Connect with us

Buku

Pancasila dan Pedagogik Kritis Indonesia

mm

Published

on

Oleh: Wahyu Arifin*

Dalam sebuah seminar tahun 1983, dua ahli pendidikan Indonesia yakni Prof. Tilaar dan Prof. Mochtar Buchori (alm) menyatakan ilmu pendidikan di Indonesia sudah mati. Hal ini ditegaskan lagi oleh mantan Rektor IKIP Jakarta (Sekarang UNJ), Prof. Winarno Surachmad saat forum pertemuan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) se-Indonesia di Bukit Tinggi, Sumatera Barat tahun 2005.

Ketiga pedagog ini bersepakat, meskipun pendidikan di tanah air terus berlangsung, tapi berjalan dalam situasi Pendidikan tanpa Ilmu Pendidikan (Pentip). Selama ini praktik yang berlangsung diberbagai jenjang pendidikan hanyalah praktik pengajaran, bukan praktik pendidikan. Pasalnya, sekolah maupun kampus hanya mereproduksi teori-teori usang dan menumpuk bermacam-macam pengetahuan serta keterampilan.

Alhasil dunia pendidikan kita hanya bisa menghasilkan ‘tukang’ insinyur atau tenaga administratif. Selain itu, teori-teori pedagogik yang terus dipertahankan hingga kini hampir seluruhnya berasal dari barat yang sama sekali tidak menyentuh persoalan kebutuhan lokal kita. Padahal, secara teori saja baik geografis maupun kultur, kondisi kita berbeda dengan negara-negara barat.

Lebih parahnya lagi, hasil konkret dari dunia pendidikan kita adalah menguatnya persaingan antar individu maupun sosial yang diperlihatkan dalam perlombaan peringkat di sekolah atau universitas. Akibatnya, pendidikan nasional kita justru memuja-muja keunggulan atau kompetisi antar sesama yang merupakan falsafah hidup berdasarkan Darwinisme sosial dan jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila (HAR Tilaar, 2005).

Hasil pengadopsian falsafah Darwinisme sosial ini menggerus falsafah Pancasila sebagai alat pemersatu kehidupan masyarakat dan berbangsa yakni Solidaritas, Gotong royong dan Nasionalisme positif. Selain itu, Darwinisme sosial dalam paradigma pendidikan nasional kita melahirkan kastanisasi pendidikan (sekolah bertaraf nasional, internasional dan sebagainya) yang justru telah meremehkan kekayaan budaya Indonesia.

Dalam posisi kedua itulah Buku berjudul Pedagogik Teoritis untuk Indonesia ini menempatkan dirinya. Bagi Tilaar, sudah saatnya degup jantung pedagogik tanah air kembali dihidupkan, bukan lagi mengekor atau meneruskan tradisi pedagogik yang telah usang, di mana di tempat asalnya, yakni Eropa dan Amerika justru sudah sangat berkembang pesat. Salah satu contohnya adalah pedagogik kritis yang bukan hanya berkembang di Eropa dan Amerika saja, tapi juga Asia dan Australia.

Pendidikan Karakter Pancasila

Dalam dunia yang bergerak dengan sangat cepat, Indonesia tentu tidak dapat mengisolasikan dirinya. Persoalannya, bagaimana Indonesia menghadapi dunia yang berlari kencang ini? Soal ini, Tilaar memberikan dua posisi. Pertama, hanyut dalam perubahan global dan kita kehilangan identitas diri. Kedua, melalui Pancasila yang merupakan identitas nasional, Weltanschauung atau pandangan hidup bangsa kita menghadapi globalisasi.

Sejak awal pendiriannya, para Founding Father-Mother republik ini sudah menginsyafi Indonesia sebagai suatu nation state dibangun atas dasar kesetaraan, keadilan dan kemanusiaan serta kesejahteraan bersama. Dasar-dasar itu tidak akan terwujud jika hanya dalam bentuk kemerdekaan politik semata, tapi juga perlu disempurnakan dengan kemerdekaan kebudayaan.

Untuk mewujudkan itu semua, siasat kebudayaan yang dirumuskan para pendiri bangsa adalah membangun sistem pendidikan nasional yang bisa menggolkan tujuan kemerdekaan nasional; mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, sudah sangat jelas pendidikan mendapatkan kedudukan yang sangat penting di awal pembentukan republik ini.

Menurut Tilaar, pedagogik atau ilmu pendidikan merupakan filsafat terapan yang berfungsi sebagai ilmu praksis. Merujuk pada Paulo Freire, Tilaar melihat praksis pendidikan sebagai refleksi dan tindakan sadar diri dalam hidup mendunia dan mentransformasikannya. Melalui praksis pendidikan ini, peserta didik bisa ditumbuhkan kesadarannya akan kemerdekaan, martabat dan potensi diri yang dimilikinya serta bisa mengembangkannya untuk meningkatkan taraf hidupnya di dunia (hal7).

Praksis pendidikan Indonesia mendasarkan diri pada Pancasila yang merupakan pandangan hidup bangsa. Melalui strategi pendidikan dan kebudayaan nasional bernafaskan Pancasila, para Founding Father-Mother kita mencoba membangun manusia Indonesia yang mempunyai harga diri serta bangga atas keindonesiaan-nya (hal 61). Pancasila menetralisir kebudayaan barat versi kekuasaan kolonial yang mendestruktifkan identitas kebudayaan Nusantara menjadi  kebudayaan inferior.

Oleh karena itu, peran lembaga pendidikan untuk dapat mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam habitus sekolah sangatlah penting. Peran ini justru bisa membuat penerima (peserta didik) menafsirkan Pancasila bukan hanya semata-mata doktrin, melainkan nilai-nilai yang sesuai dengan kehidupan nyata peserta didik. Melalui internalisasi, secara sadar diri kekayaan alam dan budaya kita akan dikelola untuk kesejahteraan hidup bersama. Manusia Indonesia berkarakter seperti itulah modal kita untuk bisa setara dalam pergaulan bangsa-bangsa.

Pedagogik Transformatif Pancasila

Sebagai salah seorang penganut sekaligus perintis pedagogik kritis di Indonesia, Tilaar menekankan pada persoalan ketidakbebasan nilai pada berbagai disiplin ilmu. Melalui analisa poskolonial, Tilaar mengatakan negara-negara bekas jajahan seperti Indonesia sadar atau tidak sadar masih dihinggapi sisa-sisa pendidikan kolonial. Politik etis di bidang pendidikan menyisakan sikap subordinatif yang melihat tujuan pendidikan hanya untuk menjadi bagian dari birokrat atau meningkatkan status sosial di masyarakat.

Sikap ini terus membudaya dalam sendi kehidupan masyarakat kita. Orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah atau kampus ternama demi masa depan yang terjamin; bisa bekerja di perusahaan bonafit atau menjadi PNS serta hidup mapan. Tentunya hal ini sah-sah saja dalam kehidupan yang harus kita akui sedang dalam situasi serba sulit.

Namun, perlu juga kita sadari sikap yang menjadi wajar itu sebenarnya merupakan keberhasilan dari pendidikan kolonial yang berupaya mendidik bangsa jajahannya untuk memiliki sikap subordinatif sehingga mereka tetap menjadi objek eksploitasi dari sang penjajah. Dengan kata lain pendidikan pada masa kolonial pada hakikatnya merupakan suatu proses pembodohan dan pengekangan terhadap kesadaran manusia untuk berpikir kritis, demikian pendapat Paulo Freire.

Untuk hal ini, sebenarnya pendiri bangsa kita sudah berpikir lebih maju dari Freire. Saat memproklamirkan kemerdekaan, pendiri bangsa ini secara sadar sudah mencetuskan suatu sistem pendidikan yang mengakhiri sistem pendidikan kolonial. Sistem pendidikan nasional yang berdasar Pancasila dan dirumuskan melalui UUD 45 merupakan pendidikan yang bersifat transformatif, yakni proses pendidikan yang membawa anak Indonesia dari ketidakberdayaannya (terjajah) secara berangsur dengan akal budinya akan memaksimalkan potensinya dalam alam kemerdekaannya.

Pedagogik transformatif atawa proses pendidikan yang menekankan pada kesadaran kritis dan tindakan perubahan ke arah yang lebih baik, sejalan dengan ide entrepreneur. Pertemuan pedagogik transformatif dengan entrepreneur berada pada titik cara berpikir, yakni kesadaran berpikir kritis, kreatif dan transformatif.

Tilaar percaya, pola berpikir yang menghasilkan entrepreneur atau pelaku pedagogik transformatif akan muncul apabila lembaga pendidikan bisa melepaskan diri dari mabuknya dogma-dogma darwnisme sosial yang mengagung-agungkan persaingan dan melestarikan kekuatan politik yang dominan. Pendidikan yang memerdekakan haruslah menjadikan peserta didik sebagai subjek atau inti perubahan itu sendiri.

Di buku ini, Tilaar mencoba mengajukan tawaran bahwasanya Entrepreneurship dalam dunia pendidikan nasional harus sejalan dengan agenda pembangunan lokal. Artinya, proses pendidikan, sesunguhnya diterapkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan sumberdaya manusia yang (minimal) sanggup menyelesaikan persoalan lokal yang melingkupinya dan signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Bukan hanya pada persoalan global yang justru jauh dari realita masyarakat.

Ajakan guru besar emiritus UNJ agar kita menggali kembali Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia perlu disambut dengan sukacita. Sebagai seorang pedagog yang menempuh pendidikan di Barat, Tilaar tidak begitu saja hanyut dan tenggelam dalam gulungan alam pikir kebudayaan barat. Justru, dirinya merasa menemukan pencerahan bagaimana membangun manusia Indonesia yang kritis dan kreatif melalui Pancasila. (*)

DATA BUKU:

 

Judul Buku      : Pedagogik Teoritis untuk Indonesia

Penulis             : H.A.R Tilaar

Cetakan           : Pertama, April 2015

Penerbit           : Buku Kompas

Tebal               : xii + 276 hlm

 

*Wahyu Arifin: Mahasiswa STF Driyarkara. Wartawan, bekerja untuk kantor Sindo/ MNC  

Continue Reading

Buku

Optimisme dari Chomsky

mm

Published

on

Siapa yang tak kenal dengan Noam Chomsky? Seorang intelektual yang dianggap “nyeleneh” karena selalu berbeda pandangan dalam tatanan keilmuan dan masyarakat Amerika Serikat. Banyak buku yang ia tulis justru untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan Amerika baik dalam maupun luar negeri. Namun, sebenarnya yang ia kritik bukan Amerika, melainkan sistem kapitalisme yang dianut oleh Amerika.

Hampir sama dengan buku-buku yang ia tulis, buku Optimism Over Despair merupakan kekesalan atau lebih tepatnya kemarahan Chomsky terhadap Amerika dan kapitalisme. Buku ini merupakan hasil sebuah wawancara Noam Chomsky dengan C. J. Polychroniou dalam kurun waktu 2014—2016. Meski secara garis besar buku ini sama dengan buku Chomsky lainnya, tapi Chomsky coba menguraikan situasi sosial, ekonomi, dan politik  abad ke-21 dan dampak yang ditimbulkan hingga bagaiamana kita harus menyikapi dampak tersebut.

Menurut Marx, kapitalisme merupakan sebuah hubungan masyarakat yang dibangun atas hubungan-hubungan produksi  dan menghadirkan ketimpangan kelas serta alienasi. Pada perkembangan awal kapitalisme, kapitalisme didasari oleh pemilikan modal yang diwujudkan dalam pabrik dan negara bagian dari kelas tersebut.

Sedangkan, kapitalisme pada abad ke-21 menurut Chomsky jauh lebih buruk. Kenapa dapat dikatakan lebih buruk? Sebab, kapitalisme abad ke-21 sudah menutup akses atau alat bagi masayarakat bawah untuk melakukan mobilitas sosial (hlm.154).

Jika konteks dalam negara, maka negara maju sudah menutup kesempatan bagi negara miskin untuk melakukan perbaikan kehidupan ekonomi. Dengan kata lain, kapitalisme sudah menjadi sebuah kekaisaran besar dengan Amerika sebagai rajanya. Kenapa demikian? Karena Amerika masih menguasai perekonomian dan politik dunia, meski pasca-perang dingin Amerika secara perlahan sudah tidak lagi digdaya.

Dengan dana besar yang dimiliki, Amerika dengan sangat mudah untuk mengintervensi suatu negara dengan memaksakan sistem “plutokrasi”. Plutokrasi dibahasakan oleh Chomsky karena sangat jauh dari cita-cita demokrasi. Jika demokrasi bertujuan untuk memakmurkan rakyat dengan menjamin hak asasi, maka plutokrasi sebaliknya.

Judul Buku : Optimism Over Despair on Capitalism, Empire, and Social Change Penulis : Noam Chomsky dan C. J. Polychroniou Penerbit : Haymarket Books Tahun Terbit : Agustus 2017 Tebal : 210 halaman

Plutokrasi hanya akan memamurkan dan menjamin hak asasi untuk penguasa, sedangkan masyarakat akan terus dieksploitasi melalui serangkaian aturan yang dibuat oleh negara (hlm.155). Dengan kata lain, sosialisme untuk si kaya dan kapitalisme untuk si miskin.

Lalu bagaimana dengan kesenjangan yang dibuat oleh kapitalisme? Chomsky setidaknya menyebut dua masalah besar yakni meningkatnya kekuatan fundamentalisme dan rusaknya lingkungan.

Munculnya fundamentalisme dalam berpolitik dapat tercermin dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Chomsky menganalisis kemenangan Trump sebagai sebuah bentuk kekecewaan dan frustrasinya rakyat Amerika karena demokrasi dan kemakmuran tidak terjadi di masyarakat.

Poin lainnya, Trump berhasil memainkan sentimen agama untuk menaikan popularitasnya. Sejatinya, “agama” yang dibawa Trump saat pemilu dan memimpin adalah sebuah propaganda untuk membuat garis diametral antara kami dan mereka, malaikat dan setan (hlm.50).

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die (2018) menyatakan, majunya Trump sebagai calon presiden Partai Republik karena aturan untuk menyeleksi seorang calon presiden sudah memudar yakni dalam poin tidak menyerang secara personal kompetitor dan tidak merendahkan pemilih kompetitor.

Hal ini dilakukan partai Republik dan Trump karena kepentingan bisnisnya terhambat. Disitat dari Cherian George dalam buku Hate Spin (2016) Trump dapat memenangkan emosi warga Amerika yang membuat seolah-oleh ketidakmakmuran warga Amerika adalah korban dari kebijakan yang pro-imigran. Padahal, menurut Chomsky, hadirnya pengungsi di negara-negara maju merupakan sebuah keharusan, sebab negara mereka dibombardir oleh Amerika dan sekutunya.

Selain itu, Trump juga berhasil meyakinkan warga amerika yang mayoritas Kristen sebagai korban dari adanya pengungsi yang beragama Islam yang dinilai akan dapat merebut Amerika. Oleh sebab itu, Trump membuat slogan Make America Great Again. Cara kemenangan Trump ini juga menginspirasi negara-negara lainnya di Eropa dan Asia.

Lalu bagaimana dengan kerusakan lingkungan? Chomsky berpendapat bahwa ini terjadi secara nyata, bukan hanya sebuah iklan terselubung dari produk tertentu agar warga menggunakan atau membeli produknya. Keluarnya Amerika dari Kesepakatan Paris merupakan sebuah kekonyolan terbesar. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu, Amerika dan 187 negara lainnya mesti menjaga kenaikan temperature global di bawah 2 derajat Celscius

Terlebih, alasan yang dikeluarkan Trump hanya untuk penghematan anggaran. Demi menjaga kesepakatan itu, Amerika sedikitnya mesti mengeluarkan uang 3 triliun USD. Padahal Amerika merupakan negara dengan penghasil karbon terbesar di dunia. Selain itu, banyak perusahaan Amerika di berbagai negara melakukan penebangan hutan dan membuat kerusakan alam lainnya yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Dengan segala kekacauan tersebut, apa yang harus dilakukan?

Tentu saja kita tak memiliki banyak pilihan. Menyitat Gramsci, Chomsky berpendapat akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133). Akan tetapi, layaknya seorang filsuf, Chomsky tidak menjabarkan secara rinci bagaimana kita mesti menghadapi kekacauan itu dan mengubahnya menjadi sebuah kebaikan.

Secara tersirat Chomsky masih memercayai adanya kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat itu dapat mendesar pemerintah dan membawa perubahan. Akan tetapi, dalam konteks abad ke-21, kekuatan rakyat bukan berarti harus mengadakan sebuah revolusi besar seperti yang terjadi di abad ke-20.

Kekuatan rakyat terjewantahkan dalam sebuah kelompok komunitas. Dengan konsentrasi di bidangnya masing-masing, mereka mesti berjejaring satu sama lain dan dapat melebur sebagai kekuatan baru tanpa sekat negara layaknya kapitalisme saat ini. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan public untuk berpartisipasi dalam  hal yang berarti seperti diskursus politik, social, dan ekonomi (hlm165).

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi atau kita bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. (*)

*) Virdika Rizky Utama: Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Beberapa catatan bekal membaca drama Menunggu Godot

mm

Published

on

En Attendant Godot adalah karangan penulis Prancis kelahiran Irlandia, Samuel Beckett. Ia berbahasa Prancis laiknya menggunakan bahasa ibu meski ia lahir dan berbahasa pertama Irlandia. Naskah En Attendant Godot diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Beckett sendiri dengan judul Waiting for Godot, dan terbit pertama kali di Amerika pada 1954 atau setahun setelah pertama kali dipentaskan dalam bahasa Prancis di Paris 1953.

Dramawan W.S Rendra adalah teatrawan indonesia pertama mengerjakan pementasan dari versi bahasa inggris setelah sebelumnya coba disadur dalam bahasa Indonesia oleh Dosen Fakultas Sastra UGM, Bakdi Sumanto.

Di Indonesia, lakon Godot umum dikenal dengan drama “Menunggu Godot”, dipentaskan pertama kali pada 1969 di Teater Besar TIM oleh Bengkel teater pimpinan W.S. Rendra. Tepat pada saat pengarangnya—Samuel Beckett menerima hadiah nobel berkat Waiting for Godot.

Pada pementasan pertamanya di Paris (1953), dan di Miami, Amerika (1955) lakon Godot mendapat kritikan pedas dari pada pengamat. Akan tetapi ada cerita lain pada tahun-tahun tersebut.

Pada musim semi 1954 Beckett menerima surat dari direktur penjara di Luttringhausen, Jerman, yang meminta ijinnya agar agar lakon Menunggu Godot boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman untuk di pentas di penjara itu. Dan Beckett menyetujuinya. Pada 1957 drama Godot kembali dipentaskan di dalam penjara, yaitu di penjara San Quentin di San Fransisco. Dalam dua pementasan di Penjara tersebut, para napi menunjukkan mereka tidak memahami drama itu secara kognitif, tapi pengalaman yang mereka alami di dalam penjara membuktikan bisa menjadi medium komunikasi untuk bisa menikmati karya tersebut. Bahwa mereka terpenjara dalam penantian, dan menunggu sang kebebasan menjemput.

Sementara itu, berikut adalah beberapa fakta intrinsik dari buku Waiting for Godot yang akan bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah menikmati karya besar Beckett dan berniat membacanya:

  • Waiting for Godot bersetting di A country road. A tree. Evening. Tokoh utamanya: Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan A boy. Alur: Cyclical, dalam arti akhir lakon menyiratkan alur kembali pada awal. Topik dialog dari awal hingga akhir, berpusat pada akan datagnya tokoh bernama Godot, akan tetapi, hingga akhir lakon, Godot tak pernah datang.
  • Dari rujukan tekstual, tampak, bahwa walau pun tokoh Godot menjadi pusat pembicaraan, topik sebenarnya bergeser dari Godot ke situasi menanti itu sendiri. Oleh karena itu yang dominan bukan tema, tapi suasana menunggu.
  • Walau pun dalam lakon disajikan lima tokoh, tetapi sebenarnya yang penting hanyalah Vladimir dan Estrogan. Mereka adalah tokoh utamanya, dilukiskan seperti dua orang gelandangan, compang-camping, terdampar pada suatu tempat yang mirip nowhere. Teks drama tersebut menyebutkan mereka sangat miskin yang ditunjukkan oleh ucapan dalam dialog dua gelandangan itu, bahwa mereka hanya membawa bekal potongan wortel dan lobak. Mereka sangat kelaparan ditunjukkan dengan keinginan Estrogan memakan tulang sapi atau ayam yang dibuang oleh Pozzo, setelah dagingnya dihabiskan.
  • Sepanjang jalan cerita, dari dua tokoh utamanya menunjukkan bahwa mereka sejak awal; mengisyaratkan keputusasaan, bicara dalam dialog yang tidak nyambung, mereka kehilangan orinetasi waktu—intinya bagi Vladimir dan Estrogan, symbol rakyat jelata dan papa, tidak ada persoalan serius yang dibicarakan, apalagi diselesaikan. Sebab masalah pokoknya, hanya menantikan seseorang atau sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Oleh karena itu, dilihat dari jagat konvensi alam pikir filsafat Prancis, lakon godot memberikan isyarat refleksi metafisik, yang mengingatkan orang pada refleksi filosfis Alber Camus, terutama yang tampak dalam esainya Le mythe de Sisyphe (Mite Sisifus) tahun 1943 atau novel Camus yang terkenal L’etranger (1944).
  • Karenanya drama Waiting for Godot digolongkan dalam teater absurd. Di mana orang tidak melihat teater absurd sebagai alat perjuangan, betapa pun ada suasana perlawanan atau “terrorizing” di dalamnya. Sebab konsep dasar tetaer absurd sendiri berambisi menghadirkan kemurnian. Untuk membedakannya dengan misalnya filsafat sebagai senjata atau alat perlawanan terhadap “unidentified dominating power” seperti paham Brecht.
  • Dalam refleksi yang lebih mendasar, drama ini terus relevan, sebab dalam keadan yang serba tidak jelas, pertanyaan dasar drama ini kembali muncul, siapakah Godot yang dinantikan itu? Sebab bahkan ketika bom atom jatuh di Jepang untuk menghentikan PD II, ternyata hal itu tidak mengakhiri ketegangan perang dingin. Bahkan hingga hari ini, di Amerika dan juga di Indonesia, di belahan dunia lain, rakyat seperti Vladimir dan Estrogan masih menantikan Godot. Dan kita hari ini bahkan masih terus bicara satu sama lain dalam dialog yang tidak nyambung…

*) Sabiq Carebesth, Juni 2018. Ditulis dengan malas dan kesal karena kebingungan menyusun orientasi waktu dan ruang paska libur lebaran. Tulisan pendek ini disarikan dari buku “Sementara Menunggu Godot” dan Makalah Bakdi Sumanto bertajuk “Teater dan Bom” (2001).

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending