Connect with us
Michel Foucault Tentang Sejarah Michel Foucault Tentang Sejarah

Editor's Choice

Michel Foucault Tentang Sejarah

mm

Published

on

“I have never been a Freudian,
I have never been a Marxist,
and I have never been a structuralist.”


(Michel Foucault)

Apa yang bisa ditemukan dari pemikiran Foucault tentang sejarah? Apa yang bisa direkonstruksi? Foucault mengaku bukan seorang sejarawan dan tidak pula merasa sebagai seorang filosof sejarah. Ucapannya ini diperkuat oleh bukti referensial. Ia tidak pernah menulis secara khusus tentang perkembangan sejarah, arah sejarah, kekuatan-kekuatan yang menggerakkan dibalik proses sejarah dan seterusnya seperti dilakukan oleh Karl Marx, Popper, Collingwood, atau Thomas Carlyle misalnya serta para filosof sejarah lainnya. Memang benar Foucault tidak menulis secara khusus tentang sejarah, tetapi ia menulis dalam historical space, historical spectrum atau historical continuum. Dalam ‘ruang historis’ bahwa Foucault menulis di masa silam dengan segala teks yang ia baca; konteks dimana ia hidup, berfikir dan menginterpretasi; interaksi pengetahuan (wacana) dan relasi-relasi kuasa yang mempengaruhinya. Dalam ‘spektrum historis’ bahwa masa hidupnya adalah segmen atau irisan dari –meminjam Braudel- longe-duré atau bentang sejarah yang panjang. Dan, ‘kontinum historis’ karena ia sebagai aktor, agen yang memainkan peran-peran historis dalam episode-episode peristiwa yang terus bergulir.

Foucault tidak menulis tentang sejarah tetapi hampir seluruh pemikirannya adalah tema-tema penting dalam sejarah pengetahuan. Ia tidak menulis tentang sejarah tetapi masa hidupnya sudah menghistoris, sudah berlalu menjadi puing-puing sejarah. Dan jangan salah, puing-puing ide dan gagasan-gagasan Foucault bukan puing-puing yang sudah runtuh, tumbang dan mati, melainkan puing-puing yang masih berdiri kokoh, masih hidup memberikan inspirasi tentang perlunya bersikap kritis terhadap masa silam. Puing-puing yang ternyata memberikan ilham bahwa sejarah telah berlalu tidak melalui sebuah proses yang sederhana, bahwa sejarah harus dicurigai karena penuh dengan hal-hal yang “menyesatkan.” Sejarah adalah sebuah konstruksi sosial yang didalamnya terlibat kekerasan politik, kerakusan kuasa dan kolaborasi antara kekuasaan dengan pengetahuan. Sejarah telah berkembang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan eksploratif dan eksploitatif. Sejarah harus digali kembali, dibongkar dan ditemukan kepalsuan-kepalsuannya. Inilah yang dilakukan sekelompok ilmuwan dari madzhab ciritical theroy dimana Foucault berdiri sebagai salah satu eksponennya yang bersemangat melakukan rekonstruksi: membongkar dan meredifinisi apa-apa yang sudah dianggap established secara konvensional dalam komunitas ilmiah.

Filsafat Sejarah sebelum Foucault
Beberapa filosof dan sejarawan telah memberikan kontribusi penting baik dalam aspek metodologis maupun materi dalam studi sejarah peradaban manusia, baik yang berhasil mendirikan madzhab pemikiran sejarah maupun yang tidak. Karya-karya mereka berpengaruh luas dalam literatur sejarah. Dari yang paling klasik misalnya Edward Gibbon yang hidup pada abad ke-18 (1737 – 1794). Gibbon menulis buku sejarah termasyhur yang sudah menjadi klasik: History of the Decline and Fall of the Roman Empire sebanyak 6 volume yang diterbitkan tahun 1788. Pemikiran Gibbon masih sangat kuat diwarnai oleh pandangan-pandangan Marxian. Walaupun ia menulis karya master piece-nya tersebut cukup mendalam, tapi, menurut Brian Warmington, “Gibbon bukanlah seorang inovator yang mendirikan aliran pemikirannya sendiri dalam pemikiran sejarah” (1980: 20). Sama dengan Gibbon, demikian juga Leopold von Ranke, sejarawan kelahiran Thuringia Jerman tahun 1795. Ia menulis banyak karya tentang wilayah-wilayah geografis yang luas dan menulis tentang bentangan waktu yang luas pula seperti dapat dilihat dari karya-karya besar yang dilahirkannya, diantaranya adalah A History of England, principally in the seventeenth century (1876), World History, Books of Prussian History (1870), A History of the Latin and Teuton People, History of the Popes (1840) dan yang lainnya. Tapi, Ranke tidak dikenal memiliki madzhab aliran pemikiran sejarah. Dia hanya dikenal sebagai outstandingg historian (sejarawan luar biasa) karena memiliki kemampuan naratif mengagumkan. Ia menulis sejarah lima kerajaan besar melalui pengamatannya terhadap perilaku dan fikiran segelintir orang saja. Menurut Agatha Ramm, dia benar-benar seorang sejarawan naratif (narrative historian) dalam pengertian yang sesungguhnya. “Ranke tidak hanya sebagai sejarawan terbesar yang pernah hidup tetapi juga tidak tertandingi oleh sejarawan lain yang pernah ada” (1980: 36). Keahlian yang paling menonjol dari Ranke dalam menulis sejarah adalah kemampuannya yang luar biasa dalam menggunakan bahan-bahan dokumenter, arsip-arsip, catatan-catatan dan sumber-sumber sejarah. Keahliannya ini sangat berpengaruh di Eropa karena berperan penting dalam penggunaan sumber-sumber sejarah. Lord Acton menyebutnya sebagai “the real initiator of the ‘heroic’ study of records.”

Berbeda dengan keduanya, Hegel adalah filosof sejarah yang mengintrodusir konsep ‘dialektika’ dalam perkembangan sejarah. Hegel membagi filsafat sejarah ke dalam dua jenis: yang formal dan material. Yang formal adalah hubungan antara ‘roh obyektif‘ (realitas obyektif) dengan ‘roh subyektif’ (pikiran rasional). Identifikasi antara keduanya berlangsung terus menerus dan pada hakikatnya merupakan suatu proses sejarah. Sejarah material adalah pergerakan sejarah melalui proses dialektika antara tesis, antitesis dan sintesis. Setelah Hegel, Karl Marx kemudian muncul dengan konsep “materialisme historis” bahwa sejarah bergerak karena konflik kelas antara kelas proletar dan kelas pemilik modal. Kelas proletar terus-menerus memperjuangkan nasibnya memenuhi kebutuhan dasarnya, kelompok kapitalis pemilik modal mempertahankan dominasi dan eksploitasi kelas buruh untuk kepentingan mereka. Inilah, kata Marx, yang berlangsung sepanjang sejarah dan basis inilah yang telah menggerakkan laju sejarah.

Tahun 1949, muncul sebuah buku di Paris yang secara umum dianggap sebagai “the most remarkable historical book to have been written this century” (Burke 1980: 188). Buku itu berjudul The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Phillip II buah karya Fernand Braudel, seorang sejarawan kelahiran Lorraine, Perancis, tahun 1902. Ia dikenal sebagai perintis mazhab Annales atau histoire globale (sejarah global), yaitu sejarah yang mengungkap kedalaman struktur masyarakat, perilaku-perilaku individu dan berbagai peristiwa-peristiwa kecil yang umumnya tak diperhatikan sejarawan. Braudel adalah sejarawan yang merintis pendekatan geografi dalam studi sejarah yang disebutnya sebagai “geo-history.” Geo-history adalah sejarah yang mengungkap pengaruh gunung-gunung, kayu, batas pantai dan pulau, iklim, rute perjalanan darat dan laut dan seterusnya terhadap peristiwa sejarah. Peristiwa, kata Braudel, tidak akan difahami dengan baik tanpa memahami konteks gejala alamnya, gejala geografisnya, yang melahirkan peristiwa sejarah. Untuk pendekatannya ini Braudel kemudian menyebutnya sebagai ‘sejarah total’ (total history) yang kemudian diikuti oleh generasi penerusnya seperti Denys Lombard dan Anthony Reid.

Secara umum, Bebbington (1979) membagi aliran pemikiran sejarah pada lima aliran. Pertama, aliran siklus yaitu suatu pemikiran perkembangan sejarah yang dipengaruhi oleh pembacaan siklus alam. Sejarah bergerak ibarat siklus cuaca secara deterministik. Inilah aliran pesimistik dalam sejarah. Bangkit dan kejatuhan kerajaan-kerajaan, bangsa-bangsa dan seluruh peradaban dunia bergerak melalui proses siklus ini. Cara pandang seperti ini tampak pada Nietzsche dengan doktrin ‘perputaran abadi’ (eternal recurrence)-nya dan pada Arnold Toynbee serta Ibn Khaldun pada penjelasan jatuh bangunnya peradaban. Ibn Khaldun adalah sejarawan Timur yang jelas-jelas menunjukkan pendekatan ini seperti ia paparkan secara rinci dalam magnum opus-nya: Muqaddimah. Kedua, aliran tradisi “judeo Kristen” atau sejarah Kristen. Disini perkembangan sejarah diyakini sebagai siklus tetapi bergerak secara lurus. Sejarah bergerak secara linier ke arah yang pasti dengan bimbingan Tuhan (divine intervention) dan ujungnya adalah turunnya Yesus Kristus ke bumi. Ini adalah filsafat sejarah optimistik melalui ketokohan milenarian dimana pada akhir sejarah akan datang turun ke bumi seseorang yang akan menyelamatkan umat manusia, dalam hal ini adalah Kristus. Karya-karya ini terlihat misalnya dalam City of God karya Augustine, Joachim, Reinhold Niebuhr, Herbert Butterfield dan Agust Comte. Ketiga, inti proses sejarah adalah konsep ‘kemajuan’ (idea of progress). Aliran ini lebih menonjolkan peran aktor sejarah yaitu manusia. Ketimbang melihat peranan Tuhan, pendukung aliran ini lebih melihat manusia sebagai agen perkembangan sejarah. Pemikiran seperti diinisiasi oleh Comte, kemudian dikembangkan oleh J.H. Plumb dan Sidney Pollard. Keempat adalah aliran historisisme. Historisisme muncul sebagai reaksi atas ‘idea of progress’ yang berkembang di Perancis dan Jerman abad ke-18. Historisisme menolak bahwa sejarah berkembang linier dan berargumen bahwa ‘motif utama’ (central motif) adalah ide dimana setiap negara dan bangsa menikmati perbedaan kebudayaannya. Sejarah adalah pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Tugas sejarawan adalah memahami variasi kebudayaan dengan pendekatan empatik. Disini terdapat Giambattista Vico, Herder, B.G. Niebuhr juga Ranke dan kemudian Collingwood dalam bukunya The Ide of History. Kelima adalah sejarah Marxis dengan idenya dasarnya ‘materialisme historis.’ Bagi Marx, sejarah proses sejarah diciptakan oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu ekonomi. Marxisme banyak dipengaruhi oleh filsafat Hegel. Christopher Hill dan E.P. Thompson adalah diantara pewaris yang mengembangkan perspektif Marxsian dalam sejarah (Lihat Bebbinton 1979: 17 -20).

Pandangan Sejarah Foucault: Beberapa Gagasan Inti
Dibandingkan dengan para filosof sejarah yang secara sepintas dijelaskan dimuka, kedudukan Foucault sama sekali berbeda. Ia sebetulnya bukan seorang yang berada dalam jajaran filosof sejarah karena Foucault tidak secara khusus menulis tentang perkembangan sejarah, karakteristiknya dan kekuatan dibalik perkembangan historis. Dalam konsepnya tentang “history of the present,” ia sedikit menggagas bahwa sejarah harus ditulis dalam perspektif masa kini dan untuk kepentingan masa kini. Selebihnya, Foucault menulis tema-tema sentral dalam sejarah yang dilihatnya secara kritis. Pemikirannya menggoyahkan semua kemapanan pengetahuan terutama konsep-konsep yang secara konvensional dipegang komunitas ilmiah hingga kini. Adalah menarik untuk melihat hubungan antara pemikiran Foucault dengan sejarah. Pemikirannya tentang banyak hal dalam sejarah begitu penting, sehingga warna pemikiran Foucault bisa diidentifikasi untuk melakukan sebuah rekonstruksi atas pemikiran sejarahnya.

Foucault adalah seorang filosof Perancis yang menonjol. Sebelum Foucault, intelektual yang menonjol di Perancis saat itu adalah Jean Paul Sartre. Setelah Sartre ada empat orang yang saling “berebut pengaruh” dalam dunia pemikiran kritis di Perancis yaitu Roland Barthes (kritikus sastra), Jacques Lacan (psikiatris radikal), Claude Levi-Strauss (Antropolog Strukturalis) dan Michel Foucault sendiri. Karya-karya Foucault banyak mempengaruhi secara kuat disiplin yang luas terutama pada lapangan kritik sastra, gender studies dan kriminologi. Gagasan-gagasan Foucault sendiri sangat luas menyangkut filsafat, sosiologi, sejarah, psikologi, cultural studies, kedokteran, gender, sastra dan lainnya.
Satu hal yang menonjol dari keseluruhan pemikiran Foucault adalah bahwa orang kesulitan melakukan kategorisasi atas pemikirannya ke dalam bidang-bidang tertentu. Dengan kata lain, sangat sulit mengenali sosok Foucault dalam disiplin ilmu dan pemikiran konvensional. Ia berfikir ke kedalaman dasar-dasar paradigma ilmu pengetahuan yang bersifat filosofis dan setelahnya hampir mustahil menempatkannya dalam block of knowledge yang ada. Hal ini bisa difahami karena Foucault sendiri mendefinisikan filsafat sebagai,

“the ciritical work that though brings to bear on itself… in the endeavor to know how and to what extent it might be possible to think differently, instead of legitimating that is already known” (1985: 9).

Foucault tidak berbicara secara khusus tentang ilmu sejarah dan filsafat sejarah. Hubungannya dengah sejarah, ia lebih suka disebut sebagai “historical observer” (pengamat sejarah). Model befikir historisnya ini sesuai dengan apa yang sudah dilakukannya yaitu pendekatan arkeologi seperti dalam bukunya “Archeology of knowledge.” Tetapi, ‘pengamat sejarah’ ini pun mesti difahami dalam pengertian lain yang berbeda, bukan sejarah konvensional yang lurus. Foucault tidak suka pemahaman sejarah yang lazim, yang berorientasi pada masa lampau, yang sudah lewat, menyangkut hal-hal yang sudah mati dan kurang bermanfaat. Bila para filosof sejarah selama ini membicarakan sejarah sebagai sebuah kajian khusus seperti membahas watak perkembangan sajarah, teori sejarah, arah dan kecenderungannya, kekuatan-kekuatan di balik peristiwa sejarah dan sebagainya, Foucault sama sekali berbeda. Ia melihat sejarah sebagai tema-tema yang dilihat secara kritis. Foucault tidak menulis “tentang sejarah” (about history) tetapi menulis banyak hal “dalam perkembangan sejarah” (in history). Dengan kata lain, ia tidak membicarakan metodologi sejarah melainkan materi sejarah. Dari pengamatan dan analisisnya yang mendalam tentang berbagai hal dalam sejarah, kemudian melahirkan konsep-konsep kunci untuk memahami pemikiran Foucault. Tema-tema kritis penglihatannya adalah tentang “episteme” (sistem wacana), “power” (kekuasaan), sexuality (seks) dan lain-lain. Mengapa tema-tema ini menjadi menonjol dalam sistem pemikiran Foucault, karena pemahamannya terhadap tema-tema itu sangat orisinil, melabrak konvensi para filosof sebelumnya.
Tulisan Foucault sangat luas menyangkut berbagai disiplin sehingga sempat menggoyahkan sendi-sendi pengetahuan manusia (human science). Oleh keterbatasan tulisan ini, dibawah ini diuraikan beberapa intinya saja dari gagasan Foucault yaitu sejarah masa kini, geologi, epistem dan kekuasaan. Beberapa konsep tersebut diuraikan secara singkat. Namun demikian, mudah-mudah memadai untuk merekonstruksi pemikiran Foucault terutama hubungan dengan pemikiran sejarah.

Sejarah Masa Kini dan Geneologi
Bagi Foucault, sejarah itu bukanlah masa lalu melainkan bersifat masa kini (history of the present). Ia tidak tertarik dengan sejarah masa lalu yang konvensional, mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk menggambarkan masa silam selengkap-lengkapnya. Dalam pembahasannya tentang present, Foucault menyebutkan bahwa studi sejarah harus selalu memiliki keterkaitan dengan masa kini. Hal itu jelas karena masa kini penuh dengan persoalan yang bisa dipecahkan dengan memahami sejarahnya pada masa silam. Dengan demikian, sebenarnya menulis sejarah itu untuk masa kini bukan untuk masa silam. Perspektfinya pun harus masa kini karena untuk kebutuhan masa kini. Tetapi Lechte mengungkapkan pertanyaan: “Jika masa kini mengendalikan perhatian dan minat sejarawan, apakah tidak berbahaya yaitu masa lalu akan mengarahkan masa kini?” Atas pertanyaan serupa ini, Foucault justru memberikan respon tentang bahayanya sejarah yang diusung oleh penganut idealisme:

“Sejarah akan mengarahkan masa kini bila ide tentang sebabnya (notion of cause) dominan masalah-masalah material, dan jika kontinuitas mendominasi diskontinuitas yaitu pada level pengungkapan praktis. Tetapi, kemudian, fakta bahwa masa kini selalu merupakan proses transformasi yang berarti bahwa masa lalu harus terus-menerus direevaluasi; menulis sejarah masa lalu adalah melihat sesuatu yang baru, sebagaimana para analis melihat peristiwa baru dalam biografi seseorang dalam rangka pengalaman psikoanalisis. Masa lalu, pada prinsipnya, mengungkapkan makna baru dalam konteks persitiwa-peristiwa baru. Hal ini akan menghindari kemungkinan adanya hubungan kausalitas yang sederhana yang diungkapkan antara masa lalu dan masa kini. Bahaya historisisme muncul ketika disadari bahwa masa lalu tidak bisa dipahami secara murni dalam konteksnya sendiri, karena itu, sejarah selalu adalah sejarah masa kini” (Lechte 1994 : 111).

Berkaitan dengan ide sejarah masa kini dan masa lalu yang harus selalu direevaluasi, Foucault menggagas konsep tentang ‘geneologi’ (genealogy). Geneologi adalah sejarah yang ditulis untuk kepentingan-kepentingan masa kini yaitu hubungannya dengan komitmen terhadap masalah-masalah kontemporer. Sejarah perlu memasuki peristwa-peristiwa masa kini. Dengan demikian, geneologi adalah ‘sejarah efektif’ (effective history) yang ditulis sebagai keterlibatan kontemporer. Terinspirasi oleh Bachelard, Canguilhem dan Cavailles, Foucault menyebutkan bahwa sejarah selalu merupakan geneologi dan sebuah intervensi, dengan demikian kerangka pengetahuan dan model pemahamannya pun selalu berubah (Lechte, 112). Epsitemologi adalah yang mempelajari perubahan-perubahan ini sebagai “the grammar of knowledge production” dan diungkap melalui kerja sains, filsafat, seni dan literatur. Epistemologi juga adalah cara menghubungkan peristiwa-peristiwa material dengan fikiran atau ide.

Episteme: Kunci Perkembangan Sejarah
Kunci pemikiran Foucault tentang sejarah adalah dalam istilah yang ia sebut sebagai “epistemee” (sistem wacana). Foucault dengan kritis melihat bagaimana ilmu-ilmu berkembang dalam sejarah secara sistemik (keseluruhan sistem berfikir) dalam suatu periode, kemudian berubah secara menyeluruh dalam tahapan periode yang lain, kadang-kadang secara cepat (Leksono 2002: 22-31). Ilmu pengetahuan ternyata berkembang dan established tidak bertumpu pada tokoh-tokoh pemikir yang gagasan-gagasannya diikuti banyak orang. Setiap pengetahuan kita berkembang merupakan jalinan yang luas dan rumit antara berbagai kepentingan dan kepekaan mereka mengenai tatanan rasional. Tidak ada suatu ide/gagasan yang dicetuskan oleh seseorang atau sekelompok ilmuwan kemudian menjadi mapan di masyarakat tanpa adanya saling keterkaitan yang menyuluruh dengan aspek-aspek lain dalam sebuah sistem sosial. Sistem keseluruh berfikir manusia itulah yang disebut Foucault sebagai “episteme.”

Dalam setiap persoalan yang ia amati dalam sejarah selalu dilihat dalam kontek hubungan-hubungan yang rumit yang terjalin dengan unsur-unsur lain. Misalnya tentang konsep “kebenaran.” Untuk sampai pada sebuah “kebenaran” yang mapan yang dipegang oleh masyarakat dalam periode tertentu, selalu terlibat berbagai unsur yang meneguhkan kebenaran itu: politik, kekuasaan, kepentingan, gender, pemikiran, ideologi dan sebagainya. Episteme ini berpengaruh terhadap apa disebut dengan ‘kebenaran’ melalui bahasa. “Discours,” “penalaran” atau “uraian” adalah bahasa yang sering diarahkan pada kebenaran. Discours ini terutama adalah penalaran ilmiah, tetapi bahasa sehari-hari seperti rapat-tapat, pidato politik dan diskusi-diskusi juga merupakan ‘discours.’ Bagi Foucault, masa silam terdiri dari discourse-discours ini yaitu lautan artikulasi, pembicaraan dan penalaran manusia, samudera kata, kalimat dan ungkapan bahasa yang dipakai dalam berbagai bentuk situasi dan kesempatan yang beraneka ragam dalam kehidupan sehari-hari (Ankersmit, 1987: 309). Dalam sejarah penalaran sehari-hari yang melimpah itu, dalam keseluruhan berfikir manusia itu, Foucault melihat ada sebuah kekuatan yang mengatur yang disebut ‘episteme.’

Seperti diuraikan Ankersmit (1987: 310-312), ada tiga karatkteristik ‘episteme’-nya Foucault: Pertama, Episteme menentukan bagaimana cara kita melihat dan mengalami kenyataan. Cara kita mengalami kenyataan menentukan bagaimana kita melihat kenyataan. Kenyataan itu subyektif dan sering tidak disadari. Dengan demikian, kenyataan itu tidak sederhana dan tidak begitu pasti seperti yang kita duga. Ini berarti, episteme tidak disadari oleh orang yang mengalaminya. Ketika episteme disadari, yaitu kita sadar melihat realitas dengan perspektif tertentu, maka akan terbukalah untuk melihat kenyataan dengan sudut pandang yang lain. Kalau ini terjadi maka menjadi dibuat-buat, kita melihat realitas pun dibuat-buat bukan oleh kesadaran asli sesungguhnya yang dimiliki seseorang. Kedua, karakter episteme yang lain adalah adanya larangan-larangan, penyangkalan, pengabaian dan penolakan. Episteme itu mengendalikan dan mengontrol pengetahuan manusia melalui tiga macam pengecualian: tabu, kegilaan dan ketidakbenaran. Identitas episteme itu berada dalam hal-hal yang tidak disadari seperti dalam larangan. Dari sinilah episteme mengungkapan identitasnya yang asli. Karena itulah Foucault tertarik pada fenomena kegilaan (madness), kejahatan dan perilaku seksual yang aneh. Setiap zaman terdapat episteme-nya tersendiri tetapi tidak bisa dilacak karena tidak disadari itu. Tetapi walaupun tidak bisa dilacak (untracable) tetapi bisa disusun kembali dengan cara bertindak “dari luar ke dalam”: dari larangan ke yang benar, dari tabu ke kebolehan, dari kegilaan ke normalitas. Ketiga, dalam episteme terdapat hubungan antara bahasa dengan realitas. Umumnya, bahasa dipandang sebagai medium yang transparan, bahasa adalah refleksi dari kenyataan. Bagi Foucault tidak begitu. Bahasa selalu ditentukan oleh episteme yaitu bentuk-bentuk penggunaan bahasa yang dipakai untuk merumuskan kebenaran. “Sama seperti episteme mengatur dan menyaring pengetahuan kita mengenai kenyataan, demikian juga bahasa. Bahasa bukanlah medium yang transparan, bukanlah pencerminan dari kenyataan. Bahasa adalah alat yang dipergunakan episteme, guna mengatur dan menyusun kenyataan, sesuai dengan tabiat episteme itu sendiri” (Ankersmit, 312). Dengan demikian, Foucault melihat jelas bahwa bahasan dan pisteme tidak pasif melainkan aktif. Keduanya berusaha untuk merubah kenyataan bahkan menguasai kenyataan.

Perspektif Baru tentang Kekuasaan
Konsep kekuasaan (power) merupakan hal yang sentral dalam pemikiran Foucault. Kekuasaan secara tradisional difahami sebagai kemampuan mempengaruhi orang atau pihak lain untuk mengikuti kehendak si pemilik kekuasaan. Atau, daya pikat atau pengaruh yang dimiliki seseorang atau lembaga untuk memaksakan kehendaknya pada yang lain. Seluruh ilmu sosial hampir seluruhnya memakai pengertian ini secara konvensional seperti sosiologi, sejarah dan politik. Kekuasaan dipandang bersifat represif, koersif dan opresif. Hingga saat ini begitulah kita memandang kekuasaan.
Foucault menyumbangkan satu perspektif yang sangat orisinal dalam membaca dan memahami kekuasaan. Baginya, kekuasaan sesungguhnya tidak sesederhana seperti apa yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial selama ini. Bagi Foucault kekuasaan itu menyebar dimana-mana (“power is omnipresent”), meresap dalam seluruh jalinan relasi-relasi sosial, kekuasaan tidak berpusat pada individu-individu melainkan bekerja, beroperasi dalam konstruksi pengetahuan, dalam perkembangan ilmu dan pendirian-pendirian lembaga. Karena ia menyebar dan bekerja mengendalikan banyak orang, komunitas, kelompok, kepentingan dan sebagainya, maka sifatnya menjadi produktif –bukan represif— dan memiliki kekuatan menormalisasikan hubungan-hubungan masyarakat. Pandangan kekuasaan yang represif sangat kental dalam pemikiran Marx terutama ketika berwujud menjadi ideologi kelas. Antonio Gramsci sudah agak variatif mengembangkan gagasan Marx dengan konsepnya “hegemoni,” tetapi Foucault lebih subtil lagi dari Gramsci. Misalnya, seperti dikutip Haryatmo dari Surveiller et punir (1975), bagi Foucault “kekuasaan tidak hanya dijalankan di dalam penjara, tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk kesehatan, pengetahuan dan kesejahteraan” (2002: 9). Dari Foucault pandangan positif tentang kekuasaan mulai muncul.

Kekuasaan itu menyebar sebagai konsekuensi pandangan bahwa kekuasaan tidak berpusat pada individu-individu atau negara. Kekuasaan menyebar melalui “seluruh struktur tindakan yang menekan dan mendorong tindakan-tindakan lain melalui rangsangan, rayuan, paksaan dan larangan” (Haryatmo, 11). Dengan demikian, kekuasan bukanlah sebuah represi. Secara tidak langsung, pandangan Foucault ini adalah kritik terhadap Hobbes dan Locke (bahwa kekuasaan dijalankan melalui kekerasan atau kontrak sosial), terhadap Marx dan Machiavelli (pertarungan kekuatan), dan terhadap Freud dan Reich (represi yang menekan), juga terhadap pandangan kekuasaan sebagai dominasi kelas dan manipulasi ideologi (Marx). Kekuasaan tidak unlocalised karena ia tidak bertumpu pada negara, partai politik, kepemimpinan, melainkan merupakan hubungan antar komunikasi, jaringan sosial, tatanan disiplin, meresap dan melekat pada setiap perbedaan dan kehendak individu dan kelompok. Kekuasaan itu beroperasi bukan dimiliki, kekuasaan itu strategi perkembangan sosial ketimbang alat kekuatan. Adalah menarik apa yang disebut Foucault sebagai “micro pouvoirs” atau “gugusan-gugusan kekuasaan lokal yang tersebar” (Haryatmo, 12) yaitu keluarga, pabrik, sekolah, rumah sakit, penjara, birokrasi dan sebagainya. Melalui “kaki tangan-kaki tangan inilah” kekuasaan itu melakukan reproduksi dan bekerja dalam setiap lapisan sosial.

Sebagai tokoh yang menonjol dalam jajaran madzhab teori kritis, Foucault juga menyoroti hubungan kekuasaan dengan pengetahuan. Pandangannya tentang kekuasaan seperti di atas juga berakibat pada pembongkaran kolaborasi antara pengetahuan dengan kekuasaan, seperti halnya Habermas menemukan ketakterpisahan antara ideologi dan kepentingan. Kekuasaan juga inklusif dalam kehendak untuk mengetahui. Kehendak untuk mengetahui ini terumuskan dalam pengetahuan. Kekuasaan pengetahuan terkonsentrasi dalam kebenaran-kebenaran pernyataan-pernyataan ilmiah. Contoh jelasnya adalah masyarakat ilmiah dituntut untuk mentaati konvensi-konvensi ilmiah karena konvensi memiliki otoritas. Disinilah terlihat adanya hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan. Pengetahuan dibentuk oleh kekuasaan dan kekuasaan menghasilkan pengetahuan. Keduan pernyataan ini bisa dibulak-balik dengan esensi yang sama: adanya hubungan kepentingan dan fungsional antara keduanya. Sesungguhnya masih banyak pembahasan Foucault tentang kekuasaan yang tidak mungkin diuraikan semuanya disini karena keterbatasan makalah ini. Tetapi, dari uraian diatas sudah tertangkap inti gagasannya tentang kekuasaan yang tidak berpusat pada individu atau negara, tapi sesuatu yang bergerak dalam jaringan sosial. Kekuasaan tidak negatif.

Bila dibandingkan dengan konsep kekuasaan klasik abad ke-16 hingga 18, terdapat jelas beberapa perbedaannya yang kontras dengan apa yang dijelaskan Foucault:
1. Dalam zaman feodal kekuasaan bersifat agraris yaitu berhubungan dengan kepemilikan dan penguasaan tanah sebagai sumber ekonomi, juga bersifat industrial dalam pabrik-pabrik. Hubungannya adalah atas-bawah, represif dan menindas untuk kepentingan penguasaan, terutama kapitalisme. Kekuasaan dijalankan dalam rangka pengawasan. Dalam masyarakat modern, kekuasaan diwujudkan dalam bentuk kedaulatan, hukum dan undang-undang dengan pemaksaan disiplin untuk membentuk stabilitas dan kohesi sosial.
2. Hubungannya dengan organisasi sosial dan politik, kekuasaan tidak berpusat pada negara atau penguasa politik. Karena kekuasaan tidak berpusat pada negara sebagai struktur masyarakat tertinggi, maka sebaliknya, kekuasaan berarti menyebar dalam relasi sosial.
3. Bila dalam wacana klasik, kekuasaan adalah akibat dari adanya persaingan, perang dominasi dan perebutan sumber-sumber bahkan nafsu manusia untuk menguasai orang lain, bagi Foucault, “kekuasaan adalah akibat langsung dari adanya pemisahan, ketidaksamaan, dan ketidakseimbangan (deskriminasi)… kekuasaan merupakan situasi intern adanya perbedaan. Dalam kenyataan perbedaaan ini dibentuk dan berjalan di tempat kerja, keluarga, institusi, berbagai pengelompokkan” (Haryatmo, 11).

Posisi Foucault dalam Pemikiran Sejarah
Dari uraian di atas, hubungan dengan pemikiran sejarah, posisi Foucault dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pertama, Sumbangan Foucault terhadap filsafat sejarah –walaupun banyak implikasi metodologisnya yang penting– lebih kepada kajian-kajian kritis dan mendalam tentang tema-tema (sejarah material).
Kedua, pandangan Foucault tentang sejarah lebih subtil, lebih halus, lebih pada hal-hal yang tak teramati oleh para filosof sebelumnya. Sama seperti ketika Fernand Braudel melukiskan pentingnya sejarah geografis: “Terlalu banyak peristiwa penting yang tak teramati di bawah aliran tren sosial.” Refleksi mendalamnya ini hampir mewarnai seluruh analisisnya seperti tentang episteme, kekuasaan dan seterusnya.
Ketiga, Foucault telah merintis pandangan yang lebih maju dan lebih rumit dari para pemikir sebelumnya seperti Karl Marx misalnya. Marx melihat kekuasaan secara konkret yaitu dari hubungan kekuasaan dalam bidang sosial ekonomi (konflik ekonomi antara kelas proletar dan kelas kapitalis). Sedangkan Foucault melihat lebih dalam yaitu melihat kekuasaan dari cara kita berbicara mengenai kenyataan, dari cara bertindak dan memperlakukan sesuatu. Misalnya, cara kita berbicara mengenai sakit jiwa (madness), penjara, abnormalitas dan sebagainya menentukan cara kita memperlakukan mereka. Kekuasaan berperan dalam proses-proses sosial yang orang tidak menyadarinya. Ini adalah sumbangan penting terhadap sejarawan dalam hal melihat dan menganalisis struktur-struktur kekuasaan. Gagasan-gagasan Foucault menyumbangkan pendekatan penting dalam sejarah intelektual yang konvensional dan tradisional.
Keeempat, keseluruhan analisis sejarah Foucault hampir selalu merupakan pembongkaran atas realitas tersembunyi dalam sejarah yaitu kolaborasi pengetahuan dengan kekuasaan. Pengetahuan hingga menjadi establsihed dalam komunitas ilmiah dan diikuti banyak pengikut ternyata tidak sederhana hanya kekuatan ide saja, melainkan merupakan keterlibatan banyak aspek, faktor dan aktor dalam sebuah episteme terutama melalui kekuasaan.
Kelima, ide dan gagasan-gagasan Foucault hampir seluruhnya orisinal dalam melihat masalah yang dia kupas. Orisinalitasnya membuat pemikirannya lebih dalam dan lebih rumit dari teori-teori yang ada selama ini.
Keenam, inti dari seluruh kesimpulan di atas, penggambaran tentang sosok Foucault diantara sejarawan lain adalah, ia sendiri sesungguhnya seorang sejarawan, tapi karena ia tidak suka sebutan itu –ia adalah seorang filosof yang mengkritisi sejarah dengan menelanjangi masa lalu sedemikian rupa, termasuk kepalsuan-kepalsuannya—mungkin lebih cocok disebut atau ditempatkan sebagai “filosof paradigma,” dan diantaranya adalah paradigma sejarah. Penolakannya disebut sebagai sejarawan atau filosof sejarah karena mungkin menyempitkan fikirannya hanya pada bidang sejarah. Pada kenyataannya, ia mengobrak-abrik bukan hanya sejarah tetapi hampir seluruh paradigma ilmu pengetahuan.
Sebagai konsekuensi dari kerja pemikiran yang fundamental, pembongkaran Foucault atas dasar-dasar pengetahuan membuatnya sulit dikategorikan ke dalam disiplin pengetahuan tertentu –ia sendiri tidak suka dengan pendisiplinan ketat semacam itu. Pemikirannya yang “memborbardir” kesana-sana sini: sejarah, psikologi, kebudayaan, gender, antropologi, politik dan seterusnya, membuat disiplin ilmu, dalam pandangannya, menjadi relatif dan sulit dipertahankan (*)

KEPUSTAKAAN
Ankersmit, F.R., Refleksi tentang Filsafat Sejarah, Gramedia Jakarta, 1987.
Bebbinton, David, Pattern of Histories, Inter Varsity Press, 1979.
Burke, Peter, “Fernand Braudel,” dalam John Cannon (ed.), The Historian at Work, George Allen&Unwim, London, 1980, hal. 188 – 201.
Cannon, John (ed.), The Historian at Work, George Allen & Unwin, London, 1980.
Cobley, Paul dan Litza Jansz, Semiotika For Beginners, Mizan, Bandung, 2002.
Fillingham, Lydia Alix, Foucault For Beginners, Writers and Readers Publishing, INC, New York, 1993.
Haryatmoko, ‘Kekuasaan Melahirkan Antikekuasaan, Majalah Basis, Nomor 01-02 Januari-Februari, 2002.
Karlina Leksono, “Berakhirnya Manusia dan Bangkrutnya Ilmu-ilmu,” dalam Majalah Basis, No. 01-02, Tahun ke-51, Januari-Februari 2002.
Lechte, John, Fifty Key Contemporary Thinkers. From structuralism to posmodernity, Allen&Uniwim, London, 1994.
Palmer, Donald D., Structuralism and Poststructuralism For Beginners, Writers and Readers Publishing, INC, New York, 1997.
Ramm, Agatha, “Leopold von Ranke,” dalam John Cannon (ed.), The Historian at Work, George Allen&Unwim, London, 1980, hal. 36-54.
Warmington, Brian, “Edward Gibbon,” dalam John Cannon (ed.), The Historian at Work, George Allen&Unwim, London, 1980, hal. 19-35.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Membangun (Kembali) Republik

mm

Published

on

Judul Buku: Membangun Republik
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Galang Press
Tahun Terbit: Juli 2017
Tebal: xxviii+286 halaman,

ISBN 978-602-8174-19-0
Harga: Rp.80.000,-

 

Meningkatnya gerakan intoleransi dan sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)  di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, membuat kita mesti menghidupkan kembali tentang diskursus keindonesiaan kita. Setidaknya ada beberapa pertanyaan untuk menghidupkan kembali diskursus tersebut. Pertama, apa raison d’etre Indonesia? Kedua, apakah konsensus berdirinya Republik ini sebagai sebuah negara bangsa benar-benar sudah final? Ketiga, Quo Vadis Indonesia?

Melalui buku yang disunting oleh Baskara T. Wardaya ini, pembaca diajak kembali untuk berdialog mengenai jalannya Republik Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga akhir 1990-an. Buku yang sejatinya kumpulan wawanacara dengan enam indonesianis dan dua intelektual Indonesia yakni Takashi Shiraishi, Bennedict Anderson, George Kahin, Clifford Geertz, Daniel Lev, Bill Liddle, Sartono Kartodirdjo dan Goenawan Mohammad ini setidaknya menyoroti tiga poin penting dalam perjalanan Indonesia yakni politik, budaya, dan hukum.

Dalam konteks politik, setiap kekuasaan memiliki dinamikanya sendiri yang cukup menarik. Selalu ada patahan sejarah di dalam proses menjadi Indonesia, mulai dari kekuasaan Hindu, Budha, Islam, Kolonialisme, hingga menjadi Republik (Parakitri Simbolon: 1995). Sayangnya, tiap fase kekuasaan tersebut dianggap tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Salah satunya contohnya adalah ketika para pendiri bangsa bermufakat bahwa bentuk negara Indonesia adalah republik. Padahal, dalam geneaologi kekuasaan di nusantara, tidak pernah ada sekali pun yang memakai bentuk republik. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia pun merupakan sebuah negara monarki. Semua kepemimpinan di nusantara tidak dibentuk atas kehendak rakyat atau wakil-wakilnya, melainkan hampir selalu berada di tangan sang penguasa tunggal beserta para kerabat dan pendukungnya (hlm.xvii-xviii). Hal ini yang terus terjadi hingga masa kepresidenan Soeharto.

Pemilihan bentuk negara republik merupakan hasil pergulatan intelektual para pendiri bangsa, bukan dari pengalaman empiris seperti yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam Naar de Republiek (1925). Konsekuensi dari tidak adanya pengalaman empiris tersebut, sudah pasti memiliki banyak kendala dalam upaya membangun republik. Sebab, Indonesia tidak memiliki preseden yang baik dalam membangun sebuah negara dan bagaimana cara menghadapi masalah.

Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik Indonesia adalah pemuda. Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda (1988), “Saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Hal itu terus berlanjut saat mengakhir kekuasaan Soekarno pada 1966 dan Soeharto pada 1998. Sayangnya, pemuda sering kali dijadikan alat politik tertentu oleh pimpinan politik dalam pergulatan untuk berkuasa (hlm.57).

Dalam konteks budaya, Indonesia merupakan salah satu negara dan paling masyarakat yang paling kompleks di dunia. Banyaknya perbedaan dalam sebuah masyarakat, memerlukan persatuan untuk mengelolanya. Hal itu berhasil dibuktikan pada 1945, persatuan menjadi alat ampuh untuk meraih kemerdekaan.

Menurut Clifford Geertz, kemajemukan tersebut bisa melebur hanya dalam konteks tertentu, misalnya revolusi 1945. Lantas, setelah bersatu, ikatan-ikatan pengelompokan dan primordial kembali terjadi. Sebab, sifat-sifat primordial merupakan hasil sebuah proses sejarah, bukan sebuah nasib (hlm.147).

Oleh sebab itu setelah kemerdekaan, di dalam masyarakat, sifat-sifat primordial tersebut tetap ada dan kadang saling bersinggungan, hanya saja memerlukan waktu lama untuk menghasilkan gejolak. Dalam masyarakat, kata Geertz, kita akan selalu memikirkan: apa tujuan negara itu? Siapa yang mendapatkan untung dari negara itu? Untuk apa masyarakat berkumpul membuat negara itu?

Dengan demikian, Geertz melihat banyaknya peristiwa politik di Indonesia yang sekaligus merupakan persoalan budaya. Termasuk masalah agama dan sentimen ras (hlm.159). Baik menjelang runtuhnya Soekarno maupun saat menjelang lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Berkenaan dengan budaya, sifat-sifat feodal seperti pola kekerabatan— membangun oligarki politik dalam sebuah daerah atau partai politik—masih berlaku hingga saat ini menjadi penghambat dalam proses membangun. Ini tentu sebuah paradoks ketika para pendiri bangsa memutuskan membangun republik dan meninggalkan bentuk kekuasaan monarki, tapi tidak bisa menghilangkan sifat-sifat feodal yang kontra produktif dengan demokrasi. Soekarno dalam Sarinah (1947) menyatakan Indonesia merupakan sebuah negara yang dijajah oleh dua kekuatan yakni kolonial dan feodal. Oleh karenanya, setelah revolusi nasional, diperlukan revolusi sosial untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru.

Di ranah hukum, Indonesia masih belum bisa menjadikan hukum sebagai panglima. Hal ini ditambah buruk dengan banyaknya korupsi yang melibatkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hal tersebut semakin mempersulit republik untuk mewujudkan cita-citanya yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Terkait hukum dengan membangun republik mestinya, menurut Daniel Lev, membangun lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat. Dalam sebuah republik yang baik, lembaga pemerintahan mesti dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat. Elite-elite dalam setiap lembaga memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dan ini pun harus dikontrol (hlm.156).

Sebenarnya, tidak ada masalah dan atau kesalahan yang baru dalam membangun republik. Hanya saja, kita selalu mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-seolah kesalahan itu menjadi sebuah preseden yang layak ditiru. Pengalaman masa lalu tersebut semestinya bisa jadi pijakan dalam membangun republik di masa depan, itulah sebabnya sejarah menjadi penting. Bukankah hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama?

Peristiwa atau pengalaman dari setiap periode perjalanan bangsa Indonesia selalu terputus. Seolah-olah setiap fase sejarah Indonesia tidak memiliki hubungan dengan fase sebelumnya. Maraknya aksi intoleransi dan sentimen antargolongan pun sudah terjadi sejak 1960-an dan 1990-an. Tinggal bagaimana kita memahami pemahaman sejarah yang baik untuk melalui proses tersebut dengan baik.

Oleh sebab itu, pewarisan ingatan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi muda. Sebab, tonggak estafet membangun Indonesia terletak di tangan pemuda. Seperti Ben Andrson katakan, pemuda adalah penggerak sejarah. Namun, tentu dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab, semangat zamannya pasti berbeda.

Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengantar untuk memahami persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk memahami karya-karya utuh para tokoh yang terlibat dalam wawancara ini.

Indonesia memang bangsa yang belum selesai, ia masih dalam tahap proses menjadi sebuah bangsa yang kokoh. Namun, bukan berarti Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah bangsa. Apa pun masalahnya, bila dalam upayanya menyelesaikan masalah-masalah besar pascarevolusi rakyat Indonesia mampu menunjukkan yang sama seperti yang telah mereka perlihatkan dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan politik, peluang sukses mereka tampak kuat (Kahin: 2013). (*)

| Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

 

Continue Reading

Blog Pembaca

Suraji: Buku-Buku Melapangkan Jiwa

mm

Published

on

Buku-buku melapangkan jiwa, tidak hanya karena ia memberi pengetahuan dan banyak kisah, tapi buku dan pembacanya sendiri sudah menyimpan kisah. Satu orang dengan yang lain memiliki keunikan kisahnya sendiri karena pengalaman dan ceritanya berbeda-beda. Kisah Suraji dengan buku-buku, adalah salah satu yang layak kita simak. Suraji adalah aktivis gerakan sosial yang punya benyak pengalaman perlawanan; memperjuangkan kebebasan dan demokrasi sejak era 90-2000an. Bagaimana buku-buku merubah hidupnya adalah cerita yang unik dan menginspirasi sebagaimana Anda tentu juga memiliki kisah Anda sendiri.

“Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati. Suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu. Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku lagi.” Tutur Suraji yang kini menjadi Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW) dan aktif di komunitas Jaringan Gusdurian.

Suraji, Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW)

“Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto yang dibacanya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah buku yang menurutnya merubah hidupnya—buku itu memberinya keberanian untuk menulis dan hal itu membuatnya memiliki banyak gagasan, mimpi, dan dengan cara keras menggali inspirasi untuk ditungkan dalam bentuk tulisan.

Ketika kuliah di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga) bekal itu membawanya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah ARENA, majalah mahasiswa yang sempat dalam waktu lama disebut sebagai “anak kandung majalah TEMPO” karena liputannya yang cerdas dan berani. Ketika kantor ARENA diserang terkait penerbitan edisi majalah yang mengkritik keras Orde Baru, Suraji adalah pemimpin redaksi dan salah satu aktor utamanya.

Kami berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku dan dunia membaca kepadanya, percayalah wawancara pertama dalam program #MencintaiBuku—Merayakan Indahnya Membaca Buku—yang digagas Galeri Buku Jakarta ini memberi kita begitu banyak memoar dan inspirasi. Seperti kata Suraji, berkah terbesarnya adalah buku-buku melapangkan jiwa kita melewati begitu banyak pengalaman kehidupan. Selamat membaca…

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

SURAJI

Buku adalah teman bijak yang selalu mengajak kita memandang cakrawala, memandu kita melewati lorong-lorong ruang dan waktu dengan jiwa yang selalu lapang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

SURAJI

Perkenalan saya dengan buku sejak tahu kosakata “perpustakaan”. Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati, suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu.

Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku. Biasanya, saya memanfaatkan waktu istirahat kelas, atau kalau ada jam kosong, saya manfaatkan untuk membaca di perpus. Banyak buku-buku cerita rakyat seperti: cerita Bawang Putih dan Bawang Merah, Legenda Rawa Pening, Malin Kundang, Tangkuban Parahu, Legenda Banyuwangi. Ada juga cerita kepahlawanan seperti: Hikayat Hang Tuah, Untung Suropati, Gajahmada, dan masih banyak lagi.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

SURAJI

Saya termasuk orang yang bisa baca di mana saja dan kapan saja. Tapi selama yang pernah saya alami, saya merasakan paling nikmat membaca buku itu sewaktu kecil di sawah. Biasanya kalau musim kemarau, tak ada tanaman di sawah-sawah kampung kami. Hamparan sawah dibiarkan membera. Saat itulah, biasanya di sore hari kami menggiring sapi-sapi piaraan kami ke sawah untuk makan rerumputan. Kami yang masih anak-anak menunggui gembalaan di bawah pohon atau di balik semak-semak, hingga matahari tenggelam dan mengajak pulang sapi-sapi ke kandang. Saya biasanya menyelipkan buku pinjaman dari sekolah, di celana, untuk dibaca sambil menunggu sapi-sapi itu kenyang.

Jika musim penghujan, anak-anak di kampung kami biasanya menyabit rumput di pematang-pematang sawah, atau agak jauhan lagi ke hutan-hutan jati terdekat, tempat rumput-rumput itu tumbuh bebas, lalu kami memasukkannya ke keranjang untuk di bawa pulang. Saya pun biasanya membawa buku di sawah atau hutan, meskipun hanya sempat membacanya beberapa halaman.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

SURAJI

Buku yang mengubah hidup saya, salah satunya adalah buku yang berjudul “Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto. Saya membacanya ketika saya sudah usia SMP tahun 1991, juga saya baca waktu di sawah. Buku itu tentang kiat-kiat membuat karangan yang dikemas dalam model tanya-jawab. Buku ini yang menggugah saya untuk berani belajar menulis, mengeksplorasi ide-ide, berimajinasi, dan berpikir bebas. Setelah membacanya saya mulai membuat catatan harian, menuliskan pengalaman, dan memberanikan diri untuk ikut lomba membuat karangan di sekolah, dan juara. Membaca buku itu semakin membuat asyik lagi untuk membaca buku-buku yang lebih tebal; novel atau roman seperti “Siti Nurbaya” dan “Salah Asuhan”. Saya juga jadi gemar memburu majalah-majalah loakan untuk mengenal model tulisan bentuk laporan atau berita. Dari dulu sampai sekarang, di kampung kami belum pernah masuk koran atau majalah. Saya biasanya menabung untuk beli majalah atau tabloid bekas, ketika ada kesempatan pergi ke kota. Majalah seperti Tempo dan Intisari saya dapatkan di warung kertas bekas, yang biasanya dipakai untuk bungkus belanjaan bumbu dapur di pasar, dan itu dijual kiloan. Biasanya majalah-majalah yang sudah tahunan lalu terbitnya. Tapi saya merasa dapat informasi banyak. Jadi buku Arswendo ini membuat saya lebih banyak mencintai buku.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

SURAJI

Naskah epik Bugis, “La Galigo”, ini termasuk sastra kuno yang layak kita kenal. Naskah ini penting untuk dibaca, agar kita juga mengenali mitologi yang berkembang di masyarakat lokal Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan peradaban. Jadi, sumber pengetahuan tidak hanya science yang bersumber akal saja, tapi juga rasa. Seperti di Barat, Yunani itu juga mengenal mitologi tentang dewa-dewa yang turut mempengaruhi lahirnya pengetahuan-pengetahuan baru.

“Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini sangat kuat dalam membangkitkan imajinasi tentang manusia dalam peradaban maritim yang terbuka, egaliter, mendukung kemajuan, dan tidak mudah ditaklukkan. Kita sekarang ini perlu membangun mental bangsa maritim seperti itu.

Novel “Harimau-harimau” karya Mochtar Lubis, mewakili karya sastra dengan tema kebebasan, kemerdekaan, dan keberanian. Novel ini perlu dibaca bagi anak muda, supaya tidak gampang takut atau tunduk karena tekanan situasi.

Novel karya AA. Navis, “Robohnya Surau Kami”. Novel ini sangat sarkastik tapi elegan, sangat kuat melakukan kritik sosial terhadap pandangan keagamaan yang mendukung kemapanan dan melanggengkan penindasan atau ketidak-adilan. Penting untuk dibaca bagi orang Indonesia, yang kebanyakan menganut agama, agar nilai-nilai universal agama seperti kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan tidak semakin tergerus oleh sistem sosial yang koruptif dan manipulatif.

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Novel ini menampilkan sisi humanisme dari masyarakat Indonesia, dengan setting masyarakat pedesaan. Latar cerita dalam novel adalah prahara konflik yang disebabkan oleh pergolakan politik setengah abad yang lalu, yang memakan korban jutaan manusia tidak berdosa. Novel ini mengajak kita kembali merenung, bahwa di atas politik masih ada kemanusiaan.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

SURAJI

Buku berjudul “Waras di Zaman Edan” karangan Mas Supriyanto (Prie GS). Saya membacanya dengan penuh perenungan sambil tersenyum-senyum. Ini buku kumpulan kolom, setiap kolom biasanya mengangkat tema hal-hal yang sepele, remeh-temeh, tapi renungannya dalam. Dan di setiap akhir tulisan kita tersenyum puas karena mendapatkan pencerahan. Buku ini membantu mengurai keruwetan dan kerumitan yang diciptakan sendiri oleh manusia akibat cenderung menganut rutinitas tertentu, atau pola pikir tertentu yang membelenggu.

Novel “Crime and Punishment” karya Vyodor Dostoyevski, sudah diterjemahkan penerbit Obor dengan Judul “Kejahatan dan Hukuman”. Buku ini sangat kuat pesan sosialnya, bahwa kemiskinan atau kesenjangan ekonomi yang sangat lebar dapat menyuburkan tindak kejahatan atau situasi anomali dalam masyarakat. Cerita ini mengetengahkan dilema antara penegakan hukum, moralitas, dan kemanusiaan dalam meghadapi situasi kejahatan akibat kemiskinan akut. Novel ini merupakan kombinasi yang kokoh antara jenis novel yang menyelami sisi kejiwaan (psikologis) dan jenis novel tentang perburuan seorang kriminal (detektif).

Buku kumpulan esai-esainya Gus Dur yang berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini sering saya buka, dan saya baca bagian-bagian yang saya pilih. Banyak topik tentang demokrasi, dan keagamaan diulas. Ulasan Gus Dur membantu mencairkan ketegangan hubungan antara agama dan negara. Intinya, Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia bukan hanya kompatibel terhadap demokrasi, namun prinsip demokrasi itu sendiri merupakan bagian dari ajaran agama. Tema-tema yang pernah ditulis Gus Dur dalam buku ini masih sangat kuat relevansinya dan tetap aktual.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

SURAJI

Saya akan menulis tentang kampung tempat saya dilahirkan. Kampung ini termasuk prototipe desa yang miskin, masyarakatnya hidup bercocok tanam di lahan tadah hujan, dan itu satu-satunya sumber penghasilan utama. Kampung yang susah air. Ibarat penduduk yang tinggal hanya berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu usia tua atau datangnya kematian. Layaknya masyarakat kampung, hubungan kekerabatan masih dijaga, masih mengamalkan ritual-ritual slametan dan kenduri. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah degradasi lingkungan pertanian dan makin bertambahnya penduduk. Motivasi menulis buku ini hanya untuk memotret dan mendokumentasikan perikehidupannya saja agar jadi pengetahuan generasi baru nanti. Saya akan menulis layaknya sebuah laporan antropologi atau etnografi yang melihat perubahan budaya masyarakatnya. Saya akan kasih judul buku itu: “Yang Beranjak dan Bertahan” Dari judul buku ini saya ingin menggambarkan bahwa ada perubahan di kampung saya, baik lambat atau cepat, tapi juga ada yang seperti tidak berubah atau bertahan dalam kurun waktu yang lama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

SURAJI

Di setiap kampung musti ada ruang atau tempat bagi anak-anak untuk membaca dan berdiskusi, belajar menulis dan mengembangkan nalar kritis. Idealnya ada perpustakaan di kelurahan-kelurahan yang itu bisa diakses oleh warga, petani bisa berkumpul mengembangkan pengetahuannya melalui sumber-sumber literatur buku. Di taman-taman kota bagus sekali kalau ada tempat nongkrong buat remaja sekaligus ada perpustakaannya. Di sekolah-sekolah, siswa-siswi difasilitasi untuk membentuk dan mengembangkan klub membaca (reading club). Tersedia buku-buku di kedai dan warung-warung. Perlu menciptakan budaya baca dan menulis dari mulai lingkungan keluarga. Membaca itu termasuk ibadah, sedangkan menulis adalah sedekah. (*)

SURAJI Lahir di Rembang, Agustus 1980. Minat di bidang jurnalisme dan sosial keagamaan. Sekarang aktif di komunitas Jaringan Gusdurian. Ia juga Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW). Menyukai kopi dan wayang kulit.

__________________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

 

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Classic Prose

Trending