Connect with us

Buku

Mochtar Lubis, Antara Maut, Cinta dan Harimau

mm

Published

on

Pengarang ini dilahirkan di Padang tanggal 7 Maret 1922. Pendidikan HIS; Sekolah Ekonomi Kayutanam, Sumatera Barat; kemudian mendapat Jefferson Fellowship pertama di East and West Centre, University of Hawaii. Sejak tahun 1945 bekerja sebagai wartawan di kantor berita “Antara”, Jakarta. Pada tanggal 29 Desember 1949 bersama kawan-kawannya mendirikan surat kabar Indonesia Raya, kemudian mendirikan harian berbahasa Inggris pertama di Indonesia, yakni Times of Indonesia. Kini menjabat sebagai anggota Akademi Jakarta, Ketua Yayasan Indonesia, penanggung jawab majalah sastra Horison, anggota pengurus Yayasan Pembina Pers Indonesia, presiden Press Foundation of Asia, anggota panitia Unesco untuk masalah-masalah komunikasi, anggota dewan pimpinan International Press Institute. Beberapa kali Mochtar Lubis mendapat penghargaan atas prestasinya.

Jelas bahwa Mochtar Lubis sebenarnya orang yang sibuk dengan jabatannya yang banyak. Ia dikenal sebagai wartawan dan sastrawan di dunia internasional. Meskipun kesibukannya luar biasa ia masih sempat juga menulis beberapa novel tebal dalam decade 1970-an ini. Mochtar Lubis adalah salah satu dari pengarang kita yang bertahan menulis terus sejak tahun 1950-an.

Sebagai sastrawan ia bisa dikelompokkan ke dalam Angkatan 45, karena tema dan gaya pengungkapannya yang berbeda dengan kelompok Angkatan majalah Kisah dan Sastra. Ia telah menulis fiksi sejak penghujung decade 1940-an. Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam dua buku, yaitu Si Djamal (1950) dan Perempuan (1956). Novelnya Tak Ada Esok terbit tahun 1950 dan disusul oleh novelnya yang terkenal Jalan Tak Ada Ujung tahun 1952. Tahun 1963 ia menerbitkan novelnya yang lain Senja di Jakarta yang antara lain mendapat pujian dari Anthony Burgess, karena mula-mula novelnya itu terbit dalam bahasa Inggris. Novelnya yang terbit dalam dekade itu juga adalah Tanah Gersang.

Di samping menulis cerpen dan novel Mochtar juga menulis buku-buku pengetahuan dasar mengenai tehnik mengarang fiksi dan kewartawanan. Ia juga menterjemahkan beberapa cerita pendek yang dikumpulkannya dalam beberapa buku, antara lain Tiga Cerita Negeri Dollar (1950), Kisah-Kisah dari Eropa (1952), Cerita-Cerita Tiongkok (1953) dan banyak lagi yang lain.

Ciri kepengarangan Mochtar Lubis yang menonjol adalah perhatiannya yang besar dalam masalah-masalah sosial dan politik bangsanya. Cerpen-cerpennya dalam Djamal sejak tahun 1950 sudah menunjukkan kritik-kritik sosial dan politik demikian. Juga dalam novel tentang revolusi, Tak Ada Esok, ia sempat mengkritik Bung Karno misalnya. Dan ini berlanjut terus dengan Senja di Jakarta (tentang kehidupan orang-orang partai tahun 1960-an). Tanah Gersang, dan Harimau! Harimau! serta Maut Dan Cinta. Barangkali pengaruh kerja kewartawanannyalah yang membuat novel-novel dan cerpennya berisi kritik sosial politik. Mochtar juga pernah menulis sebuah drama yang kurang berhasil, Tumenggung Wiraguna, yang berisi kritik terhadap kepemimpinan Indonesia.

Obsesi Mochtar terutama dalam karakter kepemimpinan Indonesia. Pemimpin-pemimpin Indonesia yang kuat karakternya, disiplin diri, penuh pengorbanan dan dedikasi, bersih, jujur, itulah yang diharapkannya. Kenyataannya tidak demikian. Banyak pemimpin rakyat yang dilihatnya otoriter dan selalu menyalahgunakan kekuasaan buat kepentingannya sendiri. Penglihatannya ini bisa ditelusur mulai dari novel-novelnya tahun 1950 sampai tahun 1970-an ini.

Nampaknya kritik-kritik Mochtar Lubis dalam novel-novelnya itu cukup keras dan langsung, hanya dalam novel Harimau! Harimau! kritik pimpinan yang otoriter dan korup itu agak terselubung dalam symbol pencari dammar di rimba. Kritik-kritiknya yang nampak telanjang itu didasari oleh pengetahuannya yang luas dalam praktek politik di Indonesia, karena ia pemimpin redaksi sebuah surat kabar yang amat terkenal ekslusif di Indonesia. Karena lewat pers sudah tak mungkin berkutik, karena dilarang terbit baik dalam Orde Lama maupun Orde Baru, maka kegelisahan sosial politiknya dia tuangkan dalam bentuk fiksi.

Amat menarik untuk meneliti karya-karya satra Mochtar Lubis dari segi hubungan sastra dan politik di Indonesia. Salah satu karyanya, Jalan Tak Ada Ujung, pernah dibahas oleh kritikus M.S.Hutagalung, tetapi lebih banyak meninjau dari segi estetiknya, dan pula novelnya ini memang salah satu yang tidak banyak mengandung kritik politik.

Vitalitas kerja Mochtar Lubis dalam bidang kebudayaan hanya bisa ditandingi oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Jarang kesusasteraan Indonesia menyaksikan sastrawan yang terus menulis lebih dari masa 15 tahun. Tetapi dua tokoh ini, dan beberapa yang lain lagi, mampu berkarya terus melewati begitu banyak generasi.

Sebagai sastrawan penting di Indonesia setiap karyanya yang baru selalu mendapat perhatian yang luas. Begitu pula novel-novelnya yang mutakhir. Harimau! Harimau! dan Maut dan Cinta, memperoleh banyak tanggapan kritikus yang hampir semuanya memuji. Bahkan Harimau! Harimau! mendapat hadiah dari P dan K sebagi bacaan remaja terbaik.

Dalam buku ini dibicarakan kedua bukunya tersebut.

Harimau! Harimau!

Novel ini mengambil setting di daerah hutan rimba Sumatra. Daerah cerita yang rupanya amat dikenal baik oleh pengarangnya. Dalam bagian pertama novel ini secara panjang lebar Mochtar Lubis melukiskan suasan dan topografi hutan rimba Sumatra secara meyakinkan. Kemudian dimulailah kisahnya dengan memunculkan tujuh orang pendamar yang memulai perjalanan pulang mereka dari hutan ke kampung halaman. Tujuh pendamar tersebut dipimpin oleh seorang yang bernama Wak Katok, orang yang tertua di antara mereka. Yang lain terdiri anak muda dan orang sebayanya. Terror perjalanan dimulai ketika seekor harimau tua yang sangat besar menguntit mereka dan bertubi-tubi menerkam salah satu dari rombongan yang dicengkam ketakutan ini. Teror dan kepanikan ini menimbulkan berbagai konflik sosiologis, psikis dan moral. Ia melontarkan masalah dosa dan hukumanya kepada para tokohnya. Harimau itu menerkam mereka yang menanggung banyak dosa. Akhirnya harimau itu sendiri berhasil dibunuh. Namun muncul kenyataan baru bahwa masih ada “harimau” lain yang lebih berbahaya, yakni pemimpin mereka sendiri, Wak Katok. Pemimpin yang tiran, sakti dan besar ini ternyata hanyalah seorang pengecut dan palsu.

Memang Mochtar Lubis menekankan makna simbolik dalam novelnya ini. Ia menceritakan kebuasan seekor harimau yang sesungguhnya dan yang simbolik. Teror harimau besar yang kelaparan dan selalu memangsa para pendamar satu-satu tadi, hanyalah gambaran untuk menunjukkan kebuasan yang sama dalam diri seorang pemimpin bangsa. Harimau yang sesungguhnya ialah Wak Katok. Dan dengan cara ini jelas sekali bahwa Mochtar Lubis bermaksud melukiskan kondisi sosial-politik Indonesia. Dalam hal ini nampak sekali sasaran kritiknya adalah para pemimpin Indonesia yang kelihatan gagah, sewenang-wenang, namun kenyataanya pengecut dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Wak Katok dan Pak Haji adalah type tokoh yang mudah sekali dikenali dalam masyarakat Indonesia. Wak Katok adalah pemimpin yang bermantera palsu (pidato-pidato), berjimat palsu, munafik, lalim dan menindas. Sedang Pak Haji adalah type pemimpin yang intelektual tetapi takut membela kebenaran. Type pemimpin intelektual ini biasanya tak berani bersuara menentang kezaliman, mengasingkan diri dari masalah bangsanya, dan lebih baik memikirkan keselamatan dirinya.

Sedangkan tokoh Buyung, tokoh yang muda usia, rupanya dipasang sebagai simbolik kaum muda Indonesia. Buyung adalah tokoh yang masih murni, bersemangat dan penuh idealism. Dan rupanya pengarang ada do fihak kaum muda ini. Dengan demikian jelas terlihat bahwa Mochtar secara sengaja mengambil setting rimba untuk memaparkan dan sekaligus mengecam tingkah laku pemimpin Indonesia. Dengarkan kutipan dari halaman 214 ini: “Seiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa orang lain . . . . besar kecilnya kezaliman, atau ada dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana pun juga di dunia harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya”. Kata-kata yang sebenarnya merupakan ungkapan tema pokok novel ini menunjukkan maksud sebenarnya novel ini. Dan tudingan factual yang melahirkan novel ini saya kira corak kepemimpinan Orde Lama di bawah pimpinan presiden Sukarno. Dalam beberapa hal sifat Wak Katok menyerupai presiden itu: bermantera, berjimat, kharismatis. Sedangkan kelaliman dan penindasannya tentu saja sempat dirasakan oleh musuh-musuh politiknya, misalnya menahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan.

Sebagai cerita remaja (buku ini pernah terpilih sebagai Buku Remaja terbaik oleh Kementerian P dan K) tentu saja kisah tegang pengintaian harimau terhadap rombongan pendamar itu cukup menarik. Mochtar Lubis, sebagai pengarang berpengalaman, mampu menghidupkan ceritanya, membangunkan suasana misteri hutan dan raja rimba yang dahsyat itu. Dan bagi politik mudah diperoleh. Namun makna ganda dari novel ini masih kurang tergarap secara wajar. Pengarang terlalu kentara memasukkan “Pesan-pesan kota” rasa sekali dalam dialog para tokohnya. Tokoh Pak Balam, dalam sakit dan menjelang kematiannya dalam hutan, berkata dengan kalimat-kalimat panjang dan penuh pesan yang kadang-kadang sempat menciptakan “Kata-kata mutiara”. Dari dialog semacam inilah pembaca lalu diarahkan pada cerita bertendens politik, jelasnya kritik pimpinan di Indonesia. Lantas tiba-tiba suasana tegang dan misteri kehidupan hutan ditinggalkan. Dan kita dibawa ke arah kehidupan kota dengan tata nilai sosialnya.

Tema sentralnya novel ini lantas nampak tersisih dan buku asyik dengan tema sampingan tentang kepemimpinan. Pada saya integrasi antara tema, penokohan dan setting cerita kurang menyatu. Tema nyelonong keluar dari setingginya. Dengan suasana tegang penuh ancaman bahaya dari sudut mana pun dalam rimba, diramu dengan ilmu sihir, tahayul dan terkaman harimau jadi-jadian pembaca mengharapkan untuk disuguhi kehidupan masyarakat rimba Sumatra yang masih terbelenggu tahayul. Misteri hutan rimba, tahayul dan kegaiban-kegaiban tidak muncul secara murni dalam novel ini. Nampak adanya tendensi yang dipaksanakan pengarangnya dalam novel ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh kehidupan pengarangnya yang memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan politik bangsanya. Kemurnian, keprimitifan, kedahsyatan hidup rimba, misteri alam yang perawan tidak muncul secara penuh dalam dirinya. Meskipun dengan penggambaran itu sebenarnya pembaca bisa mengambil makna simbolik yang dimaui oleh pengarangnya.

Bagaimana pun ini novel Mochtar Lubis yang tergolong bagus dari novel-novel terbit pada pemulaan dasawarsa 1970-an. Memang sulit untuk dianggap bagus dari karya-karya Mochtar sebelumnya, misalnya kalau dibandingkan dengan Jalan Tak Ada Ujung. Struktur novel ini juga agak kurang utuh. Adegan perzinahan Buyung atas Siti Rubiyah yang diduga akan merupakan antiklimaks ini akhir kisah ternyata hanya jebakan saja. Buyung memang berdosa dan dengan demikian juga dalam ancaman bahaya disergap harimau. juga pelukisan hutan rimba Sumatra yang agak kepanjangan dalam permulaan novel. Sebenarnya bisa disebarkan dalam bagian-bagian lain sehingga nampak terlalu deskriptif.

Maut Dan Cinta

Novel ini merupakan karyanya yang paling tebal, yakni meliputi 306 halaman. Tebalnya novel ini lebih banyak ditentukan oleh adanya perenungan-perenungan tentang segala macam ide dan revolusi itu sendiri yang berjalan lewat dialog tokoh-tokohnya di samping ketelitian pengarangnya untuk menggambarkan semua kejadian secara cermat. Plot cerita itu sendiri tidak terlalu kompleks. Novel ini tidak memiliki cerita yang panjang dan berbelit. Ia menceritakan kisah seorang mayor intelijen Republik Indonesia bernama Sadeli yang diberi tugas oleh atasannya Kolonel Suroso untuk menyelidiki penyelewengan yang dilakukan oleh agennya di Singapura, dan untuk menyusun kegiatan baru untuk penyelundupan perlengkapan peran RI.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Sadeli membawa gula dengan perahu layar ke Singapura. Pelayaran itu selamat. Sadeli memulai tugasnya dengan menyelidiki kebenaran desas-desus bahwa agen R.I. di Singapura, Umar Junus, banyak menyelewengkan uang negara yang dipercayakan padanya untuk membeli perlengkapan perang pada R.I. Ternyata Umar Junus memang menyeleweng dan hidup penuh kemewahan.

Sadeli sebagai atasannya memperingatkan agar uang negara itu dikembalikan. Namun Umar Junus menolak dan menyatakan keluar dari dinas intelijen R.I. Sementara itu Sadeli telah aktif pula mengadakan kontak-kontak rahasia dengan para “pedagang senjata” untuk membeli perlengkapan perang itu buat dikirim ke daerah R.I.

Begitu pula Sadeli telah berhasil menghubungi beberapa penerbang asing untuk diajak bekerja sama menyelundupkan obat-obatan dan persenjataan ke wilayah R.I. Pada waktu Sadeli berusaha menyelundupkan persenjataan itulah ia menculik Umar Junus untuk dibawa ke Indonesia dan diadili menurut hukum militer.

Tetapi penyelundupan atau usaha menembus blokade Belanda ini kepergok patrol, dan terjadi kontak senjata. Dalam kontak senjata inilah Umar Junus menyadari kembali kesalahannya dan beritikad mau mengembalikan hutang-hutangnya pada negara. Umar Junus diterima karena menunjukkan jasanya dalam mempertahankan persenjataan yang diselundupkan ke wilayah R.I. Ia diturunkan menjadi letnan satu. Kemudian cerita ini penuh dengan gambaran usaha mencari pesawat dan penerbang asing untuk diikutkan dalam operasi Sadeli untuk memasukkan alat-alat perlengkapan perang yang diperlukan R.I. Cerita berakhir bahagia, yakni Umar Junus hidup “lurus” dan berbahagia dengan isterinya yang molek Rita Lee, dan Sadeli sendiri hidup bahagia dengan isterinya yang cantik dari Macao. Hanya mungkin Ali Nurdin yang tidak bahagia. Kekasihnya tewas ditembak pesawat udara Belanda di Magelang.

Tema novel ini adalah “untuk apa bangsa Indonesia merebut kemerdekaan”, seperti diutarakan oleh pengaranganya dalam bab Pengantar. Mochtar Lubis berusaha memberikan jawabannya lewat novel ini. “Penyelewengan –penyelewengan yang dilakukan oleh resim Sukarno dan demikian banyak orang Indonesia di kala itu yang telah mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa kita, mendorong saya menulis buku ini, untuk tidak saja menjelaskan kembali pada diri saya sendiri untuk apa bangsa kita berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk menyatakan kembali pengabdian pada cita-cita kemerdekaan bangsa kita.”

Novel ini mencoba mengevaluasi lagi revolusi Indonesia. Dan jarak yang begitu jauh (lebih dari 20 tahun) telah memungkinkan melihat kejadian itu secara lebih jernih meskipun tidak obyektif. Dan Mochtar Lubis secara jitu telah memilih setting cerita itu di luar negeri. Seluruh cerita ini sebagian besar terjadi di Singapura, Hongkong, Bangkok, dan Macao. Tempat Mochtar Lubis berdiri pada dekade ini telah diproyeksikannya pada orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dalam memperjuangkan kemenangan revolusi Indonesia. Dengan demikian penilaian pengarang ini dalam posisi yang sama dengan para tokoh cerita yang berada dalam “jarak” dengan revolusi. Para tokoh seperti Sadeli dan Umar Junus serta Ali Nurdin, begitu pula tokoh seperti Dave Wayne dapat melihat revolusi yang pada waktu itu sedang berkecamuk “dari luar” dan dengan demikian diharapkan dapat menilai secara lebih jernih dan dingin. Para tokoh itu kerap kali terlibat dalam dialog yang menyoroti revolusi yang sedang berkecamuk di Indonesia. Juga dalam perjalanannya sebagai seorang mayor intel, Sadeli seringkali membandingkan keadaan setempat dengan revolusinya.

Tetapi nyata benar bahwa Mochtar Lubis memang berusaha menjawab hakekat revolusi dengan membandingkannya dengan kenyataan pada tahun 1960-an yang memang merupakan kelanjutan dari revolusi itu sendiri. Dengarkanlah beberapa kutipan ini:

“Di mana-mana, Eddy, jika pemimpin-pemimpin memperkaya diri sendiri, berdusta, memuaskan napsu perempuan dan kemewahan, menyia-nyiakan kepentingan rakyat, itu artinya mereka menanam benih kehancuran mereka sendiri”. Dan ini: “Betapa partai-partai di Indonesia akan berebutan kekuasaan. Betapa pemimpin yang berkuasa akan memamerkan kemewahan, tanpa memperdulikan kemiskinan orang-orang di sekitarnya. Politik adu domba akan mengamuk . . . . Rakyat akan diperas . . . . Orang-orang yang berani mengeritik mereka akan diteror, ditangkap dan disekap dalam penjara tanpa diadili. Tidak. Tak mungkin ada pemimpin Indonesia yang dapat jadi iblis dan bajingan serupa itu”.

Di samping itu dalam novel ini tematis. Pengarangnya mencoba menganalisa arti dan hakekat revolusi. Karakter yang ada di dalamnya nampak seperti symbol, meskipun Mochtar Lubis juga berhasil mengangkat mereka sebagai manusia nyata dan berpribadi sendiri. Sadeli mewakili golongan idealis yang mendewakan revolusi di atas segalanya. Pengarang rupanya cenderung menilai bahwa para pejuang revolusi pada waktu itu (permulaan 1947 sampai akhir 1948) adalah idealis-idealis tulen. Hal ini dinampakkan dalam diri Sadeli yang baru saja keluar dari kancah revolusi dan muncul di Singapura. Ia mempercayai segalanya dalam revolusi. Mempercayai tujuannya yang murni, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai kerelaan berkoban mereka dan sebagainya. Inilah sebabnya ia mengutuk keras Umar Junus yang menyleweng. Tetapi Sadeli, akhirnya menyadari realitas, ia butuh dunia ini, butuh perempuan, butuh cinta, butu kehidupan yang layak. Dan inilah sebabnya ia mengampuni Umar Junus. Dan Umar Junus sendiri adalah lambang dari para pemimpin yang korup. Ia adalah proyeksi dari “kehidupan mewah para pemimpin” sesudah revolusi. Umar Junus telah jauh meninggalkan revolusi. Telah terlalu lama hidup di Singapura.

Sedang Ali Nurdin adalah type idealis murni yang akhirnya menjadikan revolusi sebagai alat membalas dendam pribadi. Para penerbang seperti Dave Wayne dan Pierre de Koonig adalah tipe pejuang idealis murni. Mereka tidak memandang bangsa, tetapi manusia.

Sedang Maria, isteri Sadeli, adalah lambang kemerdekaan. Wanita yang cantik, berbakat dan baik hati ini adalah buah revolusi yang diidamkan seperti dikatakan pada akhir novel ini: “Dia cinta pada Maria seperti juga dia cinta pada kemerdekaan bangsanya.”

Bagaimana pun novel ini menarik. Ia enak dibaca meskipun terlalu banyak monolog panjang dan dialoh perdebatan. Segi yang menarik dari novel ini mungkin kecermatan  Mochtar Lubis dalam melukiskan setting ceritanya. Ia memiliki pengetahuan yang luas dan “menguasai medan” daerah yang diceritakannya : Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Macao, Mochtar Lubis mampu menghadirkan suasana daerah itu dalam novelnya. Kita bertubi-tubi dihadapkan pada beberapa watak yang amat beragam. Orang tak mudah melupakan gambaran tentang Dave Wayne, Sheila Scott, Tan Ciat Tong, Inspektur Hawkins dan sebagainya. Mereka ini berbicara dan bertindak sesuai dengan perwatakannya. Dan dengan demikian ia jelas menggariskan karakternya pada kita.

Meskipun mungkin dengan alasan melihat revolusi “dari luar secara obyektif” namun setting yang dipilih Mochtar Lubis buat menuturkan ceritanya dan dengan demikian juga menuangkan ide-idenya, bukanlah secara kebetulan di Singapura dan sekitarnya. Setting ini baru Mochtar Lubis yang mengerjakannya. Ia bercerita tentang peranan orang-orang yang berdiri di belakang kemelut revolusi di tanah air. Tentang orang-orang yang sering kita lupakan jasa mereka bagi revolusi kita. Tentang penembusan blokade Belanda baik di darat maupun di laut dan udara. Tentang revolusi di luar tanah airnya sendiri.

Mochtar Lubis membawa kita kepada mereka setelah sekian banyak cerita pendek dan novel Indonesia bercerita tentang revolusi dengan asap dan mesiu. Kini orang menilai kembali revolusi: hakekatnya, persoalannya, tujuannya semula, bahayanya. Novel ini ibarat retreat batin bagi kita semua. Juga bagi mereka yang pernah aktif menyumbangkan darma baktinya buat kemerdekaan, apakah mereka tetapi di jalan lurus kemerdekaan. Apakah mereka telah menjadi “Umar Junus”. (*)

*Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading

Buku

Manusia dalam Belenggu Kecanggihan Teknologi

Published

on

Pihak yang juga mengambil keuntungan dari teknologi ini adalah pemilik modal atau pengusaha. Sebab, kapitalisme saat ini tidak lagi berbasis alat produksi berat seperti mesin-mesin di pabrik. Kapitalisme saat ini adalah berbasis data. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dengan data yang terkumpul, pengusaha akan tahu apa keinginan konsumen, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh masyarakat, dan terus mengulangi fase itu. Bagaimana perkembangan teknologi informasi seperti halnya Facebook mengeksploitasi manusia? Apa manfaat dan nilai falsafi yang bisa dipetik manusia abad ini darinya?

______

Virdika Rizky Utama *)

Dalam sejarah, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Perubahan hadir dari interaksi atau konflik yang terjadi antarmanusia. Oleh sebab itu, manusia merupakan pelaku utama dalam terciptanya sejarah dan perubahan. Termasuk perubahan yang sedang terjadi di abad ke-21 atau sering dianggap sebagai abad teknologi.

Ketika teknologi menjadi sangat dominan di abad ke-21, apakah manusia masih dapat dikatakan sebagai aktor pembuat pembuat sejarah dan peradaban? Apa masalah saat manusia dalam menghadapi perubahan dan bagaimana menyikapi perubahan? Lantas, siapa yang diuntungkan dari kemajuan teknologi ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang menjadi tesis utama buku terbaru Harari ini. Tak seperti buku sebelumnya Sapiens (2011) yang membahas sejarah umat manusia dan Homo Deus (2015) yang membahas masa depan umat manusia, 21 Lessons for the 21st Century membahas situasi terkini yang dihadapi oleh manusia.

Kendati, banyak kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Harari menyatakan dunia sebenarnya sedang terjadi krisis, masalahnya tak banyak manusia yang menyadari krisis itu. Dari sekian banyak krisis yang disoroti oleh Harari, krisis interaksi antarmanusia layak menjadi perhatian utama. Hal itu tentu sangat mengherankan. Musababnya, interaksi dan kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan dasar yang membuat manusia bisa bertahan hidup dibandingkan dengan simpanse, bonobo, dan makhluk semacamnya.

Celakanya, awal dari krisis itu berawal dari sebuah penemuan besar manusia dalam bidang bioteknologi dan informasi teknologi yang menyatu dalam sebuah kecerdasan buatan. Menurut Nick Bostrom (2016), awal pembentukan kecerdasan buatan adalah untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi alat untuk memecahkan permasalahan yang ada. Hal yang harus diperhatikan juga, kata Nick, teknologi-teknologi itu saling berinteraksi, terhubung, dan terus menyempurnakan sehingga menjadikannya sangat kuat dan hampir tak pernah melakukan kesalahan.

Namun, seiring jalannya waktu, justru manusia yang terkontrol oleh kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan yang semestinya menjadi alat untuk memecahkan masalah, berubah menjadi tujuan. Mungkin kita sering dengar pernyataan “Apapun kebutuhan kita, tanyakan saja pada Mbah Google.” Hal ini menunjukkan, manusia sudah kehilangan otoritas dirinya dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Contoh sederhananya adalah Google Maps. Saat ini, manusia lebih percaya dengan Google Maps dibandingkan kemampuan manusia untuk mencari tahu sendiri jalan. Sekali kita melakukan aplikasi tersebut, sistem kecerdasan buatan di dalamnya—yang disebut algoritma— akan menyerap informasi tempat mana saja yang sering kita tuju. Tak butuh waktu sampai satu bulan, Google Maps dengan sendirinya akan memunculkan pilihan-pilihan tempat yang akan kita tuju. Sekali saja teknologi itu mengalami gangguan dan tak bisa digunakan, maka selesai sudah kemampuan manusia untuk mencari jalan.

Disadari atau tidak, contoh tersebut mengindikasikan bahwa manusia sedang dan terus dikontrol oleh teknologi yang terus berjejaring dan terakumulasi dalam Big Data (hlm.49). Akibatnya, teknologi jauh lebih mengetahui siapa diri kita dibandingkan diri sendiri. Sayangnya, Big Data sering dimanfaatkan oleh pemerintah dan pengusaha untuk mengetahui serta mengontrol kegiatan dan keinginan masyarakat atau warga negara. Bukan untuk mencipatakan kesejahteraan dengan menyerapkan keinginan masyarakat, melainkan untuk menjinakkan dan menjadikan masyarakat hanya sebagai konsumen.

Judul Buku : 21 Lessons for the 21st Century Penulis : Yuval Noah Harari Penerbit : Spiegel & Grau Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2018 Tebal : xix+372 halaman

Jadi, sebenarnya warga negara tak memiliki kehendak bebas atau kebebasan meskipun hidup di negara demokratis. Sebab, pemerintah akan selalu mengawasi setiap gerak warganya. Pemerintah juga akan mengetahui dan menjinakkan keinginan warga yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Bahkan, tak jarang, data-data tersebut akan dimanfaatkan oleh politisi untuk memetakan dukungan dan memenangkan kontestasi politik. Alhasil, kehendak bebas yang dimiliki manusia dan menjadi dasar demokrasi hanya tinggal mitos belaka.

Selain itu, pihak yang juga mengambil keuntungan dari teknologi ini adalah pemilik modal atau pengusaha. Sebab, kapitalisme saat ini tidak lagi berbasis alat produksi berat seperti mesin-mesin di pabrik. Kapitalisme saat ini adalah berbasis data. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dengan data yang terkumpul, pengusaha akan tahu apa keinginan konsumen, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh masyarakat, dan terus mengulangi fase itu.

Oleh sebab itu, kita sangat asyik dengan tawaran-tawaran yang hadir dihadapan layar gawai kita dibandingkan dengan berkomunikasi dengan manusia lainnya. Hasilnya, teknologi telah berhasil membentuk kehidupan manusia baik secara individu maupun secara masyarakat umum, bukan sebaliknya seperti tujuan utama dibuatnya teknologi.

Tentu hal tersebut cukup mengkhawatirkan, sebab manusia kini tak lagi dapat menyadari apa yang sedang dihadapinya di dunia nyata yang membutuhkan kerja sama. Bukan hanya kerja sama antarmanusia, melainkan juga antarnegara seperti pemanasan global, perang, dan pengungsi. Oleh sebab itu, Harari menegaskan bahwa nasionalisme atau paham apapun yang mengatasnamakan kepentingan nasional tak lagi berguna untuk menyelesaikan masalah dunia di abad ke-21 (hlm.111).

Akhir-akhir ini, kemampuan dan kualitas interaksi antarmanusia coba ingin dikuatkan kembali oleh Mark Zuckerberg, pemilik facebook. Ia menyadari kemampuan berinteraksi manusia dalam kurun waktu satu dekade terakhir berkurang cukup drastis. Oleh sebab itu, ia berencana untuk membentuk komunitas global. Tujuannya adalah kembali menguatkan interaksi antarmanusia untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi manusia (hlm 85-86).

Keinginan Mark, sebenarnya mirip dengan yang diungkapkan oleh Noam Chomksy dalam Optimism Over Despair (2017) yang menyatakan untuk menghadapi permasalahan dunia yang mengglobal dibutuhkan berdirinya komunitas warga yang saling terkoneksi untuk memperbaiki keadaan. Chomsky menilai, komunitas jauh lebih efektif dan kontekstual dengan kondisi saat ini jika dibandingkan dengan mendirikan partai politik untuk melakukan revolusi seperti di abad ke-20.

Sayangnya, facebook merupakan sebuah perusahaan global, bukan sebuah lembaga nonprofit. Kita tak kan bisa membangun komunitas global, jika masih memiliki sifat untuk mencari keuntungan. Terlebih facebook merupakan perusahaan yang memiliki banyak data manusia dan memungkinkan menjual data tersebut ke perusahaan iklan (hal.87).

Tak hanya itu, Mark juga mesti memikirkan, manusia memiliki tubuh untuk mendengar dan merasakan. Kedua hal itu merupakan yang dibutuhkan dan juga kekuatan yang dimiliki oleh manusia. Harari mennyitat sebuah studi bahwa dalam beberapa dekade terakhir, dua kemampuan itu menurun akibat manusia lebih mementingkan apa yang terjadi di dunia maya, dibandingkan apa yang terjadi di jalan raya (hlm.89).

Terlepas dari hal itu, secara keseluruhan Harari tak juga punya sikap atau metode yang jelas untuk menghadapi krisis dan perubahan yang terjadi saat ini. Harari terkesan naif dengan menyatakan bahwa kita mesti banyak berkontemplasi untuk menemukan dan memahami pemikiran kita sendiri, sebelum teknologi membentuk pemikiran kita. Ketika manusia coba memahami dirinya sendiri, manusia akan dapat membentuk jalan pikirannya sendiri (hlm.323).

Selain itu, cara lain yang ditawarkan Harari adalah menyiapkan mental, kemampuan adaptasi, dan mempelajari hal  baru untuk menghadapi perubahan abad ke-21 (hlm. 266). Patut dicatat, cara-cara itu bukan cara baru untuk menghadapi perubahan. Cara-cara tersebut sudah dipraktikkan oleh keluarga Medici pada saat renaissance abad ke-14. Padahal, Harari berpendapat bahwa perubahan yang akan terjadi nanti lebih cepat dan berbeda dibandingkan perubahan yang sudah terjadi sebelumnya seperti aufklarung, renaissance, dan revolusi industri.

Lima puluh persen isi buku yang terdiri dari 21 bab dan terbagi menjadi 5 bagian ini  merupakan penggabungan buku Sapiens dan Homo Deus. Oleh sebab itu, jika kita sudah membaca dua buku tersebut, buku terbaru Harari ini terkesan banyak pengulangan contoh dan narasi. Kendati demikian, argumentasi, data, dan analisis yang diungkapkan Harari tetap menarik.

Manusia sepertinya perlu menempatkan kembali teknologi sebagai alat, apabila kita tak ingin terus-menerus terdomestifikasi oleh teknologi dan perubahan dibentuk oleh teknologi. Selain itu, berjejaring dan berkomunitas di dunia nyata menjadi hal penting dalam menghadapi perubahan. Dengan cara itu pula, kita setidaknya dapat berharap kembali memiliki kehendak bebas sebagai manusia, bukan hanya memilih apa yang sudah disediakan oleh teknologi yang sudah dikuasai pemerintah dan pengusaha. (*)

*) Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Forum Demokrasi dan Perannya Dalam Transisi Menuju Reformasi Sistem Politik di Indonesia

mm

Published

on

Reformasi sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun. Sejak itu pula, Indonesia memutuskan untuk menganut sistem demokrasi. Untuk bangsa sebesar Indonesia, perjalanan waktu dua dekade masih terbilang cukup muda. Karena itu, dibutuhkan diskursus maupun penelitian sejarah, sosial, politik, maupun ekonomi terkait arah dan relevansi keutuhan bangsa.

Virdika Rizky Utama, Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam satu karyanya, yang tadinya berasal  dari skripsinya, namun dengan kegigihannya dapat membukan suatu diskursus pemikiran yang segar terkait sejarah demokrasi Indonesia.

Dalam bukunya yang berjudul Demokrasi dan Toleransi Dalam Represi Orde Baru; Penulis menjelaskan kronologis sejak jatuhnya Soekarno hingga tumbangnya pemerintahan Soeharto, dan Indonesia memasuki era demokrasi yang substansinya adalah kedaulatan ada ditangan rakyat. Karena rakyat dapat memilih pemimpinnya secara langsung, melalui mekanisme Pemilu.

Dalam buku ini, penulis mengambil kesimpulan bahwa Indonesia bisa sampai pada sistem demokrasi seperti saat ini – yang dianggap sebagian ilmuwan politik merupakan sistem yang paling adil, adalah karena adanya peran Forum Demokrasi (FD) yang diprakarsai oleh sekelompok intelektual pada waktu itu, yang tergugah hatinya melihat pemerintahan Orde Baru yang semakin hari semakin menyudutkan kebebasan berpendapat atas nama stabilitas.

Untuk menghindari kesan otoriter, pemerintah Orde Baru pada waktu itu membentuk kelompok yang bernama ICMI. Tujuannya, untuk mengakomodir para birokrat dan para cerdik pandai ke dalam satu frame yang bercirikan Islam. Pasalnya, hingga memasuki tahun 1990-an, pemerintah Orde Baru menyadari betul akan pentingnya peran entitas Islam, terutama dalam menaikan elektoral Pemerintah dimata rakyat, atau minimal pemerintah terhindar dari label “anti muslim”.

Akan tetapi, aktivis sekaligus juga Intelektual Islam yakni Abdulrahman Wahid atau dikenal Gusdur, menganggap ICMI yang tujuannya untuk merubah paradigma tentang Islam, malah dianggap terlalu sektoral. Buktinya, Gusdur berpendapat, ICMI lebih banyak di isi oleh kalangan elite birokrat, sehingga terkesan hanya sekedar mengakomodir kepentingan kelompok politik tertentu pada waktu itu. Terutama, menurut Gusdur, berasal dari keinginan kelompok militer “merah putih”.

Menimbang kondisi tersebut, Gusdur berserta tokoh intelektual lainnya, terutama yang berlatar belakang dari akademisi, hingga aktivis kampus maupun LSM berikrar untuk membentuk yang namanya Forum Demokrasi (FD). Gusdur dipilih sebagai Ketua-nya, pertimbangan selain dianggap kompeten dan konsisten dalam memperjuangan nilai-nilai pluralisme di Indonesia, namun terpenting, Gusdur adalah Ketua Umum Nadhatul Ulama pada waktu itu, yang merupakan Ormas Islam dengan jumlah pengikut terbesar di Indonesia. Sehingga menempatkan Gusdur di Ketua Umum FD, adalah pilihan stategis politik untuk minimal membuat ‘panik’ pemerintah.

Judul Buku: Demokrasi Dan Toleransi Dalam Represi Orde Baru | Tahun Buku: 2018 | Penulis: Virdika Rizky Utama | Penerbit: Penerbit PT Kanisius | Jumlah Halaman; 184

Menariknya, penulis melihat adanya FD juga dapat dibaca sebagai anti tesis dari kehadiran ICMI yang dibentuk oleh restu pemerintah. Maka, tidak heran, pengurus teras FD adalah para tokoh dari lintas golongan. Sehingga, adanya FD dianggap dapat ‘mengkerdilkan’ pamor ICMI. Padahal, di samping itu juga, FD substansinya adalah bertujuan mengeritik manajemen pengelolaan negara oleh pemerintah Orde Baru pada waktu itu.

Bahkan, redaksi media massa waktu itu juga, banyak mengaitkan, kehadiran FD sebagai bentuk ‘tandingan’ dari adanya ICMI. Meski begitu, dalam berbagai keterangan pers-nya, anggota FD juga berbeda pandangan satu sama lain dalam menyikapi tujuan dibentuknya FD. Di titik ini, mulai terlihat tidak adanya blue print yang matang dari FD.

Hal ini terbukti, peran FD hanya bertahan dalam beberapa tahun saja. Menjelang detik-detik masa akhir Orde Baru, bahkan FD perannya sudah tidak signifikan. Terlebih, FD dalam kehadirannya hanya sebatas diskursus di kota Jakarta saja, tidak menyebar ke pelosok daerah. Walaupun ada beberapa kota juga yang siap membuka cabang perwakilannya.  Untuk ekspansi, FD terbentur oleh  sikap pemerintah Orde Baru yang keras pada para tokoh FD. Hingga membatasi ruang-ruang geraknya, seperti tidak boleh terlalu banyak diskusi, hingga pelarangan seminar di berbagai kesempatan. Di dalam buku ini juga mengatakan, setelah Pemilu 1992 tidak ada lagi peran-peran FD yang krusial.

Hingga akhirnya, setelah Soeharto lengser. Indonesia pun memasuki era baru, yang mana kebebasan berpendapat dibuka selebar-lebarnya.  Dan sistem pemilu pun menjadi lebih demokratis, karena rakyat yang langsung memilih. Sementara itu, para tokoh FK berjuang masing-masing, seperti dengan ada yang mendirikan partai – karena dalam iklim demokratis, partai merupakan kendaraan yang paling tepat untuk memperoleh kuaasaan.

Meskipun demikian, adanya buku ini memberikan khazanah baru dan membuka ruang-ruang diskursus baru, terutama perihal perubahan sosial dari berbagai dimensi disiplin ilmu menjelang keruntuhan Orde Baru. Walaupun, penulis pun mengakui, keterbatasan sumber primer maupun sekunder masih menjadi kendala untuk mengamati perubahan sosial dari sudut yang lebih mikro.

Dengan begitu, sejarah mencatat, FD memberikan andil yang cukup besar dalam mempersiapkan masa transisi menuju sistem politik yang demokratis.  Terlebih, FD didominasi oleh para intelektual yang bertujuan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Karena, sistem demokrasi harus ditopang oleh pemahaman politik warganya, agar ketika memilih pemimpin tidak seperti membeli kucing dalam karung. (*)

*) Peresensi: Muchammad Egi

Continue Reading

Buku

Pencapaian Sains dan Penghambatnya

mm

Published

on

Abad ke-21 sesungguhnya merupakan abad yang tak pernah terkirakan akan terjadi pada masa sebelumnya. Pasalnya, paling tidak hingga tiga perempat abad ke-20 banyak sekali peperangan, wabah penyakit, dan kelaparan yang membuat matinya harapan sebagian besar penduduk bumi. Kala itu, bumi layaknya memasuki abad kegelapan yang sesungguhnya dibandingkan istilah abad kegelapan yang dipakai pada abad ke-5 hingga ke-15 di Eropa.

Di tengah keputusasaan dan kegelapan, ada satu bidang kehidupan yang dapat membuat manusia memiliki harapan dan pencerahan. Bidang itu adalah sains atau ilmu pengetahuan. Tak tanggung-tanggung, Steven Pinker dalam buku ini menyebut hanya kepada sains dunia bisa berharap dan sekaligus berhutang budi.

Bukan tanpa sebab Pinker memiliki argumentasi tersebut. Ia membuktikan argumentasinya dengan menyediakan data di setiap babnya, untuk membandingkan masalah yang dihadapi manusia seperti wabah penyakit, kemiskinan, dan angka kematian akibat kejahatan atau perang semakin menurun dari abad ke-18.

Sebaliknya, tingkat kebahagiaan, jaminan sosial, pendidikan, dan kemananan  justru sangat jauh meningkat dibandingkan abad sebelumnya. Sains menyediakan obat, teknologi, dan informasi untuk terus menaikan taraf hidup umat manusia.

Membaiknya dunia karena majunya sains, menurut Pinker, sejalan dengan kemajuan demokrasi, liberalisasi, dan kapitalisme yang menjunjung tinggi hak individu. Bahkan Pinker menyebut demokrasi liberal yang memuat kapitalisme di dalamnya merupakan pencapaian tertinggi umat manusia (hlm.343).

Pinker jmendasari argumennya dengan menggunakan teori rasionalitas milik Max Webber. Menurut Weber (1905) kapitalisme hanya salah satu aspek dari rasionalitas. Ia juga menganggap bahwa modernisasi merupakan perluasan rasionalitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Steven Pinker

Penghambat Sains

Meletakkan dasar pemikirannya pada modernitas dan kapitalisme yang terdapat kompetisi di dalamnya tentu memiliki konsekuensi. Konsekuensinya, selalu ada pihak yang kalah dari setiap kemajuan yang dicapai dunia oleh sains. Pihak-pihak itu kemudian yang berpotensi menjadi penghambat sains.

Bila menggunakan teori analisis kelas sosial yang diungkapkan Karl Marx, maka pihak yang kalah jelas adalah kelas sosial rendah—Marx menyebutnya proletar. Namun, Pinker tidak ingin mendeterminiskan masalah hanya pada satu bidang yakni ekonomi.

Pinker berpendapat bahwa ketidaksetaraan ekonomi “bukan merupakan dimensi kesejahteraan manusia” dan mengutip sebuah studi yang menemukan ketidaksetaraan tidak terkait dengan ketidakbahagiaan, setidaknya dalam masyarakat yang lebih miskin (hlm.102). Dia juga menunjukkan bahwa dunia secara keseluruhan menjadi lebih setara dan menyatakan bahwa bahkan dalam area yang semakin tidak setara, orang miskin masih mendapatkan kekayaan dan mendapat manfaat dari inovasi teknologi (hlm.101).

Pinker berpendapat justru yang berpotensi menjadi penghambat sains adalah intelektual dan politisi. Sejujurnya, tidak ada satu pun intelektual yang menyukai perubahan. Bukan intelektual tidak menyukai hasil dari perubahan, melainkan Pinker tidak suka dengan sikap intelektual dalam menghadapi perubahan.

Intelektual cenderung kerap berupaya mempertahankan argumen dan perspektifnya dengan cara merendahkan argumen lain. Lantas, peran intelektual di masyarakat hanya berkompetisi untuk meraih prestise dan berebut pengaruh, dibandingkan bertanggung jawab menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pengetahuan yang dimilikinya (hlm.49).

Dalam hal ini pula, Pinker mengkritik sikap pemikiran intelektual yang justru sangat jauh dari nilai-nilai sains yang sarat akan kritik. Alhasil, yang terjadi dalam diri intelektual adalah sikap dogmatis dan otoriter. Mereka dengan sekuat tenaga akan selalu melakukan pembenaran untuk dirinya dengan beragam argumen yang ia susun dan seolah-olah dirinya yang paling benar.

Penghambat berikutnya adalah politisi. Politisi acap kali menggunakan berbagai macam cara untuk menarik suara dengan beragam janji-janji politik yang tak sesuai dengan perkembangan sains. Contohnya adalah populisme, baik populisme kanan maupun populisme kiri. Politisi-politisi populisme selalu membuat argumen untuk kembali melihat sejarah kejayaan suatu bangsa atau ras pada masa lalu dan juga memiliki kebenaran menurut versinya sendiri (hlm.333). Tak peduli seberapa banyak fakta yang diungkap, mereka tak akan mengubah kebenaran yang diyakininya—biasa dikenal dengan  post truth atau pascakebenaran.

Pinker mencontohkan bagaimana Trump melalui kampanyenya yang menekankan kejayaan warga kulit putih yang sebenarnya juga tidak jelas di periode mana kejayaan kulit putih di Amerika Serikat berlangsung. Begitu juga dengan politisi populisme agama di berbagai negara di Eropa dan Asia. Di Eropa para politisi populis menekankan kejayaan Kristen. Sedangkan, bagi yang populisme Islam akan membawa kembali klaim kejayaan kekhalifahan.

Hasilnya, meski hidup sudah di zaman kecerdasan buatan, pemikiran mereka berada di masa lalu yang penuh dengan mitos. Dengan demikian, pemikiran manusia justru akan tertutup, antikritik, dan seolah hanya memiliki satu dimensi. Melalui hal-hal itu, kata Pinker, otoritariansime akan hidup kembali dan mengubur kemajuan sains yang membutuhkan prasayarat kebebasan berpikir.

 

Lawan Penghambat Sains

Lalu, bagaimana melawan penghambat sains? Pinker meyakini sains akan terus dapat berkembang dan mengalahkan musuhnya melalui pendidikan dan pers. Di ranah pendidikan, pendidikan mesti mengembangkan kemampuan berpikir kritis (hlm.378). Dengan cara ini, murid dan guru mesti memiliki banyak referensi dalam pembelajaran dan terbiasa terbuka dengan beragam pendapat serta kritik.

Lalu kenapa pers dapat menjadi salah satu lawan untuk menghadapi sains? Bukankah saat ini pers sering menjadi kepentingan politik kelompok tertentu dan juga sedang mewabah fenomena pascakebenaran di masyarakat?

Pers memiliki peran untuk menguji semua informasi yang beredar di masyarakat dan men

Judul Buku : Enlightenment Now The Case for Reason, Science, Humanism, and Progress Penulis : Steven Pinker Penerbit : Penguin Books Limited Tahun Terbit : Cetakan I, Februari 2018 Tebal : 556 halaman, ISBN 978-0-525-42757-5 Harga : Rp.235.000

dorong masyarakat untuk terbuka dengan berbagai macam sudut pandang. Bahkan, pers juga dapat menjadi sebuah gerakan yang bertujuan untuk menyebarkan kecanggihan ilmiah seperti jurnalisme data  (hlm.403).

Melihat realitas dua hal tersebut di Indonesia memang terasa cukup berat. Akan tetapi, menyerah dan berkompromi dengan keadaan bukan hal baik untuk kemajuan sains dan kelangsungan hidup umat manusia.

Buku yang terdiri dari 23 bab ini cukup layak untuk dijadikan referensi bagi siapapun yang tertarik pada perkembangan terbaru sains dunia, meski kita juga perlu kritisi sudut pandang dan keberpihakan Pinker yang sangat “barat”. Kendati demikian, dua hal tersebut dapat dijadikan tantangan bagi perkembangan sains di Indonesia untuk menyebarkan fungsi sains sesungguhnya yaitu untuk kesejahteraan dan kebahagian seluruh manusia.

Kita tidak akan pernah memiliki dunia yang sempurna dan akan berbahaya bila kita mencari kesempurnaan. Namun, tidak ada batasan untuk terus melakukan perbaikan dari  hal yang telah kita capai, jika kita terus menerapkan sains untuk meningkatkan perkembangan hidup manusia. (*)

*) Virdika Rizky Utama | Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Classic Prose

Trending