Connect with us

COLUMN & IDEAS

Mh. Rustandi Kartakusuma: Kesusastraan Modern Kita

mm

Published

on

Sekitar tahun 1930 lahirlah Pujangga Baru ke atas bumi Pertiwi. Dengan mereka mulailah Kesusasteraan Indonesia. Yang ada sebelumnya hanya kesusasteraan daerah: Jawa (Ronggowarsito), Sunda (Hasan Mustapa), Melayu (Abdul Muis).

Udara sastra Indonesia terngiang-ngiang dengan semboyan mereka: Kita harus dinamis! Tradisi kita telah usang dan lapuk! Kita harus menggantinya dengan cara Hidup Baru! Dan apa itu yang disebut cara hidup baru! Tiada lain tidak bukan: Barat; cara hidupnya dan pandangan hidupnya.

Semboyan mereka mengujung pada teriakan Takdir Alisjahbana yang serak parau: Kita harus ke Barat! Kita harus jadi individualis, bahkan … egois!

Memang semboyan-semboyan itu tidak disetujui oleh mereka semua. Sanusi Pane malahan menentangnya. Juga Amir Hamzah, yang menerjemahkan Bhagavad Gita dan membakar Setanggi Timur.

Akan tetapi suara mereka dikalahkan oleh teriakan Takdir. Takdir yang berkumandang dan Takdir yang didengarkan!

Ke Barat! Ke Barat! Serunya. Kemudian dia kibarkan panji-panji. Bergerombol-gerombol kita turun dari bukit tradisi dan gunung kepribadian, lalu berbaris, lalu berbaris di belakang Takdir dan kibaran panjinya. Kita bernyanyi: Ex Occidente Lux! (Cahaya datangnya dari Barat). Yaitu nyanyian yang kita sadur dari pemeo orang Barat sendiri: Ex Oriente Lux! (Dari Timurlah datangnya cahaya).

Kita naik tongkang. Kemudian dengan “Layar Terkembang” kita melaut. Bermula berembuslah Angin Timur dan Angin Barat kedua-duanya sekali, berlawanan. Tapi Takdir lalu membaca mantera dari buku Pearl S. Buck yang diterjemahkan oleh kawan seperjuangannya Saadah Alim: East Wind, West Wind. Maka redalah Angin Timur, hingga tinggal Angin Barat, yang anehnya tidak meniup kita ke Timur, melainkan datang menjemput kemudian membawa kita ke tempat asalnya.

“Setanggi Timur” telah tiada tercium. “Madah Kelana” telah tiada lagi kedengaran. Semuanya itu kita rasakan sebagai “Belenggu.” Kita telah terlepas kini, “Layar Terkembang” semua! Kita menuju “Buah Rindu” kita yang baru: Barat! (Bagi orang yang tidak-tahu: Setanggi Timur dan Buah Rindu buku-buku terjemahan dan karangan Amir Hamzah, Madah Kelana karangan Sanusi Pane, Belenggu karangan Armijn Pane, Layar Terkembang karangan St. Takdir Alisjahbana).

Pada tahun 30-an itu sampaikah kita di barat?

Sebagaimana telah kita lihat dalam karangan yang terdahulu dari rangkaian karangan “Ciliwung” ini, “internasionalisasi” yang kita maksudkan dengan sungai dan sebagainya. Tidak sampai pada tujuannya, hanyalah sampai pada “Belanda-nisasi,” yang pada gilirannya bermuara pada “Indo-nisasi.” Begitulah pula halnya dengan Pujangga Baru sayap Takdir. Merekapun hanya sampai pada Indo dan Belanda-nisasi. Artinya: di atas bidang serbacipta inipun, bidang kesusasteraan, bangsa Indonesia tidak ubahnya dengan para walikota kita yang dengan resmi merayakan Sint Nicolaas, suatu kebiasaan Belanda, dengan maksud “modern” dan “internasionaalte zijn” (Lihat “Internasionalisasi Ciliwung”).

Kesusasteraan Barat (atau dalam istilah kita dahulu “internasional”) bagi mereka bukannya puncak-puncak kesusasteraan Perancis, Jerman, Inggris, Rusia, Spanyol dst., melainkan tiada lain tiada bukan kesusasteraan … Belanda.

Mereka tidak membaca Victor Hugo, Balzac, Stendhal, Beaudelire, Flaubert, Andre Maurois, Romain Rolland, Jules Romains, Roger Martin du Gard, Francois Mauriac, Andre Malraux, Paul Claudel, Verlaine, Rimbaud, Apollinaire, dst.!

Mereka tidak membaca John Galsworthy, Somerset Maugham, T.S. Elliot, G. Hauptmann, Hofmannsthal, Hermann Hesse, RainerMaria Rilke, Franz Werfel, dan lain-lain pengarang-pengarang sebagainya.

Barang tentu mereka tidak tahu menahu tentang: Miguel de Unamono, Manuel dan Antonio Machado, Juan Ramon Jimenez, Slavador de Madariaga, Manuel de Gongora, dst.

Bahkan raksasa-raksasa sastra Barat itupun tidak nampak kepada mereka: Tolstoy, Dostojewski, Pusjkin, Tjekov dsb.

Yang nampak kepada mereka, yang mereka baca dan kaji ialah: Jacques Perk, Willem Kloos, Lodewijkk van Dijssel, dsb, yaitu … sastrawan Belanda.

Yaitu … sastrawan Belanda yang disebut Angkatan 80, Angkatan tahun 1880, de Tachtigers.

Pujangga Baru sayap Takdir menghirup udara tahun 1930, tapi memuja sastrawan Belanda tahun 1880, sastrawan dari abad yang lalu.

Nama-nama sastrawan Perancis, Inggris, dst. yang kita terangkan di atas adalah nama-nama sastrawan yang seangkatan dengan de Tachtigers itu. Jadi, jika Takdir dan kawan-kawan memang terikat oleh waktu, dan karenanya tidak sanggup melihat Paul Valery, Andre Gide, dsb. dari abad sekarang, kenapa mereka tidak melihat sastrawan-sastrawan dari abad yang lalu, tapi yang betul-betul “internasional”?

Dan kalau mereka terikat pula kepada tempat, dan karenanya hanya bisa memandang kepada Belanda, kenapa tidak memuja sastrawan Belanda sesudah Angkatan 80 itu?

Dengan bahana genderang dan kibaran panji mereka bertolak menuju Barat (dunia internasional), tapi hanya sampai di negeri Belanda. Itupun negeri Belanda abad yang silam.

*

“Umur Pujangga baru tidak panjang. Beberapa tahun sesudah lahir, mereka meninggal dunia. Arwahnya berkeluyuran sebagai jailangkung yang tak dipangil di bidang politik, keilmuan, perguruan, organisasi-organsiasi dan kemasyarakatan”.

Lahirlah angkatan baru, yang menamai diri “Angkatan 45.” Di antara dentaman mortir dan howitser mereka membacakan surat kepercayaannya kepada bangsa Indonesia yang sedang terlibat dalam suatu pergaulan yang menentukan hidup matinya sebagai bangsa:

“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia!”

Kebudayaan dunia! Kata mereka; bukan kebudayaan Belanda.

Memang mereka telah insyaf, bahwa Pujangga Baru telah tersesat. Mereka Pujangga Baru, memandang dirinya ahli waris kebudayaan Belanda. Padahal apa hubungan kekeluargaan mereka dengan bangsa keturunan Franken dan Batavieren itu?

Angkatan 45 menguakkan Pujangga Baru (Tiga Menguak Takdir), sambil berkata dengan tegas: “Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang yang disebabkan suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia!”

Dari segala sudut dunia, katanya. Tertandas kembali kehendak mereka meluaskan pandangannya sampai ke luar batas-batas sebuah negeri kecil yang bernama Belanda.

Jadi, adakah kemajuan mereka dibandingkan dengan Pujangga Baru?

Ada!

Sungguh ada!

Kemajuan itu sungguh-sungguh kemajuan!

Angkatan 45 lebih jauh jalannya di jalan … yang telah dirambah Pujangga Baru dahulu. Lebih jauh, tapi samasekali tidak menyimpang dari jalan tsb. Atau sama sekali tidak memilih jalan baru.

Angkatan 45-pun lari-lari anjing ke … Barat!

Jika Sanusi Pane dan St. Takdir Alisjahbana dulu masih serang-menyerang karena berbeda faham tentang Barat dan Timur, maka bagi Angkatan 45 soal tsb. tidak merupakan soal lagi. Mereka telah bulat-bulat sefaham dan sepengertian: ke Barat! Sans phrase!. Tanpa cincong!

Mereka tidak berbincang-bincang tentang Timur-Barat, karena Timur tidak ada bagi mereka. Yang ada hanya Barat. Pengertian “dunia” bagi mereka adalah “Barat!”

Kami ahli waris kebudayaan dunia, berarti, kami ahli waris kebudayaan Barat.

Suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia, berarti, suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut Barat.

“Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kata Angkatan 45 dalam surat kepercayaanya selanjutnya “kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan”.

Tidak, mereka tidak menggosok Borobudur, memalu gamelan, mendalang, melagukan Kinanti, Degung dsb. itu hasil kebudayaan beratus-ratus tahun ke belakang. Lap untuk menggosok semua itu dan membanggakannya di antero dunia, mereka serahkan dengan ikhlas hati kepada orang yang underdeveloped dan kepada orang-orang asing semacam Prof. Krom, Jaap Kunst, John Coast, dst,dst.

Akan tetapi aneh seribu kali aneh, mereka menggosok (turut menggosok) Acropolle Forum Romanum, Sophocles, Seneca, Jeanne d’Arc (menggosok Jeanne ini bersama dengan Schiller, Bernard Shaw, Jean Anoulin, Paul Claudel), komponis Honegger, menyetel radionya untuk mendengarkan kecapi Biola, musik Palestina, Monteverdi Beethoven (terutama simfoni pastoralnya) dst. dst. Dan mereka memaksa-maksa dirinya supaya terharu.

Akan tetapi itu semuanya hasil kebudayaan beratus-ratus tahun ke belakang pula, persis seperti Borobudur, persis seperti Degung. Yang satu mereka lap-lap sampai berlinang air matanya saking terharu; yang lainnya dengan sebelah matanya sipit itupun tidak mereka pandang.

Beda antara keduanya ialah yang satu hasil cipta nenek moyang bangsa yang tidak sipit matanya, yang lainnya hasil cipta nenek moyang sendiri yang matanya sama-sama sipit, hidungya sama-sama penyek, kulitnya sama-sama sawo matang.

(“Kebudayaan Indonesia kami,” kata surat kepercayaan itu, “tidak semata-mata karena kulit kami sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis yang menjorok ke depan”)

Mata spipit, rambut hitam, kulit sawo matang dst. hendak mereka ganti dengan mata bundar, rambut pirang (blonde), kulit putih dst. Karena itu mereka rebut panji-panji dari tangan St. Takdir Alisjahbana yang jalannya terasa oleh mereka terlalu lamban.

Mendengunglah, membelah udara komando Jenderal, Bapa, Bapa: Putih kuda yang paling liar, pacu laju!

Maka tanpa minta izin, tanpa minta maaf mereka ambil semua kuda dan kuda-kuda mereka panjati dan mereka pacu laju. Dalam “Deru dan Debu” mereka sebut lari mendua.

Ke mana? Pada teorinya mereka ingin ke Barat, Sans phrase! Akan tetapi jalan “Deru dan Debu” tiada lain hanya menuju ke “Schuim en Asch” (“Busa dan Abu”)

Dan ternyata “Schulm en Asch” adalah kepunyaan Slauerhoff, penyair Belanda.

Mereka lari dari Willem Kloos dan de Tachtigers lainnya. Mereka tertawa mengejek melihat Tatengkeng ngiler ngabulaeh (kwijlen) membaca soneta-soneta Willem Kloos tersebut. Mereka lari, tapi larinya tidak ke luar dari daerah sekitar muara sungai Maas dan Rijn. Mereka hanya sampai kepada Slauerhoff, kepada Marsmann, Du Peron dan Ter Braak, yakni sastrawan-sastrawan …. Belanda.

Sekali merdeka tetap merdeka! Sekali Belanda, tetap Belanda! Ternyata juga bagi Angkatan 45 “Internasionalisasi” Ciliwung baru berarti “Belandanisasi (dan kemudian “Indo-nisasi”) Ciliwung. (*)

______________________________________________

Mh. Rustandi Kartakusuma lahir di Ciamis, Jawa Barat, 27 April 1921. Nama lengkapnya: Mohammad Rustandi Kartakusuma(h). Dikenal sebagai sastrawan prolifik. Menulis drama, esai, cerita pendek, novel, puisi, baik dalam bahasa Indonesia maupun daerah (Sunda). Karya-karyanya: Prabu dan Puteri (1950); Heddie dan Tuti (1951); Merah Semua Putih Semua (1958); Prosa dalam Bahasa Sunda; Mercedes 190 (1993); Indonesia; Daut (1976); Rekaman dari Tujung Daerah (1951).

Sumber: E. Ulrich Kratz (ed.), Sumber Terpilih Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2000.

 

***

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

“Salah Pilih” Puisi dan Anak

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Dulu, kita di TK sering bertepuk tangan dan bersenandung. Setiap hari bermain dan bergembira. Pasti! Di TK, bocah-bocah diajak belajar belum mengacu ke serius-serius. Mereka mengerti binatang, tumbuhan, kata, angka, langit, dan lain-lain cenderung dengan bermain, belum menanggungkan kaidah-kaidah ketat keilmuan. Peristiwa menggirangkan tentu bersenandung. Selama di TK, bocah-bocah mengenal dan menghapal puluhan lagu tanpa guru mengumumkan nama para penggubah: Ibu Sud, Pak Dal, Pak Kasur, atau AT Mahmud. Nostalgia di TK adalah bersenandung merdu atau teriak-teriak menjadikan lagu berantakan.

Bandung Mawardi, Esais.

Lagu memang cespleng mengenalkan dan mengantarkan bocah-bocah ke pelbagai pengertian. Guru pun memiliki peristiwa mengajak bocah berpuisi meski gairah tak semeriah lagu. Kita mungkin lupa atau sulit melacak lagi episode belajar membacakan puisi diajarkan oleh guru atau orangtua. Puisi belum keutamaan di TK. Pengingat puisi mungkin bocah ditunjuk guru ikut dalam lomba deklamasi. Puisi kadang dibacakan dalam pentas seni atau peringatan hari-hari nasional. Kita menduga bocah sulit mengingat kata-kata dalam puisi dibandingkan lagu.

Pada 1992, terbit buku berjudul Kumpulan Sajak untuk Anak TK. Buku tipis terbitkan Depdikbud. Buku mustahil tercatat dalam sejarah sastra Indonesia, tersingkir dari perbincangan arus kesusastraan anak di Indonesia. Buku itu “milik negara, tidak diperdagangkan.” Cap mengartikan buku-buku lazim berada di perpustakaan atau pihak-pihak berkepentingan. Para pengarang berlagak berpihak ke pengajaran sastra terduga tak meminati dan memiliki buku bersampul warna hijau tanpa gambar. Buku itu pasti bukan referensi penting bagi Taufiq Ismail, dosen-dosen di jurusan sastra, pengamat bacaan anak, atau kritikus sastra.

Buku terbitan di masa Orde Baru tentu wajib turut dalam capaian pembangunan nasional. Bocah-bocah diajak berpuisi tapi “dipatuhkan” oleh petunjuk-petunjuk cenderung politis ketimbang estetis. Bocah memang tak lekas merasakan tapi tata cara mengajarkan puisi mengikuti alur bentukan situasi pendidikan nasional cap Orde Baru. Misi mengajarkan puisi adalah pengembangan: Pendidikan Moral Pancasila; perasaan, kemasyarakatan, dan kesadaran lingkungan; pengetahuan; jasmani dan kesehatan.

Buku disusun oleh tim. Kita tak bakal mengetahui nama-nama penggubah puisi-puisi dimuat dalam buku. Kita mengutip puisi berjudul “Indonesia” berimajinasi kepulauan: Alangkah banyak pulaumu/ Tak dapat aku menghitungnya/ Tapi ada lima yang kau tahu/ Pulau yang besar di Indonesia// Pulau Sulawesi, pulau Jawa/ Pulau Kalimantan dan Sumatera/ Yang akhir Irian Jaya/ Itulah Indonesia. Guru mungkin mengajarkan sambil menunjuk peta Indonesia di dinding kelas.

Ada puisi bertema makanan berjudul “4 Sehat 5 Sempurna”. Dulu, propaganda pemerintah menginginkan jutaan orang sehat. Sekolah, puskemas, dan posyandu bertugas mengumumkan “4 sehat 5 sempurna” dengan poster atau pidato. Di TK, bocah-bocah menikmati puisi: Sayuran makanan yang bergizi/ Telur, daging, tempe dan tahu/ Jangan lupa buah dan nasi/ Ditambah dengan segelas susu. Masalah besar adalah susu dan buah. Di keluarga-keluarga miskin dan sederhana saat Orde Baru mementaskan muslihat kemakmuran, usaha mengadakan buah dan susu di atas meja itu sulit. Pengecualian di keluarga pejabat, pegawai, atau saudagar. Puisi agak memicu masalah imajinasi dan pengalaman bocah dari keluarga-keluarga miskin. 

Pada masa berbeda, institusi bahasa di naungan pemerintah ingin membuktikan melakukan kerja riset dan publikasi bertema sastra anak. Ikhtiar mengarah ke pendidikan-pengajaran sastra di sekolah. Buku mungkin ingin terbedakan dari selera kebijakan-kebijakan masa Orde Baru. Pada 2003, terbit buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak disusun oleh Suyono Suyatmo, Joko Adi Sasmito, dan Erli Yati. Mereka berpredikat pegawai bahasa di instansi pemerintah.

Kita membaca kutipan penjelasan pejabat dicantumkan di buku sepanjang dua halaman: “… Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia, secara berkesinambungan menggiatkan penelitian sastra dan penyusunan buku tentang sastra dengan mengolah hasil penelitian sastra lama dan modern ke dalam bentuk buku yang disesuaikan dengan keperluan masyarakat, misalnya penyediaan bacaan anak, baik untuk penulisan buku ajar maupun untuk keperluan pembelajaran apresiasi sastra. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka akan semakin mengenal bentuk keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.” Kalimat-kalimat khas pejabat tapi wajib ada dalam buku-buku jarang bermutu.

Buku ingin berfaedah tapi mengandung masalah. Tim memiliki dalil-dalil pemilihan puisi dalam apresiasi sastra untuk anak: “Puisi yang menampilkan hal-hal yang akrab dengan dunia anak-anak ataupun hal-hal lain yang bisa diterima oleh kalangan anak-anak; Puisi yang secara estetis cukup bernilai tinggi sehingga memperkenalkan dan mengakrabkan pembaca anak-anak pada puisi yang berkualitas.” Tim sudah bekerja keras dalam mencari sumber-sumber bacaan dan bermufakat dalam seleksi puisi. Semua disajikan di buku menantikan pendapat para pembaca.

Kita menduga tim sulit mencari buku-buku puisi (selera) anak sudah diterbitkan sejak masa kolonial sampai masa 1990-an. Dulu, ada puluhan buku cap Inpres adalah buku puisi, tak selalu novel atau kumpulan cerita. Majalah-majalah memuat puisi anak tercatat puluhan: Kunang-Kunang, Si Kuntjung, Gatotkaca, Taman Putra, Ananda, Kawanku, Bobo, dan lain. Koran-koran pun memiliki rubrik puisi anak. Tim sengaja membatasi pilihan sumber atau gagal dalam lacakan sumber.

