Connect with us

Buku

Melihat Saras Dewi Mengurai Disekuilibrium

mm

Published

on

Buku terbaru karya Saras Dewi ini tidak bisa dipisahkan dari momentum perjuangan masyarakat Bali dalam mempertahankan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi. Pasca disahkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 51 Tahun 2014 tentang Perubahan Perpres Nomor 45 tahun 2011 yang mengatur kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan), pergerakan ribuan massa kontra reklamasi kian masif.

Bahkan, gelombang penolakan yang dimulai oleh penduduk lokal itu meluas dengan dukungan dari para aktivis lingkungan. Mereka satu suara menyatakan perubahan Perpres tersebut justru memicu kerusakan lingkungan berupa perluasan abrasi di selatan perairan Bali. Apalagi menurut hasil studi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) oleh Universitas Udayana, reklamasi memang tidak layak dilakukan.

Lahir dan dibesarkan di Pulau Dewata, Saras memiliki kecintaan mendalam terhadap tanah kelahirannya. Pada bagian pembuka buku setebal 172 halaman ini, Saras mengisahkan kegelisahannya atas pembangunan di Bali yang membabibuta. Kegelisahan tersebut bermula ketika ia duduk di bangku SD.

Kala itu, pemilik nama lengkap Luh Gede Saraswati Putri ini sangat mengagumi pohon ketapang yang tumbuh di sekolahnya. Saras kecil sering menghabiskan waktu luang di bawah rindangnya pohon ketapang. Namun menjelang kelulusan sekolah, ia mendengar kabar mengecewakan lantaran pohon ketapang tersebut akan ditebang untuk perluasan gedung sekolah. Dalam benaknya terbersit untuk protes, tetapi ia menyadari pikiran kecilnya belum sanggup membangun argumen yang kuat untuk menentang penebangan pohon ketapang kesayangannya.

Seiring dengan pesatnya pariswisata di Bali, Saras melihat maraknya eksploitasi sumber daya tanpa memerhatikan keselarasan alam. Atas nama pembangunan, atas nama kemewahan, juga atas nama kemajuan, alam liar berangsur-angsur digantikan beton-beton dan rimba gedung-gedung. Parahnya, ada pula pihak yang mengatasnamakan kesejahteraan sebagai pembenaran untuk merusak alam.

Pengalaman historis itulah yang mengusik naluri dosen sekaligus Kepala Program Studi (Kaprodi) Filsafat, Universitas Indonesia (UI) untuk melakukan perenungan filosofis demi tercapainya keseimbangan relasi antara alam dan manusia. Bagi pelantun tembang Lembayung Bali tersebut, buku terbitan Marjin Kiri ini juga merupakan argumen yang tertunda atas kegagalan menyelamatkan penebangan pohon ketapang saat ia masih berseragam putih merah.

Kendati berawal dari fenomena di Bali, buku sepanjang enam bab ini memaparkan pendekatan baru dalam menganalisis fenomena kerusakan alam secara universal. Saras menekankan pentingnya rekonstruksi pandangan manusia tentang alam sebagai tempat mereka berpijak. Hal tersebut penting, mengingat selama ini ekologi dan etika lingkungan tidak cukup gamblang dalam menjawab masalah kemerosotan lingkungan hidup.

Sejatinya, pada tataran etis sejumlah teori telah dikembangkan untuk menjelaskan relasi antara manusia dan alam. Namun, pemikiran etis tidak cukup tajam membedah dan memilah substansi permasalahan kerusakan alam (hlm 1). Sebagai contoh perspektif Aldo Leopold tentang Etika Tanah (1949) yang menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan manusia karena dikuasai oleh perilaku antroposentrik.

Leopold telah menawarkan suatu konsep konservasi untuk meminimalisasi kerusakan alam. Ia mengklaim bahwa konservasi adalah kondisi harmoni antara manusia dan alam (Cottingham, 1996: 452). Akan tetapi, konsep Leopold tentang konservasi tersebut menimbulkan persepsi dari pemikir lingkungan bahwa alam hanya sebatas properti. Alam dianggap tidak memiliki nilai intrinsik dan hanya relevan dalam kegunaannya bagi manusia. Pandangan alam sebagai properti itu, menyebabkan manusia tidak terikat kewajiban untuk merawat alam (hlm 4).

Dalam buku ini, Saras mengungkapkan bahwa rekonstruksi terhadap alam yang rusak tidak dapat diselesaikan lewat pandangan etis praktis saja. Tetapi harus melalui pemahaman ontologis tentang alam. Akan tetapi, ia menegaskan konsep ontologi yang dimaksud berbeda dengan pemahaman sebelumnya. Etika lingkungan memahami alam dan manusia sebagai ontologi yang berlainan, sedangkan Saras menawarkan ontologi baru yang menyorot secara spesifik relasi alam dan manusia. Maksudnya alam dan manusia dinilai sebagai substansi yang utuh, yaitu kehidupan.

Menggunakan metode fenomenologi lingkungan, Saras meneliti dan mengkritik relasi antara alam dan manusia secara radikal. Ia menggunakan fenomenologi Edmund Husserl (1970), Maurice Merleau-Ponty (1973), dan Martin Heidegger (1983) sebagai kerangka berpikirnya. Ketiga tokoh fenomenologi ini mengantarkan Saras pada kesimpulan bahwa telah terjadi kondisi disekuilibrium di alam semesta.

Disekuilibrium merupakan hilangnya kestabilan dari dua substansi yang ada, yang berbeda dan juga berlawanan tetapi saling berpengaruh. Kondisi tersebut terjadi karena manusia mengeksploitasi alam tanpa memikirkan keberlanjutan hidupnya. Walau alam memiliki kemampuan untuk memulihkan diri, tetapi lambat laun kondisi disekuilibrium yang terus menerus akan membawa manusia di ambang kehancuran.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mencapai kondisi yang ekuilibrium? di tengah derasnya arus industrialisasi, pembangunan kian tidak terbendung. Pemerintah yang diharapkan mampu berperan sebagai aktor untuk mencegah kerusakan lingkungan ternyata belum berbuat banyak. Jargon pembangunan sebagai pembasmi kemiskinan dilantangkan, namun justru rakyat miskin yang akhirnya disengsarakan. Seperti tertuang dalam buku Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi karya Emil Salim (2010). Emil mengkritik pola pembangunan yang merusak lingkungan dan memperparah kemiskinan.

Melalui buku Ekofenomenologi Saras meyakini, ketimpangan relasi antara manusia dan alam yang terjadi saat ini dapat dipulihkan apabila ada kesadaran ontologis relasi manusia dan dan alam yang lebih adil (hlm 146). Pada bagian penutup, Saras menyinggung gagasan penting Thomas More mengenai kaum Utopia. Dalam kuotasinya More menyebutkan, “kala alam memperlakukan diri manusia dengan baik dan lembut, mestinya mereka tidak berbuat kejam dan kasar terhadap diri mereka juga,” (hlm 85).

Senada dengan More, Heidegger juga menyatakan kehidupan yang baik tidak mungkin dilepas dari relasi seimbang dengan alam. Cara memperlakukan alam mencitrakan sikap sebagai manusia. Perlakuan yang adil tidak saja kewajiban manusia terhadap sesamanya, tetapi juga sensitivitas terhadap kelestarian alam (hlm 142). Kesadaran manusia sebagai makhluk yang sempurna tidak seharusnya menjerumuskan mereka pada keangkuhan. Sebab, alam dan manusia adalah satu kesatuan yang saling menopang adanya kehidupan di bumi.

Pada akhirnya, Ekofenomenologi memang sangat detil dalam membedah isu kerusakan lingkungan. Secara spesifik, Saras telah merangkai metode baru yakni fenomenologi lingkungan. Buku ini membawa perspektif baru bagi akademisi, swasta, pemerintah, dan masyarakat untuk mendiskusikan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Akan tetapi pada implementasinya, mencapai kondisi ekuilibrium tentu bak mencari satu jarum dalam tumpukan jerami. Tentu dibutuhkan perjuangan esktra keras untuk mengubah moralitas dan paradigma manusia supaya lebih mencintai alam semesta. (*)

Penulis           : Saras Dewi

Penerbit         : CV Marjin Kiri

Cetakan          : Pertama, Maret 2015

Tebal               : xiv + 172 halaman

ISBN               : 978-979-1260-42-8

Peresensi       : Fikri Angga Reksa
————————————
Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Budaya

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

mm

Published

on

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

Oleh : Kasmiati[1]

Judul buku : Orang Laut Bajak Laut Raja Laut | Penulis : Adrian B. Lapian

Penerbit : Komunitas Bambu (2009) | Tebal : xx + 284

Membaca sejarah laut merupakan usaha mengenali Indonesia yang lebih utuh. Sebuah usaha yang bersumber dari dalam untuk mengutamakan apa yang semestinya dari negri maritim, serupa Indonesia. Lautan. Lautan sebagai kekuatan, lautan sebagi rumah, lautan sebagai ruang hidup tempat bergantung sekian puluh juta penduduk negri. Namun sejarah ditulis secara timpang, hanya darat yang terus menerus dikisahkan. Sementara cerita tentang laut tidak banyak digarap Sejarawan. Padahal sebuah negri unsur utamanya adalah tanah dan air termaksud di dalamnya lautan. Dari sinilah titik pijak kegelisahan Adrian B. Lapian mengapa meneliti, menuliskan sejarah kawasan laut Sulawesi abad XIX yang meliputi tiga kata kunci utama yaitu Orang Laut, Bajak Laut dan Raja Laut. Abad ke ke XIX menjadi fokus penelitian karena pada masa ini proses perluasan kekuasaan maritim kolonial  dan di sisi lain terjadi kemunduran kekuasaan maritim bahari pribumi. Sehingga dianggap strategis untuk dikaji karena merupakan masa penentu bagi situasi abad XX dan sesudahnya (hal.2).

Buku ini dibuka dengan sebuah argumen yang mencoba mengantarkan kita bagaimana seharusnya memandang Indonesia yang merupakan negara kepulauan  (Archieplagic state), melalui penegasan makna kata archipelago yang berdasarkan kamus oxford dan Webster bahwa kata ini berasal dari bahasa Yunani, yakni arch (besar, utama) dan pelagos (laut). Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan sebagai “negara laut utama” yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya, (hal.2). Paradigma ini semestinya yang menjadi pandu kita dalam membangun Indonesia. Namun nasi telah menjadi bubur, Indonesia terlanjur dibangun dengan sudut pandang yang sangat berorientasi daratan maka laut ditimbun menjadi darat, sumber daya darat diperebutkan sampai berdarah-darah, lalu laut dipunggungi, hanya terus dikuras, tidak pernah diurus.

Segala tentang laut semisal musim dipelajari hanya sebagai penanda waktu kapan mesti berlayar  dan arah mana perlu dituju agar ombak tak menerkam dan ekspedisi berjalan sesuai rencana. Dalam sejarahnya  jalur-jalur laut dikaji agar selamat menempuh perjalanan menaklukkan kekuatan raja-raja setempat untuk menguasai sumberdaya alam bumi nusantara. Hal ini bisa terbaca misalnya dari usaha Portugis dan Spanyol pada abak ke XVI berlayar melalui utara pulau Sulawesi dan Kalimantan untuk menghindari laut Jawa dan Flores yang mana kekuasaan bahari setempat masih sangat kuat dan juga untuk meringkas jarak pelayaran hingga  200 leagues untuk sampai di kepulauan Maluku.

Sebagaimana kita tau bahwa kepulauan Maluku di masa lalu adalah tempat muasal kemewahan yang paling diincar dan diinginkan seluruh bangsa-bangsa, tempat rempah-rempah termahal—pala dan cengkih—tumbuh. Salah satu cerita tentang pentingnya pulau-pulau di Maluku  dapat kita baca melalui karya Milton (2015) mengenai Pulau Run tempat pala terbaik tumbuh pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Oleh Belanda, Pulau Run ditukar dengan Manhattan. Salah satu kota yang merupakan bagian dari New York ini diberikan kepada Inggris.  Roelofsz (2016) juga mencatat bahwa cengkeh yang berasal dari lima pulau di Maluku –Ternate, Tidore, Makian, Mortir, dan Bacan—juga sangat penting dalam perdagangan  di wilayah Indonesia. Penemuan rempah-rempah di timur Indonesia ini merupakan daya tarik utama, masuk dan mencokolnya kolonialisme. Korban utama dari kolonialisme yang hidup di Indonesia adalah pribumi termaksud di dalamnya raja laut, Orang Laut hingga bajak laut.

***

Kategori Orang Laut atau yang biasa disebut sebagai bajau atau orang bajo (dan beberapa penyebutan lainnya seperti Orang Sama, Samal merujuk pada mereka yang memang menjadikan lautan sebagai ruang utama dalam melaksanakan berbagai macam aktifitas. Orang Laut dalam hal ini dapat diartikan sebagai mereka yang masih hidup di perahu, berumah di lautan meskipun pada waktu tertentu kadang menepi ke pesisir tapi tidak tinggal secara permanen  atau selamnya pada suatu tempat tertentu, melainkan hanya sejenak. Seperti ketika melakukan pertukaran dalam usaha memenuhi beberapa kebutuhan hidup.Namun  pemerintah menganggap Orang Laut ini sebagai suku terasing sehingga ada upaya pendaratan/ mendaratkan Orang Laut agar lebih beradab. Namun abai melihat proses adaptasi terhadap alam dan lingkungan yang telah terbangun dalam budaya hidup Orang Laut selama ini.

Situasi ini menunjukkan ketidak berpihakan pemerintah terhadap minoritas, terhadap Orang Laut. Maka, jika hari-hari terakhir ini kita banyak menyaksikan pulau-pulau ditimbun atas naman pembangunan pada dasarnya bukan hal baru.

Meskipun tidak selalu karena kebijakan dari pemerintah namun proses pendaratan berlangsung sejak lama.  Peralihan dari laut ke darat telah dilaporkan sejak abad ke XVI. Tampaknya dalam proses menjadi modern budaya bahari banyak ditinggal. Hal ini berkait kelindang dengan kolonialisme yang masuk dan tumbuh di wilayah kuasa kerajaan nusantara.

Pelayaran, Penaklukkan dan Proses Pendaratan

Orang Laut salah satu bagian penting dari kehidupan laut yang seringkali disalah mengerti. Banyak sekali naskah-naskah awal yang menceritakan tentang Orang Laut yang dianggap pemalu. Tapi lebih sering dicitrakan sebagai orang yang kasar dan kejam. Maka Orang Laut diasosiasikan sebagai bajak laut. Padahal Orang Laut dan bajak laut merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun terkadang ada kerjasama di antara keduanya untuk melawan musuh bersama atau juga kadang Orang Laut ditaklukan oleh bajak laut sehingga mereka terpaksa bertindak sebagai perompak. Dalam kasus lain wilayah teritorial Orang Laut terkadang diganggu, memaksa mereka melakukan perlawanan atau bertindak kasar.

Meski demikian catatan Leonard Andaya menunjukkan sisi lain Orang Laut yang digambarkan sebagai kelompok yang sangat loyal dan setia pada Sultan dan mempunyai peranan penting dalam kerajaan Johor dan Melaka. Di dalam struktur kekuasaan kerajaan, kelompok orang laut merupakan salah satu komponen vital, sesudah sultan, para menteri dan orang kaya. Karena loyalitas Orang Laut sangat kuat dan hangat terhadap Sultan mereka merupakan kekuatan yang sangat diandalkan, baik terhadap ancaman dari luar maupun terhadap ronrongan dari dalam, misalnya terhadap meningkatnya kekuatan Orang Kaya, (hal.104). Ini menjukkan kekuatan Orang Laut merupakan benteng pertahanan Sultan untuk menjaga keseimbangan kerajaan dari berbagai bentuk serangan.

Ketika Portugis menduduki Melaka pada tahun 1511 dan memaksa Sultan berpindah hingga ke Johor dan Riau yang kemudian diserangnya juga pada tahun 1526 maka Orang Laut lah yang menjemput Sultan untuk mengungsi. Dan pada awal abad ke XIX ketika kerajan Riau-Johor dalam masalah pergantian tahta, Raffles telah berhasil menduduki Singapura. Maka, kehadiran Inggris yang berambisi “menguasai gelombang” tidak lagi memungkinkan Johor untuk berperan sebagai negara maritim, (hal.107) dari sinilah kemudian perhatian kerajan terhadap laut beralih ke daratan, sehingga peranan orang laut menjadi tidak penting dan relevan dalam pembangunan kerajaan atau negri.

Kehadiran bangsa-bangsa asing dan penaklukanya terhadap raja-raja nusantara menyebabkan proses daratanisasi terjadi. Karena jalur-jalur laut telah dikuasai sehingga para raja terpaksa meninggalkan laut. Proses daratanisasi kemudian menyajarah dan terus belangsung hingga hari ini, dimana korban pertamanya adalah orang laut yang terpaksa menyingkir dari pusat-pusat kekuasaan dan pemerintahan.  Berlayar jauh ke pulau-pulau kecil, terpencil—menuju timur—.

Maka bukan hal yang mengherangkan ketika saat ini kita menemukan lebih banyak orang-orang laut yang bermukim di wilayah timur Indonesia.

***

Dulu, pelayaran merupakan satu-satunya jalan masuk para kolonialis untuk tiba di pulau-pulau rempah. Jalur darat dan udara masih sangat tidak memungkinkan. Hasrat menaklukkan para kolonialis ini sangat besar, bukan hanya di darat tetapi sejak berlayar di lautan. Penaklukkan di laut terkadang melalui jalan kekerasan atau perompakan sebagaimana yang dilakukan oleh para bajak laut tapi jika yang melakukan semisal VOC (perusahan dagang milik belanda) dalam kecamata barat dilaporkan sebagai “korsario” yaitu tindakan kekerasan di lautan namun di restui negara. Padahal tindakan seperti VOC—sebelum menjadi kekuatan politik di Asia— merupakan tindakan bajak laut “pirate”.

Pirate atau Bajak Laut adalah orang yang melakukan kekerasan di laut tanpa mendapat wewenang dari pemerintah untuk melakukan tindakan itu. Dengan kata lain perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan suatu kelompok tertentu. Dalam hal ini melanggar hukum negara dan dianggap sebagai seorang kriminal (hal.117).

Maka Bajak Laut dalam istilah bahasa Indoensia yang mengandung pengertia kata “ pirata dan korsario” tidak terlalu menyimpang, meksipun pada kasus tertentu dapat dibuat pembedaan yang tegas (hal. 118).  Cerita tentang bajak laut ini merupakan berita yang sudah tertulis lama seperti yang tertuan dalam catatan perjalanan  Faxian (Fah-Hsien) yang dalam perjalanannya pulang dari India ke negri Cina (413-414) mengatakan bahwa “laut [Asia Tenggara]  penuh dengan bajak laut, barang siapa bertemu mereka akan menemui ajalnya, (hal.122).

Adrian B. Lapian juga membuat kesimpulan bahwa selama abad ke V sampai dengan abad ke XIV berita mengenai bajak laut terpusat di daerah selat malaka. Namun keadaan berubah semenjak abad ke XV. Terlebih dengan munculnya kapal Portugis dan Spanyol pada abad ke XVI yang bertujuan mengambil rempah-rempah dari Maluku, maka berita tentang pelayaran di wilayah bagian timur  mulai banyak ditemukan dengan demikian muncul pula berita tentang kegiatan bajak laut di sana, (hal.125).

Sialnya para bajak laut yang bermunculan ini seringkali diidentikkan sebagi orang laut padahal belum ada bukti nyata yang dapat mendukung argumen jikalau setiap orang laut adalah bajak laut. Pandangan tentang bajak laut ini memang seringkali subjektif seperti yang disimpulkan sendiri oleh A.B Lapian bahwa pandangan yang dimiliki umum tentang bajak laut didasarkan atas pandangan kekuatan yang menumpasnya.  Dan untuk kasus Asia Tenggara sumber tentang bajak laut berasal dari masa ketika kekuatan yang menumpasnya—kekuatan kolonial—sedang giat mengadakan ‘pemberantasan’ fenomena yang disebut bajak laut, (hal.159).

Tindakan yang dicap bajak laut terkadang merupakan bentuk perlawanan terhadap kekuatan kolonial seperti serangan “Moro” di Filipina pada abad XVI dan XVII pada dasarnya pernyataan perang terhadap Spanyol. Namun dalam kepustakaan barat hal ini dianggap serangan bajak laut atau apa yang dilakukan orang Tobelo pada akhir abad ke XVIII dianggap sebagai kegiatan bajak laut. Padahal ini bukan tindakan murni untuk merompak tapi  Orang Tobelo yang merupakan pengikut dari Sultan Nuku tengah melakukan perlawanan terhadap penguasa di Tidore dan VOC yang berada di Ternate. Perlawanan-perlawanan seperti ini tentu menyusahkan Belanda—dalam hal ini VOC—. Amal, (2010) mencatat bahwa pada dekade kedua menjelang 1800, VOC mengalami kemorosotan laba yang sangat drastis. Hal ini terutama disebabkan  pengeluaran biaya peperangan yang demikian besar.

Raja Laut dan Penguasaan Laut

Selain bajak laut, raja laut merupakan satu terminologi penting dalam kebudayan maritim. Raja laut dalam kawasan laut Sualwesi merupakan tokoh yang memimpin kekuatan laut kerajaan. Raja laut merupakan kekuatan laut yang resmi. Namun pada awal abad ke XIX kekuatan laut asing masuk ke wilayah perairan Asia. Hasrat untuk berkuasa yang didukung oleh tekhnologi yang lebih maju sangat  membantu mereka dalam menyingkirkan keuasaan raja laut sebelumnya.

Takluknya raja-raja laut nusantara menyebabkan kekuasaan asing menguat.  Maka, ketika memasuki abad XX perairan Asia Tenggara telah dikuasai kekuatan asing itu (hal. 173).  Pembagian wilayah kekuasaan kemudian hanya dilakukan sesama penguasa asing tersebut tanpa melibatkan lagi raja-raja nusantara yang semakin lemah. Pada abad ke XIX raja laut terkuat adalah Inggris yang paling menguasai tekhnologi kemudian disebut sebagai Adi-Raja Laut bersama Spanyol dan Belanda. Namun di akhir abad ke XIX kekuatan Spanyol jatuh ke tangan Amerika dan pada  abad ke XX menjadi Adi Raja Laut.

Situasi penguasaan dan pembagi-bagian kekuasaan yang terjadi di masa lampau oleh negara-negara maju yang lebih menguasai tekhnologi masih sangat terasa. Jika dulu kolonialisme  maka hari ini imperialisme yang wataknya sama saja untuk menguras sumber daya yang ada di Indonesia.

Daftar Pustaka

Amal, MA. 2010.Kepulauan Rempah-Rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

Milton, G. 2015. Pulau Run Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Tangerang Selatan: Alvabet

Roelofsz, MAPM. 2016. Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara Sejarah Perniagaan 1500-1630. Depok: Komunitas Bambu

 

[1] Perempuan, penikmat sejarah yang saat ini mengelolah Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PESKP)  Fakultas Ekonomi Univ.Muhammadiyah Kendari

Continue Reading

Buku

Mengenang (Kekonyolan) Masa Lampau

mm

Published

on

Juni 1989, film Dead Poets Society mulai ditayangkan. Film drama-komedi yang dibintangi Robin Williams itu mendapat impresi tinggi dari para pemirsa, terutama dari kalangan mahasiswa. Mereka kemudian terdorong untuk bikin persekongkolan rahasia masing-masing. Salah satu persekongkolan itu, sekalipun tidak rahasia-rahasia banget, muncul di Jogja. Persekongkolan cukup beranggota enam orang: Puthut, Bagor, Proton, Kunthet, Babe, dan salah satu kawan mereka yang telah almarhum. Mereka menamai diri sebagai Jackpot Society, pelesetan dari judul film Robin Williams itu. Bedanya, jika di Dead Poets Society sastra menjadi kesenangan kolektif, dalam Jackpot Society tidak ada kesenangan hakiki selain berjudi.

Jackpot Society dikisahkan secara apik dan jenaka oleh Puthut EA melalui novel Para Bajingan yang Menyenangkan (2016). Novel diracik dengan pengisahan lugas nan santai, serta melimpah banyolan Jawa Mataraman. Kita bisa dengan mudah menjumpai banyolan khas Basiyo di sekujur novel itu. Para Bajingan yang Menyenangkan hanya terdiri dari dua bagian plus epilog. Bagian pertama bertokoh utama salah satu sahabat terbaik Puthut. Saking melankolisnya persahabatan mereka, Puthut sampai-sampai tak berani mendatangi kuburannya (hlm. 1). Ia hanya bisa mengirim Al-Fatihah setiap kali mengingat sahabatnya itu. Dalam novel pun, Puthut tak sanggup menulis namanya, dan tokoh utama kita ini cukup disebut Almarhum.

 

Judul : Para Bajingan yang Menyenangkan Penulis : Puthut EA Penerbit : Buku Mojok Cetakan : Pertama, Desember 2016 Tebal : vi + 178 hlm.; 13 x 20 cm ISBN : 978-602-1318-44-7

Meski bagian pertama diakhiri kenangan akan kematian Almarhum, cara Puthut mengenalkan tokohnya ini terasa menyenangkan. Misalnya, saat menceritakan kesialan Almarhum gara-gara percaya dukun. Suatu ketika Almarhum mengajak anggota Jackpot Society pergi ke dukun sebelum mulai berjudi, supaya mendapat kemenangan. Namun, sekembalinya dari dukun dan memulai perjudian, mereka kalah. “Dukun sialan!” umpat Almarhum. Esoknya kawan Puthut itu mengajak datang ke dukun yang sama lagi. Jelas kawan-kawan mengira Almarhum mau bikin perhitungan pada dukun yang salah ramal itu. Ternyata, Almarhum malah hendak tanya meja judi berapa yang hoki. Dukun bilang meja 68 dan Almarhum percaya, padahal meja judinya hanya ada 40. “Dukun sialan!”

Di bagian kedua novel, tokoh utamanya berganti Bagor. Puthut mengisah tentang perubahan Bagor setelah dua puluh tahun. Bagor tak pernah menjalankan ibadah puasa sejak lama. Terakhir kali Bagor berpuasa adalah ketika diungsikan keluarga ke Pondok Pesantren Termas di Pacitan, gara-gara jadi buron peristiwa Kudatuli 1996. Ramadan kemarin Bagor menunaikan puasa, kabar ini tentu menggembirakan (sekaligus aneh) bagi keluarga dan kawan-kawannya. Dikisahkan Bagor mengundang kedua orangtuanya berbuka puasa bersama. Kedua orangtua Bagor jelas bersedia, dan hadir dengan penuh haru. Mereka makan dengan penuh kebahagiaan, sambil membatin, “akhirnya anakku berpuasa lagi.” Namun, mereka mendadak tegang saat Bagor dengan polos berkata, “Itu babi panggang paling enak se-mBintaro, Buk…. Ayo Pak, Buk, tambah lagi!”

Bagian kedua novel Para Bajingan yang Menyenangkan bergerak menjauh dari hal-ihwal perjudian. Secara sederhana, bagian pertama novel adalah pengisahan Jackpot Society, dan bagian berikutnya berisi kisah-kisah pasca-Jackpot Society. Puthut ibarat menziarahi kenangan masa mudanya yang konyol. Ruang bagi kenangan itu adalah judi dan Jackpot Society. Kita seakan dipendengarkan dua lagu Rhoma Irama, Darah Muda dan Judi sekaligus. Gaya penziarahan Puthut hampir sama coraknya dengan Misbach Yusa Biran dalam Keajaiban di Pasar Senen (1971). Penziarahan paling menyenangkan adalah mengenang kisah-kisah jenaka dan menyenangkan. Dengan cara itulah, kita akan terselamatkan dari beban masa lalu, kecewa, dan air mata. []

*) Udji Kayang Aditya Supriyanto, Pembaca sastra dan pengelola Bukulah!

Continue Reading

Buku

Menggeledah Misteri Kekerasan

mm

Published

on

JUDUL BUKU : Kambing Hitam Teori René Girard

PENULIS : Sindhunata

PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

TAHUN TERBIT : 1, 2006 TEBAL : xiii + 422 halaman

Oleh: Ahmad Jauhari*

“(Yang jahat) mampu mengulang dirinya, secara tak terampuni, tanpa penyesalan dan janji,” demikian kata Derrida. Ungkapan Derrida tersebut hendak menunjukkan bahwa kekerasan sungguh selalu menyelimuti hidup kita. Kesemuanya terjaring dalam selimut kekerasan. Ia bisa menghampiri siapa saja. Manusia yang lembut dan ramah, termasuk perempuan yang cantik, cerdas dan sopan, sekejab bisa berubah garang, geram, dan brutal, begitu kekerasan menghampiri mereka.

Lewat terang buku Sindhunata ini, berjudul Kambing Hitam teori René Girard, kita diajak mengelupasi kekerasan mulai dari kulit terluar sampai biji misterinya yang terdalam. Girard membuat banyak orang terperangah. Teorinya seakan adalah ramalan yang kebenarannya belakangan ini terbukti ketika dunia dilanda kekerasan tiada habisnya. Lewat analisis sastra, budaya, dan agama, Girard menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi menghancurkan dirinya sendiri dan kultur adalah bangunan yang amat rapuh.

René Girard adalah intelektual masyhur kebangsaan Prancis. Ia lahir persis di Hari Natal 1923. Ilmuwan besar abad ke-20 ini mengupas kekerasan dari perspektif korban. Dalam arti karyanya bukan melulu kajian teoritis, melainkan juga rasa empatik terhadap runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Dalam buku ini, Sindhunata membagi teori René Girard kedalam tiga fase perkembangan. Pertama, teori hasrat mimesis yang terkait dengan bidang sastra. Teori ini didasarkan Girard berkat penelitiannya atas lima novelis besar dunia, yakni Miguel de Cervantes, Gustave Flaubert, Marcel Proust, Sthendhal, dan Fyodor Dostojevsky. Teori ini termaktub dalam Deceit, Desire, and the Novel. Self and Other in Literary Structure (1965).

Kedua, teori kambing hitam, yang terkait dengan bidang antropologi budaya. Teori ini bersumber dari penelusuran Girard atas mitos, ritus pengorbanan agama arkais dan tragedi besar Yunani di zaman antik. Penelitian ini disarikan dalam buku Violence and the Sacred (1972). Ketiga, telaah Kitab Suci dan teologi, khususnya interpretasi terhadap kristianitas. Kajian ini dibukukan dalam Things Hidden since the Foundation of the World (1987).

Gagasan Girard menyangkut kekerasan dapat dipadatkan demikian: Setiap hasrat mengandung ruas konflik oleh sebab berwatak mimesis. Wajah mimesis yang memperbudak kebebasan manusia, berbentuk kebencian dan kecemburuan, menghadirkan rivalitas.

Rivalitas memanggil-manggil eksistensi kekerasan. Kekerasan yang mulai bangkit membentuk mekanisme kambing hitam. Inilah yang disebut Girard sebagai hasrat segitiga, yang berarti suatu sistem metafisik, oleh sebab ia merupakan struktur dasar pengalaman manusia, kemudian menjelma dalam pengalaman konkret, yang satu sama lain itu sebenarnya seragam.

Teori kambing hitam René Girard, menurut Sindhunata, memberi nuansa baru hubungan agama dan kekerasan. Kata Girard, Religions is always against violence. Bangunan kultur masyarakat, termasuk juga agama yang dianggap barang suci sekalipun, meneguk juga darah kekerasan. Kekerasan dalam agama itu paling nampak ketika menjalankan ritus korbannya, entah dengan persembahan manusia maupun binatang. Praktek kekerasan yang dibungkus ritus seolah dan justru dianggap puncak kesucian. Untuk itu ia tak habis-habisnya menelanjangi agama. Maka Girard sampai pada kesimpulan yang cukup mengejutkan: Violence is the heart and secret soul of the sacred (hlm. 205).

Kultur, bahkan juga agama, adalah institusi manusia yang dihantui rivalitas dan kekerasan yang bermuara pada pembunuhan kambing hitam. Girard menelanjangi muslihat dan tata karma kultural maupun religius yang kelihatannya amat luhur. Ia meramalkan ‘akan datang saat di mana agama tidak mampu lagi meredam kekerasan’. Ramalan itu seolah sungguh-sungguh terjadi. Kekerasan meledak bagai letusan gunung berapi. Inilah yang terjadi pada tragedi berdarah 1965 maupun peristiwa 11 September 2001.

Titik lengah agama dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola kekerasan (the economic violence) membuat dunia tak kunjung padam akan bara api krisis korbani. Krisis korbani tak selalu lahir berkat lunturnya ritual keagamaan, melainkan juga disebabkan oleh tipisnya garis batas antara kekerasan ‘suci’ dan kekerasan jahat. Agama mestinya berfungsi, kata Girard, “untuk menunjukkan kekerasan, dan menjaga supaya kekerasan itu tidak liar” (hlm. 211).

Di zaman globalisasi, agama mengalami kegagalan menjalankan fungsinya sebagai economic of violence. Hal itu muncul, kata Girard, oleh sebab krisis diferensiasi. Budaya, komunitas dan etnik akan terancam rusak akibat mengerutnya diferensiasi dalam proses interaksi antar manusia. Mimetis dan rivalitas cenderung membawa pada situasi yang seragam. Kondisi tanpa ada diferensiasi memungkinkan pendulum menuju muara kekerasan.

Demistifikasi

Selangkah lebih maju, Sindhunata mengurai kekerasan justru memungkinkan demistifikasi. Sebab, sambil mengutip Girard, demistifikasi diri sesungguhnya adalah suatu pertobatan. Bahwa, an experience of demystification, if radical enough, is very close to an experience of conversion. I think this has been the case with a number of great writers (hlm xi). Pengalaman pertobatan itu, diperoleh Girard, saat menulis karyanya yang pertama, Deceit, Desire, and the Novel, Self and Other in Literary Structure (London, 1965). Di buku tersebut, Girard menjelajahi novel-novel karya penulis terkenal: Miguel de Cervantes, Guatave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, termasuk juga Fyodor Mikhailovitsy Dostojevsky.

Girard sendiri bahkan terkaget-kaget, bagaimana novelis-novelis klasik itu mampu menuliskan pergulatan tokoh-tokohnya melawan segala kesia-siaan diri, sampai akhirnya mereka dapat meninggalkan segala kehampaan itu, kemudian menerima dirinya, apa adanya.

Marcel Proust, misalnya dalam karyanya tentang The Past Recaptured, tentang kisah kenangan dengan tokohnya Mme de la Fayette, melantunkan “kematian adalah keharusan. Ia melihat keharusan itu sudah sangat mendekat. Karena itu, ia terbiasa untuk menarik diri dan sakitnya yang lama membuat penarikan diri itu kebiasaan… Ia melihat nafsu dan kegiatan duniawi dengan penglihatan seperti penglihatan orang-orang yang bervisi lebih dalam dan luas” (hlm. 83). Visi yang dalam dan luas itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang secara literer lahir dari kematian.

Kisah pertobatan yang serupa itu muncul lagi dengan sangat terang-terangan dalam karya Dostojevsky tentang Notes from Underground. Novel itu membisikkan suara manusia yang telah menarik diri dari lingkungan masyarakat setelah mengorbankan cinta dan bakatnya. Karya ini pada dasarnya menyoroti relung-relung kejiwaan secara filosofis ini, menampilkan tokoh seorang pemuda yang peka, yang mampu merasakan penolakan dari lingkungan kehidupannya, padahal ia merasa lebih unggul dalam intelegensia. Karena kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai, ia pun mengobarkan cita-citanya dengan tujuan despotisme. Kemudian mengalami keterlemparan dalam hidup, lalu melakukan demistifikasi diri.

Bagi Girard, pertobatan para tokoh itu sesungguhnya adalah pengalaman diri para novelis sendiri. Mereka mengalami suatu kejatuhan diri, di mana mereka dipaksa untuk meninggalklan segala anggapan dirinya selama ini. Kejatuhan memang menyakitkan. Tapi justru dengan kejatuhan itulah mereka memperoleh prespektif baru. Mereka tak terdorong lagi untuk membuat pembenaran diri, dan tak menggoreskan lagi kisah yang bercerita tentang dikotomi hitam dan putih dari tokoh-tokohnya. Tidak ada yang baik di atas yang jelek.

Para novelis itu bahkan merasakan, yang jelek, yang sia-sia, yang artifisial, yang suka meniru itu bukanlah orang lain atau pun tokoh yang mereka ciptakan, melainkan diri mereka sendiri. Terhadap segala kesia-siaan itu, para novelis ingin bersimpuh dan bertobat. Girard mengatakan, “So the career of the great novelist is dependent upon a conversion and even if it is not made completely explicit, there are symbolic allusions to it at the end of the novel. These allusions are at least implicitly religious” (xii).

Pengalaman para novelis ternyata telah mampu membimbing Girard untuk bersimpuh pada an intellectual-literary conversion. Sehingga, pada hari Kamis Putih, Girard mengikuti ibadat yang telah lama ditinggalkannya. Lalu dengan suara lirik berkata, “So on Holy Thursday I went to Mass after going to confession. I took the Eucharist. I felt that God liberated me just in time for me to have a real Easter experience, a death and resurrection experience.” (hlm. xii).

Buah karya Sindhunata ini ditulis ke dalam lima bagian, yang ditutup dengan 2 ekskursus. Pertama, mengupas dan mengkritisi Kultur Batara Kala yang diperlihatkan bahwa dalam mitos Jawa, mimesis, sudah mulai tampak dalam teogoni (kisah mengenai asal-usul dewa), rivalitas, dalam kisah Sugriwa & Subali, kemudian kambing hitam dalam nasib anak-anak Sukerta. Ekskursus kedua, bertutur mengenai Kesedihan Putri Cina. Orang-orang Cina yang selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi pergolakan atau gesekan sosial.

Di akhir buku ini, Sindhunata menggoreskan esai yang cukup menyentuh mengenai wajah Cina yang selalu menjadi “cermin kecurigaan dan kebencian”. Karya ini merupakan refleksi Sindhunata sebagai Cina peranakan untuk membebaskan diri dari jeratan karma kambing hitam. Ia juga membisikkan pada kita untuk juga menyapa manusia secara personal, agar mendemistifikasi diri, sebab demistifikasi sesungguhnya adalah suatu pertobatan. (*)

____________________________

*) Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Sembari Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

Continue Reading

Classic Prose

Trending