Connect with us

Buku

Memasukkan Karya ke Dalam Zamannya

mm

Published

on

Oleh : Sabiq Carebesth*

Sejak kapan seorang di sebut sebagai seniman? Tentu saja setiap orang (dan setiap seniman) boleh turut menjawab sesuai dengan kadar horizon pengalamannya atas realitas diri dan realitas kehidupan-seni masing-masing. Demikian karenanya tulisan ini tidak berpretensi untuk memberikan jawaban baku atas pertanyaan itu. Karena toh memang tidak akan bisa—inspirasi—yang menjiwai kesenian hendak di institusikan dalam kebakuan.

Hal yang pasti layak kita renungkan salah satunya adalah gagasan Albert Camus tentang kesenian. Menurutnya, “seni bukanlah penolakan total bukan pula penerimaan total terhadap sesuatu seperti apa adanya.” Yang pertama dimaksud Camus sebagai rujukan pada pengertian “Nihilisme”, sedangkan yang kedua pada pengertian atas “realisme” kalau tidak boleh menyebut konsep “mimesis” Aristoteles yang acap kali diintrpretasi sebagai semata-mata “meniru yang di alam riil” tanpa menyertakan pengertian reintrepretasi dan konfrontasi seperti pernah dibicarakan Umar Kayam atau YB. Mangunwijaya.”Usaha meniru adalah usaha reintrepretasi, semakin kompleks akan semakin baik dalam usahanya memahami.”

Lantas apakah yang diinginkan Camus bagi seni (dan kebebasan) zaman kita? ”Tidak perlu menentukan, apakah seni harus lari dari realitas atau tunduk pada realitas, melainkan berapa dosis realitas yang harus di ambil karya seni sebagai pemberat agar tidak mengapung di antara awan-awan atau supaya tidak terseret di dasar bersama sepatu pemberat.” (Albert Camus, Perlawanan, Pemberontakan, Kematian. Hlm. 336) frasa itu lama dan tentu tentang perdebatan lama terkait apakah seni untuk seni atau seni untuk propaganda sebagaimana kita telah lama pula mendengarnya, tetapi terus aktual di zaman kita sekarang?

Dalam pernyataan Camus di atas terkandung dengan jelas paham absurditas sekaligus pemberontakan; suatu yang pada dasarnya berkelindan dalam ambiguitas Camus, bahwa seni sekaligus merupakan penolakan dan penerimaan, resepsi dan sekaligus paralogi (meminjam istilah Jean Francois Lyotard) imaji ideal manusia dengan realitas historis yang berlangsung dialekstis; dan inilah sebabnya mengapa seni harus merupakan aksi menjauh yang terus menerus diperbarui. Seniman senantiasa hidup dalam abiguitas; yang tidak mampu menegasikan yang riil, namun terus menerus mempertanyakan dalam aspek-aspeknya yang tidak pernah selesai.

Konskuensinya, gaya yang agung terletak antara seniman dan objeknya. Setiap seniman memecahkan masalah ini menurut hemat sendiri dan kemampuannya. Semakin besar seorang seniman memberontak melawan realitas dunia, semakin besar bobot realitas untuk mengimbangi pemberontakkan itu, sekaligus penindasannya yang berlangsung dengan konstan. Namun, bobot itu tidak pernah melumpuhkan kebutuhan soliter seniman. Itulah pandangan Camus atas persoalan relitas, imaji dan seni kita, kiranya masih pantas ditimbang zaman kita kini yang makin memberi batas-batas (politis) sekaligus kerap mengabaikan batas (moralitas).

 “Realitas Imaji dan Seni Kita”

Juru jagal yang senantiasa menjadi ancaman bagi dunia kasusatraan, atau yang Jean Paul Sarte menyebutnya “seni menulis”, dalam renungannya pada tahun 1947 mengatakan bahwa seni menulis terancam oleh dua bahaya: propaganda dan hiburan. “Seandainya dunia menulis terbawa menjadi propaganda belaka, atau hiburan semata, maka masyarakat akan kembali hidup tanpa ingatan bak lebah atau siput.” Tulisnya dalam situation de la literature (1947).

Daniele Sallanave, seorang guru sastra dan film Universitas Nanterre dalam esainya yang berjudul “Dunia Kita” memberikan suatu penalaran yang mempermudah kita memahami ancaman yang dimaksud Sarte. Menurut Daniele Sallanave, tentang seni propaganda, kita tahu banyak melalui rezim otoriter yang sepanjang abad ini, dengan tekad dan tekun mengekang semua jenis fiksi dan narasi, dan mengintimidasi para pengarang, atau menumpasnya begitu saja. Apa yang menimpa Pramodya Ananta Toer dan karyanya adalah contoh yang dekat dan nyata dalam hal ini.

Tentang hiburan semata, seni untuk seni, kita tahu lebih banyak ketimbang Sarte, atau Pram, sebabnya, zaman kita ini ditandai secara mencolok oleh suatu kemerosotan seni kearah budaya mengisi keisengan, kekenesan sindiran-sindiran dan hiburan, hampir seluruhnya kearah komoditas—dengan mempromosikan buku-buku pelarap (best seller) bikinan misalnya. Dengan kata lain, seni makin tunduk pada hukum konsumsi. Jika ada yang mengatakan dibandingkan dengan seni rupa dan perfilman, kasusatraan sedikit banyak berhasil lolos, saya kira itu lebih karena factor investasi (uang modal) dibidang sastra relative rendah, lain cerita jika mata modal melirik dunia literasi kita. Karena celakanya, dengan ironis, minimnya aliran modal dalam dunia literasi kita juga dibarengi dengan suatu ralitas minimnya apresiasi (kepedulian dan minat) orang terhadap sastra. Jumlah pembaca karya sastra (pembaca yang oleh NH. Dini disebut sebagai yang mau melesat kedalam dunia pengarang dan meninggalkan dunianya sendiri,) mandek atau bahkan menurun. Sementara produksi sastra yang bisa dikatakan mengalami peningkatan—di antara indikasi semakin banyak bermunculannya penulis—tetap menyimpan ironisme dengan kenyataan produksi sastra yang lahir masih cenderung mempergunakan jenis dan topik narasi yang sudah usang. Ujung-ujungnya,–hiburan massal—beralih ke film atau bahkan sinetron.

Pada akhir 70-an Mario Vargas Llosa menyebut fenomena tersebut sebagai pesta pora tanpa akhir, yaitu konfrontasi yang mandul antara kasusastraan hiper formalis yang berasal dari Noeveau Roman di satu pihak, dan kasusastraan yang bersifat pelampiasan, yang dipandu oleh kitsch, hiasan, kecantikan dan hiburan dipihak lain. Karena realitas itu, tepat rasanya kalimat Sarte sampai tahun terakhir ini: “kalau menjadi propaganda belaka atau hiburan semata, kasusastraan akan membiarkan manusia diserbu segala jenis penaklukan.” Mengerikan?

***

Pertanyaanya: di dalam dunia yang semakin seragam ini, bagaimana kasusastraan dapat menempatkan diri, berkembang dan memberi sumbangsih untuk mewujudkan kebebasan kita? Aplagi di zaman kita sekarang di mana dominasi mesin, kabel dan teknologi dalam dunia digital makin menguasai manusia tanpa manusia sendiri mampu merumuskan pemberontakan yang efektif?  Kalau demikian, jawaban atas pertanyaan itu mengandung konskuensi untuk menjawab pertanyaan sumbernya: apa itu Seni? Ya, jawabannya memang tidak sederhana. Apalagi di tengah kecenderungan zaman kita untuk menyederhanakan segala sesuatu—sekedar demi kepantasan dan dianggap logis—sekaligus cepat dan untuk terus terhubung?

Ketidaksederhanaan tentang apa itu seni disebabkan karena seniman ada bersama karya seninya, yang karya seni menjadi bukan apa-apa tanpa realitas dan tanpa seni. Realitas menjadi tidak siginifikan; itulah ambiguitas, konfrontasi dan paradoks bagi realitas, imaji dan seni kita—yang sekali lagi tidak sederhana apalagi untuk disederhanakan.

Seniman menjadi subjek dari realitas yang dipilihnya, juga seniman menjadi objek bagi realitas yang telah memilihnya. Itulah seni dalam dialektika historisnya yang terus menerus beserta aspek-aspeknya yang tidak pernah selesai—barangkali bisa kita nyatakan sebagai “harapan zaman”?

“Demikianlah dunia, namun bukan demikian: dunia bukan apa-apa dan dunia adalah segalanya.” Itulah jeritan ambigu yang berarti harapan dalam pengertian Alber Camus. “Seni bukanlah penolakan total bukan pula penerimaan total terhadap sesuatu seperti apa adanya. Seni sekaligus merupakan penolakan dan penerimaan. Dan inilah sebabnya mengapa seni harus merupakan aksi menjauh yang terus menerus diperbarui sementara seniman senantiasa hidup dalam kondisi ambiguitas, yang tidak mampu menegasikan yang riil, namun terus menerus mempertanyakannya dalam pemberontakan yang tak pernah selesai.” (Wawancara dalam majalah DEMIAN; th. 1942)

Andre Gide menarasikan hal serupa dengan baik, walau menurut Camus pernyataan Gide sering disalah pahami: ”Seni hidup dengan pengekangan-pengakangan dan mati kerena kebebasan.”

Yaitu pengekangan dari pembatasan yang dikenakan terhadap seni itu sendiri, dan bukan sebab seni bisa dikontrol. Hal itu mengandaikan bahwa jika seni tidak membatasi diri sendiri, seni akan menggunakan ocehan hegemoniknya dan menjadi budak bayang-bayang belaka. Alber Camus menilai, tidak akan ada karya seni yang magis dan jenius seperti dalam tragedy Yunani, Tolstoy atau Gabriel Garcia Marquez, jika seni di dasarkan pada kebencian dan penghinaan. Sebab seniman (dan karya seninya) memerdekakan dan bukan mengutuk. Bukankah demikian daya emansipatoris yang kita harapkan dari dunia seni kita? Karena tujuan seni bukanlah mengatur atau merajalela, melainkan yang utama adalah memahami. Memahami zaman kita yang makin riuh oleh begitu banyak kepentingan tak terkecuali tiap kali masyarakat kita terbelah menjelang Pemilu atau Pilkada?

Seorang pengarang Austria, Heimito Von Doderer, mengistilahkan usaha “memahami” itu sebagai “ilmu kehidupan”: menawarkan suatu model pemahaman hubungan, tindakan dan gairah manusia. Bukan untuk menentang melainkan mendampingi model-model ilmiah tentang pengetahuan dunia. Kasusastraan, menurut Louis Althuser memang tidak mampu melakukan tindakan perubahan total untuk suatu kondisi politik dari anganan kehidupan sejahtera, kasusatraan tidak perlu mengganti kepolitikan, tetapi kasusastraan menjadi pendorong dari usaha-usaha perbaikan. Fungsi dan keabsahannya yaitu membuka renungan yang tidak akan berakhir tentang makna kehadiran manusia-manusia konkrit.

Karena itulah, tepat rasanya di tengah gagasan “seni untuk seni” dan “seni komitmen” yang mengancam zaman kita seperti telah kita refleksikan di awal tulisan ini, kita mempertimbangkan apa yang oleh Alber Camus di istilahkan sebagai “Memasukkan karya kedalam zamannya”—dengan kata lain, kejadian yang terdekat, manusia-manusia konkrit yang hidup hari ini. Bahwa seniman tidak dapat berpaling dari kondisi zamannya, tidak pula kehilangan diri dalam zamannya. Jika dia berpaling dari zamannya, dia berbicara dalam ruang hampa. Apabila dia menggunakan zamannya sebagai objek, dia menegaskan eksistensinya sendiri sebagai subjek yang mungkin hegemonic dan efektif sebagai alat politik.

”….Cuma kenangan berdebu/ kita memberi arti/ atau diserahkan pada anak lahir sempat/ karena itu jangan mengerdip/ tatap dan penamu asah.”(Chairil Anwar: 1942) itulah sajak ajakan Chairil Anwar yang menjadi tonggak bagi semangat zaman modern kita.

Sudah berakhir kiranya zaman d imana seniman hidup sendirian berpangku tangan tercerabut dari realitas generasi zamannya. Sejak Rendra mengumandangkan sajaknya yang megah “untuk apa kesenian bila terasing dari masyarakatnya”? Mereka memang hidup, dan akhirnya mati sendirian seperti ketika mereka hidup.

Begitulah manifesto kesenian Camus yang dengan baik berusaha memahami zamannya, memberontak dan tidak tunduk dikalahkan oleh kondisi zamannya.”Kami para penulis abad ke-20 tidak akan pernah lagi sendirian. Kita hidup bersama zaman kita, kita harus tahu kita tidak pernah dapat lari dari kesengsaraan bersama yang menindas zaman kita. Dan satu-satunya justifikasi kita, jika ada justifikasi, ialah berbicara sejauh kita dapat, bagi mereka yang tidak dapat berbicara.” Atau dengan kata lain Camus ingin mengatakan, sebagaimana ia sampaikan dalam sambutan pada acara penerimaan hadiah Nobel bidang sastra untuknya tahun, 1957: bahwa seorang penulis saat ini tidak dapat melayani orang-orang yang membuat sejarah; ia harus melayani mereaka yang menjadi sasaran sejarah itu. Sesuatu frasa yang tentu saja telah begitu sering Anda dengar bukan?

Maka dari itu izinkanlah saya menutup tulisan ini dengan ajakan, untuk terus hidup dan untuk terus berkarya dalam zaman kita, sambil lalu mempertimbangkan untuk terlibat pada soal regenerasi, sebab mungkin kita akan hidup untuk seribu tahun lagi?

*Sabiq Carebesth, Freelance Writer. Author of  “Memoar Kehilangan” (2011). Chief  Editor Galeri Buku Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

**Tulisan ini sebelumnya tayang di Kolom Kompas.com. Ditayangkan kembali oleh Galeri Buku Jakarta (2016) sebagai upaya mengenang kelahiran Albert Camus 103 tahun lalu pada 7 November 1913 dan juga unutk Mas W.S Rendra 7 November 1935.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Fahrenheit 451: Membakar Buku di Hari Buku

mm

Published

on

Oleh: Faris Ibrahim *)

Cerita bagus memikat sejak kalimat pertama. Penulis- penulis bagus membuat kita jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Mereka tidak akan menunggu sampai kalimat kedua, paragraf kedua, halaman kedua, apalagi bab kedua untuk bisa menarik perhatian kita. Itulah yang dilakukan Ray Bradbury saat menulis Fahrenheit 451. Ia memulai mahakaryanya itu dengan provokasi menarik sejak kalimat pertama: “membakar sungguh menyenangkan.” 


Sixty years after its originally publication, Ray Bradbury’s internationally acclaimed novel Fahrenheit 451 stands as a classic of world literature set in a bleak, dystopian future. Today its message has grown more relevant than ever before. Guy Montag is a fireman. His job is to destroy the most illegal of commodities, the printed book, along with the houses in which they are hidden. Montag never questions the destruction and ruin his actions produce, returning each day to his bland life and wife, Mildred, who spends all day with her television “family.” But when he meets an eccentric young neighbor, Clarisse, who introduces him to a past where people didn’t live in fear and to a present where one sees the world through the ideas in books instead of the mindless chatter of television, Montag begins to question everything he has ever known.

Menyenangkan apanya? Seasyik- asyiknya membakar kembang api, tetap saja akhirnya gemerlapnya menghilang. Membakar pastilah berujung: kehilangan. kehilangan tidak menyenangkan, kehilangan menyedihkan. Makanya kita sering mendengar orang tua kita bilang: jangan bakar- bakaran, jangan main- main dengan api. Orang tua, takut kehilangan kita, itu sebabnya mungkin mereka selalu berat hati meretui hubungan kita dengan api.

Mereka tahu hubungan kita dengannya kadangkala tanpa pemahaman. Yang tidak paham, biasanya terjeremus dalam petaka. Api terbiasa menyulut petaka. Itulah kenapa setan sering disimbolkan dengan api. Main api artinya main- main dengan setan: memancing kedatangan mala- petaka. Api memang bukan mainan, api hadir ke dunia untuk dikendalikan. Dengan api Aang menjadi Avatar, dengan api pula ia melukai lengan Katara, gadis yang paling ia cintai.

Lewat Fahrenheit 451, Bradbury ingin mengajak kita membayangkan itu: keadaan di mana api sudah tidak lagi terkendali, kemudian membakar sesuatu yang paling kita cintai. Setiap tahun kita merayakan Hari Buku karena semua orang mencintai buku, namun apa jadinya kalau kita hidup di zaman di mana semua orang membenci buku? itulah Fahrenheit 451. Tokoh utamanya, Montag, sangat menikmati pekerjaannya: “Senin bakar Millay, Rabu Whitman, Jum’at Faulkner.”

Sejak rumah- rumah sudah kebal dari kebakaran, mereka- mereka yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran terancam pengangguran. Rezim berpikir keras, akhirnya munculah sebuah alternatif profesi: petugas kebakaran. Tugas Montag bukan lagi memadamkan, tugasnya membakar. Ia dan teman- teman butuh sesuatu untuk dibakar, sesuatu yang dibenci oleh semua orang sehingga kehilangannya sangat diharap- harapkan. Tersebutlah satu benda bernama: buku.

“Buku adalah peluru,” kata kapten Beatty. Orang bisa saling membunuh gara- gara buku. Buku menyulut kemarahan. Kulit putih tidak pernah gembira saat membaca Uncle Tom’s Cabin, kulit hitam naik pitam saat membaca Little Black Sambo. Buku hanya memecah belah masyarakat. Dengan mempercayai maksim itu, petugas kebakaran sepenuh hati melakoni kerjaannya membakar buku. Kebencian masyarakatlah yang jadi pembenaran.

“Bakar sampai menjadi abu, lalu bakar lagi abunya,” kalimat itu bukan hanya slogan petugas kebakaran. Dari slogan itu kita bisa menjejak kebencian masyarakat terhadap buku yang bencinya sampai ke tulang- tulang. Buku adalah penjahat. “Kata- kata bodoh, kata- kata bodoh, yang jahat dan menyakiti,” begitu kata Mrs. Bowles yang menangis bukan karena keindahan puisi Dover Beach, puisi Matthew Arnold itu jahat karena membuatnya menangis saat mendengarnya.

Itulah yang kita temukan saat membaca paruh awal Fahrenheit 451. Seakan kita dituntun lewat premis- premis logis tokoh- tokohnya untuk mengangguk setuju berakhir membenci buku, menjadikannya penjahat, lantas membakarnya.Namun, beruntungnya memang, Bradbury tidak menceburkan kita begitu saja dalam kekeliruan, tanpa pelampung. Lewat Montag, si tokoh utama, kita diajak pelan- pelan bertobat pernah serampangan meyakini buku sebagai penjahat.

Buku tidaklah jahat, yang jahat kita saja manusia, Bradbury paham betul maksud dari perkataan itu. Usianya masih 15 tahun saat mendengar Hitler memanggang buku- buku di jalanan Berlin. Masa remajanya juga ia habiskan dengan menonton Stalin memenjarakan para pujangga, membakar buku- bukunya. Dan puncaknya adalah pada tahun 1950, saat Senator McCarthy menangkapi teman- teman penulisnya dengan dalih pemberantasan Komunisme.

Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan kecintaan melahap buku, hatinya terbakar menyaksikan pembakaran buku dari masa ke masa.  Alhasil dengan kumulasi pengalaman kelam itu, terkumpulah semua alasan untuknya menuliskan Fahrenheit 451, sebuah pledoi terhadap hak asasi buku yang selalu didakwa sebagai penjahat yang nyatanya selalu jadi korban kejahatan para penjahat. Buku dibabat demi melanggengkan kekuasaan, padahal ia hanyalah alat.

Sebagaimana motor yang bisa dipakai pergi sholat, motor juga bisa dipakai menyiram air keras ke orang sehabis sholat. Alat terggantung penggunanya, buku tergantung pembacanya. Kitalah yang salah baca, bukan salah buku. Fahrenheit 451 boleh jadi maksudnya bukan suhu terbakarnya buku, melainkan suhu panasnya kepala kita yang terbakar kebencian saat membaca. Kita membaca untuk mencari pembenaran, bukan kebenaran, di sanalah letak salahnya.

Jika ada seribu rujukan yang mengatakan Covid- 19 benar- benar tragedi, dan hanya satu yang bilang itu konspirasi, maka kita berapi- api menyomot yang satu itu sebagai pembenaran, benar- salah itu urusan belakangan. Saat kita pilih- pilih bacaan, pilih- pilih buku, pilih- pilih tontonan saat itulah sebenarnya kita mulai bersalah, mulai jadi penjahat. Jahat karena menutup seluruh kemungkinan yang benar jadi salah, yang salah jadi benar.

Terkadang dalam membaca kita tidak siap membaca hal- hal‒ yang seperti kata Faber: “memperlihatkan pori- pori di wajah kehidupan,” alias memperlihatkan kenyataan bahwa kita sedang meyakini sesuatu yang salah. Kesalahan terkadang seperti jerawat di sela pori- pori wajah kita. Kita tidak mau itu terlihat, kita berusaha mengaburkan wujudnya dengan bedak, menutup- nutupinya dengan plester luka, kita halalkan segala cara untuk menutupi kesalahan kita.

Ketika kita menutup- nutupi kesalahan, mengingkari kebenaran, sebenarnya itulah cara termudah untuk menyimpulkan kepribadian kita yang anti buku: anti pengetahuan. Setiap Hari Buku, rasanya kita semakin menjelema jadi sosok yang anti buku: kita masih saja memilah- milah pengetahuan, menonton siaran dari kanal pemuja pilihan politik kita saja, dan mencampakkan yang bukan. Bukankah itu sama saja dengan perilaku membakar buku: melenyapkan pengetahuan?


Ray Bradbury (1920–2012) was the author of more than three dozen books, including Fahrenheit 451The Martian ChroniclesThe Illustrated Man, and Something Wicked This Way Comes, as well as hundreds of short stories. He wrote for the theater, cinema, and TV, including the screenplay for John Huston’s Moby Dick and the Emmy Award–winning teleplay The Halloween Tree, and adapted for television sixty-five of his stories for The Ray Bradbury Theater. He was the recipient of the 2000 National Book Foundation’s Medal for Distinguished Contribution to American Letters, the 2007 Pulitzer Prize Special Citation, and numerous other honors.

Kita membayangkan Fahrenheit 451 begitu tak tergapai sebagai distopia, padahal peristiwanya sangat lekat dengan keseharian kita saat membaca. Kita dimanfaatkan oleh mereka- mereka yang tidak membaca namun berkuasa untuk membenci yang mereka benci, menyukai yang mereka sukai. Kita dikotak- kotakkan, demi kepentingan. Semakin kita jauh dari pengetahuan, semakin malas kita membaca, mereka semakin senang; jerawat kekuasaan semakin samar terlihat.

Ketika kekuasaan semakin terbit benderang, pengetahuan semakin menunduk terbenam. Istana akhirnya mendikte kampus. Presiden membakar buku- buku di halaman. Kita yang sadar hanya bisa berteriak- teriak di balik pagar sambil sesekali menggoyang- goyang. Ban- ban mengepul di jalanan berhari- hari terpanggang, sampai akhirnya kita benar- benar lapar dan kelelahan. Akhirnya kita membenarkan apa kata Faber sang kordinator lapangan: “sekarang, sudah terlambat.”

Keesokan harinya kita masih turun ke jalanan ramai- ramai, hanya saja kali ini bukan untuk membakar ban dan menggoyang- goyang pagar istana, hari ini kita ingin membersamai presiden membakar buku- buku yang tersisa. Kita sangsikan nasehat orang tua untuk tidak bakar- bakaran. Kita aminkan perkataan Montag: “membakar, sungguh menyenangkan.”Hari itu Hari Buku, untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memperingatinya dengan membakar buku. (*)

*) Penulis buku Diary Azhari, mahasiswa Akidah- Filsafat Universitas al- Azhar, Kairo.

Continue Reading

Buku

Pertanyaan Seorang Pembeli Buku yang Membaca

mm

Published

on

Oleh: F Daus AR *)

Apa manfaat mengunjungi tempat di masa lalu di mana kita dulu pernah akrab dengan sesuatu di sana. Jika rentang waktunya sudah terpaut jauh, bukankah kita tidak mendapati apa-apa. Karena, misalnya, sesuatu yang diakrabi sudah tidak ada dan tergantikan sesuatu yang baru.

Lalu, itu salah siapa. Bisakah kita mengajukan protes pada pemerintah karena telah memugar sejumlah bangunan lama di tempat itu. Kita marah karena pemerintah yang memegang otoritas sama sekali tidak memedulikan bangunan tua yang menjadi memori kenangan kita di masa lalu.

Berthold Brecht adalah seorang penyair dan penulis naskah drama yang berasal dari Jerman yang menuntut ilmu di bidang alam. Pada saat Nazi berkuasa di Jerman, Brecht melakukan perlawanan dalam hal pemikiran untuk menentang ideologi Nazi.

Tidakkah pemerintah memiliki data dan membaca populasi kunjungan manusia di tempat yang telah dipugar itu. Pemerintah kemudian berdalih kalau tugas bangunan lama sudah selesai untuk menautkan kenangan pada manusia masa lalu. Kini, manusia baru membutuhkan bangunan baru untuk fungsi yang sama.

Serupa dengan itu, menelusuri peristiwa lampau dengan kelakuan manusianya menyisakan beribu tanya. Apa fungsi kisah manusia di masa lalu bagi kehidupan manusia saat ini. Cukupkah dengan mengetahuinya saja. Jika iya, tidakkah itu terlampau interpretatif. Itu baru satu periode. Bagaimana dengan periode tempat kejadian yang terpisah laut, daratan dan juga kebudayaan melingkupinya. Apakah itu bukan hal asing.

Namun, yang jauh–juga asing itu sekaligus dekat sebagai perangkat manusia kini mempelajari kalau perilaku manusia di masa silam betapa saling berhubungan dan berulang. Replika manusia macam Martin Gair rasa-rasanya ada di sekitar kita. Sosok manusia bersifat bajingan bila mengikuti alur cerita di cerpen berjudul Bajingan Tengik. Laila Qadria selaku penerjemah tentu menyandarkan pada realitas sesuai konteks yang sudah menjadi resonansi fenomenologi pembaca Indonesia.

Cerpen ini masuk di tema Kisah-Kisah Bavaria 1920-1924. Pembagian ini dimaksudkan sebagai penanda tahun pembuatan. Bertolt Brecht belumlah berusia 30 tahun ketika menuliskan kisah di periode tahun itu. Ada tiga pembagian, kedua merentang dari 1924-1933 dan terakhir bertarikh 1933-1948. Satu kisah lagi dijadikan lampiran karena dianggap belum lengkap. Di bagian pengantar cukup jelas penjelasan mengenai riwayat kisah tersebut untuk menjelaskan posisi Bertol Brecht.

Bertol Brecht, utamanya sekali, lebih awal dikenal pembaca Indonesia sebagai dramawan dan penyair. Judul ulasan ini menyandarkan pada puisinya yang terkenal: Pertanyaan Seorang Buruh yang Membaca. Kumcer ini menghadirkan beragam kisah manusia di masa lalu selingkaran pergulatan hidup yang dijalani. Sebuah jarak yang begitu jauh.

Mengarungi kisah yang ditawarkan serasa mengeja jejak hidup Bertol Brecht sendiri. Terlibat dalam perang, anggota partai sosialis, hingga persentuhannya dengan gagasan kelas yang didapat dari pemikiran Karl Marx. Manusia-manusia yang dihadirkan bergerak seiring perjalanan waktu dan wawasannya melihat perubahan yang dialami orang Jerman dan manusia Eropa ketika hidup dalam pengasingan.

Kisah yang ditawarakan Bertol Brecht menempatkan tokohnya sebagai pusat. Latar peristiwa melingkari hidup si tokoh menjadi jalur latar topik yang dibahas.

“Dengan sangat gelisah Socrates teringat percakapannya semalam dengan seorang lelaki muda modis yang pernah dijumpainya di belakang layar. Lelaki muda itu seorang perwira pasukan berkuda.” (Hal. 209).

Petikan di atas dijumpai dalam cerpen Luka Socrates yang dijadikan gabungan judul dengan cerpen Bajingan Tengik.  Pemilihan judul edisi terjemahan bahasa Indonesia ini tentu memiliki maksud tertentu. Sangat jauh berbeda dari judul asli yang ditampilkan di halamam kredit titel: The Collected Short Stories of Bertolt Brecht.

Mengacu pada penjelasan di halaman pengantar yang juga bagian dari terjemahan edisi bahasa Inggrisnya, sudah dijelaskan runut oleh Marc Silbermann. Sebagai karya terjemahan, buku ini, menurut saya telah memenuhi pemenuhan informasi dasar yang ditujukan kepada sasaran pembaca terjemahan.

“Terjemahan itu sakral.” Ucap seorang tokoh dalam film Okja garapan Bong Joon-ho. Terkait karya terjemahan saya pernah mengalami hasil buruk sehingga belakang hari menjadi lup ketika ingin membaca karya terjemahan. Jika sedang di toko buku, sebisa mungkin saya menanyakan kepada penjualnya apakah ada contoh buku serupa yang bisa diperiksa halaman keterangan. Namun, sayang, hal demikian sulit didapat.

Ketika melihat buku ini di Fanpage Basabasi Store dengan harga pre order, mulanya ada sedikit keraguan. Siapa gerangan yang menerjemahkan. Ada baiknya nama penerjemah ditampilkan di sampul depan agar pembaca sudah punya sedikt garansi. Prosedur ini diterapkan oleh penerbit Mooi Pustaka yang didirikan novelis, Eka Kurniawan.

Brecht yang Lain

Membaca ke 38 cerpen Brect dalam kumcer ini, sebagaimana dituliskan Silbermann dalam pengantarnya memberikan resonansi berbeda bagi yang pernah menyuntuki drama dan puisinya. Sedangkan yang baru mengenal Brecht lewat cerpen bakal menjumpai sosok pendongeng hebat.


Judul: Bajingan Tengik, Luka Socrates, dan Kisah-Kisah Lain | Penulis: Bertolt Brecht | Penerjemah: Laila Qadria | Penerbit: Basabasi | Tahun: 2019 | Tebal: 326 hlm

Menurut saya, ungkapan Silbermaan tentu bukan bagian pemanis saja mengenalkan Brecht. Kisahnya linier dan bergerak maju dan menjadi panduan di cerpen berikutnya dengan prosedur yang sama.

Di cerpen yang menjadi lampiran, Kisah Petinju Samson-Korner, terlepas kalau kisah ini dianggap belum selesai, dijumpai lompatan peristiwa antar negara. Dari negara bagian Utah di Amerika Serikat hingga ke Capé Town di Afrika Selatan.

Jelajah Brech memberikan sinyal betapa laku manusia menemukan jejak di tempat yang lain. Ini mengingatkan kalau gerak manusia sepertinya sama dan berulang. Manusia di masa lampau dan kini tak jauh berbeda dalam bertindak.

Kisah demikian menjadi kesahihan tentang mengapa kisah lalu manusia sekali itu rekaman dalam fiksi akan selalu menemukan konteksnya di hari selanjutnya. Brecht yang meninggal 64 tahun silam telah mewariskan kisah kusut manusia.

Hampir semua tokoh Brecht adalah manusia biasa dengan kompleksitasnya masing-masing. Meski demikian, dengan kusutnya kisah itu di atas tirani moralitas. Brecht menawarkan kepolosan dan kejujuran.

Sejauh mengeja teks, sejauh itu kita berpindah tempat ke dunia Brecht di masa lalu. Ini kedengaran klise. Jika pengalaman itu personal, maka klise itu terlampau istimewa. Brecht tidak memberikan jawaban dari ragam pertanyaan di kepala pembaca. Ia hanya menghamparkan realitas. (*)

*) F Daus AR, narablog dan mengelola penerbitan indie, Rumah Saraung di Pangkep. Sulawesi Selatan.

Continue Reading

Buku

Memanfaatkan Kesedihan Demi Menyelamatkan Bumi

mm

Published

on

Virdika Rizky Utama *)

“Buat apa kami sekolah dan mempersiapkan masa depan. Namun, pada masa depan, bumi yang kita tempati saat itu sudah tak bisa lagi untuk ditempati,” ujar Greta Thunberg, pada awal melakukan aksi mogok sekolah pada 2018 lalu.

Ucapan gadis berusia 17 tahun itu bukan tanpa dasar atau sekadar menakut-nakuti. Pasalnya, perubahan iklim sedang berlangsung. Sayangnya, masih banyak orang yang tak mau tahu dan peduli tentang masalah serius itu, kendati diakibatkan oleh aktivitas manusia.

Judul: The Future We Choose | Penulis: Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac
Penerbit: KNOPF | Tahun Terbit: Cetakan I, Maret 2020 | Tebal: xxvi+210 halaman, ISBN 978-0-525—65835-1
_
Climate change: it is arguably the most urgent and consequential issue humankind has ever faced. How we address it in the next thirty years will determine the kind of world we will live in and will bequeath to our children and to theirs.

In The Future We Choose, Christiana Figueres and Tom Rivett-Carnac–who led negotiations for the United Nations during the historic Paris Agreement of 2015–have written a cautionary but optimistic book about the world’s changing climate and the fate of humanity.

Pada 2019, sebuah survei yang dilakukan YouGov-Cambridge Globalism Project menunjukkan, Indonesia menjadi negara dengan masyarakat yang paling banyak tidak percaya bahwa perubahan iklim terjadi akibat ulah manusia. Indonesia berada di peringkat pertama dari 23 negara, dengan persentase 18 persen. Sementara, posisi kedua dan ketiga ditempati Arab Saudi (16 persen) dan Amerika Serikat (13 persen).

Padahal, dalam sebuah pertemuan Intergovernmental Panels on Climate Change (IPCC) 2015, para ilmuwan di seluruh dunia sepakat bahwa katastrofe pemanasan yang terjadi disebabkan oleh manusia (hlm. 6-7). Bahkan, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa 1 juta spesies tumbuhan dan hewan akan menghadapi kepunahan karena perilaku manusia.

Kemudian, para ilmuwan juga menyepakati untuk menahan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat celcius setiap tahunnya sebagai upaya menyelamatkan bumi. Namun pada kenyataannya, suhu global telah meningkat selama lebih dari seabad. Suhu melaju dalam beberapa tahun terakhir dan saat ini sudah menyentuh rekor tertinggi.

Laporan perubahan cuaca dan pemanasan global  PBB mengungkapkan, 2019 menjadi tahun ‘terpanas’ dalam periode lima tahun terakhir. Ini tentu menyebabkan dampak negatif, seperti mencairnya es di Kutub Utara akibat gelombang panas yang berkepanjangan, sehingga permukaan air laut menaik.

Hal itu makin diperparah dengan aktivitas manusia yang banyak melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, dengan membakar bahan bakar fosil untuk energi, pertanian, dan menghancurkan hutan secara berkepanjangan. Emisi karbon ini menyebabkan efek rumah kaca, memerangkap panas, dan membuat bumi memanas lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Konsekuensi logisnya, pola cuaca, iklim, dan lingkungan alami berubah lebih cepat daripada yang dapat diadaptasi oleh tumbuhan, satwa liar, dan manusia. Padahal saat ini, manusia juga sedang banyak menghadapi tantangan besar lainnya seperti kelaparan, wabah, dan peperangan. Hal itu semakin sulit untuk diatasi karena adanya perubahan iklim.

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Besikap tidak peduli, sedih meratapi keadaan, atau optimis dapat melakukan perubahan?

Dari berbagai pilihan itu, sudah sepatutnya manusia bersedih tapi juga optimis. Dua hal itu yang menjadi salah satu pembahasan yang menarik dalam buku yang ditulis oleh Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac ini.

Dua mantan penggagas Paris Agreement 2015 itu mengungkapkan, kesedihan bisa menjadi pengalaman yang kuat dan transformatif bagi sebagian orang. Rasa itu pun bisa menjadi alasan utama mengapa perubahan iklim terus berlanjut dan cenderung tak terkendali. Penulis bahkan tak malu untuk mengakui bahwa kita semua telah gagal untuk merasakan apa arti dan dampaknya perubahan iklim (hlm. xix).

Menurut mereka, penting bagi kita semua untuk memberi cukup waktu dan ruang bagi diri kita sendiri untuk merasakan kesedihan kita. Lalu menyatakan dan mengorganisasi kesedihan ini secara terbuka. Tujuannya adalah membangun kesadaran publik, saling terhubung, dan bertanggung jawab (hlm. 75).

Oleh sebab itu, penulis berpendapat, perubahan iklim seharusnya menjadi kepedulian utama manusia di seluruh dunia. Bahkan bagi mereka yang hanya peduli pada stabilitas ekonomi dan investasi—yang selama ini dianggap tak sejalan dengan penjagaan alam (hlm. xxv).

Penulis mencontohkan industri batu bara yang saat ini telah kehilangan nilai jualnya di sebagian besar dunia. Dari risetnya, bahan bakar ini tidak dapat lagi bersaing dengan operasi energi terbarukan yang lebih murah dan lebih bersih, seperti panas bumi atau tenaga surya. Secara global, banyak tambang batu bara dan pabrik batu bara ditutup. Ini harus jadi momentum peningkatan dalam gerakan divestasi batu bara, kemungkinan akan diikuti oleh divestasi dari bahan bakar fosil lainnya (hlm. 22-23).

Melalui contoh itu, penulis ingin mengungkapkan sudah seharusnya ada pergeseran paradigma di masyarakat—termasuk pebisnis. Ungkapan penulis ini berangkat dari adanya desakan kesedihan dari masyarakat atas semakin menipisnya cadangan energi tak terbarukan dan sumbangsih buruknya bagi alam.


CHRISTIANA FIGUERES: It is the intent, it is the decision, it is the willpower and frankly, the stubborn optimism of individuals that is going to get us onto a path of change.

Sebab, krisis yang kita alami saat ini membutuhkan perubahan total dalam pemikiran kita. Kita perlu memperbesar pendirian kita tentang diri kita sendiri dan hubungan kita dengan orang lain, serta hubungan kita dengan alam, agar bisa melanjutkan kehidupan manusia di bumi (hlm. 39).

Ketika pergeseran paradigma sedang terjadi atau bahkan belum terjadi sekalipun, kita tetap harus optimis bahwa kita bisa menghadapi masalah serius ini. Bukan apa-apa, dalam sejarah umat manusia, manusia mampu menghadapi berbagai masalah besar yang mengadang (hlm. 53).

Salah satu alat yang mampu membuat kita optimis adalah ilmu pengetahuan atau sains (hlm. 41). Bukan ilmu pengetahuan yang hanya menguntungkan praktik ekonomi yang eksploitatif warisan era industrialisasi (Fred Magdoff dan John Bellamy Foster: 2018).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Joseph Stiglitz (2019), kemajuan ekonomi pada abad ini dan seterusnya bertumpu pada riset, inovasi, dan menjaga keselerasan dengan alam. Tentu hal itu hanya dapat dilakukan jika adanya kolaborasi dari berbagai pihak, yakni pemerintah, pebisnis, ilmuwan, dan masyarakat.

Akan tetapi, Christiana dan Tom lebih menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat. Bukan mereka tak percaya pada pemerintah. Mereka justru mengakui pemerintah memiliki kekuatan yang besar untuk menggerakan seluruh elemen itu.

Namun, hal itu tergantung pada praktik politik dan ekonomi yang ada di suatu negara, yang lebih sering berselingkuh untuk mengeksploitasi alam. Kondisi itu membuat masyarakat hilang konsentrasi karena mengawasi politik dan ekonomi, daripada fokus pada agenda-agenda perubahan iklim (hlm. 152).

Buku yang terdiri dari tiga bab ini sangat penting untuk semua orang, terutama aktivis lingkungan hidup. Sebab, buku ini menyajikan beragam data yang lengkap dan memberikan perhitungan serta prediksi dari setiap langkah yang kita pilih untuk menjaga bumi.

Terlepas dari itu, sudah semestinya perubahan iklim harus menjadi perhatian bagi semua,  karena ini juga menyangkut keadilan antargenerasi. Sejatinya kita bukan mewarisi bumi untuk generasi mendatang, melainkan meminjam bumi yang kita tempati dari generasi mendatang. Oleh sebab itu, memastikan kehidupan yang layak bagi generasi masa depan adalah tanggung jawab moral kita yang mendalam kepada mereka. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending