Connect with us

Buku

Membaca Ulang ‘A Temporary Matter’ Karya Jhumpa Lahiri

mm

Published

on

Saya masih mengingat kalau Selasa itu saya datang ke kos seorang teman untuk menumpang istirahat ketika saya melihat buku berwarna oranye; Interpreter of Maladies di kamarnya. Warna seperti itu selalu saja merisak mata. Membuat ingin mengambil. Nama yang tertulis di sana, sungguh, saya tidak pernah mendengar sebelumnya. Jhumpa Lahiri. Sekali baca, saya tahu kalau penulis ini, perempuan ini, kemungkinan besar orang India atau daerah sekitar sana. Yang saya tidak tahu berikutnya; dia memberikan pengaruh besar pada apa dan bagaimana saya menulis. Yang saya syukuri berikutnya; saya mengambil buku oranye itu dan bukan buku yang ada di sebelahnya; Twilight Saga.

Tentang Twilight Saga, saya membeli juga keempat bukunya beberapa bulan kemudian, membaca semuanya sampai habis dalam waktu kurang satu pekan, dan sampai sekarang, sepuluh tahun kemudian, saya masih tidak punya apapun yang menarik untuk ditulis tentang buku itu.

Saya sudah menikah ketika itu, di tahun pertama—ketika semuanya masih indah dan saya masih tergila-gila. Masuk ke cerita pertama di buku itu, A Temporary Matter, membuat saya sedikit bertanya—sedikit saja karena sebagian besar dari apa yang terpikir ketika membacanya; pernikahan saya tidak akan pernah jadi seperti ini—tentang lawan dari jatuh cinta. Apa benar bahwa seiring waktu pernikahan akan hambar dan hubungan suami-istri itu lebih mirip teman yang berbagi rumah yang saling menghindari kecuali ketika di awal bulan dan harus duduk di satu meja untuk menghitung pengeluaran?

Saya bukan penggemar cerita tentang pernikahan. Sampai hari ini pun, saya menghindari menulis tentang hal itu karena, setelah sepuluh tahun lebih menikah, saya masih juga belum bisa memastikan bahwa saya menceritakan hal yang benar tentang itu semua. Jatuh cinta lebih mudah diceritakan. Pernikahan, tidak. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa di suatu pagi, ketika suamimu duduk di depanmu dengan cangkir kopi dan jari-jarinya mengetuk tepian luar cangkir itu dengan ujung jarinya beberapa kali, dan kamu merasa bahwa akan ada pertengkaran setelahnya? Yang besar—yang membuatmu mempertanyakan keputusan untuk menikah. Lalu malam harinya, ketika dia berkata padamu bahwa semua bisa diperbaiki, kamu melihat kerusakan dan juga menatap harapan di antaranya, kalian kemudian berbaikan lalu kamu seolah kembali jatuh cinta padanya. Hanya beberapa hari ke depan, memang. Tergila-gila seperti jatuh cinta pertama kali, tapi kali ini lebih rasional—rasanya. Bagaimana hal semacam itu dijelaskan?

Semalam, saya membaca ulang A Temporary Matter. Mengunjunginya kembali. Mencoba melihat apa kali ini saya membacanya dengan cara yang beda. Ternyata, benar. Saya menjadi lebih terhubung dengan cerita ini. Lebih dalam, lebih merasuk. Seperti judulnya, A Temporary Matter, semua dalam pernikahan itu sementara; cinta, nafsu, pertengkaran, bahkan mungkin pernikahan itu sendiri.

* * *

THE NOTICE INFORMED THEM that it was a temporary matter: for five days their electricity would be cut off for one hour, beginning at eight P.M. A line had gone down in the last snowstorm, and the repairmen were going to take advantage of the milder evenings to set it right. The work would affect only the houses on the quiet tree-lined street, within walking distance of a row of brick-faced stores and a trolley stop, where Shoba and Shukumar had lived for three years.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 1). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Cerpen ini dibuka dengan pemberitahuan bahwa akan ada pemadaman sementara di daerah rumah Shoba dan Shukumar karena kabel di sekitar sana perlu perbaikan setelah badai salju. Tidak lama, hanya lima hari. Sekarang saya baru melihat betapa pintarnya cerpen ini dibuka; dengan memberikan peringatan pada pembaca bahwa setelah tiga tahun pasangan itu tinggal di sana, akan ada hari di mana mereka mengalami sesuatu yang sementara. Saya kemudian membacanya seperti ini; bahwa setelah tiga tahun menikah, akan ada masa di mana pasangan ini terpaksa melewati gelap bersama. Mereka terpaksa karena tidak ada pasangan manapun yang ingin masa gelap dalam pernikahannya—kebanyakan lebih ingin benderang yang pura-pura.

Saya teringat lagi kalau dua hari lalu, saya menonton Big Little Lies, serial yang diangkat dari novel berjudul serupa karya Liane Moriarty. Eddie, salah satu karakter di sana bilang semacam; pernikahan itu akan bahagia kalau pasangan punya kemampuan berpura-pura. Berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura—masih—saling mencintai, dan berpura-pura bahagia. Setengah dari pernyataan itu saya setuju. Lihatlah sosial media pasangan yang menikah kalau tidak percaya. Semua kelihatan bahagia. Sebagian dari itu, mungkin hanya pura-pura.

Shoba dan Shukumar pun demikian. Mereka bahagia. Tapi ada beberapa hal yang mereka sapu ke bawah karpet dan coba lupakan. Tidak pernah dibicarakan. Setelah anak mereka terlahir dalam keadaan mati, Shoba menjauh dari Shukumar. Shukumar pun demikian. Mereka jadi sangat ahli untuk saling menghindari di apartemen mereka. Mencoba mencari ruang di sama yang lainnya—mungkin—tidak akan ke sana. Lalu bicara dengan pasif-agresif yang sengaja ditekan tapi masih juga terasa.

“But they should do this sort of thing during the day.” “When I’m here, you mean,” Shukumar said.

Shukumar memperhatikan istrinya dan dia tahu bahwa Shoba selalu menyiapkan apapun. Dia bukan tipe perempuan yang spontan. Dia punya satu boks sikat gigi baru yang disimpan untuk tamu kalau tamu itu ingin menginap di saat-saat terakhir. Shoba tidak suka kejutan. Shukumar pun tahu itu.

She used to put her coat on a hanger, her sneakers in the closet, and she paid bills as soon as they came. But now she treated the house as if it were a hotel.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Beberapa tahun lalu, saya mendengar salah satu episod podcast Tyler Oakley, Psychobabble, dan di sana dia menjelaskan pendapatnya bahwa hubungan—apapun itu bentuknya—bisa diumpakan seperti tinggal di satu tempat yang sama dengan orang itu—siapapun orangnya. Dua orang yang punya hubungan seperti memindahkan barang-barang mereka ke rumah baru ketika mereka memulai hubungan. Ini bagian yang mudah. Semua orang antusias dengan rumah baru dan suasana baru. Tapi seriring dengan berjalannya waktu, rumah itu—bisa jadi—akan terasa sesak, suasana baru itu—bisa jadi—akan terlihat membosankan. Ketika itu, salah satu dari mereka mungkin mulai memindahkan satu-persatu boks berisi barang-barang ke tempat baru tanpa sepengatahuan yang satunya. Ini harusnya kelihatan. Banyak pertanda. Misalnya, ketika pembicaraan lebih banyak dijadikan sekedar tuntutan bertanya dan menjawab pertanyaan, bukan untuk saling mengerti isi hati satu dan lainnya. Karena itu, menjadi yang ditinggalkan di rumah yang sebagian barang-barangnya sudah dipindahkan, menjadi hal yang paling menyedihkan. Menjadi yang ditinggalkan tanpa pertanda. Yang harus keluar dari rumah itu sendirian. Yang terakhir menutup pintu dan pergi.

Ini yang terjadi di hubungan Shoba dan Shukumar. Shoba mulai memindahkan ‘boks barang-barangnya’ satu-persatu tanpa sepengetahuan Shukumar. Mungkin Shukumar merasakan hal itu, mungkin dia membaca pertanda, tapi dia tidak juga menjadikan itu bahan pembicaraan karena menghindar lebih mudah—lebih tidak menyakitkan untuk sementara waktu. Ketika datang hari di mana listri dimatikan, Shukumar heran karena dia tidak menemukan lilin di apartemen mereka. Dia heran Shoba yang penuh perhitungan dan persiapan tidak menyiapkan hal yang biasa terjadi seperti itu; Shoba tidak menyiapkan bahwa akan ada hari di mana pernikahan mereka tidak baik-baik saja—dan ini hal yang biasa, seharusnya.

It was typical of her. She was the type to prepare for surprises, good and bad.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Lalu mereka pun terpaksa duduk berhadapan, di depan lilin kecil yang biasa dipakai untuk ulang tahun. Terpaksa bicara. Sulit, sayangnya. Shoba lalu mulai bercerita tentang hal yang tidak pernah Shukumar tahu tentangnya. Lalu dia menawarkan permainan—sekadar untuk menghindari perasaan tidak nyaman duduk berhadapan selama makan malam—untuk menceritakan apa yang tidak diketahui masing-masing tentang salah satunya. Sesuatu yang jujur dan tersembunyi. Awalnya, permainan ini terasa tidak akan berbahaya sama sekali. Tapi di hari kedua, ketiga, dan keempat, mereka pun jadi mengetahui hal paling gelap dari pasangan mereka. Selama ini mereka saling menyembunyikan karena, sekali lagi, perlu kemampuan untuk berpura-pura dalam hubungan.

Somehow, without saying anything, it had turned into this. Into an exchange of confessions— the little ways they’d hurt or disappointed each other, and themselves. The following day Shukumar thought for hours about what to say to her.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 18). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Di dalam gelap, mereka bisa bercerita. Mencari tahu tentang apa tang hilang dalam hubungan mereka. Rasanya lebih mudah memang, untuk bicara tanpa melihat wajah orang yang kita ajak bicara—karena itu menyakiti orang lewat sosial media lebih ringan untuk tangan dan hati, kan?

Di hari kelima, ada pemberitahuan lagi bahwa listrik sudah selesai diperbaiki lebih cepat dari jadwal. Malam itu, yang seharusnya mereka masih makan malam dalam gelap, jadi tidak seperti yang direncanakan Shukumar. Dia pun dengan tidak bersemangat menyiapkan makan malam. Tapi malam itu, mereka tetap makan dalam gelap, dengan lilin. Shoba yang menganjurkan begitu. Lalu setelah makan malam itu berakhir, dia menyalakan lampu dan mengatakan pada Shukumar bahwa dia ingin Shukumar melihat dengan jelas wajahnya ketika dia mengatakan hal ini; dia sudah mendapat apartemen baru, membayar depositnya, dan akan pindah. Shukumar yang terluka, membalas dengan mengatakan bahwa dia tahu jenis kelamin anak mereka yang terlahir mati. Dia sempat menggendongnya—tidak seperti cerita yang selama ini dikatakan pada Shoba bahwa dia tidak sempat menemui jasad anak mereka. Hal itu membuat Shoba terluka.

Cerpen ini pun ditutup dengan mereka berdua duduk di meja makan, dalam gelap—setelah lampu di matikan kembali oleh Shoba—dan menangis. Menangis untuk sesuatu yang, pada akhirnya, mereka tahu.

Lebih mudah untuk berpura-pura, memang. Lebih tidak menyakitkan untuk tidak mengetahui apapun.

Saya pun mencari pertanda di sepanjang cerpen ini. Saya ingin tahu apakah mereka benar akan berpisah atau setelah gelap ini, mereka memperbarui hubungan mereka. Saya tidak punya jawabannya—penulisnya pun meninggalkan ruang untuk interpretasi. Tapi saya tahu bahwa Shoba benar ingin pergi dan Shukumar ingin mempertahankan. Shoba yang mulai memindahkan boks satu-persatu dan Shukumar yang akan terakhir menutup pintu.

They wept together, for the things they now knew.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 22). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

* * *

Seperti yang saya tulis di awal; menuliskan tentang jatuh cinta dan tergila-gila itu mudah. Menuliskan tentang pernikahan dan segala ketidakpastian di dalamnya, itu sulit. Pernikahan lebih banyak punya warna. Jatuh cinta sama saja; pelangi dari permen dan gulali.

Saya makin menyukai cerpen ini setelah membaca ulang. Saya suka dengan betapa elegan Lahiri menceritakan pernikahan Shoba dan Shukumar. Mereka menjauh dari satu dan lainnya tapi masih beradab dengan makan di meja makan yang sama dan masih juga santun—walaupun pasif-agresif. Mereka mencoba mencari apa yang bisa diselamatkan karena tidak ada pilihan lain. Gelap tentu saja membantu karena tidak perlu melihat bagaimana satu dan lainnya mengunyah pengakuan masing-masing. Bahwa jatuh cinta itu mudah dan tidak ada lawan dari jatuh cinta. Kebalikannya hanya tidak peduli. Kamu cuma perlu untuk tidak peduli sampai di satu titik, keberadaan orang itu tidak lagi menyakitimu.

Cerpen ini belum sampai ke sana karena semua ini, seperti judulnya, hanya a temporary matter, keadaan sementara. Sebelum akhirnya keputusan lebih permanen diambil, kemudian. (*)

—————-

Octaviani Nurhasanah: Freelance writer. Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Twitter: @OctaNH / octavianinurhasanah.net

 

 

 

Continue Reading

Buku

Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

mm

Published

on

Judul Buku: Nusantara dalam Catatan Tionghoa

Penulis: W.P. Groeneveldt

Penerbit: Komunitas Bambu | Tahun Terbit: 2018

Tebal; vvxi + 172 halaman, ISBN 978-602-9402-92-6

_____________________________________________

Ada sebuah pernyataan bijak yang tidak diketahui namanya menyatakan, “Orang yang bijak adalah orang yan mengenal sejarahnya.” Sekilas ini merupakan sebuah pernyataan yang sangat baik. Kita diminta mengenal sejarah kita, agar dapat belajar mengambil sikap dan memetakan masa depan.

Akan tetapi, kita juga dapat mempertanyakan pernyataan di atas? Dari mana kita dapat mengetahui sejarah kita? Apakah dari dalam diri kita sendiri atau lingkungan kita? Atau bahkan kita harus mengetahui sejarah kita dari orang lain?

Suka atau tidak, hal itu yang terjadi pada pencatatan sejarah Indonesia atau saat masih gugusan kepulauan nusantara. Justru sejarah Indonesia, banyak ditulis oleh orang asing yang dikenal dengan istilah Indonesianis. Mereka banyak menulis tentang sejarah Indonesia periode kontemporer hingga periode klasik yang masih bernamakan nusantara.

Hal itu yang coba diusahakan oleh W.P Groeneveldt dalam usahanya mengenalkan sejarah nusantara. Sebagai seorang arkeolog dan juga memegang jabatan penting dalam administrasi kolonial Belanda di Indonesia, ia melacak sejarah gugusan kepulauan nusantara yang akan menjadi cikal bakal Nusantara.

Uniknya, ia tidak memakai catatan orang-orang Eropa dalam menuliskan sejarah nusantara, tetapi memakai catatan-catatan orang-orang Tiongkok yang pernah mendatangi langsung kepuluan nusantara seperti Jawa, Sumatra, Bali, dan Kalimantan. Bukan tanpa sebab Groeneveldt memakai  catatan orang-orang Tiongkok, pasalnya Tiongkok memiliki literature lengkap yang tidak pernah terputus dari dinasti ke dinasti dalam berbagai subjek (hlm.XV).

Tentu, hal yang menghubungkan Kekaisaran Tiongkok dan nusantara adalah perdagangan. Bahkan, dalam catatan yang ditemukan oleh Groeneveldt, Kekaisaran Tiongkok sudah memiliki kontak dagangan mulai sejak zaman dinasti Shang pada 2000 SM. Dinasti Shang banyak melakukan interaksi perdagangan baik melalui jalur darat maupun jalur laut ke wilayah Sumatra dan Jawa. Interaksi antara Tiongkok dan wilayah nusantara pun terus berlanjut dari dinasti ke dinasti berikutnya tanpa terputus.

Selain itu, dari setiap utusan dinasti yang berkunjung ke nusantara melibatkan banyak orang yang menjadi perantara yang merangkap menjadi penerjemah untuk para pedagang baik secara resmi maupun pribadi. Adanya penerjemah ini adalah satu petanda bahwa interaksi sudah berjalan cukup intens. Terlebih saat masa kekaisaran Dinasti Ming, melibatkan utusan bernama Zheng He. Ia dikenal memiliki reputasi catatannya yang akurat dari hasil kunjunngannya ke luar negeri (Hlm.48).

Dampak lain dari perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Tiongkok adalah dibolehkannya orang-orang Tiongkok menetap di wilayah-wilayah nusantara. Baik sebelum masa kerajaan maupun sampai masa kerajaan. Mereka menetap dan melakukan akulturasi dengan penduduk nusantara.

Tentu orang-orang Tiongkok tidak hanya sekadar mencatat interaksi perdagangan dengan orang-orang nusantara, tetapi juga mencatat kegiatan masyarakat nusantara pada saat itu. Ini merupakan hal penting, karena dalam sejarah Indonesia terdapat missing link setelah era prasejarah, langsung memasuki era kerajaan-kerajaan nusantara dimulai dari Kutai Kartanegara.

Mereka mencatat kehidupan orang-orang nusantara cukup mengerikan, “Mereka berjalan tanpa alas kaki dan apabila ada kerabat yang meninggal, jenazahnya akan diletakkan di hutan agar di makan anjing. Apabila, jenazahnya di makan sampai habis, maka keluarga akan bahagia. Sedangkan, jika jenazahnya tidak di makan sampai habis, maka keluarga akan bersedih dan membuang sisa jenazahnya ke laut.” (Hlm.58-59) Catatan-catatan tersebut tentu sangat penting dalam mengisi kekosongan pencatatan sejarah di Indonesia, meski secara kuantitas hingga saat ini masih sangat kurang.

Dikarenakan ditulis oleh orang-orang Tiongkok, catatan-catatan ini hanya menunjukkan bagaimana adikuasanya Tiongkok atas kepuluan-kepulauan nusantara. Kendati demikian, berdasarkan catatan ini kita bisa melihat sumbangsih atau peran orang Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari hingga mereka melakukan pembauran dengan masyarakat. Nusantara.

Buku ini juga bisa menjadi jawaban atas sentimen rasial yang tengah melanda di Indonesia terhadap orang-orang Tionghoa. Sebab, sering kali banyak yang menyatakan bahwa orang Tionghoa tidak memiliki peran di Indonesia. Justru, dengan buku ini, orang-orang Indonesia berhutang budi karena Orang Tionghoa telah mencatat dan mengenalkan sejarah Indonesia.

__________________________

*) Virdika Rizky Utama: Periset di NARASI.TV

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Classic Prose

Trending