Buku bermisi apresiasi sastra untuk anak itu malah membuat komposisi: 80% gubahan orang dewasa dan 20% gubahan anak. Kekagetan dalam daftar puisi gubahan kalangan dewasa. Di situ, anak-anak disuguhi puisi-puisi gubahan Amir Hamzah, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, Hammid Jabbar, A Mustofa Bisri, dan lain-lain. Pilihan itu berpengaruh dalam lomba-lomba membaca puisi untuk murid-murid SD. Mereka membacakan puisi-puisi gubahan orang dewasa dengan pengucapan dan gerak “dipaksa” dewasa. Keluguan dan keriangan anak terlalu cepat diselerakan dewasa. Panitia lomba atau dinas-dinas pendidikan tak terlalu mengurusi masalah kepantasan dan kenikmatan puisi-puisi bagi murid-murid SD.

Di situ, dimuat puisi berjudul “Nyanyian Preman” gubahan Rendra. Anak-anak membaca: Wajahku disabet angin jadi tembaga./ Ketombe di rambut, celana kusut./ Umurku ditelan jalan dalam kembara./ Impian di rumput cerita butut// TKW/ Susu macan./ Ijazah SD/ Pengalaman// Adresku pojokan jalan tapi merdeka./ Hidupku bersatu bersama rakyat./ Jiwaku menolak menjadi kuku garuda./ Hatiku setia meskipun cacat.// Kugenggam nasibku mantap tanpa sesalan./ Bapakku mentari bundaku jalan./ Hidupku berlangsung tanpa buku harian./ Berani konsekuen pertanda jantan. Pada masa Orde Baru, puisi itu pernah digarap menjadi lagu oleh Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, dan lain-lain. Kita mengandaikan saja guru dan murid membaca puisi Rendra sambil “kebingungan” dan sulit menuruti penasaran-penasaran mengacu ke situasi anak.

Buku itu terbit, tak diketahui diminati atau berpengaruh dalam pendidikan-pengajaran sastra anak. Kita mendingan menilik ulang masalah sastra anak. Sekian tahun, perbincangan atau ulasan sastra anak sering prosa ketimbang puisi. Penerbitkan buku-buku anak di Indonesia pun berlimpahan prosa. Burhan Nurgiyantoro dalam buku berjudul Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) menggunakan pelbagai referensi asing menjelaskan ulang: “Puisi anak juga memiliki karakteristik yang identik dengan sastra anak: pengungkapan sesuatu dari kacamata anak. Sebagaimana halnya dengan puisi dewasa, puisi anak juga ditulis dengan seleksi kata yang ketat, pendayaan metafora dan citraan untuk menggambarkan imajinasi, memori, dan emosi.”

Kita bakal bertele-tele memahami dan menambahi penjelasan untuk memasalahkan kehadiran puisi-puisi gubahan para penulis moncer dalam buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak. Kita semakin membuktikan sedikit buku mau berpihak ke puisi anak. Artikel dan buku membahas prosa anak sering terbaca, berbeda nasib dengan puisi. Begitu.   

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Marah: Cerita dan Berita

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Bocah itu sasaran marah. Album biografi memiliki bab-bab awal sebagai bocah dimarahi bapak atau ibu. Bocah mungkin bersalah diganjar marah. Bocah tak bersalah kadang terkena marah. Episode menjadi bocah sudah mengalami dan mencipta ingatan-ingatan marah. Pada saat “pementasan” kemarahan, bocah memilih diam, menangis, atau membalas dengan omelan-omelan. Marah itu peristiwa “dramatis” di pembentukan diri bersama keluarga, teman, guru, dan orang-orang pernah bersama si bocah membuat bab-bab biografis.

*) Bandung Mawardi, Esais.
Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Marah memiliki tata cara? Sekian orang menganggap marah tak memiliki kaidah dan urutan. Marah sering mendadak atau “meledak” dalam usaha memendam di hitungan detik, menit, jam, dan hari. Bahasa dan gerak saat marah dimiliki si pemarah tanpa wajib mengikuti petunjuk di sekolah, kursus, les, atau pelatihan secara “profesional”. Pemarah itu aktor. Ia pun mengumbar kata-kata sulit dipelajari melalui tata bahasa formal dan berpijak di kamus-kamus. Kata-kata dalam marah justru peristiwa bahasa mengejutkan tapi mendebarkan bila terduga berdampak fatal.

Kita ingin membaca (lagi) rekaman-rekaman marah dalam gubahan sastra. Pilihan memang mengandung imajinasi. Kita membaca dengan tokoh dan latar berbeda, menginginkan penemuan mutu atau selera marah. Kita mulai dengan buku cerita berjudul Tono dan Tini (1979) gubahan Annie MG Schmidt. Buku cerita disimak bocah-bocah di Belanda, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Alma Evita Almanar. Pada hari hujan, Tono dan Tini cuma bisa bermain di dalam rumah. Ibu Tono menganjurkan dua bocah itu menikmati waktu dengan menggunting gambar-gambar bagus di buku sudah tak dipakai. Gunting dan 3 buku diberikan ke mereka. Tono dan Tini senang menggunting beragam gambar.

Hujan belum reda, mereka masih ingin menggunting dan mengoleksi gambar. Tono melihat buku-buku di lemari koleksi bapak. Ia sengaja mengambil lagi buku-buku di bagian bawah. Tiga buku tadi sudah habis digunting. Mereka ingin buku-buku lagi, menambahi kegembiraan menggunting. Sekian buku menjadi sasaran penggutingan. Dua bocah girang dan saling pamer. Meni-menit berganti, bapak Tono datang tercengang. Tono dan Tini menggunting, kertas-kertas sisa guntingan dari buku-buku berserakan. Bapak marah melihat buku-buku penting ikut diguntingi. Bapak pun berteriak. Marah! Tono dan Tini berhenti, gunting lepas dari tangan. Pengarang menceritakan: “O, dia sangat marah! Alangkah marahnya dia!” Tono sedih sekali dimarahi. Pada malam hari, Tono tak dibacakan buku oleh bapak. Konon, Tono mendapat hukuman. Rumah memang tempat “pementasan” marah mungkin terjadi setiap hari. Tono mengerti berbuat salah. Marah itu memastikan pihak bersalah. Hukuman pun wajar.

Kita bergerak ke Tiongkok, membaca marah di keluarga miskin berlatar Revolusi Kebudayaan. Marah diceritakan dalam novel berjudul Kisah Seorang Pedagang Darah (2015) gubahan Yu Hua, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo. Kemarahan biasa terjadi setiap hari dengan pelbagai pemicu. Tiga bocah hidup dalam “roman” kemarahan dicipta bapak dan ibu. Marah mengartikan mengingatkan, mendidik, merendahkan, melukai, dan lain-lain. Tokoh bapak dalam novel memiliki kebiasaan marah dengan parade kata mengejutkan. Kita cuma membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia. Kemarahan bapak pada anak: “Kamu genjik cilik. Kamu telur kura-kura cilik… Suatu hari nanti kamu pasti bakal bikin aku mati marah-marah.” Kemarahan akibat makanan, sikap, pekerjaan, politik, atau asmara “diselenggarakan” di rumah. Sekian kata “aneh” itu mengesankan kemarahan memiliki referensi kata dan khazanah kata terwariskan. Pemarah bisa mengumbar kata-kata lugas atau sejenis metafora. Pembaca novel Yu Hua menemukan sekian “pementasan” kemarahan khas dalam kata.

Kita memiliki dua bacaan mengandung marah berasal dari Belanda dan Tiongkok. Kita menemukan tokoh bocah terkena marah. Kesalahan bocah mudah menghasilkan marah. Konon, orangtua berdalih marah untuk memberi “pelajaran” atau membuat si bocah kapok. Marah terasakan serbuan tanda seru. Suara keras, pilihan kata, dan wajah membuat marah itu “bermakna”. Marah itu “api”, “letusan”, “ledakan”, atau “gempuran”. Marah pun menerbitkan sumpah atau kata-kata bertuah “mengundang” petaka. Di hadapan buku cerita atau novel, kita belajar marah di pelbagai peradaban. Kita perlahan mengerti sejarah peradaban besar disahkan kemarahan-kemarahan. Arus peradaban di Yunani, India, Tiongkok, Persia, Mesir, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, dan lain-lain pasti memiliki bab-bab marah dengan daftar para tokoh kondang: raja, ratu, jenderal, pengarang, saudagar, filosof, seniman, buruh, dan lain-lain. Kemarahan melegenda dalam album peradaban dunia. Marah mengubah arah kekuasaan. Marah memicu duka dan darah dalam masalah agama. Marah pun bermula dari asmara membuat orang-orang bergelimpangan.

Novel penting bercerita marah digubah oleh Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart, diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Segalanya Berantakan (1986). Ungkapan dan dampak kemarahan dalam novel menguak sejarah rumit Afrika. Kehidupan suku guncang gara-gara kedatangan “orang kulit putih” membawa misi-misi besar: agama, bisnis, pendidikan, kekuasaan. Novel mengajak pembaca ke halaman-halaman bercerita antropologis. Kemarahan melanda keluarga-keluarga di suku mengakibatkan petaka-petaka. Pembaca mafhum “berantakan” bermula dari salah paham, penghinaan, pelanggaran, atau penindasan Marah dilancarkan sebagai konsekuensi melawan, balasa dendam, putus asa, dan lain-lain. Marah di Afrika itu menggerakkan sejarah: ditolak dan diterima. Buku sejarah sering memiliki halaman-halaman marah. “Berantakan” dari ratusan tahun lalu belum berakhir.

Kita sudah mengingat tiga buku, berusaha mengerti marah di Belanda, Tiongkok, dan Afrika. Buku-buku cerita tak bermaksud menjadi sumber pelajaran sejarah secara “resmi”. Kita membaca dan mengutip saja dalam membuka ingatan-ingatan kemarahan berlangsung di pelbagai negeri, dari masa ke masa. Kita sengaja belum ingin membaca buku-buku cerita gubahan pengarang Indonesia dalam menguak makna dan dampak marah. Buku-buku biar tetap tertutup, menunggu saat paling tepat untuk terbaca dengan tenang.

Konon, orang-orang Indonesia sedang dihebohkan kemarahan tokoh berdampak ke ikhtiar penanggulangan wabah dan pemulihan nasib Indonesia. Kemarahan itu anggaplah “resmi” berkaitan kekuasaan dan pemenuhan amanah sudah diberikan dalam tata cara berdemokrasi, sekian tahun lalu. Kita tak lagi berurusan dengan fiksi tapi fakta. Kemarahan itu ditonton jutaan orang, menimbulkan tafsir-tafsir mungkin memberi pujian atau ledekan. Kemarahan pun menjadi berita di koran-koran terbit 29 dan 30 Juni 2020. Kita pastikan membaca berita-berita, bukan cerita-cerita bergelimang imajinasi. Wabah belum rampung, kita sibuk “bergosip” dengan tema marah. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Emha, Satra dan Pengakuan

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi *)

Semula, orang-orang mengenali Emha Ainun Nadjib di sastra. Para pembaca majalah Horison masa lalu sering membaca puisi dan cerpen gubahan Emha Ainun Nadjib. Majalah itu tercatat dalam biografi tokoh telah menua. Kini, ia masih lantang saat omong dan sregep menulis. Leren atau tamat tak tercantum dalam “kamus” milik Emha Ainun Nadjib. Di toko buku, kita memastikan puluhan buku Emha Ainun Nadjib menggoda orang untuk membeli dan membaca. Buku lama cetak ulang. Buku baru pun terbit. Di situ, kita membaca nostalgia dan kecenderungan mutakhir ibadah keaksaraan Emha Ainun Nadjib dengan pelbagai ke-mbeling-an dan kesantunan.



Muhammad Ainun Nadjib (born 27 May 1953), best known as Emha Ainun Nadjib or Cak Nun, is an Indonesian poet, essayist, and humanist. Born in JombangEast Java, Nadjib began writing poetry while living in Yogyakarta, publishing his first collection in 1976. He became one of the city’s predominant poets by the late 1980s, and by then had also began writing essays. He is the leader of the Kiai Kanjeng group, which stages dramas and musical performances on religious themes. Early poems by Nadjib have elements of social criticism. However, more prominent are Islamic values, variously described as santri or Sufi. Islam is also a common subject for his essays. His writings have taken a variety of forms, including poetry, essays, novels, and short stories. (Wikipedia)

Keranjingan bersastra memiliki kaitan dengan Horison, sebelum Emha Ainun Nadjib sering menulis kolom di pelbagai koran dan majalah. Kita ingin menghormati Emha Ainun Nadjib saat ulang tahun dengan mengingat babak pergulatan dan pergaulan sastra masa lalu. Di Horison edisi Oktober 1991, kita simak hasil wawancara bersama Emha Ainun Nadjib. Ia tak melulu di sastra. Emha Ainun Nadjib terbukti mumpuni pula di teater dan musik. Ia rajin berceramah atau membuat obrolan-obrolan bertema agama di pelbagai tempat. Sastra mungkin masih pijakan atau titik mula.

Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu acara”. Sibuk! Ia kangen bersastra tapi harus berhitung dengan segala peristiwa dan perjumpaan manusia di keseharian. Ia mengaku ingin “menjadi sastrawan kembali”. Sulit! Kita simak perkataan Emha Ainun Nadjib berlatar 1980-an dan 1990-an: “Tapi sebenarnya bertahun-tahun saya hampir tak punya peluang bersastra-sastra ria. Artinya, ragam kegiatan saya yang ‘disusun’ oleh orang banyak kurang toleran terhadap berlangsungnya metabolisme kreativitas sastra saya.” Ia tak mengeluh atau pamer sesalan telah berada dan mengalami pelbagai peristiwa di luar sastra. Sekian kegiatan memang semakin jarang berkategori sastra. Emha Ainun Nadjib telah milik umat beragam tema, tak cuma sastra. Orang-orang memang mulai terpikat dan menganggap Emha Ainun Nadjib itu kolomnis tanpa tanding. Tulisan-tulisan menggairahkan opini publik bersikap atas keadaan aktual. Sastra masih disinggung tapi menipis.

Tarik-ulur dalam menempatkan diri untuk pergulatan keaksaraan dan omongan masa 1990-an memicu dilema. Emha Ainun Nadjib memilih berkelakar: “Yang menyangkut sastra adalah keinginan saya agar kelak saya sanggup merepresentasikannya melalui bahasa sastra. Tapi susah, ya? Sastrawan itu pasti kekasih gelap Tuhan, diizinkan dilalui oleh keindahan-Nya.” Sekian orang tetap membaca puisi-puisi gubahan Emha Ainun Nadjib terbit menjadi buku berjudul 99 Untuk TuhankuSyair Lautan JilbabSeribu Masjid Satu JumlahnyaCahaya Maha Cahaya, dan lain-lain. Di mata kalangan sastra, Emha Ainun Nadjib itu pujangga religius dengan memberi bobot kritik sosial dan sikap-sikap kemanusiaan. Ia tak perlu dipaksa masuk dalam kategori menghasilkan sastra sufistik, sastra profetik, atau sastra transendental.

Pada masa 1970-an dan 1980-an, diskusi sastra dan penulisan kritik sastra menempatkan para pujangga dan buku puisi dalam kategori-kategori mengarah ke keagamaan. Publik membaca dan memberi predikat pada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan lain-lain. Di pelbagai perbincangan sastra, nama Emha Ainun Nadjib mungkin disebut tapi ia perlahan tak terlalu “terpandang” dalam gejolak kesusastraan Indonesia. “Saya bukan apa-apa, belum ‘seseorang’ dalam dunia sastra Indonesia,” pengakuan Emha Ainun Nadjib.

Pendapat atau pengalaman bersastra Emha Ainun Nadjib selama sekian tahun terbit menjadi buku berjudul Sastra yang Membebaskan (1984). Buku kecil bekertas buram. Kita membaca (lagi) sebagai pembukti ingatan masa keranjingan bersastra, sebelum Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu peristiwa” dan harus “merebut” kewaktuan untuk sastra di masa 1990-an. Tulisan-tulisan dokumentatif dan menjelaskan posisi Emha Ainun Nadjib sebagai penggubah atau pengamat sastra.

Emha Ainun Nadjib menerangkan: “Sejak awal 1982, kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekadar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu pilah modern, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur modern, tumbuhnya solidaritas-solidaritas dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” Sastra “diwajibkan” terbuka, tak sendirian atau dalam pengistimewaan tanpa jamahan atau keterjalinan dengan hal-hal lain.  

Pada 2020, Emha masih menulis beragam tema. Wabah pasti dituliskan dengan kelenturan sikap dan acuan. Orang-orang merasa berhak memberi penghormatan meski tanpa acara besar dan menghebohkan. Situasi tak memungkinkan, Emha Ainun Nadjib mungkin tak menginginkan. Di hadapan kita, Emha Ainun Nadjib telah berubah menandai tua. Wajah itu masih ganteng dan berwibawa dengan sekian kerut. Ketuaan mustahil menghentikan ibadah menulis dan membuat obrolan-obrolan di seantero Indonesia. Ia belum letih. Emha Ainun Nadjib belum ringkih.

Kita mengingat masa muda bersatra di Jogjakarta melalui pengakuan Emha Ainun Nadjib: “Kompetisi yang ketat, suatu perjalanan penuh api, hidup koyak sekolah terbengkalai, hingga akhirnya tiba di sampai ke sampai, meskipun tak akan pernah selesai…. Di Pelopor Yogya ketika itu, suatu hari, puisiku tiba-tiba telah terpasang di ruang ‘Sabana’, suatu tempat tinggi yang di perasaanku waktu itu bagaikan di Arsy. Sesudah membeli sebiji koran itu rasanya ingin aku berlari ke setiap jakan dan gang-gang di kampung-kampung seluruh Jogjakarta untuk melaporkan puisiku.” Kegirangan seorang muda ingin mendapat tempat di sastra, setelah tekun belajar dan mendapat pengasuhan dari Umbu Landu Paranggi. Ia merasa sah sebagai pujangga.

Pulang ke Jombang, Emha Ainun Nadjib mengumumkan ke ibu mengenai puisi di Pelopor Yogya. Puisi tak setinggi pemaknaan bagi ibu dan keluarga. Emha Ainun Nadjib terkejut melakukan kesalahan dugaan dan pengukuran. Ia pun menceritakan pada kita: “Ibuku sama sekali tak terkejut. Bahkan tak sedikit pun ada perubahan di roman mukanya. Meskipun pancaran kasih sayangnya tak pernah berhenti mengalir, tapi aku tahu betul ‘Sabana’ itu tak berarti sama sekali bagi alam hidup pribadi ibuku. Segera sesudah itu aku pun makin melihat juga bahwa semua sahabatku di desa, orang-orang tua, seluruh anggota keluargaku, tidak bergeming oleh pameran itu. Mereka asing.” Emha Ainun Nadjib mulai berhitung ulang: diri, puisi, keluarga, agama, Indonesia, dan lain-lain. Puluhan tahun lalu, ia telanjur menjadi pujangga. Kini, kita tetap mengakui ia adalah pujangga, memberi puisi-puisi di arus penginsafan dan kesadaran mengarah ke religiusitas dan kemanusiaan. Begitu. (*)     

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending