Connect with us

Buku

Mengatasi Ketimpangan, Mewujudkan Kapitalisme dan Demokrasi Progresif

mm

Published

on

Professor Joseph Stiglitz at Columbia University / via commons.wikimedia.org

Celakanya, ketidakpuasan justru dimanfaatkan oleh para politisi sebagai objek untuk mendulang suara. Cherian George (2016) menyatakan, politisi tak segan untuk memelintir kebencian, mengagitasi massa, dan membuat polarisasi di masyarakat.

by Virdika Rizky Utama *)

Tak ada yang memungkiri bahwa abad ke-21 merupakan abad penuh dengan kemajuan. Baik di bidang ekonomi, kesehatan, maupun teknologi. Demi membuktikan hal tersebut, Steven Pinker (2018) membandingkan data-data tersebut selama 200 tahun. Hasilnya, Pinker menyatakan bahwa bumi tengah mengalamai abad pencerahan terbaru.

Kendati demikian, ada satu hal yang terlewatkan oleh Pinker yakni ketimpangan. Hal tersebut yang ingin diungkapkan oleh Joseph E. Stiglitz dalam buku terbarunya ini. Berdasarkan data yang diteliti oleh peraih nobel di bidang ekonomi pada 2001, jika pada abad ke-20, 1 persen populasi manusia menguasai bumi, maka saat ini hanya 0,1 persen populasi manusia yang menguasai bumi (hlm. 38).

Bahkan majalah Forbes pada 2018 mengungkapkan bahwa saat ini ada “Individu-individu dengan kekayaan bersih sangat tinggi” – istilah industri manajemen kekayaan untuk orang-orang yang bernilai lebih dari USD30 juta – memiliki bagian yang sangat tidak proporsional dari kekayaan global. Pemilik kekayaan ini—kapitalis— memiliki 11,3 persen dari total kekayaan global, namun hanya mewakili sebagian kecil (0,003%) dari populasi dunia.

Sedangkan di Indoneisa, World Bank pada 2015 sudah memberikan peringatan. Pasalnya, sejak tahun 2000, ketimpangan ekonomi di Indonesia meningkat pesat. Pertumbuhan ekonomi yang ada lebih dinikmati oleh 20 persen penduduk terkaya daripada masyarakat umum lainnya. Meskipun, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018 merilis data rasio gini Indonesia selama periode September 2017 hingga Maret 2018. BPS mencatat rasio gini sebesar 0,389, dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni 0,391. Ini merupakan rasio gini terendah dalam tujuh tahun terakhir.

Judul Buku: People, Power, and Profits | Penulis : Joseph E. Stiglitz Penerbit: WW Norton and Company | Tebal: xxvii+ 366 halaman, ISBN 978-1324004219 Tahun Terbit : Cetakan I, April 2019

Stiglitz berargumen bahwa ketimpangan terjadi karena dua aspek yang tak dapat dipisahkan yakni ekonomi dan politik. Di bidang ekonomi, Stiglitz menyatakan bahwa ada yang salah dalam praktik kapitalisme yang tengah berlangsung. Mengutip Adam Smith (1776) Ia menjelaskan bahwa kapitalisme yang menyerahkan sistem ekomnomi kepada pasar—meminimalisasi serta mengeleminasi peran pemerintah— dan terjadinya persaingan akan menghasilkan kompetisi yang sehat diiringi dengan adanya inovasi.

Dua hal ini diyakini akan membawa kesejahteraan bagi manusia. Sayangnya, kesejahteraan itu tak terjadi. Pada kenyataannya, para kapitalis tak senang dengan adanya persaingan. Sebagai contoh, Facebook mengakuisisi Whatsapp dan Instagram (hlm.73). Dengan kata lain, yang terjadi adalah monopoli. Konsekuensi logisnya adalah modal terkonsentrasi pada satu tempat saja. Alhasil, tidak ada distribusi kemakmuran dari adanya persaingan yang sehat. Padahal, tolok ukur kesejateraan suatu negara adalah adanya kemampuan untuk mendistribusikan standar hidup yang tinggi bagi seluruh rakyat (hlm.9). Hal ini dapat diprediksi, sebab kemajuan ekonomi diraih bukan melalui inovasi, melainkan dengan eksploitasi.

Sedangkan, tak adanya peran negara dalam mekanisme pasar justru malah kekacauan. Stiglitz bersikukuh bahwa peran pemerintah mesti diperkuat. Musababnya, pemerintah dapat membuat regulasi yang bisa memproteksi ekonomi rakyat kecil dan mendistirbusikan kesejahteraan. Tak hanya itu, semestinya pemerintah juga dapat mendorong tumbuh kembangnya ekonomi rakyat. Hal yang paling penting, kata Stiglitz, adalah penerapan pajak yang adil bagi para konglomerat.

Pajak dinilai penting untuk mengurangi ketimpangan dan menjamin program-program sosial yang banyak diperuntukan bagi rakyat miskin. Ia mencontohkan, di negara-negara Skandinavia—yang terkenal sejahtera, pemerintahnya tak segan menerapkan pajak tinggi. Sebab, pemerintah berhasil membuat kesadaran baik pemilik modal maupun rakyat pun sadar bahwa pajak akan diperuntukan untuk menjalankan program-program sosial pemerintah (hlm.100).

Sekilas, gagasan Stiglitz mirip dengan ide-ide sosialisme yang menekankan pentingnya peran pemerintah dan jaminan sosial bagi rakyat. Akan tetapi, Stiglitz tetap bersikukuh bahwa kritiknya untuk menyelamatkan kapitalisme kepada fitrahnya yang ia sebut kapitalisme progresif (hlm.247). Bukan tanpa sebab Stiglitz bersikukuh pada pendiriannya, pasalnya kapitalisme dianggap sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang menjamin hak-hak individu. Satu hal yang tak diakui dalam sistem sosialis.

Besarnya ketimpangan, juga diakibatkan dengan praktik politik demokrasi, kata Stiglitz, ditekan oleh para kapitalis yang tak ingin adanya persaingan. Akibatnya, sifat monopolistik menginternalisasi ke dalam politik. Sebuah sifat yang tentu tidak sejalan dengan demokrasi dan cenderung totaliter. Stiglitz mencontohkan terpilihnya Donald Trump sebagai bukti nyata dari internalisasi sifat monopolistik ekonomi dan politik.

Hal itu disebabkan karena demokrasi yang berjalan sangat liberal dan transaksional, kekuatan ekonomi dapat mengintervensi ranah politik. Para kapitalis biasanya berperan sebagai pendonor calon presiden atau anggota legisliatif. Ketika calon mereka terpilih, maka si calon akan menyiapkan segudang aturan untuk mempermudah bisnisnya. Alhasil, rakyat tak pernah mendapatkan “kue kesejahteraan” dari negara. Hal ini yang menimbulkan ketidakpuasan.

Celakanya, ketidakpuasan justru dimanfaatkan oleh para politisi sebagai objek untuk mendulang suara. Cherian George (2016) menyatakan, politisi tak segan untuk memelintir kebencian, mengagitasi massa, dan membuat polarisasi di masyarakat.

Lantas bagaimana apakah kita mesti percaya pemerintah akan berperan untuk menyejahterakan rakyat seperti yang diungkapkan Stiglitz di atas?

Stiglitz berkeyakinan bahwa hal itu masih sangat dapat terjadi. Banyak politisi yang memiliki program dan gagasan bagus tapi tak terpilih karena kalah modal dalam kampanye. Oleh sebab itu, kata Stiglitz, medan pembuktian kekuatan rakyat terjadi saat pemilu berlangsung (hlm.246). Karena mencapai kesejateraan bukan hanya sekadar masalah moral atau bagusnya ekonomi, melainkan juga tentang memperjuangkan demokrasi. Maka tak heran bila Stiglitz memercayai bahwa sebelum mereformasi ekonomi, yang harus dilakukan adalah mereformasi politik.

Selain itu, pemerintah punya segala perangkat untuk mencapai kemajuan. Salah satunya memberikan banyak investasi dalam riset. Sebab, kemajuan dunia selama 200 tahun dapat terjadi karena banyaknya penemuan dan inovasi berdasarkan riset yang besar. Maka tak dapat tidak, jika pemerintah wajib mendanai riset (hlm.141). Sebab, kesejahteraan tak bisa terus menerus diwujudkan dari praktik ekonomi yang bersifat eksploitasi, tapi harus berbasis pada produktivitas, kreativitas, dan kekuatan rakyat.

Buku yang terdiri dari 11 Bab ini layak oleh dibaca oleh semua kalangan—terutama para pebisnis dan pemerintah. Agar mewujudkan kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia benar-benar terjadi. Bukan hanya mewujudkan kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia yang mampu menjangkaunya. Sebab, seperti dikatakan Bung Karno bahwa Indonesia didirikan bukan untuk golongan tertentu, melainkan untuk semua. (*)

 __________

*) Virdika Rizky Utama–Peneliti di Narasi.TV

Continue Reading
Advertisement

Buku

Puisi yang Mengolok Panduan Menulis Puisi

mm

Published

on

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban.

*) Ifan Afiansa

Membaca puisi-puisi Buku Latihan Tidur akan membawa pembacanya kepada ekspresi linguistik yang menyenangkan sekaligus menggemaskan. Atau setidaknya, kedua perasaan tersebut berkelindan hebat di benak saya, sebab puisi-puisi di dalamnya mengandung unsur olok-olok parodis yang dibalut dengan bait-bait lembut dan lucu, padahal olok-olok itu ditujukan kepada para fanatik beragama, bahasa Indonesia, dan kiat-kiat menulis puisi. Hal-hal tersebut mungkin terlampau jauh bagi siapa pun untuk menertawakannya.

Judul buku ini juga akan mengingatkan pada buku-buku panduan di rak sebuah toko buku. Buku-buku itu mungkin saja tidak membutuhkan nama besar penulis, sekiranya siapa pun bisa menulis buku panduan selama dia mempunyai keahlian tertentu. Begitu juga sebagai pembaca, mereka hanya memedulikan kegiatan praktis apa yang mereka butuhkan, tanpa memedulikan nama pengarangnya. Sebutlah Buku Latihan Microsoft Word (2013, Elex Media Komputindo), selama calon pembacanya membutuhkan panduan Microsoft Word, para pembaca akan senantiasa membelinya. Baik Buku Latihan Tidur maupun Buku Latihan Microsoft Word, keduanya mempunyai kesamaan pola, membuat saya berasumsi, “Apa iya, Joko Pinurbo tengah memparodikan buku panduan?”

Linda Hutcheon dalam bukunya A Theory of Parody pernah berkata bahwa parodi merupakan relasi struktural di antara dua teks. Relasi ini kerap ditujukan melalui bentuk penyimpangan bentuk teks (baru) terhadap teks lama. Kemudian memunculkan kembali pertanyaam, “(teks) buku mana yang memengaruhi (teks) buku lainnya?” Tentu untuk mengidentifikasi mana teks baru, dan mana teks lama bukanlah hal yang sulit, keduanya tampak terang-benderang. Jawabannya tentu Buku Latihan Tidur menggunakan sekaligus menyimpangi judul Buku Latihan Microsoft Word. Definisi parodi kembali ditegaskan Linda Hutcheon adalah sebagai bentuk imitas yang dicirikan oleh kecendrungan ikonik, selain itu parodi adalah pengulangan yang disertai ruang kritik yang berupaya mengungkap perbedaan, alih-alih persamaan. Kemudian sebuah pertanyaan kembali muncul, “Apa yang coba dibedakan dan dikritik oleh Buku Latihan Tidur atas Buku Latihan Microsoft Word?”

Jawabannya bisa jadi semudah menemukan gajah di kandang gajah, jika jawabannya objek yang menjadi “latihan” kedua buku, tentu bukan jawaban yang salah. Namun ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu Buku Latihan Microsoft Word akan memandu pembacanya agar bisa melakukan kerja praktik yang (akan) mengarah ke profit, ada sebuah kerja produktif yang ditawarkan buku panduan ini. “Bagaimana dengan Buku Latihan Tidur? Memandu untuk tidur?” Di sinilah yang dibedakan oleh Buku Latihan Tidur—sebagai karya sastra parodi, judul buku ini seakan memandmu tidur, padahal tidur merupakan kegiatan kontraproduktif. Terkadang saya kerap diomeli karena terlalu banyak tidur di rumah. Ironi sekali jika Buku Latihan Tidur diangkat sebagai judul buku sebab tidur merupakan kegiatan kontraproduktif, seolah-olah aktivitas tidur adalah aktivitas yang sama pentingnya dengan aktivitas produktif lainnya.

Apakah permainan parodi ini selesai di bagian judul saja?

Meskipun judul buku ini memparodikan buku panduan, tetapi hanya ada satu judul puisi yang turut memparodikan buku-buku panduan. Puisi itu berjudul “Langkah-langkah Menulis Puisi”, judul itu mungkin sedikit banyak mengingatkan pada pelbagai laman di internet yang mencoba memberikan tips menulis puisi, atau mungkin mengingatkan pada Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriyana. Pada dasarnya buku dan tulisan tersebut mencoba memberikan langkah-langkah menulis puisi secar runut dan sistamatis, mulai dari mencari ide, mengembangkan gagasan, serta mengolah gaya bahasa, dengan ragam contoh pengaplikasian.

Namun langkah-langkah yang sistematis itu diparodikan Joko Pinurbo dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi”. Konsep-konsep yang dijabarkan Hasta Indriyana diparodikan dalam puisi tersebut hanya dengan satu langkah, yaitu duduk. Dalam tujuh langkah menulis puisi, ada enam langkah yang dimulai dangan duduk, yang kemudian dilanjutkan oleh sederet frasa-frasa tambahan, seperti dengan tenang, yang kelak akan jadi batu nisanmu dan sambil membaca Pramoedya: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya. Dan diakhiri langkah ketujuh yang tidak menyertakan aktivitas apapun, melainkan hanya mantra sulap.

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban. Secara keseluruhan, puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” berupaya memparodikan sekaligus mengkritik buku/tulisan panduan menulis kreatif yang jauh dari kegiatan praktis iru sendiri. Perihal mencari ide, mengembangkan gagasan, menentukan tema, pemilihan diksi dan gaya bahasa, serta sederet langkah lainnya, bukanlah hal yang penting dalam menulis puisi. Duduk dan membaca merupakan kunci penting dalam puisi ini, selebihnya perenungan ke dalam diri,d dan diakhiri dengan menunggu keajaiban.

Lantas, keajaiban apa yang dimaksud dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi?”

Ada perbedaan mendasar menjadi penyair dan menjadi pembaca. Perihal menulis puisi, bisa jadi bagi Joko Pinurbo puisi-puisi yang dia tulis biasa saja. Begitu pembacanya mulai memberikan hal-hal yang mereka sukai dari puisi-puisi Joko Pinurbo. Kalimat sebelum inilah keajaiban yang dimaksud. Tidak ada yang dinamakan langkah-langkah menulis puisi, jika estetika sebuah puisi ditentukan oleh pembacanya. Bagaimana sebuah puisi dapat memengaruhi pembacanya, adalah keaiaiban yang perlu ditunggu, sebab bagus tidaknya sebuah puisi itu hanya dalam sudut pandang pembacanya. (*)

*) Ifan Afiansa

Department Indonesia Literature
Faculty of Cultural Science, Universitas Gadjah Mada
Continue Reading

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Meneroka Cinta yang Dikomodifikasi

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari

Tanpa dicari kekasihnya.

Apabila kilat cinta menyambar hati yang ini

Ketahuilah bahwa cinta telah menyambar hati yang lain”—Rumi

Hidup adalah cinta itu sendiri. Tak heran kemudian banyak produk kebudayaan, seperti: musik, film, atau sastra membicarakan cinta. Eric Fromm menyadari karena hidup adalah cinta maka cinta mengikuti corak perkembangan hidup itu sendiri. Melalui pisau analisis psikoanalisis-marxis, Eric Fromm menghadirkan cinta yang abstrak “melangit” tak berbentuk menjadi “membumi” mudah dipahami sebagai seni.

Implikasi dari cinta sebagai seni adalah bisa dipelajari dan kemudian diperaktikan. Buku ini bukan buku seperti halnya buku panduan memasak, memperbaiki komputer atau memelihara hewan peliharaan. Cinta sebagai sesuatu yang hidup dan terus bergerak diperlukan pengahayatan yang jernih untuk memahaminya. (more…)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending