Connect with us

Kolom

Menggarap Sawah di Punggung Petani

mm

Published

on

Oleh: Damhuri Muhammad*

 

Kita tidak bangga kalau hanya memanen padi,

kita akan bangga bila memanen padi di sawah kita sendiri.

(Multatuli)

 

 

Dalam tradisi Melayu, kata “tani” merupakan penyempitan dari kata “tahani” yang bila diterjemahkan secara bebas berarti: “menahan diri.” Maksudnya, menahan diri untuk tidak membeli segala sesuatu yang dapat diperoleh dengan bercocok tanam. Sebutlah misalnya, sayur-mayur, cabai, bawang, seledri, kunyit, lengkuas, jahe dan sebagainya. Maka, petani sejati, di sepanjang riwayatnya dalam menyelenggarakan hidup, hanya akan membeli garam. Bahkan minyak goreng, sedapat-dapatnya dibikin sendiri. Inilah falsafah paling usang dan konsep dasar pertahanan pangan yang sejak berkurun-kurun lalu telah menyehari dalam pergulatan kaum tani. Semakin banyak yang bisa “ditahani”, semakin tangguh seseorang tegak-berdiri sebagai petani.

Jangan heran, bila di kurun pasca-modern  ini, nun di pedalaman Sumatera sana, ada seorang ibu, sebut saja namanya Syamsidar, yang di sepanjang usianya, tidak pernah membeli minyak tanah—apalagi gas elpiji─untuk memasak guna memenuhi kebutuhan konsumsi keluarganya sehari-hari. Ia mengasapi dapur dengan menyorongkan seikat daun kelapa kering ke dalam tungku. Setiap sore, sepulang dari sawah, daun kelapa kering itu dipungutnya di kebun yang sejak lama telah digarapnya. Tak terhitung sudah berapa jumlah tabungan tak tersengaja Syamsidar, selama ia menahan diri untuk tidak membeli minyak tanah. Sebab, daun-daun kelapa kering dari kebunnya tiada bakal pernah berhenti berjatuhan.

Tak hanya itu, di sela-sela kesibukannya menanam, menyiangi, dan memanen  padi di lahan sawah─yang juga miliknya sendiri─Syamsidar menghijaukan pekarangan rumahnya, dengan aneka ragam sayuran, cabai, seledri, bawang, lengkuas, jahe, kunyit, gardamunggu, jeruk nipis─tak ketinggalan pula apotek hidup─sehingga semua kebutuhannya untuk memasak tersedia di lahan belakang rumah, yang hanya beberapa langkah  dari  sudut dapurnya.

Bayangkan, bila semua tetek-bengek kebutuhan memasak itu harus dibeli dengan penghasilannya sebagai petani gabah, yang tak seberapa. Tentu akan jauh dari memadai. Bagi petani seperti Syamsidar, segala sesuatu yang dapat bersitumbuh di atas tanahnya─lagi pula, apa yang tak bisa tumbuh di tanah negeri ini?─akan ditanamnya, agar ia selalu terhindar dari keharusan membeli. Dengan begitu, penghasilan dari panen gabah, kelak  dapat terkumpul, guna membeli lahan sawah yang lebih luas lagi. Dan, setelah bertahun-tahun hidup sebagai petani, kini keluarga Syamsidar tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Hampir separuh dari lahan sawah yang terbentang di wilayah perkampungan tempat ia lahir dan dibesarkan, telah menjadi miliknya. Orang-orang di perkampungan itu menyebutnya sebagai tuan tanah, yang seolah tidak pernah kehabisan uang guna meladeni mereka yang kepepet butuh uang, lalu dengan gampang menjual atau menggadai lahan sawah. Empat orang anak Syamsidar telah disarjanakan dengan uang dari hasil tani, yang diperjuangkan perempuan itu dengan mentalitas petani.

Sebaliknya, di belahan wilayah lain, ada petani yang untuk seikat sayur Kangkung pun harus berbelanja ke pasar Inpres. Pekarangan rumahnya gersang. Kolamnya kering kerontang. Bahkan sebatang pohon Singkong pun menjadi barang yang langka. Selama masih tersedia di pasar, kenapa harus ditanam? Begitu kira-kira prinsipnya. Baginya, bercocok tanam aneka tetumbuhan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, hanya akan membuat pekerjaan di sawah akan terbengkalai. Lagi pula, bukankah ada tauke yang selalu berkenan memberi pinjaman, asalkan tangan dan kaki para petani masih bergelimang lumpur dan mau menyemai benih? Begitu pengandaian sederhana petani itu.

Namun, persoalannya, tauke yang bermurah-hati memberi pinjaman itu─bahkan sebelum sawah digarap─akan semena-mena mematok harga jual gabah, sehingga petani terhutang itu tidak punya posisi tawar lagi. Pola permodalan “setengah mencekik” semacam ini telah berlangsung, bahkan sejak petani itu belum terampil mengayun cangkul. Mungkin itu sebabnya petani jenis ini─atau lebih tepat disebut “buruh tani”─tidak terlalu banyak berharap bahwa hidup sebagai petani dapat mengubah nasib dan peruntungan mereka di kemudian hari. Lebih parah lagi, sebagian besar dari mereka mengolah sawah yang bukan lagi milik sendiri, tapi milik para tauke yang dari musim ke musim membandari mereka. Maka, alih-alih kesejahteraan mereka meningkat, dari waktu ke waktu, justru bergelimang hutang yang tak kunjung terlunaskan. Bila sudah begini, akan tiba waktunya ketika petani tidak lagi punya persediaan beras untuk ditanak, sehingga harus membeli.  Masih petani kah namanya bila beras saja harus membeli?

Ada pula sekelompok orang yang menyebut diri mereka petani,  nun di sebuah wilayah pedesaan, tapi menggunakan dana pinjaman dari KUT (Kredit Usaha Tani), untuk membiayai hajatan perkawinan atau renovasi rumah ketimbang membeli benih dan pupuk. Selain itu, perlu dicatat, demam hand-phone yang merajalela sampai ke pelosok-pelosok pedesaan sejak lima tahun belakangan ini, telah membuat petani menghabiskan uang untuk membeli pulsa ketimbang melengkapi perkakas tani yang sudah uzur. Mentalitas “tahani” telah sedemikian tergerus oleh hedonisme dan gaya hidup modern yang memang sukar dielakkan.

Sesungguhnya petani jenis itu tidak malas, tapi mungkin karena “kedaulatannya” sebagai pemilik lahan telah terjual kepada pemilik modal, maka mentalitas kepetaniannya menjadi rapuh. Menjadi petani tidak lagi sebuah pilihan yang perlu diperjuangkan, tapi sekadar pekerjaan lantaran memang tak ada pilihan. Lebih ironis lagi, ada yang merasa rendah-diri hanya karena ia seorang petani. Sosiolog, Jim Ife (1988), mensinyalir bahwa  masyarakat pedesaan seringkali dipandang sebagai masyarakat kelas dua, meski dalam kenyataaannya, kaum tani di pedesaan menjadi penyumbang terbesar bagi golongan masyarakat kaya di perkotaan. Mungkin itu sebabnya banyak petani yang kemudian menanggalkan identitas kepetanian mereka, berbondong-bondong ke kota, beralih menjadi buruh kasar, yang sesungguhnya juga tidak menjanjikan apa-apa. Tak sedikit pula yang berganti haluan dengan menjadi TKI ke luar negeri, mengadu untung ke negeri orang. Banyak kisah dan riwayat dapat diungkapkan perihal kaum tani yang tak segan-segan menjual murah lahan sawah dan ladang mereka demi membiayai keberangkatan anak-anak mereka untuk menjadi TKW di Timur Tengah, dengan segenap harapan untuk mendulang rupiah yang berlipat-lipat lebih besar daripada bertahan di kampung sebagai petani. Lalu, apa jadinya bangsa yang konon dulu dibangun dengan pertahanan kaum tani, tapi kini petani tidak lagi merasa bermartabat sebagai petani?

Di pedalaman yang lain lagi, seorang lelaki  dengan  kepala tegak membangga-banggakan anak sulungnya yang kini tercatat sebagai mahasiswa fakultas Pertanian di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Ia berharap, kelak bila anaknya sudah menyandang gelar sarjana, dapat membangun kampung halaman dengan menerapkan teori-teori pertanian modern hingga kesejahteraan kaum tani di sana meningkat,  bukan petani yang terus terpuruk dalam kemiskinan.  Namun, ia lupa bahwa enam petak sawah, dua bidang ladang miliknya telah tergadai pada tauke guna membiayai pendidikan calon sarjana pertanian itu. Bagaimana ia akan memberi contoh perihal pertanian modern, sementara ia tidak lagi punya sawah? Lagi-lagi ini persoalan mentalitas pertahanan kaum tani yang sudah rubuh. Kalau memang ia petani sejati, dipastikan ia tidak akan gampang menjual dan menggadai, sekalipun untuk mencetak seorang sarjana pertanian. Apalah guna sarjana pertanian bila tak punya mentalitas kepetanian yang dapat diandalkan?

Apa yang bakal terjadi dengan pertahanan pangan negeri ini bila kaum tani tidak lagi bangga bergelimang lumpur, tidak lagi gesit menyemai benih? Kekhawatiran semacam ini kelak bisa berubah menjadi ancaman laten bila mentalitas kemandirian petani seperti Syamsidar tidak dapat lagi dipertahankan. Maka, kaum tani harus dibela, dibebaskan dari sistem yang memiskinkan mereka, dilepaskan dari cengkaraman  para  pemodal yang menggarap sawah di punggung mereka, agar mereka kembali tegak-berdiri dan bangga sebagai petani. Kita tidak bangga kalau hanya memanen padi, kita akan bangga bila memanen padi di sawah kita sendiri, begitu pengarang termasyhur, Multatuli, pernah mengingatkan…

 

*Damhuri  Muhammad, Sastrawan. Ibunya petani, Bapaknya pedagang.

Continue Reading

Kolom

Merefleksikan 20 Tahun Reformasi

mm

Published

on

Oleh: Sugeng Bahagijo | Direktur Infid 

Tahun 2018 Indonesia memasuki usia 20 tahun sejak reformasi 1998. Tanpa banyak disadari, 20 tahun masa reformasi, Indonesia sedang merambah perubahan-perubahan sosial yang disebut sebagai “large scale social change”. Sebuah perubahan sosial berskala besar.

Perubahan skala luas penting dicatat untuk bahan berpikir: (a) sejauh mana capaian 20 tahun reformasi; (b) untuk merawat dan memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia dari berbagai godaan dan pengaruh masa lalu, yang masih kuat. Hal ini agar Indonesia tidak ditawan oleh hantu masa Lalu.

Perubahan luas ini berbeda dengan perubahan operasional dan level kelembagaan. Perubahan skala luas ditandai bukan saja perubahan kuantitatif (sarana dan institusi), juga kualitatif (nilai-nilai, asumsi-asumsi). Disebut perubahan-sosial skala raksasa karena kebijakan atau langkah itu melampaui atau menembus batas terakhir yang ada. Juga karena dampaknya (positif) sangat signifikan pada tatanan sosial dan nilai-nilai sosial (menjadi lebih baik).

Lima perubahan luas

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Setidaknya ada lima contoh perubahan skala luas yang layak disebut. Baru-baru ini, Menakertrans Hanif Dhakiri mengumumkan bahwa pemerintah akan meluncurkan dua skema kebijakan untuk mendukung angkatan kerja dan pasar kerja Indonesia. Program itu adalah tunjangan pengangguran (unemployment benefits) dan skill development fund (SDF)—dana khusus untuk memperluas kesempatan pelatihan dan pemagangan bagi semua warga dan angkatan kerja.

Ini merupakan terobosan untuk bisa setara dengan negara maju dan negara tetangga sebaya, dan lebih menjanjikan ketimbang sistem jaminan sosial yang ada sekarang. Juga karena negara-negara tetangga lain sudah memilikinya: Thailand dan Vietnam untuk tunjangan pengangguran; Malaysia dan Singapura untuk SDF.

Perubahan skala luas juga dilansir Menteri Keuangan. Dalam pidatonya di Washngton DC, Oktober 2017, Menkeu Sri Mulyani menyatakan Indonesia akan mempelajari sistem jaminan sosial baru, yaitu universal basic income atau tunjangan pendapatan warga. Ini untuk mengimbangi trend lenyapnya tenaga kerja manusia akibat perkembangan teknologi-otomatisasi, robot, dan kecerdasan buatan.

Sebelumnya, pemerintahan Jokowi-JK memulai perubahan skala luas dengan melansir kebijakan dana desa atas dasar UU Desa. Dengan 30 persen angkatan kerja berada di desa, maka dana desa menjadi super penting. Kebijakan ini contoh perubahan skala luas. Tanda-tanda perubahan luasnya dapat ditilik dari: (a) membalik arah alokasi belanja dari perkotaan ke pedesaan; (b) menempatkan warga desa pinggiran sebagai subjek dan aktor pembangunan.

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Yang terakhir tetapi tidak kalah penting adalah pelembagaan dan kodifikasi hak asasi manusia dalam sistem hukum Indonesia. Dengan demikian kedudukan dan nasib warga jadi prioritas utama. HAM akhirnya juga menjiwai UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2004 dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) 2011, yang berjanji akan menjangkau dan melindungi “semua warga”. Sistem ini sangat jauh berbeda dengan sistem terdahulu, yang hanya melayani melindungi pekerja dan aparatur negara.

Sejarah

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perubahan skala luas bukanlah baru. Jika hari ini kita memiliki jaminan sosial (BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan), meski belum 100 persen warga tercakup, kita berutang ide besar ini kepada Thomas Paine.

Karena dia (Agrarian Justice) sudah mengusulkan jaminan sosial untuk warga. Paine menolak ide penghapusan hak milik pribadi dan UU Kemiskinan di Inggris yang menimbulkan stigma bagi penerimanya. Gagasan Paine juga menjadi cara memastikan setiap warga memiliki aset di tengah sistem tanah yang sudah menjadi milik pribadi

Dalam sejarah, kita juga mengenal perubahan skala luas lain yang menjadi landasan bagi HAM modern: (i) penghapusan sistem perbudakan, dimulai di Inggris lalu merambat ke Amerika Serikat dan dunia; (ii) hak memilih untuk semua warga, tidak hanya untuk yang kaya dan laki-laki.

Dampak langsung dan tidak langsung dari perubahan skala luas ini yang akhirnya berembus juga ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia (Hindia Belanda) dan ikut memberikan andil dalam gerakan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perkembangan dunia

Indonesia tak sendiri. Berbagai negara juga berlomba menemukan dan melaksanakan perubahan skala luas. Karena setiap zaman melahirkan perkembangan sendiri. Perubahan iklim terbukti membuat frekuensi dan dampak bencana alam semakin besar di seluruh dunia. Energi kotor (batubara, minyak) menjadi biang penyebabnya. Maka, perlu ditemukan energi bersih dan lestari.

Itulah sebabnya, baru-baru ini, Pemerintah Norwegia mengumumkan akan menggelar penelitian dan uji coba energi listrik. Ditargetkan pesawat komersial bersumber listrik jadi dominan dalam 5-10 tahun ke depan. Ini artinya, maju satu langkah sesudah mobil listrik yang dikomersialkan oleh Tesla Motor.

Perkembangan teknologi seperti internet, otomatisasi, robot, memperluas kesenjangan antara pekerja ber-skill tinggi dengan skill rendah, antara pekerja dan yang menganggur. Akibatnya, ketimpangan pendapatan dan kekayaan meningkat. Maka, perlu ditemukan cara memperkecil ketimpangan ekonomi (pendapatan dan kekayaan).

Barangkali itulah sebabnya para pionir sekaligus superkaya seperti Zukerberg (Facebook) dan Elon Musk (Tesla) menyuarakan dukungannya pada sistem jaminan sosial baru: universal basic income, maju satu langkah ketimbang sistem tunai bersyarat-PKH (conditional cash transfer). Sebuah langkah untuk mengimbangi laju pesat teknologi yang berpotensi menghilangkan tenaga kerja manusia.(*)

*) Sugeng Bahagijo, Direktur Infid 

 

 

Continue Reading

Kolom

Menangkal Berhala Hoaks Transaksional

mm

Published

on

J. Kristiadi | Kolumnis Politik Kompas | Peneliti Senior CSIS *)

Ramalan kecanggihan teknologi sejalan dengan naluri hasrat manusia untuk berinterkasi sehingga kehidupan di bumi lebih harmoni di huni karena orang bebas bicara dan bertukar  gagasan, ternyata hanya ilusi. Sejarah membuktikan sebaliknya, sejak diketemukan mesin cetak yang memermudah penyebaran informasi, bukan hanya gagasan sehat yang diperdebatkan, tetapi pidato dan berita beracun  bernuansa dan terang-terangan menebarkan kebencian karena alasan perbedaan terhadap suku, ras, agama, keyakinan, membahana pula.  Misalnya, perseteruan antara Kekristnan dan Kekatolikan abad pertengahan, berujung  “Perang Agama ” antara penganut Agama katolik dan Kristen Protestan selama kurang lebih tiga dekade yang mengkibatkan puluhan ribu manusia kehilangan nyawa. Tragedi semacam itu dalam skala yang berbeda terjadi  sepanjang sejarah, dan semakin mudah terulang karena dipicu oleh kecagihan tekonologi.  (Nial Ferguson, The False Prophecy of Hyperconnection, How to Survive The Networked Age, Forein Affairs, September/October 2017). Selain factor teknologi, alasan lain yang lebih fundamental dan fenomena ” homopily”, gejala kecenderungan manusia mempunyai naluri mencari teman yang mempunyai kepentingan, ide dan karakter  yang sama. Relasi yang homopilik semakin mudah kalau di dasarkan atas sentiment primordial dan karakter yang sama. Ibaratnya, burung akan bergerombol dengan jenis burung yang sama. Ungkapan populernya, birds of  a  feather flock together”.

Mengingat ancaman bahaya tuturan kebencian dapat menghancurkan negara, bangsa serta peradaban, maka akun semacam Seracen yang pengelolanya menjual kebencian dan permusuhan demi seonggok rupiah harus di berantas seakar-akarnya. Pengalaman kompetisi politik, khususnya sejak Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nampaknya semakin memicu para pemilik modal untuk memfasilitasi mereka yang merindukan belaian nikmat kuasa mewujudkan impiannya. Para pembiak kekuasaan meramu menu campuran kekuatan uang dan rasa permusuhan merupakan jalan lapang untuk mengakumulasi capital.   Sementara itu para politisi yang berhasil meraih  kedudukan dapat di salah gunakan untuk memupuk modal sehingga mereka juga akan menjadi bandar politik transaksional, bukan lagi peminta-minta kekuasaan.

Berhala Hoaks Transaksional bila di biarkan dapat dipastikan akan mengikis habis secara sitematis dan bengis pilar-pilar fundamental bangsa dan negara. Mereka dengan agresif meyakinkan public dengan mengeksploitasi perbedaan kodrati dan pasti akan menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.  Oleh sebab itu tidak mengherankan banyak negara buyar karena hasrat nafsu yang membakar nalar tidak dapat dikendalikan karena  sudah terlalu liar. Berhala politik tansaksional semakin fatal bagi tatanan hidup normal karena nilai moral ditukar asal dibayar seuai hasil tawar nenawar. Mereka mengejar sampai martabat pudar karena nafsu kuasa tidak dapat dikontrol oleh nalar serta kedap terhadap ajar.

Maka sangat tepat Presiden dan Ketua Mejelis  Permusyawaratan rakyat ( MPR) kompak menunjukan kegeraman mereka terhadap  SERACEN ( Kompas, senin, 27 Agust 2017). Demikian pula respon Menteri Komunikasi dan Informatika yang  memberikan peringatan keras terhadap pengelola Facebook, Twitter, Google agar hengkang dari Rapublik Indonesia bilamana tidak memperhatikan kemanan nasional,   patut di apresiasi. Momentum kemistri tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi politik mengingat kompetisi politik massif Pilkada serentak 2018 dan Pilpres tahun 2019 amat mudah meruntuhkan  iman politik para politisi yang sangat rentan terhadap belaian nikmat kuasa.

Megingat laga politik sudah akan dimulai kurang dari setahun lagi, maka diperlukan beberapa kebijakan urgensi sebagai berikut. Pertama,  Menteri Komunikasi dan informasi melakukakn koordinasi dengan lembaga terkait memonitor ketat perusahaan (penyedia/operator) media sosial dan bagaimana mereka  merespon laporan mengenai ujaran kebencian dan permusuhan. Sebaiknya respon harus segera dilakukan, real time, agar tidak terlanjur menyebar lebih luas lagi. Kedua, edukasi literasi digital kepada masyarakat, khususnya
para imigran digital ( Digital Immigrants), komponen masyarakat yang lahir sebelum era teknologi digital. Lawannya,  Digital Native (Natif Digital), mereka yang sejak kecil ibaratnya menghabiskan waktunya menggunakan komputer, video gamems, vide kamera, hand phone, dan mainan digital lainnya. ( Digital Natives, Digital Immigrants; Marc Prensky,  On the Horizon (MCB University Press, Vol. 9 No. 5 October 2001).

Ketiga, kampanye besar-besaran dan terorganisir melawan Hoaks transaksional. Sekedar contoh penangkalan terhadap Hoaks dilakukan oleh The Council Of Europe ( Dewan  Eropa) memprakarsai kampanye Gerakan tidak bertutur Kebencian ( No Hate Speech Movement) dengan target generasi muda ; Aktifis Blogger di Myamar, Nay Phone, mengampanyekan “ Bicara tentang  Bunga (Flower Speech) utuk melawan tuturan  kebencian.

Perjuagan menangkal berhala Hoaks Transaksional pasti berhasil. Modal utama antara lain temuan Survei SMRC tentang NKRI DAN ISIS PENILAIAN MASSA PUBLIK NASIONAL bulan Mei 2017 antara lain menegaskan. Pertama, Orang Indonesia hampir semuanya bangga menjadi warga RI. Hampir semuanya menyatakan kesediaan untuk menjadi relawan mempertahankan NKRI. Namun semua itu harus disertai dengan niat politik dan strategi yag tepat serta tegak lurus mengacu kepada Pancasila. (*)

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Kolom

Sastra dan Rekor

mm

Published

on

Kita sudah biasa menjumpai sastra dalam teks, diskusi, dan yang paling mutakhir: berperistiwa di media sosial. Padahal, sudah cukup lama sastra Indonesia berurusan juga dengan rekor. Kita sering mendengar buku-buku sastra paling laris, paling diakui dunia, paling banyak diberi penghargaan, dan sebagainya. Semua itu dapat kita anggap rekor-rekor dalam sastra Indonesia. Kita memang hanya bisa menganggap. Sebab, yang paling memiliki legitimasi untuk menyebut rekor ini-itu tentu Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pendiri sekaligus Ketua Umum MURI, Jaya Suprana, menyatakan, “Museum Rekor-Dunia Indonesia berusaha mengabdikan diri dalam mendukung pembangunan mental dan spiritual bangsa Indonesia melalui jalur anugerah perhatian dan penghargaan terhadap karsa dan karya superlatif para insan warga bangsa Indonesia.”

Pernyataan yang bertitimangsa Januari 2012 itu dapat kita temukan dalam sekapur sirih buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) susunan Aylawati Sarwono. Rekor bukan cuma soal perhatian dan penghargaan, melainkan juga pencatatan. Kita mafhum, di luar negeri sana rekor-rekor membuku dalam Guinness Book of World Records. Kata book (buku) menandai pencatatan sebagai pengesah rekor. Kita lantas sedih, pencatatan rekor di Indonesia rupanya terlambat sekian tahun. Pencatatan tentu dilakukan pada hari saat rekor tercipta. Namun, buku sebagai hasil pencatatan rekor itu terlambat disampaikan ke publik. Rekor-rekor MURI sepanjang tahun 2008-2009 baru kita ketahui melalui buku yang terbit pertama kali di tahun 2012. Aduh!

Demi menjaga mentalitas dan spiritualitas bangsa, sebagaimana diharapkan Jaya Suprana, maka kita tak pantas mengeluh. Kita memaklumi saja keterlambatan itu, yang penting pencatatan rekor sempat hadir dalam wujud buku. Rekor-rekor di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) dibagi dalam puluhan kategori. Salah satu kategori perlu kita perhatikan, yakni karya tulis. Saat membaca urutan-urutan awal, kita menjumpai rekor “profesor kedokteran pertama di Indonesia yang menulis buku tentang teknik jazz”. Kita pantas bingung, mengapa ada rekor seperti ini di Indonesia? Profesor kedokteran yang punya pengetahuan mumpuni di bidang terkait semestinya dianugerahi rekor “penemu teknik pengobatan…”, “dokter pertama yang…”, dan lain-lain, bukan malah dianugerahi rekor untuk penulisan buku di luar bidang yang ditekuni.

Rekor lainnya yang boleh kita persoalkan adalah “penerbit buku dengan komentar tokoh Indonesia terbanyak”. Dalam bahasa termutakhir, komentar yang mendampingi penerbitan sebuah buku lazim kita sebut endorsement. Perannya adalah menggoda calon pembaca agar tertarik membeli buku itu. Maka, seringkali komentar tokoh ditaruh pada sampul belakang, bahkan tak jarang di sampul depan, supaya langsung terbaca meski buku masih bersegel plastik. Satu-dua komentar tokoh kondang sebetulnya sudah cukup mengangkat daya jual sebuah buku, tidak perlu sampai puluhan. Ada pula yang bahkan tak membutuhkan komentar tokoh, dan menyerahkan tanggung jawab apresiatif kepada penulis kata pengantar, entah dari pihak penerbit atau tokoh yang ditunjuk. Komentar tentang buku tak lebih penting dari buku itu sendiri.

Kita lantas menengok rekor-rekor sastra yang tercatat di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009). Nadya Nadine mencatatkan diri sebagai “penulis puisi tunggal terbanyak” di buku itu. Dalam keterangan, tertulis, “Nadya Nadine berhasil menulis 900 judul puisi dalam waktu 3 bulan, ditambah 101 puisi karya terdahulunya sehingga total puisi yang kemudian dibukukan ada 1.001 judul.” Buku kumpulan puisi Nadya Nadine diterbitkan berjudul Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine (2012).

Buku kumpulan puisi Nadya Nadine mengalahkan 630 puisi Sitor Situmorang di buku Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2008 (2016) secara ketebalan maupun harga. Namun, jika kita menimbang kualitas dan terutama etosnya, kepenyairan Sitor Situmorang tentu lebih baik ketimbang Nadya Nadine.

Membandingkan Nadya Nadine dengan penyair ampuh sekelas Sitor Situmorang sekilas terasa tidak adil. Namun, kita sebetulnya dapat mengabaikan keagungan nama Sitor Situmorang dengan berfokus pada proses kreatifnya. Kita sedang membandingkan antara 900 puisi yang ditulis dalam kurun 3 bulan (101 puisi Nadya Nadine yang lain kita abaikan dulu, karena tidak ada keterangan waktu penulisannya) dengan 630 puisi yang ditulis sepanjang 60 tahun. Puisi yang ngebut kita bandingkan dengan puisi yang menangkap setiap peristiwa sepanjang hidup seseorang. Seandainya penulis puisi bukan Sitor Situmorang pun, proses penulisan yang alamiah itu jelas akan menghasilkan puisi-puisi yang lebih baik ketimbang yang dikejar tenggat waktu demi rekor.

Karya dan kepenyairan Nadya Nadine pun berpeluang berumur pendek dibanding penyair lainnya. Ia lebih memilih menumpahkan semua daya kreatifnya demi mengejar rekor MURI dalam sebuah buku kumpulan puisi amat tebal, alih-alih secara konsisten hadir menyapa pembaca pada rubrik sastra surat kabar edisi akhir pekan atau di laman-laman daring yang menyediakan ruang untuk puisi. Para penyair yang rajin menyapa pembaca, lantas rajin menerbitkan buku kumpulan puisi secara rutin, umur karya dan kepenyairannya bakal jauh lebih panjang. Tentu saja, kita berhak berambisi dalam kerja sastra. Namun, kita mesti paham bahwa kerja sastra adalah kerja budaya, alih-alih kerja mekanis yang bisa begitu saja terkekang target dan tenggat waktu. []

*) Udji Kayang Aditya Supriyanto; Pembaca buku dan pengelola Bukulah!

Continue Reading

Classic Prose

Trending