© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

OLeh: Sabiq Carebesth*

Yogyakarta tahun 1974, bocah lelaki yang tengah menginjak dewasa itu mendengar suara-suara seperti jeritan, dan ia menulis sajaknya: Aku mendengar suara/ jerit hewan yang terluka../Orang-orang harus dibangunkan./Kesaksian harus diberikan. /Agar kehidupan terus terjaga…

Apa arti Rendra untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menentang dewa-dewa kekuasaan ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa suara protesnya yang bangkit puluhan tahun yang lalu di Halaman ITB (Institut Teknologi Bandung) 19 Agustus 1977 ketika membacakan puisinya “Sajak Sebatang Lisong”, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel. Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan zaman ini—jerit hewan yang terluka– masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian; seperti potret pembangunan dalam puisi (1993).

Rendra adalah realitas akbar yang mentransendensikan kemurnian masa kanak-kanak, intelektualitas dan pemberontakan kedalam entitas politis dan historis yang kita sebut bahasa; yang menjelma menjadi realiat dalam sajak, prosa dalam drama dan cerita pendek serta esainya dan terutama realitas dalam puisi Rendra. Membaca puisi Rendra adalah mendengar bunyi dari kalimat pemberontakan yang tak tersusun dengan bahasa; tetapi sebuah jeritan panjang ribuan hewan terluka dalam sukma kenangannya yang telah menjadi mistik bagi pemberontakan jiwanya; Aku mendengar jerit hewan yang terluka.

Sejak kumpulan sajaknya yang pertama “Ballada orang-orang Tercinta” pada 1957, nada dasar puisi Rendra sudah jelas: pemberontakan pada pengangkangan akal sehat dan kemanusiaan. Orang-orang tercinta itu adalah sosok-sosok wanita memelas menyedihkan, ditinggal, tak dimengerti, disakiti, difitnah; penderitaan yang dikenal penyair sebagai jerit hewan yang terluka; atau mereka yang berujud aktivis yang dihilangkan, perempuan Tionghoa yang diperkosa dalam tragedi, ataupun tawanan-tawanan dari musuh yang kejam, yang membutuhkan kesaksian penyair.

Sajak dan dramanya adalah kesaksian demi keselamatan kehidupan dan pemberontakan terhadap apa yang mengancam kepunahan kehidupan—itulah nada dasar dari sajak-sajak dan drama karya Rendra.

Maka sudah sejak semula ketika Rendra masih kanak-kanak di Solo, si bocah yang tengah menginjak dewasa ini lah yang bangkit, memberontak terhadap orang tuanya, melawan tekanan dari ayah, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, juga dramawan tradisional; (namun senantiasa ada Ibu yang pengampun dan setia dibelakangnya, Raden Ayu Catharina Ismadillah perempuan penari serimpi di keraton majapahit, sebagaimana tampak dalam puisinya “Sajak Ibunda”); tetapi si anak lelaki yang lahir pada 7 November 1935, kelana pengembara, betapa pun meluap rindu hatinya, tak mungkin kembali karena harga diri mencegah dia pulang ke rumah orang tuanya. Sejak itu ia harus menggenggam nasib ditangan sendiri dan tetangganya tak akan mengerti kenapa anak lelaki yang begitu manis dan baik bernama panjang Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang kemudian lebih akrab oleh teman-teman dekatnya dengan panggilan “Mas Willy” ini, tak pernah pulang kembali.

Sebuah sajak berjudul “rendra diares: lubang bahasa” yang ditulis penyair Afrizal Malna untuk Rendra mewakilakan atmosfir cerita itu dengan baik.“…seoarang ayah, dengan mata cemasnya, melihat anaknya berjalan di atas panggung. Melihat anaknya berjalan sebagai seorang penyair. Ayahnya menahan tangisnya. Dia tahu, seorang penyair hanya lahir dari sebuah atap kalimat yang terbakar. Ketika jeritan bahasa membuat sepasang lubang di matanya.”

***

Pada tahun 50-an, Rendra kemudian sangat dikenal masyarakat Solo karena puisi-puisinya di majalah Kisah, dan beberapa majalah lain di kawasan Joglosemar (Yogyakartam Solo, dan Semarang). Puisi-puisi ini kemudian dibukukan dalam antologi puisi “Balada Orang-Orang Tercinta” (1957).  Namun ketika lakon naskah teaternya “Orang-Orang di Tikungan Jalan” meraih hadiah pertama dalam lomba yang digelar Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Yogyakarta, masyarakat beralih mengenalnya sebagai seorang pekerja seni teater. Jadi siapakah Rendra?

  1. Teeuw, pengamat Sastra Indonesia dan sahabat karib Rendra, mengaku bertemu Rendra pertama kali di Yogyakarta pada usia Rendra yang ke 19, yaitu pada bulan November 1954. Saat itu Rendra adalah murid SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo, dan bagi A. Teeuw pertemuan kali itu dengan Rendra jauh dari mengesankan. Berbeda setahun kemudian ketika saya terkejut membaca sajak-sajak permulaannya yang dimuat dalam majalah sastra yang terpenting ketika itu di Ibukota Jakarta “Gelanggang”, lampiran Kebudayaan Mingguan Siasat—terutama sajak berjudul ’Tahanan’, yang mengisahkan hukuman mati bagi pejuang kemerdekaan.”Puisi itu benar-benar membukakan mata saya lebar-lebar.”

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. “Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.”

Alur cerita dari Rendra yang bebas dan pemberontak muncul lebih kuat ketika ia pada masa-masa awalnya di panggung teater bersama Umar Kayam, mementaskan repertoar “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy, Rendra mengatakan, “Wah saya malu. Ada hal-hal yang tidak mengenakkan saya, pertama, make-up itu dan menjadi orang lain itu. Kedua, layar yang harus dibuka dan ditutup itu.” (Rendra Berkisah Tentang Teaternya, 1983).

Semenjak itu Rendra menggagas kebaruan, menjauhi tradisi make-up, menjadi orang lain, maupun naik-turunnya layar. Lahirlah apa yang kemduian dikenal sebagai drama “mini kata” yang miskin dialog, menonjolkan aspek gerak, dan cenderung memberi ruang bagi beragam intrepretasi penontonnya.

Namun, sebagaimana lazimnya kebaruan gagasan, tak sama dengan kelahiran jabang bayi yang disambut dengan suka cita; kelahiran drama ala Rendra ditanggapi secara negatif. Almarhum Trisno Sumardjo pun meragukannya sebagai sebuah teater. Repertoar “Bip-Bop” oleh beberapa mahasiswa psikologi UI dianggap sebagai permainan orang gendheng, bahkan di Yogyakarta disambut dengan lemparan-lemparan batu.

Tahun-tahun kemudian lahirlah dari tangan Rendra muda “Sajak Malam Stanza”, juga sajak tentang perkawinan: ”Kakawin Kawin” yang menandai babak sajak Rendra yang lebih langsung kepada diri sendiri. Penemuan dirinya berkembang melalui bentuk lyris, dengan segala gapaian gelap dari bawah sadar, kecemasan pada maut, keterpencilan dan kesepian; juga penghayatannya yang ekstatis dari puncak-puncak eksistensi manusiawi tentang kebebasan. Tetapi mawas diri dan penemuan diri Rendra tidak pernah lepas dari kaitan dengan masyarakatnya, kaitan dunia dan kosmos, yang senantiasa menjiwai sajak-sajak Rendra sejak mulanya.

“Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kepadamu aku bertanya..?” (Sajak Sebatang Lisong)

Pemberontakan Rendra

Apa yang mengesakan dari Rendra adalah ia bersetia kepada dirinya sendiri. Ia tumbuh dan mengecap pengaruh dari sana-sini, ia mempunyai segi-segi dan saat-saat kelemahannya. Namun hampir setengah abad ini Rendra menjadi “ikon” utama perikemanusiaan di Indonesia. Dan “pemberontakan” bisa dikatakan sebagai tema dominan karyanya.

“Yang saya maksud dengan pemberontakan bukanlah pemberontak yang memperjuangkan kekuasaan pemerintahan atau lembaga lainnya. Pendeknya bukan mereka yang memberontak dengan orientasi politik atau kekuasaan. Melainkan mereka yang selalu memberontak terhadap keterbatasan keadaan dirinya. Jadi kaum pemberontak yang sejati akan mempunyai orientasi: mengulur batas-batas situasi manusia.” Demikian Rendra pernah menulis semasa hidupnya.

Dalam pengertian itu, Rendra sang penyair dan sang manusia adalah memang pemberontak; seorang yang selalu sibuk dengan melonggarkan kungkungan dan pembatasan-pembatasan keaadaan manusia, “dia ingin mengulurnya.”

Pemberontakan Rendra terus merangkak dari yang kedirian sampai kepada yang kemasyrakatan. Melibatkan kebebasan diri dalam solidaritas dengan sesama adalah politik kepenyairan Rendra.

Bagi Rendra, penghayatan eksistensi diri, kehidupan, masyarakat dan alam, kosmos dan Tuhan senantiasa merupakan suatu kesatuan. Tekanannya berbeda-beda dalam berbagai periode kehidupan Rendra, yang pasti pemutlakan dan pengisolasian aspek-aspek tersebut secara terpisah dalam kepenyairan Rendra adalah mustahil.

Sajak yang ditulisnya terutama sajak-sajak yang dibuat di Amerika dalam kumpulan “Blues untuk Bonnie” pada 1971 menkonfirmasi kemesraan yang kian mendalam dan menjadi satu dalam penghayatan lyris eksistensi Rendra  terutama lewat erotika, keterlibatan sosial serta kaitan kosmis. Inilah tahun-tahun yang menandai makin menguatnya pemberontakan Rendra, ia terus menggugat dan menyuarakan kesaksiannya.

Sajak berjudul Blues Untuk Bonnie sangat mengharukan, mengisahkan seorang negro tua dari Georgia yang menghabiskan sisa usinya dalam keadaan terasing dan terpencil dalam kesepian menyanyikan lagu-lagu di sebuh cafe di Boston: Sambil jari-jari galak gitarnya/ mencakar dan mencakar/menggaruki rasa gatal di sukmanya.

Namun dalam kurun yang sama tidak absen pula sajak-sajak cinta yang ekstatis, dimana keterhanyutan menemukan ekspresinya dalam simbol-simbol kosmis: “Kupanggili Namamu”: Sambil terus memanggili namamu/amarah pemberontakanku yang suci/bangkit dengan perkasa malam ini. Juga dalam sajak “Suto untuk fatimah”: duapuluh tiga matahari/bangkit dari pundakmu/tubuhmu menguapkan bau tanah/dan menyalalah sukmaku.

Dari Yogyakarta ke Amerika

Rendra yang gemar mendetakkan jantung moral generasinya, juga pernah berada pada fase saat jiwanya yang tadinya luhur jadi lunglai, bermuram durja dan terasing.

Perjalanannya ke beberapa negara di komunis (USSR, Cina dan Korea Utara) dalam tahun 1957, ternyata tidak meninggalkan bekas-bekas positif, baik pada puisi mau pun kegiatan kemasyarakatannya. Hal yang sama sekali berbeda dengan milsanya Sitor Sitomorang, yang sesudah suatu perjalanan ke Peking di tahun 1961, telah menungakan kesan-kesan dan emosi yang didapatnya di sana ke dalam sajak-sajak. Pada Rendra, dalam kumpulannya ”sajak-sajak sepatu tua”, 1972, kita tak menemukan gambaran dunia tersebut, melainkan dunia penyairnya sendiri yang terasing dalam suasana itu.

Pukulan batin yang pertama melandanya terjadi tahun 60-an awal. Saat itu, Lekra yang tengah menguasai ruang kebudayaan Indonesia kurang simpatik kepada gaya soliter Rendra, tak pelak serangan dan kritik tajam kepada Rendra sampai membuatnya tak bisa menulis dan tentu saja tidak punya uang. Padahal, saat itu, ia sudah memiliki tiga orang anak.

Untung, waktu itu juga, antara lain berkat bantuan Ipe Ma’ruf, Rendra yang rupanya lulusan Jurusan Sastra Inggris bisa mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967) ke Amerika dan dibolehkan membawa keluarga ke negeri Paman Sam ini. “Wah uang saya banyak, sebab saya bukan dihitung sebagai mahasiswa, tetapi sebagai penyair” ujarnya girang.

Di Amerika Rendra bertahan sampai tiga tahun, tetapi juga di sana ia merasa seperti seorang yang terpencil, berdiri dipinggiran kebudayaan resmi, ikut terlibat dalam subkultur artistik Greenwich Village. Potret dirinya yang dia kirimkan kepada sahabat karibnya AA. Teuw, menunjukan ia seorang diri di pojok bus Greyhound yang besar, laksana burung kecil yang sedang sakit dalam kurungan besar mengandung cerita berjilid-jilid. Dan ketika ia kembali ke Yogyakarta, Rendra yakin sekali apa yang dia inginkan dan apa yang harus dilakukan “kesaksian yang harus diberikan.” Demikian kata Rendra, “Indonesia harus kembali pada dirinya sendiri”.

Tahun sekitar 1968 itu Rendra tercatat menulis pula sajak-sajak yang berlatar Indonesia dan telah mengejutkan publik Indonesia lewat publikasi pertamanya sepulang dari Amerika. “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”, “Pesan Pencopet pada Pacarnya, dan yang terutama “Nyanyian Angsa.”

Maka kendati terombang-ambing oleh suatu kurun yang tak menentu dari Surakarta, Yogyakarta sampai Amerika, benang merah kesenian Rendra tak pernah putus, kesaksian; dengan memperdengarkan pertanda-pertanda; tidak untuk membawakan pemecahan politik, namun untuk menunjukan jalan kearah pengertian dan harmoni. Hal yang tampak nyata dalam tokoh Jose Karosta, sang penyair dalam drama “Mastadon dan Burung Kondor” 1973. Dari drama inilah asal nyanyian “Sajak Burung-Burung Kondor” yang terkenal itu lahir; Burung-Burung Kondor itu sebagai roh-roh bangsa yang menderita, yang di malam hari menjauhkan diri ke atas gunung, mencari sepi dan mendapat hiburan darinya—“Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati.”

Maka bagi Rendra, penemuan diri sendiri, pengenalan kembali diri, penghayatan dan ekspresi diri sebagai manusia-manusia pribadi, dengan kebebasannya masing-masing, namun senantiasa dalam solidaritas sosial dan kosmis yang besar dengan seluruh ciptaan adalah mimpi besar kesenian Rendra.

Dan bengkel teater di Yogyakarta yang ia dirikan sepulang dari Amerika, ia tujukan tidak lain untuk membantu bangsa Indonesia sampai kepada kesadaran diri seperti dikatakannya. Pementasan drama “Kisah Perjuangan Suku Naga” (1975) yang begitu pedas menkritik penguasa saat itu oleh korupsi dan dana pembangunan yang justeru menyengsarakan adalah salah satu puncak ekspresi kesaksian Rendra. Tak pelak radar “pembredelan” Orde Baru melanda sampai ke Citayem, markas Bengkel Teater Rendra. Maka Sejak tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya, “Yang Muda Yang Bercinta” ia dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Tapi Rendra tetaplah Rendra sang seniman dan sang pemberontak; menutup malam pidato penerimaan penghargaan dari Akademi Jakarta dengan keyakinan yang disuarakanya: Kemarin dan esok/adalah hari ini/Bencana dan keberuntungan/sama saja..

Narti dan “Tuhan Aku Cinta Padamu”

Badai kekuasaan kian keras menghantam karang jiwa Rendra yang telah memliki nama baru setelah ia menjadi seorang muslim; Wahyu Sulaiman Rendra, nama yang sempat dipakainya untuk sebuah karangan buku drama untuk remaja berjudul “Seni Drama Untuk Remaja”. Semenjak itu ia lebih sering menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja terutama sejak 1975.

Tahun 1981 adalah tahun yang tak kalah berat bagi kehidupan Rendra, saat itu ia tidak dibenarkan mementaskan Lysistrata, padahal persiapannya sudah final. Peristiwa tahun 1981 itu sempat membuat dia frustrasi berat selama enam bulan. Ia nyaris lumpuh, kakinya kejang, tak bisa tidur, dan kulitnya mengelupas halus. “Menyebut Allah saja, mulut saya mengelurkan darah. Begitu juga menulis bismillah, dan apa saja, mulut saya mengeluarkan darah,” cerita Rendra.

Berbagai upaya pengobatan tak menyembuhkan sakitnya. Selama sakit itulah, dia dijaga siang malam oleh anggota Bengkel Teater dan sejumlah kerabat. Berkat bantuan seorang kenalan lama, dia kembali teringat meditasi. Tanpa buang waktu lagi, dia melakukan meditasi dan berhasil menghilangkan frustrasinya. “Masa saya begini hancur. Lalu saya coba menulis Allah, bismilah. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar kembali”.

Kupanggil kamu, kekasihku/ kubutuhkan kamu di meja makanku/ duduk di sisi dukaku/
membelai luka-luka dalam jiwa, Rendra, tentu saja tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan istri tercintanya, Sunarti.

Sunarti, perempuan yang dinikahi Rendra pada 31 Maret 1959 di Gereja Bintaran Yogyakarta ketika Rendra berumur 24 tahun. Sayang sekali, hidup perkawinan mereka kemudian berantakan sesudah sempat membuahkan lima anak; Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Kemelut belum muncul sewaktu Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat hadir di tengah kehidupan mereka, bahkan Sunarti Suwandi dengan kebesaran jiwanya menemani Rendra melamar Raden Ayu Sitoresmi. Pada 12 Agustus 1970 Perkawinan keduanya dengan putri darah biru Keraton Yogyakarta itu pun berlangsung. Sastrawan senior Indonesia Taufik Ismail dan Ajip Rosidi hadir menjadi saksi perkawainan Rendra dengan Sito dan dengan keyakinan spritual baru Rendra sebagai seorang muslim.

Banyak yang mencibir hanya karena Sito Rendra menjadi muslim, tapi Rendra mencari Tuhan sepanjang hidupnya, mulai dari tiduran sampai berjongkok, mulai menggumam sampai berkumur akhirnya bersandar pada takbir. “Aku telah berhaji, aku menemukan Tuhan!” kata Rendra sepulang dari naik Haji. Tapi sepulangnya berhaji sebenarnaya tidak banyak yang berubah, Rendra tetap muslim abangan pada umumnya, tapi semenjak itu di padepokan Bengkel Teater tak lagi boleh “nyimeng”, dan tentunya tidak boleh “ngebir”.

Tapi Rendra adalah Rendra, bagi sahabat dekatnya, Rendra sungguh bertemu Tuhannya, teman-teman dekatnya seperti Emha Ainun Nadjib melihat itu dengan jelas. Rendra bahagia menjadi seorang muslim, dan kemudian sedikit tumpul sebagai penyair, bukan Islam yang membuatnya lembut tapi kebijaksanaan telah menghampirinya. Karyanya tidak lagi meradang dan penuh amarah, karyanya berisi ilmu yang menyejukkan. Kontemplasinya berbuah kata mutiara, mata pisaunya berkilat dalam suci, dalam nafas Illahi dan dalam kesendirian dunia.

Pergolakan batin dalam ekstase kehidupan Rendra menemu juga ujinya, bahtera perkawinan Sunarti dengan Rendra ternyata tak bisa lagi  dipertahankan ketika si burung merak (juga) menikahi Ken Zuraida; istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Mikriam Supraba.

Pernikahan dengan Ken Zuraida harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981. Kurun waktu yang jelas tak mudah bagi burung merak, pada saat itu hanya Tuhan yang bisa menenangkan sukmanya. Rendra mengaku saat bersama Ken Zuraida membawa pula ia lebih dekat pada jalan ketakwaan kepada Allah. Saat yang sejurus kemudian ia bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa. Kalimat dari sajaknya yang kini seperti menjadi idiom wajib bagi jiwa muda gelisah nan pemberontak; Kesadaran adalah matahari/Kesabaran adalah bumi/Keberanian menjadi cakrawala/Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata./ lahir pada kurun tersebut, 1984.

Burung Merak Yang Sederhana

Gelar Burung Merak yang sohor atasnya diberikan kepada Rendra tak lama setelah ia menikah dengan Ken Zuraida. Saat itu ia sedang mengajak berlibur sahabatnya dari Australia di kebun binatang Gembira Loka Yogyakarta, ia melihat seekor burung Merak jantan diikuti oleh dua betina. Ia ngakak sambil berkata “itu Rendra..” – dan sejak itu ia sohor dengan nama “Burung Merak”.

Burung Merak yang tak mewah, bahkan sangat sederhana dan kerap juga menderita.Saya dididik keras untuk hidup sederhana. Selain itu, ibu saya senantiasa mengajarkan saya agar tahan menderita,” tutur Rendra semasa hidupnya.

Demikian lah Rendra, sejak menginjak dewasa sampai tua, tidak pernah punya tempat tidur. Dia hanya tidur beralaskan tikar. Meja tulis saja, baru dimilikinya setelah diberi oleh Hariman Siregar. Bahkan menjelang wafatnya, penyair sebesar Rendra kepada karibnya Emha Ainun Najib curhat ingin punya mobil Innova, hal yang tak pernah kesampaian sampai baris puisi terakhir yang ditulisanya pada 31 July 2009 di Rumah sakit Mitra Keluarga, “Tuhan aku cinta padamu.”  Puisi untuk terakhir kalinya itu tak sempat lagi terdengar seperti gelegar suara Rendra yang biasanya, sebab hari itu 6 Agustus 2009 Rendra meninggalkan Indonesia Raya menuju Tuhannya diusia ke 73 tahun.

Sepotong sajak Rendra tentang Ronin (samurai yang menganggur): “Akulah ronin yang mengembara/Air sawah minumanku/Dingin malam selimutku/Aku setia mengunjungimu” –sajak yang tidak pernah didokumentasikan, kecuali oleh Danarto, telah secara gamblang menampilkan sosok Si Burung Merak, seniman besar Indonesia yang merdeka yang tetap setia mengunjungi masyarakat Indonesia, mengabarkan kemerdekaan berpikir, berkehendak, dan melakukan segala sesuatu.

Rendra, aku menunggumu, di awal musim dingin, yang membuat November berwarna putih. Kita berjanji, tidak membawa Hamlet dan Amangkurat ke pesta itu. Pesta yang penuh dengan bau tangan ibumu.[]

**Sabiq Carebesth, Pecinta Puisi, Penulis Buku “Memoar Kehilangan” (2012). Editor in Chief Galeri Buku Jakarta. Twitter @sabiqcarebesth

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT