Connect with us
Obituari Obituari

Buku

Mereka yang Menulis Sendiri Obituarinya

mm

Published

on

Sebuah kilas balik menuju enam tahun yang silam—sebuah berita memecah kesunyian: “Postmodern Writer Is Found Dead at Home.” David Foster Wallace, yang novel-novel ironis dan gelapnya, juga esei dan cerita pendeknya, menjadikan dirinya salah satu penulis paling berpengaruh di AS dari generasinya, ditemukan tewas menggantung diri di rumahnya. Wallace mengakhiri karier di usia 46 dan dikenang sebagai profesor hebat yang mempedulikan mahasiswanya.

Ketika memasuki arena literer pada 1990an, ia mengusung gaya yang kerap dilukiskan sebagai pyrotechnic—meminjam istilah sains pemanfaatan material tertentu yang mampu menciptakan reaksi sendiri, menghasilkan panas, asap, kerlap-kerlip cahaya, gas, dan suara letupan berbarengan.

Karya David kerap dibandingkan dengan karya Thomas Pynchon–yang dikenal dengan fiksinya yang padat dan kompleks (Gravity’s Rainbow-nya banyak dipuji). Pembandingan ini mungkin mengusik betul dirinya—Pynchon ia anggap seorang patriark yang terus membayangi dirinya.

Karya penting Wallace, Infinite Jest (1996), menggambarkan masa depan yang dekat, suatu zaman yang disebut “The Year of the Depend Adult Undergarment.” Novel ini penuh rujukan, dan memuat lebih dari 100 halaman catatan kaki—yang menjadi ‘merek dagang’ Wallace. Namun, yang lebih mengundang, karya ini memadukan humor, fobia, kegelisahan, dan mania.

Ada apa dengan Wallace? Apakah ia telah meramalkan kematiannya sendiri?

Di antara penulis fiksi sezamannya, Wallace menyuarakan dengan lebih keras kegelisahaan dan sikap generasinya. Ia sejenis figur literer yang kariernya menjadi pertanda bagi zamannya. Ia banyak dibaca, dan diikuti. Kematiannya, karena itu, menggoda orang untuk menarik benang merah antara kehidupan Wallace dan karyanya: apakah cerita “Death Is Not the End,” “Suicide as a Sort of Present,” dan “The Depressed Person” tak cukup dibaca sebagai fiksi belaka, terputus dari kontinuum hidup kesehariannya?

Sepeninggal Wallace, ayahnya bertutur bahwa Wallace menderita depresi selama 20 tahun.

Orang menduga-duga, di balik kemashuran yang ia raih, ia berjuang keras untuk menepis pengaruh mereka yang ia sebut patriark itu. “Jika aku memiliki musuh,” ujarnya suatu ketika di awal 1990an, “mereka adalah patriark yang harus aku bunuh, dia mungkin (John) Barth dan Coover dan Burroughs, bahkan Nabokov dan Pynchon.” Sejauh itu, Wallace berhasil menempatkan dirinya berbeda di antara para patriark itu.

Sebagian orang mungkin membaca cerita-cerita dan perkataan-perkataan itu sebagai isyarat, tapi isyarat yang tak selalu dipahami kecuali sesudah sang pengarang menjemput maut. Seperti ajalnya Wallace, kematian penyair Silvia Plath, dalam bunuh diri pada 11 Februari 1963, membuat orang kemudian tergoda untuk menyusuri puisi-puisinya, sebab orang percaya bahwa puisi Plath adalah juga perasaan dan pikirannya. Bukan yang terputus, bukan yang terpisah.

“Hari yang sangat menekan. Aku tak bisa menulis apapun…,” tulis Plath dalam catatan hariannya tertanggal 3 Oktober 1959. Upaya bunuh dirinya yang pertama, dengan minum pil tidur melebihi dosis, tak berhasil mencabut nyawanya.

Sebuah jejak, faktual, juga yang tersirat dalam puisinya—yang disebut oleh psikolog Steven Gould Axelrod ‘puisi pengakuan’, dan puisi pengakuan adalah otobiografi krisis yang menyingkapkan depresi internal maupun tekanan sosial yang ia rasakan. Lima puisi Plath dalam The Collected Poems, tulis Jennifer Yaros, memperkuat indikasi upaya bunuh diri—yang secara kronologis semakin kuat dan bertambah kuat: “Elm,” “Lady Lazarus,”, “Words,” “Contusion” dan “Edge.”

Ernest Hemingway, yang menembak dirinya sendiri, menjumpai peristiwa kematian yang membuatnya terguncang saat berada di medan perang di Italia dalam Perang Dunia I—yang mengilhaminya untuk menulis cerpen A Natural History of the Dead. Di musim semi 1961, peraih Nobel ini berusaha bunuh diri, gagal. Ia baru berhasil ketika menembak diri tiga pekan menjelang ulang tahunnya ke-62. Secara literer, ia telah diakui lewat The Old Man and the Sea, dan dinobatkan lewat Nobel. Tidak cukupkah bagi lelaki ini?

Sebagian orang mencari penjelasan dari jejak genetik Hemingway yang mengesankan: ayahnya, Clarence Hemingway, saudara kandungnya Ursula dan Leicester, dan cucunya Margaux Hemingway memilih jalan bunuh diri untuk mengakhiri hidup mereka. Sebagian orang yakin, anggota keluarga Hemingway dari garis ayah mengidap penyakit haemochromatosis —konsentrasi zat besi yang berlebih dalam darah menyebabkan kerusakan pada pankreas dan menyebabkan depresi atau ketidakstabilan dalam serebrum (otak besar).

Pun begitu, kematian jadi tema yang menarik perhatian Hemingway untuk cerita-ceritanya. Hemingway mengeksplorasi metafisika pertarungan melawan banteng dalam Death in the Afternoon—pertarungan yang diritualkan di Spanyol. Dalam pertarungan itu ia menemukan watak elementer kehidupan dan kematian. Drama kematian dalam Death in the Afternoon dan cerpen A Natural History of the Dead mungkin terus membayanginya.

Kegelisahan yang sangat juga menghinggapi Virginia Woolf, penulis Mrs. Dalloway. Kematian tiba-tiba ibunya (1895), ketika ia berusia 13, dan kematian saudara tirinya Stella dua tahun kemudian, membawa Virgnia Woolf pada nervous breakdown. Kematian ayahnya, tak lama kemudian, membuat penulis ini makin terguncang. Dan kegelisahan itu sepertinya tak menemukan jalan keluar.

Setelah menyelesaikan manuskrip novel terakhirnya (yang terbit sesudah kematiannya), Between the Acts, Woolf mengalami depresi. Ia mengaku mendengar suara-suara—mungkin seperti yang dirasakan matematikawan John Nash dengan halusinasi pendengarannya yang beraroma skizofrenia. “Aku merasa pasti bahwa aku menjadi gila lagi. Aku merasa kita tak bisa melewati saat-saat yang menakutkan itu… Aku mulai mendengar suara-suara, dan aku tak bisa berkonsentrasi…,” Woolf sempat menulis surat terakhir untuk suaminya.

Ada banyak jalan menuju kematian, dan Woolf memilih jalannya sendiri. Pada 28 Maret 1941, Woolf mengenakan mantelnya, mengisi sakunya dengan bebatuan yang cukup berat, lalu berjalan menuju River Ouse di dekat rumahnya. Ia melompat ke arus yang deras dan menenggelamkan diri, seolah mengukur kedalaman sungai. Tubuh penulis ini baru ditemukan 18 April. Suaminya menguburkan Virginia di bawah sebatang pohon di taman rumah mereka di Rodmell, Sussex.

Wallace, Woolf, Plath, dan Hemingway telah menulis sendiri obituari mereka, bahkan ketika ajal belum lagi menjemput. (Dian Basuki , indonesiana.tempo.co)

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Buku

Cinta yang marah dan penuh luka itu

mm

Published

on

Mengenal M.Aan Mansyur tak bisa dilepaskan dari ikon Rangga dan Cinta dalam AADC(Ada Apa Dengan Cinta?) pasca Tiada Ada New York Ini yang melambungkan dirinya. Menengok kumpulan puisi yang berbeda dalam Cinta Yang Marah, puisi-puisi panjang yang menjamak menjadi prosa liris. Menceritakan kegetiran antara kau dan aku, sepasang kekasih saling mengomel tak kunjung bertemu dan memandu kasih.

Ada framen-framen potongan berita peristiwa reformasi 21 Mei 1998 yang menyesakkan bagi bangsa ini. Terpurukan ekonomi, lengsernya Soeharto sampai penjarahan berakibatkan eksodus etnis Tionghoa dari negeri  ini. Semua itu dipadukan dan direkam bersamaan dengan puisi-pusi Aan Mansyur. Mungkin terlalu tidak mencolok dan sedikit dikaburkan dalam kisah cinta yang tragis, Aan Mansyur menceritakan dengan absurd.

            “suara biola yang mengantar mayat kau dipemakaman: tangis aku

            Juga tentu saja aku menuliskan obituari singkat untuk aku dan dimuat di halaman koran persis di samping obituari aku sendiri” hal 11

Diksi-diksi dalamnya begitu halus hingga gampang dicerna, tak berbelit-belit dan selalu diakhiri dengan melankolis. Aan Mansyur menceritakan sebuah kisah romantis dengan satir bahwa semua berhubungan dengan cinta adalah luka, penderitaannya tiada akhir dan dibawa dalam kubur sekalipun.

            “sambil mengenang perpisahan aku dan kau, saat napas lepas dari tubuh kau dan masuk memenuhi tubuh aku.

            sambil mencari waktu yang tepat untuk merasakan bagaimana pisau melepas napas kau dari tubuh aku

            jika mungkin” hal 86

            Dialog-dialog yang tersaji sebagai kritikan dan umpatan terhadap peristiwa Mei terjadi. Aan melakukan kritik tidak secara meledak-ledak, umpatan yang tak mau didengar oleh siapapun. Aan mencoba membiaskan dalam kata-kata yang dilebur dalam puisi prosanya.

Judul : Cinta Yang Marah Penulis : M.Aan Mansyur Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan 1 : 2017 ISBN : 9786020355375 Hal : 93 hlm Harga : 55 ribu

Seperti halnya jargon Seno Gumira Ajidarma, “jika pers dibungkam, sastra yang berbicara”. Tugas penyair tidak hanya memberikan rayuan mendayu-mendayu tapi juga sumbangsih karyanya sebagai pengkritisi dan pembeda di lingkup sekitar kita. Ini tersaji semu di halaman 82.

“kadang-kadang aku dengar nama kau bergulir jadi munir. Kadang-kadang aku dengar tumbuh jadi thukul. Kadang-kadang terdiri dari sejumlah huruf aneh dan selalu salah disebutkan, kadang-kadang nama raja yang mati jatuh dari kursi”

Aan merekam peristiwa Mei dengan kata-kata yang tidak riuh hanya simbol-simbol penanda jaman. Macam raja jatuh, menjadi munir dan thukul yang dimana mereka pasti paham abad apa yang mereka tinggali. Tahun dimana suara-suara represif yang segera dihilangkan dan yang tertinggal hanyalah istirahatlah kata-kata.

Aan memang tidak gamblang dalam menceritakan cuplikan-cuplikan Mei itu tapi core dari Cinta Yang Marah ini adalah cinta dan selalu cinta. Cinta yang sederhana menjadi rumit karena manusia itu sendiri dalam pikiran dan perasaan, dua hal yang tak mudah dipahami. Dari puisi-puisi Aan ini, ada saya sukai dan mungkin favorit diantara semuanya.

            “jika aku betul-betul menikah dengan lelaki yang tidak mampu membuat aku berhenti mencintai kau itu, bolehkan aku menuliskan tato, nama kecil kau, dipayudara aku?” hal 74

            Buku ini tidak sarankan untuk yang patah hati atau kasmaran karena Aan sepertinya menyuruh kita menjauhi cinta, jangan masuk jika bukan pemain. Hal yang kau temui hanyalah luka. (*)

*) Peresensi: Ferry Fansuri

Continue Reading

Buku

Oligarki dan Monopoli dalam Ekonomi Politik Indonesia Paska Reformasi

mm

Published

on

Indonesia pasca reformasi selalu diidentikkan dengan negara yang sedang menikmati demokratisasi dengan kekuatan masyarakat sipil yang kuat untuk menentang otoritarianisme. Banyak teori-teori barat konvensional yang menganggap Indonesia telah menjadi negara yang matang dalam berdemokrasi dan patut di contoh oleh negara lain di dunia ketiga. Teori-teori tentang masyarakat sipil di Indonesia ternyata tidak dapat menjawab mengapa setelah reformasi kondisi perpoolitikan nasional tidak banyak yang berubah?  Mengapa elit-elit Orde Baru yang dulunya sangat tidak demokratis kemudian berubah menjadi seorang demokrat yang baik dan menjadi elit penting dalam mengurus kebijakan Negara? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dijawab oleh Prof. Vedi Hadiz dalam bukunya ini.

Prof. Vedi dengan jeli menunujukkan kelemahan-kelemahan tesis masyarakat sipil yang selama ini diagung-agungkan oleh politisi, dan akademisi di Indonesia yang tidak memperhatikan dialektika kekuaaan ekonnomi-politik dan hanya bersaandar pada bangunan kokoh kebebasan berekspresi dan berbicara.

Di dalam buku ini Prof. Vedi dengan terang-terangan menunjukkan bahwa masyarakat sipil di Indonesia itu terdiri dari banyak kepentingan ekonomi-politik yang bersaing untuk mendapatkan kue dari kekuasaan politik para elit oligarki. Tumbuh suburnya milisi-milisi sipil yang dibentuk oleh elit lama yang menyerang berbagai kelompok masyarakat sipil yang bersandar pada kebebasan berekspresi, menunjukkan dinamika politik Indonesia yang sangat rumit bila hanya dijelaskan dengan teori-teori demokratisasi konvensional.

Elit-elit Orde Baru dengan cepat mere-orgaisasikan dirinya dan beradaptasi dengan sistem yng berubah untuk tetap berkuasa dan menggunakan kemampuan ekonomi-politiknya untuk membangun jaringan-jarngan kekuasaan baru di pelbagai lembaga Negara dan pemerintah daerah. Otonomi daerah yang dirancang sedemikian rupa untuk meuwujudkan kesejahteraan sosial masyarakat ternyata direbut oleh kelompok orang kaya/elit oligarki yang membangun kekuatan partai politik untuk memonopoli kekuasaan.

Pentingnya buku ini untuk di baca oleh akademisi dan ilmuan sosial adalah gejala menguatnya faksi oligarki di Negara yang demokratis. Prof. Vedi sendiri menganalisis dengan tajam dan didukung dengan data yang akurat dalam mengungkapkan siapa saja orang-orang kaya di Indonesia yang memonopoli kekuasaan politik dan ekonomi di Indonesia.

Judul Buku: Dinamika Kekuasaan Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Soeharto Tahun Terbit: 2005 Penerbit: LP3ES Penulis: Vedi R. Hadiz Tebal Halaman: 331 halaman

Tesis oligarki sebenarnya sudah pernah dibahas oleh Prof. Jefrey Winters dan Prof. Richard Robison. Keduanya bersepakat bahwa para oligark di Indonesia dengan jeli memanfaatkan era Reformasi untuk menguasai sumber daya alam di indonesia melalui kebijakan-kebijakan politik yang dibaut melalui instrument partai politik.

Sementara Prof. Vedi lebih jauh menganalisa terkait pelbagai kepentingan-kepentiingan masyarakat sipil Indonesia yang saling bertarung satu sama lain karena ingin mendapatkan akses untuk mendekat ke faksi oligark. Situasi politik Indonesia saat ini pasca aksi 212 pada tahun 2016 yang lalu bisa membuat kita memikirkan ulang mengapa pada saat reformasi milisi-milisi sipil ini tumbuh subur di tengah iklim demokratis? Anehnya mereka mendapatkan banyak sponsor dari elit politik yang menduduki kekuasaan yang strategis. Sebut saja Fadli Zon dan Fahri Hamzah keduanya adalah elit partainya masing-masing, mengapa mereka bisa bergabung dan berkolaborasi dengan organisasi sipil yang cenderung konservatif untuk melawan kekuasaan?

Namun disinilah kekurangan analisa politik kontemporer di Indonesia – selalu saja disebut bahwa kelompok oposisi dan kelompok pemerintah padahal sebenarnya tidak ada seperti itu. Tapi mengapa pada saat momen tertentu faksi oposisi dan pemerintah bisa saling bekerjasama untuk memuluskan agenda bersama? Disitulah buku dari Prof. Vedi dapat membuka dengan lebar apa yang tidak diketahui masyarakat awam mengenai elit oligarki di Indonesia dan jaringan kekuasaannya. Indonesia pasca reformasi adalah Negara yang sedang diperebutkan oleh kepentingan ekonomi-politik faksi oligarki.

Bagaimana dengan perkembangan masyarakat sipil di Indonesia? Sejak tahun 1967-1998, Indonesia mengalami periode terburuk dalam berdemokrasi dan hal itu merupakan akibat dari kuatnya faksi oligarki dan miiter mencengkram kehidupan masyarakkat sipil. Akhirnya buku ini sangat menarik untuk dibaca dan diulas lebih dalam oleh akademisi yang konsen terhadap persoalan ekonomi dan poliik di Indonesia. Kelebihan buku ini adalah dengan jujur dan vulgar memberikan wacana alternatif terkait teori politik kontemporer yang menjelaskan Indonesia pasca reformasi.  (*)

*) Danang Pamungkas, lahir di Rembang 2 Desember 1994. Penulis paruh waktu untuk beberapa media online. twitter: @danangpnp, instagram: @danangpnp.

Continue Reading

Classic Prose

Trending