Connect with us

Kolom

Mh. Rustandi Kartakusuma: Kesusastraan Modern Kita

mm

Published

on

Sekitar tahun 1930 lahirlah Pujangga Baru ke atas bumi Pertiwi. Dengan mereka mulailah Kesusasteraan Indonesia. Yang ada sebelumnya hanya kesusasteraan daerah: Jawa (Ronggowarsito), Sunda (Hasan Mustapa), Melayu (Abdul Muis).

Udara sastra Indonesia terngiang-ngiang dengan semboyan mereka: Kita harus dinamis! Tradisi kita telah usang dan lapuk! Kita harus menggantinya dengan cara Hidup Baru! Dan apa itu yang disebut cara hidup baru! Tiada lain tidak bukan: Barat; cara hidupnya dan pandangan hidupnya.

Semboyan mereka mengujung pada teriakan Takdir Alisjahbana yang serak parau: Kita harus ke Barat! Kita harus jadi individualis, bahkan … egois!

Memang semboyan-semboyan itu tidak disetujui oleh mereka semua. Sanusi Pane malahan menentangnya. Juga Amir Hamzah, yang menerjemahkan Bhagavad Gita dan membakar Setanggi Timur.

Akan tetapi suara mereka dikalahkan oleh teriakan Takdir. Takdir yang berkumandang dan Takdir yang didengarkan!

Ke Barat! Ke Barat! Serunya. Kemudian dia kibarkan panji-panji. Bergerombol-gerombol kita turun dari bukit tradisi dan gunung kepribadian, lalu berbaris, lalu berbaris di belakang Takdir dan kibaran panjinya. Kita bernyanyi: Ex Occidente Lux! (Cahaya datangnya dari Barat). Yaitu nyanyian yang kita sadur dari pemeo orang Barat sendiri: Ex Oriente Lux! (Dari Timurlah datangnya cahaya).

Kita naik tongkang. Kemudian dengan “Layar Terkembang” kita melaut. Bermula berembuslah Angin Timur dan Angin Barat kedua-duanya sekali, berlawanan. Tapi Takdir lalu membaca mantera dari buku Pearl S. Buck yang diterjemahkan oleh kawan seperjuangannya Saadah Alim: East Wind, West Wind. Maka redalah Angin Timur, hingga tinggal Angin Barat, yang anehnya tidak meniup kita ke Timur, melainkan datang menjemput kemudian membawa kita ke tempat asalnya.

“Setanggi Timur” telah tiada tercium. “Madah Kelana” telah tiada lagi kedengaran. Semuanya itu kita rasakan sebagai “Belenggu.” Kita telah terlepas kini, “Layar Terkembang” semua! Kita menuju “Buah Rindu” kita yang baru: Barat! (Bagi orang yang tidak-tahu: Setanggi Timur dan Buah Rindu buku-buku terjemahan dan karangan Amir Hamzah, Madah Kelana karangan Sanusi Pane, Belenggu karangan Armijn Pane, Layar Terkembang karangan St. Takdir Alisjahbana).

Pada tahun 30-an itu sampaikah kita di barat?

Sebagaimana telah kita lihat dalam karangan yang terdahulu dari rangkaian karangan “Ciliwung” ini, “internasionalisasi” yang kita maksudkan dengan sungai dan sebagainya. Tidak sampai pada tujuannya, hanyalah sampai pada “Belanda-nisasi,” yang pada gilirannya bermuara pada “Indo-nisasi.” Begitulah pula halnya dengan Pujangga Baru sayap Takdir. Merekapun hanya sampai pada Indo dan Belanda-nisasi. Artinya: di atas bidang serbacipta inipun, bidang kesusasteraan, bangsa Indonesia tidak ubahnya dengan para walikota kita yang dengan resmi merayakan Sint Nicolaas, suatu kebiasaan Belanda, dengan maksud “modern” dan “internasionaalte zijn” (Lihat “Internasionalisasi Ciliwung”).

Kesusasteraan Barat (atau dalam istilah kita dahulu “internasional”) bagi mereka bukannya puncak-puncak kesusasteraan Perancis, Jerman, Inggris, Rusia, Spanyol dst., melainkan tiada lain tiada bukan kesusasteraan … Belanda.

Mereka tidak membaca Victor Hugo, Balzac, Stendhal, Beaudelire, Flaubert, Andre Maurois, Romain Rolland, Jules Romains, Roger Martin du Gard, Francois Mauriac, Andre Malraux, Paul Claudel, Verlaine, Rimbaud, Apollinaire, dst.!

Mereka tidak membaca John Galsworthy, Somerset Maugham, T.S. Elliot, G. Hauptmann, Hofmannsthal, Hermann Hesse, RainerMaria Rilke, Franz Werfel, dan lain-lain pengarang-pengarang sebagainya.

Barang tentu mereka tidak tahu menahu tentang: Miguel de Unamono, Manuel dan Antonio Machado, Juan Ramon Jimenez, Slavador de Madariaga, Manuel de Gongora, dst.

Bahkan raksasa-raksasa sastra Barat itupun tidak nampak kepada mereka: Tolstoy, Dostojewski, Pusjkin, Tjekov dsb.

Yang nampak kepada mereka, yang mereka baca dan kaji ialah: Jacques Perk, Willem Kloos, Lodewijkk van Dijssel, dsb, yaitu … sastrawan Belanda.

Yaitu … sastrawan Belanda yang disebut Angkatan 80, Angkatan tahun 1880, de Tachtigers.

Pujangga Baru sayap Takdir menghirup udara tahun 1930, tapi memuja sastrawan Belanda tahun 1880, sastrawan dari abad yang lalu.

Nama-nama sastrawan Perancis, Inggris, dst. yang kita terangkan di atas adalah nama-nama sastrawan yang seangkatan dengan de Tachtigers itu. Jadi, jika Takdir dan kawan-kawan memang terikat oleh waktu, dan karenanya tidak sanggup melihat Paul Valery, Andre Gide, dsb. dari abad sekarang, kenapa mereka tidak melihat sastrawan-sastrawan dari abad yang lalu, tapi yang betul-betul “internasional”?

Dan kalau mereka terikat pula kepada tempat, dan karenanya hanya bisa memandang kepada Belanda, kenapa tidak memuja sastrawan Belanda sesudah Angkatan 80 itu?

Dengan bahana genderang dan kibaran panji mereka bertolak menuju Barat (dunia internasional), tapi hanya sampai di negeri Belanda. Itupun negeri Belanda abad yang silam.

*

“Umur Pujangga baru tidak panjang. Beberapa tahun sesudah lahir, mereka meninggal dunia. Arwahnya berkeluyuran sebagai jailangkung yang tak dipangil di bidang politik, keilmuan, perguruan, organisasi-organsiasi dan kemasyarakatan”.

Lahirlah angkatan baru, yang menamai diri “Angkatan 45.” Di antara dentaman mortir dan howitser mereka membacakan surat kepercayaannya kepada bangsa Indonesia yang sedang terlibat dalam suatu pergaulan yang menentukan hidup matinya sebagai bangsa:

“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia!”

Kebudayaan dunia! Kata mereka; bukan kebudayaan Belanda.

Memang mereka telah insyaf, bahwa Pujangga Baru telah tersesat. Mereka Pujangga Baru, memandang dirinya ahli waris kebudayaan Belanda. Padahal apa hubungan kekeluargaan mereka dengan bangsa keturunan Franken dan Batavieren itu?

Angkatan 45 menguakkan Pujangga Baru (Tiga Menguak Takdir), sambil berkata dengan tegas: “Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang yang disebabkan suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia!”

Dari segala sudut dunia, katanya. Tertandas kembali kehendak mereka meluaskan pandangannya sampai ke luar batas-batas sebuah negeri kecil yang bernama Belanda.

Jadi, adakah kemajuan mereka dibandingkan dengan Pujangga Baru?

Ada!

Sungguh ada!

Kemajuan itu sungguh-sungguh kemajuan!

Angkatan 45 lebih jauh jalannya di jalan … yang telah dirambah Pujangga Baru dahulu. Lebih jauh, tapi samasekali tidak menyimpang dari jalan tsb. Atau sama sekali tidak memilih jalan baru.

Angkatan 45-pun lari-lari anjing ke … Barat!

Jika Sanusi Pane dan St. Takdir Alisjahbana dulu masih serang-menyerang karena berbeda faham tentang Barat dan Timur, maka bagi Angkatan 45 soal tsb. tidak merupakan soal lagi. Mereka telah bulat-bulat sefaham dan sepengertian: ke Barat! Sans phrase!. Tanpa cincong!

Mereka tidak berbincang-bincang tentang Timur-Barat, karena Timur tidak ada bagi mereka. Yang ada hanya Barat. Pengertian “dunia” bagi mereka adalah “Barat!”

Kami ahli waris kebudayaan dunia, berarti, kami ahli waris kebudayaan Barat.

Suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia, berarti, suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut Barat.

“Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kata Angkatan 45 dalam surat kepercayaanya selanjutnya “kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan”.

Tidak, mereka tidak menggosok Borobudur, memalu gamelan, mendalang, melagukan Kinanti, Degung dsb. itu hasil kebudayaan beratus-ratus tahun ke belakang. Lap untuk menggosok semua itu dan membanggakannya di antero dunia, mereka serahkan dengan ikhlas hati kepada orang yang underdeveloped dan kepada orang-orang asing semacam Prof. Krom, Jaap Kunst, John Coast, dst,dst.

Akan tetapi aneh seribu kali aneh, mereka menggosok (turut menggosok) Acropolle Forum Romanum, Sophocles, Seneca, Jeanne d’Arc (menggosok Jeanne ini bersama dengan Schiller, Bernard Shaw, Jean Anoulin, Paul Claudel), komponis Honegger, menyetel radionya untuk mendengarkan kecapi Biola, musik Palestina, Monteverdi Beethoven (terutama simfoni pastoralnya) dst. dst. Dan mereka memaksa-maksa dirinya supaya terharu.

Akan tetapi itu semuanya hasil kebudayaan beratus-ratus tahun ke belakang pula, persis seperti Borobudur, persis seperti Degung. Yang satu mereka lap-lap sampai berlinang air matanya saking terharu; yang lainnya dengan sebelah matanya sipit itupun tidak mereka pandang.

Beda antara keduanya ialah yang satu hasil cipta nenek moyang bangsa yang tidak sipit matanya, yang lainnya hasil cipta nenek moyang sendiri yang matanya sama-sama sipit, hidungya sama-sama penyek, kulitnya sama-sama sawo matang.

(“Kebudayaan Indonesia kami,” kata surat kepercayaan itu, “tidak semata-mata karena kulit kami sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis yang menjorok ke depan”)

Mata spipit, rambut hitam, kulit sawo matang dst. hendak mereka ganti dengan mata bundar, rambut pirang (blonde), kulit putih dst. Karena itu mereka rebut panji-panji dari tangan St. Takdir Alisjahbana yang jalannya terasa oleh mereka terlalu lamban.

Mendengunglah, membelah udara komando Jenderal, Bapa, Bapa: Putih kuda yang paling liar, pacu laju!

Maka tanpa minta izin, tanpa minta maaf mereka ambil semua kuda dan kuda-kuda mereka panjati dan mereka pacu laju. Dalam “Deru dan Debu” mereka sebut lari mendua.

Ke mana? Pada teorinya mereka ingin ke Barat, Sans phrase! Akan tetapi jalan “Deru dan Debu” tiada lain hanya menuju ke “Schuim en Asch” (“Busa dan Abu”)

Dan ternyata “Schulm en Asch” adalah kepunyaan Slauerhoff, penyair Belanda.

Mereka lari dari Willem Kloos dan de Tachtigers lainnya. Mereka tertawa mengejek melihat Tatengkeng ngiler ngabulaeh (kwijlen) membaca soneta-soneta Willem Kloos tersebut. Mereka lari, tapi larinya tidak ke luar dari daerah sekitar muara sungai Maas dan Rijn. Mereka hanya sampai kepada Slauerhoff, kepada Marsmann, Du Peron dan Ter Braak, yakni sastrawan-sastrawan …. Belanda.

Sekali merdeka tetap merdeka! Sekali Belanda, tetap Belanda! Ternyata juga bagi Angkatan 45 “Internasionalisasi” Ciliwung baru berarti “Belandanisasi (dan kemudian “Indo-nisasi”) Ciliwung. (*)

______________________________________________

Mh. Rustandi Kartakusuma lahir di Ciamis, Jawa Barat, 27 April 1921. Nama lengkapnya: Mohammad Rustandi Kartakusuma(h). Dikenal sebagai sastrawan prolifik. Menulis drama, esai, cerita pendek, novel, puisi, baik dalam bahasa Indonesia maupun daerah (Sunda). Karya-karyanya: Prabu dan Puteri (1950); Heddie dan Tuti (1951); Merah Semua Putih Semua (1958); Prosa dalam Bahasa Sunda; Mercedes 190 (1993); Indonesia; Daut (1976); Rekaman dari Tujung Daerah (1951).

Sumber: E. Ulrich Kratz (ed.), Sumber Terpilih Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2000.

 

***

Continue Reading

Kolom

Merefleksikan 20 Tahun Reformasi

mm

Published

on

Oleh: Sugeng Bahagijo | Direktur Infid 

Tahun 2018 Indonesia memasuki usia 20 tahun sejak reformasi 1998. Tanpa banyak disadari, 20 tahun masa reformasi, Indonesia sedang merambah perubahan-perubahan sosial yang disebut sebagai “large scale social change”. Sebuah perubahan sosial berskala besar.

Perubahan skala luas penting dicatat untuk bahan berpikir: (a) sejauh mana capaian 20 tahun reformasi; (b) untuk merawat dan memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia dari berbagai godaan dan pengaruh masa lalu, yang masih kuat. Hal ini agar Indonesia tidak ditawan oleh hantu masa Lalu.

Perubahan luas ini berbeda dengan perubahan operasional dan level kelembagaan. Perubahan skala luas ditandai bukan saja perubahan kuantitatif (sarana dan institusi), juga kualitatif (nilai-nilai, asumsi-asumsi). Disebut perubahan-sosial skala raksasa karena kebijakan atau langkah itu melampaui atau menembus batas terakhir yang ada. Juga karena dampaknya (positif) sangat signifikan pada tatanan sosial dan nilai-nilai sosial (menjadi lebih baik).

Lima perubahan luas

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Setidaknya ada lima contoh perubahan skala luas yang layak disebut. Baru-baru ini, Menakertrans Hanif Dhakiri mengumumkan bahwa pemerintah akan meluncurkan dua skema kebijakan untuk mendukung angkatan kerja dan pasar kerja Indonesia. Program itu adalah tunjangan pengangguran (unemployment benefits) dan skill development fund (SDF)—dana khusus untuk memperluas kesempatan pelatihan dan pemagangan bagi semua warga dan angkatan kerja.

Ini merupakan terobosan untuk bisa setara dengan negara maju dan negara tetangga sebaya, dan lebih menjanjikan ketimbang sistem jaminan sosial yang ada sekarang. Juga karena negara-negara tetangga lain sudah memilikinya: Thailand dan Vietnam untuk tunjangan pengangguran; Malaysia dan Singapura untuk SDF.

Perubahan skala luas juga dilansir Menteri Keuangan. Dalam pidatonya di Washngton DC, Oktober 2017, Menkeu Sri Mulyani menyatakan Indonesia akan mempelajari sistem jaminan sosial baru, yaitu universal basic income atau tunjangan pendapatan warga. Ini untuk mengimbangi trend lenyapnya tenaga kerja manusia akibat perkembangan teknologi-otomatisasi, robot, dan kecerdasan buatan.

Sebelumnya, pemerintahan Jokowi-JK memulai perubahan skala luas dengan melansir kebijakan dana desa atas dasar UU Desa. Dengan 30 persen angkatan kerja berada di desa, maka dana desa menjadi super penting. Kebijakan ini contoh perubahan skala luas. Tanda-tanda perubahan luasnya dapat ditilik dari: (a) membalik arah alokasi belanja dari perkotaan ke pedesaan; (b) menempatkan warga desa pinggiran sebagai subjek dan aktor pembangunan.

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Yang terakhir tetapi tidak kalah penting adalah pelembagaan dan kodifikasi hak asasi manusia dalam sistem hukum Indonesia. Dengan demikian kedudukan dan nasib warga jadi prioritas utama. HAM akhirnya juga menjiwai UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2004 dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) 2011, yang berjanji akan menjangkau dan melindungi “semua warga”. Sistem ini sangat jauh berbeda dengan sistem terdahulu, yang hanya melayani melindungi pekerja dan aparatur negara.

Sejarah

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perubahan skala luas bukanlah baru. Jika hari ini kita memiliki jaminan sosial (BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan), meski belum 100 persen warga tercakup, kita berutang ide besar ini kepada Thomas Paine.

Karena dia (Agrarian Justice) sudah mengusulkan jaminan sosial untuk warga. Paine menolak ide penghapusan hak milik pribadi dan UU Kemiskinan di Inggris yang menimbulkan stigma bagi penerimanya. Gagasan Paine juga menjadi cara memastikan setiap warga memiliki aset di tengah sistem tanah yang sudah menjadi milik pribadi

Dalam sejarah, kita juga mengenal perubahan skala luas lain yang menjadi landasan bagi HAM modern: (i) penghapusan sistem perbudakan, dimulai di Inggris lalu merambat ke Amerika Serikat dan dunia; (ii) hak memilih untuk semua warga, tidak hanya untuk yang kaya dan laki-laki.

Dampak langsung dan tidak langsung dari perubahan skala luas ini yang akhirnya berembus juga ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia (Hindia Belanda) dan ikut memberikan andil dalam gerakan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perkembangan dunia

Indonesia tak sendiri. Berbagai negara juga berlomba menemukan dan melaksanakan perubahan skala luas. Karena setiap zaman melahirkan perkembangan sendiri. Perubahan iklim terbukti membuat frekuensi dan dampak bencana alam semakin besar di seluruh dunia. Energi kotor (batubara, minyak) menjadi biang penyebabnya. Maka, perlu ditemukan energi bersih dan lestari.

Itulah sebabnya, baru-baru ini, Pemerintah Norwegia mengumumkan akan menggelar penelitian dan uji coba energi listrik. Ditargetkan pesawat komersial bersumber listrik jadi dominan dalam 5-10 tahun ke depan. Ini artinya, maju satu langkah sesudah mobil listrik yang dikomersialkan oleh Tesla Motor.

Perkembangan teknologi seperti internet, otomatisasi, robot, memperluas kesenjangan antara pekerja ber-skill tinggi dengan skill rendah, antara pekerja dan yang menganggur. Akibatnya, ketimpangan pendapatan dan kekayaan meningkat. Maka, perlu ditemukan cara memperkecil ketimpangan ekonomi (pendapatan dan kekayaan).

Barangkali itulah sebabnya para pionir sekaligus superkaya seperti Zukerberg (Facebook) dan Elon Musk (Tesla) menyuarakan dukungannya pada sistem jaminan sosial baru: universal basic income, maju satu langkah ketimbang sistem tunai bersyarat-PKH (conditional cash transfer). Sebuah langkah untuk mengimbangi laju pesat teknologi yang berpotensi menghilangkan tenaga kerja manusia.(*)

*) Sugeng Bahagijo, Direktur Infid 

 

 

Continue Reading

Kolom

Menangkal Berhala Hoaks Transaksional

mm

Published

on

J. Kristiadi | Kolumnis Politik Kompas | Peneliti Senior CSIS *)

Ramalan kecanggihan teknologi sejalan dengan naluri hasrat manusia untuk berinterkasi sehingga kehidupan di bumi lebih harmoni di huni karena orang bebas bicara dan bertukar  gagasan, ternyata hanya ilusi. Sejarah membuktikan sebaliknya, sejak diketemukan mesin cetak yang memermudah penyebaran informasi, bukan hanya gagasan sehat yang diperdebatkan, tetapi pidato dan berita beracun  bernuansa dan terang-terangan menebarkan kebencian karena alasan perbedaan terhadap suku, ras, agama, keyakinan, membahana pula.  Misalnya, perseteruan antara Kekristnan dan Kekatolikan abad pertengahan, berujung  “Perang Agama ” antara penganut Agama katolik dan Kristen Protestan selama kurang lebih tiga dekade yang mengkibatkan puluhan ribu manusia kehilangan nyawa. Tragedi semacam itu dalam skala yang berbeda terjadi  sepanjang sejarah, dan semakin mudah terulang karena dipicu oleh kecagihan tekonologi.  (Nial Ferguson, The False Prophecy of Hyperconnection, How to Survive The Networked Age, Forein Affairs, September/October 2017). Selain factor teknologi, alasan lain yang lebih fundamental dan fenomena ” homopily”, gejala kecenderungan manusia mempunyai naluri mencari teman yang mempunyai kepentingan, ide dan karakter  yang sama. Relasi yang homopilik semakin mudah kalau di dasarkan atas sentiment primordial dan karakter yang sama. Ibaratnya, burung akan bergerombol dengan jenis burung yang sama. Ungkapan populernya, birds of  a  feather flock together”.

Mengingat ancaman bahaya tuturan kebencian dapat menghancurkan negara, bangsa serta peradaban, maka akun semacam Seracen yang pengelolanya menjual kebencian dan permusuhan demi seonggok rupiah harus di berantas seakar-akarnya. Pengalaman kompetisi politik, khususnya sejak Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nampaknya semakin memicu para pemilik modal untuk memfasilitasi mereka yang merindukan belaian nikmat kuasa mewujudkan impiannya. Para pembiak kekuasaan meramu menu campuran kekuatan uang dan rasa permusuhan merupakan jalan lapang untuk mengakumulasi capital.   Sementara itu para politisi yang berhasil meraih  kedudukan dapat di salah gunakan untuk memupuk modal sehingga mereka juga akan menjadi bandar politik transaksional, bukan lagi peminta-minta kekuasaan.

Berhala Hoaks Transaksional bila di biarkan dapat dipastikan akan mengikis habis secara sitematis dan bengis pilar-pilar fundamental bangsa dan negara. Mereka dengan agresif meyakinkan public dengan mengeksploitasi perbedaan kodrati dan pasti akan menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.  Oleh sebab itu tidak mengherankan banyak negara buyar karena hasrat nafsu yang membakar nalar tidak dapat dikendalikan karena  sudah terlalu liar. Berhala politik tansaksional semakin fatal bagi tatanan hidup normal karena nilai moral ditukar asal dibayar seuai hasil tawar nenawar. Mereka mengejar sampai martabat pudar karena nafsu kuasa tidak dapat dikontrol oleh nalar serta kedap terhadap ajar.

Maka sangat tepat Presiden dan Ketua Mejelis  Permusyawaratan rakyat ( MPR) kompak menunjukan kegeraman mereka terhadap  SERACEN ( Kompas, senin, 27 Agust 2017). Demikian pula respon Menteri Komunikasi dan Informatika yang  memberikan peringatan keras terhadap pengelola Facebook, Twitter, Google agar hengkang dari Rapublik Indonesia bilamana tidak memperhatikan kemanan nasional,   patut di apresiasi. Momentum kemistri tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi politik mengingat kompetisi politik massif Pilkada serentak 2018 dan Pilpres tahun 2019 amat mudah meruntuhkan  iman politik para politisi yang sangat rentan terhadap belaian nikmat kuasa.

Megingat laga politik sudah akan dimulai kurang dari setahun lagi, maka diperlukan beberapa kebijakan urgensi sebagai berikut. Pertama,  Menteri Komunikasi dan informasi melakukakn koordinasi dengan lembaga terkait memonitor ketat perusahaan (penyedia/operator) media sosial dan bagaimana mereka  merespon laporan mengenai ujaran kebencian dan permusuhan. Sebaiknya respon harus segera dilakukan, real time, agar tidak terlanjur menyebar lebih luas lagi. Kedua, edukasi literasi digital kepada masyarakat, khususnya
para imigran digital ( Digital Immigrants), komponen masyarakat yang lahir sebelum era teknologi digital. Lawannya,  Digital Native (Natif Digital), mereka yang sejak kecil ibaratnya menghabiskan waktunya menggunakan komputer, video gamems, vide kamera, hand phone, dan mainan digital lainnya. ( Digital Natives, Digital Immigrants; Marc Prensky,  On the Horizon (MCB University Press, Vol. 9 No. 5 October 2001).

Ketiga, kampanye besar-besaran dan terorganisir melawan Hoaks transaksional. Sekedar contoh penangkalan terhadap Hoaks dilakukan oleh The Council Of Europe ( Dewan  Eropa) memprakarsai kampanye Gerakan tidak bertutur Kebencian ( No Hate Speech Movement) dengan target generasi muda ; Aktifis Blogger di Myamar, Nay Phone, mengampanyekan “ Bicara tentang  Bunga (Flower Speech) utuk melawan tuturan  kebencian.

Perjuagan menangkal berhala Hoaks Transaksional pasti berhasil. Modal utama antara lain temuan Survei SMRC tentang NKRI DAN ISIS PENILAIAN MASSA PUBLIK NASIONAL bulan Mei 2017 antara lain menegaskan. Pertama, Orang Indonesia hampir semuanya bangga menjadi warga RI. Hampir semuanya menyatakan kesediaan untuk menjadi relawan mempertahankan NKRI. Namun semua itu harus disertai dengan niat politik dan strategi yag tepat serta tegak lurus mengacu kepada Pancasila. (*)

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Kolom

Sastra dan Rekor

mm

Published

on

Kita sudah biasa menjumpai sastra dalam teks, diskusi, dan yang paling mutakhir: berperistiwa di media sosial. Padahal, sudah cukup lama sastra Indonesia berurusan juga dengan rekor. Kita sering mendengar buku-buku sastra paling laris, paling diakui dunia, paling banyak diberi penghargaan, dan sebagainya. Semua itu dapat kita anggap rekor-rekor dalam sastra Indonesia. Kita memang hanya bisa menganggap. Sebab, yang paling memiliki legitimasi untuk menyebut rekor ini-itu tentu Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pendiri sekaligus Ketua Umum MURI, Jaya Suprana, menyatakan, “Museum Rekor-Dunia Indonesia berusaha mengabdikan diri dalam mendukung pembangunan mental dan spiritual bangsa Indonesia melalui jalur anugerah perhatian dan penghargaan terhadap karsa dan karya superlatif para insan warga bangsa Indonesia.”

Pernyataan yang bertitimangsa Januari 2012 itu dapat kita temukan dalam sekapur sirih buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) susunan Aylawati Sarwono. Rekor bukan cuma soal perhatian dan penghargaan, melainkan juga pencatatan. Kita mafhum, di luar negeri sana rekor-rekor membuku dalam Guinness Book of World Records. Kata book (buku) menandai pencatatan sebagai pengesah rekor. Kita lantas sedih, pencatatan rekor di Indonesia rupanya terlambat sekian tahun. Pencatatan tentu dilakukan pada hari saat rekor tercipta. Namun, buku sebagai hasil pencatatan rekor itu terlambat disampaikan ke publik. Rekor-rekor MURI sepanjang tahun 2008-2009 baru kita ketahui melalui buku yang terbit pertama kali di tahun 2012. Aduh!

Demi menjaga mentalitas dan spiritualitas bangsa, sebagaimana diharapkan Jaya Suprana, maka kita tak pantas mengeluh. Kita memaklumi saja keterlambatan itu, yang penting pencatatan rekor sempat hadir dalam wujud buku. Rekor-rekor di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) dibagi dalam puluhan kategori. Salah satu kategori perlu kita perhatikan, yakni karya tulis. Saat membaca urutan-urutan awal, kita menjumpai rekor “profesor kedokteran pertama di Indonesia yang menulis buku tentang teknik jazz”. Kita pantas bingung, mengapa ada rekor seperti ini di Indonesia? Profesor kedokteran yang punya pengetahuan mumpuni di bidang terkait semestinya dianugerahi rekor “penemu teknik pengobatan…”, “dokter pertama yang…”, dan lain-lain, bukan malah dianugerahi rekor untuk penulisan buku di luar bidang yang ditekuni.

Rekor lainnya yang boleh kita persoalkan adalah “penerbit buku dengan komentar tokoh Indonesia terbanyak”. Dalam bahasa termutakhir, komentar yang mendampingi penerbitan sebuah buku lazim kita sebut endorsement. Perannya adalah menggoda calon pembaca agar tertarik membeli buku itu. Maka, seringkali komentar tokoh ditaruh pada sampul belakang, bahkan tak jarang di sampul depan, supaya langsung terbaca meski buku masih bersegel plastik. Satu-dua komentar tokoh kondang sebetulnya sudah cukup mengangkat daya jual sebuah buku, tidak perlu sampai puluhan. Ada pula yang bahkan tak membutuhkan komentar tokoh, dan menyerahkan tanggung jawab apresiatif kepada penulis kata pengantar, entah dari pihak penerbit atau tokoh yang ditunjuk. Komentar tentang buku tak lebih penting dari buku itu sendiri.

Kita lantas menengok rekor-rekor sastra yang tercatat di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009). Nadya Nadine mencatatkan diri sebagai “penulis puisi tunggal terbanyak” di buku itu. Dalam keterangan, tertulis, “Nadya Nadine berhasil menulis 900 judul puisi dalam waktu 3 bulan, ditambah 101 puisi karya terdahulunya sehingga total puisi yang kemudian dibukukan ada 1.001 judul.” Buku kumpulan puisi Nadya Nadine diterbitkan berjudul Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine (2012).

Buku kumpulan puisi Nadya Nadine mengalahkan 630 puisi Sitor Situmorang di buku Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2008 (2016) secara ketebalan maupun harga. Namun, jika kita menimbang kualitas dan terutama etosnya, kepenyairan Sitor Situmorang tentu lebih baik ketimbang Nadya Nadine.

Membandingkan Nadya Nadine dengan penyair ampuh sekelas Sitor Situmorang sekilas terasa tidak adil. Namun, kita sebetulnya dapat mengabaikan keagungan nama Sitor Situmorang dengan berfokus pada proses kreatifnya. Kita sedang membandingkan antara 900 puisi yang ditulis dalam kurun 3 bulan (101 puisi Nadya Nadine yang lain kita abaikan dulu, karena tidak ada keterangan waktu penulisannya) dengan 630 puisi yang ditulis sepanjang 60 tahun. Puisi yang ngebut kita bandingkan dengan puisi yang menangkap setiap peristiwa sepanjang hidup seseorang. Seandainya penulis puisi bukan Sitor Situmorang pun, proses penulisan yang alamiah itu jelas akan menghasilkan puisi-puisi yang lebih baik ketimbang yang dikejar tenggat waktu demi rekor.

Karya dan kepenyairan Nadya Nadine pun berpeluang berumur pendek dibanding penyair lainnya. Ia lebih memilih menumpahkan semua daya kreatifnya demi mengejar rekor MURI dalam sebuah buku kumpulan puisi amat tebal, alih-alih secara konsisten hadir menyapa pembaca pada rubrik sastra surat kabar edisi akhir pekan atau di laman-laman daring yang menyediakan ruang untuk puisi. Para penyair yang rajin menyapa pembaca, lantas rajin menerbitkan buku kumpulan puisi secara rutin, umur karya dan kepenyairannya bakal jauh lebih panjang. Tentu saja, kita berhak berambisi dalam kerja sastra. Namun, kita mesti paham bahwa kerja sastra adalah kerja budaya, alih-alih kerja mekanis yang bisa begitu saja terkekang target dan tenggat waktu. []

*) Udji Kayang Aditya Supriyanto; Pembaca buku dan pengelola Bukulah!

Continue Reading

Classic Prose

Trending