© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Menulis Tanpa “Keharusan” Menulis

Marlina Sopiana*

Sudah dua tahun sejak lulus kuliah, rasanya menulis bukan lagi kegiatan yang lumrah dan mudah dilakukan. Bukan berarti ketika kuliah menulis paper merupakan kegiatan yang mudah. Akan tetapi, menulis tanpa embel-embel keharusan sebagai pelajar mempunyai tantangan tersendiri. Pertama, ketiadaan deadline seperti masa-masa “nugas” membuat saya malas-malasan menyelesaikan satu tulisan. Alhasil banyak sekali file .doc di dalam folder Write di laptop saya yang isinya tulisan-tulisan tak terselesaikan. Kedua, kurangnya rekan diskusi mengurangi ketajaman analisa. Ide-ide yang tertulis seringnya hanya berupa opini pribadi yang parahnya seringkali merupakan hasil analisa reaksioner dari suatu peristiwa. Ketiga, lingkungan yang kurang menunjang, misalnya jika kita tinggal di dalam rumah yang anggota keluarganya gagap literasi. Kegiatan membaca dianggap buang-buang waktu.

Selain faktor-faktor di atas, wacana yang berkembang di masyarakat juga mempengaruhi semangat menulis. Misalnya, wacana pilkada DKI yang menjamuri hampir seluruh media online nasional. Saat ini banyak sekali media online yang mempersilahkan siapa saja untuk berkontribusi memberikan tulisan berupa opini, cerpen, atau puisi. Sebagian menerapkan kebijakan kurasi. Sebagian yang lain hanya memberikan penyuntingan minimal, artiya semua tulisan bisa masuk. Media yang menerapkan kebijakan kurasi biasanya mempunyai konten yang beragam karena tulisan dipilih dan disunting oleh editor. Sedangkan media yang hanya memberikan penyuntingan minimal kontennya sangat bergantung pada selera pasar. Alhasil ketika ramai kasus Ahok, hampir semua tulisan yang tayang membahas isu tersebut. Meskipun ada tulisan yang membahas isu lain, tulisan ini akan segera tertimpa dan terlupakan di halaman beranda.

Menulis merupakan sarana mengingat, mengendapkan, dan menganalisa ide. Untuk itu perhatian dari pembaca lain sangat penting, apalagi jika dapat memberikan kritikan yang konstruktif.

Menulis merupakan sarana mengingat, mengendapkan, dan menganalisa ide. Untuk itu perhatian dari pembaca lain sangat penting, apalagi jika dapat memberikan kritikan yang konstruktif. Saya teringat masa-masa “nyekripsi”, ketika saya ingin menulis dengan tema yang cukup jarang diminati oleh teman-teman seangkatan. Kami sering “nyekripsi” bareng, saling berdiskusi tentang tema tulisan masing-masing dan memberikan masukan yang berarti. Kesulitan saya waktu itu adalah tidak ada teman yang meminati tema tulisan saya. Sehingga tiap saya bertanya untuk mempertajam ide tulisan saya, mereka mundur teratur dan mempersilahkan saya untuk bertanya kepada yang lain. Untungnya ada kelas seminar yang memaksa setiap mahasiswa mendiskusikan tiap-tiap tema yang akan ditulis, baik yang mereka minati ataupun tidak.

Lain halnya dengan media online sekarang. Dunia online mempersilahkan kita untuk memilih apa yang ingin kita lihat, baca, dan, dengar. Ketika tulisan yang muncul di halaman depan media favorit anda tidak anda minati, anda bisa dengan santainya melanjutkan ke halaman lain. Artinya, media online memungkinkan kita untuk mengabaikan saja ide yang muncul. Semangat menulis tidak hanya muncul dari ketertarikan seseorang akan suatu ide, namun juga dari kritik dan masukan pembaca lain. Ide akan berbunga jika didiskusikan dan akan layu jika mengendap sebagai tulisan opini reaktif yang tertimbun oleh tulisan-tulisan opini reaktif lainnya. (*)

*Marlina Sopiana lahir 11 Juni 1991. Mantan mahasiswa filsafat yang masih meminati percakapan filosofis, terutama tema-tema philosophy of mind. Kadang-kadang aktif di media sosial twitter @marlinnfish.

“Tak peduli abadi atau tidak bagi zaman, menulis tetap melibatkanmu sebagai pembentuk zaman”. – Galeri Buku Jakarta

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT