Connect with us

Cerpen

Pale Blue Eyes

mm

Published

on

Arini Rachmatika *)

Ketika pundaknya mulai terasa nyeri lagi, Yosan beringsut dan berbaring. Diletakannya sekaleng cincau dingin di kening dan dipejamkannya mata. Telapak kaki kanannya yang gatal mengusap-usap punggung kaki yang lain. Kelopak matanya berderak-derak, bilur air dari kaleng menelusup ke sana. Dia meraih ujung kaus dan diusapnya lelehan itu. Kaleng cincau diturunkan, dia tepejam lagi, lalu mulai menggumamkan sesuatu yang rupanya sebuah lagu.

Kadang-kadang, dia berpikir ingin mendaftar kursus. Ingin sekali dia bisa bernyanyi. Selain mengisi kekosongan sesudah berkegiatan seharian, dia ingin bisa melakukannya buat sekadar menghibur diri sendiri. Walau tidak tahu apa-apa soal musik, Yosan ingin bisa mengecap kecutnya Pale Blue Eyes di lidah. Yang kian asam waktu tidak mampu menujukan liriknya pada seseorang. Lagu itu, pertama kali diperdengarkan oleh tetangga di sebelah kamarnya yang telah pindah. Seterusnya Yosan lah yang gantian memutarnya.

Jam sebelas malam. Jendela dibuka meski udara kering di luar. Kamar-kamar di sebelahnya tak lagi berpenghuni. Sunyi sekali, dia bisa dengan jelas mendengar dengus napas sendiri. Tidak hujan, tidak berangin, dan tidak ada yang bisa dilakukan, sudah 4 hari teleponnya mati. Terjadi secara tiba-tiba, ketika seperti biasa ibu jarinya tidak henti-henti meluncut di atas layar.

Dia terlalu keras berusaha agar pikirannya selalu diisi sesuatu. Tapi tidak oleh buku-buku. Meski berjejalan di rak, mereka tidak lagi diindahkannya. Dia sudah berhenti membaca sebab tidak seorangpun bisa diajak bicara tentang itu. Melakukannya sama saja seperti mengenang kemudahan masa kecil, menyenangkan tapi cuma buang-buang waktu.

Belakangan, dia menghabiskan malam-malamnya dengan menonton serial TV di internet. Semua orang bisa diajak mengobrol soal itu. Kapanpun, bahkan selagi menonton filmnya. Dalam pandangan Yosan, layar komputer dan telepon tumpang tindih. Itu dilakukan sampai pening dan mengantuk. Jeda sedikit saja bisa membuatnya meringis. Dan sekarang telepon, internet, serta serialnya mati. Kelewat banyak jeda. Ombak itu mulai menyapu tepi jiwanya. Tukang servis di toko menjajikannya lusa. Yosan mengerang.

Saat seperti inilah yang Yosan takuti akan terjadi. Absennya distraksi membawa kembali perasaan itu dengan wujudnya yang nyata. Kehampaan sudah seabad lalu bersarang dalam dirinya. Rasanya seolah ada padang dalam diri setiap orang, dan miliknya sudah jadi jurang yang terus melebar. Seakan ke dalam diri sendiri, dia bisa jatuh kapan saja dan tertelan.

Meski begitu, dia menolak mengakui perasaan semacam itu. Menolak mengakui bahwa dirinya sudah ditinggalkan. Mereka yang sempat dekat menjauh akibat ketakutannya sendiri. Dia memang orang yang berupaya membuat percakapan, tapi jauh di dalam, dia takut kalau mereka jadi lebih dekat dan mengacaukan hidupnya. Takut kalau orang lain berkunjung ke tempatnya tinggal dan hapal kebiasaannya. Kalau seseorang mengorek inti dirinya dan menertawakannya.

Seekor kucing milik penyewa rumah merayap ke tempat sampah di depan kamar dan bertengkar dengan plastik, menimbulkan suara keresak yang berisik. Yosan mengutuk karena itu menjadikannya makin sulit tidur. Menjadikan rasa hampa makin kuat dan menguasainya. Kadang, di waktu lain, dia heran kenapa pernah berpikir buat bunuh diri.

Rupanya pikiran itu masih ada di sudut kepalanya. Memang tak tertahankan. Kiranya dia tidak ingin berumur panjang kalau hidup ialah kekosongan yang berlapis-lapis. Tapi tentu, waktunya bukan sekarang. Nanti pagi ada hari yang lain lagi buatnya menemui orang lain dan melupakan jurang itu.

Setelah menghabiskan cincaunya yang tidak lagi dingin, erangannya Yosan, dan dia bisa tertidur. Lampu kamar dibiarkan menyala. Di dinding ada kalender tahun lalu, kertas-kertas dengan daftar film yang harus dihabiskan, dan salinan lirik lagu Pale Blue Eyes. Di lantai, teronggok kaleng yang kopong bagai jiwanya. Manis yang tertinggal mengundang semut-semut hitam beredar, menyaru di rambutnya, lalu merambat ke leher, letak yang paling sering dia pikirkan buat memutus rasa hampa yang melahapnya dari dalam.

Kucing semalam kembali ke tempat sampah dan dengan ceroboh menenggelamkan diri dalam timbunan benda, dari kotak teh hingga helaian rambut. Si kucing mengeong marah dan amukannya membangunkan Yosan dari tidur yang pengap. Dia lega sekarang sudah pagi. Pundaknya sudah tidak begitu nyeri.

Dia bangun, meraih sampo di tas belanja, kemudian bergegas ke kamar mandi. Di dalam dicobanya menyanyikan sebuah lagu tapi kemudian menyerah di larik kedua. Keluar dari sana, dia mengeringkan rambut sebelum menyisirnya. Sebelum bersiap, mengunci pintu, lalu pergi. Sebelum sadar hari sudahlah Sabtu dan dia menggigit pundak kanannya sampai biru. (*)

__

Januari 2020

*) Arini Rachmatika–belajar di jurusan desain ISI Yogyakarta.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Cerpen

Sakit

mm

Published

on

The-Sick-Child-Marc-Aurele-de-Foy-Suzor-Cote-Oil-Painting


Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Aku sakit. Sakitnya sudah lama. Akhirnya terbaring di rumah sakit sejak hari ini. Gejala sakitnya aneh. Tidak ada demam, tidak ada batuk apalagi pilek. Pusing tak ada, apalagi sakit kepala. Tapi anehnya, seluruh sendi dan tulangku ngilu. Sakitnya seperti sedang terserang demam menahun. Ngilunya persis seperti cucian diperas berulang-ulang. Kadang telapak kaki dan tangan rasanya seperti ditusuk jarum pentul yang biasa nenek gunakan untuk merapikan seprai ranjang tuannya.

Selain itu, sewaktu-waktu kepalaku juga kliyengan. Rasanya limbung mau jatuh terus. Tapi tidak pusing, tidak sakit kepala. Rasanya hanya berputar terus seperti bianglala yang kebanyakan tamu di akhir pekan. Rasanya juga seperti ditarik kanan kiri tak pakai berhenti.

Pagi ini aku ke rumah sakit bersama ibuku. Setelah dokter sibuk memegang dahiku, mendengar detak jantung dan suara paru-paruku lewat stetoskopnya, mengetuk-ngetuk lututku dengan palu kecil dan menggosok telapak-telapakku dengan tongkat besi. Dokter itu berpikir keras. Ia membuka buku-buku kedokteran dan membolak-balik catatan kesehatanku. Secara tiba-tiba, dokter itu bilang …

“Kamu harus opname hari ini. Nanti kita observasi. Ada asuransi tidak?”

“Ada, Dok. Memang saya sakit apa, Dok?

“Masih belum jelas, makanya kita perlu observasi dulu selama beberapa hari ini”.

Jadilah aku berada di kamar kelas tiga ini. Aku tidur di bangsal paling ujung dekat jendela. Aku tidur dalam satu ruangan dengan lima pesakitan lainnya. Aku tidak sempat sensus siapa saja yang dirawat bersamaku dan sakit apa saja mereka. Kukira besok juga saat bibiku datang, hal itu pasti bisa langsung kuketahui darinya yang bercita-cita jadi ibu RT.

Belum satu hari aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara dari ibuku sudah tiba. Mulut cerewetnya sudah pasti ikut serta. Belum apa-apa sudah berkomentar dan memberi diagnosa, lagak macam dokter kelas dunia saja. Mulai pun belum observasiku di rumah sakit itu, sanak saudara sudah bisa beri hasil.

Bibi bilang aku sakit ringan. Paling hanya kolesterol naik. Cukup masuk akal kalau aku ingat-ingat lagi apa saja yang sering kumasukkan ke dalam mulut dan lanjut ke perut. Tak heran juga itu terjadi karena udang rebus kemerahan memang salah satu favoritku sejak anak-anak. Apalagi daging merah adalah idolaku selama tiga tahun belakangannya ini. Semua yang merah lah pokoknya aku suka.

Belum selesai soal kolestrol, suami bibiku menyergah dan berkomentar. Katanya aku mungkin juga kena gula. Diabetes memang ada dalam garis darah keluarga kami. Apalagi, kakekku yang luar biasa sakti dan kuat itu akhirnya malah mati karena gula darahnya naik dalam dua tahun terakhir sebelum dia lepas usia. Tapi aku langsung bilang tidak tidak tidak padanya. Aku yakin aku tidak diabetes karena aku tidak suka manis. Satu-satunya manis yang bisa kusukai hanya wajahmu dan senyumanmu saja.

Aku sakit. Malam ini malam pertama aku menjalani waktu tidur di ranjang rumah sakit. Aku ingin tidur tapi sulit karena keberisikan. Berisik suara tetesan infus, suara AC, suara pasien sebelah yang mengorok, suara pasien di ranjang seberang yang susah nafas, suara pasien di dekat pintu yang kentut melulu, suara suster bolak balik mengecek pasien, suara ibuku yang terus bergerak karena sakit tidur di kursi, sampai suara di kepalaku yang terus memikirkan dan merindukan kamu.

Hari ini teman-teman ibu membesukku. Mereka datang bergerombolan sambil ketawa-ketiwi layaknya orang akan pergi piknik ke pantai. Pakaian mereka pun luar biasa cantik seperti mau peragaan busana. Beberapa ada yang membawa makanan banyak sekali, kurasa mungkin ada yang sungguhan sekalian membawa tikar.

Aku sakit dan teman-teman ibuku ini berkicau tak berhenti soal mistis. Melihat kondisiku, mereka malah cerita soal kawan mereka yang terkena ilmu hitam. Mereka bilang ada temannya yang salah ucap di suatu tempat ke seseorang, besoknya sakit tak jelas, masuk rumah sakit dan tak lama mati. Ada lagi yang cerita bahwa kenalannya tak sengaja melangkahi tangga yang ternyata ada setannya. Seketika orang itu jatuh, kakinya patah dan tidak sembuh sampai setengah usianya lewat.

“Bener lho, Dik. Teman saya sakit nggak jelas kenapa dan tidak sembuh-sembuh. Sudah berobat sana-sini, akhirnya bisa hidup tenang setelah berobat ke orang pintar. Coba saja, Dik. Daripada buang uang di rumah sakit tapi ndak sehat-sehat. Ke orang pintar cuma bayar seikhlasnya, Dik. Dijamin langsung bisa hidup tenang!”

Orang pintar katanya.. Magis katanya. Apa iya aku bisa percaya dengan yang seperti itu saat ini? Orang pintar yang kukenal hanya kamu. Magis yang kupercaya hanya berupa pesonamu yang membuatku tidak bisa tidak melayang kalau sedang kamu pandang.

Lagi pula, jika kuingat-ingat, beberapa waktu belakangan aku tidak pernah salah ucap ke orang lain, apalagi melangkahi tangga. Aku juga tidak suka berbuat aneh-aneh di tempat asing karena keluar rumah pun aku jarang sekali. Kecuali untuk menjumpai kamu.

Hari ini adalah hari ke dua ratus aku di rumah sakit. Asuransiku sudah menyerah menanggung biaya sejak hari ke tiga puluh. Orang tuaku sudah kehabisan barang untuk dijual. Aku pun tak punya aset macam-macam lain yang bisa kugadaikan untuk bayar rumah sakit. Kami semua makin pucat, aku makin sakit. Sementara dokter dan perawat di rumah sakit, cuma mereka yang wajahnya semakin berseri-seri.

Sudah hampir 365 hari aku di rumah sakit, hasil observasi tidak juga keluar. Aku masih saja sakit sendi dan sakit tulang. Sakit yang membuatku tidak bisa pulang. Sakit yang membuat tagihan rumah sakit gendut, sementara rekeningku ikut mengkerut. Sakit yang membuatku ingin kamu datang.

Hari itu akhirnya kamu datang. Kamu datang setelah satu tahun pergi entah untuk menemukan apa. Kamu datang dengan senyumanmu yang selalu kumimpikan setiap malam. Kamu datang dengan kelembutan tanganmu yang dulu mengusapku setiap hari. Kamu datang dengan kehangatan pelukanmu yang dulu membalutku setiap beberapa jam sekali.

Kamu datang, melepas infusku. Saat itu juga aku pulang karena sakitku hilang.

Dan semua dokter di rumah sakit itu..

“Ternyata hanya rindu.. Dasar, bikin kerjaan orang saja”.

Continue Reading

Cerpen

Pencarian

mm

Published

on

Setibanya di rumah, Thaleb tak menemukan kedua anak dan istrinya. Bumi terus berguncang dengan hebatnya. Beton-beton retak dan rubuh, pohon kelapa berayun-ayun ke kiri dan kanan, semua orang memadati jalanan dan berteriak histeris. Ia terus mencari istri dan kedua anaknya. Ia lihat ke belakang rumah, istrinya tidak ada di sana. Thaleb terus memanggil-manggil mereka, tapi tak ada yang menjawab. Ia pun keluar dari rumah, berdiri terpaku di jalannan. Ia melihat ke kiri dan kanan, orang-orang berlari kocar-kacir dan kalimat suci terus terucap lewat mulut mereka.

Tiba-tiba seorang tetangga melintas di hadapannya.

“Uneng, lihat istri dan anakku?” tanya Thaleb pada perempuan tua itu.

“Tadi istrimu membawa anakmu lari pakai sepeda motor,” jawab orang itu. “Menuju arah kota.”

Tanpa pikir panjang, Thaleb pun menyetop seseorang pengendara motor.

“Bang! Bang!” Thaleb menghadangi jalannya. “Boleh aku numpang ke kota?”

“Naiklah!” jawab si pengendara motor.

Thaleb pun langsung naik, dan motor berlalu menuju kota. Di jalanan, banyak anak-anak menangis ketakutan. Bumi terus berguncang tak henti-hentinya. Motor melaju cepat seolah tak mempedulikan guncangan itu.

Setibanya di jalan raya, banyak motor, becak dan mobil mamadati jalan raya, melaju tak tentu arah, sampai-sampai ada yang tertabrak. Suara tangisan anak-anak masih terdengar memadati kuping Thaleb. Ia terus melihat kiri dan kanan, mencari anak dan istrinya. Tiba-tiba motor yang ditumpanginya menabrak sebuah becak yang melaju melawan arah. Mereka pun jatuh.

Lalu ia lihat orang-orang yang ada di dalam becak, kira-kira ada delapan orang, Thaleb langsung menyadari kedua anaknya ada di antara meraka. Ia pun langsung bangun dan menghampiri becak itu. Ternyata yang membawa becak adalah Wak Kasem, orang kampungnya sendiri.

“Ibu di mana?” tanya Thaleb pada kedua anaknya.

“Istrimu tadi tertabrak di jalan raya sana,” jawab Wak Kasem sambil menunjuk tempat istri Thaleb tertabrak. “Tadi istrimu menyuruhku membawa kedua anakmu pergi. Sedangkan dia dibawa mobil yang menabraknya. Kalau aku tidak salah, mobil itu membawanya ke rumah sakit terdekat. Segeralah cari istrimu!”

Kendaraan lain sudah antri panjang di belakang becak dan membunyikan klakson. Thaleb mengelus kedua kepala anaknya, lalu menciumnya.  Becak pun berlalu meninggalkannya.

Ia segera pergi ke tempat istrinya tertabrak. Ia menyetop pengendara lain yang melintas menuju arah itu dan kembali menumpang. Jalan raya padat, suara klakson tak henti-hentinya dibunyikan.

Setiba Thaleb di tempat istrinya tertabrak, ia mendapati motor yang dipakai istrinya tergeletak di pinggir jalan. Motornya hancur dan bannya gembos. Kepala Thaleb tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang membayangkan bagaimana keadaan istrinya. Bunyi klakson dan suara tangisan anak kecil menyadarkannya dari lamunan.

Guncangan bumi sudah berhenti sesaat. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melangkah mencari rumah sakit terdekat. Ia terus berjalan cepat di tengah-tengah kerumunan orang dan kendaraan yang melaju tak tentu arah. Sesekali ia bertabrakan dengan orang lain yang juga terlihat panik.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang lari dari arah pantai berteriak mengabarkan sesuatu. Ia dengarkan teriakan itu hati-hati, ternyata orang-orang itu mengatakan bahwa air laut sudah naik setinggi pohon kelapa. Orang-orang dari arah pantai terus berlari menuju kota. Thaleb pun juga ikut berlari menuju kota, sambil mencari istrinya. Ia lihat bangunan roboh, seseorang terjepit di sana terkena reruntuhan beton. Hatinya bergidik ngeri. Di antara yang terjepit reruntuhan itu, hanya kakinyalah yang terlihat, sedangkan separuh badannya terjepit beton besar.

Tiba-tiba dari arah pantai terdengar suara yang cukup berisik. Suara patahan pepohonan, suara seng-seng dan kayu-kayu bangunan. Dari kejauhan, Thaleb melihat air hitam besar datang menggulung semua yang menghalanginya. Ia berlari menuju kota. Sebentar lagi akan sampai di Masjid Raya, pikirnya.

Suara air mengerikan itu membuat hati semua orang takut. Thaleb terus lari berdesak-desakan dengan orang lain. Suara tangisan anak kecil terus memadati pendengaran, berlomba-lomba dengan suara air besar itu. Di tengah-tengah perlariannya, ia menemukan jeringen plastik dan mengambilnya, mungkin ini akan diperlukan nanti, pikirnya. Ia terus berlari menjauh dari air hitam yang terus mengejarnya di belakang sana. Tiba-tiba ia pun terjatuh, tubuhnya terinjak oleh orang-orang. Satu dua orang juga ikut jatuh. Tanpa disadari, air itu pun menyapu dirinya. Air itu menggulung tubuhnya, membenturkannya ke tembok ruko. Jerigen itu masih dipegangnya kuat-kuat. Ia membuka mata ketika di dalam air, tak satu pun yang dapat ia lihat. Tanpa ia sadari, sepotong kayu menghantam kepalanya. Di sisi lain, sebuah seng membelah betisnya. Ia terus digulung air hitam yang mengerikan itu.

Dalam keadaan lemah di dalam air, ia berdoa: “Jika saya masih dibutuhkan di dunia ini, selamatkanlah saya dari bencana ini, ya Allah!” Di dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa dan bersalawat.

Tiba-tiba tubuhnya tersangkut di sebuah mobil, lalu ia terangkat ke permukaan karena jerigen yang ada ditangannya. Ia lihat ke atas, banyak orang di atas ruko melihat ke arahnya. Ia meminta tolong pada orang-orang itu. Mereka pun mengulurkan tali ke bawah. Thaleb menyambut tali itu. Ia ikatkan tali itu ke badannya, dan ia pegang kuat-kuat. Orang-orang yang ada di atas ruko pun menarik tubuhnya ke atas.

Thaleb selamat dari bencana tsunami yang menakutkan.

Ia lihat betisnya, ternyata sudah terkoyak lebar dihantam seng saat di dalam air. Ia raba kepalanya, ia temukan darah di sana.

Seseorang yang melihat kejadian itu membuka bajunya dan merobeknya menjadi dua bagian. Orang itu langsung membalut betis dan kepala Thaleb. Darah pun berhenti.

***

Selama dua harmal Thaleb menginap di ruko itu, makan seadanya bersama orang yang menolongnya. Di hari ketiga, air mulai surut, Thaleb pun memberanikan diri untuk turun. Di jalanan, terlihat satu-dua orang berjalan di antara tumpukan sampah dan puing-puing. Ia pun keluar dari ruko dan berjalan terpincang-pincang. Ia melihat mayat sejauh mata memandang. Puing-puing bangunan, mobil, motor, sepeda, pohon-pohon dan lain-lainnya berserakan di jalanan. Bercampur dengan ratusan mayat, bahkan ribuan. Hati Thaleb kembali bergidik ngeri.

Bantuan pun mulai datang, para tentara mengevakuasi para korban. Bantuan makanan, kesehatan dan posko-posko pun mulai didirikan. Thaleb terus menyusuri jalanan dengan kaki pincang mencari istri dan kedua anaknya. Orang-orang juga banyak mencari saudaranya. Satu-dua orang anak kecil terlihat menangis di sudut kota, karena tak menemukan ayah dan ibunya.

Kaki Thaleb terus melangkah tak tentu arah. Sampai di sudut kota lainnya, ia melihat seorang anak sedang menangis, kira-kira berumur tiga tahun. Ia hampiri anak itu. Ia elus kepalanya. Lalu anak itu digendongnya. Anak itu terus menangis sejadi-jadinya. Thaleb membawa anak itu melanjutkan pencarian istri dan anaknya. Sampai matahari mau tenggelam, istri dan kedua anaknya tidak juga ditemukan.

Ia pun memutar haluan menuju posko bantuan. Ia melangkah di antara puing-puing bangunan, pohon, dan mayat. Mega merah menyapu permukaan bumi yang luluh-lantak dihantam air besar. Hari mulai gelap, dan ia terus melangkah pelan dan pasti. Anak itu sudah terlelap dipelukannya.

Tak lama kemudian, Thaleb pun sampai di posko. Ia berikan anak itu pada seorang perempuan pengurus posko.

“Anak Bapak?” tanya perempuan itu.

“Bukan.” Kepalanya menggeleng. “Aku temukan di sudut kota.”

Perempuan itu melirik ke kakinya, ia lihat betis Thaleb mulai mengeluarkan darah. Kain yang menutupi luka itu sudah kotor terkena air di jalanan.

“Kaki Bapak kenapa?” tanya perempuan itu. Lalu ia berikan anak itu pada temannya. Setelah itu ia mendekati kaki Thaleb dan memandangi betis itu. Ia buka kain pengikat, dan betisnya yang terkoyak lebar itu pun ternganga. Perempuan itu kaget bukan main. Ia segera membawa Thaleb ke tempat medis. Ia bersihkan luka itu, lalu luka itu pun dijahit.

Thaleb tertidur karena keletihan berjalan seharian mencari kedua anak dan istrinya. Dalam tidurnya, ia berjumpa dengan istri dan kedua anaknya sedang bermain di sebuah taman. Karena mimpi itu, tepat jam tiga malam, ia terbangun. Ia lihat di sekitar, banyak orang terluka sedang tidur di sekelilingnya.

Ia pun keluar dari posko, dan seseorang mencegatnya. “Bapak mau ke mana? Istirahatlah dulu, Pak. Luka kaki Bapak belum sembuh benar.”

“Mau mencari anak-anak dan istriku.”

“Istirahatlah dulu, Pak, besok akan saya bantu mencari istri dan anak-anak Bapak. Mungkin mereka ada di posko ini. Kalau tidak ada di posko ini, mungkin ada di posko lainnya.”

Mendengar kata pemuda itu, Thaleb pun kembali masuk ke dalam tenda dan kembali beristirahat.

***

Keesokan harinya, setelah makan, Thaleb pun menuju tempat informasi posko itu bersama pemuda semalam. Ia mencari daftar nama pengungsi, ia berharap nama istri dan anak-anaknya ada dalam daftar. Tetapi, nama itu tak ditemukannya.

Ia pergi ke posko kedua, ia lihat orang-orang di sana dalam keadaan murung. Ia pergi ke tempat informasi untuk menanyakan daftar nama pengungsi, tapi nama istri dan kedua anaknya tidak juga ketemu.

Ia tak putus asa, dengan ditemani pemuda itu, ia pergi ke posko lainnya. Dan nama anak dan istrinya juga tidak ada di sana. Begitu juga dengan posko-posko selanjutnya, ia tidak menemukan anak dan istrinya.

Setelah itu, Thaleb menyuruh pemuda itu untuk pulang ke posko. “Pulanglah ke posko. Saya akan cari istri dan anak saya di tempat lain. Mudah-mudahan ketemu.”

Thaleb segera memberikan nama istri dan kedua anaknya pada pemuda itu, berangkali ada laporan dari posko-posko lain. Tidak lama kemudian, pemuda itu pun berlalu pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah tak tentu arah, ia menemukan sebuah dompet yang ia kenal betul. Ya, dompet itu adalah milik istrinya. Ia ambil dompet itu, lalu ia buka. Thaleb mendapatkan KTP istrinya dan dua lembar foto anaknya yang sudah kusam, basah terkena air tsunami. Saat itu kali pertama ia meneteskan air mata. (*)

Surabaya, 2020 | Tsunami Aceh, 26 Desember 2004

___
Puji M. Arfi, lahir di Aceh 19 Februari 1999. Sekarang sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Sejarah Peradaban Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pesantren Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh. Sekarang sedang mempelajari seni di (BMS) Bengkel Muda Surabaya. Menjadi salah seorang penggagas komunitas Cangkruk Rasa: Komunitas literasi Surabaya. Buku yang telah terbit: novel Dilema Penjara Suci: Sebuah Catatan Harian Santri Bodoh, (2019) dan Kumpulan Cerpen Perahu Pinggiran Kota, (2019).

Continue Reading

Trending