Connect with us

Milenia

‘Memikirkan Kata’ Panduan Berpikir atau Menulis?

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini

Editor’s Note

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Pemesanan Buku “Memikirkan Kata” bisa hubungi kontak Whatsapp: 082111450777

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

This slideshow requires JavaScript.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

____

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

 

Continue Reading
Advertisement

Milenia

Kritik Absurdis

mm

Published

on

by Sabiq Carebesth

Pertama-tama saya harus mencintainya sebelum mengkritiknya. Dan saya telah mencintai Albert Camus dan gagasan absurditasnya sejak waktu cukup lama. Bentuk cinta yang juga absurd, lambat dan penuh penyangkalan, tapi tekun dan terus menerus.

Maka demikianlah saya sejak awalnya untuk mengatakan bahwa gagasan absurditas Anda itu tidak bermakna—meski mungkin berguna—bahwa gagasan itu tidak ada kesimpulannya, atau kebenaran yang bisa dijadikan pedoman hidup atau pun jika hanya terbatas untuk sekadar memandu mengantisipasi rasa frsutasi dalam beberapa peristiwa sejarah yang telah dan akan datang.

Tetapi jelas itu tidak cukup. Bahwa setelah mencintai—sebelum saya membunuh cinta saya pada gagasan-gagasan absurdis milik Anda, yang dengan aneh tetap harus saya bunuh meski saya mencintai Anda dan gagasan yang anda telah susah payah gambarkan—adalah pertama-tama, hal itu sebagai bentuk cinta saya; sekalian keinginan membunuh cinta saya yang tekun itu–demi untuk mengungkapkan kerja penalaran dan kontribusi saya dengan mendeskripsikan gagasan-gagasan tidak masuk akal anda itu.

Sebab sebagaimana Anda siratkan bahwa “kesadaran” (akan mencinta) adalah tindak penerapan perhatian, dan bila menggunakan gambaran yang juga anda ambil dari Bregson, kesadaran mirip dengan pesawat proyektor yang setiap saat terpaku pada satu gambar. Perbedaanya adalah bahwa tidak ada skenario, melainkan suatu gambaran yang berturutan dan tidak bersambungan. Semua gambar itu adalah istimewa. Kesadaran menjadikan objek-objek perhatiannya menggantung dalam pengalaman. Dengan cara ajaib kesadaran memilah-milah obyek-obyek itu dan karena itu pula, obyek-obyek itu berada di luar segala penilaian. Dan dengan cara demikian pula saya akan memberikan perhatian kepada Anda sebagai objek yang saya cintai—sekaligus untuk saya sangkal karena tindakan perhatian itu hanya bersifat topografis.

Lagi pula Anda juga mengatakan bahwa “tidak ada lagi satu ide tunggal yang menjelaskan semuanya, melainkan esensi-esensi yang tak terbatas jumlahnya yang memberikan makna kepada obyek-obyek yang tak terbatas jumlahnya pula. Dunia berhenti bergrak pada moment itu tetapi menjadi terang”. Suatu realisme platonik yang intuitif dan anda kritik. Yang meski anda kritik, tapi anda katakan bahwa itu realisme juga. Bahwa bagi anda, bagi manusia absurd, “terdapat kebenaran dan sekaligus kegetiran dalam pendapat yang semata-mata bersifat psikologis, bahwa semua wajah di dunia ini adalah istimewa. Bahwa saat semua istimewa sama artinya dengan bahwa semua mempunyai nilai sama”. Dengan keyakinan dan penilain Anda yang demikian anda kira saya bisa mendapatkan apa dengan mencintai Anda?

Tapi meski demikian, keanehan dan keabsurdan itu harus saya katakan sebagai “wajar”, sebab itu pula yang mula-mula dan perlahan-lahan saya temukan dalam kurun mencintai Anda. Maksud saya adalah, bahwa saya tidak untuk mengatakan Anda adalah seorang yang wajar, justeru sebaliknya gagasan-gagasan absurd Anda itu yang memberikan nilai kewajaran bagi Anda sebagai penciptanya.

Bahwa Anda sebagai seorang filsuf, tetap lebih senang–jika pun harus mendapat label—sebagai seniman saja. Sebab apa yang anda lakukan adalah kerja seorang seniman; anda menjelaskan akibat-akiibat dengan menggambarkannya, menata gambaran-gambaran sebagai tanda dan teka-teki, tetapi sama sekali tidak untuk mencari kesimpulan apa-apa sebagaimana biasa dikerjakan para filsfuf.

Saya akan mengatakan kepada orang-orang tentang Anda dengan apa yang saya kenali selama waktu mencintai anda ini: bahwa tampakanya Anda, Albert Camus yang absurd, yang seniman, sungguh-sungguh tidak bertanggung jawab—tetapi saya juga akan katakan pada orang-orang bahwa gerak kerja seni semacam itu memang berguna untuk menjelaskan dan mungkin menginspirasi lahirnya sikap kehati-hatian dan juga penyangkalan-penyangkalan manusia pada bahaya-bahaya penyesalan dan rasa frustasi yang akan mendorong manusia memilih bunuh diri. Bahwa hal itu berguna justeru untuk mengatasi kehendak bunuh diri dan menggantinya dengan suatu bentuk “pemberontakan”—supaya manusia tidak diperdaya oleh harapan dan makna. Oleh kesimpulan-kesimpulan yang tak bisa digenggam sekarang atau tidak bisa dinalar akal budi. Bahwa semua yang di luar jangkau akal budi adalah ilusi—yang juga berarti tidak untuk mengatakan “tidak ada dan tidak benar”, tetapi itu “tidak nyata”, tidak sekarang, dan karenanya tidak bisa dinalar. Tetapi saat nalar menemukan titik nadir jangkaunnya, suatu kesadaran keterbatasan yang tak menyediakan jalan keluar,  tidak lantas berarti batas tanpa jalan keluar itu untuk membuat menyerah dan menyerahkan semua usaha pemaknaan pada apa-apa yang di luar nalar—dan demikianlah absurdnya absurdis?

Tampaknya pertanyaan itu membuat saya mulai melakukan kritik? Tunggu dulu.

Saya akan mengatakan lebih dulu bahwa tampaknya Anda, Albert Camus, dalam kekosongan dan ketiadaan pegangan semacam itu, gagasan absurditas memandu kesadaran justeru untuk menemu hidup dan menghidupi dengan penuh; dengan membayangkan penerimaan akan ketiadaan makna-makna dan juga kekosongan harapan-harapan—Bahwa anda mengatakan hidup adalah (barangkali akhirnya) untuk “menghayati absurditas”. Dan dalam penghayatan itulah terlihat seberapa jauh pengalaman absurd berbeda dengan bunuh diri. “Kita mungkin menduga bahwa pemberontakan diikuti oleh bunuh diri. Tetapi itu keliru. Karena bunuh diri tidak merupakan penyelesaian yang logis. Bunuh diri adalah kebalikannya, karena justeru memerlukan persetujuan si pelaku. Bunuh diri seperti halnya loncatan, adalah penerimaan akan batasnya”. Anda berkata demikian, baiklah. Bisa dipahami bahwa penggambaran demikian itu akan membuat tindakan-tindakan konkrit di dalam kekosongan dan ketiadaan sepenuhnya menjadi kesadaran dan bentuk tanggung jawab manusiawi untuk melibatkan diri, dan hakikatnya adalah suatu pemberontakan—yang mesti menuntut solidaritas tetapi berlangsung dengan suatu kesadaran mekanis yang soliter. Dan dari situ saya paham anda tidak ingin disamakan dengan eksistensialis yang memandu kesadaran akan diri otentik untuk mula mula menempuh jalan “menidak” liyan seperti Sartre; anda tampaknya juga tak ingin menjadi nihilis seperti Nietzsche yang memilih berlaku sebagai psikolog otonom di depan semua yang menyakiti dan tanpa harapan—dan Nietzsche sebagai psikolog ia konsisten mengambil jarak tetapi tidak menolak karena alasan untuk mengetahui. Sementara anda melibat untuk alasan pemberontakan dan menyaksi.

Tetapi sekali lagi, sebagai bentuk rasa cinta, saya harus menguji cinta itu dan karenanya saya harus mempertanyakan gambaran-gambaran yang anda lakukan dan telah membuat saya jatuh cinta itu—supaya saya juga tidak terperdaya oleh absurditas Anda.

Maka pertama-tama saya akan bertanya tentang “niat” seorang absurdis. (rupa pertanyaanya belum saya susun saat ini), pertanyaan berikutnya terkait dengan anjuran “membayangkan” perkara kebahagiaan dalam ketiadaan dan kekosongan itu. Apa Absurdis rupanya juga mencari kebahagiaan hidup yang terdengar sebagai hal ambisius untuk pemaparan panjang dan aneh yang selalu bernada pesimistis? Pertanyaan berikutnya belum saya siapkan, begitu juga pertanyaan berikutnya lagi juga belum saya siapkan. Saya masih terlalu mencintai Anda.

Pertanyaan-pertanyaan itu akan saya susun dan paparkan kemudian—mengingat sekarang saya belum meyakini atau belum punya mode epistemik yang terasa pas untuk membuat pertanyaan-pertanyaan. Juga karena saya, begitulah, masih terlalu mencintai Anda.

Lagi pula Tuan, tulisan pada bagian ini saya rencanakan sebagai tulisan penutupan—suatu epilog, dan sementara ini prolog dan pokok bahasannya malah belum saya mulai tuliskan kecuali secara gradual, random dan serampangan. Namanya juga menulis tentang absurditas—kiranya tidak mengapa bila juga dilakukan atau dikerjakan dengan cara-cara yang juga sama absurdnya—dan tidak mengapa juga bila akhirnya tidak untuk diselesaikan. Oh ya, paragraph terakhir ini tidak saya tujukan untuk Anda, Albert Camus—tapi untuk pembaca tulisan saya di facebook, blog atau kemayaan lain, mereka orang-orang absurd untuk sukarela membuang waktu membaca omong-kosong begini. (*)

Jakarta, 21 Mei 2020

Sabiq Carebesth

Continue Reading

Milenia

Bersatu Dalam rasa—Kumpulan Resep Masakan Praktis

mm

Published

on

Pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) ini datang begitu saja dan mengubah hampir seluruh pola hidup manusia. Gedung sekolah lengang, lorong perkantoran sepi. Orang-orang lebih banyak mendekam atau beraktivitas di dalam rumah, demi memutus mata rantai penularan virus SARS CoV-2 yang mematikan.

Perubahan itu terjadi pula pada aktivitas kuliner masyarakat urban. Mereka tak lagi makan siang di resto di sela-sela waktu bekerja. Di masa pandemi ini, mereka memilih untuk mengonsumsi masakan rumah. Ikhtiar meyakinkan diri bahwa makanan yang dikonsumsi aman dari virus, sekaligus menambah kehangatan momentum kumpul keluarga. 

Aktivitas perdapuran menjadi lebih sering dilakukan. Para koki rumah menjajal menu baru atau sekadar mempraktikkan kembali menu lama. Pada titik itulah, kami—sekelompok perempuan muda yang berkumpul untuk saling mendukung dan berbagi terhadap sesama—mencoba berkontribusi.

Kami menawarkan alternatif resep masakan rumahan yang praktis dan mudah dipraktikkan oleh siapa saja.  Ikhtiar ini sejalan dengan gagasan sejarawan dan penulis buku Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) Yuval Noah Harari, bahwa cara utama untuk menangkal epidemi ini bukan dengan pemisahan, melainkan kerja sama: kolaborasi. Dengan kolaborasi resep masakan ini, kami berharap agar orang-orang betah #dirumahaja.

Belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Harapan itu begitu besar, sebesar harapan kita semua agar pandemi ini segera berlalu. Secara umum, buku ini berisikan empat kategori. Berupa kudapan (appetizer), hidangan utama (signature dish), makanan penutup (dessert), dan minuman (beverage). Kami mengucapkan terima kasih kepada  Agung Sedayu dan Ari Ambarwati yang telah memberikan endorsement. Dengan dukungan kalian, buku ini menjadi lebih dapat diterima oleh masyarakat luas.

Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada teman-teman geng Kulinerita Kekinian lainnya: Igna, Ilmia, Irene, Janti, Kiki, Muno, Nancy, Nurul, Reni, Sari, Annisatul Ummah, Wina, dan Ayu. Kalian adalah sumbu semangat kami untuk terus berkarya. Semoga buku ini bermanfaat.

Klik tautan berikut untuk mengunduh Kumpulan Resep Masakan Praktis untuk di rumah saja.

Continue Reading

Milenia

Bermobil di Jalan Indonesia

mm

Published

on

Oleh SetyaningsihEsais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Mobil pernah berpendar dalam imajinasi sederhana. Mobil menjadi replika atas kecepatan, impian, keberhasilan, dan unjuk diri dalam permainan mobil-mobilan. Demi mencipta pengalaman nyaris realis, anak-anak menirukan suara mesin, mengatur kecepatan, dan segera membangun jalan-jalan lebar serta bersih di dalam kepala. Bermobil imajiner itu jelas tidak lagi mengingatkan gubahan lagu anak-anak milik Ibu Sud pada 1938 yang berdendang merdu dan mengajak anak-anak berhati-hati: awas kendaraan jalan hati-hati.

Ibu Sud sangat mafhum bahwa jalan di tanah jajahan telah ramai kendaraan, termasuk mobil. Dalam kasus berkendara di jalan, kendaraan tidak bermesin seperti sepeda, delman, atau gerobak harus lebih waspada. Cerap lagu “Bung Polisi Pengatur Lalu Lintas” (Ketilang,1982), hai kawan bung polisi kita/ bekerja dengan tangkas/ mengatur lalu lintas/ tengoklah tangannya diacu-acukannya/ itulah perintah yang tepat bagi rakyat/ ayuh ini lalu, itu tunggu dulu/ ayuh itu lalu, ini tunggu dulu/ awas kendaraan jalan hati-hati. Adab di jalan menentukan keselamatan di jalan.

Pembentukan jalan di masa kolonial memang meminta kompensasi nyawa. Ada 51.615 mobil di Hindia Belanda pada 1939, paling banyak berada di Jawa. Sebagai contoh di Surabaya pada 1928, kasus kecelakaan serius paling sering disebabkan oleh mobil lalu menyusul kereta api (Rudolf Mrazek, 2006). Di jalanan modern, segala kendaraan bermesin memang mencipta cara baru ‘berkelana’. Proyek ambisius pembangunan jalan di tanah jajahan adalah mukjizat kecepatan, pondasi ekonomi, penciptaan gaya hidup modern berkendara, dan sekaligus cara baru mengalami musibah.

Dalam dunia kerakyatan yang senang bertukar kabar, kecelakaan bisa menjadi cerita empatik sekaligus heroik. Terkadang, cerita tentang kecelakaan di jalan bisa lebih dramatis dibandingkan kejadian aslinya. Kecelakaan memang musibah. Tapi, kecelakaan sebagai cerita yang biasanya melibatkan mobil dengan sepeda atau pejalan kaki menjadi acuan mengenalkan kedigdayaan jalan, teknologi kendara, persaingan, keramaian, dan (akhirnya) sikap berhati-hati.

Di buku pelajaran lawas berbahasa Jawa berjudul Tataran II (R. Wignjadisastra, 1950) muncul cerita berjudul “Katjilakan”. Cerita dilengkapi gambar seorang simbok menggendong bakul yang hampir tertabrak mobil. Diceritakan bahwa Pak Koentjoeng mengabarkan kepada anak dan istri tentang kecelakaan yang melibatkan mobil, Mbok Tomblok, dan sapi. Mbok Tomblok berjalan di sisi kanan yang seketika membuat mobil kaget. Pak Koentjoeng berpesan kepada anak, “Moelané kowé jèn pada mlakoe sing ngati-ngati. Metoe pinggir kiwa. Wong montor koewi ora kena disanak.” Pesan memantik cerita kecelakaan lain yang menewaskan ayam, “Anoe pak. Pitiké Mijem, djare ija mati ketoendjang montor. Toedjoené pitikkoe ora.” Mobil tidak hanya menakuti manusia, tapi mengancam nyawa binatang yang sembarangan melenggang di jalan

Rezim Mobil

Di tengah diplomasi pengembalian keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro oleh pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia, muncul wacana pengembalian naskah kuno dan artefak sejarah lainnya. Tajuk harian Solopos, 14 Maret 2020, mengingatkan pada mobil berjuluk kereta setan atau Benz Victoria Phaeton milik Pakubuwana X. Inilah mobil pertama di Indonesia yang mengenalkan modernitas di tanah jajahan. Mobil bermesin satu silinder tidak kembali setelah dipinjam Belanda untuk pameran mobil pada 1924 dan saat ini dirumahkan di Museum Louwman, Belanda.

Sejarahwan John Pemberton (2018) menulis, “zaman kemajuan sering menempatkan Pakubuwono X di jalan dalam mobilnya atau di atas gerbong ekstra Baginda atau, sebagaimana di sini, di sebuah hotel.” Pakubuwono X bertakhta ketika perpolitikan di Hindia Belanda mengalami perubahan-perubahan besar. Ia menyaksikan sekaligus mengalami kemajuan komunikasi, transportasi, perekonomian di Surakarta yang menjadi titik perhubungan modern, salah satunya ditandai dengan pembangunan stasiun kereta api. Kita membayangkan Pakubuwana X melakukan perjalanan dinas ke desa-desa di Jawa Tengah di atas mobil. Itulah salah satu cara modernitas dikenalkan, menakutkan tapi sangat mengagumkan.

Mobil semula dinikmati sekelumit elite birokrat pribumi, menjadi semakin wajar dalam tatanan kekuasaan dan ditularkan sebagai gaya hidup. Secara politis, mobil melanggengkan sekaligus mengguncang kemapanan rezim. Pemerintah Orde Baru membuat banyak orang bermimpi tentang mobil sebelum terbang dengan pesawat. Di buku himpunan surat kepada Soeharto berjudul Anak Indonesia dan Pak Harto (1991), ada surat dari Tiwik cs (Yayuk, Tri, Ike, dan Yuli) dari Banyumanik, Semarang Selatan.

Tiwik cs menyampaikan kekesalan karena melewatkan satu hal penting saat parade penyambutan obor perdamaian di Jalan Setia Budi dalam rangka Hari Persahabatan 1986. Tiwik cs menulis, “Rencananya jam 2.30 tapi setelah ditunggu kok lama buanget, setelah jam 3.30 ternyata obornya sudah lewat dan berada di dalam mobil. Wah hati “Tiwik cs” sangat dongkol deh…bukan cuma hati “Tiwik cs” aja, tapi hati semua anak-anak, adik-adik, embak-embak, dan masih banyak lagi.” Mobil-mobil telah mulai memasuki jalanan pembangunan. Bagi anak, sekadar melihat saja cukup mengisi pengalaman fantastis. Mobil ibarat benda ajaib dari masa penemuan yang jauh tapi ingin turut mereka rasakan.

Tiwik cs pasti belum lahir ketika Indonesia mengalami bakar-bakaran mobil dalam Peristiwa Malari (15 Januari 1974). Ada 807 mobil dirusak-dibakar. Mahasiswa menyambut kunjungan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka dengan amarah dan demonstrasi di Pangkal Udara Halim Perdanakusuma. Bahkan ketika Jakarta masih mencekam pada tanggal 17 Januari, mobil senyaman apa pun tidak menjamin keselamatan tamu negara. PM Kakuei Tanaka diterbangkan dari Bina Graha ke pangkalan udara dengan helikopter (Asvi Warman Adam di Kompas, 16 Januari 2003). Penolakan pada tamu negara yang berarti menolak modal asing diarahkan pada pembakaran (komoditas) mobil. Hal ini bisa juga menganalogikan kekuasaan seperti mobil, hanya membuat nyaman (penguasa) di dalam dan mengabaikan (rakyat) di luar.

Kita selalu mengingat Jepang sebagai negeri mahapembuat mobil. Eh, di majalah Bobo edisi 12 Maret 2020, ada pengumuman 30 finalis lomba menggambar “Toyota Dream Car Art Contest” 2020. Menariknya, anak-anak serius ingin menciptakan mobil yang tidak lagi menunjukkan kepemilikan mewah-individualistik, normatif secara fungsi, bukti kekuasaan, dan gaya hidup mapan. Mobil anak-anak ini lahir dari imajinasi futuristik bersendi pada empati atas keselamatan bumi dan humanisme global. Misalnya Syhaloom Calysta Nazhwa (6 tahun) dari Boyolali, menggambar mobil pemasak raksasa untuk korban bencana alam yang diberi nama Giant Cooker Car for Disaster Victims.

Nama mobil memang harus berbahasa Inggris untuk menegaskan kecanggihan. Ada juga mobil melayang berbentuk galon yang di atasnya tumbuh pohon-pohon. Mobil menyalurkan selang air ke galon di darat yang dikelilingi banyak orang. Mobil Galon ini digambar oleh Melia Zalfa Nabila (11 tahun). Selain dua mobil ini, kita masih mendapati mobil-mobil bermisi mulia; Mobil Kebakaran Hutan dan Lahan, Garbage Cleaning Cars in Space, Mobil Masker Polusi, Anti Bullying Car, Mobil Rotan Ramah Lingkungan, Saving Marine. Pejabat yang jelas dipinjami Pajero, Avanza, atau Xenia untuk bekerja, sepertinya harus belajar mengamalkan kendaraan dari anak-anak mobil impian Toyota.

Di rumah, kantor, tempat ibadah, sekolah, lobi bank, depan warung pecel, pusat perbelanjaan, tempat wisata, atau bahkan jalan perumahan sempit, sangat biasa mobil ditemukan. Bau bensin atau kepulan debu dari laju mobil bukan lagi keajaiban dari zaman bergerak maju. Kita berhasil dibuat sangat biasa menghadapi mobil. Kendaraan keluarga, dinas, dakwah, atau bisnis bentuknya mobil. Yang cukup baru sekitar dua tahun ini, keluarga menunjukkan identitas keagamannya dengan memasang stiker “Moslem Family” di kaca belakang mobil. Dunia ini masih menanggung macet karena mobil. Mungkin, jalan ke surga akan menanggung masalah yang sama. (*)

Continue Reading

Trending