Connect with us

Buku

Pencapaian Sains dan Penghambatnya

mm

Published

on

Abad ke-21 sesungguhnya merupakan abad yang tak pernah terkirakan akan terjadi pada masa sebelumnya. Pasalnya, paling tidak hingga tiga perempat abad ke-20 banyak sekali peperangan, wabah penyakit, dan kelaparan yang membuat matinya harapan sebagian besar penduduk bumi. Kala itu, bumi layaknya memasuki abad kegelapan yang sesungguhnya dibandingkan istilah abad kegelapan yang dipakai pada abad ke-5 hingga ke-15 di Eropa.

Di tengah keputusasaan dan kegelapan, ada satu bidang kehidupan yang dapat membuat manusia memiliki harapan dan pencerahan. Bidang itu adalah sains atau ilmu pengetahuan. Tak tanggung-tanggung, Steven Pinker dalam buku ini menyebut hanya kepada sains dunia bisa berharap dan sekaligus berhutang budi.

Bukan tanpa sebab Pinker memiliki argumentasi tersebut. Ia membuktikan argumentasinya dengan menyediakan data di setiap babnya, untuk membandingkan masalah yang dihadapi manusia seperti wabah penyakit, kemiskinan, dan angka kematian akibat kejahatan atau perang semakin menurun dari abad ke-18.

Sebaliknya, tingkat kebahagiaan, jaminan sosial, pendidikan, dan kemananan  justru sangat jauh meningkat dibandingkan abad sebelumnya. Sains menyediakan obat, teknologi, dan informasi untuk terus menaikan taraf hidup umat manusia.

Membaiknya dunia karena majunya sains, menurut Pinker, sejalan dengan kemajuan demokrasi, liberalisasi, dan kapitalisme yang menjunjung tinggi hak individu. Bahkan Pinker menyebut demokrasi liberal yang memuat kapitalisme di dalamnya merupakan pencapaian tertinggi umat manusia (hlm.343).

Pinker jmendasari argumennya dengan menggunakan teori rasionalitas milik Max Webber. Menurut Weber (1905) kapitalisme hanya salah satu aspek dari rasionalitas. Ia juga menganggap bahwa modernisasi merupakan perluasan rasionalitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Steven Pinker

Penghambat Sains

Meletakkan dasar pemikirannya pada modernitas dan kapitalisme yang terdapat kompetisi di dalamnya tentu memiliki konsekuensi. Konsekuensinya, selalu ada pihak yang kalah dari setiap kemajuan yang dicapai dunia oleh sains. Pihak-pihak itu kemudian yang berpotensi menjadi penghambat sains.

Bila menggunakan teori analisis kelas sosial yang diungkapkan Karl Marx, maka pihak yang kalah jelas adalah kelas sosial rendah—Marx menyebutnya proletar. Namun, Pinker tidak ingin mendeterminiskan masalah hanya pada satu bidang yakni ekonomi.

Pinker berpendapat bahwa ketidaksetaraan ekonomi “bukan merupakan dimensi kesejahteraan manusia” dan mengutip sebuah studi yang menemukan ketidaksetaraan tidak terkait dengan ketidakbahagiaan, setidaknya dalam masyarakat yang lebih miskin (hlm.102). Dia juga menunjukkan bahwa dunia secara keseluruhan menjadi lebih setara dan menyatakan bahwa bahkan dalam area yang semakin tidak setara, orang miskin masih mendapatkan kekayaan dan mendapat manfaat dari inovasi teknologi (hlm.101).

Pinker berpendapat justru yang berpotensi menjadi penghambat sains adalah intelektual dan politisi. Sejujurnya, tidak ada satu pun intelektual yang menyukai perubahan. Bukan intelektual tidak menyukai hasil dari perubahan, melainkan Pinker tidak suka dengan sikap intelektual dalam menghadapi perubahan.

Intelektual cenderung kerap berupaya mempertahankan argumen dan perspektifnya dengan cara merendahkan argumen lain. Lantas, peran intelektual di masyarakat hanya berkompetisi untuk meraih prestise dan berebut pengaruh, dibandingkan bertanggung jawab menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pengetahuan yang dimilikinya (hlm.49).

Dalam hal ini pula, Pinker mengkritik sikap pemikiran intelektual yang justru sangat jauh dari nilai-nilai sains yang sarat akan kritik. Alhasil, yang terjadi dalam diri intelektual adalah sikap dogmatis dan otoriter. Mereka dengan sekuat tenaga akan selalu melakukan pembenaran untuk dirinya dengan beragam argumen yang ia susun dan seolah-olah dirinya yang paling benar.

Penghambat berikutnya adalah politisi. Politisi acap kali menggunakan berbagai macam cara untuk menarik suara dengan beragam janji-janji politik yang tak sesuai dengan perkembangan sains. Contohnya adalah populisme, baik populisme kanan maupun populisme kiri. Politisi-politisi populisme selalu membuat argumen untuk kembali melihat sejarah kejayaan suatu bangsa atau ras pada masa lalu dan juga memiliki kebenaran menurut versinya sendiri (hlm.333). Tak peduli seberapa banyak fakta yang diungkap, mereka tak akan mengubah kebenaran yang diyakininya—biasa dikenal dengan  post truth atau pascakebenaran.

Pinker mencontohkan bagaimana Trump melalui kampanyenya yang menekankan kejayaan warga kulit putih yang sebenarnya juga tidak jelas di periode mana kejayaan kulit putih di Amerika Serikat berlangsung. Begitu juga dengan politisi populisme agama di berbagai negara di Eropa dan Asia. Di Eropa para politisi populis menekankan kejayaan Kristen. Sedangkan, bagi yang populisme Islam akan membawa kembali klaim kejayaan kekhalifahan.

Hasilnya, meski hidup sudah di zaman kecerdasan buatan, pemikiran mereka berada di masa lalu yang penuh dengan mitos. Dengan demikian, pemikiran manusia justru akan tertutup, antikritik, dan seolah hanya memiliki satu dimensi. Melalui hal-hal itu, kata Pinker, otoritariansime akan hidup kembali dan mengubur kemajuan sains yang membutuhkan prasayarat kebebasan berpikir.

 

Lawan Penghambat Sains

Lalu, bagaimana melawan penghambat sains? Pinker meyakini sains akan terus dapat berkembang dan mengalahkan musuhnya melalui pendidikan dan pers. Di ranah pendidikan, pendidikan mesti mengembangkan kemampuan berpikir kritis (hlm.378). Dengan cara ini, murid dan guru mesti memiliki banyak referensi dalam pembelajaran dan terbiasa terbuka dengan beragam pendapat serta kritik.

Lalu kenapa pers dapat menjadi salah satu lawan untuk menghadapi sains? Bukankah saat ini pers sering menjadi kepentingan politik kelompok tertentu dan juga sedang mewabah fenomena pascakebenaran di masyarakat?

Pers memiliki peran untuk menguji semua informasi yang beredar di masyarakat dan men

Judul Buku : Enlightenment Now The Case for Reason, Science, Humanism, and Progress Penulis : Steven Pinker Penerbit : Penguin Books Limited Tahun Terbit : Cetakan I, Februari 2018 Tebal : 556 halaman, ISBN 978-0-525-42757-5 Harga : Rp.235.000

dorong masyarakat untuk terbuka dengan berbagai macam sudut pandang. Bahkan, pers juga dapat menjadi sebuah gerakan yang bertujuan untuk menyebarkan kecanggihan ilmiah seperti jurnalisme data  (hlm.403).

Melihat realitas dua hal tersebut di Indonesia memang terasa cukup berat. Akan tetapi, menyerah dan berkompromi dengan keadaan bukan hal baik untuk kemajuan sains dan kelangsungan hidup umat manusia.

Buku yang terdiri dari 23 bab ini cukup layak untuk dijadikan referensi bagi siapapun yang tertarik pada perkembangan terbaru sains dunia, meski kita juga perlu kritisi sudut pandang dan keberpihakan Pinker yang sangat “barat”. Kendati demikian, dua hal tersebut dapat dijadikan tantangan bagi perkembangan sains di Indonesia untuk menyebarkan fungsi sains sesungguhnya yaitu untuk kesejahteraan dan kebahagian seluruh manusia.

Kita tidak akan pernah memiliki dunia yang sempurna dan akan berbahaya bila kita mencari kesempurnaan. Namun, tidak ada batasan untuk terus melakukan perbaikan dari  hal yang telah kita capai, jika kita terus menerapkan sains untuk meningkatkan perkembangan hidup manusia. (*)

*) Virdika Rizky Utama | Periset di Narasi.TV

Buku

Paradigma Platon Perihal Pedagogi

mm

Published

on

Bagi Platon, “puncak tertinggi pendidikan mousike adalah cinta pada keindahan (to kalon)”

Oleh Ahmad Jauhari

Tren masa kini, jumlah orang bersekolah tinggi kian melonjak. Fakta ini cukup menggembirakan. Namun, seiring dengannya, kejahatan para insan akademik malah juga menanjak. Bukan niat mengeneralisasi, melainkan sepatutnya insan akademik, mendayagunakan kecerdasannya demi kebaikan. Apalah dikata, justru panggang jauh dari api.

Inilah cermin buruk rupa dunia pendidikan. Apa penyebabnya? Buku karya A. Setyo Wibowo ini memberikan jawaban, bahwa “kegagalan membentuk disposisi prarasional (aspek nafsu dan emosi) akan menciptakan orang-orang rasional yang bengkok: rasionya bekerja baik, cerdas, tetapi alih-alih untuk membela kebaikan, rasio tersebut malah bekerja menjadi budak nafsu uang dan budak emosi pencarian harga diri dan kehormatan” (hlm. 65). Inilah fakta, yang terang-benderang menyekap bangsa ini. Gaduhnya dunia politik, menipisnya kepedulian, kesenjangan sosial, menguatnya kecurigaan, dan seterusnya, dapat ditengarai oleh sebab kesemerawutan dunia pendidikan.

JUDUL BUKU : PAIDEIA: Filsafat Pendidikan-Politik Platon PENULIS : A. Setyo Wibowo PENERBIT : P.T. Kanisius, Yogyakarta TAHUN TERBIT : September, 2017 TEBAL : 308 halaman

Belum lagi, gempuran perangkat teknologi masa kini. Bukan berarti menolak teknologi yang kian hari makin canggih. Namun, mewaspadai efeknya, juga selayaknya jadi bahan pertimbangan. Sebab, bila “manusia (…) tenggelam dalam arus mencari yang lebih cepat, lebih canggih, dan lebih banyak, melarutkan dirinya dalam keragaman tanpa fokus. Bukannnya makin menemukan dirinya, arus yang serba cepat membuat manusia tersesat di antara banyak hal yang melingkupinya. Dalam hasratnya merangkul segala sesuatu, ia malah tidak menjadi sesuatu dan kehilangan jati dirinya sendiri” (hlm. 20-21). Kehilangan jati diri, memungkinkan orang terjerembab masuk arah banalitas hidup. Hingga ia terjerumus pada jurang kecemasan dan palung kegalauan tiada ujung. Generasi anak bangsa zaman kini, diterpa gempuran teknologi maha dahsyat. Bila dunia pendidikan tak cepat merespon dengan cerdas, malapetaka masa depan anak negeri kian kabur tak terperi.

Disinilah, urgensinya pendidikan sensibilitas dilakukan semenjak usia dini. Bila “… dimensi prarasional terbentuk baik, anak-anak akan mengembangkan karakter sedemikian rupa sehingga cenderung menyingkiri apa-apa yang kelihatan berlebih-lebihan, tidak lurus, dan tidak harmonis. Dengan menajamkan kesukaan mereka pada hal-hal yang indah dan baik, mereka akan siap berkembang menjadi kaloskagathos (elok dan baik)” (hlm. 85). Pendidikan sensibilitas, bagi Platon, dapat diolah lewat musik dan gimnastik. Bila hasratnya sudah terbentuk, dimungkinkan anak didik kala dewasa, dapat menemukan harmoni saat mengambil keputusan.

Pembentukan Jiwa

Harmonisitas jiwa manusia berjalan indah nan elok, bila aspek sensibilitasnya terbentuk dengan matang. Keugaharian jiwa memungkinkan manusia bersikap tepat mengurai persoalan hidupnya. Karenanya, “pembentukan sensibilitas (…) menjadikan (…) sikap-sikap ugahari (tahu batas dan tidak serakah), sikap berani (bukan sikap gagah-gagahan atau pengecut yang serba menjijikkan), sikap bijaksana (bukan sikap culas serba mengakali orang lain), dan sikap adil (bukannya sikap yang tidak jujur, penuh kebohongan, tipu-tipu demi keuntungan sendiri)” (hlm. 88-89). Sehingga, mengolah dimensi sensibilitas sejak usia dini memungkinkan hasratnya terbentuk. Harapannya, pada pendidikan tingkat lanjut, peserta didik telah siap diberikan kurikulum lanjutan berupa seni berdiskusi.

Di dalam kemampuan seni berdiskusi, perlunya dibedakan antara dialektika, yang akan mengarah pada idea (definisi), dengan mitos yang akan mengarah kepada logos (wacana). Definisi menawarkan cetak-biru (bentuk) pemikiran. Sedangkan wacana menyuguhkan cakrawala pemikiran. Bagi Platon, “(..), dialektika adalah proses progress of thought, kemajuan berpikir, lewat dialog di mana para mitra wicara maju pelan-pelan dari bayang-bayang sampai ke kontemplasi idea” (hlm. 131). Kemampuan berdialektika memungkinkan orang berpikir dan bertindak mandiri.

Dalam buku ini, A. Setyo Wibowo menuturkan bahwa, bagi Platon, menularkan jiwa seni, khususnya seni imitatif, merupakan juga hal yang urgen dilakukan oleh lembaga pendidikan. Begitu pentingnya seni imitatif, sampai Platon mengatakan, “bukankah kalian mengamati bahwa imitasi yang dilakukan sejak muda sampai dewasa, akan menempel menjadi kebiasaan (habit) dan menjadi kodrat sekunder orang tersebut sebagaimana tampak dalam gerak-gerik tubuhnya, cara berbicara, dan berpikirnya” (hlm. 79). Di sinilah, pembentukan jiwa, bagi Platon merupakan nyawa dari pendidikan. Jiwa bukanlah sesuatu, sebab jawaban tentang ‘sesuatu’ berangkat dari pertanyaan ‘apa’. Jiwa bisa dikenali lewat kemiripan. Dan, realitas kemiripan bisa ditunjuk dengan metafor.

Di samping seni imitatif, ternyata bagi Platon pemilihan jenis musik juga akan berpengaruh kepada pembentukan jiwa. Karena musik itu soal “lagu (melos) terdiri dari tiga hal, kata-kata (logos), intonasi (harmonia), dan ritme (ruthmos)” (hlm. 81). Ketiga hal tersebut, juga memungkinkan jiwa manusia menjumpai keharmonisan di dalam hidupnya. Itulah sebabnya, bahwa karakter itu memungkinkan dibentuk dengan model imitatif. Ritme yang baik, yang itu berpengaruh kepada pembentukan jiwa adalah yang sederhana dan punya sifat keteraturan. Sebaliknya, ritme yang buruk cenderung ngawur dan sembarangan. Maka, hidup butuh keteraturan, sebab kesehatan dan keseimbangan hidup dibentuk oleh jiwa yang harmonis.

Maka, bagi Platon, “puncak tertinggi pendidikan mousike adalah cinta pada keindahan (to kalon)” (hlm. 89). Sebab, mencintai musik memungkinkan jiwa manusia tergetar terus-menerus kepada wajah keindahan yang ranum dan senantiasa mengairahkan untuk ditatap sekaligus enigmatik bagi nalar. Rasa keinginan akan pengetahuan, yang merupakan watak khas nalar, terdorong terus-menerus oleh sebab tergetar dalam menyingkap cakrawala akan cinta pada keindahan.

Di samping musik, Platon juga memandang pentingnya pendidikan matematika. Sebab, matematika merupakan wilayah episteme, yakni “beroperasi dengan esensi-esensi konseptual yang diabstrakkan dari hal-hal inderawi” (hlm. 126). Bagi Platon, “(..) titik pusat pendidikan Matematika adalah mengajak orang menaruh perhatian pada yang abstrak yang tidak visible” (hlm. 127). Di sinilah, urgensinya pendidikan matematika. Bukan untuk matematika itu sendiri, melainkan visi yang ditawarkannya, yakni ketahanan seseorang menatap yang abstrak, yang tidak visible. Sebab keterjerumusan insan terdidik di negeri ini, terletak salah satunya, kepada kurangnya menaruh perhatian pada visi dari pendidikan matematika.

Sehingga, nalar seseorang terarah untuk mencintai kepada hal-hal yang tidak visible. Di samping, juga tentunya permenungan terhadap yang visible sebagaimana apa adanya. Sebab, kesadaran dalam rupa-rupa penampakan, memungkinkan ‘penemuan terhadap apanya’ realitas yang luput dari permenungan. Pertautan antara yang visible dan yang non-visible memungkinkan manusia menjumpai jiwa yang harmonis.

Serupa jagat raya ini, keugaharian jiwa memungkinkan tindakan mengarah pada yang baik, benar, dan indah, sekaligus, bonusnya, akan senantiasa berbahagia. Pemimpin adalah pengendali dari seluruh kesejahteraan suatu kelompok atau bangsa. Disebut pengendali sebab darinyalah, suatu bangsa menuju kesejahteraan atau mengarah pada kenestapaan. Buku ini mengulas dengan ranum, detail, dan tajam perihal tersebut.

Buku ini menawarkan gagasan revolusioner bagi arah baru paradigma pendidikan, terlebih lagi berguna bagi Indonesia. Di tengah gencarnya jargon revolusi mental era pemerintahan Jokowi, maka terbitnya buku ini, pada momentum yang tepat, di tengah benang kusut pendidikan yang rumit dan bernada suram. Buku ini, patut menjadi bahan pertimbangan, baik pemerhati juga pelaku dunia pendidikan maupun pemegang kebijakan.(AJ)

*) Ahmad Jauhari, Penulis Buku Homo Turbulen: Diskursus Perihal Religiositas,

Individualitas, dan Sosialitas (2019);

Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Continue Reading

Buku

Books Review: Youth and Struggle to Control Power

mm

Published

on

the four foundations of the aasociation of indonesia struggle cannot be ruled out as the influence of the intellectual school that developed in Europe in the 1920s, especially Marxism-Lenninism. Therefore, the Indonesian Association was impressed by the Indonesian Communist Party (PKI) as the most radical anti-Dutch party in the country (page 45).

Book Title: Student, Nationalism, and Prison (Indonesian Association 1923-1928) Author: John Ingleson Publishing Year: First Print, Bilingual, May 2018 Thickness: xiv + 138 pages ISBN 978-602-9402-93-3

Youth always has its own place in the journey of Indonesia as a nation state. This time, in the 2019 general election event, the number of young or millennial voters is estimated at 40 percent of the national vote. Therefore, many political parties offer programs that are more than “young people”.

It seemed good for young people, because political parties that had been filled with old people with abstract ideas, began to accommodate the needs of young people. However, what actually happens is that young people are only taken by political parties to get their votes in elections. In fact, there are political parties that claim to be a party of young people, but cannot show differentiation of ideology with other parties.

Pity? Of course! Because in the course of history, young people always play a major role in various fields. Young people are subjects, not objects. Meanwhile, if necessary, young people are willing to be supported by the status quo or ruler, because they maintain the values ​​of the struggle they believe in. Romanticism impressed and not in accordance with the spirit of the times? Every age does have its own children and enthusiasm, but more substance must be maintained and continue to be practiced.

Maybe the message the publisher of the Komunitas Bambu wanted to send when the book Students, Nationalism and Prison was published by John Ingleson’s. A book that reveals the struggle of the organization of the Dutch East Indies students in the Netherlands called the Association of Indonesia (PI) 1923-1928. Like many written in history books, PI is the first organization to formally use the name Indonesia.

The presence of a group of young people studying abroad is not a fate or something given by God for free. They can get education both at mother land and abroad, is an ethical political policy that was put in place 1901. At present politicians, Van Deventer in the Netherlands revealed practices that were not carried out by humane cultivation carried out by the colonial government. Therefore, the colonial government must return the favor by running an education, management and emigration program.

According to Ernest Henri, Philippe Baudet and Izaak, Johannes Brugmans (1987), the education program is actually intended to create indigenous workers who can be bought at low wages. With the presence of a group that feels Education, Robert Van Niel (2009) calls them the modern elite in Indonesia. Because before, said Van Niel, the outline of the development of the Indonesian elite was from the traditional, cosmologically oriented, and based on the modern elite which was oriented to the state of prosperity, based on education.

Modern elites who were destined to become laborers, turned out to get the awareness to be able to liberate themselves or at least demand equality of position between the citizens of the Dutch East Indies and the Netherlands. This awareness and equality is obtained directly by the Indonesian Association in the Netherlands, one thing they have never felt in their own country (page 3). Not surprisingly, the Indonesian Association places national unity, solidarity, non-cooperation, and self-reliance as the four main ideologies or the basis of struggle (page 15).

This ideology can be regarded as a statement of the attitude of rebellion by the Indonesian youth elite in opposing more moderate ideas from the national parties in Dutch Hinidia such as Budi Utomo and Sarekat Islam. Because, moderates will only fill the House of Representatives or the Volkskraad who have never been able to realize their struggle and alignments with the citizens of the Netherlands East Indies. In addition, the four foundations of the aasociation of indonesia struggle cannot be ruled out as the influence of the intellectual school that developed in Europe in the 1920s, especially Marxism-Lenninism. Therefore, the Indonesian Association was impressed by the Indonesian Communist Party (PKI) as the most radical anti-Dutch party in the country (page 45). However, the Indonesian Association did not fully agree with the PKI. There were differences in principles in determining how to achieve Indonesian independence between the PI and the PKI. All at once, the PKI leadership at that time declared the need for an organization to prepare a revolution with violence. Meanwhile, Hatta believed that the most important thing was to gradually educate the people and prepare them to become an independent nation. However, Hatta and Semaun signed a private convention, namely Semaun, agreeing that PI would lead the nationalist movement, promising cooperation and offering PKI printing tools for use by PI (page 62).

When the PKI resistance occurred in 1926, the convention documents were discovered by the Dutch and were used as evidence to arrest Hatta and other PI leaders because they were considered to be involved in the resistance of the PKI in 1926. However, the colonial government was defeated by Hatta. Post-trial, Hatta convinced the nationalist movement not to give up on fighting for Indonesian independence, even making his arrest a driver of struggle (page 98). The cause is that young people and especially educated people have moral and social responsibility to ordinary people. So, a diametrical position without compromise with power is a necessity to control power which always has the potential to be corrupt. As Soedjatmoko stated, youth and intellectuals must remain outside the government, apart from direct involvement in politics, to enable it to provide intellectual institutions and voluntary associations needed to ensure a balanced balance between the state and society. (*)

_______________

*) Virdika Rizky Utama: Researcher at Narasi. TV

Continue Reading

Buku

Books Review: Pemuda dan Perjuangan Mengontrol Kekuasaan

mm

Published

on

www.westernsydney.edu.au

Tak dapat dikesampingkan, Perhimpunan Indonesia merupakan pengaruh aliran intelektual yang berkembang di Eropa pada 1920-an, terutama Marxisme-Lenninisme. Oleh sebab itu, Perhimpunan Indonesia terkesan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai anti-Belanda yang paling radikal di tanah air (halaman 45).

Book Title: Student, Nationalism, and Prison (Indonesian Association 1923-1928) Author: John Ingleson Publishing Year: First Print, Bilingual, May 2018 Thickness: xiv + 138 pages ISBN 978-602-9402-93-3

Pemuda selalu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa. Kali ini, pada perhelatan pemlihan umum 2019, jumlah pemilih muda atau milenial diperkirakan 40 persen dari suara nasional. Oleh sebab itu, banyak partai politik yang menawarkan programnya yang lebih “anak muda”.

Hal itu terkesan baik bagi anak muda, sebab partai politik yang selama ini diisi oleh orang-orang tua dengan ide-ide abstrak, mulai mengakomodasi kebetuhan anak muda. Akan tetapi, yang terjadi sebenarnya adalah anak-anak muda hanya dijadikan objek oleh partai politik untuk mendapatkan suaranya dalam pemilu. Bahkan, ada sebuah partai politik yang mengklaim dirinya adalah partai anak muda, tapi tak bisa menunjukkan diferensiasi ideologi dengan partai lainnya.

Miris? Tentu saja! Sebab dalam perjalanan sejarah, anak muda selalu memainkan peran utama dalam berbagai bidang. Anak muda adalah subjek, bukan objek. Bahkan bila perlu anak muda rela dibui oleh status quo atau penguasa, karena mempertahankan nilai-nilai perjuangan yang mereka yakini. Terkesan romantisme dan tak sesuai dengan semangat zaman? Setiap zaman memang memiliki anak dan semangatnya sendiri, tapi setidaknya subtansi harus tetap dijaga dan terus dipraktikkan.

Mungkin pesan itu yang ingin disampaikan oleh penerbit Komunitas Bambu kala menerbitkan kembali buku Mahasiswa, Nasionalisme, dan Penjara karya John Ingleson. Sebuah buku yang mengungkap perjuangan sebuah organisasi anak rantau Hindia Belanda di Belanda bernama Perhimpunan Indonesia (PI) 1923—1928. Seperti banyak yang ditulis dalam buku sejarah, PI merupakan organisasi pertama yang menggunakan nama Indonesia secara formal.

Adanya sekolompok pemuda yang berkuliah di luar negeri bukan sebuah suratan takdir atau sesuatu yang diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma. Mereka dapat mengeyam Pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri, merupakan akibat diberlakukannya politik etis 1901. Saat itu politisi Van Deventer di Belanda mengungkapkan praktik tidak manusiawi tanam paksa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Oleh sebab itu, pemerintah kolonial harus membalas budi dengan menjalankan program edukasi, irigasi, dan emigrasi.

Menurut  Ernest Henri Philippe Baudet dan Izaak Johannes Brugmans (1987), program edukasi sebenarnya diperuntukkan untuk menciptakan buruh-buruh pribumi yang dapat dibayar dengan upah murah. Dengan adanya kelompok yang merasakan Pendidikan, Robert Van Niel (2009) menyebut mereka adalah elite modern di Indonesia.

Sebab sebelumnya, kata Van Niel, garis besar perkembangan elite Indonesia adalah dari yang bersifat tradisional, yang berorientasi kosmologis, dan berdasarkan keturunan kepada elite modern yang berorientasi kepada negara kemakmuran, berdasarkan pendidikan.

Elite modern yang diperuntukkan menjadi buruh, ternyata mendapatkan kesadaran untuk dapat memerdekakan diri atau paling tidak menuntut kesetaraan posisi antara warga Hindia Belanda dan Belanda. Kesadaran dan kesetaraan itu didapat langsung oleh Pehimpunan Indonesia di Belanda, satu hal yang tak pernah mereka rasakan di negeri sendiri (halaman 3). Tak mengherankan, apabila Perhimpunan Indonesia menempatkan kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperasi, dan swadaya sebagai empat ideologi utama atau dasar perjuangan (halaman 15).

Ideologi ini dapat dikatakan sebagai suatu pernyataan sikap pemberontakan oleh kelompok elite pemuda Indonesia dalam melawan ide-ide yang lebih moderat dari partai-partai nasional di Hinidia Belanda seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Sebab, kaum moderat hanya akan mengisi Dewan Perwakilan Rakyat atau Volkskraad yang tak pernah dapat merealisasikan perjuangan dan kebepihakannya kepada warga Hindia Belanda.

Selain itu, empat dasar perjuangan Perhimpunan Indonesia tersebut tak dapat dikesampingkan merupakan pengaruh aliran intelektual yang berkembang di Eropa pada 1920-an, terutama Marxisme-Lenninisme. Oleh sebab itu, Perhimpunan Indonesia terkesan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai anti-Belanda yang paling radikal di tanah air (halaman 45).

Akan tetapi, Perhimpunan Indonesia tak sepenuhnya sepakat dengan PKI. Terdapat perbedaan prinsip dalam menentukan cara meraih kemerdekaan Indonesia antara PI dan PKI. Semaun, Pimpinan PKI saat itu menyatakan perlunya organisasi untuk menyiapkan sebuah revolusi dengan kekerasan. Sedangkan, Hatta meyakini bahwa hal terpenting adalah secara bertahap mendidik rakyat dan mempersiapkannya untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Namun, Hatta dan Semaun menandantangani konvensi  pribadi yakni Semaun setuju PI memimpin gerakan nasionalis, menjanjikan kerja sama dan menawarkan alat-alat percetakan PKI untuk dipakai PI (halaman 62).

Ketika terjadi perlawanan PKI 1926, dokumen konvensi itu ditemukan oleh Belanda dan dijadikan alat bukti untuk menangkap Hatta dan pimpinan PI lainnya karena dianggap terlibat perlawanan PKI 1926. Namun, pemerintah colonial kalah dipersidangan oleh Hatta. Pasca-persidangan, Hatta meyakinkan gerakan nasionalis untk tidak kapok memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bahkan menjadikan penangkapannya sebagai pendorong perjuangan (halaman 98).

Musababnya, pemuda dan terlebih orang terpelajar memiliki tanggung jawab moral dan sosial kepada masyarakat biasa. Maka, berposisi diametral tanpa kompromi dengan kekuasaan merupakan sebuah keharusan untuk mengontrol kekuasaan yang selalu memiliki potensi untuk korup. Seperti yang diungkapkan Soedjatmoko, kaum (pemuda) dan intelektual harus tetap berada di luar pemerintahan, terlepas dari keterlibatan secara langsung dalam politik, untuk memungkinkannya memberikan asupan kepada lembaga-lembaga intelektual dan perhimpunan sukarela yang dibutuhkan guna menjamin neraca seimbang antara negara dan masyarakat.

__________________________

*) Virdika Rizky Utama: Peneliti di Narasi.TV

Continue Reading

Trending