Connect with us

Buku

Mochtar Lubis, Antara Maut, Cinta dan Harimau

mm

Published

on

Pengarang ini dilahirkan di Padang tanggal 7 Maret 1922. Pendidikan HIS; Sekolah Ekonomi Kayutanam, Sumatera Barat; kemudian mendapat Jefferson Fellowship pertama di East and West Centre, University of Hawaii. Sejak tahun 1945 bekerja sebagai wartawan di kantor berita “Antara”, Jakarta. Pada tanggal 29 Desember 1949 bersama kawan-kawannya mendirikan surat kabar Indonesia Raya, kemudian mendirikan harian berbahasa Inggris pertama di Indonesia, yakni Times of Indonesia. Kini menjabat sebagai anggota Akademi Jakarta, Ketua Yayasan Indonesia, penanggung jawab majalah sastra Horison, anggota pengurus Yayasan Pembina Pers Indonesia, presiden Press Foundation of Asia, anggota panitia Unesco untuk masalah-masalah komunikasi, anggota dewan pimpinan International Press Institute. Beberapa kali Mochtar Lubis mendapat penghargaan atas prestasinya.

Jelas bahwa Mochtar Lubis sebenarnya orang yang sibuk dengan jabatannya yang banyak. Ia dikenal sebagai wartawan dan sastrawan di dunia internasional. Meskipun kesibukannya luar biasa ia masih sempat juga menulis beberapa novel tebal dalam decade 1970-an ini. Mochtar Lubis adalah salah satu dari pengarang kita yang bertahan menulis terus sejak tahun 1950-an.

Sebagai sastrawan ia bisa dikelompokkan ke dalam Angkatan 45, karena tema dan gaya pengungkapannya yang berbeda dengan kelompok Angkatan majalah Kisah dan Sastra. Ia telah menulis fiksi sejak penghujung decade 1940-an. Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam dua buku, yaitu Si Djamal (1950) dan Perempuan (1956). Novelnya Tak Ada Esok terbit tahun 1950 dan disusul oleh novelnya yang terkenal Jalan Tak Ada Ujung tahun 1952. Tahun 1963 ia menerbitkan novelnya yang lain Senja di Jakarta yang antara lain mendapat pujian dari Anthony Burgess, karena mula-mula novelnya itu terbit dalam bahasa Inggris. Novelnya yang terbit dalam dekade itu juga adalah Tanah Gersang.

Di samping menulis cerpen dan novel Mochtar juga menulis buku-buku pengetahuan dasar mengenai tehnik mengarang fiksi dan kewartawanan. Ia juga menterjemahkan beberapa cerita pendek yang dikumpulkannya dalam beberapa buku, antara lain Tiga Cerita Negeri Dollar (1950), Kisah-Kisah dari Eropa (1952), Cerita-Cerita Tiongkok (1953) dan banyak lagi yang lain.

Ciri kepengarangan Mochtar Lubis yang menonjol adalah perhatiannya yang besar dalam masalah-masalah sosial dan politik bangsanya. Cerpen-cerpennya dalam Djamal sejak tahun 1950 sudah menunjukkan kritik-kritik sosial dan politik demikian. Juga dalam novel tentang revolusi, Tak Ada Esok, ia sempat mengkritik Bung Karno misalnya. Dan ini berlanjut terus dengan Senja di Jakarta (tentang kehidupan orang-orang partai tahun 1960-an). Tanah Gersang, dan Harimau! Harimau! serta Maut Dan Cinta. Barangkali pengaruh kerja kewartawanannyalah yang membuat novel-novel dan cerpennya berisi kritik sosial politik. Mochtar juga pernah menulis sebuah drama yang kurang berhasil, Tumenggung Wiraguna, yang berisi kritik terhadap kepemimpinan Indonesia.

Obsesi Mochtar terutama dalam karakter kepemimpinan Indonesia. Pemimpin-pemimpin Indonesia yang kuat karakternya, disiplin diri, penuh pengorbanan dan dedikasi, bersih, jujur, itulah yang diharapkannya. Kenyataannya tidak demikian. Banyak pemimpin rakyat yang dilihatnya otoriter dan selalu menyalahgunakan kekuasaan buat kepentingannya sendiri. Penglihatannya ini bisa ditelusur mulai dari novel-novelnya tahun 1950 sampai tahun 1970-an ini.

Nampaknya kritik-kritik Mochtar Lubis dalam novel-novelnya itu cukup keras dan langsung, hanya dalam novel Harimau! Harimau! kritik pimpinan yang otoriter dan korup itu agak terselubung dalam symbol pencari dammar di rimba. Kritik-kritiknya yang nampak telanjang itu didasari oleh pengetahuannya yang luas dalam praktek politik di Indonesia, karena ia pemimpin redaksi sebuah surat kabar yang amat terkenal ekslusif di Indonesia. Karena lewat pers sudah tak mungkin berkutik, karena dilarang terbit baik dalam Orde Lama maupun Orde Baru, maka kegelisahan sosial politiknya dia tuangkan dalam bentuk fiksi.

Amat menarik untuk meneliti karya-karya satra Mochtar Lubis dari segi hubungan sastra dan politik di Indonesia. Salah satu karyanya, Jalan Tak Ada Ujung, pernah dibahas oleh kritikus M.S.Hutagalung, tetapi lebih banyak meninjau dari segi estetiknya, dan pula novelnya ini memang salah satu yang tidak banyak mengandung kritik politik.

Vitalitas kerja Mochtar Lubis dalam bidang kebudayaan hanya bisa ditandingi oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Jarang kesusasteraan Indonesia menyaksikan sastrawan yang terus menulis lebih dari masa 15 tahun. Tetapi dua tokoh ini, dan beberapa yang lain lagi, mampu berkarya terus melewati begitu banyak generasi.

Sebagai sastrawan penting di Indonesia setiap karyanya yang baru selalu mendapat perhatian yang luas. Begitu pula novel-novelnya yang mutakhir. Harimau! Harimau! dan Maut dan Cinta, memperoleh banyak tanggapan kritikus yang hampir semuanya memuji. Bahkan Harimau! Harimau! mendapat hadiah dari P dan K sebagi bacaan remaja terbaik.

Dalam buku ini dibicarakan kedua bukunya tersebut.

Harimau! Harimau!

Novel ini mengambil setting di daerah hutan rimba Sumatra. Daerah cerita yang rupanya amat dikenal baik oleh pengarangnya. Dalam bagian pertama novel ini secara panjang lebar Mochtar Lubis melukiskan suasan dan topografi hutan rimba Sumatra secara meyakinkan. Kemudian dimulailah kisahnya dengan memunculkan tujuh orang pendamar yang memulai perjalanan pulang mereka dari hutan ke kampung halaman. Tujuh pendamar tersebut dipimpin oleh seorang yang bernama Wak Katok, orang yang tertua di antara mereka. Yang lain terdiri anak muda dan orang sebayanya. Terror perjalanan dimulai ketika seekor harimau tua yang sangat besar menguntit mereka dan bertubi-tubi menerkam salah satu dari rombongan yang dicengkam ketakutan ini. Teror dan kepanikan ini menimbulkan berbagai konflik sosiologis, psikis dan moral. Ia melontarkan masalah dosa dan hukumanya kepada para tokohnya. Harimau itu menerkam mereka yang menanggung banyak dosa. Akhirnya harimau itu sendiri berhasil dibunuh. Namun muncul kenyataan baru bahwa masih ada “harimau” lain yang lebih berbahaya, yakni pemimpin mereka sendiri, Wak Katok. Pemimpin yang tiran, sakti dan besar ini ternyata hanyalah seorang pengecut dan palsu.

Memang Mochtar Lubis menekankan makna simbolik dalam novelnya ini. Ia menceritakan kebuasan seekor harimau yang sesungguhnya dan yang simbolik. Teror harimau besar yang kelaparan dan selalu memangsa para pendamar satu-satu tadi, hanyalah gambaran untuk menunjukkan kebuasan yang sama dalam diri seorang pemimpin bangsa. Harimau yang sesungguhnya ialah Wak Katok. Dan dengan cara ini jelas sekali bahwa Mochtar Lubis bermaksud melukiskan kondisi sosial-politik Indonesia. Dalam hal ini nampak sekali sasaran kritiknya adalah para pemimpin Indonesia yang kelihatan gagah, sewenang-wenang, namun kenyataanya pengecut dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Wak Katok dan Pak Haji adalah type tokoh yang mudah sekali dikenali dalam masyarakat Indonesia. Wak Katok adalah pemimpin yang bermantera palsu (pidato-pidato), berjimat palsu, munafik, lalim dan menindas. Sedang Pak Haji adalah type pemimpin yang intelektual tetapi takut membela kebenaran. Type pemimpin intelektual ini biasanya tak berani bersuara menentang kezaliman, mengasingkan diri dari masalah bangsanya, dan lebih baik memikirkan keselamatan dirinya.

Sedangkan tokoh Buyung, tokoh yang muda usia, rupanya dipasang sebagai simbolik kaum muda Indonesia. Buyung adalah tokoh yang masih murni, bersemangat dan penuh idealism. Dan rupanya pengarang ada do fihak kaum muda ini. Dengan demikian jelas terlihat bahwa Mochtar secara sengaja mengambil setting rimba untuk memaparkan dan sekaligus mengecam tingkah laku pemimpin Indonesia. Dengarkan kutipan dari halaman 214 ini: “Seiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa orang lain . . . . besar kecilnya kezaliman, atau ada dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana pun juga di dunia harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya”. Kata-kata yang sebenarnya merupakan ungkapan tema pokok novel ini menunjukkan maksud sebenarnya novel ini. Dan tudingan factual yang melahirkan novel ini saya kira corak kepemimpinan Orde Lama di bawah pimpinan presiden Sukarno. Dalam beberapa hal sifat Wak Katok menyerupai presiden itu: bermantera, berjimat, kharismatis. Sedangkan kelaliman dan penindasannya tentu saja sempat dirasakan oleh musuh-musuh politiknya, misalnya menahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan.

Sebagai cerita remaja (buku ini pernah terpilih sebagai Buku Remaja terbaik oleh Kementerian P dan K) tentu saja kisah tegang pengintaian harimau terhadap rombongan pendamar itu cukup menarik. Mochtar Lubis, sebagai pengarang berpengalaman, mampu menghidupkan ceritanya, membangunkan suasana misteri hutan dan raja rimba yang dahsyat itu. Dan bagi politik mudah diperoleh. Namun makna ganda dari novel ini masih kurang tergarap secara wajar. Pengarang terlalu kentara memasukkan “Pesan-pesan kota” rasa sekali dalam dialog para tokohnya. Tokoh Pak Balam, dalam sakit dan menjelang kematiannya dalam hutan, berkata dengan kalimat-kalimat panjang dan penuh pesan yang kadang-kadang sempat menciptakan “Kata-kata mutiara”. Dari dialog semacam inilah pembaca lalu diarahkan pada cerita bertendens politik, jelasnya kritik pimpinan di Indonesia. Lantas tiba-tiba suasana tegang dan misteri kehidupan hutan ditinggalkan. Dan kita dibawa ke arah kehidupan kota dengan tata nilai sosialnya.

Tema sentralnya novel ini lantas nampak tersisih dan buku asyik dengan tema sampingan tentang kepemimpinan. Pada saya integrasi antara tema, penokohan dan setting cerita kurang menyatu. Tema nyelonong keluar dari setingginya. Dengan suasana tegang penuh ancaman bahaya dari sudut mana pun dalam rimba, diramu dengan ilmu sihir, tahayul dan terkaman harimau jadi-jadian pembaca mengharapkan untuk disuguhi kehidupan masyarakat rimba Sumatra yang masih terbelenggu tahayul. Misteri hutan rimba, tahayul dan kegaiban-kegaiban tidak muncul secara murni dalam novel ini. Nampak adanya tendensi yang dipaksanakan pengarangnya dalam novel ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh kehidupan pengarangnya yang memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan politik bangsanya. Kemurnian, keprimitifan, kedahsyatan hidup rimba, misteri alam yang perawan tidak muncul secara penuh dalam dirinya. Meskipun dengan penggambaran itu sebenarnya pembaca bisa mengambil makna simbolik yang dimaui oleh pengarangnya.

Bagaimana pun ini novel Mochtar Lubis yang tergolong bagus dari novel-novel terbit pada pemulaan dasawarsa 1970-an. Memang sulit untuk dianggap bagus dari karya-karya Mochtar sebelumnya, misalnya kalau dibandingkan dengan Jalan Tak Ada Ujung. Struktur novel ini juga agak kurang utuh. Adegan perzinahan Buyung atas Siti Rubiyah yang diduga akan merupakan antiklimaks ini akhir kisah ternyata hanya jebakan saja. Buyung memang berdosa dan dengan demikian juga dalam ancaman bahaya disergap harimau. juga pelukisan hutan rimba Sumatra yang agak kepanjangan dalam permulaan novel. Sebenarnya bisa disebarkan dalam bagian-bagian lain sehingga nampak terlalu deskriptif.

Maut Dan Cinta

Novel ini merupakan karyanya yang paling tebal, yakni meliputi 306 halaman. Tebalnya novel ini lebih banyak ditentukan oleh adanya perenungan-perenungan tentang segala macam ide dan revolusi itu sendiri yang berjalan lewat dialog tokoh-tokohnya di samping ketelitian pengarangnya untuk menggambarkan semua kejadian secara cermat. Plot cerita itu sendiri tidak terlalu kompleks. Novel ini tidak memiliki cerita yang panjang dan berbelit. Ia menceritakan kisah seorang mayor intelijen Republik Indonesia bernama Sadeli yang diberi tugas oleh atasannya Kolonel Suroso untuk menyelidiki penyelewengan yang dilakukan oleh agennya di Singapura, dan untuk menyusun kegiatan baru untuk penyelundupan perlengkapan peran RI.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Sadeli membawa gula dengan perahu layar ke Singapura. Pelayaran itu selamat. Sadeli memulai tugasnya dengan menyelidiki kebenaran desas-desus bahwa agen R.I. di Singapura, Umar Junus, banyak menyelewengkan uang negara yang dipercayakan padanya untuk membeli perlengkapan perang pada R.I. Ternyata Umar Junus memang menyeleweng dan hidup penuh kemewahan.

Sadeli sebagai atasannya memperingatkan agar uang negara itu dikembalikan. Namun Umar Junus menolak dan menyatakan keluar dari dinas intelijen R.I. Sementara itu Sadeli telah aktif pula mengadakan kontak-kontak rahasia dengan para “pedagang senjata” untuk membeli perlengkapan perang itu buat dikirim ke daerah R.I.

Begitu pula Sadeli telah berhasil menghubungi beberapa penerbang asing untuk diajak bekerja sama menyelundupkan obat-obatan dan persenjataan ke wilayah R.I. Pada waktu Sadeli berusaha menyelundupkan persenjataan itulah ia menculik Umar Junus untuk dibawa ke Indonesia dan diadili menurut hukum militer.

Tetapi penyelundupan atau usaha menembus blokade Belanda ini kepergok patrol, dan terjadi kontak senjata. Dalam kontak senjata inilah Umar Junus menyadari kembali kesalahannya dan beritikad mau mengembalikan hutang-hutangnya pada negara. Umar Junus diterima karena menunjukkan jasanya dalam mempertahankan persenjataan yang diselundupkan ke wilayah R.I. Ia diturunkan menjadi letnan satu. Kemudian cerita ini penuh dengan gambaran usaha mencari pesawat dan penerbang asing untuk diikutkan dalam operasi Sadeli untuk memasukkan alat-alat perlengkapan perang yang diperlukan R.I. Cerita berakhir bahagia, yakni Umar Junus hidup “lurus” dan berbahagia dengan isterinya yang molek Rita Lee, dan Sadeli sendiri hidup bahagia dengan isterinya yang cantik dari Macao. Hanya mungkin Ali Nurdin yang tidak bahagia. Kekasihnya tewas ditembak pesawat udara Belanda di Magelang.

Tema novel ini adalah “untuk apa bangsa Indonesia merebut kemerdekaan”, seperti diutarakan oleh pengaranganya dalam bab Pengantar. Mochtar Lubis berusaha memberikan jawabannya lewat novel ini. “Penyelewengan –penyelewengan yang dilakukan oleh resim Sukarno dan demikian banyak orang Indonesia di kala itu yang telah mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa kita, mendorong saya menulis buku ini, untuk tidak saja menjelaskan kembali pada diri saya sendiri untuk apa bangsa kita berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk menyatakan kembali pengabdian pada cita-cita kemerdekaan bangsa kita.”

Novel ini mencoba mengevaluasi lagi revolusi Indonesia. Dan jarak yang begitu jauh (lebih dari 20 tahun) telah memungkinkan melihat kejadian itu secara lebih jernih meskipun tidak obyektif. Dan Mochtar Lubis secara jitu telah memilih setting cerita itu di luar negeri. Seluruh cerita ini sebagian besar terjadi di Singapura, Hongkong, Bangkok, dan Macao. Tempat Mochtar Lubis berdiri pada dekade ini telah diproyeksikannya pada orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dalam memperjuangkan kemenangan revolusi Indonesia. Dengan demikian penilaian pengarang ini dalam posisi yang sama dengan para tokoh cerita yang berada dalam “jarak” dengan revolusi. Para tokoh seperti Sadeli dan Umar Junus serta Ali Nurdin, begitu pula tokoh seperti Dave Wayne dapat melihat revolusi yang pada waktu itu sedang berkecamuk “dari luar” dan dengan demikian diharapkan dapat menilai secara lebih jernih dan dingin. Para tokoh itu kerap kali terlibat dalam dialog yang menyoroti revolusi yang sedang berkecamuk di Indonesia. Juga dalam perjalanannya sebagai seorang mayor intel, Sadeli seringkali membandingkan keadaan setempat dengan revolusinya.

Tetapi nyata benar bahwa Mochtar Lubis memang berusaha menjawab hakekat revolusi dengan membandingkannya dengan kenyataan pada tahun 1960-an yang memang merupakan kelanjutan dari revolusi itu sendiri. Dengarkanlah beberapa kutipan ini:

“Di mana-mana, Eddy, jika pemimpin-pemimpin memperkaya diri sendiri, berdusta, memuaskan napsu perempuan dan kemewahan, menyia-nyiakan kepentingan rakyat, itu artinya mereka menanam benih kehancuran mereka sendiri”. Dan ini: “Betapa partai-partai di Indonesia akan berebutan kekuasaan. Betapa pemimpin yang berkuasa akan memamerkan kemewahan, tanpa memperdulikan kemiskinan orang-orang di sekitarnya. Politik adu domba akan mengamuk . . . . Rakyat akan diperas . . . . Orang-orang yang berani mengeritik mereka akan diteror, ditangkap dan disekap dalam penjara tanpa diadili. Tidak. Tak mungkin ada pemimpin Indonesia yang dapat jadi iblis dan bajingan serupa itu”.

Di samping itu dalam novel ini tematis. Pengarangnya mencoba menganalisa arti dan hakekat revolusi. Karakter yang ada di dalamnya nampak seperti symbol, meskipun Mochtar Lubis juga berhasil mengangkat mereka sebagai manusia nyata dan berpribadi sendiri. Sadeli mewakili golongan idealis yang mendewakan revolusi di atas segalanya. Pengarang rupanya cenderung menilai bahwa para pejuang revolusi pada waktu itu (permulaan 1947 sampai akhir 1948) adalah idealis-idealis tulen. Hal ini dinampakkan dalam diri Sadeli yang baru saja keluar dari kancah revolusi dan muncul di Singapura. Ia mempercayai segalanya dalam revolusi. Mempercayai tujuannya yang murni, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai kerelaan berkoban mereka dan sebagainya. Inilah sebabnya ia mengutuk keras Umar Junus yang menyleweng. Tetapi Sadeli, akhirnya menyadari realitas, ia butuh dunia ini, butuh perempuan, butuh cinta, butu kehidupan yang layak. Dan inilah sebabnya ia mengampuni Umar Junus. Dan Umar Junus sendiri adalah lambang dari para pemimpin yang korup. Ia adalah proyeksi dari “kehidupan mewah para pemimpin” sesudah revolusi. Umar Junus telah jauh meninggalkan revolusi. Telah terlalu lama hidup di Singapura.

Sedang Ali Nurdin adalah type idealis murni yang akhirnya menjadikan revolusi sebagai alat membalas dendam pribadi. Para penerbang seperti Dave Wayne dan Pierre de Koonig adalah tipe pejuang idealis murni. Mereka tidak memandang bangsa, tetapi manusia.

Sedang Maria, isteri Sadeli, adalah lambang kemerdekaan. Wanita yang cantik, berbakat dan baik hati ini adalah buah revolusi yang diidamkan seperti dikatakan pada akhir novel ini: “Dia cinta pada Maria seperti juga dia cinta pada kemerdekaan bangsanya.”

Bagaimana pun novel ini menarik. Ia enak dibaca meskipun terlalu banyak monolog panjang dan dialoh perdebatan. Segi yang menarik dari novel ini mungkin kecermatan  Mochtar Lubis dalam melukiskan setting ceritanya. Ia memiliki pengetahuan yang luas dan “menguasai medan” daerah yang diceritakannya : Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Macao, Mochtar Lubis mampu menghadirkan suasana daerah itu dalam novelnya. Kita bertubi-tubi dihadapkan pada beberapa watak yang amat beragam. Orang tak mudah melupakan gambaran tentang Dave Wayne, Sheila Scott, Tan Ciat Tong, Inspektur Hawkins dan sebagainya. Mereka ini berbicara dan bertindak sesuai dengan perwatakannya. Dan dengan demikian ia jelas menggariskan karakternya pada kita.

Meskipun mungkin dengan alasan melihat revolusi “dari luar secara obyektif” namun setting yang dipilih Mochtar Lubis buat menuturkan ceritanya dan dengan demikian juga menuangkan ide-idenya, bukanlah secara kebetulan di Singapura dan sekitarnya. Setting ini baru Mochtar Lubis yang mengerjakannya. Ia bercerita tentang peranan orang-orang yang berdiri di belakang kemelut revolusi di tanah air. Tentang orang-orang yang sering kita lupakan jasa mereka bagi revolusi kita. Tentang penembusan blokade Belanda baik di darat maupun di laut dan udara. Tentang revolusi di luar tanah airnya sendiri.

Mochtar Lubis membawa kita kepada mereka setelah sekian banyak cerita pendek dan novel Indonesia bercerita tentang revolusi dengan asap dan mesiu. Kini orang menilai kembali revolusi: hakekatnya, persoalannya, tujuannya semula, bahayanya. Novel ini ibarat retreat batin bagi kita semua. Juga bagi mereka yang pernah aktif menyumbangkan darma baktinya buat kemerdekaan, apakah mereka tetapi di jalan lurus kemerdekaan. Apakah mereka telah menjadi “Umar Junus”. (*)

*Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Buku

Perempuan Jawa dalam Gerak dan Wacana Modernitas Barat

mm

Published

on

Portrait of a Javanese woman in traditional clothing artokoloro/ photo via fainart america

 Risa ingin mengatakan bahwa yang menentukan medan smantik modernitas yang menjadi identitas baru hari ini, justru dibentuk oleh “pengetahuan awam” yang saling berkelitan, sehingga memandu individu untuk menginterpretasi dan mereproduksi ulang realitas yang bernama modernitas tersebut. Di sini konteks kultural mempunyai peran utama dalam mempertemukan modern dengan masyarakat itu sendiri. Kita bisa pahami bahwa ruang budaya menjadi ruang titik temu diantara keduanya dalam hal ini. Karna ruang budaya merupakan tempat endapan, sistem nilai, ungkapan, penilaian sosial, sistem simbolik, mitologi, tradisi, agama, yang semuanya berada dalam rell bahasa masyarakat.

Oleh; Doel Rohim *)

Wacana modernitas barat dalam memandang perempuan, khususnya dalam relasi sosial di Jawa, kerap menjadi destruktif jika ia dihadirkan secara kaku dan hadap-hadapan secara langsung sebagai upaya mengganti atau merubah kultur seluruhnya, yang pada dasarnya memang telah mapan sebab telah menjadi budaya.

Modernitas yang menjadi latar belakang berkembangnya wacana tentang perempuan dari sumber ideologi barat tidak bisa secara serta merta digunakan atau dipaksakan untuk melihat kultur masyarakat kita dengan kaca mata hitam putih. Sehingga dominasi wacana moderitas selalu menjadi ukuran atas suatu obyek kultural untuk direpresentasiakan secara rasional dan material. Terciptanya Struktur metodologis yang selalu memposisikan kita sebagai obyek dari wacana akademis yang di bangun Barat juga menjadi persoalan lain, ketidakberdayaan kita dalam membangun epistimologi pengetahuan kita sendiri.

Representasi Sosial Dalam Memandang Perempuan

Dalam hal ini, buku hasil penlitian Risa Permanadeli yang berjudul Dadi Wong Wadon, Representasi Sosial Perempuan Jawa Di Era Modern, memberikan cara pandang lain kalau tidak mau dikatakan baru saat melihat perempuan Indonesia khususnya Jawa di konteks masayarakat modern. Risa melihat bahwa modernitas selalu berkait erat dengan perubahan yang ada di tengah masyarakat. Begitupun modernitas tidak lantas merubah struktur budaya perempuan Jawa yang terikat dengan adat dan tata nilai yang ada, namun malah sebaliknya memperkaya gagasan perempuan Jawa seperti direpresentasikan dalam kata “dadi wong” sebagai perwujudan manusia ideal di masyarakat Jawa.

Melalui repertoire-repertoire makna seperti ungkapan “dadi wong” dan bentuk komunikasi lain yang tumbuh dari kebiasaan masyarakat Jawa dalam menjalin relasi sosial, Risa mencari bangunan pemahaman dalam merepresentasikan perempuan Jawa dalam konteks modern. Dengan menggunakan teori representasi sosial yang merupakan turunan dari pendekatan baru psikologi sosial yang berangkat dari asumsi bahwa dalam menerima nilai, budaya, dan praktik baru (asing), sebuah masyarakat mempunyai perangkat “pengetahuan sosial” atau bisa dikatakan “nalar sosial” untuk menanggapi, menafsirkan, kemudian merekonstruksi ulang fenomena sosial tersebut, yang secara merata kemudian disebarkan ke dalam masyarakat. Jadi proses penerimaan nilai, pandangan, dan praktik hidup modern tersebut tidak diterima melalui proses mental individu yang terpisah dari nilai-nilai masyarakat (baca: psikologi behaviorial).

Secara sederhana dalam proses penerimaan nilai, pandangan, dan praktik modernitas, dari perespektif ini, masyarakat tidak serta merta menelan mentah-mentah fenomena sosial yang bernama modernitas ini secara serampangan. Namun, secara tidak sadar masyarakat mengklasifikasi dan menamai realitas baru atau elemen-elemen yang asing dikeseharian tersebut sesuai dengan repertoire makna yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini Risa menggunakan repertoire makna tersebut, sebagai perangkat interpretasi yang digunakan oleh masyarakat untuk membuat dan memecahkan realitas baru yang datang dalam keseharian dengan kode makna yang sudah mapan dan dikenal luas oleh masyarakat sebagai suatu pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

Lebih jauh Risa ingin mengatakan bahwa yang menentukan medan smantik modernitas yang menjadi identitas baru hari ini, justru dibentuk oleh “pengetahuan awam” yang saling berkelitan, sehingga memandu individu untuk menginterpretasi dan mereproduksi ulang realitas yang bernama modernitas tersebut. Di sini konteks kultural mempunyai peran utama dalam mempertemukan modern dengan masyarakat itu sendiri. Kita bisa pahami bahwa ruang budaya menjadi ruang titik temu diantara keduanya dalam hal ini. Karna ruang budaya merupakan tempat endapan, sistem nilai, ungkapan, penilaian sosial, sistem simbolik, mitologi, tradisi, agama, yang semuanya berada dalam rell bahasa masyarakat.

Kembali pada konteks Dadi Wong Wadon seperti temuan Risa, ia ingin menyangkal dari narasi besar yang sudah digariskan oleh Barat, bahwa untuk menyongsong modernitas masyarakat Dunia Ketiga yang dipaksa untuk memilih, meneliti, dan pada akhirnya menghilangkan tradisi kulturalnya hanya untuk menuruti prasyarat menuju modernitas dengan segala perangkatnya. Namun upaya tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan masyarakat Jawa yang justru mempunyai konsep sendiri yang masih berjangkar pada tradisi kultur untuk mengapropriasi moderitas.

Karna pada kenyataanya moderitas yang lebih tepat kita sebut “dipaksakan” untuk negara Dunia Ketiga sebagai budaya, bukan merupakan sebuah gerak yang tumbuh dan lahir dari rahim kebudayaan masyarakat kita sendiri. Ia lahir dari sebuah kekecewaan dalam ketertinggalanya oleh gerak peradaban. Maka yang muncul untuk mengejar ketertinggalanya tersebut, kemudian ia perlu mengubah ataupun menyesuaiakan lapisan nilai tata pemerintahan, ekonomi, maupun kulturnya, sebagaimana telah di atur dan ditetapkan prasyaratanya oleh Barat.  Jelas kalau seperti ini, dibutuhkan suatu pengetahuan tentang Timur dengan segala aspeknya, yang selama ini telah didefinisiakan oleh Barat sesuai dengan kepentinganya. Dari hal itulah selama belenggu sejarah ini, tidak pernah coba kita bongkar sedikit demi sedikit, senyatanya kita akan selamanya terkurung sebagai bangsa yang tidak mampu menemukan arah dan rumusanya sendiri.

Dengan teori represetasi sosial ini sendiri, setidaknya Risa berhasil memposisikan budaya masyarakat Jawa sebagai obyek yang juga subyek untuk mendefenisikan dirinya sendiri. Walaupun ia tidak seutuhnya mengeliminir karangka pemahaman Barat atas kita, tapi setidaknya ia berusaha mensejajarkan bagaimana “pengetahuan” kita dengan Barat bisa saling beriringan.

 Modernitas dan Konsep Dadi Wong

Seperti telah sedikit disingung di atas, bahwa konsep menjadi orang “dadi wong” dalam alam fikir pengetahuan masyarakat Jawa juga beriringan dengan gagasan menjadi modern yang sudah melekat di tengah-tengah masyarakat Jawa. Dengan kriteria yang muncul sebagai parameter orang modern hari ini, seperti yang dapat kita lihat melalui penampilan yang mengikuti zaman, ketebukaan cara berfikir, tidak fanatik, kemudian bersekolah tinggi, ditempatkan kemudian dipersonifikasi untuk mengukuhkan gagasan konsep “dadi wong” seperti diamini oleh banyak perempuan Jawa.

Dalam konteks seperti itu, gagasan dadi wong menyimpan semesta simbolik masyarakat Jawa yang ditetapkan sebagai ukuran akan keadaan ketercukupan material manusia Jawa. Dalam kata lain orang yang sudah “mentes”, mandiri, dan “mulya” kemudian mempunyai posisi sosial yang terpandang karna sudah mempunyai keluarga (tidak lagi bergantung pada orang tua). Mengacu dari apa yang ada, gagasan dadi wong kemudian selalu diasosiasikan dengan keberlimpahan material semata. Namun sebenarnya kalau kita ingin bedah dan kita kaitkan dengan khasanah pengetahuan dari tradisi keilmuan masyarakat Jawa, gagasan tersebut sudah melakat dalam kesadaran alam batin yang sangat subtil dari masyarakat Jawa.

Secara geneologic bentuk-bentuk repertoire yang terkandung dalam ungkapan dadi wong seperti yang telah disebutkan di atas, semuanya mempunyai relasi pengetahuan yang termanivestasiakan dalam tradisi dan tata nilai masyarakat yang selalu menyesuaikan ruang dan waktu yang ada. Jadi gagasan “dadi wong” berkembang secara produktif dengan bentuk-bentuk bahasa atau definisi secara semantic yang mungkin juga berbeda, namun secara subtantif tetap berjangkar dari akar tradisi pengetahuan masyarakat Jawa.

Masih banyak sebenarnya ungkapan-ungkapan juga konsep yang tumbuh dari masyarakat

Jawa terutama perempuan yang digunakan Risa untuk menjelaskan bahwa perempuan Jawa tidak serta merta menerima modernitas dengan dangkal. Namun diantara konsep-konsep yang ada, penjangkaran dari keilmuan Jawa yang membentuk tradisi tata nilai masyarakat yang menjadi sistem sosial telah merubah wajah modernitas di hadapan perempuan Jawa. Wajah baru modernitas yang bisa jadi malah akan memperkaya tradisi masyarakat Jawa di dalam gerak zaman, begitupun tidak kehilangan identitas perempuan Jawa yang seutuhnya. (*)

*) Santri Pondok Pesantren Budaya Kaliopak Piyungan Bantul, Juga Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

 

 

Continue Reading

Buku

Jakarta, Pusat Pinggiran yang Meluruh

mm

Published

on

photo: Modern and Contemporary Art in Nusantara/ Getty Image/ Nadia L / via pegipegi

Satu tulisan panjang lainnya adalah soal pemeran teater. Jawir menceritakan dengan panjang bagaimana hidup dan dengan cara apa sang seniman tersebut mengakhiri hidup. Seniman tersebut adalah Dudung Hadi.

by Triyo Handoko

Tahun 2019 Jakarta genap berusia 492 tahun. Kota ini banyak menyimpan cerita. Sebagai ibu kota, ia ibarat miniatur Indonesia. Banyak orang dari berbagai daerah telah mencoba peruntungannya disana. Peruntungan ekonomi, politik, hingga seni.

Chairil Anwar, misalnya, merantau ke Jakarta untuk menjadi penyair. Dalam tulisan berjudul “Epilog Sejarah Pasar Senen”, Viriya Paramita menulis dalam buku ini, bagaimana Pasar Senen tidak hanya sebagai tempat ekonomi. Namun juga tempatnya seni.

Tidak hanya Chairil Anwar, disana ada H.B. Jasin, Wim Humboh, hingga Ajip Rosidi mendiami Pasar Senen untuk menggal ide-ide kesenian. Termasuk didalamnya mengadakan diskusi rutin disana.

Kota sebagai ruang interaksi multidimensi memang menarik sekali untuk ditelisik lebih dalam lagi. Kadang penghuninya tidak menyadari setiap jalan yang dilewatinya memiliki banyak hal yang ternyata menyimpan banyak hal yang mengesankan. Apalagi Jakarta, dengan sejarah dan hiruk pikuknya.

Viriya Paramita dengan “Menjejal Jakarta”-nya memberi khasanah bagaimana kota bernama Jakarta dihidupi oleh beragam orang di dalamnya. Diracik dari hasil kumpulan reportase dalam kurun waktu 2013 hingga 2015 yang ditulis dengan gaya feature. Buku ini menarik untuk dismiak karena dituturkan dengan mengalir. Dari satu titik ke titik lain. Dalam satu koridor tema Jakarta.

Dari soal bagaiamana ragamnya penghuni Jakarta yang menjadikan lahirnya stigma etnisitas. Soal bagaimana kota memberikan ruang untuk minoritas orientasi seksual. Hingga soal kesenin, bagaimana kesenian menghibur dan mengedukasi penghuninya. Namun ada satu tema yang determinan dibanding tema lain. Yaitu soal ekonomi, soal bagaimana perut terisi.

“Menjejal Jakarta” by Viriya Paramita dengan/ Photo via Mojok Store

Jawir—sapaan akrab Viriya Paramita—terjebak disana. Saya merasakan hitam putih sekali ketika membaca tulisannya soal ekonomi. Kemudian jika berbicara permasalahan ekonomi maka tidak bisa lepas dari politik. Siapa yang berkuasa. Ia yang mengatur sumber penghidupan.

Membaca tulisan berjudul “Tahu Gejrot Syaiful” atau “Puluhan Tahun Menuntut Keadilan”. Kemudian membaca “Sehari Bersama Jokowi”, terlihat sekali keanehan dari keberpihakan Jawir.

Dalam tulisan “Sehari Bersama Jokowi”, Jawir adalah humas Pemda Jakarta. Membututi Jokowi dari pagi hingga sore hari. Tidak ada celah bagi sempurnanya Jokowi sebagai pemimpin.

Barangkali tulisan tersebut juga punya kontribusi atas dua kalinya Jokowi jadi presiden. Dalam medio Jawir meliput dan menulis “Sehari Bersama Jokowi”, memang banyak sekali wartawan yang menulis soal serupa. Seakan-akan media berlomba untuk menaikan nama Jokowi.

Pusat di Pinggiran

Jawir menggunakan Jakarta bukan sebagai identifikasi geografis, lebih dari itu ia menggunakan Jakarta sebagai geliat hidup warga urban. Syaiful misalnya, seorang tukang tahu gejrot di pinggiran Jakarta.

Slamet menjadi kontras karena ia berada jauh dari  gemerlapnya Jakarta. Padahal, Syaiful si tukang tahu gejrot dan puluhan tokoh lainnya dalam Menjejal Jakarta berada di pusaran ibukota. Mereka lah yang menghidupkan Jakarta yang menandai sekaligus menjadi tanda bahwa Jakarta berbeda dengan yang lain.

Selain Syaiful juga ada Jose Rizal Manua. Seorang seniman teater yang membidani juga mengurusi Teater Tanah Air. Sanggar teaternya tersebut awalnya tidak dibantu oleh otoritas setempat. Namun Jose, terus berusaha hingga sanggar teaternya dapat pentas dan dikenal di manca negara.

Jose menghidup Jakarta dengan keseniannya. Melalui anak-anak kecil ia memberikan harapan bahwa Jakarta tidak hanya kerak kehidupan yang mekanistik. Sayangnya fokus dari kebanyakan cerita Jawir di buku ini hanya sebatas fenomena. Tidak bisa lebih besar dari itu.

Padahal setiap fenomena hadir karena ada yang memicu. Pemicu dari setiap fenomena Jakarta adalah hasrat. Banyak orang berbondong-bondong ke Jakarta karena hasrat. Hasrat ekonomi adalah yang dominan. Dimana hasrat ini seperti rantai yang tak putus-putus, yang menghasilkan hasrat lainnya. Gaya hidup misalnya.

Salah satu tulisan paling panjang di buku ini adalah “Menjejal Transjakarta”, Jawir hanya menceritakan bagaimana beberapa tokohnya menjejal transajakarta. Selain bagaimana Jakarta adalah  kota dengan tingkat kemancetan tertinggi di dunia. Padahal disisi lain, ada hasrat warga Jakarta untuk terus membeli kendaraan pribadi. Selain tidak sigapnya otoritas menghadapi perkembangan Jakarta.

Satu tulisan panjang lainnya adalah soal pemeran teater. Jawir menceritakan dengan panjang bagaimana hidup dan dengan cara apa sang seniman tersebut mengakhiri hidup. Seniman tersebut adalah Dudung Hadi.

Dalam judul “Lelucon Pamungkas Sukiu” Jawir menceritakan dengan apik bagaimana Dudung berperan sebagai Sukiu, karakter yang akan terus melekat pada dirinya. Dudung Hadi adalah punggawa Teater Koma. Dari bagaimana Dudung mengawali karir sebagai pemain teater hingga problematika kehidupan pribadinya ditulis Jawir dalam 22 halaman di buku ini. Saya benar-benar menikmatinya.

Jawir dengan minatnya di teater membuat setiap tulisannya soal teater mengasikan sekali untuk dibaca. Terutama reportasenya soal teater. Semua sudut berhasil dibidiknya dan analisanya mengesankan. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending