Connect with us

Buku

Menuju (Kematian) Demokrasi?

mm

Published

on

Saat ini, demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan yang banyak dianut oleh negara-negara yang ada di dunia, terutama setelah berakhir perang dingin pada 1990. Demokrasi dinilai sebagai sebuah sistem yang ideal, karena system yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, demokrasi juga menganut prinsip pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Akan tetapi, menurut Karl Popper dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945) satu hal yang menjadi daya tarik dalam sistem demokrasi adalah adanya jaminan terhadap hak-hak individu sebagai makhluk yang otonom dalam berpikir dan menyampaikan pendapat. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan dinilai berjalan dengan baik bila pemerintah dan para pemimpin senantiasa membuka diri dan bersikap rendah hati terhadap masukan dan kritik, baik kritik publik baik dari oposisi maupun rakyat biasa. Tujuannya tak lain adalah perbaikan untuk menyejahterakan rakyat.

“Comprehensive, enlightening, and terrifyingly timely.” —New York Times Book Review | “Cool and persuasive… How Democracies Die comes at exactly the right moment.” —The Washington Post _____ Judul Buku : How Democracies Die Penulis : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt Penerbit : Crown Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2018 Tebal : 312 halaman, ISBN 978-1-5247-6293-3 Harga : Rp.245.000,-

Namun, satu dekade terakhir muncul gejala populisme secara global di dunia. Populisme merupakan untuk paham yang mengutamakan mengutamakan kepentingan rakyat kecil, ketimbang kalangan elite. Populisme muncul karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Isu ini kerap dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit, yang menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Dengan kata lain, populisme merupakan salah satu jalan untuk kematian demokrasi.

Fenomena populisme abad ke-21, terjadi di Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump yang dalam janji kampanyenya menyiratkan sosok populis dan patriotis (hlm.61). Namun, tentu bukan hanya populisme saja yang menjadikan jalan bagi matinya demokrasi secara global. Hal itu dijabarkan dalam buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang merupakan dua professor dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Menurut mereka, jalan kematian demokrasi suatu negara dapat terjadi pada dua pihak yakni pihak internal—pemerintah atau penguasa— dan pihak eksternal—oposisi. Biasanya, pihak oposisi akan memulai kritik dengan gagalnya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Lantas, pihak oposisi akan mengkritiknya dan menyalahkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan mendukung pihak asing.

Oposisi akan mengkritik keras dan vokal guna mendapatkan perhatian dari rakyat. Tak hanya itu, demi mengakumulasi dukungan dari rakyat, oposisi melalui politisinya akan memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Menurut Cherian George (2016), isu cara saja SARA tak cukup, para politisi biasanya akan melakukan pemelintiran kebencian di masyarakat. Mereka akan memanfaatkan emosi massa, seperti penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Amerika Serikat yang dekat dengan serangan Gedung World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Hal itu digunakan oleh partai Republik untuk meraup dukungan dari adanya sentimen terhadap kelompok Islam. Cara ini tentu akan membuat polarisasi di masyarakat, kepanikan, permusuhan, dan saling tidak percaya (hlm.76).

Sedangkan, dari pihak pemerintah, matinya demokrasi ditandai dengan memilih penegak-pengegak hukum yang berasal dari partainya atau koalisi pemerintahan. Dengan demikian, penguasa akan dengan mudah membuat regulasi atau aturan-aturan yang dapat melindungi kekuasaannya dari kritik pihak oposisi (hlm.87-92).

Faktor berikutnya adalah pihak pemerintah atau pendukung pemerintah akan terus menganggap oposisi sebagai musuh.  Biasanya pihak oposisi akan menganggap pemerintah tidak demokratis. Sedangkan, pemerintah akan menganggap oposisi sebagai benih-benih chauvinism atau fasis (hlm.115) Dengan begitu, akan ada terus kekhawatiran dari pemerintah untuk membatasi setiap gerak dan gagasan oposisi. Disadari atau tidak, cara berpikir ini tentu akan semakin membuat polarisasi di masyarakat meruncing. Jadi pihak pemerintah dan oposisi sama-sama berperan atas terjadinya polarisasi di masyarakat.

Penulis mencontohkan, oposisi yang memanfaatkan hal-hal SARA kemungkinan besar akan menjadi dictator yang mengerikan dan justru mematikan demokrasi. Contoh nyata menurut penulis adalah Adolf Hitler di Jerman, dan Benito Mussolini di Italia.

Menjaga Demokrasi

Lantas, bagaimana untuk menjaga demokrasi agar tetap hidup? Steven dan Daniel menawarkan dua elemen untuk menjaga demokrasi. Pertama, adalah menghormati norma sosial. Para politisi baik pemerintah maupun oposisi saling menahan diri untuk tidak melakukan segala cara untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan. Apalagi membuat sentimen SARA (hlm.106). Meski terkesan naif, cara ini dinilai akan menciptakan suasana kondusif dalam jalannya pemerintahan.

Elemen kedua adalah media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Media diharapkan untuk tetap independen, tidak menjadi partisan pemerintah, oposisi, atau kelompok politik tertentu. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi media menjaga indepensi, di tengah pemodal yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Sebab, pers yang independen adalah benteng terakhir demokrasi, tak ada demokrasi yang bisa hidup tanpa pers yang independen (hlm.199).

Buku yang terdiri dari sembilan bab ini tentu sangat Amerika sentris. Hanya sedikit studi kasus yang ditulis di negara lain terkait masalah demokrasi.

Meski begitu, buku cukup layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama para politisi. Sebab, penting bagi politisi untuk tidak membuat polarisasi dan konflik horizontal di masyarakat, hanya untuk meraih kekuasaan.

Kita tentu menyadari, tidak ada sebuah sistem yang sempurna, termasuk demokrasi. Namun, hanya dengan demokrasi kita dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanisme yang menjamin hak serta kewajiban setiap individu tanpa membedakan SARA. Sebab, hanya dengan seperti itu, demokrasi dapat menjadi  alat untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

___________________

Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.tv

Buku

Puisi yang Mengolok Panduan Menulis Puisi

mm

Published

on

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban.

*) Ifan Afiansa

Membaca puisi-puisi Buku Latihan Tidur akan membawa pembacanya kepada ekspresi linguistik yang menyenangkan sekaligus menggemaskan. Atau setidaknya, kedua perasaan tersebut berkelindan hebat di benak saya, sebab puisi-puisi di dalamnya mengandung unsur olok-olok parodis yang dibalut dengan bait-bait lembut dan lucu, padahal olok-olok itu ditujukan kepada para fanatik beragama, bahasa Indonesia, dan kiat-kiat menulis puisi. Hal-hal tersebut mungkin terlampau jauh bagi siapa pun untuk menertawakannya.

Judul buku ini juga akan mengingatkan pada buku-buku panduan di rak sebuah toko buku. Buku-buku itu mungkin saja tidak membutuhkan nama besar penulis, sekiranya siapa pun bisa menulis buku panduan selama dia mempunyai keahlian tertentu. Begitu juga sebagai pembaca, mereka hanya memedulikan kegiatan praktis apa yang mereka butuhkan, tanpa memedulikan nama pengarangnya. Sebutlah Buku Latihan Microsoft Word (2013, Elex Media Komputindo), selama calon pembacanya membutuhkan panduan Microsoft Word, para pembaca akan senantiasa membelinya. Baik Buku Latihan Tidur maupun Buku Latihan Microsoft Word, keduanya mempunyai kesamaan pola, membuat saya berasumsi, “Apa iya, Joko Pinurbo tengah memparodikan buku panduan?”

Linda Hutcheon dalam bukunya A Theory of Parody pernah berkata bahwa parodi merupakan relasi struktural di antara dua teks. Relasi ini kerap ditujukan melalui bentuk penyimpangan bentuk teks (baru) terhadap teks lama. Kemudian memunculkan kembali pertanyaam, “(teks) buku mana yang memengaruhi (teks) buku lainnya?” Tentu untuk mengidentifikasi mana teks baru, dan mana teks lama bukanlah hal yang sulit, keduanya tampak terang-benderang. Jawabannya tentu Buku Latihan Tidur menggunakan sekaligus menyimpangi judul Buku Latihan Microsoft Word. Definisi parodi kembali ditegaskan Linda Hutcheon adalah sebagai bentuk imitas yang dicirikan oleh kecendrungan ikonik, selain itu parodi adalah pengulangan yang disertai ruang kritik yang berupaya mengungkap perbedaan, alih-alih persamaan. Kemudian sebuah pertanyaan kembali muncul, “Apa yang coba dibedakan dan dikritik oleh Buku Latihan Tidur atas Buku Latihan Microsoft Word?”

Jawabannya bisa jadi semudah menemukan gajah di kandang gajah, jika jawabannya objek yang menjadi “latihan” kedua buku, tentu bukan jawaban yang salah. Namun ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu Buku Latihan Microsoft Word akan memandu pembacanya agar bisa melakukan kerja praktik yang (akan) mengarah ke profit, ada sebuah kerja produktif yang ditawarkan buku panduan ini. “Bagaimana dengan Buku Latihan Tidur? Memandu untuk tidur?” Di sinilah yang dibedakan oleh Buku Latihan Tidur—sebagai karya sastra parodi, judul buku ini seakan memandmu tidur, padahal tidur merupakan kegiatan kontraproduktif. Terkadang saya kerap diomeli karena terlalu banyak tidur di rumah. Ironi sekali jika Buku Latihan Tidur diangkat sebagai judul buku sebab tidur merupakan kegiatan kontraproduktif, seolah-olah aktivitas tidur adalah aktivitas yang sama pentingnya dengan aktivitas produktif lainnya.

Apakah permainan parodi ini selesai di bagian judul saja?

Meskipun judul buku ini memparodikan buku panduan, tetapi hanya ada satu judul puisi yang turut memparodikan buku-buku panduan. Puisi itu berjudul “Langkah-langkah Menulis Puisi”, judul itu mungkin sedikit banyak mengingatkan pada pelbagai laman di internet yang mencoba memberikan tips menulis puisi, atau mungkin mengingatkan pada Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriyana. Pada dasarnya buku dan tulisan tersebut mencoba memberikan langkah-langkah menulis puisi secar runut dan sistamatis, mulai dari mencari ide, mengembangkan gagasan, serta mengolah gaya bahasa, dengan ragam contoh pengaplikasian.

Namun langkah-langkah yang sistematis itu diparodikan Joko Pinurbo dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi”. Konsep-konsep yang dijabarkan Hasta Indriyana diparodikan dalam puisi tersebut hanya dengan satu langkah, yaitu duduk. Dalam tujuh langkah menulis puisi, ada enam langkah yang dimulai dangan duduk, yang kemudian dilanjutkan oleh sederet frasa-frasa tambahan, seperti dengan tenang, yang kelak akan jadi batu nisanmu dan sambil membaca Pramoedya: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya. Dan diakhiri langkah ketujuh yang tidak menyertakan aktivitas apapun, melainkan hanya mantra sulap.

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban. Secara keseluruhan, puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” berupaya memparodikan sekaligus mengkritik buku/tulisan panduan menulis kreatif yang jauh dari kegiatan praktis iru sendiri. Perihal mencari ide, mengembangkan gagasan, menentukan tema, pemilihan diksi dan gaya bahasa, serta sederet langkah lainnya, bukanlah hal yang penting dalam menulis puisi. Duduk dan membaca merupakan kunci penting dalam puisi ini, selebihnya perenungan ke dalam diri,d dan diakhiri dengan menunggu keajaiban.

Lantas, keajaiban apa yang dimaksud dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi?”

Ada perbedaan mendasar menjadi penyair dan menjadi pembaca. Perihal menulis puisi, bisa jadi bagi Joko Pinurbo puisi-puisi yang dia tulis biasa saja. Begitu pembacanya mulai memberikan hal-hal yang mereka sukai dari puisi-puisi Joko Pinurbo. Kalimat sebelum inilah keajaiban yang dimaksud. Tidak ada yang dinamakan langkah-langkah menulis puisi, jika estetika sebuah puisi ditentukan oleh pembacanya. Bagaimana sebuah puisi dapat memengaruhi pembacanya, adalah keaiaiban yang perlu ditunggu, sebab bagus tidaknya sebuah puisi itu hanya dalam sudut pandang pembacanya. (*)

*) Ifan Afiansa

Department Indonesia Literature
Faculty of Cultural Science, Universitas Gadjah Mada
Continue Reading

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Meneroka Cinta yang Dikomodifikasi

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari

Tanpa dicari kekasihnya.

Apabila kilat cinta menyambar hati yang ini

Ketahuilah bahwa cinta telah menyambar hati yang lain”—Rumi

Hidup adalah cinta itu sendiri. Tak heran kemudian banyak produk kebudayaan, seperti: musik, film, atau sastra membicarakan cinta. Eric Fromm menyadari karena hidup adalah cinta maka cinta mengikuti corak perkembangan hidup itu sendiri. Melalui pisau analisis psikoanalisis-marxis, Eric Fromm menghadirkan cinta yang abstrak “melangit” tak berbentuk menjadi “membumi” mudah dipahami sebagai seni.

Implikasi dari cinta sebagai seni adalah bisa dipelajari dan kemudian diperaktikan. Buku ini bukan buku seperti halnya buku panduan memasak, memperbaiki komputer atau memelihara hewan peliharaan. Cinta sebagai sesuatu yang hidup dan terus bergerak diperlukan pengahayatan yang jernih untuk memahaminya. (more…)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending