© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Menonton Hidup Sudjojono

Hidup dan karya S Sudjojono dipanggung-kan dalam drama ”Pandanwangi dari Sudjojono” yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 September. ”Jiwa ketok” panggung nyata: kisah cinta Sudjojono dan Rose, dan bagaimana romansa itu memengaruhi karya sang maestro.

Rose Pandanwangi duduk di sofa yang ada di sudut panggung, sendiri. Di sudut lain ”Rose” tak sendiri. Di sudut lain itu Rose terlukis berduaan dengan Sudjojono di kanvas ”Lagu Sesudah 26 Tahun”. Sudjojono melukisnya tahun 1985, setahunan sebelum sang maestro meninggal pada usia 73 tahun.

Kemal Abdul Hamid (Frans Josep Ginting) menghampiri Rose yang sendiri, mengambil secarik kertas dari sebuah meja kecil di samping sofa tempat Rose duduk. Secarik cinta untuk Rose, ditulis Sudjojono tahun 1956. Kemal menubuhkan bait-bait cinta itu.

”… Sebuah cinta dua seniman cinta dua seniman yang tidak akan pernah hilang. Ya, Rose, cinta seperti itu sangat hebat. Badai bisa menghilangkan, memaksakan dan meremukkan badan ini, tetapi cinta tidak. Itulah jiwa, cinta yang besar tidak mengenal kehilangan.”

Lakon Pandanwangi dari Sudjojono memang seperti sebuah panggung kesaksian akan seorang Sudjojono, lelaki kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, pada tahun 1913 itu. Kebesaran Sudjojono—seorang maestro, penggagas seni rupa baru Indonesia yang menggugat langgam lukisan indah ala mooi indie—hadir sebagai keseharian seorang suami dan ayah.

Kesaksian

Putri Rose dan Sudjojono, Maya Sudjojono Font Raket, turut berlakon. Menjadi Rosalina Poppeck (nama muda Rose Pandanwangi), ia mengawali penggalan kisah hidup Sudjojono dengan menuturkan perjumpaan Rose dengan sang maestro di Belanda pada 1951.

”Tanpa sengaja saya berkenalan dengan Mas Jon, saat saya belajar olah suara di Amsterdam. Ia melawat bersama misi kebudayaan Indonesia. Tanpa kesan, hanya sedikit terkejut saja berkenalan dengan seorang pelukis yang saat itu sudah punya nama. Beberapa hari kemudian, kita bertemu lagi di Berlin. Waktu berlalu tanpa cerita, dan juga tanpa kesan.”

”Demikian pula Sudjojono,” sahut Gandung yang bermain ganda dengan memerankan sang maestro, sekaligus menjadi penutur kisah Sudjojono. Sebuah lukisan Sudjojono diproyeksikan di latar panggung dan lantas dikisahkan Gandung.

”Di lukisan berjudul ’Setangkai Bunga Kamboja’ ini, Sudjojono menulis ’peringatan pada sembuh penyakit eksim’ … Sudjojono memang biasa menyertakan buah pikiran serta perasaannya di kanvas lukisannya. Masih di lukisan itu, dia membuat puisi … ’Datang waktunya engkau … dari putih menjadi biru. Engkau penghias jadi perdu’. Lukisan itu bertahun 1956, itulah tahun di mana Rose dan Sudjojono bertemu ketiga kalinya. Saat itu Rose sudah kembali ke Jakarta, usai menyelesaikan olah vokal di Amsterdam.”

Karya buah cinta

Sebagian besar lakon memang dijalin dialog Rose muda dan Sudjojono, berikut lukisan dan sketsa buah cinta Sudjojono dan Rose. Gandung juga menafsir sebuah puisi cinta dalam sebuah sketsa Sudjojono berjudul ”Sodom dan Gomora”.

”Aku menafsirkan puisi itu sebagai ketetapan hati untuk menyerahkan cinta kepada kehidupan yang nanti. ’Kemarin adalah kemarin, esok adalah esok,’ kata puisi itu. Tetapi, bagi Rose, esok ada karena direncanakan hari ini. Itu yang menyebabkan Rose datang kepada Sudjojono, dan berkata ’sesudah ini apa?’

Pandanwangi, nama itulah yang diberikan Sudjojono untuk Rose, dan dengan nama itulah Rose mengikuti Bintang Radio RRI tahun 1958. Lagu ”Kisah Mawar di Malam Hari” yang mengantar Rose Pandanwangi memenangi kompetisi biduan itu dilantunkan kembali oleh Rose dalam sandiwara itu.

Pandanwangi dari Sudjojono juga menghadirkan sejumlah rekaman suara Sudjojono, mengisahkan perjalanan hidup dan pandangan-pandangannya, termasuk keterkaitannya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra, organisasi sayap Partai Komunis Indonesia), juga cintanya kepada Rose.

”Ketika saya jadi anggota DPR, terasa betul oleh saya perbedaan-perbedaan ideologi di dalam partai. Perbedaan-perbedaan itu di antaranya soal ketuhanan, soal sikap Partai Komunis Indonesia, soal cinta. Ketika pimpinan partai tahu bahwa saya cinta Rose, partai mengutus orang supaya saya putuskan hubungan dengan Rose. Saya tidak mau. Saya keluar dari partai, dari parlemen, dari Lekra. Itu terjadi pada tahun 1957. Karier saya sebagai orang politik saya tutup, dan saya sepenuhnya melukis, dan mencoba hidup hanya dari seni lukis. Saya menikah dengan Rose pada tahun 1959.”

”Pada tahun itu, Rose sudah memiliki tiga orang anak. Sudjojono sudah memiliki delapan orang anak,” begitu dialog Gandung.

Rose muda melanjutkan kisahnya dengan prahara politik G 30 S pada 1965 yang juga mendera rumah tangga Sudjojono. ”Dalam rentang waktu tujuh tahun itu, aku memberikan tiga orang anak dari Mas Djon. Saat Mas Djon diambil tentara satu hari, aku mengadu kepada Adam Malik. Untunglah Mas Djon segera pulang.

Jajang C Noer juga hadir, menuturkan kisah dirinya saat berumur 17 tahun, gadis Jajang Pamuntjak, bertetangga dan bersentuhan dengan keluarga Rose dan Sudjojono. ”Ini saya dilukis Pak Djon,” tutur Jajang mengisahkan lukisan potretnya.

Anak-anak Rose, Wicky kecil (Sarah Yogaswara), Djuang kecil (Ratina Yogaswara), dan Pandan kecil (Nadya Yogaswara), jenaka berkisah betapa melelahkannya menjadi model sang ayah, hingga menghasilkan lukisan para anak Sudjojono yang bertampang cemberut.

”Saya justru paling sering minta dilukis Pak Djon, makanya lukisan saya banyak,” ujar Maya kecil (Nathalie Font Raket) tentang lukisan bocah yang kebanyakan tersenyum manis. Lakon itu memang menggambarkan bagaimana Rose kian menjadi sumber inspirasi karya-karya Sudjojono, begitu pula anak-anak Rose.

”Seluruh naskahnya digarap oleh Gandung, yang melakukan riset dan wawancara dengan saya dan anak-anak saya. Setiap dialog, juga pemilihan lukisan yang dikisahkan, kami lakukan bersama-sama,” kata Rose.

Pentas lakon itu menjadi bagian dari peringatan ”Seabad Sudjojono, 1913-2013” yang akan berlangsung di Indonesia dan Singapura hingga 1 Maret 2014. Serangkaian acara masih akan berlangsung, mulai dari diskusi seni ”Sosok dan Karya Sudjojono” di Institut Kesenian Jakarta pada 25 Oktober sampai pameran utama ”Seabad Sudjojono” di Museum Nasional Jakarta (13 Desember 2013-12 Januari 2014) dan Nanyang Technological University Singapura (17 Januari-1 Maret 2014).

Yang berbeda dari rangkaian lainnya, lakon ini menghadirkan Sudjojono dengan rasa berbeda. Kekuatan utama dari lakon itu adalah tersajinya konteks dan kisah dari berpuluh lukisan Sudjojono yang dihadirkan di panggung. Cerita yang begitu sehari-hari, begitu intim dan hangat, tersembunyi di balik kebesaran sang maestro dengan segenap gagasan dan kebaruannya dalam menghadirkan seni rupa baru Indonesia. (Kompas, Aryo Wisanggeni)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT