© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Dalam hidup ini kita mengenal dua macam kekuasaan: pertama, kekuasaan personal yang melekat pada keadaan dan mutu pribadi pemegangnya sehingga orang itu dihargai, dihormati, diikuti, dan ditaati oleh para pengikut serta bawahannya; kedua, kekuasaan formal yang terkait dengan jabatan dalam lembaga dan organisasi, baik pemerintah maupun nonpemerintah. Sumber kekuasaan dapat ada pada ganjaran yang dapat diberikan atau hukuman yang dapat dijatuhkan; dapat terletak pada hak yang diberikan kepada orang karena kedudukannya dalam lembaga atau organisasi; dapat karena ilmu pengetahuan yang dikuasai; dapat pula karena kepribadian yang dimiliki orang yang memegang kekuasaan. Semua orang yang memegang dan memiliki kekuasaan, apa pun macam dan sumbernya, dapat menjadi penganut pendirian yang berpegang pada kekuasaan, otoritarianisme. Namun, yang cenderung mudah terkena pendirian itu adalah para pemegang kekuasaan formal, terutama di lembaga pemerintah dan keagamaan.

Istilah otoritarianisme berasal dari bahasa Inggris, authoritarian. Kata authoritarian sendiri berasal dari bahasa Inggris, authority, yang sebetulnya turun dari kata Latin auctoritas. Kata authority atau auctoritas berarti ‘pengaruh’, ‘kuasa’, ‘wibawa’, ‘otoritas’. Oleh otoritas itu, orang dapat mempengaruhi pendapat, pemikiran, gagasan, dan perilaku orang, baik secara perorangan maupun kelompok. Otoritarianisme adalah ‘paham atau pendirian yang berpegang pada otoritas, kekuasaan, kewibawaan’. Ini meliputi pula cara hidup dan bertindak.

Orang otoritarian, penganut otoritarianisme, berpegang pada kekuasaan sebagai acuan hidup. Orang otoritarian menggunakan wewenang sebagai dasar berpikir. Berhadapan dengan orang ada menanggapi masalahnya, mereka menanyakan kedudukannya sebagai apa dalam lembaga dan organsiasi. Dalam membahas masalahnya, dia tidak mempersoalkan hakikat dan kepentingannya, tetapi berhak tidaknya orang itu ikut campur dan mengurus dalam perkara yang dipersoalkannya. Karena itu, dalam pikiran orang otoritarian, orang teknik, misalnya, jangan bicara apalagi terlibat dalam politik; kaum ulama hanya boleh bergerak diseputar rumah ibadat; pelajar hanya harus studi dan jangan ikut-ikutan dalam perkara kemasyarakatan dan kenegaraan; mahasiswa sastra hanya harus bersibuk dengan sastra, jangan mempersoalkan gelandangan dan pedagang kaki lima. Di mata orang otoritarian, yang baik adalah yang ada dalam bidang, berjalan lewat jalur yang sudah ditentukan, dan bekerja menurut prosedur serta aturan yang ada. Di luar itu tak dimengerti dan dianggap salah.

Dalam komunikasi, orang berpendirian otoritarian hanya tahu satu macam komunikasi, yaitu satu arah. Komunikasi dan arah, saling diskusi dan menanggapi, dan model demokratis dengan kemungkinan perbedaan dan pertentangan pendapat secara verbal, mungkin juga secara konseptual akan dimengerti, tetapi sulit dihayati. Komunikasi bebas, yang berasal dari berbagai arah dan tertuju ke segala penjuru ala komunikasi transparan dan terbuka, asing baiknya karena gaya komunikasi demokratis dan terbuka itu tidak dapat masuk dan klop dengan kerangka berpikirnya. Karena komunikasinya satu arah, dalam penyampaian pemikiran, gagasan, pesan, orang otoritarian hanya mengenal satu bentuk komunikasi: instruksi. Istilah yang dikenalnya terbatas pada pengarahan, petunjuk, wejangan, perintah, pembinaan. Bentuk komunikasi yang sifatnya  sekadar memberitahu perkaranya alias informatif dianggap sudah mencukupi. Bentuk komunikasi yang persuasif untuk meykinkan, dengan penjelasan latar belakang, argumen dan alasan, arah yang dituju serta tujuan yang hendak dicapai, dinilai menghabiskan waktu dan tidak efisien.

Komunikasi yang arusnya satu arah dan bentuk pokoknya instruksi sadar tidak sadar menciptakan suasana kaku karena yang ada adalah proses komunikasi di mana sumber berita, orang yang berbicara, menyampaikan isi berita dan penerima berita hanya harus mendengar. Komunikasi semacam ini menjadi komunikasi yang berat sebelah alias tidak seimbang. Pembicara ada pada posisi kuat, yang diajak bicara dalam kedudukan lemah. Yang bicara selalu benar, yang menerima harus meneliti diri mencari kesalahan. Yang bicara boleh bicara apa saja, yang mendengar hanya harus menerima. Kenyataannya, komunkasi model satu arah itu dipergunakan untuk menaikkan popularitas dan pamor. Karena itu, orang menggunakannya untuk berhadapan dengan orang-orang yang lebih lemah, bodoh, dan hidupnya sangat ditentukan olehnya.

Komunikasi satu arah sadar tak sadar memiliki ciri mental tersendiri. Isi komunikasi tidak selalu jelas, tetapi bila orang yang diajak bicara mengajukan pertanyaan, dicurigai maksud dan iktikadnya. Pesan yang disampaikan tidak selalu dapat langsung disetujui, tetapi bila orang yang diajak bicaa belum dapat menyetujui, dia dinilai tidak loyal. Instruksi tidak selalu dapat dilaksanakan, tetapi bila orang yang diajak berbicara tidak dapat menerimanya, dia dianggap memberontak. Celakanya, dalam komunikasi itu orang otoritarian suka mempergunakan logika yang tidak logis. Betul dia adalah petugas lembaga. Akan tetapi, tidak logisnya kemudian dia menyamakan diri dengan lembaga atau organisasi, entah pemerintahan entah nonpemerintahan di mana kebetulan dia berada. Ini celakanya. Karena itu, dengan gampang dan tanpa beban, tokoh otoritarian itu akan berkata seperti: “Instruksi saya adalah instruksi lembaga. Karena itu, yang mempersoalkan masalah adalah mempersoalkan lembaga. Karena itu, yang tidak menyetujui masalah adalah tidak menyetujui lembaga. Karena itu, yang tidak menerima lebih baik jangan hidup di dalam lingkung lembaga tempat saya menjadi petugasnya.”

Orang otoritarian mengandalkan diri pada kekuasaan. Jika dalam komunikasi sadar tak sadar mereka hanya mengenal satu macam komunikasi dalam bentuk instruksi, dalam bertindak mereka suka main kuasa. Ini dilakukan terutama dalam hubungan dengan bawahannya. Mereka dapat mempermainkan kuasa dengan melumpuhkan orang. Karena itu, kepada bawahan mereka berkata, “Jika kalian setia kepada lembaga, kalian harus melaksanakan tugas ini!” Di sini ada permianan kuasa karena makna dan kepentingan tugas tidak disampaikan, tetapi langsung ke tujuan akhir tugas. Permainan kekuasaan juga dapat dilakukan dengan ancaman. Untuk itu, orang otoritarian akan megneluarkan ucapan, seperti: “Bila kamu tidak melaksanakan tugas ini kamu tahu akibatnya dan kamu sendiri yang menanggungnya.“ Bentuk lain permainan kuasa adalah memojokkan. Kepada bawahan tugas langsung diberikan dan mereka sendiri langsung meninggalkan tugas itu. Menyepelekan, perkara dapat juga menjadi bnetuk permainan kuasa. Dalam bentuk itu mereka yang otoritarian memandang enteng dan “sepele” segala keberatan dan hambatan untuk menjalankan tugas yang diajukan oleh bawahannya. “Ah, itu bukan masalah. Terus lakukan saja tugas itu,” kata mereka seakan-akan tahu segala hal. Meski berat, orang yang mendapat tugas terpaksa juga melakukannya. Kekuasaan dapat juga dipermainkan dengan membikin bawahan merasa salah dan malu. “Kamu sudah mendapat banyak dari lembaga ini. Mengapa mengerjakan tugas sedemikian saja merasa berat?” Dengan perkataan lain, daripada bertitik tolak dari hakkiat dan kepentignan perkara, keadaan dan kemampuan orang serta situasi-kondisi yang ada, dalam bertindak orang otoritarian berkutat saja pada kekuasaan yang dimilikinya.

Kekuasaan merupakan faktor penting dalam kehidupan. Berkat kekuasan, hubungan pengaruh dalam kehidupan tersalurkan. Oleh macam bentuk dan keresmian kekuasaan, saling pengaruh dan hubungan antara manusia diperjelas. Dengan penggunaan kekuasan yang baik dan tepat, banyak hal terselesaikan dan berbagai prestasi dicapai. Kesalahan otoritarianisme dan para penganuhnya ialah memandang kekuasaan bukan sebagai sarana, melainkan tujuan tersendiri. Karena itu, bagi mereka yang penting adalah bagaimana kekuasaan berfungsi, digunakan dan ditampakkan. Apa yang hendak dicapai, bagaimana cara mencapainya, dan nasib orang-orang yang diikutsertakan dalam pencapaian tidaklah penting. Pemutarbalikan pemahaman tentang kekuasaan sebagai sarana menjadi tujuan itu mengakibatkan penggunaannya tidak pas. Hasilnya, hidup menjadi sempit sebatas tanggung jawab dan wewenang, komunikasi menjadi satu arah, dan permainan kekuasaan merajalela. Akibatnya, hidup sendiri tak terkelola dengan baik. Yang berkembang adalah berbagai “trik” dan usaha mendapatkan kekuasaan, mempertahankannya, dan memanipulasikannya entah untuk tujuan apa.

Pembeberan tentang otoritarianisme dan orang otoritarian di atas mungkin terkesan hitam-putih dan berlebihan. Memang, tidak ada orang yang seratus persen otoritarian seperti dilukiskan di atas. Akan tetapi, esensi otoritarianisme dan orang otoritarian itu ada. Otoritarianisme, entah sadar atau tidak, berporos pada pemahaman tentang kekuasaan dan penggunaannya, dengan bentuk-bentuk akibat dalam komunikasi dan gaya hidup yang diciptakannya. Otoritarianisme, entah sadar atau tidak, berporos pada pemahaman tentang kekuasaan dan penggunaannya, dengan bentuk-bentuk akibat dalam komunikasi dan gaya hidup yang diciptakannya. Otoritarianisme dan orang-orang otoritarian akan berkembang dan banyak muncul dalam masyarakat yang formalistis, legalistis, dan konvensionalistis. (*)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT