnya tersangkut di sebuah mobil, lalu ia terangkat ke permukaan karena jerigen yang ada ditangannya. Ia lihat ke atas, banyak orang di atas ruko melihat ke arahnya. Ia meminta tolong pada orang-orang itu. Mereka pun mengulurkan tali ke bawah. Thaleb menyambut tali itu. Ia ikatkan tali itu ke badannya, dan ia pegang kuat-kuat. Orang-orang yang ada di atas ruko pun menarik tubuhnya ke atas.

Thaleb selamat dari bencana tsunami yang menakutkan.

Ia lihat betisnya, ternyata sudah terkoyak lebar dihantam seng saat di dalam air. Ia raba kepalanya, ia temukan darah di sana.

Seseorang yang melihat kejadian itu membuka bajunya dan merobeknya menjadi dua bagian. Orang itu langsung membalut betis dan kepala Thaleb. Darah pun berhenti.

***

Selama dua harmal Thaleb menginap di ruko itu, makan seadanya bersama orang yang menolongnya. Di hari ketiga, air mulai surut, Thaleb pun memberanikan diri untuk turun. Di jalanan, terlihat satu-dua orang berjalan di antara tumpukan sampah dan puing-puing. Ia pun keluar dari ruko dan berjalan terpincang-pincang. Ia melihat mayat sejauh mata memandang. Puing-puing bangunan, mobil, motor, sepeda, pohon-pohon dan lain-lainnya berserakan di jalanan. Bercampur dengan ratusan mayat, bahkan ribuan. Hati Thaleb kembali bergidik ngeri.

Bantuan pun mulai datang, para tentara mengevakuasi para korban. Bantuan makanan, kesehatan dan posko-posko pun mulai didirikan. Thaleb terus menyusuri jalanan dengan kaki pincang mencari istri dan kedua anaknya. Orang-orang juga banyak mencari saudaranya. Satu-dua orang anak kecil terlihat menangis di sudut kota, karena tak menemukan ayah dan ibunya.

Kaki Thaleb terus melangkah tak tentu arah. Sampai di sudut kota lainnya, ia melihat seorang anak sedang menangis, kira-kira berumur tiga tahun. Ia hampiri anak itu. Ia elus kepalanya. Lalu anak itu digendongnya. Anak itu terus menangis sejadi-jadinya. Thaleb membawa anak itu melanjutkan pencarian istri dan anaknya. Sampai matahari mau tenggelam, istri dan kedua anaknya tidak juga ditemukan.

Ia pun memutar haluan menuju posko bantuan. Ia melangkah di antara puing-puing bangunan, pohon, dan mayat. Mega merah menyapu permukaan bumi yang luluh-lantak dihantam air besar. Hari mulai gelap, dan ia terus melangkah pelan dan pasti. Anak itu sudah terlelap dipelukannya.

Tak lama kemudian, Thaleb pun sampai di posko. Ia berikan anak itu pada seorang perempuan pengurus posko.

“Anak Bapak?” tanya perempuan itu.

“Bukan.” Kepalanya menggeleng. “Aku temukan di sudut kota.”

Perempuan itu melirik ke kakinya, ia lihat betis Thaleb mulai mengeluarkan darah. Kain yang menutupi luka itu sudah kotor terkena air di jalanan.

“Kaki Bapak kenapa?” tanya perempuan itu. Lalu ia berikan anak itu pada temannya. Setelah itu ia mendekati kaki Thaleb dan memandangi betis itu. Ia buka kain pengikat, dan betisnya yang terkoyak lebar itu pun ternganga. Perempuan itu kaget bukan main. Ia segera membawa Thaleb ke tempat medis. Ia bersihkan luka itu, lalu luka itu pun dijahit.

Thaleb tertidur karena keletihan berjalan seharian mencari kedua anak dan istrinya. Dalam tidurnya, ia berjumpa dengan istri dan kedua anaknya sedang bermain di sebuah taman. Karena mimpi itu, tepat jam tiga malam, ia terbangun. Ia lihat di sekitar, banyak orang terluka sedang tidur di sekelilingnya.

Ia pun keluar dari posko, dan seseorang mencegatnya. “Bapak mau ke mana? Istirahatlah dulu, Pak. Luka kaki Bapak belum sembuh benar.”

“Mau mencari anak-anak dan istriku.”

“Istirahatlah dulu, Pak, besok akan saya bantu mencari istri dan anak-anak Bapak. Mungkin mereka ada di posko ini. Kalau tidak ada di posko ini, mungkin ada di posko lainnya.”

Mendengar kata pemuda itu, Thaleb pun kembali masuk ke dalam tenda dan kembali beristirahat.

***

Keesokan harinya, setelah makan, Thaleb pun menuju tempat informasi posko itu bersama pemuda semalam. Ia mencari daftar nama pengungsi, ia berharap nama istri dan anak-anaknya ada dalam daftar. Tetapi, nama itu tak ditemukannya.

Ia pergi ke posko kedua, ia lihat orang-orang di sana dalam keadaan murung. Ia pergi ke tempat informasi untuk menanyakan daftar nama pengungsi, tapi nama istri dan kedua anaknya tidak juga ketemu.

Ia tak putus asa, dengan ditemani pemuda itu, ia pergi ke posko lainnya. Dan nama anak dan istrinya juga tidak ada di sana. Begitu juga dengan posko-posko selanjutnya, ia tidak menemukan anak dan istrinya.

Setelah itu, Thaleb menyuruh pemuda itu untuk pulang ke posko. “Pulanglah ke posko. Saya akan cari istri dan anak saya di tempat lain. Mudah-mudahan ketemu.”

Thaleb segera memberikan nama istri dan kedua anaknya pada pemuda itu, berangkali ada laporan dari posko-posko lain. Tidak lama kemudian, pemuda itu pun berlalu pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah tak tentu arah, ia menemukan sebuah dompet yang ia kenal betul. Ya, dompet itu adalah milik istrinya. Ia ambil dompet itu, lalu ia buka. Thaleb mendapatkan KTP istrinya dan dua lembar foto anaknya yang sudah kusam, basah terkena air tsunami. Saat itu kali pertama ia meneteskan air mata. (*)

Surabaya, 2020 | Tsunami Aceh, 26 Desember 2004

___
Puji M. Arfi, lahir di Aceh 19 Februari 1999. Sekarang sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Sejarah Peradaban Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pesantren Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh. Sekarang sedang mempelajari seni di (BMS) Bengkel Muda Surabaya. Menjadi salah seorang penggagas komunitas Cangkruk Rasa: Komunitas literasi Surabaya. Buku yang telah terbit: novel Dilema Penjara Suci: Sebuah Catatan Harian Santri Bodoh, (2019) dan Kumpulan Cerpen Perahu Pinggiran Kota, (2019).

Continue Reading

Cerpen

Wanita yang Melipat Bibirnya

mm

Published

on

Oleh: Khoirul Anam

            Semua barang-barang di kamarmu pecah-belah. Buku-buku berjatuhan dari raknya. Foto-foto yang kau tempelkan di dinding berserakan di lantai. Tidak seperti biasanya kau bersikap sedemikian. Cuaca di luar baik-baik saja. Tidak ada badai, puting beliung atau semacamnya.

Setelah mengacak seisi kamar, kau kembali ke posisi semula. Duduk memeluk lutut, kepala kau benamkan di sana. Beberapa jenak kemudian, kau berdiri. Langkahmu sedikit terhuyung, satu tangan meraih pigura berukuran sedang. Kau menatapnya. Tajam sekali tatapan itu, sejak kapan kau memiliki mata jalang?

Hari ini, kau seperti seseorang yang bereinkarnasi, tumbuh menjadi bocah mungil dengan keluguaannya. Kau menghampiri jendela dan menghirup udara di sana. Pigura masih dalam genggaman. Sudah cukup udara menyejukkan hatimu, langkah membawamu keluar. Di apartemen lantai sepuluh, kau memandang langit, kemudian memejamkan mata dan kembali menghirup udara, sedalam-dalamnya.

***

“Sayang, rona di pipimu seperti senja di ufuk barat saat tenggelam.” Kau menatap wanita di depanmu tersenyum. O, bukankah senyum itu yang selalu kau tunggu? Senyum yang dilengkapi dengan lipatan bibir—sungguh membuatmu tak tahan untuk memangutnya. Dia meletakkan jus alpukat di atas meja kecil dan membalikkan tubuhnya—menatap gumpalan awan. Kau memeluknya dari belakang.

“Sayang, segeralah tuntaskan tulisanmu itu. Pagi ini aku ingin bersantai di kafe langganan kita. Aku sangat tenang di sana. Bukankah kau juga sama?”

“Sudah selesai, sayang. Tinggal tahap revisi. Benar apa katamu barusan, sangat tenang. Aku pun menyukai lagu-lagu yang sering diputar di sana. Jaznya Bethoven, Frank Sinatra, Ella Fitzgerald dan Louis Amstrong.” Pelukanmu semakin erat, kepalamu bersandar di punggungnya. Ya, kafe yang terkenal eksotis di kotamu dengan lagu-lagu klasiknya. Mereka yang memilik jiwa seni pasti betah berlama-lama di sini, tuturmu saat pertama kali bertemu dengannya.

Vivie memutar balik tubuhnya, memagut bibirmu. Ciuman panjang itu berakhir di atas ranjang.

***

Kau duduk menyilangkan kaki. Vivie sedang bercakap-cakap dengan teman lamanya. Seperti biasa, di kafe ini kau selalu mengambil posisi duduk di ujung utara. Di sana terdapat dua kursi dan satu meja kecil. Kafe yang tidak terlalu luas memang, tetapi bertingkat tiga. Lantai paling atas di kelilingi rak buku. Sekarang sedang ada acara di sana.

Pesanan datang, kau memberi kode pada Vivie dengan gerak alis agar segera kembali ke tempat. Dia hanya memberi senyum dan melipat bibirnya, hal ini berulang kali membuatmu mati rasa. Pelayan kau hiraukan. Tatapanmu fokus ke depan, Vivie menaruh telunjuk di bibirnya dan mengangkat satu alis, seoalah dia berkata lagi seru nih! Kau menelan ludah.

Entah sudah ke berapa kalinya kau memangut bibir itu. Bibir yang pertama kali lipatannya membuatmu mabuk kepayang bukan main. Kau masih merawat ingatan awal pertemuan dengannya, sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu kau mencari buku puisi di lantai tiga kafe ini. Pablo Neruda, kau menarik buku setelah mengetahui nama penulisnya. Baru saja membaca satu-dua halaman—karena kau ulang-ulang dan tak kunjung paham—suara wanita berbisik merdu di telingamu.

“Rupanya ada seseorang yang gemar membaca puisi penyair sekelas Pablo!” Kau menoleh, wanita di depanmu tersenyum dan memperkenalkan diri.

“Vivie Amelia, panggil saja Vivie.” Kau tertegun, sempat hilang akal sejenak. Wajahnya kau tatap. Matamu tak berkedip.

“Arif Saputra.”

“Oh, nama yang kurang cocok untukmu. Kau harus segera mengubah nama. Penyair harus memiliki nama yang fantastis buat dirinya sendiri.” Kau berpikir, apa hubungannya nama dan penyair? Tetapi segera hilang pertanyaan itu. Dia menyebutkan beberapa nama agar kau bisa memilih jika hendak mengubahnya. Dan nampaknya, kau tidak keberatan..

Kalian berdua turun ke bawah, memesan dua kopi. Obrolan panjang dan menyenangkan di kafe ujung utara. Hari keberuntungan, ucapmu dalam gumam. Sepulangnya kalian tidak bertukar nomer telepon.

“Buat apa? Bukahkah kamu hampir setiap hari ada di sini?” Kau terkejut, mana mungkin dia bisa tahu. Apa mungkin setiap hari dia mengawasiku, tanyamu lagi dalam hati.

“Aku pun begitu, di ujung sana biasanya aku menghabiskan waktu membaca buku, juga menulis,” ujarnya, kau melihat kursi yang dia tunjukkan, “Kamu saja yang tak menyadarinya.” Dari bibirmu tak terucap apa-apa, hanya tersenyum. Sebelum berpisah, kalian berpose berdempetan untuk pertama kalinya. Dia pulang, sedangkan kau masih memaku diri di tempat duduk. Tak pernah sebelumnya kau merasakan hal seperti ini—rasa yang menakjubkan. Tidak ada niat untuk pulang ke apartemen. Kau tetap di posisi semula, membayangkan perempuan yang baru kau kenal masih ada di hadapanmu.

Hari-hari berikutnya kau sering berjumpa dengan Vivie. Pun, selalu saja kau pulang telat karena melakukan kebiasaanmu sejak awal kali bertemu dengannya. Hingga di suatu hari, setelah melihat surga dari wajahnya, kau terkejut lantaran seseorang menepuk pundakmu.

“Sudah lama aku tidak kemari. Bagaimana kabarmu.” Pria dengan rambut pirangnya duduk. Sempat tertegun dia melihat tatapanmu.

“Kau tahu? Begitu menyentaknya setiap senyuman yang dia lemparkan. Ketika dia menyunggingakan senyum, dagunya lancip menggiurkan, lesung pipinya di sebelah kiri. Dan, lipatan bibir itu. Ya, aku takjub sekali. Sebuah lipatan bibir atas dan bawah, lalu lidah yang keluar sedikit, mirip lidah anak ular yang baru saja menetas.”

“Hei, Bung. Kau berkata apa? Aku tak paham?” Kau menceritakan satu bulan berturut-turut pertemuan dengan Vivie. Semua keistimewaanya kau terjemahkan secara rinci. Temanmu tercenung.

“Dia sama sepertiku, menyukai puisi-puisi Pablo Neruda meski dia menulis cerita fiksi.”

“Ayolah, bukankah kau sudah pernah terluka? Dan kau berhenti menulis selama satu tahun.”

“Tapi dia menyembuhkan luka itu.”

“Dan kemudian membekaskan luka baru?”

Kau hanya menggeleng.

“Kita berdua menjadi teman diskusi tugas kuliah masing-masing. Meski jurusan filsafat, dia banyak sekali mengetahui tentang sastra.”

 “Minggu lalu, dia sudah satu ranjang denganku. Itu hal yang sukar jika dia meninggalkanku.” Nada bicaramu pelan.

“Sudahlah, aku malas mendengarkan bualanmu. Yang jelas, berhati-hatilah. Dia pengagum Pablo Neruda dan menulis cerita fiksi, sedangkan kau seorang penyair. Jangan sampai dia menjadikanmu sebagai tokoh figuran dalam hidupnya, ingat itu. Aku tahu betul, karena sebagaimana dia, aku pun menulis cerita fiksi.”

Dia menikmati makanannya sambil membaca majalah. Kau masih berlarut dalam bayangan yang membuat aliran darahmu naik-turun.

Dan di tahun berikutnya, sedikit ada perubahan. Selain kau dan Vivie sudah resmi menjadi sepasang kekasih, kau tidak lagi menikmatinya dengan tatapan kosong sepulangnya dari kafe. Melainkan mendapatkan yang lebih dahsyat—Vivie sering menginap di apartemenmu dan mengosongkan tempat tinggalnya. Satu bulan sudah kalian tak pernah pergi ke kafe langganan. Hanya mengerjakan tugas, menikmati kopi di teras depan, sambil menikmati pagi dan senja.

Mungkin kau tak menyadari apa yang dirasakan Vivie. Satu bulan menurutnya adalah waktu yang lama tidak mengunjungi kafe, hingga dia mengajakmu kemari, ke kafe langganan. Dan sekarang dia membuatmu menunggu di kursi paling ujung utara, sendirian.

“Sepertinya seru sekali obrolannya?”

“Oh, nggak kok, cuma bahas soal reuni. Kamu kelamaan nunggu, ya?” Tubuhmu serasa lemas melihat wajah muram itu. Kenapa bukan senyuman, sayang, pikirmu. Senyuman yang jika dilihat dari samping akan lebih menakjubkan, seperti diperjalanan tadi menuju kafe. Sambil memegang kemudi, kau merapikan poni yang menghalangi rona merah pipinya. Vivie yang menjilati es krim, memandangmu sembari membuang sisa-sisa cokelat di bibir dengan lidahnya.

“Sudahlah, tak jadi soal. Satu tahun aku siap menunggumu….” belum sempat kau menuntaskan pernyataan. Dia mengecup bibirmu. Tidak akan ada orang yang tahu, ujarnya. Lagi-lagi kau hanya tersenyum.

Hari ini cuaca cerah dan hatimu pun begitu. Obrolan kalian selalu hangat. Sekarang kau menceritakan perihal apa yang sudah kau baca. Aku membacanya setelah kamu tidur semalam, katamu. Dia menopang dagunya dengan tangan kanan. Rambutnya dibiarkan tergerai ke samping kiri membuatnya semakin cantik. Leher beningnya ditutupi syal orange. Alunan jaz Love-nya Frangki Sinatra terkesan membuat suasana kian romantis. Kau bercerita panjang lebar, tetang Cinta Semanis Racun yang ditulis David Albahari. Kurang-lebih sepuluh menit, Vivie memotong ceritamu yang belum tuntas.

“Ah, sudah-sudah. Jangan kau ceritakan, Sayang. Aku, sebagai penulis cerita fiksi, tentunya bisa menuliskan cerita yang lebih eksotis dari pada itu. Di sana dia menciptakan tokoh yang begitu bodoh, menurutku sih.” Dia menyeringai dan kau, dibuat terpukau melihatnya. Cerita yang baru saja kau tutur lenyap. Tak ada yang lebih indah dari lipatan bibirnya,  gumammu.

Selepas pertemuan itu, satu minggu kau menunggu kabar darinya. Terakhir kalian bertemu adalah hari senin, dia berkata memiliki kepentingan mendadak. Dan di hari yang sama, kini kau duduk memaku diri, tatapan kosong ke depan. Satu telepon mengabarimu agar segera pulang. Ada hal yang harus diperbincangkan, kata suara di seberang sana.

***

Selama perjalanan kau tidak terlalu bergairah untuk memikirkannya. Ayahmu pernah berkata akan selalu setia pada ibumu. Tapi apa, dia memintaku pulang dan memperkenalkan ibu baru, pikirnya. Kau sempat menyesal karena menolak permintaan Vivie dua bulan lalu; dia memintamu untuk mengenalkannya kepada keluargamu.

Baru kali ini kau pergi menuju luar kota—tempat tinggal ayahmu—dengan rasa gelisah. Sempat terpikir memilih berdiam diri di kafe menunggu Vivie dengan alasan banyak tugas. Setibanya, mobil kau parkirkan di halaman. Pak Rahmat—pembantumu—menyambut ramah.

“Isteri baru Pak Bos sangat cantik, semoga menjadi ibu yang baik buatmu, Den.” Kau hanya tersenyum. Dalam pikiranmu takkan ada wanita yang cantiknya menandingi Vivie. Langkahmu gusar untuk sekadar masuk bertemu wanita yang berhasil memikat hati ayahmu. Kau memang anak satu-satunya. Anak tunggal. Mungkin sebentar lagi ada tangis bayi dan kau menjadi kakak. Pintu kau buka tanpa sopan-santun. O, matamu membelalak lebar, di depanmu terdapat dua orang sedang menikmati ciumannya.

“Vivie?” nama itu terucap lirih. Dadamu berdegup kencang.

“Hai, Nak. Maaf, sebeharusnya kami tidak melakukannya sekarang. Perkenalkan.” Ayah menghampirimu yang tercengang. Vivie tersenyum. Untuk terakhir kalinya kau melihat lipatan bibirnya. Setelah itu kau keluar dan mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, tak peduli jika maut akhirnya menjemput. (*)

Kutub 2020

Khoirul Anam, lahir di Sampang, 27 Maret 2001. Dia menulis cerita pendek dan selalu merasa bersalah karena telah murtad dari perpuisian. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Sekarang berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY)

Continue Reading

Cerpen

Pale Blue Eyes

mm

Published

on

Arini Rachmatika *)

Ketika pundaknya mulai terasa nyeri lagi, Yosan beringsut dan berbaring. Diletakannya sekaleng cincau dingin di kening dan dipejamkannya mata. Telapak kaki kanannya yang gatal mengusap-usap punggung kaki yang lain. Kelopak matanya berderak-derak, bilur air dari kaleng menelusup ke sana. Dia meraih ujung kaus dan diusapnya lelehan itu. Kaleng cincau diturunkan, dia tepejam lagi, lalu mulai menggumamkan sesuatu yang rupanya sebuah lagu.

Kadang-kadang, dia berpikir ingin mendaftar kursus. Ingin sekali dia bisa bernyanyi. Selain mengisi kekosongan sesudah berkegiatan seharian, dia ingin bisa melakukannya buat sekadar menghibur diri sendiri. Walau tidak tahu apa-apa soal musik, Yosan ingin bisa mengecap kecutnya Pale Blue Eyes di lidah. Yang kian asam waktu tidak mampu menujukan liriknya pada seseorang. Lagu itu, pertama kali diperdengarkan oleh tetangga di sebelah kamarnya yang telah pindah. Seterusnya Yosan lah yang gantian memutarnya.

Jam sebelas malam. Jendela dibuka meski udara kering di luar. Kamar-kamar di sebelahnya tak lagi berpenghuni. Sunyi sekali, dia bisa dengan jelas mendengar dengus napas sendiri. Tidak hujan, tidak berangin, dan tidak ada yang bisa dilakukan, sudah 4 hari teleponnya mati. Terjadi secara tiba-tiba, ketika seperti biasa ibu jarinya tidak henti-henti meluncut di atas layar.

Dia terlalu keras berusaha agar pikirannya selalu diisi sesuatu. Tapi tidak oleh buku-buku. Meski berjejalan di rak, mereka tidak lagi diindahkannya. Dia sudah berhenti membaca sebab tidak seorangpun bisa diajak bicara tentang itu. Melakukannya sama saja seperti mengenang kemudahan masa kecil, menyenangkan tapi cuma buang-buang waktu.

Belakangan, dia menghabiskan malam-malamnya dengan menonton serial TV di internet. Semua orang bisa diajak mengobrol soal itu. Kapanpun, bahkan selagi menonton filmnya. Dalam pandangan Yosan, layar komputer dan telepon tumpang tindih. Itu dilakukan sampai pening dan mengantuk. Jeda sedikit saja bisa membuatnya meringis. Dan sekarang telepon, internet, serta serialnya mati. Kelewat banyak jeda. Ombak itu mulai menyapu tepi jiwanya. Tukang servis di toko menjajikannya lusa. Yosan mengerang.

Saat seperti inilah yang Yosan takuti akan terjadi. Absennya distraksi membawa kembali perasaan itu dengan wujudnya yang nyata. Kehampaan sudah seabad lalu bersarang dalam dirinya. Rasanya seolah ada padang dalam diri setiap orang, dan miliknya sudah jadi jurang yang terus melebar. Seakan ke dalam diri sendiri, dia bisa jatuh kapan saja dan tertelan.

Meski begitu, dia menolak mengakui perasaan semacam itu. Menolak mengakui bahwa dirinya sudah ditinggalkan. Mereka yang sempat dekat menjauh akibat ketakutannya sendiri. Dia memang orang yang berupaya membuat percakapan, tapi jauh di dalam, dia takut kalau mereka jadi lebih dekat dan mengacaukan hidupnya. Takut kalau orang lain berkunjung ke tempatnya tinggal dan hapal kebiasaannya. Kalau seseorang mengorek inti dirinya dan menertawakannya.

Seekor kucing milik penyewa rumah merayap ke tempat sampah di depan kamar dan bertengkar dengan plastik, menimbulkan suara keresak yang berisik. Yosan mengutuk karena itu menjadikannya makin sulit tidur. Menjadikan rasa hampa makin kuat dan menguasainya. Kadang, di waktu lain, dia heran kenapa pernah berpikir buat bunuh diri.

Rupanya pikiran itu masih ada di sudut kepalanya. Memang tak tertahankan. Kiranya dia tidak ingin berumur panjang kalau hidup ialah kekosongan yang berlapis-lapis. Tapi tentu, waktunya bukan sekarang. Nanti pagi ada hari yang lain lagi buatnya menemui orang lain dan melupakan jurang itu.

Setelah menghabiskan cincaunya yang tidak lagi dingin, erangannya Yosan, dan dia bisa tertidur. Lampu kamar dibiarkan menyala. Di dinding ada kalender tahun lalu, kertas-kertas dengan daftar film yang harus dihabiskan, dan salinan lirik lagu Pale Blue Eyes. Di lantai, teronggok kaleng yang kopong bagai jiwanya. Manis yang tertinggal mengundang semut-semut hitam beredar, menyaru di rambutnya, lalu merambat ke leher, letak yang paling sering dia pikirkan buat memutus rasa hampa yang melahapnya dari dalam.

Kucing semalam kembali ke tempat sampah dan dengan ceroboh menenggelamkan diri dalam timbunan benda, dari kotak teh hingga helaian rambut. Si kucing mengeong marah dan amukannya membangunkan Yosan dari tidur yang pengap. Dia lega sekarang sudah pagi. Pundaknya sudah tidak begitu nyeri.

Dia bangun, meraih sampo di tas belanja, kemudian bergegas ke kamar mandi. Di dalam dicobanya menyanyikan sebuah lagu tapi kemudian menyerah di larik kedua. Keluar dari sana, dia mengeringkan rambut sebelum menyisirnya. Sebelum bersiap, mengunci pintu, lalu pergi. Sebelum sadar hari sudahlah Sabtu dan dia menggigit pundak kanannya sampai biru. (*)

__

Januari 2020

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending