Connect with us

Buku

Mochtar Lubis, Antara Maut, Cinta dan Harimau

mm

Published

on

Pengarang ini dilahirkan di Padang tanggal 7 Maret 1922. Pendidikan HIS; Sekolah Ekonomi Kayutanam, Sumatera Barat; kemudian mendapat Jefferson Fellowship pertama di East and West Centre, University of Hawaii. Sejak tahun 1945 bekerja sebagai wartawan di kantor berita “Antara”, Jakarta. Pada tanggal 29 Desember 1949 bersama kawan-kawannya mendirikan surat kabar Indonesia Raya, kemudian mendirikan harian berbahasa Inggris pertama di Indonesia, yakni Times of Indonesia. Kini menjabat sebagai anggota Akademi Jakarta, Ketua Yayasan Indonesia, penanggung jawab majalah sastra Horison, anggota pengurus Yayasan Pembina Pers Indonesia, presiden Press Foundation of Asia, anggota panitia Unesco untuk masalah-masalah komunikasi, anggota dewan pimpinan International Press Institute. Beberapa kali Mochtar Lubis mendapat penghargaan atas prestasinya.

Jelas bahwa Mochtar Lubis sebenarnya orang yang sibuk dengan jabatannya yang banyak. Ia dikenal sebagai wartawan dan sastrawan di dunia internasional. Meskipun kesibukannya luar biasa ia masih sempat juga menulis beberapa novel tebal dalam decade 1970-an ini. Mochtar Lubis adalah salah satu dari pengarang kita yang bertahan menulis terus sejak tahun 1950-an.

Sebagai sastrawan ia bisa dikelompokkan ke dalam Angkatan 45, karena tema dan gaya pengungkapannya yang berbeda dengan kelompok Angkatan majalah Kisah dan Sastra. Ia telah menulis fiksi sejak penghujung decade 1940-an. Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam dua buku, yaitu Si Djamal (1950) dan Perempuan (1956). Novelnya Tak Ada Esok terbit tahun 1950 dan disusul oleh novelnya yang terkenal Jalan Tak Ada Ujung tahun 1952. Tahun 1963 ia menerbitkan novelnya yang lain Senja di Jakarta yang antara lain mendapat pujian dari Anthony Burgess, karena mula-mula novelnya itu terbit dalam bahasa Inggris. Novelnya yang terbit dalam dekade itu juga adalah Tanah Gersang.

Di samping menulis cerpen dan novel Mochtar juga menulis buku-buku pengetahuan dasar mengenai tehnik mengarang fiksi dan kewartawanan. Ia juga menterjemahkan beberapa cerita pendek yang dikumpulkannya dalam beberapa buku, antara lain Tiga Cerita Negeri Dollar (1950), Kisah-Kisah dari Eropa (1952), Cerita-Cerita Tiongkok (1953) dan banyak lagi yang lain.

Ciri kepengarangan Mochtar Lubis yang menonjol adalah perhatiannya yang besar dalam masalah-masalah sosial dan politik bangsanya. Cerpen-cerpennya dalam Djamal sejak tahun 1950 sudah menunjukkan kritik-kritik sosial dan politik demikian. Juga dalam novel tentang revolusi, Tak Ada Esok, ia sempat mengkritik Bung Karno misalnya. Dan ini berlanjut terus dengan Senja di Jakarta (tentang kehidupan orang-orang partai tahun 1960-an). Tanah Gersang, dan Harimau! Harimau! serta Maut Dan Cinta. Barangkali pengaruh kerja kewartawanannyalah yang membuat novel-novel dan cerpennya berisi kritik sosial politik. Mochtar juga pernah menulis sebuah drama yang kurang berhasil, Tumenggung Wiraguna, yang berisi kritik terhadap kepemimpinan Indonesia.

Obsesi Mochtar terutama dalam karakter kepemimpinan Indonesia. Pemimpin-pemimpin Indonesia yang kuat karakternya, disiplin diri, penuh pengorbanan dan dedikasi, bersih, jujur, itulah yang diharapkannya. Kenyataannya tidak demikian. Banyak pemimpin rakyat yang dilihatnya otoriter dan selalu menyalahgunakan kekuasaan buat kepentingannya sendiri. Penglihatannya ini bisa ditelusur mulai dari novel-novelnya tahun 1950 sampai tahun 1970-an ini.

Nampaknya kritik-kritik Mochtar Lubis dalam novel-novelnya itu cukup keras dan langsung, hanya dalam novel Harimau! Harimau! kritik pimpinan yang otoriter dan korup itu agak terselubung dalam symbol pencari dammar di rimba. Kritik-kritiknya yang nampak telanjang itu didasari oleh pengetahuannya yang luas dalam praktek politik di Indonesia, karena ia pemimpin redaksi sebuah surat kabar yang amat terkenal ekslusif di Indonesia. Karena lewat pers sudah tak mungkin berkutik, karena dilarang terbit baik dalam Orde Lama maupun Orde Baru, maka kegelisahan sosial politiknya dia tuangkan dalam bentuk fiksi.

Amat menarik untuk meneliti karya-karya satra Mochtar Lubis dari segi hubungan sastra dan politik di Indonesia. Salah satu karyanya, Jalan Tak Ada Ujung, pernah dibahas oleh kritikus M.S.Hutagalung, tetapi lebih banyak meninjau dari segi estetiknya, dan pula novelnya ini memang salah satu yang tidak banyak mengandung kritik politik.

Vitalitas kerja Mochtar Lubis dalam bidang kebudayaan hanya bisa ditandingi oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Jarang kesusasteraan Indonesia menyaksikan sastrawan yang terus menulis lebih dari masa 15 tahun. Tetapi dua tokoh ini, dan beberapa yang lain lagi, mampu berkarya terus melewati begitu banyak generasi.

Sebagai sastrawan penting di Indonesia setiap karyanya yang baru selalu mendapat perhatian yang luas. Begitu pula novel-novelnya yang mutakhir. Harimau! Harimau! dan Maut dan Cinta, memperoleh banyak tanggapan kritikus yang hampir semuanya memuji. Bahkan Harimau! Harimau! mendapat hadiah dari P dan K sebagi bacaan remaja terbaik.

Dalam buku ini dibicarakan kedua bukunya tersebut.

Harimau! Harimau!

Novel ini mengambil setting di daerah hutan rimba Sumatra. Daerah cerita yang rupanya amat dikenal baik oleh pengarangnya. Dalam bagian pertama novel ini secara panjang lebar Mochtar Lubis melukiskan suasan dan topografi hutan rimba Sumatra secara meyakinkan. Kemudian dimulailah kisahnya dengan memunculkan tujuh orang pendamar yang memulai perjalanan pulang mereka dari hutan ke kampung halaman. Tujuh pendamar tersebut dipimpin oleh seorang yang bernama Wak Katok, orang yang tertua di antara mereka. Yang lain terdiri anak muda dan orang sebayanya. Terror perjalanan dimulai ketika seekor harimau tua yang sangat besar menguntit mereka dan bertubi-tubi menerkam salah satu dari rombongan yang dicengkam ketakutan ini. Teror dan kepanikan ini menimbulkan berbagai konflik sosiologis, psikis dan moral. Ia melontarkan masalah dosa dan hukumanya kepada para tokohnya. Harimau itu menerkam mereka yang menanggung banyak dosa. Akhirnya harimau itu sendiri berhasil dibunuh. Namun muncul kenyataan baru bahwa masih ada “harimau” lain yang lebih berbahaya, yakni pemimpin mereka sendiri, Wak Katok. Pemimpin yang tiran, sakti dan besar ini ternyata hanyalah seorang pengecut dan palsu.

Memang Mochtar Lubis menekankan makna simbolik dalam novelnya ini. Ia menceritakan kebuasan seekor harimau yang sesungguhnya dan yang simbolik. Teror harimau besar yang kelaparan dan selalu memangsa para pendamar satu-satu tadi, hanyalah gambaran untuk menunjukkan kebuasan yang sama dalam diri seorang pemimpin bangsa. Harimau yang sesungguhnya ialah Wak Katok. Dan dengan cara ini jelas sekali bahwa Mochtar Lubis bermaksud melukiskan kondisi sosial-politik Indonesia. Dalam hal ini nampak sekali sasaran kritiknya adalah para pemimpin Indonesia yang kelihatan gagah, sewenang-wenang, namun kenyataanya pengecut dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Wak Katok dan Pak Haji adalah type tokoh yang mudah sekali dikenali dalam masyarakat Indonesia. Wak Katok adalah pemimpin yang bermantera palsu (pidato-pidato), berjimat palsu, munafik, lalim dan menindas. Sedang Pak Haji adalah type pemimpin yang intelektual tetapi takut membela kebenaran. Type pemimpin intelektual ini biasanya tak berani bersuara menentang kezaliman, mengasingkan diri dari masalah bangsanya, dan lebih baik memikirkan keselamatan dirinya.

Sedangkan tokoh Buyung, tokoh yang muda usia, rupanya dipasang sebagai simbolik kaum muda Indonesia. Buyung adalah tokoh yang masih murni, bersemangat dan penuh idealism. Dan rupanya pengarang ada do fihak kaum muda ini. Dengan demikian jelas terlihat bahwa Mochtar secara sengaja mengambil setting rimba untuk memaparkan dan sekaligus mengecam tingkah laku pemimpin Indonesia. Dengarkan kutipan dari halaman 214 ini: “Seiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa orang lain . . . . besar kecilnya kezaliman, atau ada dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana pun juga di dunia harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya”. Kata-kata yang sebenarnya merupakan ungkapan tema pokok novel ini menunjukkan maksud sebenarnya novel ini. Dan tudingan factual yang melahirkan novel ini saya kira corak kepemimpinan Orde Lama di bawah pimpinan presiden Sukarno. Dalam beberapa hal sifat Wak Katok menyerupai presiden itu: bermantera, berjimat, kharismatis. Sedangkan kelaliman dan penindasannya tentu saja sempat dirasakan oleh musuh-musuh politiknya, misalnya menahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan.

Sebagai cerita remaja (buku ini pernah terpilih sebagai Buku Remaja terbaik oleh Kementerian P dan K) tentu saja kisah tegang pengintaian harimau terhadap rombongan pendamar itu cukup menarik. Mochtar Lubis, sebagai pengarang berpengalaman, mampu menghidupkan ceritanya, membangunkan suasana misteri hutan dan raja rimba yang dahsyat itu. Dan bagi politik mudah diperoleh. Namun makna ganda dari novel ini masih kurang tergarap secara wajar. Pengarang terlalu kentara memasukkan “Pesan-pesan kota” rasa sekali dalam dialog para tokohnya. Tokoh Pak Balam, dalam sakit dan menjelang kematiannya dalam hutan, berkata dengan kalimat-kalimat panjang dan penuh pesan yang kadang-kadang sempat menciptakan “Kata-kata mutiara”. Dari dialog semacam inilah pembaca lalu diarahkan pada cerita bertendens politik, jelasnya kritik pimpinan di Indonesia. Lantas tiba-tiba suasana tegang dan misteri kehidupan hutan ditinggalkan. Dan kita dibawa ke arah kehidupan kota dengan tata nilai sosialnya.

Tema sentralnya novel ini lantas nampak tersisih dan buku asyik dengan tema sampingan tentang kepemimpinan. Pada saya integrasi antara tema, penokohan dan setting cerita kurang menyatu. Tema nyelonong keluar dari setingginya. Dengan suasana tegang penuh ancaman bahaya dari sudut mana pun dalam rimba, diramu dengan ilmu sihir, tahayul dan terkaman harimau jadi-jadian pembaca mengharapkan untuk disuguhi kehidupan masyarakat rimba Sumatra yang masih terbelenggu tahayul. Misteri hutan rimba, tahayul dan kegaiban-kegaiban tidak muncul secara murni dalam novel ini. Nampak adanya tendensi yang dipaksanakan pengarangnya dalam novel ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh kehidupan pengarangnya yang memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan politik bangsanya. Kemurnian, keprimitifan, kedahsyatan hidup rimba, misteri alam yang perawan tidak muncul secara penuh dalam dirinya. Meskipun dengan penggambaran itu sebenarnya pembaca bisa mengambil makna simbolik yang dimaui oleh pengarangnya.

Bagaimana pun ini novel Mochtar Lubis yang tergolong bagus dari novel-novel terbit pada pemulaan dasawarsa 1970-an. Memang sulit untuk dianggap bagus dari karya-karya Mochtar sebelumnya, misalnya kalau dibandingkan dengan Jalan Tak Ada Ujung. Struktur novel ini juga agak kurang utuh. Adegan perzinahan Buyung atas Siti Rubiyah yang diduga akan merupakan antiklimaks ini akhir kisah ternyata hanya jebakan saja. Buyung memang berdosa dan dengan demikian juga dalam ancaman bahaya disergap harimau. juga pelukisan hutan rimba Sumatra yang agak kepanjangan dalam permulaan novel. Sebenarnya bisa disebarkan dalam bagian-bagian lain sehingga nampak terlalu deskriptif.

Maut Dan Cinta

Novel ini merupakan karyanya yang paling tebal, yakni meliputi 306 halaman. Tebalnya novel ini lebih banyak ditentukan oleh adanya perenungan-perenungan tentang segala macam ide dan revolusi itu sendiri yang berjalan lewat dialog tokoh-tokohnya di samping ketelitian pengarangnya untuk menggambarkan semua kejadian secara cermat. Plot cerita itu sendiri tidak terlalu kompleks. Novel ini tidak memiliki cerita yang panjang dan berbelit. Ia menceritakan kisah seorang mayor intelijen Republik Indonesia bernama Sadeli yang diberi tugas oleh atasannya Kolonel Suroso untuk menyelidiki penyelewengan yang dilakukan oleh agennya di Singapura, dan untuk menyusun kegiatan baru untuk penyelundupan perlengkapan peran RI.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Sadeli membawa gula dengan perahu layar ke Singapura. Pelayaran itu selamat. Sadeli memulai tugasnya dengan menyelidiki kebenaran desas-desus bahwa agen R.I. di Singapura, Umar Junus, banyak menyelewengkan uang negara yang dipercayakan padanya untuk membeli perlengkapan perang pada R.I. Ternyata Umar Junus memang menyeleweng dan hidup penuh kemewahan.

Sadeli sebagai atasannya memperingatkan agar uang negara itu dikembalikan. Namun Umar Junus menolak dan menyatakan keluar dari dinas intelijen R.I. Sementara itu Sadeli telah aktif pula mengadakan kontak-kontak rahasia dengan para “pedagang senjata” untuk membeli perlengkapan perang itu buat dikirim ke daerah R.I.

Begitu pula Sadeli telah berhasil menghubungi beberapa penerbang asing untuk diajak bekerja sama menyelundupkan obat-obatan dan persenjataan ke wilayah R.I. Pada waktu Sadeli berusaha menyelundupkan persenjataan itulah ia menculik Umar Junus untuk dibawa ke Indonesia dan diadili menurut hukum militer.

Tetapi penyelundupan atau usaha menembus blokade Belanda ini kepergok patrol, dan terjadi kontak senjata. Dalam kontak senjata inilah Umar Junus menyadari kembali kesalahannya dan beritikad mau mengembalikan hutang-hutangnya pada negara. Umar Junus diterima karena menunjukkan jasanya dalam mempertahankan persenjataan yang diselundupkan ke wilayah R.I. Ia diturunkan menjadi letnan satu. Kemudian cerita ini penuh dengan gambaran usaha mencari pesawat dan penerbang asing untuk diikutkan dalam operasi Sadeli untuk memasukkan alat-alat perlengkapan perang yang diperlukan R.I. Cerita berakhir bahagia, yakni Umar Junus hidup “lurus” dan berbahagia dengan isterinya yang molek Rita Lee, dan Sadeli sendiri hidup bahagia dengan isterinya yang cantik dari Macao. Hanya mungkin Ali Nurdin yang tidak bahagia. Kekasihnya tewas ditembak pesawat udara Belanda di Magelang.

Tema novel ini adalah “untuk apa bangsa Indonesia merebut kemerdekaan”, seperti diutarakan oleh pengaranganya dalam bab Pengantar. Mochtar Lubis berusaha memberikan jawabannya lewat novel ini. “Penyelewengan –penyelewengan yang dilakukan oleh resim Sukarno dan demikian banyak orang Indonesia di kala itu yang telah mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa kita, mendorong saya menulis buku ini, untuk tidak saja menjelaskan kembali pada diri saya sendiri untuk apa bangsa kita berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk menyatakan kembali pengabdian pada cita-cita kemerdekaan bangsa kita.”

Novel ini mencoba mengevaluasi lagi revolusi Indonesia. Dan jarak yang begitu jauh (lebih dari 20 tahun) telah memungkinkan melihat kejadian itu secara lebih jernih meskipun tidak obyektif. Dan Mochtar Lubis secara jitu telah memilih setting cerita itu di luar negeri. Seluruh cerita ini sebagian besar terjadi di Singapura, Hongkong, Bangkok, dan Macao. Tempat Mochtar Lubis berdiri pada dekade ini telah diproyeksikannya pada orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dalam memperjuangkan kemenangan revolusi Indonesia. Dengan demikian penilaian pengarang ini dalam posisi yang sama dengan para tokoh cerita yang berada dalam “jarak” dengan revolusi. Para tokoh seperti Sadeli dan Umar Junus serta Ali Nurdin, begitu pula tokoh seperti Dave Wayne dapat melihat revolusi yang pada waktu itu sedang berkecamuk “dari luar” dan dengan demikian diharapkan dapat menilai secara lebih jernih dan dingin. Para tokoh itu kerap kali terlibat dalam dialog yang menyoroti revolusi yang sedang berkecamuk di Indonesia. Juga dalam perjalanannya sebagai seorang mayor intel, Sadeli seringkali membandingkan keadaan setempat dengan revolusinya.

Tetapi nyata benar bahwa Mochtar Lubis memang berusaha menjawab hakekat revolusi dengan membandingkannya dengan kenyataan pada tahun 1960-an yang memang merupakan kelanjutan dari revolusi itu sendiri. Dengarkanlah beberapa kutipan ini:

“Di mana-mana, Eddy, jika pemimpin-pemimpin memperkaya diri sendiri, berdusta, memuaskan napsu perempuan dan kemewahan, menyia-nyiakan kepentingan rakyat, itu artinya mereka menanam benih kehancuran mereka sendiri”. Dan ini: “Betapa partai-partai di Indonesia akan berebutan kekuasaan. Betapa pemimpin yang berkuasa akan memamerkan kemewahan, tanpa memperdulikan kemiskinan orang-orang di sekitarnya. Politik adu domba akan mengamuk . . . . Rakyat akan diperas . . . . Orang-orang yang berani mengeritik mereka akan diteror, ditangkap dan disekap dalam penjara tanpa diadili. Tidak. Tak mungkin ada pemimpin Indonesia yang dapat jadi iblis dan bajingan serupa itu”.

Di samping itu dalam novel ini tematis. Pengarangnya mencoba menganalisa arti dan hakekat revolusi. Karakter yang ada di dalamnya nampak seperti symbol, meskipun Mochtar Lubis juga berhasil mengangkat mereka sebagai manusia nyata dan berpribadi sendiri. Sadeli mewakili golongan idealis yang mendewakan revolusi di atas segalanya. Pengarang rupanya cenderung menilai bahwa para pejuang revolusi pada waktu itu (permulaan 1947 sampai akhir 1948) adalah idealis-idealis tulen. Hal ini dinampakkan dalam diri Sadeli yang baru saja keluar dari kancah revolusi dan muncul di Singapura. Ia mempercayai segalanya dalam revolusi. Mempercayai tujuannya yang murni, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai kerelaan berkoban mereka dan sebagainya. Inilah sebabnya ia mengutuk keras Umar Junus yang menyleweng. Tetapi Sadeli, akhirnya menyadari realitas, ia butuh dunia ini, butuh perempuan, butuh cinta, butu kehidupan yang layak. Dan inilah sebabnya ia mengampuni Umar Junus. Dan Umar Junus sendiri adalah lambang dari para pemimpin yang korup. Ia adalah proyeksi dari “kehidupan mewah para pemimpin” sesudah revolusi. Umar Junus telah jauh meninggalkan revolusi. Telah terlalu lama hidup di Singapura.

Sedang Ali Nurdin adalah type idealis murni yang akhirnya menjadikan revolusi sebagai alat membalas dendam pribadi. Para penerbang seperti Dave Wayne dan Pierre de Koonig adalah tipe pejuang idealis murni. Mereka tidak memandang bangsa, tetapi manusia.

Sedang Maria, isteri Sadeli, adalah lambang kemerdekaan. Wanita yang cantik, berbakat dan baik hati ini adalah buah revolusi yang diidamkan seperti dikatakan pada akhir novel ini: “Dia cinta pada Maria seperti juga dia cinta pada kemerdekaan bangsanya.”

Bagaimana pun novel ini menarik. Ia enak dibaca meskipun terlalu banyak monolog panjang dan dialoh perdebatan. Segi yang menarik dari novel ini mungkin kecermatan  Mochtar Lubis dalam melukiskan setting ceritanya. Ia memiliki pengetahuan yang luas dan “menguasai medan” daerah yang diceritakannya : Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Macao, Mochtar Lubis mampu menghadirkan suasana daerah itu dalam novelnya. Kita bertubi-tubi dihadapkan pada beberapa watak yang amat beragam. Orang tak mudah melupakan gambaran tentang Dave Wayne, Sheila Scott, Tan Ciat Tong, Inspektur Hawkins dan sebagainya. Mereka ini berbicara dan bertindak sesuai dengan perwatakannya. Dan dengan demikian ia jelas menggariskan karakternya pada kita.

Meskipun mungkin dengan alasan melihat revolusi “dari luar secara obyektif” namun setting yang dipilih Mochtar Lubis buat menuturkan ceritanya dan dengan demikian juga menuangkan ide-idenya, bukanlah secara kebetulan di Singapura dan sekitarnya. Setting ini baru Mochtar Lubis yang mengerjakannya. Ia bercerita tentang peranan orang-orang yang berdiri di belakang kemelut revolusi di tanah air. Tentang orang-orang yang sering kita lupakan jasa mereka bagi revolusi kita. Tentang penembusan blokade Belanda baik di darat maupun di laut dan udara. Tentang revolusi di luar tanah airnya sendiri.

Mochtar Lubis membawa kita kepada mereka setelah sekian banyak cerita pendek dan novel Indonesia bercerita tentang revolusi dengan asap dan mesiu. Kini orang menilai kembali revolusi: hakekatnya, persoalannya, tujuannya semula, bahayanya. Novel ini ibarat retreat batin bagi kita semua. Juga bagi mereka yang pernah aktif menyumbangkan darma baktinya buat kemerdekaan, apakah mereka tetapi di jalan lurus kemerdekaan. Apakah mereka telah menjadi “Umar Junus”. (*)

*Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Puisi yang Mengolok Panduan Menulis Puisi

mm

Published

on

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban.

*) Ifan Afiansa

Membaca puisi-puisi Buku Latihan Tidur akan membawa pembacanya kepada ekspresi linguistik yang menyenangkan sekaligus menggemaskan. Atau setidaknya, kedua perasaan tersebut berkelindan hebat di benak saya, sebab puisi-puisi di dalamnya mengandung unsur olok-olok parodis yang dibalut dengan bait-bait lembut dan lucu, padahal olok-olok itu ditujukan kepada para fanatik beragama, bahasa Indonesia, dan kiat-kiat menulis puisi. Hal-hal tersebut mungkin terlampau jauh bagi siapa pun untuk menertawakannya.

Judul buku ini juga akan mengingatkan pada buku-buku panduan di rak sebuah toko buku. Buku-buku itu mungkin saja tidak membutuhkan nama besar penulis, sekiranya siapa pun bisa menulis buku panduan selama dia mempunyai keahlian tertentu. Begitu juga sebagai pembaca, mereka hanya memedulikan kegiatan praktis apa yang mereka butuhkan, tanpa memedulikan nama pengarangnya. Sebutlah Buku Latihan Microsoft Word (2013, Elex Media Komputindo), selama calon pembacanya membutuhkan panduan Microsoft Word, para pembaca akan senantiasa membelinya. Baik Buku Latihan Tidur maupun Buku Latihan Microsoft Word, keduanya mempunyai kesamaan pola, membuat saya berasumsi, “Apa iya, Joko Pinurbo tengah memparodikan buku panduan?”

Linda Hutcheon dalam bukunya A Theory of Parody pernah berkata bahwa parodi merupakan relasi struktural di antara dua teks. Relasi ini kerap ditujukan melalui bentuk penyimpangan bentuk teks (baru) terhadap teks lama. Kemudian memunculkan kembali pertanyaam, “(teks) buku mana yang memengaruhi (teks) buku lainnya?” Tentu untuk mengidentifikasi mana teks baru, dan mana teks lama bukanlah hal yang sulit, keduanya tampak terang-benderang. Jawabannya tentu Buku Latihan Tidur menggunakan sekaligus menyimpangi judul Buku Latihan Microsoft Word. Definisi parodi kembali ditegaskan Linda Hutcheon adalah sebagai bentuk imitas yang dicirikan oleh kecendrungan ikonik, selain itu parodi adalah pengulangan yang disertai ruang kritik yang berupaya mengungkap perbedaan, alih-alih persamaan. Kemudian sebuah pertanyaan kembali muncul, “Apa yang coba dibedakan dan dikritik oleh Buku Latihan Tidur atas Buku Latihan Microsoft Word?”

Jawabannya bisa jadi semudah menemukan gajah di kandang gajah, jika jawabannya objek yang menjadi “latihan” kedua buku, tentu bukan jawaban yang salah. Namun ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu Buku Latihan Microsoft Word akan memandu pembacanya agar bisa melakukan kerja praktik yang (akan) mengarah ke profit, ada sebuah kerja produktif yang ditawarkan buku panduan ini. “Bagaimana dengan Buku Latihan Tidur? Memandu untuk tidur?” Di sinilah yang dibedakan oleh Buku Latihan Tidur—sebagai karya sastra parodi, judul buku ini seakan memandmu tidur, padahal tidur merupakan kegiatan kontraproduktif. Terkadang saya kerap diomeli karena terlalu banyak tidur di rumah. Ironi sekali jika Buku Latihan Tidur diangkat sebagai judul buku sebab tidur merupakan kegiatan kontraproduktif, seolah-olah aktivitas tidur adalah aktivitas yang sama pentingnya dengan aktivitas produktif lainnya.

Apakah permainan parodi ini selesai di bagian judul saja?

Meskipun judul buku ini memparodikan buku panduan, tetapi hanya ada satu judul puisi yang turut memparodikan buku-buku panduan. Puisi itu berjudul “Langkah-langkah Menulis Puisi”, judul itu mungkin sedikit banyak mengingatkan pada pelbagai laman di internet yang mencoba memberikan tips menulis puisi, atau mungkin mengingatkan pada Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriyana. Pada dasarnya buku dan tulisan tersebut mencoba memberikan langkah-langkah menulis puisi secar runut dan sistamatis, mulai dari mencari ide, mengembangkan gagasan, serta mengolah gaya bahasa, dengan ragam contoh pengaplikasian.

Namun langkah-langkah yang sistematis itu diparodikan Joko Pinurbo dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi”. Konsep-konsep yang dijabarkan Hasta Indriyana diparodikan dalam puisi tersebut hanya dengan satu langkah, yaitu duduk. Dalam tujuh langkah menulis puisi, ada enam langkah yang dimulai dangan duduk, yang kemudian dilanjutkan oleh sederet frasa-frasa tambahan, seperti dengan tenang, yang kelak akan jadi batu nisanmu dan sambil membaca Pramoedya: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya. Dan diakhiri langkah ketujuh yang tidak menyertakan aktivitas apapun, melainkan hanya mantra sulap.

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban. Secara keseluruhan, puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” berupaya memparodikan sekaligus mengkritik buku/tulisan panduan menulis kreatif yang jauh dari kegiatan praktis iru sendiri. Perihal mencari ide, mengembangkan gagasan, menentukan tema, pemilihan diksi dan gaya bahasa, serta sederet langkah lainnya, bukanlah hal yang penting dalam menulis puisi. Duduk dan membaca merupakan kunci penting dalam puisi ini, selebihnya perenungan ke dalam diri,d dan diakhiri dengan menunggu keajaiban.

Lantas, keajaiban apa yang dimaksud dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi?”

Ada perbedaan mendasar menjadi penyair dan menjadi pembaca. Perihal menulis puisi, bisa jadi bagi Joko Pinurbo puisi-puisi yang dia tulis biasa saja. Begitu pembacanya mulai memberikan hal-hal yang mereka sukai dari puisi-puisi Joko Pinurbo. Kalimat sebelum inilah keajaiban yang dimaksud. Tidak ada yang dinamakan langkah-langkah menulis puisi, jika estetika sebuah puisi ditentukan oleh pembacanya. Bagaimana sebuah puisi dapat memengaruhi pembacanya, adalah keaiaiban yang perlu ditunggu, sebab bagus tidaknya sebuah puisi itu hanya dalam sudut pandang pembacanya. (*)

*) Ifan Afiansa

Department Indonesia Literature
Faculty of Cultural Science, Universitas Gadjah Mada
Continue Reading

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Meneroka Cinta yang Dikomodifikasi

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari

Tanpa dicari kekasihnya.

Apabila kilat cinta menyambar hati yang ini

Ketahuilah bahwa cinta telah menyambar hati yang lain”—Rumi

Hidup adalah cinta itu sendiri. Tak heran kemudian banyak produk kebudayaan, seperti: musik, film, atau sastra membicarakan cinta. Eric Fromm menyadari karena hidup adalah cinta maka cinta mengikuti corak perkembangan hidup itu sendiri. Melalui pisau analisis psikoanalisis-marxis, Eric Fromm menghadirkan cinta yang abstrak “melangit” tak berbentuk menjadi “membumi” mudah dipahami sebagai seni.

Implikasi dari cinta sebagai seni adalah bisa dipelajari dan kemudian diperaktikan. Buku ini bukan buku seperti halnya buku panduan memasak, memperbaiki komputer atau memelihara hewan peliharaan. Cinta sebagai sesuatu yang hidup dan terus bergerak diperlukan pengahayatan yang jernih untuk memahaminya. (more…)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending