Connect with us

Buku

Membaca Ulang ‘A Temporary Matter’ Karya Jhumpa Lahiri

mm

Published

on

Saya masih mengingat kalau Selasa itu saya datang ke kos seorang teman untuk menumpang istirahat ketika saya melihat buku berwarna oranye; Interpreter of Maladies di kamarnya. Warna seperti itu selalu saja merisak mata. Membuat ingin mengambil. Nama yang tertulis di sana, sungguh, saya tidak pernah mendengar sebelumnya. Jhumpa Lahiri. Sekali baca, saya tahu kalau penulis ini, perempuan ini, kemungkinan besar orang India atau daerah sekitar sana. Yang saya tidak tahu berikutnya; dia memberikan pengaruh besar pada apa dan bagaimana saya menulis. Yang saya syukuri berikutnya; saya mengambil buku oranye itu dan bukan buku yang ada di sebelahnya; Twilight Saga.

Tentang Twilight Saga, saya membeli juga keempat bukunya beberapa bulan kemudian, membaca semuanya sampai habis dalam waktu kurang satu pekan, dan sampai sekarang, sepuluh tahun kemudian, saya masih tidak punya apapun yang menarik untuk ditulis tentang buku itu.

Saya sudah menikah ketika itu, di tahun pertama—ketika semuanya masih indah dan saya masih tergila-gila. Masuk ke cerita pertama di buku itu, A Temporary Matter, membuat saya sedikit bertanya—sedikit saja karena sebagian besar dari apa yang terpikir ketika membacanya; pernikahan saya tidak akan pernah jadi seperti ini—tentang lawan dari jatuh cinta. Apa benar bahwa seiring waktu pernikahan akan hambar dan hubungan suami-istri itu lebih mirip teman yang berbagi rumah yang saling menghindari kecuali ketika di awal bulan dan harus duduk di satu meja untuk menghitung pengeluaran?

Saya bukan penggemar cerita tentang pernikahan. Sampai hari ini pun, saya menghindari menulis tentang hal itu karena, setelah sepuluh tahun lebih menikah, saya masih juga belum bisa memastikan bahwa saya menceritakan hal yang benar tentang itu semua. Jatuh cinta lebih mudah diceritakan. Pernikahan, tidak. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa di suatu pagi, ketika suamimu duduk di depanmu dengan cangkir kopi dan jari-jarinya mengetuk tepian luar cangkir itu dengan ujung jarinya beberapa kali, dan kamu merasa bahwa akan ada pertengkaran setelahnya? Yang besar—yang membuatmu mempertanyakan keputusan untuk menikah. Lalu malam harinya, ketika dia berkata padamu bahwa semua bisa diperbaiki, kamu melihat kerusakan dan juga menatap harapan di antaranya, kalian kemudian berbaikan lalu kamu seolah kembali jatuh cinta padanya. Hanya beberapa hari ke depan, memang. Tergila-gila seperti jatuh cinta pertama kali, tapi kali ini lebih rasional—rasanya. Bagaimana hal semacam itu dijelaskan?

Semalam, saya membaca ulang A Temporary Matter. Mengunjunginya kembali. Mencoba melihat apa kali ini saya membacanya dengan cara yang beda. Ternyata, benar. Saya menjadi lebih terhubung dengan cerita ini. Lebih dalam, lebih merasuk. Seperti judulnya, A Temporary Matter, semua dalam pernikahan itu sementara; cinta, nafsu, pertengkaran, bahkan mungkin pernikahan itu sendiri.

* * *

THE NOTICE INFORMED THEM that it was a temporary matter: for five days their electricity would be cut off for one hour, beginning at eight P.M. A line had gone down in the last snowstorm, and the repairmen were going to take advantage of the milder evenings to set it right. The work would affect only the houses on the quiet tree-lined street, within walking distance of a row of brick-faced stores and a trolley stop, where Shoba and Shukumar had lived for three years.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 1). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Cerpen ini dibuka dengan pemberitahuan bahwa akan ada pemadaman sementara di daerah rumah Shoba dan Shukumar karena kabel di sekitar sana perlu perbaikan setelah badai salju. Tidak lama, hanya lima hari. Sekarang saya baru melihat betapa pintarnya cerpen ini dibuka; dengan memberikan peringatan pada pembaca bahwa setelah tiga tahun pasangan itu tinggal di sana, akan ada hari di mana mereka mengalami sesuatu yang sementara. Saya kemudian membacanya seperti ini; bahwa setelah tiga tahun menikah, akan ada masa di mana pasangan ini terpaksa melewati gelap bersama. Mereka terpaksa karena tidak ada pasangan manapun yang ingin masa gelap dalam pernikahannya—kebanyakan lebih ingin benderang yang pura-pura.

Saya teringat lagi kalau dua hari lalu, saya menonton Big Little Lies, serial yang diangkat dari novel berjudul serupa karya Liane Moriarty. Eddie, salah satu karakter di sana bilang semacam; pernikahan itu akan bahagia kalau pasangan punya kemampuan berpura-pura. Berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura—masih—saling mencintai, dan berpura-pura bahagia. Setengah dari pernyataan itu saya setuju. Lihatlah sosial media pasangan yang menikah kalau tidak percaya. Semua kelihatan bahagia. Sebagian dari itu, mungkin hanya pura-pura.

Shoba dan Shukumar pun demikian. Mereka bahagia. Tapi ada beberapa hal yang mereka sapu ke bawah karpet dan coba lupakan. Tidak pernah dibicarakan. Setelah anak mereka terlahir dalam keadaan mati, Shoba menjauh dari Shukumar. Shukumar pun demikian. Mereka jadi sangat ahli untuk saling menghindari di apartemen mereka. Mencoba mencari ruang di sama yang lainnya—mungkin—tidak akan ke sana. Lalu bicara dengan pasif-agresif yang sengaja ditekan tapi masih juga terasa.

“But they should do this sort of thing during the day.” “When I’m here, you mean,” Shukumar said.

Shukumar memperhatikan istrinya dan dia tahu bahwa Shoba selalu menyiapkan apapun. Dia bukan tipe perempuan yang spontan. Dia punya satu boks sikat gigi baru yang disimpan untuk tamu kalau tamu itu ingin menginap di saat-saat terakhir. Shoba tidak suka kejutan. Shukumar pun tahu itu.

She used to put her coat on a hanger, her sneakers in the closet, and she paid bills as soon as they came. But now she treated the house as if it were a hotel.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Beberapa tahun lalu, saya mendengar salah satu episod podcast Tyler Oakley, Psychobabble, dan di sana dia menjelaskan pendapatnya bahwa hubungan—apapun itu bentuknya—bisa diumpakan seperti tinggal di satu tempat yang sama dengan orang itu—siapapun orangnya. Dua orang yang punya hubungan seperti memindahkan barang-barang mereka ke rumah baru ketika mereka memulai hubungan. Ini bagian yang mudah. Semua orang antusias dengan rumah baru dan suasana baru. Tapi seriring dengan berjalannya waktu, rumah itu—bisa jadi—akan terasa sesak, suasana baru itu—bisa jadi—akan terlihat membosankan. Ketika itu, salah satu dari mereka mungkin mulai memindahkan satu-persatu boks berisi barang-barang ke tempat baru tanpa sepengatahuan yang satunya. Ini harusnya kelihatan. Banyak pertanda. Misalnya, ketika pembicaraan lebih banyak dijadikan sekedar tuntutan bertanya dan menjawab pertanyaan, bukan untuk saling mengerti isi hati satu dan lainnya. Karena itu, menjadi yang ditinggalkan di rumah yang sebagian barang-barangnya sudah dipindahkan, menjadi hal yang paling menyedihkan. Menjadi yang ditinggalkan tanpa pertanda. Yang harus keluar dari rumah itu sendirian. Yang terakhir menutup pintu dan pergi.

Ini yang terjadi di hubungan Shoba dan Shukumar. Shoba mulai memindahkan ‘boks barang-barangnya’ satu-persatu tanpa sepengetahuan Shukumar. Mungkin Shukumar merasakan hal itu, mungkin dia membaca pertanda, tapi dia tidak juga menjadikan itu bahan pembicaraan karena menghindar lebih mudah—lebih tidak menyakitkan untuk sementara waktu. Ketika datang hari di mana listri dimatikan, Shukumar heran karena dia tidak menemukan lilin di apartemen mereka. Dia heran Shoba yang penuh perhitungan dan persiapan tidak menyiapkan hal yang biasa terjadi seperti itu; Shoba tidak menyiapkan bahwa akan ada hari di mana pernikahan mereka tidak baik-baik saja—dan ini hal yang biasa, seharusnya.

It was typical of her. She was the type to prepare for surprises, good and bad.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Lalu mereka pun terpaksa duduk berhadapan, di depan lilin kecil yang biasa dipakai untuk ulang tahun. Terpaksa bicara. Sulit, sayangnya. Shoba lalu mulai bercerita tentang hal yang tidak pernah Shukumar tahu tentangnya. Lalu dia menawarkan permainan—sekadar untuk menghindari perasaan tidak nyaman duduk berhadapan selama makan malam—untuk menceritakan apa yang tidak diketahui masing-masing tentang salah satunya. Sesuatu yang jujur dan tersembunyi. Awalnya, permainan ini terasa tidak akan berbahaya sama sekali. Tapi di hari kedua, ketiga, dan keempat, mereka pun jadi mengetahui hal paling gelap dari pasangan mereka. Selama ini mereka saling menyembunyikan karena, sekali lagi, perlu kemampuan untuk berpura-pura dalam hubungan.

Somehow, without saying anything, it had turned into this. Into an exchange of confessions— the little ways they’d hurt or disappointed each other, and themselves. The following day Shukumar thought for hours about what to say to her.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 18). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Di dalam gelap, mereka bisa bercerita. Mencari tahu tentang apa tang hilang dalam hubungan mereka. Rasanya lebih mudah memang, untuk bicara tanpa melihat wajah orang yang kita ajak bicara—karena itu menyakiti orang lewat sosial media lebih ringan untuk tangan dan hati, kan?

Di hari kelima, ada pemberitahuan lagi bahwa listrik sudah selesai diperbaiki lebih cepat dari jadwal. Malam itu, yang seharusnya mereka masih makan malam dalam gelap, jadi tidak seperti yang direncanakan Shukumar. Dia pun dengan tidak bersemangat menyiapkan makan malam. Tapi malam itu, mereka tetap makan dalam gelap, dengan lilin. Shoba yang menganjurkan begitu. Lalu setelah makan malam itu berakhir, dia menyalakan lampu dan mengatakan pada Shukumar bahwa dia ingin Shukumar melihat dengan jelas wajahnya ketika dia mengatakan hal ini; dia sudah mendapat apartemen baru, membayar depositnya, dan akan pindah. Shukumar yang terluka, membalas dengan mengatakan bahwa dia tahu jenis kelamin anak mereka yang terlahir mati. Dia sempat menggendongnya—tidak seperti cerita yang selama ini dikatakan pada Shoba bahwa dia tidak sempat menemui jasad anak mereka. Hal itu membuat Shoba terluka.

Cerpen ini pun ditutup dengan mereka berdua duduk di meja makan, dalam gelap—setelah lampu di matikan kembali oleh Shoba—dan menangis. Menangis untuk sesuatu yang, pada akhirnya, mereka tahu.

Lebih mudah untuk berpura-pura, memang. Lebih tidak menyakitkan untuk tidak mengetahui apapun.

Saya pun mencari pertanda di sepanjang cerpen ini. Saya ingin tahu apakah mereka benar akan berpisah atau setelah gelap ini, mereka memperbarui hubungan mereka. Saya tidak punya jawabannya—penulisnya pun meninggalkan ruang untuk interpretasi. Tapi saya tahu bahwa Shoba benar ingin pergi dan Shukumar ingin mempertahankan. Shoba yang mulai memindahkan boks satu-persatu dan Shukumar yang akan terakhir menutup pintu.

They wept together, for the things they now knew.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 22). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

* * *

Seperti yang saya tulis di awal; menuliskan tentang jatuh cinta dan tergila-gila itu mudah. Menuliskan tentang pernikahan dan segala ketidakpastian di dalamnya, itu sulit. Pernikahan lebih banyak punya warna. Jatuh cinta sama saja; pelangi dari permen dan gulali.

Saya makin menyukai cerpen ini setelah membaca ulang. Saya suka dengan betapa elegan Lahiri menceritakan pernikahan Shoba dan Shukumar. Mereka menjauh dari satu dan lainnya tapi masih beradab dengan makan di meja makan yang sama dan masih juga santun—walaupun pasif-agresif. Mereka mencoba mencari apa yang bisa diselamatkan karena tidak ada pilihan lain. Gelap tentu saja membantu karena tidak perlu melihat bagaimana satu dan lainnya mengunyah pengakuan masing-masing. Bahwa jatuh cinta itu mudah dan tidak ada lawan dari jatuh cinta. Kebalikannya hanya tidak peduli. Kamu cuma perlu untuk tidak peduli sampai di satu titik, keberadaan orang itu tidak lagi menyakitimu.

Cerpen ini belum sampai ke sana karena semua ini, seperti judulnya, hanya a temporary matter, keadaan sementara. Sebelum akhirnya keputusan lebih permanen diambil, kemudian. (*)

—————-

Octaviani Nurhasanah: Freelance writer. Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Twitter: @OctaNH / octavianinurhasanah.net

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Buku

Keniscayaan Meruang(i)

mm

Published

on

Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Kita meruangi ruang secara spasial dan esensial atau guna dan citra, seperti pernah dibentangkan rohaniawan, arsitek, dan penulis Y.B. Mangunwijaya dalam pengantar buku Pengantar Fisika Bangunan (2000). Pengaturan elemen-elemen dasar arsitektural dibangun berbarengan dengan citra atau pantulan jiwa primordial seseorang meruangi. Ruang-ruang yang dibangun tidak berhenti untuk memenuhi tugas fungsional. Penghuninya menentukan seberapa emosional laku meruang diciptakan.


Judul: Mengaduk Ruang: Tafsir Merakyat atas Bangunan | Penulis: Rifai Asyhari | Penerbit: Hatopma | Cetak : Pertama, Oktober 2019 | Tebal: xviii+122 halaman

Begitu bangunan selesai dirancang seorang arsitek atau perancang paling amatir sekalipun dan diwujudkan oleh para tukang, penghuni barangkali adalah pihak paling otoritatif membentangkan pengalaman meruang. Inilah yang dilakukan oleh Rifai Asyhari lewat buku kumpulan esai Mengaduk Ruang: Tafsir Kerakyatan atas Bangunan (2019). Setidaknya dari penuturan ke penuturan yang kentara menonjolkan penghadiran raga diri, Rifai juga membawa pembaca untuk seolah saat ini juga menghadapi bentangan arsitektural. Rifai menempatkan mata pada sekat, tembok, lantai, atap, seng, tanah, udara, kepengapan, kelonggaran, himpitan, jarak, atau kelegaan.

Kita cerap, “Ukuran tiap kamar hanya 3×3.5 meter. Cukup kecil, cukup buat selonjor atau berbaring seorang manusia dewasa. Setiap kamar dipisahkan dinding tripleks yang tipis. Penghuni kos terbiasa mendengar dengkuran halus seorang yang tidur lebih dulu […] Selain dinding tripleks, lantainya tak dipasangi kramik. Hanya lantai semen berlapis plastik. Tidak ada kamar mandi khusus anak kos selain sebuah kamar mandi yang digunakan secara bersamaan oleh keluarga sang pemilik dan anak kos,” (hal. 5). Di esai pertama berjudul “Rasanya Tinggal di Kos Termurah Se-Yogyakarta”, Rifai cukup percaya diri mengajukan kos sebagai ruang spasial yang “dikuasai”, menautkan dengan harga, nilai guna, dan peristiwa para penghuninya.

Namun meski Rifai tidak mengungkapkan secara tersurat dan frontal, kos termurah se-Yogyakarta di Nologaten yang sedemikian sederhana itu, sebenarnya menghadapi hal tidak sederhana. Ada kekuatan pertumbuhan properti di luar dinding batako. “Di sekitar lokasi indekosku, terdapat dua hotel yang ramai dikunjungi orang dari pelbagai daerah. Nologaten makin ramai dan maju. Namun, cerita tentang sepasang orangtua yang kesulitan membangun sebuah rumah kecil nyatanya masih ada,” begitu keniscayaan pertarungan ruang industrial dan rumah saling dinegasikan Rifai. Hotel hanya salah satunya saat komersialisme begitu kuat mempengaruhi pertumbuhan bangunan.

Sebagai efeknya, Rifai memang tidak menampik bahwa kos memang “sebatas untuk tidur” bagi para penghuni yang berstatus mahasiswa mahasiswa semester atas. Mobilitas berkegiatan di luar ruang kos sempit dan sering kurang nyaman cenderung menonjolkan nilai guna daripada citra. Karena sering kos tidak dipersepsikan sebagai rumah, ia tidak dipersiapkan menjadi ruang transisi ke hal-hal lebih emosional.

Bahkan di esai berjudul “Mengingat Rumah dari Episode Kepulangan yang Singkat”, ada perasaan dilematis justru saat Rifai membentangkan peta ingatan masa kecil sekaligus penghadiran masa dewasa atas jalan, pemandangan, ruang-ruang (dalam) rumah, kolam ikan, atau halaman. Pulang ke Jawar, Wonosobo, seperti berpindah ke keterasingan. Kepulangan demi meruang itu cukup sebagai episode “mampir” daripada “singgah” karena perpindahan geografis sekaligus pergantian ruang desa ke kota. Momentum yang diakui Rifai, “Bagiku, mengingat rumah berarti mengingat masa kecil. Kenanganku di Jawar berhenti pada usia 11 tahun. Setelah itu, hanya episode-episode kepulangan dalam jeda yang singkat.”

Namun dari jeda singkat ini, kita bisa menyepakati bahwa kepulangan tidak hanya berarti memulangkan raga, tapi juga emosionalitas yang pernah bertumbuh dalam lipatan arsitektural ataupun peristiwa komunal manusianya. Rifai mengatakan, “Meski jarang kusambangi, itu tetap rumahku. Sejauh apa pun aku pergi, alamat rumah itulah satu-satunya yang kutuju.”

Kerakyatan

Sejak kecil, kita sepertinya kurang diajari cara mempersepsikan diri di hadapan ruang. Kita lebih dituntut untuk tahu fungsi-manfaat suatu tempat. Seringnya, tempat-tempat begitu berjarak dari kehidupan personal kita, apalagi bukan milik kita. Seberapa lama seseorang “mendiami” suatu tempat, ia belum tentu merasa memiliki “meruangi”. “Kerakyatan” yang menjadi istilah kelihatan sepele tapi cukup sakral di judul buku, terutama tidak dihadirkan untuk menunjukkan kelemahan secara ekonomi. Istilah mengalihkan dari kesan monopolistik bahwa arsitektur dalam bentuk secara material, perasaan, sekaligus keilmuan cenderung menjadi hak arsitek, kaum perkotaan pembaca majalah lifestyle dan desain interior, atau mahasiswa arsitektur.  

Bisa jadi, obrolan arsitektur di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, Yogyakarta, bersama Anas Hidayat, dosen jurusan Arsitektur dan Desain Komunikasi Visual UPN “Veteran” Surabaya di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, menjadikan salah satu pondasi menafsir secara  kerakyatan. Setidaknya sebelum bermimpi memiliki rumah, Rifai percaya untuk terlibat membicarakan tukang, modal, arsitektur berwawasan lingkungan, alienasi ruang perkotaan, atau hunian alternatif. Rifai mencatat, “Setiap individu sebaiknya menafsir karya arsitektur dengan bebas. Meski pemahamannya mungkin berbeda jauh dengan maksud arsitek. Dengan memahami secara bebas, karya arsitektur akan kian beragam dan tidak monoton” (hal. 58).

Pengalaman kerakyatan dipilih Rifai memang cenderung membuat gaya penuturan menjadi lempeng. Boleh dikatakan Rifai sangat percaya pada tafsir yang mendasari subjudul otoritatifnya. Tapi setidaknya paling kuat tampak dalam dua esai enerjik berjudul “Peradaban yang Kebingungan” dan “Wastu Citra: Melampaui Urusan Teknis Arsitektur”, Rifai tidak hanya bertungkus lumus dengan apa yang dilihat dan diruanginya. Masih tetap secara kerakyatan, ada upaya turut dalam polemik tata ruang dan lingkungan yang terjadi sejak masa 70-an ataupun jati diri arsitektur lokal ke-Nusantaraan yang mendapat momentumnya sejak masa kolonial serta begitu dipikirkan oleh Y.B. Mangunwijaya. 

Lantas, pengalaman meruangi “Imajinasi Ruang Rumah Mikro” semacam melengkapi peradaban ruang yang kebingungan di tengah bersikap pada alam. Rifai menjumpai rumah mikro atau rumi yang ditawarkan oleh Studio Akanoma rintisan arsitek muda Bandung, Yu Sing, yang tidak hanya menawarkan hunian alternatif bagi masyarakat perkotaan, tapi juga cara membangun sekaligus menghuni yang berusaha tidak melukai ekologi.

Percayalah, sebelum memasuki ruang-ruang dinamis rumi, kita turut merasakan suguhan paha kambing dan ayam berbumbu rahasia yang menyambut Rifai saat bertandang. Kembali pada cara kerakyatan, Rifai meruangi, “Detail ruangan rumi benar-benar diperhatikan. Aku tidak menganggap rumi seperti garasi yang gelap meski berukuran sama. Banyak laci dan ruang kecil untuk menyimpan barang. Kamar mandinya yang memanjang seluas 1×2.5 meter terasa sangat nyaman. Satu sisi untuk toilet. Sisi lainnya shower dan wastafel. Bersih dan sejuk. Jenis kamar mandi yang memungkinkanmu untuk melamun atau memikirkan persoalan hidup” (hal. 97).

Setiap yang ditangkap mata Rifai adalah upaya memenangkan raga dan emosionalitas meruang dengan merdeka dan merakyat. Memang, perkara memiliki rumah misalnya, tidak hanya dibangun dari impian atau rencana. Betapa Kita membutuhkan material untuk mewujudkan setiap elemen arsitektural mewujud. Rifai telah memulainya dengan mengaduk cara mempersepsikan dan alternatif-alternatif arsitektural bertaut dengan masalah finansial dan ekologi. 

Suatu sepele nan penting, Mengaduk Ruang sedikit mematahkan pakem bahwa buku bertema arsitektur harus mewah dan (sebaiknya) mahal. Begitu pun hunian kita di masa depan.

Continue Reading

Buku

Fahrenheit 451: Membakar Buku di Hari Buku

mm

Published

on

Oleh: Faris Ibrahim *)

Cerita bagus memikat sejak kalimat pertama. Penulis- penulis bagus membuat kita jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Mereka tidak akan menunggu sampai kalimat kedua, paragraf kedua, halaman kedua, apalagi bab kedua untuk bisa menarik perhatian kita. Itulah yang dilakukan Ray Bradbury saat menulis Fahrenheit 451. Ia memulai mahakaryanya itu dengan provokasi menarik sejak kalimat pertama: “membakar sungguh menyenangkan.” 


Sixty years after its originally publication, Ray Bradbury’s internationally acclaimed novel Fahrenheit 451 stands as a classic of world literature set in a bleak, dystopian future. Today its message has grown more relevant than ever before. Guy Montag is a fireman. His job is to destroy the most illegal of commodities, the printed book, along with the houses in which they are hidden. Montag never questions the destruction and ruin his actions produce, returning each day to his bland life and wife, Mildred, who spends all day with her television “family.” But when he meets an eccentric young neighbor, Clarisse, who introduces him to a past where people didn’t live in fear and to a present where one sees the world through the ideas in books instead of the mindless chatter of television, Montag begins to question everything he has ever known.

Menyenangkan apanya? Seasyik- asyiknya membakar kembang api, tetap saja akhirnya gemerlapnya menghilang. Membakar pastilah berujung: kehilangan. kehilangan tidak menyenangkan, kehilangan menyedihkan. Makanya kita sering mendengar orang tua kita bilang: jangan bakar- bakaran, jangan main- main dengan api. Orang tua, takut kehilangan kita, itu sebabnya mungkin mereka selalu berat hati meretui hubungan kita dengan api.

Mereka tahu hubungan kita dengannya kadangkala tanpa pemahaman. Yang tidak paham, biasanya terjeremus dalam petaka. Api terbiasa menyulut petaka. Itulah kenapa setan sering disimbolkan dengan api. Main api artinya main- main dengan setan: memancing kedatangan mala- petaka. Api memang bukan mainan, api hadir ke dunia untuk dikendalikan. Dengan api Aang menjadi Avatar, dengan api pula ia melukai lengan Katara, gadis yang paling ia cintai.

Lewat Fahrenheit 451, Bradbury ingin mengajak kita membayangkan itu: keadaan di mana api sudah tidak lagi terkendali, kemudian membakar sesuatu yang paling kita cintai. Setiap tahun kita merayakan Hari Buku karena semua orang mencintai buku, namun apa jadinya kalau kita hidup di zaman di mana semua orang membenci buku? itulah Fahrenheit 451. Tokoh utamanya, Montag, sangat menikmati pekerjaannya: “Senin bakar Millay, Rabu Whitman, Jum’at Faulkner.”

Sejak rumah- rumah sudah kebal dari kebakaran, mereka- mereka yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran terancam pengangguran. Rezim berpikir keras, akhirnya munculah sebuah alternatif profesi: petugas kebakaran. Tugas Montag bukan lagi memadamkan, tugasnya membakar. Ia dan teman- teman butuh sesuatu untuk dibakar, sesuatu yang dibenci oleh semua orang sehingga kehilangannya sangat diharap- harapkan. Tersebutlah satu benda bernama: buku.

“Buku adalah peluru,” kata kapten Beatty. Orang bisa saling membunuh gara- gara buku. Buku menyulut kemarahan. Kulit putih tidak pernah gembira saat membaca Uncle Tom’s Cabin, kulit hitam naik pitam saat membaca Little Black Sambo. Buku hanya memecah belah masyarakat. Dengan mempercayai maksim itu, petugas kebakaran sepenuh hati melakoni kerjaannya membakar buku. Kebencian masyarakatlah yang jadi pembenaran.

“Bakar sampai menjadi abu, lalu bakar lagi abunya,” kalimat itu bukan hanya slogan petugas kebakaran. Dari slogan itu kita bisa menjejak kebencian masyarakat terhadap buku yang bencinya sampai ke tulang- tulang. Buku adalah penjahat. “Kata- kata bodoh, kata- kata bodoh, yang jahat dan menyakiti,” begitu kata Mrs. Bowles yang menangis bukan karena keindahan puisi Dover Beach, puisi Matthew Arnold itu jahat karena membuatnya menangis saat mendengarnya.

Itulah yang kita temukan saat membaca paruh awal Fahrenheit 451. Seakan kita dituntun lewat premis- premis logis tokoh- tokohnya untuk mengangguk setuju berakhir membenci buku, menjadikannya penjahat, lantas membakarnya.Namun, beruntungnya memang, Bradbury tidak menceburkan kita begitu saja dalam kekeliruan, tanpa pelampung. Lewat Montag, si tokoh utama, kita diajak pelan- pelan bertobat pernah serampangan meyakini buku sebagai penjahat.

Buku tidaklah jahat, yang jahat kita saja manusia, Bradbury paham betul maksud dari perkataan itu. Usianya masih 15 tahun saat mendengar Hitler memanggang buku- buku di jalanan Berlin. Masa remajanya juga ia habiskan dengan menonton Stalin memenjarakan para pujangga, membakar buku- bukunya. Dan puncaknya adalah pada tahun 1950, saat Senator McCarthy menangkapi teman- teman penulisnya dengan dalih pemberantasan Komunisme.

Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan kecintaan melahap buku, hatinya terbakar menyaksikan pembakaran buku dari masa ke masa.  Alhasil dengan kumulasi pengalaman kelam itu, terkumpulah semua alasan untuknya menuliskan Fahrenheit 451, sebuah pledoi terhadap hak asasi buku yang selalu didakwa sebagai penjahat yang nyatanya selalu jadi korban kejahatan para penjahat. Buku dibabat demi melanggengkan kekuasaan, padahal ia hanyalah alat.

Sebagaimana motor yang bisa dipakai pergi sholat, motor juga bisa dipakai menyiram air keras ke orang sehabis sholat. Alat terggantung penggunanya, buku tergantung pembacanya. Kitalah yang salah baca, bukan salah buku. Fahrenheit 451 boleh jadi maksudnya bukan suhu terbakarnya buku, melainkan suhu panasnya kepala kita yang terbakar kebencian saat membaca. Kita membaca untuk mencari pembenaran, bukan kebenaran, di sanalah letak salahnya.

Jika ada seribu rujukan yang mengatakan Covid- 19 benar- benar tragedi, dan hanya satu yang bilang itu konspirasi, maka kita berapi- api menyomot yang satu itu sebagai pembenaran, benar- salah itu urusan belakangan. Saat kita pilih- pilih bacaan, pilih- pilih buku, pilih- pilih tontonan saat itulah sebenarnya kita mulai bersalah, mulai jadi penjahat. Jahat karena menutup seluruh kemungkinan yang benar jadi salah, yang salah jadi benar.

Terkadang dalam membaca kita tidak siap membaca hal- hal‒ yang seperti kata Faber: “memperlihatkan pori- pori di wajah kehidupan,” alias memperlihatkan kenyataan bahwa kita sedang meyakini sesuatu yang salah. Kesalahan terkadang seperti jerawat di sela pori- pori wajah kita. Kita tidak mau itu terlihat, kita berusaha mengaburkan wujudnya dengan bedak, menutup- nutupinya dengan plester luka, kita halalkan segala cara untuk menutupi kesalahan kita.

Ketika kita menutup- nutupi kesalahan, mengingkari kebenaran, sebenarnya itulah cara termudah untuk menyimpulkan kepribadian kita yang anti buku: anti pengetahuan. Setiap Hari Buku, rasanya kita semakin menjelema jadi sosok yang anti buku: kita masih saja memilah- milah pengetahuan, menonton siaran dari kanal pemuja pilihan politik kita saja, dan mencampakkan yang bukan. Bukankah itu sama saja dengan perilaku membakar buku: melenyapkan pengetahuan?


Ray Bradbury (1920–2012) was the author of more than three dozen books, including Fahrenheit 451The Martian ChroniclesThe Illustrated Man, and Something Wicked This Way Comes, as well as hundreds of short stories. He wrote for the theater, cinema, and TV, including the screenplay for John Huston’s Moby Dick and the Emmy Award–winning teleplay The Halloween Tree, and adapted for television sixty-five of his stories for The Ray Bradbury Theater. He was the recipient of the 2000 National Book Foundation’s Medal for Distinguished Contribution to American Letters, the 2007 Pulitzer Prize Special Citation, and numerous other honors.

Kita membayangkan Fahrenheit 451 begitu tak tergapai sebagai distopia, padahal peristiwanya sangat lekat dengan keseharian kita saat membaca. Kita dimanfaatkan oleh mereka- mereka yang tidak membaca namun berkuasa untuk membenci yang mereka benci, menyukai yang mereka sukai. Kita dikotak- kotakkan, demi kepentingan. Semakin kita jauh dari pengetahuan, semakin malas kita membaca, mereka semakin senang; jerawat kekuasaan semakin samar terlihat.

Ketika kekuasaan semakin terbit benderang, pengetahuan semakin menunduk terbenam. Istana akhirnya mendikte kampus. Presiden membakar buku- buku di halaman. Kita yang sadar hanya bisa berteriak- teriak di balik pagar sambil sesekali menggoyang- goyang. Ban- ban mengepul di jalanan berhari- hari terpanggang, sampai akhirnya kita benar- benar lapar dan kelelahan. Akhirnya kita membenarkan apa kata Faber sang kordinator lapangan: “sekarang, sudah terlambat.”

Keesokan harinya kita masih turun ke jalanan ramai- ramai, hanya saja kali ini bukan untuk membakar ban dan menggoyang- goyang pagar istana, hari ini kita ingin membersamai presiden membakar buku- buku yang tersisa. Kita sangsikan nasehat orang tua untuk tidak bakar- bakaran. Kita aminkan perkataan Montag: “membakar, sungguh menyenangkan.”Hari itu Hari Buku, untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memperingatinya dengan membakar buku. (*)

*) Penulis buku Diary Azhari, mahasiswa Akidah- Filsafat Universitas al- Azhar, Kairo.

Continue Reading

Buku

Pertanyaan Seorang Pembeli Buku yang Membaca

mm

Published

on

Oleh: F Daus AR *)

Apa manfaat mengunjungi tempat di masa lalu di mana kita dulu pernah akrab dengan sesuatu di sana. Jika rentang waktunya sudah terpaut jauh, bukankah kita tidak mendapati apa-apa. Karena, misalnya, sesuatu yang diakrabi sudah tidak ada dan tergantikan sesuatu yang baru.

Lalu, itu salah siapa. Bisakah kita mengajukan protes pada pemerintah karena telah memugar sejumlah bangunan lama di tempat itu. Kita marah karena pemerintah yang memegang otoritas sama sekali tidak memedulikan bangunan tua yang menjadi memori kenangan kita di masa lalu.

Berthold Brecht adalah seorang penyair dan penulis naskah drama yang berasal dari Jerman yang menuntut ilmu di bidang alam. Pada saat Nazi berkuasa di Jerman, Brecht melakukan perlawanan dalam hal pemikiran untuk menentang ideologi Nazi.

Tidakkah pemerintah memiliki data dan membaca populasi kunjungan manusia di tempat yang telah dipugar itu. Pemerintah kemudian berdalih kalau tugas bangunan lama sudah selesai untuk menautkan kenangan pada manusia masa lalu. Kini, manusia baru membutuhkan bangunan baru untuk fungsi yang sama.

Serupa dengan itu, menelusuri peristiwa lampau dengan kelakuan manusianya menyisakan beribu tanya. Apa fungsi kisah manusia di masa lalu bagi kehidupan manusia saat ini. Cukupkah dengan mengetahuinya saja. Jika iya, tidakkah itu terlampau interpretatif. Itu baru satu periode. Bagaimana dengan periode tempat kejadian yang terpisah laut, daratan dan juga kebudayaan melingkupinya. Apakah itu bukan hal asing.

Namun, yang jauh–juga asing itu sekaligus dekat sebagai perangkat manusia kini mempelajari kalau perilaku manusia di masa silam betapa saling berhubungan dan berulang. Replika manusia macam Martin Gair rasa-rasanya ada di sekitar kita. Sosok manusia bersifat bajingan bila mengikuti alur cerita di cerpen berjudul Bajingan Tengik. Laila Qadria selaku penerjemah tentu menyandarkan pada realitas sesuai konteks yang sudah menjadi resonansi fenomenologi pembaca Indonesia.

Cerpen ini masuk di tema Kisah-Kisah Bavaria 1920-1924. Pembagian ini dimaksudkan sebagai penanda tahun pembuatan. Bertolt Brecht belumlah berusia 30 tahun ketika menuliskan kisah di periode tahun itu. Ada tiga pembagian, kedua merentang dari 1924-1933 dan terakhir bertarikh 1933-1948. Satu kisah lagi dijadikan lampiran karena dianggap belum lengkap. Di bagian pengantar cukup jelas penjelasan mengenai riwayat kisah tersebut untuk menjelaskan posisi Bertol Brecht.

Bertol Brecht, utamanya sekali, lebih awal dikenal pembaca Indonesia sebagai dramawan dan penyair. Judul ulasan ini menyandarkan pada puisinya yang terkenal: Pertanyaan Seorang Buruh yang Membaca. Kumcer ini menghadirkan beragam kisah manusia di masa lalu selingkaran pergulatan hidup yang dijalani. Sebuah jarak yang begitu jauh.

Mengarungi kisah yang ditawarkan serasa mengeja jejak hidup Bertol Brecht sendiri. Terlibat dalam perang, anggota partai sosialis, hingga persentuhannya dengan gagasan kelas yang didapat dari pemikiran Karl Marx. Manusia-manusia yang dihadirkan bergerak seiring perjalanan waktu dan wawasannya melihat perubahan yang dialami orang Jerman dan manusia Eropa ketika hidup dalam pengasingan.

Kisah yang ditawarakan Bertol Brecht menempatkan tokohnya sebagai pusat. Latar peristiwa melingkari hidup si tokoh menjadi jalur latar topik yang dibahas.

“Dengan sangat gelisah Socrates teringat percakapannya semalam dengan seorang lelaki muda modis yang pernah dijumpainya di belakang layar. Lelaki muda itu seorang perwira pasukan berkuda.” (Hal. 209).

Petikan di atas dijumpai dalam cerpen Luka Socrates yang dijadikan gabungan judul dengan cerpen Bajingan Tengik.  Pemilihan judul edisi terjemahan bahasa Indonesia ini tentu memiliki maksud tertentu. Sangat jauh berbeda dari judul asli yang ditampilkan di halamam kredit titel: The Collected Short Stories of Bertolt Brecht.

Mengacu pada penjelasan di halaman pengantar yang juga bagian dari terjemahan edisi bahasa Inggrisnya, sudah dijelaskan runut oleh Marc Silbermann. Sebagai karya terjemahan, buku ini, menurut saya telah memenuhi pemenuhan informasi dasar yang ditujukan kepada sasaran pembaca terjemahan.

“Terjemahan itu sakral.” Ucap seorang tokoh dalam film Okja garapan Bong Joon-ho. Terkait karya terjemahan saya pernah mengalami hasil buruk sehingga belakang hari menjadi lup ketika ingin membaca karya terjemahan. Jika sedang di toko buku, sebisa mungkin saya menanyakan kepada penjualnya apakah ada contoh buku serupa yang bisa diperiksa halaman keterangan. Namun, sayang, hal demikian sulit didapat.

Ketika melihat buku ini di Fanpage Basabasi Store dengan harga pre order, mulanya ada sedikit keraguan. Siapa gerangan yang menerjemahkan. Ada baiknya nama penerjemah ditampilkan di sampul depan agar pembaca sudah punya sedikt garansi. Prosedur ini diterapkan oleh penerbit Mooi Pustaka yang didirikan novelis, Eka Kurniawan.

Brecht yang Lain

Membaca ke 38 cerpen Brect dalam kumcer ini, sebagaimana dituliskan Silbermann dalam pengantarnya memberikan resonansi berbeda bagi yang pernah menyuntuki drama dan puisinya. Sedangkan yang baru mengenal Brecht lewat cerpen bakal menjumpai sosok pendongeng hebat.


Judul: Bajingan Tengik, Luka Socrates, dan Kisah-Kisah Lain | Penulis: Bertolt Brecht | Penerjemah: Laila Qadria | Penerbit: Basabasi | Tahun: 2019 | Tebal: 326 hlm

Menurut saya, ungkapan Silbermaan tentu bukan bagian pemanis saja mengenalkan Brecht. Kisahnya linier dan bergerak maju dan menjadi panduan di cerpen berikutnya dengan prosedur yang sama.

Di cerpen yang menjadi lampiran, Kisah Petinju Samson-Korner, terlepas kalau kisah ini dianggap belum selesai, dijumpai lompatan peristiwa antar negara. Dari negara bagian Utah di Amerika Serikat hingga ke Capé Town di Afrika Selatan.

Jelajah Brech memberikan sinyal betapa laku manusia menemukan jejak di tempat yang lain. Ini mengingatkan kalau gerak manusia sepertinya sama dan berulang. Manusia di masa lampau dan kini tak jauh berbeda dalam bertindak.

Kisah demikian menjadi kesahihan tentang mengapa kisah lalu manusia sekali itu rekaman dalam fiksi akan selalu menemukan konteksnya di hari selanjutnya. Brecht yang meninggal 64 tahun silam telah mewariskan kisah kusut manusia.

Hampir semua tokoh Brecht adalah manusia biasa dengan kompleksitasnya masing-masing. Meski demikian, dengan kusutnya kisah itu di atas tirani moralitas. Brecht menawarkan kepolosan dan kejujuran.

Sejauh mengeja teks, sejauh itu kita berpindah tempat ke dunia Brecht di masa lalu. Ini kedengaran klise. Jika pengalaman itu personal, maka klise itu terlampau istimewa. Brecht tidak memberikan jawaban dari ragam pertanyaan di kepala pembaca. Ia hanya menghamparkan realitas. (*)

*) F Daus AR, narablog dan mengelola penerbitan indie, Rumah Saraung di Pangkep. Sulawesi Selatan.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending