Connect with us
Sudjojono Sudjojono

Budaya

Menonton Hidup Sudjojono

mm

Published

on

Hidup dan karya S Sudjojono dipanggung-kan dalam drama ”Pandanwangi dari Sudjojono” yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 September. ”Jiwa ketok” panggung nyata: kisah cinta Sudjojono dan Rose, dan bagaimana romansa itu memengaruhi karya sang maestro.

Rose Pandanwangi duduk di sofa yang ada di sudut panggung, sendiri. Di sudut lain ”Rose” tak sendiri. Di sudut lain itu Rose terlukis berduaan dengan Sudjojono di kanvas ”Lagu Sesudah 26 Tahun”. Sudjojono melukisnya tahun 1985, setahunan sebelum sang maestro meninggal pada usia 73 tahun.

Kemal Abdul Hamid (Frans Josep Ginting) menghampiri Rose yang sendiri, mengambil secarik kertas dari sebuah meja kecil di samping sofa tempat Rose duduk. Secarik cinta untuk Rose, ditulis Sudjojono tahun 1956. Kemal menubuhkan bait-bait cinta itu.

”… Sebuah cinta dua seniman cinta dua seniman yang tidak akan pernah hilang. Ya, Rose, cinta seperti itu sangat hebat. Badai bisa menghilangkan, memaksakan dan meremukkan badan ini, tetapi cinta tidak. Itulah jiwa, cinta yang besar tidak mengenal kehilangan.”

Lakon Pandanwangi dari Sudjojono memang seperti sebuah panggung kesaksian akan seorang Sudjojono, lelaki kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, pada tahun 1913 itu. Kebesaran Sudjojono—seorang maestro, penggagas seni rupa baru Indonesia yang menggugat langgam lukisan indah ala mooi indie—hadir sebagai keseharian seorang suami dan ayah.

Kesaksian

Putri Rose dan Sudjojono, Maya Sudjojono Font Raket, turut berlakon. Menjadi Rosalina Poppeck (nama muda Rose Pandanwangi), ia mengawali penggalan kisah hidup Sudjojono dengan menuturkan perjumpaan Rose dengan sang maestro di Belanda pada 1951.

”Tanpa sengaja saya berkenalan dengan Mas Jon, saat saya belajar olah suara di Amsterdam. Ia melawat bersama misi kebudayaan Indonesia. Tanpa kesan, hanya sedikit terkejut saja berkenalan dengan seorang pelukis yang saat itu sudah punya nama. Beberapa hari kemudian, kita bertemu lagi di Berlin. Waktu berlalu tanpa cerita, dan juga tanpa kesan.”

”Demikian pula Sudjojono,” sahut Gandung yang bermain ganda dengan memerankan sang maestro, sekaligus menjadi penutur kisah Sudjojono. Sebuah lukisan Sudjojono diproyeksikan di latar panggung dan lantas dikisahkan Gandung.

”Di lukisan berjudul ’Setangkai Bunga Kamboja’ ini, Sudjojono menulis ’peringatan pada sembuh penyakit eksim’ … Sudjojono memang biasa menyertakan buah pikiran serta perasaannya di kanvas lukisannya. Masih di lukisan itu, dia membuat puisi … ’Datang waktunya engkau … dari putih menjadi biru. Engkau penghias jadi perdu’. Lukisan itu bertahun 1956, itulah tahun di mana Rose dan Sudjojono bertemu ketiga kalinya. Saat itu Rose sudah kembali ke Jakarta, usai menyelesaikan olah vokal di Amsterdam.”

Karya buah cinta

Sebagian besar lakon memang dijalin dialog Rose muda dan Sudjojono, berikut lukisan dan sketsa buah cinta Sudjojono dan Rose. Gandung juga menafsir sebuah puisi cinta dalam sebuah sketsa Sudjojono berjudul ”Sodom dan Gomora”.

”Aku menafsirkan puisi itu sebagai ketetapan hati untuk menyerahkan cinta kepada kehidupan yang nanti. ’Kemarin adalah kemarin, esok adalah esok,’ kata puisi itu. Tetapi, bagi Rose, esok ada karena direncanakan hari ini. Itu yang menyebabkan Rose datang kepada Sudjojono, dan berkata ’sesudah ini apa?’

Pandanwangi, nama itulah yang diberikan Sudjojono untuk Rose, dan dengan nama itulah Rose mengikuti Bintang Radio RRI tahun 1958. Lagu ”Kisah Mawar di Malam Hari” yang mengantar Rose Pandanwangi memenangi kompetisi biduan itu dilantunkan kembali oleh Rose dalam sandiwara itu.

Pandanwangi dari Sudjojono juga menghadirkan sejumlah rekaman suara Sudjojono, mengisahkan perjalanan hidup dan pandangan-pandangannya, termasuk keterkaitannya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra, organisasi sayap Partai Komunis Indonesia), juga cintanya kepada Rose.

”Ketika saya jadi anggota DPR, terasa betul oleh saya perbedaan-perbedaan ideologi di dalam partai. Perbedaan-perbedaan itu di antaranya soal ketuhanan, soal sikap Partai Komunis Indonesia, soal cinta. Ketika pimpinan partai tahu bahwa saya cinta Rose, partai mengutus orang supaya saya putuskan hubungan dengan Rose. Saya tidak mau. Saya keluar dari partai, dari parlemen, dari Lekra. Itu terjadi pada tahun 1957. Karier saya sebagai orang politik saya tutup, dan saya sepenuhnya melukis, dan mencoba hidup hanya dari seni lukis. Saya menikah dengan Rose pada tahun 1959.”

”Pada tahun itu, Rose sudah memiliki tiga orang anak. Sudjojono sudah memiliki delapan orang anak,” begitu dialog Gandung.

Rose muda melanjutkan kisahnya dengan prahara politik G 30 S pada 1965 yang juga mendera rumah tangga Sudjojono. ”Dalam rentang waktu tujuh tahun itu, aku memberikan tiga orang anak dari Mas Djon. Saat Mas Djon diambil tentara satu hari, aku mengadu kepada Adam Malik. Untunglah Mas Djon segera pulang.

Jajang C Noer juga hadir, menuturkan kisah dirinya saat berumur 17 tahun, gadis Jajang Pamuntjak, bertetangga dan bersentuhan dengan keluarga Rose dan Sudjojono. ”Ini saya dilukis Pak Djon,” tutur Jajang mengisahkan lukisan potretnya.

Anak-anak Rose, Wicky kecil (Sarah Yogaswara), Djuang kecil (Ratina Yogaswara), dan Pandan kecil (Nadya Yogaswara), jenaka berkisah betapa melelahkannya menjadi model sang ayah, hingga menghasilkan lukisan para anak Sudjojono yang bertampang cemberut.

”Saya justru paling sering minta dilukis Pak Djon, makanya lukisan saya banyak,” ujar Maya kecil (Nathalie Font Raket) tentang lukisan bocah yang kebanyakan tersenyum manis. Lakon itu memang menggambarkan bagaimana Rose kian menjadi sumber inspirasi karya-karya Sudjojono, begitu pula anak-anak Rose.

”Seluruh naskahnya digarap oleh Gandung, yang melakukan riset dan wawancara dengan saya dan anak-anak saya. Setiap dialog, juga pemilihan lukisan yang dikisahkan, kami lakukan bersama-sama,” kata Rose.

Pentas lakon itu menjadi bagian dari peringatan ”Seabad Sudjojono, 1913-2013” yang akan berlangsung di Indonesia dan Singapura hingga 1 Maret 2014. Serangkaian acara masih akan berlangsung, mulai dari diskusi seni ”Sosok dan Karya Sudjojono” di Institut Kesenian Jakarta pada 25 Oktober sampai pameran utama ”Seabad Sudjojono” di Museum Nasional Jakarta (13 Desember 2013-12 Januari 2014) dan Nanyang Technological University Singapura (17 Januari-1 Maret 2014).

Yang berbeda dari rangkaian lainnya, lakon ini menghadirkan Sudjojono dengan rasa berbeda. Kekuatan utama dari lakon itu adalah tersajinya konteks dan kisah dari berpuluh lukisan Sudjojono yang dihadirkan di panggung. Cerita yang begitu sehari-hari, begitu intim dan hangat, tersembunyi di balik kebesaran sang maestro dengan segenap gagasan dan kebaruannya dalam menghadirkan seni rupa baru Indonesia. (Kompas, Aryo Wisanggeni)

Continue Reading

Budaya

Beragama dengan Sederhana dan Teologi Keluguan

mm

Published

on

Tidak Mengetahui Apa-Apa adalah Sumber Kehidupan yang Bahagia.—Desiderius Erasmus

Agama sejatinya dekat dengan urusan kemanusian, demikianlah sedikit dari pemikiran Desiderius Erasmus. Ia lahir di Rotterdam, Belanda pada tahun 1469 dan merupakan seorang sarjana dan editor pertama dari kitab Perjanjian Baru.

Erasmus dan pemikirannya dipengaruhi oleh metode filologi yang dipelopori oleh kaum humanis Italia. Erasmus membantu meletakkan dasar bagi studi historis-kritis tentang masa lalu, terutama dalam studinya tentang Perjanjian Baru Yunani dan para Bapa Gereja.

Tulisan Erasmus pada akhirnya berkontribusi pada pada penggantian kurikulum skolastik yang lebih tua oleh penekanan humanis baru pada klasik. Dengan mengkritik pelanggaran gerejawi, sambil membandingkan masa lalu yang lebih baik. Erasmus kemudian mendorong adanya sebuah reformasi, yang mencoba mempertemukan antaran Reformasi Prostetant dan Kontra-Reformasi Katolik. Sikap Erasmus yang mencoba untuk lebih independent di tengah kontroversi konfesional yang sengit yaitu menolak antara doktrin Luther tentang Predestinasi dan kekuatan yang diklaim untuk kepausan – sehingga Erasmus kemudian menjadi target kecurigaan dimata partisan dari kedua sisi.

Erasmus sendiri dikenal sebagai seorang filsuf yang humanis. Risalah dalam “In Praise of Folly” yang ditulis oleh Erasmus pada tahun 1509, mencerminkan gagasan-gagasan Humanis yang mulai membanjiri seluruh Eropa selama tahun-tahun awal era kebangkitan atau renaissance, dan memainkan peran kunci dalam reformasi.

Tulisan Erasmus merupakan sindiran jenaka tentang korupsi dan perselisihan doktrinal dari gereja katolik. Namun sebenarnya Erasmus juga memiliki pesan yang serius,  ia menyatakan bahwa kebodohan—di mana Erasmus menyebutnya sebagai ketidaktahuan yang naif – adalah bagian penting dari ‘menjadi manusia’, dan pada akhirnya hal inilah yang membawa manusia kepada kebahagiaan dan kepuasan yang paling besar. Erasmus kemudian menyatakan bahwa pengetahuan, di sisi lain, dapat menjadi beban dan dapat menyebabkan komplikasi yang mungkin membuat kehidupan menjadi sulit.

Iman dan Kebodohan

Dalam penalaran Erasmus, ia menegaskan bahwa agama juga adalah bentuk kebodohan, dalam keyakinan seharusnya hanya diletakkan pada keyakinan itu sendiri dan tidak bisa dikaitkan dengan penalaran. Erasmus menolak pencampuran antara rasionalisme Yunani kuno dengan teologi Kristian oleh filsuf abad pertengahan, seperti St Augustine of Hippo dan Thomas Aquinas sebagai intelektualisasi teologis yang mengklaim bahwa itu adalah akar penyebab dari korupsi iman agama.

Erasmus sendiri mendukung kembalinya keyakinan sederhana yang tulus yaitu dengan individu membentuk hubungan pribadi dengan Tuhan, dan bukan yang ditentukan oleh doktrin katolik.

Erasmus menasihati kita untuk menerima apa yang dia lihat sebagai semangat sejati dari kitab suci—kesederhanaan, keluguan dan kerendahan hati. Erasmus percaya bahwa itulah sifat dasar manusia yang memegang kunci kehidupan bahagia. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari “Happy is He Who Has Overcome His Ego”  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Budaya

Amrus dan Perkumpulan Seniman Petarung

mm

Published

on

“Membabi-buta kejam sekali, saudara sendiri diperlakukan semena-mena. Putus dan dibalik Kebenaran. Kami dijadikan penghianat bangsa. Boleh dimatiin seperti anjing liar di jalanan.” (Puisi Dua Puluh Satu, Amrus Natalsya)

“Dulu sebelum rumah ini jadi, malah ramai yang berkunjung ke sini. Rata-rata mahasiswa, tapi sekarang sudah tidak pernah,” kata Amrus Natalsya lirih. Bola matanya yang sudah menguning dan keruh menerawang. “Kalian mau nginap? Kalau mau biar disiapkan. Di mana saja ya, nanti digelarkan tikar,” ujarnya dengan suara bergetar namun cukup terdengar lantang.

“Terima kasih pak. Kami harus pulang ke Jakarta. Tidak ada persiapan untuk bermalam,” ujar kami bersamaan. Saya melihat telepon selular yang ada di saku, waktu sudah pukul 5 sore. Setelah mengambil gambar bersama melalui kamera telepon seluler, kami pun pamit undur diri.

Saya bersama empat rekan yang lain, Kreshna, Palupi, Isma dan Laras memang tidak diundang datang ke galeri milik Amrus Natalsya yang berada di perkampungan warga di Cigombong, Lido, Bogor tersebut. Kebetulan saja, beberapa hari sebelum kedatangan, ada rekan yang memberitahukan kalau ada galeri mantan aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Bogor.

Info awalnya sebenarnya bukan galeri milik Amrus Natalsya, melainkan galeri Lekra. Saya pun merasa penasaran, apakah benar perkataan seorang teman, ada galeri Lekra di Bogor. Rasa penasaran itu tentu saja muncul. Bagaimana pun nama Lekra masih dilekatkan dengan stigma buruk; lembaga kebudayaan yang menjadi bagian Partai Komunis Indonesia (PKI) dan terlibat kudeta 1965.

Saya pun meminta Kreshna menelusuri di internet.

“Bukan galeri khusus Lekra, tapi galeri punya pendiri Sanggar Bumi Tarung, Amrus Natalysa,” kata Kreshna. Sanggar Bumi Tarung merupakan wadah para seniman Lekra bidang seni rupa. Sanggar ini didirikan di Yogyakarta, oleh para mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), tahun 1961 silam, salah satunya Amrus Natalsya.

Selain Amrus, ada beberapa nama pendiri lainnya seperti Djoko Pekik, Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, Hardjija Pudjanadi, Sudiyono SP, Dj. M. Gultom, Sudjatmoko dan Misbach Tamrin. Nama terakhir ini terbilang cukup dekat dengan Amrus.

”Misbah sering datang. Dia tinggal di Kalimantan, tanah kelahirannya. Ini ada buku tentang Misbah dan teman-teman Bumi Tarung Saya lagi nunggu, katanya mau dikirimin,” ujar Amrus menunjukkan buku berjudul Berlayar di Tengah Badai; Misbach Tamrin dalam Gemuruh Seni Politik yang tergeletak di meja depan kami.

Tahun 2011 silam, para pendiri sanggar Bumi Tarung reuni dan menggelar pameran berjudul “50 Tahun Bumi Tarung” di Galeri Nasional, Jakarta. Saat pameran itu, dari sekian banyak anggota Bumi Tarung, tinggal sembilan perupa yang tersisa, yakni Amrus Natalsya, Djoko Pekik, Misbach Tamrin, Isa Hasanda, Suhardjijo, Adrianus Gumelar, Dj. Gultom, Soediono, dan Muryono.

Reuni dan pameran Bumi Tarung cukup menyedot perhatian. Setengah abad lalu, seniman yang tergabung dalam Lekra baik itu di ruang sastra maupun rupa terkenal dengan kedisiplinannya. Mereka juga terikat dengan metode 1.5.1, suatu prinsip kebudayaan yang diusung Lekra. Di buku autobiografinya yang berjudul Berlayar di Tengah Badai; Misbah memaparkan metode tersebut. Metode “1.5.1” ini, kata Misbah, saling melengkapi satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan.

Beberapa koleksi lukisan Amrus Natalsya

Satu (1) yang disebut awal adalah prinsip menempatkan “Politik sebagai Panglima.” Lima (5) di tengah menunjukkan lima petunjuk operasional artistik, yakni “meluas dan meninggi”, “tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik”, “tradisi baik dan kekinian revolusioner”, “kreativitas individual dan kearifan massa”, serta “realisme sosial dan romantik revolusioner”. Sedangkan satu (1) terakhir merupakan penyeimbang dari dua sebelumnya, yaitu prinsip “Turun ke Bawah alias Turba”.

Prinsip ini merujuk pada penempatan secara langsung pengalaman para seniman dalam kehidupan masyarakat bawah. Pada saat turba, seniman Lekra tidak boleh menjaga jarak dengan rakyat, dan bukan datang sebagai tamu yang dilayani, melainkan harus menjadi bagian dari rakyat jelata. Tak heran, dalam beberapa hasil karya perupa Bumi Tarung yang tersisa, tema tentang kehidupan petani dan buruh selalu menjadi yang utama.

Karya-karya tersebut sebagian masih terpajang di galeri milik Amrus. Kepada Amrus, keinginan bertanya soal relevansi prinsip itu pun tak tertahankan. ”Kalau zaman kami dulu, itu zamannya Nasakom. Kalau zaman sekarang nggak tau zaman apa ini. Bingung. Sudah tidak ada perang dingin lagi kan. Peristiwa G30S itu juga akibat perang dingin. Mungkin sudah tidak lagi relevan politik sebagai panglima,” kata Amrus.

Selain lukisan tentang petani, di galerinya, terlihat banyak lukisan yang menggambarkan suasana perkampungan cina atau pecinan. Lukisan tersebut digambarnya di atas kanvas maupun kayu mahoni yang dicukil lalu dilukis. ”Oh itu lukisan yang dulu pernah dipamerkan. Ini menggambarkan Etnis Tionghoa sudah jadi bagian bangsa Indonesia, sekaligus sebagai penghormatan atas tragedi 1998 yang menimpa mereka,” kata Amrus.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Mobil Avanza yang kami tumpangi dari Jakarta menuju kawasan Bogor menepi, tepatnya di depan gerbang masuk Lido Resort yang berada di pinggir Jl Raya Bogor-Sukabumi Km 21. Menurut blog yang menjadi panduan kami, galeri tersebut berada tidak jauh dari Lido Resort. Patokannya gapura di pinggir jalan, lalu masuk ke dalam jalan tersebut.

Setelah bertanya dengan beberapa penjaga di gerbang Lido Resort, kami memutuskan untuk menyusuri jalan perkampungan di seberang Lido Resort. Kreshna mengingat, ada beberapa tanda menuju galeri Amrus, selain gapura yang berwarna kuning, juga terdapat kantor polisi. Sekitar dua ratus meter menyeberang dari gerbang Lido Resort, terlihat ada gapura yang berada dekat dengan kantor polisi.

Gapura tersebut tidak berbeda jauh dengan deskripsi yang tertulis di blog. Hanya saja, warna gapura tersebut sekarang menjadi merah. Mobil pun memasuki gapura dan menyusuri jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil tersebut. Sekitar 200 meter dari gapura, Isma berkata, “tuh galerinya. Ada tulisan Galeri Amrus. Di sebelah kiri jalan, masuk gang.”

Melihat jalan yang sangat sempit, akhirnya mobil diparkirkan di lahan material pinggir jalan. Kami pun berjalan menghampiri galeri. Baliho bulat yang bertuliskan Galeri Amrus ternyata hanya dipasangkan di atas warung yang kebetulan menghadap muka jalan. Sementara posisi galeri berada di samping gang.

Galeri Amrus Natalsya

Galeri Amrus berbentuk rumah, dengan halaman terbuka dan pagar yang ditumbuhi tumbuhan rambat. Ketika memasuki pagar, terlihat banyak kandang unggas yang berisi kalkun, ayam kate dan burung sejenis parkit. Di ruang tengah, terlihat banyak jejeran lukisan kanvas. “Dari mana ya ade-ade?”tanya seorang perempuan yang sudah cukup sepuh.

Setelah memperkenalkan diri, kami pun dipersilakan duduk. Ibu itu bernama Atai, istri ketiga Amrus. Ibu Atai merupakan perempuan asli Lido. “Bapak lagi berobat ke kota, di RS PMI. Tadi siang berangkatnya,” kata Bu Atai. Bu Atai menyuruh kami untuk beristirahat sembari melihat-lihat karya seni yang ada di pelataran galeri.

Di salah satu sudut galeri, terlihat seorang pemuda yang sedang melukis. ”Sedang melukis apa kang?”pertanyaan itu meluncur. “Oh ini, hanya sedang menambahkan warna saja. Ini karya bapak, saya hanya membantu pewarnaan saja. Nanti detilnya bapak yang finishing,” kata pria bernama Asrul

Menurut Asrul, Amrus masih sangat jeli dan detil jika sudah bicara soal karya rupa. “Apalagi kalau cukil kayu, waduh, itu bapak detil sekali. Ini contohnya,” katanya sambil menunjukkan salah satu karya cukil yang berada di dekatnya. Asrul sudah setahun mengikuti Amrus. Ia mengakui banyak belajar dengan menjadi asisten Amrus.

Galeri Amrus ini cukup luas. Menempati lahan sekitar 700 meter. Hampir seluruh temboknya tidak ada yang dicat, melainkan masih diselimuti semen yang tidak diaci. Galeri ini berdiri setinggi tiga lantai, yang tiap lantainya terdapat pajangan lukisan-lukisan Amrus. Bu Atai mengajak kami mengunjungi beberapa sudut ruangan galeri.

“Ini mungkin salah satu karya bapak yang paling serius saat ini. Pesenan Pak Fadli Zon. Barusan orangnya nelepon, bisa ke rumah gak. Tapi kan bapak lagi kontrol di rumah sakit,” kata Bu Atai sambil menunjukkan sebuah bidang kayu yang sangat besar. Karya tersebut berbentuk kerumunan orang yang sedang tawaf mengelilingi Ka’Bah. “Karya ini sudah dikerjakan selama beberapa tahun,” sambung Bu Atai.

Selain sebagai politikus, Fadli Zon memang dikenal sebagai sejarawan dan kolektor karya seni. Menurut Ibu Atai, sudah beberapa kali Fadli main dan memesan beberapa karya dari Amrus. Meski dikenal sangat membenci anasir-anasir komunisme, Fadli cukup dekat dengan Amrus. Bahkan di buku puisi Amrus, Fadli memberikan epilog.

***

Sebagai seorang seniman, Amrus bersama kawan-kawannya di Bumi Tarung pernah mengalami masa keemasan. Terlebih di era Orde Lama, Presiden Soekarno sangat memperhatikan seniman-seniman yang revolusioner. Pada tahun 1964, ia dan anggota Bumi Tarung mengadakan pameran selama Konferensi Seni Sastra Revolusioner (KSSR) yang diinisiasi PKI.

Keterkenalannya sebagai pematung kayu yang dikagumi Bung Karno semakin melambungkan namanya di kalangan seniman revolusioner. Bersama pelukis Batara Lubis, dan karikaturis A Sibarani, Amrus pernah menjadi delegasi yang mewakili pemuda Indonesia di acara Pekan Pemuda se-Dunia di Wina, Austria. Selain itu, ia juga pernah diundang oleh Uni Soviet, Tiongkok dan Saudi Arabia.

Namun, seiring dengan memanasnya situasi politik nasional, Bumi Tarung mulai merasakan beratnya konsekuensi atas pilihan ideologi berkeseniannya itu. Puncaknya, ketika terjadi gerakan 30 September 1965 (G-30-S), mereka dituduh sebagai anggota PKI. Patung kayu karya Amrus berjudul Epos Perjuangan Revolusi 1945 pesanan Hotel Duta dan patung Keluarga Tandus di Senja di Akademi Ali Archam dibakar massa.

Teman-temannya seperti Harmani dan Harjatno, ditangkap dan digebuki hingga tewas.  Para anggota Bumi Tarung yang di Yogyakarta, seperti Sutopo, Djoko Pekik, Suroso, dan Sudiyono S.P., ditahan. Ng. Sembiring yang pulang ke kampung halamannya di Sumatera Utara juga ditahan. Sementara Misbah Tamrin seperti yang diceritakannya dalam buku Berlayar di Tengah Badan terciduk di Banjarmasin, Kalimantan. Misbah sendiri dipenjara selama 13 tahun tanpa proses pengadilan.

Sementara Amrus, Isa Hasanda, dan Dj. Gultom yang menyelamatkan diri berpindah-pindah tempat tinggal di Jakarta. Namun ketiganya juga tertangkap pada 1968 lewat “Operasi Kalong”. Amrus tertangkap di rumah kontrakannya yang berada di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Berbeda dengan Misbah yang dipenjara hingga belasan tahun, Amrus hanya mengalami masa penahanan selama lima tahun, dari 1968-1973.

Dari seluruh anggota Bumi Tarung, Kuslan Budiman yang sedikit beruntung. Ketika itu, ia berada di Tiongkok untuk mempelajari Teater Rakyat. Karena huru-hara tahun 1965 itu, ia tidak bisa kembali ke Tanah Air; dari Tiongkok pindah ke Moskow hingga akhirnya menetap dan menjadi eksil di Belanda.

Amrus Natalsya

Usai keluar dari penjara, para seniman Bumi Tarung memulai segala sesuatunya untuk bertahan hidup dengan stempel “eks-tapol” yang membatasi gerak dan gagasan mereka. Amrus menjadi juru foto keliling, sedangkan Djoko Pekik pernah berprofesi sebagai tukang jahit. Keduanya memberikan gambaran tentang sulitnya kehidupan sekitar 30 anggota Bumi Tarung ketika itu.

Namun sembari berseloroh, Amrus mengatakan saat ini kawan-kawannya di Bumi Tarung yang masih hidup sudah kaya raya. “Lihat itu Pekik, lukisannya laku miliaran rupiah. Sudah kaya dia… hahahaha. Jadi kalau masih muda jangan takut hidup susah, harus berani,” kata Amrus.

Sama seperti Pekik, Amrus pun mulai menikmati jerih payahnya sebagai seorang seniman dengan karya bermutu artistik tinggi. Seorang kolektor bernama Etty Mustafa menggandengnya sebagai mitra. Etty bukan hanya menjadi kolektor khusus karya Amrus, tapi juga menjadi dealer yang memasarkan karya-karya Amrus yang laris manis karena melalui tiga genre media seni, mulai dari patung kayu, lukisan kanvas dan lukisan kayu. (*)

*) Wahyu Arifin, alumnus Universitas Negeri Jakarta. Pernah mampir kuliah di STF Driyarkara dan mengawali karir jurnalistiknya majalah Didaktika, Tabloid Transformasi dan sebuah  media cetak berklaim nasional.

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Classic Prose

Trending