Connect with us
Kemarau AA Nafis Kemarau AA Nafis

Buku

Mempertimbangkan Kembali Nasib Manusia (Di Tengah Kemarau)

mm

Published

on

Data Buku :

Judul   : KEMARAU

Pengarang  : A.A NAVIS

Terbit  : GRASINDO, Cetakan VI, Agustus 2003

Tebal   : X + 118 halaman

Oleh : Sabiq Carebesth*

Judul di atas segera mengajukan pertanyaan, apa yang dipertimbangkan? Nasib? Tulisan ulasan tentang novel ‘Kemarau’ karya A.A Navis ini tidak hendak membahas nasib sebagai sebuah kaidah langit dan bumi, tapi tulisan ini lebih ingin mempertimbangkan laku manusia menghadapi ‘nasib’nya yang lebih sering tak sesuai. Seperti keadaan sekarang dimana perubahan iklim sudah sampai pada titik anomaly, sukar di prediksi, dan bagi petani hal itu sangat mengganngu keberlangsuangan harmoni lama terkait musim tanam dan panen raya. Kekeringan berkepanjangan di beberapa dairah memaksa petani ’mundur’ selangkah untuk merenung dan mencari cara mengatasi kekeringan, pemerintah toh memang tak seberapa perduli, para pemuka juga tak seberapa sigap menyodorkan sebuah ‘keyakinan’ untuk mengambil jalan ihtiyar bagi petani.

Ditengah situasi semacam itu, petani kecil di ladangnya yang kekeringan di perdesaan mulai oleng setengahnya putus asa harus berbuat apa. Masing-masing punya pilihan merespon kekeringan dan perubahan iklim ekstrim yang seperti nasib itu. ada yang duduk menunggu dan mundur selangkah, ada yang maju selangkah dan bekerja keras. Demikianlah sebuah kronik. Dan pada novel ‘Kemarau’ karya A.A Navis ini mungkin ada pelajaran bisa dimanfaatkan.

***

Novelette ini berkisah mula pada terjadinya kemarau panjang yang melanda sebuah kampung. Tanah jadi retak dan sawah pun jadi kering kerontang. Orang kampung pun mulai resah dan gelisah.

Sebetulnya, ada sebuah danau dekat kampung itu. akan tetapi, orang kampung ternyata lebih suka pergi ke dukun. “Dan setelah tak juga keramat dukun itu memberi hasil, barulah mereka ingat pada Tuhan. Mereka pergilah setiap malam ke mesjid mengadakan ratib, mengadakan sembah yang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga.”

Hanya sutan Duano yang berbuat lain.”Pada ketika bendar-bendar tak mengalirkan air lagi, sawah-sawah sudah mulai kering dan matahari masih terus bersinar dengan maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bamboo. Lalu disandangnya di kedua ujung bamboo itu. dan dua belek minyak tanah digantungkannya di kedua ujung bamboo itu. diambilnya air ke danau dan ditumpahkannya ke sawahnya.” Akan tetapi, apakah orang kampung mengikuti perbuatan Sutan Duano?

Itu lah babak kunci novel berjudul “Kemaru” karya pengarang cerpen yang kesohor dengan “Robohnya Suarau Kami” ini, A.A. Navis.

Apa inti gagasan dan pesan yang ingin disampaikan A.A. Nafis dalam karya “Kemaru” yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1957 itu? seperti dalam cerita pendek “Robohnya Surau Kami” yang mendapat hadiah dari majalah ‘Kisah’ itu, Navis ingin mengingatkan kita akan pentingnya mencari nafkah, bekerja keras, mengucurkan peluh dan keringat di dunia ini—di samping menyebut-nyebut dan memuji nama Allah. Kerja keras adalah bagin penting dari ibadah kita. Dalam ‘Kemarau’ perhatian navis terhadap pentingnya kerja keras itu muncul kembali.

Dengan latar musim kemarau yang berkepanjangan, seperti apa dikatakan Sapardji Djoko Damono dalam ulasannya atas novelette ‘Kemarau’ ini, mengungkapkan usaha tokoh bernama Sutan Duano untuk meyakinkan penduduk kampung itu untuk bekerja keras melawan kekeringan. Ciri yang segera mengungkapkan kita kepada ‘Robohnya Surau Kami’ adalah sindirannya. Di awal novel ini digambarkan bagaimana penduduk kampung itu, yang umumnya petani, menghadapi musim kering yang telah merusak sawah mereka:

“setiap pagi dan setiap sore para petani selalu menadang langit ingin tahu apakah hujan akan turun atau tidak. Dan setelah tanah sawah mulai merekah, mulai lah mereka berpikir, ada beberapa orang pergi ke dukun…tapi dukun itu juga tidak bisa berbuat apa-apa  setelah setumpukan sabut kelapa dipanggang bersama sekepal kemenyan…dan setelah tak juga keramat dukun itu memberi hasil, barulah mereka ingat kepada Tuhan. Mereka pergilah setiap malam ke masjid mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga…lalu mereka lemparkan pikirannya dari sawah, hujan setetes pun tak mereka harapkan lagi…dan untuk membunuh rasa putus asa, mereka lebih suka main domino atau main kartu di lepau-lepau.

Dalam kutipan itu, jelas-jelas Navis menyindir segala usaha yang telah dilakukan manusia untuk mengubah keadaan. Dalam upaya manusia tersebut, tampaknya dukun, Tuhan, dan kartu domino menduduki posisi yang tak berbeda; mereka semua merupakan tempat pelarian manusia dari putus asa. Segala hal yang telah dilakukan menjadi tampak absurd, konyol,atau setidaknya mirip karikatur di mata kita. Berbagai tindakan manusia yang mungkin sekali dilakukan dengan tulis dan yakin itu seolah-seolah menjadi sia-sia dan sedikit lucu. Apakah Navis membiarkan situasi demikian itu begitu saja?

Sutan Duano adalah tokoh yang di ciptakannya untuk menjawab berbagai masalah tersebut. Di tengah musim kering yang telah menyebabkan kebanyakan orang kampung putus asa, Sutan Duano digambarkan mengambil:

“….sekarat bamboo. Lalu disandangnya kedua ujung bamboo itu. dan dua belek minyak tanah digantungkannya di kedua ujung bambu itu. diambilnya air ke danau dan ditumpahkannya ke sawah. Ia mulai dari subuh dan berhenti pada jam Sembilan pagi. Lalu dimulainya lagi sesudah asar, dan ia berhenti pada waktu magrib hampir tiba. Dan beberap akali angkut tak dilupakknya mengisi kedua kolam ikannya.”

Sutan Dauno, lelaki berusia sekitar 50 tahun itu, adalah setu-satunya manusia yang “berbuat lain”. Siapa gerangan tokoh iyu? Tidak begitu jelas asal-usulnya; ia muncul di kampung itu pada akhir masa pendudukan jepang.lelaki itu (ketika datang berusia sekitar 40 tahun) diberi tempat berteduh oleh kepala kampung, yakni sebuah surau tua yang telah lapuk dan tak terurus. Ia tampaknya lebih suka hidup menyisih. Orang setengahnya mengharapkan, atau setidaknya memiliki anggapan, bahwa tinggal di surau, “ adalah untuk  menghabiskan sisa umurnya sambil berbuat ibdah melulu, sembahyang, dzikir, dan membaca Qur’an sampai mata jadi rabun. Memang itulah gunanya surau dibuat orang selama ini.” Namun, ternyata Sutan Dauno berbuat lain. Ia rupanya tidak begitu memberi perhatian terhadapan kegiatan rohani semacam itu, tetapi memusatkan perhatian pada kola ikan dan sawah. Ketika orang-orang kampung itu tertarik untuk meninggalkan pekerjaan “kasar “itu, dan lebih suka pada “pengetahuan umum,” ia justeru mengumpulkan uang dengan berbagai jenis pekerjaan kasar. Dengan kerja kasarnya itu, ia berhasil mengumpulkan kekayaan dan akhirnya menjadi orang yang dihormati di kampung.

Tampaknya dalam kemarau ini Navis juga ingin menekankan pentingnya memeras keringat sebagai kegiatan snagat penting, terutama sekali di daerah yang tandus seperti yang digambarkannya itu. ia menunjukan kokonyolan usaha manusia melawan kemarau, yang tentunya merupakan lambing kesulitan hidup atau cobaan Allah; digambarkannya betapa absurd manusia memerlukan dukun, Tuhan, dan kartu domino. Navis rupanya menawarkan kepada kita tokoh Sutan Duano sebagai alternative—yang ternyata sama absurd-nya. Kita bayangkan seorang lelaki setengah baya di musim kemarau yang memikul dua belek seharian berjalan mondar-mandir mengambil air dari danau untuk dituangkan ke sawah dan kolamnya. Seperti penduduk lain dalam kampung itu, Suran Dauno juga seperti sebuah karikatur; cirri itu ditebalkan oleh sifatnya yang tak suka bergaul dan asal-usulnya yang tak begitu jelas. Ia muncul begitu saja dikampung itu, bekerja keras dan membujuk penduduk kampung untuk mengikuti teladannya.

Novelet ‘Kemarau’ karya Navis ini, menurut Sapardi Djoko Damono dalam kata pengantar untuk buku ini, ditinjau dari segi komposisi, kisah yang agak sentimental yang menyangkut Sutan Dauno, Gudam, Acin,  dan masa lalunya itu merupakan semcam imbangan bagi sindiran tajam yang merupakan ciri utama novelet ini. Kalaupun alur karya Navis ini sulit meyakinkan kita, sindiran itu mungkin bisa menggoda kita untuk mempertimbangkan kembali pandangan kita tentang nasib manusia.

*Sabiq Carebesth, Pecinta buku dan kesenian, editor Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Buku

Optimisme dari Chomsky

mm

Published

on

Siapa yang tak kenal dengan Noam Chomsky? Seorang intelektual yang dianggap “nyeleneh” karena selalu berbeda pandangan dalam tatanan keilmuan dan masyarakat Amerika Serikat. Banyak buku yang ia tulis justru untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan Amerika baik dalam maupun luar negeri. Namun, sebenarnya yang ia kritik bukan Amerika, melainkan sistem kapitalisme yang dianut oleh Amerika.

Hampir sama dengan buku-buku yang ia tulis, buku Optimism Over Despair merupakan kekesalan atau lebih tepatnya kemarahan Chomsky terhadap Amerika dan kapitalisme. Buku ini merupakan hasil sebuah wawancara Noam Chomsky dengan C. J. Polychroniou dalam kurun waktu 2014—2016. Meski secara garis besar buku ini sama dengan buku Chomsky lainnya, tapi Chomsky coba menguraikan situasi sosial, ekonomi, dan politik  abad ke-21 dan dampak yang ditimbulkan hingga bagaiamana kita harus menyikapi dampak tersebut.

Menurut Marx, kapitalisme merupakan sebuah hubungan masyarakat yang dibangun atas hubungan-hubungan produksi  dan menghadirkan ketimpangan kelas serta alienasi. Pada perkembangan awal kapitalisme, kapitalisme didasari oleh pemilikan modal yang diwujudkan dalam pabrik dan negara bagian dari kelas tersebut.

Sedangkan, kapitalisme pada abad ke-21 menurut Chomsky jauh lebih buruk. Kenapa dapat dikatakan lebih buruk? Sebab, kapitalisme abad ke-21 sudah menutup akses atau alat bagi masayarakat bawah untuk melakukan mobilitas sosial (hlm.154).

Jika konteks dalam negara, maka negara maju sudah menutup kesempatan bagi negara miskin untuk melakukan perbaikan kehidupan ekonomi. Dengan kata lain, kapitalisme sudah menjadi sebuah kekaisaran besar dengan Amerika sebagai rajanya. Kenapa demikian? Karena Amerika masih menguasai perekonomian dan politik dunia, meski pasca-perang dingin Amerika secara perlahan sudah tidak lagi digdaya.

Dengan dana besar yang dimiliki, Amerika dengan sangat mudah untuk mengintervensi suatu negara dengan memaksakan sistem “plutokrasi”. Plutokrasi dibahasakan oleh Chomsky karena sangat jauh dari cita-cita demokrasi. Jika demokrasi bertujuan untuk memakmurkan rakyat dengan menjamin hak asasi, maka plutokrasi sebaliknya.

Judul Buku : Optimism Over Despair on Capitalism, Empire, and Social Change Penulis : Noam Chomsky dan C. J. Polychroniou Penerbit : Haymarket Books Tahun Terbit : Agustus 2017 Tebal : 210 halaman

Plutokrasi hanya akan memamurkan dan menjamin hak asasi untuk penguasa, sedangkan masyarakat akan terus dieksploitasi melalui serangkaian aturan yang dibuat oleh negara (hlm.155). Dengan kata lain, sosialisme untuk si kaya dan kapitalisme untuk si miskin.

Lalu bagaimana dengan kesenjangan yang dibuat oleh kapitalisme? Chomsky setidaknya menyebut dua masalah besar yakni meningkatnya kekuatan fundamentalisme dan rusaknya lingkungan.

Munculnya fundamentalisme dalam berpolitik dapat tercermin dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Chomsky menganalisis kemenangan Trump sebagai sebuah bentuk kekecewaan dan frustrasinya rakyat Amerika karena demokrasi dan kemakmuran tidak terjadi di masyarakat.

Poin lainnya, Trump berhasil memainkan sentimen agama untuk menaikan popularitasnya. Sejatinya, “agama” yang dibawa Trump saat pemilu dan memimpin adalah sebuah propaganda untuk membuat garis diametral antara kami dan mereka, malaikat dan setan (hlm.50).

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die (2018) menyatakan, majunya Trump sebagai calon presiden Partai Republik karena aturan untuk menyeleksi seorang calon presiden sudah memudar yakni dalam poin tidak menyerang secara personal kompetitor dan tidak merendahkan pemilih kompetitor.

Hal ini dilakukan partai Republik dan Trump karena kepentingan bisnisnya terhambat. Disitat dari Cherian George dalam buku Hate Spin (2016) Trump dapat memenangkan emosi warga Amerika yang membuat seolah-oleh ketidakmakmuran warga Amerika adalah korban dari kebijakan yang pro-imigran. Padahal, menurut Chomsky, hadirnya pengungsi di negara-negara maju merupakan sebuah keharusan, sebab negara mereka dibombardir oleh Amerika dan sekutunya.

Selain itu, Trump juga berhasil meyakinkan warga amerika yang mayoritas Kristen sebagai korban dari adanya pengungsi yang beragama Islam yang dinilai akan dapat merebut Amerika. Oleh sebab itu, Trump membuat slogan Make America Great Again. Cara kemenangan Trump ini juga menginspirasi negara-negara lainnya di Eropa dan Asia.

Lalu bagaimana dengan kerusakan lingkungan? Chomsky berpendapat bahwa ini terjadi secara nyata, bukan hanya sebuah iklan terselubung dari produk tertentu agar warga menggunakan atau membeli produknya. Keluarnya Amerika dari Kesepakatan Paris merupakan sebuah kekonyolan terbesar. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu, Amerika dan 187 negara lainnya mesti menjaga kenaikan temperature global di bawah 2 derajat Celscius

Terlebih, alasan yang dikeluarkan Trump hanya untuk penghematan anggaran. Demi menjaga kesepakatan itu, Amerika sedikitnya mesti mengeluarkan uang 3 triliun USD. Padahal Amerika merupakan negara dengan penghasil karbon terbesar di dunia. Selain itu, banyak perusahaan Amerika di berbagai negara melakukan penebangan hutan dan membuat kerusakan alam lainnya yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Dengan segala kekacauan tersebut, apa yang harus dilakukan?

Tentu saja kita tak memiliki banyak pilihan. Menyitat Gramsci, Chomsky berpendapat akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133). Akan tetapi, layaknya seorang filsuf, Chomsky tidak menjabarkan secara rinci bagaimana kita mesti menghadapi kekacauan itu dan mengubahnya menjadi sebuah kebaikan.

Secara tersirat Chomsky masih memercayai adanya kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat itu dapat mendesar pemerintah dan membawa perubahan. Akan tetapi, dalam konteks abad ke-21, kekuatan rakyat bukan berarti harus mengadakan sebuah revolusi besar seperti yang terjadi di abad ke-20.

Kekuatan rakyat terjewantahkan dalam sebuah kelompok komunitas. Dengan konsentrasi di bidangnya masing-masing, mereka mesti berjejaring satu sama lain dan dapat melebur sebagai kekuatan baru tanpa sekat negara layaknya kapitalisme saat ini. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan public untuk berpartisipasi dalam  hal yang berarti seperti diskursus politik, social, dan ekonomi (hlm165).

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi atau kita bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. (*)

*) Virdika Rizky Utama: Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Beberapa catatan bekal membaca drama Menunggu Godot

mm

Published

on

En Attendant Godot adalah karangan penulis Prancis kelahiran Irlandia, Samuel Beckett. Ia berbahasa Prancis laiknya menggunakan bahasa ibu meski ia lahir dan berbahasa pertama Irlandia. Naskah En Attendant Godot diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Beckett sendiri dengan judul Waiting for Godot, dan terbit pertama kali di Amerika pada 1954 atau setahun setelah pertama kali dipentaskan dalam bahasa Prancis di Paris 1953.

Dramawan W.S Rendra adalah teatrawan indonesia pertama mengerjakan pementasan dari versi bahasa inggris setelah sebelumnya coba disadur dalam bahasa Indonesia oleh Dosen Fakultas Sastra UGM, Bakdi Sumanto.

Di Indonesia, lakon Godot umum dikenal dengan drama “Menunggu Godot”, dipentaskan pertama kali pada 1969 di Teater Besar TIM oleh Bengkel teater pimpinan W.S. Rendra. Tepat pada saat pengarangnya—Samuel Beckett menerima hadiah nobel berkat Waiting for Godot.

Pada pementasan pertamanya di Paris (1953), dan di Miami, Amerika (1955) lakon Godot mendapat kritikan pedas dari pada pengamat. Akan tetapi ada cerita lain pada tahun-tahun tersebut.

Pada musim semi 1954 Beckett menerima surat dari direktur penjara di Luttringhausen, Jerman, yang meminta ijinnya agar agar lakon Menunggu Godot boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman untuk di pentas di penjara itu. Dan Beckett menyetujuinya. Pada 1957 drama Godot kembali dipentaskan di dalam penjara, yaitu di penjara San Quentin di San Fransisco. Dalam dua pementasan di Penjara tersebut, para napi menunjukkan mereka tidak memahami drama itu secara kognitif, tapi pengalaman yang mereka alami di dalam penjara membuktikan bisa menjadi medium komunikasi untuk bisa menikmati karya tersebut. Bahwa mereka terpenjara dalam penantian, dan menunggu sang kebebasan menjemput.

Sementara itu, berikut adalah beberapa fakta intrinsik dari buku Waiting for Godot yang akan bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah menikmati karya besar Beckett dan berniat membacanya:

  • Waiting for Godot bersetting di A country road. A tree. Evening. Tokoh utamanya: Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan A boy. Alur: Cyclical, dalam arti akhir lakon menyiratkan alur kembali pada awal. Topik dialog dari awal hingga akhir, berpusat pada akan datagnya tokoh bernama Godot, akan tetapi, hingga akhir lakon, Godot tak pernah datang.
  • Dari rujukan tekstual, tampak, bahwa walau pun tokoh Godot menjadi pusat pembicaraan, topik sebenarnya bergeser dari Godot ke situasi menanti itu sendiri. Oleh karena itu yang dominan bukan tema, tapi suasana menunggu.
  • Walau pun dalam lakon disajikan lima tokoh, tetapi sebenarnya yang penting hanyalah Vladimir dan Estrogan. Mereka adalah tokoh utamanya, dilukiskan seperti dua orang gelandangan, compang-camping, terdampar pada suatu tempat yang mirip nowhere. Teks drama tersebut menyebutkan mereka sangat miskin yang ditunjukkan oleh ucapan dalam dialog dua gelandangan itu, bahwa mereka hanya membawa bekal potongan wortel dan lobak. Mereka sangat kelaparan ditunjukkan dengan keinginan Estrogan memakan tulang sapi atau ayam yang dibuang oleh Pozzo, setelah dagingnya dihabiskan.
  • Sepanjang jalan cerita, dari dua tokoh utamanya menunjukkan bahwa mereka sejak awal; mengisyaratkan keputusasaan, bicara dalam dialog yang tidak nyambung, mereka kehilangan orinetasi waktu—intinya bagi Vladimir dan Estrogan, symbol rakyat jelata dan papa, tidak ada persoalan serius yang dibicarakan, apalagi diselesaikan. Sebab masalah pokoknya, hanya menantikan seseorang atau sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Oleh karena itu, dilihat dari jagat konvensi alam pikir filsafat Prancis, lakon godot memberikan isyarat refleksi metafisik, yang mengingatkan orang pada refleksi filosfis Alber Camus, terutama yang tampak dalam esainya Le mythe de Sisyphe (Mite Sisifus) tahun 1943 atau novel Camus yang terkenal L’etranger (1944).
  • Karenanya drama Waiting for Godot digolongkan dalam teater absurd. Di mana orang tidak melihat teater absurd sebagai alat perjuangan, betapa pun ada suasana perlawanan atau “terrorizing” di dalamnya. Sebab konsep dasar tetaer absurd sendiri berambisi menghadirkan kemurnian. Untuk membedakannya dengan misalnya filsafat sebagai senjata atau alat perlawanan terhadap “unidentified dominating power” seperti paham Brecht.
  • Dalam refleksi yang lebih mendasar, drama ini terus relevan, sebab dalam keadan yang serba tidak jelas, pertanyaan dasar drama ini kembali muncul, siapakah Godot yang dinantikan itu? Sebab bahkan ketika bom atom jatuh di Jepang untuk menghentikan PD II, ternyata hal itu tidak mengakhiri ketegangan perang dingin. Bahkan hingga hari ini, di Amerika dan juga di Indonesia, di belahan dunia lain, rakyat seperti Vladimir dan Estrogan masih menantikan Godot. Dan kita hari ini bahkan masih terus bicara satu sama lain dalam dialog yang tidak nyambung…

*) Sabiq Carebesth, Juni 2018. Ditulis dengan malas dan kesal karena kebingungan menyusun orientasi waktu dan ruang paska libur lebaran. Tulisan pendek ini disarikan dari buku “Sementara Menunggu Godot” dan Makalah Bakdi Sumanto bertajuk “Teater dan Bom” (2001).

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending