Connect with us

Inspirasi

Merenda Rendra

mm

Published

on

Yogyakarta tahun 1974, bocah lelaki yang tengah menginjak dewasa itu mendengar suara-suara seperti jeritan, dan ia menulis sajaknya: Aku mendengar suara/ jerit hewan yang terluka../Orang-orang harus dibangunkan./Kesaksian harus diberikan. /Agar kehidupan terus terjaga..

Apa arti Rendra untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menentang dewa-dewa kekuasaan ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa suara protesnya yang bangkit puluhan tahun yang lalu di Halaman ITB (Institut Teknologi Bandung) 19 Agustus 1977 ketika membacakan puisinya “Sajak Sebatang Lisong”, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel. Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan zaman ini—jerit hewan yang terluka– masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian; seperti potret pembangunan dalam puisi (1993).

Rendra adalah realitas akbar yang mentransendensikan kemurnian masa kanak-kanak, intelektualitas dan pemberontakan kedalam entitas politis dan historis yang kita sebut bahasa; yang menjelma menjadi realiat dalam sajak, prosa dalam drama dan cerita pendek serta esainya dan terutama realitas dalam puisi Rendra. Membaca puisi Rendra adalah mendengar bunyi dari kalimat pemberontakan yang tak tersusun dengan bahasa; tetapi sebuah jeritan panjang ribuan hewan terluka dalam sukma kenangannya yang telah menjadi mistik bagi pemberontakan jiwanya; Aku mendengar jerit hewan yang terluka.

Sejak kumpulan sajaknya yang pertama “Ballada orang-orang Tercinta” pada 1957, nada dasar puisi Rendra sudah jelas: pemberontakan pada pengangkangan akal sehat dan kemanusiaan. Orang-orang tercinta itu adalah sosok-sosok wanita memelas menyedihkan, ditinggal, tak dimengerti, disakiti, difitnah; penderitaan yang dikenal penyair sebagai jerit hewan yang terluka; atau mereka yang berujud aktivis yang dihilangkan, perempuan Tionghoa yang diperkosa dalam tragedi, ataupun tawanan-tawanan dari musuh yang kejam, yang membutuhkan kesaksian penyair.

Sajak dan dramanya adalah kesaksian demi keselamatan kehidupan dan pemberontakan terhadap apa yang mengancam kepunahan kehidupan—itulah nada dasar dari sajak-sajak dan drama karya Rendra.

Maka sudah sejak semula ketika Rendra masih kanak-kanak di Solo, si bocah yang tengah menginjak dewasa ini lah yang bangkit, memberontak terhadap orang tuanya, melawan tekanan dari ayah, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, juga dramawan tradisional; (namun senantiasa ada Ibu yang pengampun dan setia dibelakangnya, Raden Ayu Catharina Ismadillah perempuan penari serimpi di keraton majapahit, sebagaimana tampak dalam puisinya “Sajak Ibunda”); tetapi si anak lelaki yang lahir pada 7 November 1935, kelana pengembara, betapa pun meluap rindu hatinya, tak mungkin kembali karena harga diri mencegah dia pulang ke rumah orang tuanya. Sejak itu ia harus menggenggam nasib ditangan sendiri dan tetangganya tak akan mengerti kenapa anak lelaki yang begitu manis dan baik bernama panjang Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang kemudian lebih akrab oleh teman-teman dekatnya dengan panggilan “Mas Willy” ini, tak pernah pulang kembali.

Sebuah sajak berjudul “rendra diares: lubang bahasa” yang ditulis penyair Afrizal Malna untuk Rendra mewakilakan atmosfir cerita itu dengan baik.“…seoarang ayah, dengan mata cemasnya, melihat anaknya berjalan di atas panggung. Melihat anaknya berjalan sebagai seorang penyair. Ayahnya menahan tangisnya. Dia tahu, seorang penyair hanya lahir dari sebuah atap kalimat yang terbakar. Ketika jeritan bahasa membuat sepasang lubang di matanya.”

***

Pada tahun 50-an, Rendra kemudian sangat dikenal masyarakat Solo karena puisi-puisinya di majalah Kisah, dan beberapa majalah lain di kawasan Joglosemar (Yogyakartam Solo, dan Semarang). Puisi-puisi ini kemudian dibukukan dalam antologi puisi “Balada Orang-Orang Tercinta” (1957).  Namun ketika lakon naskah teaternya “Orang-Orang di Tikungan Jalan” meraih hadiah pertama dalam lomba yang digelar Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Yogyakarta, masyarakat beralih mengenalnya sebagai seorang pekerja seni teater. Jadi siapakah Rendra?

Teeuw, pengamat Sastra Indonesia dan sahabat karib Rendra, mengaku bertemu Rendra pertama kali di Yogyakarta pada usia Rendra yang ke 19, yaitu pada bulan November 1954. Saat itu Rendra adalah murid SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo, dan bagi A. Teeuw pertemuan kali itu dengan Rendra jauh dari mengesankan. Berbeda setahun kemudian ketika saya terkejut membaca sajak-sajak permulaannya yang dimuat dalam majalah sastra yang terpenting ketika itu di Ibukota Jakarta “Gelanggang”, lampiran Kebudayaan Mingguan Siasat—terutama sajak berjudul ’Tahanan’, yang mengisahkan hukuman mati bagi pejuang kemerdekaan.”Puisi itu benar-benar membukakan mata saya lebar-lebar.”

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. “Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.”

Alur cerita dari Rendra yang bebas dan pemberontak muncul lebih kuat ketika ia pada masa-masa awalnya di panggung teater bersama Umar Kayam, mementaskan repertoar “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy, Rendra mengatakan, “Wah saya malu. Ada hal-hal yang tidak mengenakkan saya, pertama, make-up itu dan menjadi orang lain itu. Kedua, layar yang harus dibuka dan ditutup itu.” (Rendra Berkisah Tentang Teaternya, 1983).

Semenjak itu Rendra menggagas kebaruan, menjauhi tradisi make-up, menjadi orang lain, maupun naik-turunnya layar. Lahirlah apa yang kemduian dikenal sebagai drama “mini kata” yang miskin dialog, menonjolkan aspek gerak, dan cenderung memberi ruang bagi beragam intrepretasi penontonnya.

Namun, sebagaimana lazimnya kebaruan gagasan, tak sama dengan kelahiran jabang bayi yang disambut dengan suka cita; kelahiran drama ala Rendra ditanggapi secara negatif. Almarhum Trisno Sumardjo pun meragukannya sebagai sebuah teater. Repertoar “Bip-Bop” oleh beberapa mahasiswa psikologi UI dianggap sebagai permainan orang gendheng, bahkan di Yogyakarta disambut dengan lemparan-lemparan batu.

Tahun-tahun kemudian lahirlah dari tangan Rendra muda “Sajak Malam Stanza”, juga sajak tentang perkawinan: ”Kakawin Kawin” yang menandai babak sajak Rendra yang lebih langsung kepada diri sendiri. Penemuan dirinya berkembang melalui bentuk lyris, dengan segala gapaian gelap dari bawah sadar, kecemasan pada maut, keterpencilan dan kesepian; juga penghayatannya yang ekstatis dari puncak-puncak eksistensi manusiawi tentang kebebasan. Tetapi mawas diri dan penemuan diri Rendra tidak pernah lepas dari kaitan dengan masyarakatnya, kaitan dunia dan kosmos, yang senantiasa menjiwai sajak-sajak Rendra sejak mulanya.

“Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kepadamu aku bertanya..?” (Sajak Sebatang Lisong)

Pemberontakan Rendra

Apa yang mengesakan dari Rendra adalah ia bersetia kepada dirinya sendiri. Ia tumbuh dan mengecap pengaruh dari sana-sini, ia mempunyai segi-segi dan saat-saat kelemahannya. Namun hampir setengah abad ini Rendra menjadi “ikon” utama perikemanusiaan di Indonesia. Dan “pemberontakan” bisa dikatakan sebagai tema dominan karyanya.

“Yang saya maksud dengan pemberontakan bukanlah pemberontak yang memperjuangkan kekuasaan pemerintahan atau lembaga lainnya. Pendeknya bukan mereka yang memberontak dengan orientasi politik atau kekuasaan. Melainkan mereka yang selalu memberontak terhadap keterbatasan keadaan dirinya. Jadi kaum pemberontak yang sejati akan mempunyai orientasi: mengulur batas-batas situasi manusia.” Demikian Rendra pernah menulis semasa hidupnya.

Dalam pengertian itu, Rendra sang penyair dan sang manusia adalah memang pemberontak; seorang yang selalu sibuk dengan melonggarkan kungkungan dan pembatasan-pembatasan keaadaan manusia, “dia ingin mengulurnya.”

Pemberontakan Rendra terus merangkak dari yang kedirian sampai kepada yang kemasyrakatan. Melibatkan kebebasan diri dalam solidaritas dengan sesama adalah politik kepenyairan Rendra.

Bagi Rendra, penghayatan eksistensi diri, kehidupan, masyarakat dan alam, kosmos dan Tuhan senantiasa merupakan suatu kesatuan. Tekanannya berbeda-beda dalam berbagai periode kehidupan Rendra, yang pasti pemutlakan dan pengisolasian aspek-aspek tersebut secara terpisah dalam kepenyairan Rendra adalah mustahil.

Sajak yang ditulisnya terutama sajak-sajak yang dibuat di Amerika dalam kumpulan “Blues untuk Bonnie” pada 1971 menkonfirmasi kemesraan yang kian mendalam dan menjadi satu dalam penghayatan lyris eksistensi Rendra  terutama lewat erotika, keterlibatan sosial serta kaitan kosmis. Inilah tahun-tahun yang menandai makin menguatnya pemberontakan Rendra, ia terus menggugat dan menyuarakan kesaksiannya.

Sajak berjudul Blues Untuk Bonnie sangat mengharukan, mengisahkan seorang negro tua dari Georgia yang menghabiskan sisa usinya dalam keadaan terasing dan terpencil dalam kesepian menyanyikan lagu-lagu di sebuh cafe di Boston: Sambil jari-jari galak gitarnya/ mencakar dan mencakar/menggaruki rasa gatal di sukmanya.

Namun dalam kurun yang sama tidak absen pula sajak-sajak cinta yang ekstatis, dimana keterhanyutan menemukan ekspresinya dalam simbol-simbol kosmis: “Kupanggili Namamu”: Sambil terus memanggili namamu/amarah pemberontakanku yang suci/bangkit dengan perkasa malam ini. Juga dalam sajak “Suto untuk fatimah”: duapuluh tiga matahari/bangkit dari pundakmu/tubuhmu menguapkan bau tanah/dan menyalalah sukmaku.

Dari Yogyakarta ke Amerika

Rendra yang gemar mendetakkan jantung moral generasinya, juga pernah berada pada fase saat jiwanya yang tadinya luhur jadi lunglai, bermuram durja dan terasing.

Perjalanannya ke beberapa negara di komunis (USSR, Cina dan Korea Utara) dalam tahun 1957, ternyata tidak meninggalkan bekas-bekas positif, baik pada puisi mau pun kegiatan kemasyarakatannya. Hal yang sama sekali berbeda dengan milsanya Sitor Sitomorang, yang sesudah suatu perjalanan ke Peking di tahun 1961, telah menungakan kesan-kesan dan emosi yang didapatnya di sana ke dalam sajak-sajak. Pada Rendra, dalam kumpulannya ”sajak-sajak sepatu tua”, 1972, kita tak menemukan gambaran dunia tersebut, melainkan dunia penyairnya sendiri yang terasing dalam suasana itu.

Pukulan batin yang pertama melandanya terjadi tahun 60-an awal. Saat itu, Lekra yang tengah menguasai ruang kebudayaan Indonesia kurang simpatik kepada gaya soliter Rendra, tak pelak serangan dan kritik tajam kepada Rendra sampai membuatnya tak bisa menulis dan tentu saja tidak punya uang. Padahal, saat itu, ia sudah memiliki tiga orang anak.

Untung, waktu itu juga, antara lain berkat bantuan Ipe Ma’ruf, Rendra yang rupanya lulusan Jurusan Sastra Inggris bisa mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967) ke Amerika dan dibolehkan membawa keluarga ke negeri Paman Sam ini. “Wah uang saya banyak, sebab saya bukan dihitung sebagai mahasiswa, tetapi sebagai penyair” ujarnya girang.

Di Amerika Rendra bertahan sampai tiga tahun, tetapi juga di sana ia merasa seperti seorang yang terpencil, berdiri dipinggiran kebudayaan resmi, ikut terlibat dalam subkultur artistik Greenwich Village. Potret dirinya yang dia kirimkan kepada sahabat karibnya AA. Teuw, menunjukan ia seorang diri di pojok bus Greyhound yang besar, laksana burung kecil yang sedang sakit dalam kurungan besar mengandung cerita berjilid-jilid. Dan ketika ia kembali ke Yogyakarta, Rendra yakin sekali apa yang dia inginkan dan apa yang harus dilakukan “kesaksian yang harus diberikan.” Demikian kata Rendra, “Indonesia harus kembali pada dirinya sendiri”.

Tahun sekitar 1968 itu Rendra tercatat menulis pula sajak-sajak yang berlatar Indonesia dan telah mengejutkan publik Indonesia lewat publikasi pertamanya sepulang dari Amerika. “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”, “Pesan Pencopet pada Pacarnya, dan yang terutama “Nyanyian Angsa.”

Maka kendati terombang-ambing oleh suatu kurun yang tak menentu dari Surakarta, Yogyakarta sampai Amerika, benang merah kesenian Rendra tak pernah putus, kesaksian; dengan memperdengarkan pertanda-pertanda; tidak untuk membawakan pemecahan politik, namun untuk menunjukan jalan kearah pengertian dan harmoni. Hal yang tampak nyata dalam tokoh Jose Karosta, sang penyair dalam drama “Mastadon dan Burung Kondor” 1973. Dari drama inilah asal nyanyian “Sajak Burung-Burung Kondor” yang terkenal itu lahir; Burung-Burung Kondor itu sebagai roh-roh bangsa yang menderita, yang di malam hari menjauhkan diri ke atas gunung, mencari sepi dan mendapat hiburan darinya—“Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati.”

Maka bagi Rendra, penemuan diri sendiri, pengenalan kembali diri, penghayatan dan ekspresi diri sebagai manusia-manusia pribadi, dengan kebebasannya masing-masing, namun senantiasa dalam solidaritas sosial dan kosmis yang besar dengan seluruh ciptaan adalah mimpi besar kesenian Rendra.

Dan bengkel teater di Yogyakarta yang ia dirikan sepulang dari Amerika, ia tujukan tidak lain untuk membantu bangsa Indonesia sampai kepada kesadaran diri seperti dikatakannya. Pementasan drama “Kisah Perjuangan Suku Naga” (1975) yang begitu pedas menkritik penguasa saat itu oleh korupsi dan dana pembangunan yang justeru menyengsarakan adalah salah satu puncak ekspresi kesaksian Rendra. Tak pelak radar “pembredelan” Orde Baru melanda sampai ke Citayem, markas Bengkel Teater Rendra. Maka Sejak tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya, “Yang Muda Yang Bercinta” ia dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Tapi Rendra tetaplah Rendra sang seniman dan sang pemberontak; menutup malam pidato penerimaan penghargaan dari Akademi Jakarta dengan keyakinan yang disuarakanya: Kemarin dan esok/adalah hari ini/Bencana dan keberuntungan/sama saja..

Narti dan “Tuhan Aku Cinta Padamu”

Badai kekuasaan kian keras menghantam karang jiwa Rendra yang telah memliki nama baru setelah ia menjadi seorang muslim; Wahyu Sulaiman Rendra, nama yang sempat dipakainya untuk sebuah karangan buku drama untuk remaja berjudul “Seni Drama Untuk Remaja”. Semenjak itu ia lebih sering menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja terutama sejak 1975.

Tahun 1981 adalah tahun yang tak kalah berat bagi kehidupan Rendra, saat itu ia tidak dibenarkan mementaskan Lysistrata, padahal persiapannya sudah final. Peristiwa tahun 1981 itu sempat membuat dia frustrasi berat selama enam bulan. Ia nyaris lumpuh, kakinya kejang, tak bisa tidur, dan kulitnya mengelupas halus. “Menyebut Allah saja, mulut saya mengelurkan darah. Begitu juga menulis bismillah, dan apa saja, mulut saya mengeluarkan darah,” cerita Rendra.

Berbagai upaya pengobatan tak menyembuhkan sakitnya. Selama sakit itulah, dia dijaga siang malam oleh anggota Bengkel Teater dan sejumlah kerabat. Berkat bantuan seorang kenalan lama, dia kembali teringat meditasi. Tanpa buang waktu lagi, dia melakukan meditasi dan berhasil menghilangkan frustrasinya. “Masa saya begini hancur. Lalu saya coba menulis Allah, bismilah. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar kembali”.

Kupanggil kamu, kekasihku/ kubutuhkan kamu di meja makanku/ duduk di sisi dukaku/
membelai luka-luka dalam jiwa, Rendra, tentu saja tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan istri tercintanya, Sunarti.

Sunarti, perempuan yang dinikahi Rendra pada 31 Maret 1959 di Gereja Bintaran Yogyakarta ketika Rendra berumur 24 tahun. Sayang sekali, hidup perkawinan mereka kemudian berantakan sesudah sempat membuahkan lima anak; Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Kemelut belum muncul sewaktu Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat hadir di tengah kehidupan mereka, bahkan Sunarti Suwandi dengan kebesaran jiwanya menemani Rendra melamar Raden Ayu Sitoresmi. Pada 12 Agustus 1970 Perkawinan keduanya dengan putri darah biru Keraton Yogyakarta itu pun berlangsung. Sastrawan senior Indonesia Taufik Ismail dan Ajip Rosidi hadir menjadi saksi perkawainan Rendra dengan Sito dan dengan keyakinan spritual baru Rendra sebagai seorang muslim.

Banyak yang mencibir hanya karena Sito Rendra menjadi muslim, tapi Rendra mencari Tuhan sepanjang hidupnya, mulai dari tiduran sampai berjongkok, mulai menggumam sampai berkumur akhirnya bersandar pada takbir. “Aku telah berhaji, aku menemukan Tuhan!” kata Rendra sepulang dari naik Haji. Tapi sepulangnya berhaji sebenarnaya tidak banyak yang berubah, Rendra tetap muslim abangan pada umumnya, tapi semenjak itu di padepokan Bengkel Teater tak lagi boleh “nyimeng”, dan tentunya tidak boleh “ngebir”.

Tapi Rendra adalah Rendra, bagi sahabat dekatnya, Rendra sungguh bertemu Tuhannya, teman-teman dekatnya seperti Emha Ainun Nadjib melihat itu dengan jelas. Rendra bahagia menjadi seorang muslim, dan kemudian sedikit tumpul sebagai penyair, bukan Islam yang membuatnya lembut tapi kebijaksanaan telah menghampirinya. Karyanya tidak lagi meradang dan penuh amarah, karyanya berisi ilmu yang menyejukkan. Kontemplasinya berbuah kata mutiara, mata pisaunya berkilat dalam suci, dalam nafas Illahi dan dalam kesendirian dunia.

Pergolakan batin dalam ekstase kehidupan Rendra menemu juga ujinya, bahtera perkawinan Sunarti dengan Rendra ternyata tak bisa lagi  dipertahankan ketika si burung merak (juga) menikahi Ken Zuraida; istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Mikriam Supraba.

Pernikahan dengan Ken Zuraida harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981. Kurun waktu yang jelas tak mudah bagi burung merak, pada saat itu hanya Tuhan yang bisa menenangkan sukmanya. Rendra mengaku saat bersama Ken Zuraida membawa pula ia lebih dekat pada jalan ketakwaan kepada Allah. Saat yang sejurus kemudian ia bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa. Kalimat dari sajaknya yang kini seperti menjadi idiom wajib bagi jiwa muda gelisah nan pemberontak; Kesadaran adalah matahari/Kesabaran adalah bumi/Keberanian menjadi cakrawala/Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata./ lahir pada kurun tersebut, 1984.

Burung Merak Yang Sederhana

Gelar Burung Merak yang sohor atasnya diberikan kepada Rendra tak lama setelah ia menikah dengan Ken Zuraida. Saat itu ia sedang mengajak berlibur sahabatnya dari Australia di kebun binatang Gembira Loka Yogyakarta, ia melihat seekor burung Merak jantan diikuti oleh dua betina. Ia ngakak sambil berkata “itu Rendra..” – dan sejak itu ia sohor dengan nama “Burung Merak”.

Burung Merak yang tak mewah, bahkan sangat sederhana dan kerap juga menderita. “Saya dididik keras untuk hidup sederhana. Selain itu, ibu saya senantiasa mengajarkan saya agar tahan menderita,” tutur Rendra semasa hidupnya.

Demikian lah Rendra, sejak menginjak dewasa sampai tua, tidak pernah punya tempat tidur. Dia hanya tidur beralaskan tikar. Meja tulis saja, baru dimilikinya setelah diberi oleh Hariman Siregar. Bahkan menjelang wafatnya, penyair sebesar Rendra kepada karibnya Emha Ainun Najib curhat ingin punya mobil Innova, hal yang tak pernah kesampaian sampai baris puisi terakhir yang ditulisanya pada 31 July 2009 di Rumah sakit Mitra Keluarga, “Tuhan aku cinta padamu.”  Puisi untuk terakhir kalinya itu tak sempat lagi terdengar seperti gelegar suara Rendra yang biasanya, sebab hari itu 6 Agustus 2009 Rendra meninggalkan Indonesia Raya menuju Tuhannya diusia ke 73 tahun.

Sepotong sajak Rendra tentang Ronin (samurai yang menganggur): “Akulah ronin yang mengembara/Air sawah minumanku/Dingin malam selimutku/Aku setia mengunjungimu” –sajak yang tidak pernah didokumentasikan, kecuali oleh Danarto, telah secara gamblang menampilkan sosok Si Burung Merak, seniman besar Indonesia yang merdeka yang tetap setia mengunjungi masyarakat Indonesia, mengabarkan kemerdekaan berpikir, berkehendak, dan melakukan segala sesuatu.

Rendra, aku menunggumu, di awal musim dingin, yang membuat November berwarna putih. Kita berjanji, tidak membawa Hamlet dan Amangkurat ke pesta itu. Pesta yang penuh dengan bau tangan ibumu. (*)

__________________________________________________________________________________________________________________

*Artikel ini pernah dimuat di majalah VOICE+ Jakarta (2014)

**Sabiq Carebesth, Pecinta Puisi, Penulis Buku “Memoar Kehilangan” (2012). “Seperti Para Penyair” (2017). Editor in Chief Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Alice Munro: Menulis Harus Disiplin dan Percaya Diri

mm

Published

on

foto: The New York Times

“Saya tidak pernah menunjukkan karya yang masih dalam tahap penyelesaian kepada siapapun”. Hal itu bisa jadi salah satu ungkapan paling rahasia dalam proses kreatif  penerima Penghargaan Nobel Sastra (2013) Alice Munro.

Alice termasuk penulis yang sangat prolifik dengan reputasi tinggi. Seperti Anton Chekhov, Alice tidak pernah menulis novel utuh—namun setiap ceritanya mengandung elemen-elemen novel yang membuatnya terkesan ‘penuh’. Meski karyanya telah diganjar Nobel Sastra, ia kerap mengaku bahwa setiap penulis membutuhkan rasa percari diri lebih. Juga bagaimana menghadapi kritik yang kerap membuat sakit hati.

Edit dan Kritik

Dalam sebuah wawancara dengan Paris Review, Alice mengisahkan pengalaman pentingnya terkait pengeditan yang ‘serius’. Moment itu terjadi ketika cerpennya akan diterbitkan dalam majalah The New Yorker. Menurutnya itu adalah pengalaman sangat serius ketimbang sekedar copyediting yang biasanya sangat sedikit usulan.

“Karena harus ada kesepakatan antara si editor dan saya tentang apa-apa saja yang perlu diganti, dikeluarkan serta ditambahkan ke dalam sebuah karya. Editor saya yang pertama di The New Yorker bernama Chip McGrath dan dia adalah seorang editor handal. Saya sangat terkejut mendapati betapa besar komitmen yang dia berikan terhadap karya saya. Terkadang kami tidak melakukan perubahan besar, tapi ada juga saat di mana dia memberikan arahan yang cukup signifikan kepada saya. Suatu kali saya pernah menulis ulang sebuah cerita pendek berjudul The Turkey Season yang sudah ia beli untuk diterbitkan di The New Yorker. Saya pikir dia akan menerima perubahan yang saya berikan begitu saja, tanpa banyak protes. Namun saya salah. Katanya, ‘Ada beberapa hal dalam revisian ceritamu yang saya suka dan ada juga hal lain yang menurut saya lebih menarik dalam versi draft sebelumnya. Kita lihat saja nanti ya’. Dia tidak pernah memberikan kepastian yang mutlak, karena sebuah cerita selalu punya potensi untuk dikembangkan. Saya rasa metode pendekatan seperti itu cukup manjur dalam menghasilkan versi akhir yang lebih menarik.” Kisah Alice sebagaimana ditayangkan dalam wawancara khususnya bersama Paris Review.

Hal paling penting dalam menulis salah satunya, menurut pengarang Friend of My Youth ini adalah kepercayaan diri. Ia sendiri sering merasa, sebagai penulis perempuan, profesi menulis dianggap tabu.

“Karenanya dalam menulis, saya selalu punya rasa percaya diri yang tinggi—tapi saya juga punya kekhawatiran bahwa rasa percaya diri itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Menurut saya, rasa percaya diri yang saya miliki datangnya dari kebodohan saya sendiri. Karena karya saya bukan karya populer, saya tidak pernah tahu bahwa profesi menulis seringkali dianggap tabu bagi kaum wanita ataupun mereka yang datang dari kelas menengah ke bawah. Bila kita tahu kita bisa menulis dengan baik di tengah lingkungan di mana orang-orangnya bahkan merasa kesulitan membaca, tentu saja kita berpikir bahwa bakat yang kita miliki sangatlah spesial.” Ujar penulis Too Much Happiness tersebut.

Sementara itu terkait opini kritikus atas karya penulis, ia berpendapat bahwa hal itu bisa jadi penting bisa jadi tidak. “Sebagai penulis, tak ada yang bisa kita pelajari dari kritik pembaca; tapi kita bisa menuai perasaan sakit hati dengan mudah dari kritik. Bila karya kita dinilai tidak bagus, kita cenderung merasa dipermalukan di depan umum. Meski kita meyakinkan diri bahwa tidak ada kritik yang perlu untuk diperhatikan, namun ujung-ujungnya kita selalu berusaha untuk mencari tahu. Jadi…” katanya dengan nada ambigu.

Disiplin

Menulis membutuhkan disiplin tinggi. Alice mengaku bahwa ia menulis sepanjang hari. Pada pagi hari, hampir 5 jam dan itu berlangsung tanpa libur.

Ia mengisahkan bahwa ketika anak-anak saya masih kecil, ia selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah. Bisa dibilang ia bekerja sangat giat di masa tersebut. Ia bersama suaminya memiliki sebuah toko buku, dan bahkan jika gilirannya tiba untuk jaga toko, ia takkan berangkat dari rumah sampai pukul dua belas siang.

“Seharusnya saya membereskan rumah, tapi saya justru banyak menghabiskan waktu menulis.” Kisahnya.

Beberapa tahun kemudian, saat ia tidak lagi bekerja di toko buku, ia akan menulis sampai keluarga pulang untuk makan siang, dan disambung lagi saat mereka keluar rumah sehabis makan siang—sampai sekitar pukul 2.30 siang. Setelah itu ia akan minum secangkir kopi dan membereskan rumah sebelum anak-anak dan suami saya pulang pada malam.

“Sekarang saya menulis setiap pagi, tujuh hari seminggu. Saya mulai menulis pukul 8 dan selesai pada pukul 11. Setelah itu saya akan melakukan hal lain selama seharian penuh. Kecuali saya sedang menyelesaikan draft terakhir sebuah cerita atau saya sangat terdorong untuk menulis sesuatu—pada saat itu saya akan bekerja seharian, dengan sedikit sekali waktu istirahat.” Jelas Alice.

Ketika ditayanyakan padanya apakah dia menulis dengan kerangka tulisan dan akan menepatinya sampai tulisan selesai, Alice tegas menjawab sebaliknya. “Dalam menulis sebuah cerita, saya jarang sekali mengetahui detail plot yang akan terjadi. Bagi saya cerita yang baik selalu mengalami perubahan saat masih dalam proses penulisan.” Katanya.

Contohnya, menurut Alice sendiri,  saat ia sedang memulai sebuah cerita ia menulisnya setiap pagi dan meski menurutnya tulisannya sudah sangat rapi, kerap ada perasaan ia belum sepenuhnya menyukai hasil akhirnya; dan ia berharap, entah kapan, akan mulai menyukainya.

“Biasanya saya harus mengenal cerita yang hendak saya sampaikan sebelum saya mulai menuliskannya. Ketika saya tidak punya jadwal menulis yang tetap, saya terbiasa memikirkan cerita yang ingin saya sampaikan di kepala—maka saat saya menulisnya, saya sudah mengenal betul setiap elemen dalam cerita itu.” Ujar Alice.

Untuk hal itu ia mengaku menuliskan ketidaksukaanya pada tulisannya dalam sebuah buku catatan.

“Saya punya banyak sekali buku catatan berisi tulisan yang semrawut. Saya tidak perduli apa yang saya tulis di dalamnya, karena intinya saya hanya ingin menulis bebas. Saya bukan penulis yang bisa menulis kilat dan menyelesaikan sebuah cerita hanya dengan satu draft saja. Biasanya saya akan melintasi jalur yang salah, sebelum akhirnya saya harus kembali ke titik awal dan memulai perjalanan cerita itu kembali.” Kisahnya. (GBJ/ SC)

Continue Reading

Inspirasi

Kesusastraan Rusia Dan Maxim Gorky Di Mata Soesilo Toer

mm

Published

on

“Tradisi kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual”.

Begitulah komentar Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba yang juga merupakan adik kesayangan sastrawan besar indonesia (alm) Pramoedya Ananta Toer.

Lalu apa pandangannya dengan sastra realisme? Ia menuturkan kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis.

Tentu saja ia juga mengajukan pendapat penting tentang proses kreatif dan kesadaran yang terbangun dalam diri dan karya-karya kakaknya Pramoednya, ia menyebut Pram Menerima karyanya sebagai realisme sosialis, namun demikian Soesilo menuturkan Pram dalam gaya menulis banyak belajar pada Multatuli dan Hemingway.

“Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”.

Bagaimana pendapatnya tentang dunia sastra, politik dan kemanusiaan lebih luas? Simak wawancara berikut yang dikerjakan oleh Ladinata Jabarti dan kawan-kawan, selengkapnya:

Bagaimana karakter kesusastraan Rusia menurut Pak Soesilo sebagai pengelola Pataba?

Kalau zaman saya itu ‘kan sedang populernya realisme sosialis, jadi buku-bukunya Dostoyevsky itu tidak dianjurkan untuk dibaca karena berbau pesimisme. Tapi belakangan, semua boleh dibaca, nggak ada batasan. Kalau di sini (Indonesia) ‘kan Bumi Manusia dilarang, dianggap mengandung ajaran marxisme-leninisme, kalau di sana (Rusia) nggak ada.

Saya membaca Multatuli yang diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, yang bahkan Lenin memberi komentar untuk buku itu. Saya membeli buku itu di pinggir jalan. Buku-buku yang di pinggir jalan dan di toko besar itu isinya sama. Orang-orang Rusia sangat menghargai buku. Di mana-mana, misalnya di bus, mereka membaca buku atau koran. Kalau sedang istirahat juga rata-rata buku yang dipegang. Jadi (tradisi) kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual.

Kesusastraan Rusia yang bersangkutan dengan Maxim Gorky, bagaimana (Maxim Gorky) menurut Bapak?

Gorky menganggap sastra Rusia itu harus melihat kepada rakyat. Yang utama bagi mereka kalau secara perabadan, peradaban dari yang pertama, taruhlah perbudakan sampai yang terakhir, kapitalisme-imperialisme terbentuk dengan sendirinya. Dari sana kemudian lahir berbagai teori seperti Adam Smith, Malthus, jadi fakta menghasilkan teori. Peristiwa dulu, baru timbul teori. Nah ini oleh Marx dan Lenin dibalik: teori menciptakan fakta. Mereka jalan seperti di dalam lubang hitamnya Hawking. Walaupun disebut sebagai ajaran ilmiah, tapi tetap utopia, berjalan di dalam gelap. Jadi kalau menurut saya, nantinya, kalau terjadi perubahan setelah imperialisme itu nggak mesti sosialisme atau komunisme. Apa saja namanya, yang penting terjadi perubahan lanjutan yang melawan kapitalisme maupun imperialisme. Dan akan terjadi perubahan dengan sendirinya secara alami. Bagi saya, fakta dulu baru teori.

Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba

Soal realisme sosialis Gorky, itu bagaimana?

Kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis. Seperti (contohnya) Kuprin itu ‘kan banyak menulis kejelekan-kejelekan di masyarakat, itu masih realisme sosial. Tapi kalau sudah campur tangan seperti bukunya Gorky Mother atau Mat’ (dalam bahasa Rusia)”, itu ‘kan tokohnya, Pavel, tadinya peminum seperti ayahnya. Anak-bapak itu peminum berat, yang ditindas adalah ibunya. Nah, suatu kali anak ini punya kesadaran, “orang tua saya kok saya perlakukan seperti budak.” Dalam buku itu sudah masuk campur tangan negara, karena dia pegawai di pabrik (yang berkaitan dengan pemerintah). Dilibatkannya unsur-unsur negara di dalam karya, itu sudah masuk realisme sosialis, bedanya di situ.

Dalam Cinta Pertama, Maxim Gorky memiliki semacam prinsip dalam kesusastraan. Pandangan dunia Gorky sangat kuat, seperti juga dalam Mother yang (digambarkan) begitu kuat. Menurut Bapak, apa yang membuat Gorky jadi sedemikian tangguh dalam berprinsip dan berkesusastraan?

Gorky itu ‘kan menderita waktu kecil, nama sebenarnya Aleksey Peshkov, Peshkov itu artinya pasir atau debu. Kemudian Gorky itu artinya getir, pahit. Dia merasa kuat karena pengalamannya banyak. Ditinggal ibunya, ditinggal ayahnya. Ia menjadi kuat karena pengalaman hidupnya sendiri. Luntang-lantung keliling Rusia selama lima tahun. Gorky pernah mencoba bunuh diri, tapi gagal. Maka dari itu ia pernah istirahat di Italia untuk menyembuhkan luka tembaknya, sambil menulis cerita anak-anak. Gorky menjadi kuat karena proses hidup yang dijalaninya begitu.

Kenali hidup sendiri. Dari mana Anda bisa kuat? Semakin besar dan berat penderitaan Anda, semakin berat Anda merenung. Bukan berputus asa, tapi merenung. Makanya setiap hinaan yang saya terima (pun) saya pakai sebagai kekuatan.

Lalu bagaimana pada akhirnya Gorky menjadi beraliran realisme sosialis?

Pada awalnya realisme sosial. Setelah terjun ke dunia politik baru kemudian menjadi realisme sosialis, walaupun ia bukan anggota partai komunis. Ia hanya mendukung pembangunan negara sosialis dan mengerti tujuan sosialisme itu untuk apa.

Pramoedya (Ananta Toer) terlihat sekali terpengaruh Maxim Gorky…

(Dia) Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”. Berkarya disimbolkan oleh Pram “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Nah, saya, saya ikuti lagi, “supaya Anda hidup, harus bekerja”.

Bagaimana realisme sosialis Gorky itu bagi Pak Soesilo?

Saya membaca buku dia, tapi ya saya bukan seorang sastrawan yang dari mula kepengin jadi sastrawan, hanya suka membaca saja. Gorky tidak seberapa memengaruhi pemikiran saya, karena saya sudah bandingkan dengan yang lain-lain, kebetulan pendidikan saya cukup ada, sehingga tidak begitu tergila-gila terhadap sesuatu.

Pada saat Bapak kuliah di Rusia (berkisar pada tahun 60-an), bagaimana nama Gorky dalam ingatan masyarakat ketika itu?

Di sana itu Gorky bacaannya para tokoh muda sosialis, diwajibkan untuk mahasiswa Rusia, apa lagi untuk institute yang berkaitan dengan sastra. Tapi secara umum itu dianggap sebagai bacaan standar untuk semua anak sekolah.

_________________________________

*) Team Pewancara:

Ladinata Jabarti

Mochamad Luqman Hakim

Randolph Jordan

Muhammad Yunus Musthofa

Firmansyah

**) Wawancara penuh mengenai diri Soesilo Toer Ph.D, M.Sc (sebagai Direktur Perpustakaan Pataba), Perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dan Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky. Kami mengambil penggalan wawancara mengenai Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky.

Setelah salat asar dan magrib, dengan sajadah yang dipinjamkan oleh keluarga Toer, di dalam perpustakaan,  setelah juga menyantap sate Blora, yang ditraktir oleh seorang kawan baik, yang pernah bekerja di Athan di Moskow, dan sekarang menjadi Lurah Pojokwatu, Pak Suwondo, wawancara dilakukan dengan dikawani oleh Benee Santoso, pemilik Penerbitan Pataba Press, putra tunggal dari Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc.

Continue Reading

Inspirasi

Joyce Cary: Dari Mana Datangnya Ide Menulis?

mm

Published

on

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka.

Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu—menurutmu dia itu siapa?”

Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya—dan aku melupakan seluruh peristiwa itu.

Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga—cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya—sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong.

Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

*) Joyce Cary: Novelis Irlandia

Continue Reading

Classic Prose

Trending