© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Melihat Para Jurnalis Menghasilkan Berita dalam Film Spotlight

“The world suffers a lot. Not because of the violence of bad people. But because of the silence of good people”

Quote Napoleon Bonaparte tersebut mirip alur cerita yang digunakan film Spotlight. Film besutan sutradara Tom McCarty pada 2015. Spotlight telah meraih banyak penghargaan, seperti Best Feature Film Independent Spirit Awards, Tom McCarthy sendiri meraih best dierector dan Josh Singer sebagai The best scripwriter. Spotlight juga meraih penghargaan Oscar dalam kategori The Best Picture , dan The Best Original Screen Play. Dan yang lebih penting, film ini sangat disukai dan menandai kemanangan jurnalisme !

Spotlight bersetting di Boston, Massachussets pada tahun 2001. Bercerita tentang sebuah tim investigasi dari The Boston Globe pimpinan Walter Robinson atau Robby (Michael Keaton) dan beranggotakan 3 orang , Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), Matty Carroll (Brian d’Arcy James) dan melaporkan hasil investigasinya kepada Ben Bradlee Jr (John Slattery).

Cerita sesungguhnya dimulai setelah editor lama the Boston Globe, Stewart diganti Marty Baron (Liev Schreiber), Baron berencana untuk menguak kasus mengenai pencabulan yang dilakukan oleh Pastur di Boston dan mengesampingkan kasus yang lain terlebih dahulu.

Segera kita dapat melihat bagaimana sebuah berita atau produk jurnalistik dihasilkan. Untuk menghasilkan laporan yang baik, butuh waktu yang lama untuk menginvestigasi, hingga beberapa bulan bahkan satu tahun lebih. Oleh Marty Baron, dia ingin koran The Boston Globe mendapatkan arti penting bagi pembacanya.

Selain itu, Marty Baron bekerja keras memastikan penerbitan berita The Boston Globe tidak. Dia ingin berita yang dihasilkan merupakan hasil investigasi mendalam sampai ke sistemnya, serta melakukan konfirmasi tiap berita yang telah didapat. Sehingga celah untuk mengalahkan berita yang dihasilkan akan menjadi lebih kecil dan kemungkinan menang dalam persaingan dengan surat kabar lain menjadi tinggi. Dan yang lebih penting, menghadirkan kebenaran sebagaimana tugas jurnalisme untuk pembacanya.

Mitchell Garabedian (Stanley Tucci), pengacara pastur telah menyadari bahwa Kardinal Law telah mengetahui mengenai persoalan pencabulan yang dilakukan oleh Pastur 15 tahun yang lalu namun tidak berbuat apa-apa. Oleh karena itu, Baron menginginkan tim Spotlight menuntut agar dokumen kasus Geoghan dibuka untuk umum.

Secara teknis, hal ini sama saja dengan menuntut gereja katolik. Selain Garabedian, Tim Spotlight juga diharuskan untuk melakukan investigasi dengan Eric Maclaish (Billy Crudup), pengacara untuk korban pencabulan.

Eric Maclaish menyatakan bahwa kasus ini sangatlah rumit. Gereja sangat kuat. Terdapat 80 gugatan terhadap kasus Geoghan. UU membatasi hanya sampai 3 tahun dan sebagian besar korban tidak melanjutkan sampai lama setelah itu. Karena mereka masih anak-anak. Ada rasa bersalah, malu, dan sebagian besar anak-anak ini berasal dari lingkungan yang keras, tak ada yang mau mengakui hal ini, jadi waktumu terbatas dan bahkan jika berusaha memperdebatkan, UU Kekebalan Organisasi Sosial membatasi ganti rugi sampai 20,000 dolar. Jadi upaya terbaik yang bisa dilakukan adalah membawa kasus ini di media. Seperti yang telah dilakukan Maclaish dalam kasus Porter. Namun, sebagian besar korban tak mau ditampilkan di TV.

Spotlight memberi kita pelajaran, bahwa kebisuan terhadap sesuatu yang tidak benar, merupakan suatu kejahatan. Bagaimana tidak, Mitchell Garabedian yang menggugat gereja bahwa ada 84 korban pencabulan, membuatnya dilaporkan gereja kepada Dewan Pengawas Pengacara Massachusetts tiga kali dan selalu diawasi secara ketat. Bahkan pihak gereja ingin memecat Garabedian.

Hingga terbukti bahwa terdapat 90 orang pastur yang berbuat pedofil di Boston. Seharusnya dengan angka seperti itu orang-orang tahu bahwa ada sesuatu yang salah di lingkungan mereka. Namun mereka adalah orang yang “baik” yang memilih untuk diam karena hal itu adalah “job desc” dari pekerjaannya.

Mereka akan berusaha membungkam siapapun yang bicara. Dan aku yakin mereka akan segera mendatangi kau dan timmu. – Richard

Jalan cerita Spotlight cukup rumit namun tidak membosankan, karena banyak kejutan dan detail cerita yang memenuhi kriteria logika investigasi baik dalam dunia jurnalisme mau pun criminal, membuat film ini menarik sampai akhir. Selain itu, film ini didukung scoring film yang cocok dan pas dalam tiap adegannya, membuat kita yang sedang menonton ikut larut dalam setiap konflik yang terjadi. Anda belum nonton? Cobalah menonton film ini di akhir pekan. Lagi pula kita bisa belajar bagaimana jurnalisme bekerja, tentang bagaimana kebenaran memang tidak sama dengan hoax yang ditangani dan diproduksi sembarangan dan tanpa dedikasi. (*)

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT