Connect with us

Inspirasi

Menjadi Wartawan (Kayakanya) Enak Ya..

mm

Published

on

Menjadi wartawan kayaknya enak ya? Bisa ‘mobile’ ke sana ke mari; ketemu banyak orang dari kalangan akar rumput sampai yang elit dan juga artis; apalagi kalau nonton wartawan yang cakep dan komitmennya kaya ‘wartawan bawel’ dalam film republik twitter yang diperankan Laura Basuki!? Ah nyaris sempurna masa muda di dunia ini… dan tentu saja wartawan dalam kesan masyarakat kita hari ini masih jelas sosok atau pribadi yang pekerja keras, cerdas, dan seru! Kurang apa coba??

Nyatanya, sebelum melihat enak dan serunya menjadi wartawan, mari kita melihat hal tidak mudahnya, setidaknya hal itu diamini oleh dua senior dalam bidang ini, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Mereka berdua dalam bukunya yang nyaris jadi kitab wajib baca bagi setiap calon reporter atau wartawan Elemen-Elemen Jurnalisme (Pantau, 2006) telah menunjukan betapa tidak mudahnya mnejadi seorang jurnalis.

Kedua wartawan senior tersebut menekankan sepuluh hal yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan. Kesepuluh komponen itu adalah pemahaman mendasar kegunaan jurnalisme; obyek utama jurnalisme adalah kebenaran, loyalitas jurnalisme adalah pada warga/rakyat, intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi, menjaga independensi, menjadi pemantau independen terhadap kekuasaan, jurnalisme sebagai forum publik membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan, menulis komprehensif dan proporsional, serta bertanggung jawab kepada nurani.

Inilah yang menjadi pembeda dengan misalnya jurnalisme warga (citizen journalism), di samping menjadi jurnalis harus patuh kepada kode etik jurnalistik dan UU Pokok Pers, jurnalis juga harus memegangi diktum, jangan mudah percaya! Untuk memperoleh kebenaran, lakukanlah cross check dan verifikasi. Ah lelah?

Buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach & Tom Rosenstiel. Menurut sejarawan dan sosiolog Michael Stephens, dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, manusia mempunyai kebutuhan naluriah untuk mengetahui apa yang terjadi di luar pengalaman langsung diri sendiri. Mengetahui peristiwa yang tidak bisa kita saksikan dengan mata kepala sendiri, ternyata menghadirkan rasa aman, perasaan mengontrol dan percaya diri.

Verifikasi harus menjadi dewa junjungan seorang wartawan profesional. Hal ini pula yang kerap ditengarai menjadi kelemahan dalam jurnalisme warga, dimana warga pewarta sangat lemah dalam verifikasi dan penulisan yang komprehensif dan proporsional. Contoh dari ini adalah blog keroyokan seperti Kompasiana atau indonesianatempo dimana banyak tulisan dimuat tanpa editing (tahun-tahun sekarang keduanya tampak memiliki komitmen editing yang lebih kuat dan ada wartawan khusus yang menangani dan memverifikasi); tetapi masih kerap hanya unggul secara isu tapi sangat lemah dalam struktur, syarat-syarat laporan jurnalistik, dan abai dalam tata bahasa. (lihat artikel Emanuel Dapa Loka, dalam “Citizen Journalist” bukan wartawan: Kompas 7 April 2013)

Mari kita melompat ke produk jurnalistiknya. Inti dari “kayaknya enak” dari kerja wartawan (utamanya cetak) adalah kerja menulisnya. Lalu apa beda menulis untuk beragam bentuk karya jurnalistik?

Ada pameo untuk melukiskan wartawan seperti dikatakan wartawan senior serba bisa Rosihan Anwar: wartawan itu seorang generalis, bisa menulis apa saja walau pun tidak mendalam. Dia penulis editorial atau tajuk rencana jika telah mencapai peringkat pemimpin redaksi. Dia reporter dan penulis berita bila masih bertugas di lapangan menurut bidang yang ditentukan. Dia menulis kolom dan jadi kolumnis setelah punya cukup pengalaman sebagai reporter. Dia menulis mengenai resensi film, konser musik, lakon drama atau pun membedah buku.

Pelajaran terbaik tentang ragam menulis ini justeru penulis dapatkan dari—secara tidak sengaja justeru dalam buku yang “berlabel” buku sejarah ketimbang buku panduan tentang jurnalisme—Rosihan Anwar dalam Petitie Historie Indonesia Jilid 4, menuangkan dalam prolog dari setiap karya jurnalistik yang dibuatnya, tentang pengalaman menulis sebagai Kolumnis, menulis sebagai ahli resensi, menulis sebagai reporter; menulis sebagai pengarang editorial, menulis sebagai wartawan tabloid sampai menulis sebagai sastrawan dan sejarawan, beberapa contohnya saya salinkan di sini:

Menulis Sebagai Kolumnis

Kolumnis menurut kamus besar baha indonesia (1988) berarti: orang yang secara tetap menulis artikel si surat kabar atau majalah. Topiknya beraneka ragam. Mulai dari hal-hal ringan-ringan, hiburan kepada pembaca sampai kepada analisis di bidang politik , ekonomi dan kultural.

Menulis Sebagai Reporter

Melakukan tugas sebagai reporter ternyata lebih meyenangkan dari pada misalnya menulis kolom atau tugas menulis tajuk rencana. Sebab, sebagai reporter, kita menjumpai aneka ragam bahan di  lapangan dan tergantung pada daya cipta atau kreatifitas kita untuk menyajikan tulisan menarik. Kadang-kadang tampaknya seperti lahan kering yang kita hadapi, tidak ada yang bisa dituliskan, maka dalam keadaan demikian kita memerlukan imajinasi. Kita bersikap bak bunyi peribahasa: tak ada rotan akar pun jadi. Yang penting tulisan ada. Intinya, reporter harus mengembangkan kemampuan menjadi story teller. Bahkan jika bahan yang ditemukan hanya perkara sehari-hari dari suatu masyarakat yang sama sekali baru dan asing, pengamatan atas yang sehar-hari itu sebagai kehidupan harus di ceritakan oleh reporter; teknik persembahan tidak bertele-tele. Bahasa mudah dimengerti. Itulah yang harus diperhatikan seorang reporter.

Menulis Untuk Tabloid; Names “Make News”

Surat kabar dan majalah terdiri dari berbagai jenis. Di barat orang membeda-bedakan antara koran serius, intelektual (serious-intellectual papers) di satu pihak dengan koran-koran jalanan (boulevard papers) di pihak lain. Pembaca yang di hadapi berlainan pula. Yang satu di baca oleh golongan terpelajar yang satu lagi oleh rakyat biasa. Di Prancis terdapat Le Figaro sebagai contoh  boulevard papers.  Di Inggris The Daily Miror dianggap koran pupuler. The london times surat kabar intelektual, seperti the new york times di Amerika atau Frankfurter Allgemeine Zeitung  di Jerman. Di negeri Belanda juga ada De telegraf bacaan rakyat biasa, di Indonesia koran Kompas di golongkan ke dalam pers serius, berbeda dengan pos kota yang di baca wong cilik. Sementara penerbitan yang mengkhususkan diri pada hiburan, gosip, sensasi yang di beri nama infotaimen tidak di anggap pers serius.

Untuk yang berjenis tabloid/infotainmen, Rosihan Anwar yang juga pernah menulis untuk C&R punya kiat dan metode: tak usah pergi jauh-jauh, tak perlu melambung tinggi-tinggi. Tetaplah berada di lingkungan yang dikenal banyak orang. Tetaplah berpijak di bumi nyata.

Dalam menyusun tulisan ingatlah adagium jurnalistik: names make news. Nama-nama bikin berita. Tidak hanya seleb atau pesohor, tapi juga insan biasa akan senang membaca namanya ditulis dalam konteks yang baik. Mari kita usahakan, “sana senang, sini senang.” Demikian Rosihan Anwar.

Demikian catatan pendek ini penulis salin dari catatan tangan dalam buku harian tertanggal 5 Agustus 2012, lima tahun yang lalu. Dengan kian banyaknya media dan ragam platform medinya serta perkembangan masyarakat hari ini tentu banyak yang bisa direvisi di sana sini. Tetapi semoga catatan kecil ini bermanfaat sekedar sebagai pembangkit minat menulis, atau menginspirasi untuk menjadi penulis bahkan wartawan profesional. Menulis adalah.. seru dan enak ! (*)

*Sabiq Carebesth, pembaca buku dan penulis buku harian.

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tetang Truman Capote

mm

Published

on

Siapa tidak kenal dengan Breakfast at Tiffany’s, novelet karya Truman Capote yang berhasil menghipnotis seluruh dunia tidak hanya dalam media sastra tetapi juga film, fashion, kuliner dan hampir seluruh budaya pop yang bisa dihasilkan pada zamannya bahkan sampai sekarang. Novel Breakfast at Tiffany’s masih terus diterjemahkan ke berbagai Bahasa hingga hari ini dan terus menambah pembaca setianya tak terkecuali di Indonesia.

Sosok dan keseharian Capote memang mengagumkan, ia sosok yang layak menjadi besar di mana hal itu terlihat jelas bagaimana karya dan pribadinya mampu menginspirasi orang lain dan ragam seni lain. Salah satu contohnya karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird karya Lee tidak lain dan tak bukan adalah pribadi Capote yang dalam kehidupan nyata adalah karib Lee.

Beberapa fakta menarik lain tentang Truman Capote: hidup, pekerjaan, dan keterkaitannya dengan para penulis lain benar-benar tak layak Anda abaikan, simak selangkapnya berikut ini:

  1. Truman Capote mengilhami karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Karakter Dill Harris dalam novel Lee didasari oleh tetangga sekaligus sahabat Harper Lee sendiri- Truman Capote. Capote, yang lahir pada tahun 1924 dengan nama Truman Streckfus Persons, mengubah namanya menjadi Truman Capote pada tahun 1935, mengikuti ayah tirinya, Joseph Capote.
  2. Ternyata, Lee bekerja sebagai asisten Capote untuk salah satu bukunya. Karya Truman Capote, In Cold Blood, sebuah karya non-fiksi yang diterbitkan pada tahun 1966, berfokus pada pembunuhan brutal oleh empat orang dari satu keluarga yang sama di Kansas pada tahun 1959. Menulis tentang tragedi terkini tentu saja melibatkan cukup banyak penelitian, sehingga Capote bisa pastikan fakta di karyanya tepat, dan Harper Lee membantu wawancara dan penelitian untuk buku ini. Pembunuhan kemudian akan muncul kembali di dunia Capote dengan cara yang aneh dan paling meresahkan. Yang mengerikan, Capote ternyata mengenal empat korban pembunuhan Manson tahun 1969, masing-masing dari mereka. Capote kemudian mengungkapkan bahwa ‘dari lima orang yang terbunuh di rumah Tate malam itu, saya mengenal empat dari mereka. Saya bertemu dengan Sharon Tate di Cannes Film Festival. Jay Sebring memotong rambut saya beberapa kali. Saya pernah makan siang sekali di San Francisco bersama Abigail Folger dan pacarnya, Frykowski. Dengan kata lain, saya mengenal masing-masing dari mereka.”

Saya tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang saya selama itu tidak benar. –Truman Capote

  1. Capote menulis drafnya di atas kertas kuning. Pastinya kertas ini adalah ‘kertas kuning yang sangat istimewa’, seperti yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Paris Review. Kemudian, begitu dia senang dengan drafnya, dia akan mengetiknya di atas kertas putih.
  2. Capote memberi Ray Bradbury jeda lama dalam menulis. Bradbury mendapat jeda penting pertamanya saat dia remaja, di akhir 1930-an. Dia mengajukan sebuah cerita ke majalah Mademoiselle, yang mana seorang Truman Capote muda – yang sebenarnya empat tahun lebih muda dari Bradbury – bekerja sebagai asisten editor. Capote membaca cerita Bradbury, yang berjudul Homecoming, dan merekomendasikan kepada editornya untuk menerbitkannya.

Hidup ialah drama yang lumayan bagus dengan babak ketiga yang ditulis dengan buruk. – Truman Capote

  1. Truman Capote akan berganti kamar hotel jika nomor teleponnya disertai nomor 13. Seperti Stephen King – yang menderita triskaidekaphobia – Capote adalah seorang penulis yang percaya takhayul dan nomor 13 tidak disukainya. Dia juga tidak akan memulai atau mengakhiri sebuah karya pada hari Jumat, karena dia menganggapnya sebagai nasib sial. Terlepas dari kondisi dirinya sendiri, dia berhasil menulis sejumlah karya fiksi dan non-fiksi yang sukses, tidak hanya In Cold Blood, tapi juga novel pendek Breakfast at Tiffany’s (1958), film yang dibintangi Audrey Hepburn. Capote meninggal pada tahun 1984, berusia 59 tahun. Pada tahun 2005, almarhum Philip Seymour Hoffman berperan sebagai penulis dalam film biografi terkenal, Capote.

______________________________________________

*) By Regina N. Helnaz | Editor Sabiq Carebesth

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tentang Novelis John Steinbeck

mm

Published

on

Saat menulis novel East of Eden jarang yang tahu fakta bahwa ia menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Dialah John Steinbeck, novelis Amerika yang karyanya juga digemari sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Fakta unik lain dari penulis ini? Simak selengkapnya:

  1. Draf awal dari novel John Steinbeck, Of Mice and Men, dimakan anjingnya sendiri. Anjing itu bernama Max, salah satu anjing yang dipelihara Steinbeck semasa hidupnya, yang melahap habis draf novel itu dan karenanya, menjadi kritikus pertama buku itu. Buku itu mungkin adalah buku Steinbeck yang paling terkenal, dan terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai bindlestiff (pekerja yang suka berpindah tempat) di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Judul novel yang terkenal itu terilhami puisi Robert Burns ‘To a Mouse’: ‘The best laid schemes o’ mice an’ men / Gang aft agley’ (atau ‘sering tidak terjadi sesuai rencana’). Judul asli dari novel itu adalah ‘Something That Happened’.
  2. Pada 1980-an, muncul rumor bahwa novel Steinbeck, The Grapes of Wrath, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul ‘The Angry Raisins’ (. Namun rumor ini ternyata tidak benar adanya. Ini adalah contoh menarik bagaimana orang menyukai cerita tentang ‘tersesat dalam terjemahan’, dan rumor itu telah berkali-kali dibantah.
  3. Steinbeck menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Hemingway juga penggemar grafit dibandingkan tinta, meskipun ‘Papa’ rupanya juga gemar menajamkan pensil saat dia mengerjakan sebuah novel, untuk membantunya berpikir!
  4. Steinbeck menulis buku tentang King Arthur. Ini adalah topik yang tidak biasa bagi penulis novel di era Depresi, namun penjelajahannya ke dalam dunia fantasi Arthur baru ditulis di penghujung karirnya. Seperti T. H. White (yang menulis sekuel The Once and Future King, didahului dengan The Sword in The Stone) dan Tennyson (yang menulis novel bersyair panjang, Idylls of the King, pada abad ke-19), Steinbeck terilhami epos abad ke-15 karya Sir Thomas Malory, Le Morte d’Arthur, untuk materi novelnya. Fantasi Arthurian Steinbeck adalah The Acts of King Arthur and His Noble Knights. Mulai ditulis pada 1956, buku itu tidak terselesaikan dikarenakan kematian Steinbeck pada tahun 1968, dan tidak diterbitkan hingga 1976.
  5. Dia menulis salah satu surat cinta terbaik yang pernah ada dalam kesusasteraan– sebuah surat tentang jatuh cinta. Pada sebuah surat di tahun 1958, Steinbeck merespon surat yang ditulis putranya, Thom, untuknya. Thom berkata pada ayahnya kalau dia benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis bernama Susan (saat itu, Thom tinggal di asrama). Steinbeck meresponnya dengan nada suportif dan jujur di sepanjang surat itu, mempertimbangkan dengan seksama perasaan anaknya namun juga menawarkan nasihat tentang ‘apa yang harus dilakukan’ – pastinya hal yang ingin diketahui oleh setiap anak remaja dalam masa-masa sakit hati karena cinta, “Tujuan dari cinta lah yang terbaik dan paling indah,” katanya pada Thom. “Cobalah untuk hidup dengan mengingat itu.” Ia mengkahiri suratnya dengan meyakinkan putranya, “Dan jangan khawatir akan kehilangan. Jika harus terjadi, maka terjadilah – yang paling penting jangan terburu-buru. Sesuatu yang baik tidak mungkin terlepas darimu.”

*) Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Continue Reading

Inspirasi

Alice Munro: Menulis Harus Disiplin dan Percaya Diri

mm

Published

on

foto: The New York Times

“Saya tidak pernah menunjukkan karya yang masih dalam tahap penyelesaian kepada siapapun”. Hal itu bisa jadi salah satu ungkapan paling rahasia dalam proses kreatif  penerima Penghargaan Nobel Sastra (2013) Alice Munro.

Alice termasuk penulis yang sangat prolifik dengan reputasi tinggi. Seperti Anton Chekhov, Alice tidak pernah menulis novel utuh—namun setiap ceritanya mengandung elemen-elemen novel yang membuatnya terkesan ‘penuh’. Meski karyanya telah diganjar Nobel Sastra, ia kerap mengaku bahwa setiap penulis membutuhkan rasa percari diri lebih. Juga bagaimana menghadapi kritik yang kerap membuat sakit hati.

Edit dan Kritik

Dalam sebuah wawancara dengan Paris Review, Alice mengisahkan pengalaman pentingnya terkait pengeditan yang ‘serius’. Moment itu terjadi ketika cerpennya akan diterbitkan dalam majalah The New Yorker. Menurutnya itu adalah pengalaman sangat serius ketimbang sekedar copyediting yang biasanya sangat sedikit usulan.

“Karena harus ada kesepakatan antara si editor dan saya tentang apa-apa saja yang perlu diganti, dikeluarkan serta ditambahkan ke dalam sebuah karya. Editor saya yang pertama di The New Yorker bernama Chip McGrath dan dia adalah seorang editor handal. Saya sangat terkejut mendapati betapa besar komitmen yang dia berikan terhadap karya saya. Terkadang kami tidak melakukan perubahan besar, tapi ada juga saat di mana dia memberikan arahan yang cukup signifikan kepada saya. Suatu kali saya pernah menulis ulang sebuah cerita pendek berjudul The Turkey Season yang sudah ia beli untuk diterbitkan di The New Yorker. Saya pikir dia akan menerima perubahan yang saya berikan begitu saja, tanpa banyak protes. Namun saya salah. Katanya, ‘Ada beberapa hal dalam revisian ceritamu yang saya suka dan ada juga hal lain yang menurut saya lebih menarik dalam versi draft sebelumnya. Kita lihat saja nanti ya’. Dia tidak pernah memberikan kepastian yang mutlak, karena sebuah cerita selalu punya potensi untuk dikembangkan. Saya rasa metode pendekatan seperti itu cukup manjur dalam menghasilkan versi akhir yang lebih menarik.” Kisah Alice sebagaimana ditayangkan dalam wawancara khususnya bersama Paris Review.

Hal paling penting dalam menulis salah satunya, menurut pengarang Friend of My Youth ini adalah kepercayaan diri. Ia sendiri sering merasa, sebagai penulis perempuan, profesi menulis dianggap tabu.

“Karenanya dalam menulis, saya selalu punya rasa percaya diri yang tinggi—tapi saya juga punya kekhawatiran bahwa rasa percaya diri itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Menurut saya, rasa percaya diri yang saya miliki datangnya dari kebodohan saya sendiri. Karena karya saya bukan karya populer, saya tidak pernah tahu bahwa profesi menulis seringkali dianggap tabu bagi kaum wanita ataupun mereka yang datang dari kelas menengah ke bawah. Bila kita tahu kita bisa menulis dengan baik di tengah lingkungan di mana orang-orangnya bahkan merasa kesulitan membaca, tentu saja kita berpikir bahwa bakat yang kita miliki sangatlah spesial.” Ujar penulis Too Much Happiness tersebut.

Sementara itu terkait opini kritikus atas karya penulis, ia berpendapat bahwa hal itu bisa jadi penting bisa jadi tidak. “Sebagai penulis, tak ada yang bisa kita pelajari dari kritik pembaca; tapi kita bisa menuai perasaan sakit hati dengan mudah dari kritik. Bila karya kita dinilai tidak bagus, kita cenderung merasa dipermalukan di depan umum. Meski kita meyakinkan diri bahwa tidak ada kritik yang perlu untuk diperhatikan, namun ujung-ujungnya kita selalu berusaha untuk mencari tahu. Jadi…” katanya dengan nada ambigu.

Disiplin

Menulis membutuhkan disiplin tinggi. Alice mengaku bahwa ia menulis sepanjang hari. Pada pagi hari, hampir 5 jam dan itu berlangsung tanpa libur.

Ia mengisahkan bahwa ketika anak-anak saya masih kecil, ia selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah. Bisa dibilang ia bekerja sangat giat di masa tersebut. Ia bersama suaminya memiliki sebuah toko buku, dan bahkan jika gilirannya tiba untuk jaga toko, ia takkan berangkat dari rumah sampai pukul dua belas siang.

“Seharusnya saya membereskan rumah, tapi saya justru banyak menghabiskan waktu menulis.” Kisahnya.

Beberapa tahun kemudian, saat ia tidak lagi bekerja di toko buku, ia akan menulis sampai keluarga pulang untuk makan siang, dan disambung lagi saat mereka keluar rumah sehabis makan siang—sampai sekitar pukul 2.30 siang. Setelah itu ia akan minum secangkir kopi dan membereskan rumah sebelum anak-anak dan suami saya pulang pada malam.

“Sekarang saya menulis setiap pagi, tujuh hari seminggu. Saya mulai menulis pukul 8 dan selesai pada pukul 11. Setelah itu saya akan melakukan hal lain selama seharian penuh. Kecuali saya sedang menyelesaikan draft terakhir sebuah cerita atau saya sangat terdorong untuk menulis sesuatu—pada saat itu saya akan bekerja seharian, dengan sedikit sekali waktu istirahat.” Jelas Alice.

Ketika ditayanyakan padanya apakah dia menulis dengan kerangka tulisan dan akan menepatinya sampai tulisan selesai, Alice tegas menjawab sebaliknya. “Dalam menulis sebuah cerita, saya jarang sekali mengetahui detail plot yang akan terjadi. Bagi saya cerita yang baik selalu mengalami perubahan saat masih dalam proses penulisan.” Katanya.

Contohnya, menurut Alice sendiri,  saat ia sedang memulai sebuah cerita ia menulisnya setiap pagi dan meski menurutnya tulisannya sudah sangat rapi, kerap ada perasaan ia belum sepenuhnya menyukai hasil akhirnya; dan ia berharap, entah kapan, akan mulai menyukainya.

“Biasanya saya harus mengenal cerita yang hendak saya sampaikan sebelum saya mulai menuliskannya. Ketika saya tidak punya jadwal menulis yang tetap, saya terbiasa memikirkan cerita yang ingin saya sampaikan di kepala—maka saat saya menulisnya, saya sudah mengenal betul setiap elemen dalam cerita itu.” Ujar Alice.

Untuk hal itu ia mengaku menuliskan ketidaksukaanya pada tulisannya dalam sebuah buku catatan.

“Saya punya banyak sekali buku catatan berisi tulisan yang semrawut. Saya tidak perduli apa yang saya tulis di dalamnya, karena intinya saya hanya ingin menulis bebas. Saya bukan penulis yang bisa menulis kilat dan menyelesaikan sebuah cerita hanya dengan satu draft saja. Biasanya saya akan melintasi jalur yang salah, sebelum akhirnya saya harus kembali ke titik awal dan memulai perjalanan cerita itu kembali.” Kisahnya. (GBJ/ SC)

Continue Reading

Classic Prose

Trending