Connect with us

Milenia

Melestarikan Cagar Budaya, Melestarikan Kemanusiaan

mm

Published

on

Suatu hari, Mandra tampak duduk di sebuah beranda rumah milik keluarga Sabeni. Raut wajahnya murung; kepalanya ditekuk ke bawah; sesekali matanya menerawang kosong. Rupanya, Mandra sedang memikirkan uang hasil narik oplet yang pada hari itu nilainya jauh dari target storan. Ya,  setiap harinya Mandra selalu memberikan uang hasil narik oplet kepada Mpok Lela yang merupakan kakak kandungnya dan juga istri dari almarhum Babe Sabeni.

Mandra pun berpikir bagaimana caranya agar uang hasil narik oplet bisa memenuhi target storan. Akhirnya, terbesit di pikirannya untuk menjual sebuah radio butut miliknya yang merupakan kenang-kenangan dari mantan kekasihnya yang bernama Munaroh. Baru saja Mandra hendak melangkah untuk menjual radio itu, Mas Karyo—yang  saat itu duduk di dekatnya—bersicepat  menghalangi langkahnya.

“Eh. eh mau kemana?” ujar Mas Karyo.

“Gue mau jual aja tuh radio gue. Gue gak enak ame  Mpok Lela kalau sampai storan oplet kurang,” jawab Mandra.

“Lho lho lho, mbok yo apa-apa itu dipikirkan dulu, toh. Radio itu, kan, satu-satunya kenang-kenangan dari  kekasihmu dulu, si Munaroh. Mosok iya mau kamu jual gitu aja. Apa kamu tega ngebuang satu-satunya kenangan dari si Munaroh dulu?” timpal Mas Karyo.

Mandra yang dulu sangat menyayangi Munaroh itu,  tampak tersentak dengan peringatan dari Mas Karyo. Sejenak ia terdiam; menekurkan kepalanya.

“Iye juga, ya…” jawab Mandra datar.

“Nah, kan, apa aku bilang, makannya jangan buru-buru. Segala sesuatu itu harus dipikirkan dulu matang-matang,” tambah Mas Karyo.

***

Agaknya kita sudah bisa menebak, cuplikan adegan di atas diambil dari sebuah sinetron yang melegenda di Indonesia, yang tayang menghiasi layar kaca pada medio 1990an bernama Si Doel Anak Sekolahan. Adegan itu saya tuliskan karena menyiratkan sebuah pesan yang berkaitan dengan hal yang akan saya bahas: mengenai betapa pentingnya kita untuk menghargai dan melestarikan cagar budaya—baik itu benda maupun bangunan warisan sejarah.

Hal ini menjadi penting, terlebih di tengah suasana maraknya isu pembangunan infrastruktur yang mengakibatkan penggusuran di berbagai tempat di Indonesia seperti saat ini.  Karena, dalam penggusuran, yang menjadi korban bukan saja para warga yang huniannya hancur diterjang ekskavator, melainkan juga berbagai bangunan bersejarah yang ada di kawasan penggusuran itu pun turut menjadi korban.

Kita bisa mengambil contoh nyata dari kasus yang terjadi baru-baru ini terjadi di Kota Depok. Di sana, sebuah bangunan bersejarah bernama Rumah Cimanggis terancam tergusur akibat pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia. Parahnya lagi, salah seorang panitia dari proyek pembangunan itu mengaku bahwa aparat pemerintah setempat tidak memberikan informasi terkait nilai historis rumah tersebut.

Padahal dahulu, bangunan tersebut merupakan rumah singgah salah satu Gubernur VOC bernama Petrus Albertus van Der Parra. Hingga saat ini pun, Rumah Cimanggis sebenarnya masih menjadi tujuan study tour pelajar dan masyarakat umum  yang ingin mengetahui sejarahnya.

Selain kasus Rumah Cimanggis, pada 2016 pun situs bersejarah ada yang  telah  menjadi korban penggusuran. Adalah sebuah benteng bernama Bastion Zeeburg yang rusak pada saat Pemprov DKI Jakarta melakukan penggusuran di kawasan Pasar Ikan, Jakarta Utara.

Tembok Bastion Zeeburg tersebut padahal merupakan sejarah  awal benteng Kota Batavia. Akibat terjangan buldoser, situs bersejarah tersebut harus mengalami kerusakan.

Penghancuran atau pengrusakan situs bersejarah, jelas merupakan tindakan melawan hukum. Karena kelestariannya dilindungi oleh Undang-undang. Seperti oleh UU No. 11 tahun 2010 mengenai Cagar Budaya,

Tapi, terlepas dari hal itu, memang apa perlunya kita melestarikan benda atau bangunan bersejarah?

Kita bisa belajar dari kisah Mandra yang saya paparkan di awal tulisan, ketika ia mengurungkan niatnya untuk  menjual radio pemberian dari mantan kekasihnya.  Radio tersebut adalah satu-satunya benda yang dapat dijadikan Mandra untuk mengawetkan kenangan kisah cintanya dulu bersama Munaroh.

Bagi Mandra yang dahulu melakoni dan merasakan langsung setiap denyut momen bersama Munaroh ditemani radio itu, tentunya kehadiran radio tersebut menjadi sangat penting baginya. Radio tersebut menjadi benda yang memiliki nilai historis  bagi Mandra. Menjual radio itu, sama saja dengan menjual dan menghilangkan segenap kenangannya bersama Munaroh.

Jadi, melestarikan bangunan bersejarah itu sesederhana kita menyimpan dan merawat baik-baik barang kenang-kenangan dari orang terkasih, atau dari mereka yang pernah hadir di hidup kita dengan membawa kesan yang sangat mendalam.

Ditambah lagi, seperti kata Andrew Jones dalam bukunya  Memory and Material Culture (2007), “Human memory is fragile and finite.” Ingatan manusia itu mudah hancur dan terbatas. Kendati manusia bisa melakukan proses mengingat, akan tetapi proses mengingat itu kerap kali tidak sempurna dalam memutar ulang setiap kejadian atau kisah di masa lalunya.

Oleh karena itu, manusia selalu butuh suatu alat  yang dapat membantu mereka agar dapat mengingat dengan lebih baik. Benda  dan  bangunan bersejarah adalah salah dua dari alat itu.

Bangunan bersejarah sangat berperan dalam menjaga memori kolektif sebuah masyarakat.  Bahkan bisa dibilang bangunan bersejarah merupakan sebentuk monumen ingatan untuk banyak orang.  Menghancurkannya, sama saja dengan merampas dan merenggut kenangan dan ingatan banyak orang. Ketika ingatan dari banyak orang sudah terenggut, maka kita akan sangat mungkin menjadi pribadi yang tak pernah bisa belajar dari masa lalu sebagai salah satu usaha kita  dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

Selain berperan dalam menjaga ingatan bersama, bangunan memiliki nilai sejarah pun bisa berperan lebih jauh dari itu; salah satunya dapat menjadi media yang membantu seseorang menemukan kembali sisi kemanusiaannya.

Sebagaimana di awal saya membuka tulisan ini dengan penggalan kisah, saya pun akan menutup tulisan ini dengan fragmen kisah dari cerita yang lain; yakni dari fragmen yang termaktub dalam novel The Plague karya Albert Camus. Penggalan kisah ini, akan menunjukkan bagaimana sebuah bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi seseorang, mampu membangkitkan kembali nurani kemanusiaan orang tersebut.

Tersebutlah seorang pria bernama Gonzales yang tinggal di kota Oran. Awalnya Gonzales berkarir sebagai pesepakbola. Namun semua berubah ketika wabah sampar menerjang kota tersebut. Akibat dari serangan wabah itu, banyak warga Oran yang harus meregang nyawa.

Gonzales pun mulai meninggalkan pekerjaannya sebagai pesepakbola. Ia kali ini menjadi seorang pedagang gelap yang sibuk memperkaya diri sedangkan orang-orang di sekitarnya banyak yang menderita akibat wabah.

Kala wabah semakin sulit terbendung, dikisahkan pemerintah setempat memutuskan untuk mengisolasi para penderita sampar di sebuah stadion sepak bola di Kota Oran. Ketika tahu bahwa para penderita sampar diungsikan ke stadion—tempat yang sangat memiliki nilai historis bagi Gonzales semasa dirinya menjadi pesepakbola—ia pun mulai tergerak untuk membantu mereka. Ia lalu memutuskan untuk turut menjadi sukarelawan di tempat pengungsian itu.

Ketika ia tiba di stadion, memulai tugasnya sebagai sukarelawan, ia kembali teringat dengan masa-masanya sebagai pesepakbola dulu. Ia menengadahkan kepalanya ke atas sambil mengenang bahwa pada jam-jam itu biasanya ia sedang berganti pakaian di ruang ganti; mendengarkan riuh rendah nyanyian suporter; menghirup aroma jeruk yang dibagikan ketika jeda pertandingan.

Dari pasase itu, kita bisa melihat bagaimana stadion—bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi Gonzales—dapat membantu dirinya menemukan kembali sisi kemanusiaannya. Gonzales yang awalnya hanya ongkang-ongkang kaki menikmati kekayaannya dari hasil berdagang gelap, akhirnya mampu meninggalkan profesi itu dan memulai tugas barunya sebagai sukarelawan ketika tahu bahwa para korban penderita sampar diungsikan ke stadion. Di titik itulah Gonzales menemukan kembali sisi humanisnya.

Apa yang dialami oleh Gonzales, sangat mungkin dapat terjadi di kehidupan nyata. Namun, bagaimana hal itu bisa terjadi kalau benda-benda dan bangunan bersejarah itu sudah terlebih dulu dihancurkan atau digusur. (*)

 

*) Rio Rizky Pangestu: Aktif menulis esai mengenai sosial, budaya, dan sepak bola di beberapa media daring, peminat sejarah. Saat ini tinggal di Bandung. Twitter: @riorpangestu

Continue Reading
Advertisement

Milenia

Memaknai Nilai Ekofeminisme Dalam Gerakan Kendeng

mm

Published

on

Pengarusutamaan ekofeminisme kian banyak dikaji, baik oleh akademisi maupun mahasiswa di Indonesia, degradasi lingkungan serta konflik ekologi yang terjadi hari ini menjadi latar belakang munculannya kajian-kajian terkait ekofeminisme. Term ekofeminisme kerap digunakan sebagai pisau analisa dalam menilik permasalahan ekologi yang terjadi di Indonesia. Ekofeminisme pertama kali dipopulerkan oleh seorang Feminis Perancis Françoise d’Eaubonne pada tahun 1970-an melalui bukunya yang berjudul Le Feminisme ou La Mort (Feminisme atau Mati), ia menyatukan dua konsep dasar, yaitu ekologi dan feminisme. Term ekofeminisme ini melihat hubungan antara penindasan terhadap alam juga terjadi pada perempuan.

Studi mengenai ekofeminisme sangat melekat dengan pengandaian bahwa perempuan dan alam merupakan objek yang layak dieksploitasi. Dalam tulisan ini saya ingin melihat ekofeminisme melalui kacamata yang sedikit berbeda. Adalah Gun Retno seorang petani dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang juga merupakan bagian dari masyarakat adat sedulur sikep yang menolak pendirian pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Pada umumnya masyarakat sikep memiliki cara hidup yang berfokus pada ajaran Saminisme. Ajaran ini dicetuskan oleh leluhurnya Samin Surosentiko, seorang petani pada masa kolonial Belanda yang menolak untuk membayar pajak karena sistem yang mengopresi dan mengeksploitasi petani pada saat itu. Ajaran saminisme memiliki prisip mulia seperti belajar hidup dari alam. Hal tersebutlah yang kemudian mengakar pada keseharian masyarakat sedulur sikep, yang memilih untuk hidup melalui bertani. Yang unik dari kehidupan masyarakat sikep adalah, mereka tidak mengikuti sekolah formal, tidak berdagang, dan lebih banyak berguru pada alam.


Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam
by Saras Dewi
 
Gerakan ekologi dan etika lingkungan telah dengan tepat menunjukkan berbagai kerusakan alam dan kemerosotan lingkungan hidup akibat aktivitas-aktivitas manusia yang mengutamakan kepentingannya sendiri. Pandangan dunia yang antroposentrik dituding sebagai pangkal ketimpangan relasi antara manusia dengan alam sekitarnya.

Namun baik ekologi maupun etika lingkungan ditengarai masih terjebak dalam dikotomi antara ekosentrisme dengan antroposentrisme. Dikotomi ini membuat kedua gerakan tersebut kerap kesulitan dalam menjelaskan kepentingan manusia di dalam kerangka hidup bersama alam, misalnya dalam menjelaskan soal teknologi.

Dengan memakai pendekatan fenomenologi yang bersumber dari filsafat Husserl, Merleau-Ponty, dan Heidegger, buku ini hendak meneliti hubungan ontologis manusia dengan alam secara lebih mendalam dan radikal. Sebuah perangkat baru hendak dibangun guna memahami alam secara substansial, yang bukan sekadar gejala kerusakannya atau hal-hal lain yang bersifat deskriptif, statistik, maupun etis belaka.

Sejak tahun 2007, Gun Retno beserta Masyarakat Kendeng telah melakukan penolakan terhadap pabrik semen yang masuk ke wilayah Pati. Masuknya PT. Semen Gresik kala itu membuat Gun Retno menginisiasi JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng). Masuknya industri semen membuat petani dan masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng khawatir, karena Pegunungan Kendeng merupakan daerah resapan yang menampung air selama musim hujan agar tidak terjadi bencana alam seperti banjir longsor.

Polemik panjang terjadi karena industri semen tidak hanya memasuki wilayah Pati, namun meluas hingga ke wilayah Rembang dan mulai mengerogoti wilayah-wilayah di sekitaran Pegunungan Kendeng. Tentu saja permasalahan Kendeng menjadi permasalahan yang begitu kompleks, mengingat begitu banyak lahan yang akan dimasuki industri, masalah yang terjadi pun menyangkut banyak hal terkait eksploitasi alam, perampasan lahan, ketimpangan gender, dan krisis iklim.

Penolakan terhadap pembangunan pabrik semen ini telah melewati babak yang sangat panjang, berbagai perlawanan telah dilakukan oleh masyarakat, mulai dari gugatan melalui jalur hukum hingga aksi-aksi yang dilakukan di depan kantor Gubernur Jawa Tengah dan di depan Istana Negara, aksi tersebut terbilang ekstrem karena Masyarakat Kendeng termasuk ibu-ibu petani yang dipimpin Sukinah mengecor kakinya dengan semen.

Pada pertengahan bulan maret 2020 lalu, saya berkesempatan tinggal di kediaman Gun Retno, plesiran tersebut saya lakukan berkaitan dengan pengumpulan data untuk naskah skripsi saya. Kurang lebih selama dua minggu saya menjalani kehidupan di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Selama hidup di Kendeng, saya belajar banyak hal terkait perjuangan masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng yang mempertahankan ruang hidupnya dari industri semen.

Hal menarik yang dapat dipotret selama saya hidup di Kendeng adalah kesempatan untuk membela lingkungan terbuka bagi semua kalangan, baik itu perempuan, laki-laki, maupun anak-anak. Kesempatan yang terbuka bagi siapapun untuk memperjuangkan hak dan ruang hidupnya membuktikan bahwa visi ekofeminisme yang juga berpegang pada inklusifitas sejalan dengan apa yang terjadi di Kendeng. Masyarakat kendang saling bahu membahu membangun gerakan ini agar tetap kuat dan solid, lampauan dikotomi tentang apakah perempuan atau laki-laki yang lebih berhak membela alam pun sudah bukan menjadi permasalahan.

Berkaca dari hal tersebut, saya melihat bahwa spirit ekofeminisme seharusnya tidak hanya dibebankan kepada perempuan hanya karena perempuan diidentikan dengan alam melalui kerja domestik yang kerap dilakukan. Pengandaian tersebut cenderung patriarkis, karena perempuan dianggap berhak membela alam hanya karena ia bersinggungan dengan alam melalui kerja domestik. Padahal, lebih dari itu perempuan seharusnya dapat didengarkan suaranya di ruang publik, sebab ia memiliki hak yang sama seperti laki-laki.

Spirit ekofeminisme seharusnya dimiliki oleh siapa pun, tidak tergantung pada gender yang dimiliki. Prasyarat tersebut tentu menitip harapan bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara. Dalam kacamata ekofeminisme tidak ada salah satu gender yang berhak atas satu hal. Selain itu, term ekofeminisme tidak boleh digunakan untuk mengatakan bahwa tugas membela alam hanyalah tugas perempuan, karena perempuan yang paling sering berurusan dengan alam. Sementara kita menyadari bahwa tanggung jawab membela alam adalah tugas bersama.

Saya pun melihat semangat ekofeminisme sebagai sebuah pegangan yang dapat digunakan untuk memberantas dikotomi antara kerja domestik dan publik. Karena dalam kaitannya dengan Gerakan Kendeng, dikotomi tersebut telah hilang, perempuan telah menyuarakan kegelisahannya melalui ruang publik, pun sama halnya dengan laki-laki yang juga ikut menunaikan kewajibannya dalam membela alam.

Menurut saya peran Gun Retno dalam perjuangannya dengan Masyarakat Kendeng menyiratkan secercah harapan, barangkali menyadarkan kita bersama, bahwa masih ada potret laki-laki pejuang lingkungan yang juga concern terhadap kesetaraan dan keadilan entah bagi alam maupun perempuan. Satu hal yang dapat saya pelajari adalah, musuh bersama yang sedang kita hadapi bukanlah laki-laki, namun sistem kapitalis-patriarkal yang menghimpit segala lini dan permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Maka, sudah seharusnya kita menyadari tugas membela alam bukan hanya milik salah satu gender, sebab semua manusia bertanggung jawab atas kelestarian alam.

Pengajaran Gun Retno selama saya hidup di Kendeng meninggalkan memori indah tentang perjuangan dan keberaniannya membela alam. Penghormatannya terhadap alam patut diceritakan di sini, dalam hari-hari kelam yang masih dihadapi Masyarakat Kendeng, dirinya selalu menyisipkan semangat perjuangan dan mengatakan kepada saya bahwa “menanam adalah melawan” “sebelum Pegunungan Kendeng hijau, maka kami belum menang” dan ungkapan tanda kasihnya pada alam melalui kalimat “saya melihat pohon sebagai sebuah kehidupan, maka ia harus dijaga dengan baik”.

*Ayu Pawitriadalah mahasiswa Ilmu Politik tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Bali. Sesekali menulis, ia dapat ditemui di media sosialnya (twitter/Instagram) @sayupawitri

Continue Reading

Milenia

GM dan SDD: Saling Meresensi

mm

Published

on

Oleh: Bandung Mawardi *)

Dua halaman, tiga belas puisi. Di majalah Horison edisi Februari 1969, pembaca disuguhi puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Ia di babak awal ketenaran sebagai penulis lirik. Pujangga di tahun-tahun benderang, “terlihat” dan “terbaca” oleh umat sastra bakal sebagai tokoh dan pokok berpengaruh dalam kesusastraan di Indonesia. Pada masa 1960-an, puisi-puisi “keras” melanda akibat situasi politik dan saling-serbu ideologi, bermula dari politik menjangkiti ke sastra. Sapardi Djoko Damono bergerak menjauh dari “politis”, menggubah puisi-puisi di keredaan malapetaka memuncak pada 1965. Ia pun berlirik.

Pujangga kurus itu memberi puisi berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”. Dulu, orang-orang membaca dengan tenang agak terasa mencekam: Begini: kita mesti berpisah. Sebab/ sudah terlampau lama bertjinta, sebab anak-anak/ kita telah mengusir ibu-bapanja,/ dan sebab takada rumah lagi/ jang masih terbuka./ Mula-mula airmata, jang tjepat mendingin,/ kitapun pergi seperti apa kta kitab-kitab itu,/ sehabis makan malam./ Siapa jang mengantarkan kita? Puisi belum usai dalam pengutipan. Kita sejenak merasakan situasi pengusiran dan kepergian. Diksi-diksi lembut tapi mampu memedihkan, mengandung percik-percik kemarahan dan duka tak kentara.

Di gubahan berjudul “Dua Sadjak Dibawah Satu Nama”, pembaca diajak membuka atau kembali ke kitab suci: membaca manusia dan Tuhan di sejarah berwaktu. Puisi tentang masa permulaan-penciptaan dan tragedi terselenggara oleh manusia. Sapardi Djoko Damono menulis: kalau Kaupun bernama Kesunjian, baiklah/ tengah-hari kita bertemu kembali: sehabis/ kaubunuh anak itu. Ditengah ladang aku tinggal sendiri/ bertahan menghadapi Matahari/ dan Kaupun disini. Pandanglah duabelah tanganku/ berlumur darah saudaraku sendiri/ pohon-pohon masih tegak, mereka pasti mengerti/ dendam manusia jang setiap tetapi tersisih ketepi. Sekian puisi tak membuat kegirangan. Pedih, duka, gamang, sengsara, kehilangan, dan segala hal kemuraman.

Sapardi Djoko Damono (tengah) bersama Goenawan Mohamad (kiri) dan Subagio Sastrowardoyo. / Foto Koleksi Lontar Fooundation

Kita berpindah ke esai-resensi panjang, enam halaman buatan Goenawan Mohamad. Publik mula-mula menghormati Goenawan Mohamad sebagai esais tangguh di majalah Sastra dan Horison tapi ia juga penggubah puisi. Di Horison, enam halaman itu mendahului dua halaman memuat puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Kita mulai membaca tulisan berjudul “Njanji Sunji Kedua: Sadjak-Sadjak Sapardi Djoko Damono 1967-1968”. Di situ, Goenawan Mohamad berlaku sebagai kritikus sastra dan redaksi majalah Horison.

Awalan menjelaskan dan ingatan: “Masa lalu itu adalah, seperti jang kita ingat, periode tahun-tahun terachir dari pertengahan pertama dekade 60-an: suatu periode jang membajangkan desakan kuat pengaruh kesusastraan realisme-sosialis, baik dalam diri pengikutnja maupun para penentangnja. Ia dimulai dengan penulisan sadjak-sadjak ‘berdjoang’ oleh hampir siapa sadja, dan diachiri dengan sadjak-sadjak pergolakan tahun 1966 – dimana kepahlawanan, nasib sosial, prinsip-prinsip besar, pemudjaan kepada tanah air dan rakjat banjak serta optimisme sedjarah menjusun satu-satunja perbendaharaan tema milik bersama.”  

Penggubahan dan publikasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ingin “berjarak” dari babak “memanas” di kalangan sastra 1960-an. Penulisan pada 1967-1968 memang dekat dengan keamburadulan politik dan perubahan kiblat sastra gara-gara malapetaka 1965. Terbitlah buku berjudul dukaMu abadi, berisi 42 puisi gubahan Sapardi Djoko Damono disebut oleh Goenawan Mohamad bukti “pembebasan dan penemuan kembali” dari latar sastra dan politik masa 1960-an.

Pilihan puisi mendapat ulasan: “Djarak”, “Ziarah”, “Pada Suatu Hari”, “Gerimis Ketjil Didjalan Djakarta, Malang”, “Dua Sadjak Dibawah Satu Nama”, “Sonet X”, “Prologue”, “Sadjak Putih”, “Haripun Tiba”, “Gerimis Djatuh”, “Dalam Doa II”, “Saat Sebelum Berangkat”, “Tiba-Tiba Malampun Risik”, “Kupandang Kelam Merapat Keposisi Kita”, dan “Solitude”. Goenawan Mohamad membaca: jeli dan mencatat. Ia berdurasi lama di hadapan puisi-puisi. Penghormatan atas puisi, sebelum menulis kalimat-kalimat untuk tanggapan. Ketenangan membaca dan kemauan di jeda-sejenak menghasilkan kesan mendalam: “Puisi Sapardi Djoko Damono adalah suara-suara kegelisahan dan kesenjapan, lirik jang lahir dari posisi kejatim-piatuan. Manusia tidak sebatang kara, tetapi ia ditinggalkan tanpa testamen jang tjukup. Manusia berada dalam sedjarah, tapi arah dan djawaban jang diberikan kepadanja ternjata belum pernah memadai untuk mengerti tekateki hidup dan kematian itu.”

Tulisan panjang Goenawan Mohamad bertanggal 25 Desember 1968. Suasana religius di pembacaan puisi dan penulisan kritik. Di akhir, ia berpendapat: “Sadjak-sadjak dukaMu abadi membajangkan itu. Orang bisa mengatakan bahwa Sapardi Djoko Damono tidak teramat orisinil dalam mengutjapkannja, orang bisa melihat adanja pengaruh jang kuat dari penjair-penjair lain dalam puisinja…. Sikap itulah jang terutama menarik hati saja dalam menulis kritik ini, sebab saja beranggapan, bahwa sikap itu lahir setjara sah dari masa kita sekarang.” Puluhan tahun berlalu, esai-resensi itu tetap teranggap penting menandai pengukuhan pesona puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono.

Sampul Buku “Hujan Bulan Juni”–Grasindo, 1994. Di celah kata-kata dalam sajak Hujan Bulan Juni, nama Sapardi abadi.

Pada masa 1990-an, Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono masih rajin menggubah puisi dan mengerjakan kritik sastra. Dua orang teranggap besar dan berpengaruh. Mereka pun terus “bercakap” dan saling bertaut di kesusastraan. Di Tempo, 9 Januari 1993, Sapardi menulis resensi berjudul “Kritik Sosial Puisi Gumam”. Ulasan untuk buku puisi berjudul Asmaradana. Buku berisi puisi-puisi “terseleksi” gubahan Goenawan Mohamad (1961-1991). Di Tempo, Goenawan Mohamad adalah pemimpin redaksi dan rutin memberi esai atau sejenis puisi panjang dinamakan “catatan pinggir”. Posisi bergantian: Sapardi Djoko Damono di hadapan buku puisi Goenawan Mohamad. Tulisan cuma sehalaman. Pendek.  

Penilaian serius: “Dalam puisinya, Goenawan Mohamad mempergunakan berbagai muslihat agar yang disindir merasa tersindir. Menyindir orang lain tentu membutuhkan wahana konvensional. Ini menjadi sangat pelik jika tujuan sindiran adalah diri sendiri. Muslihat yang dipikih bisa bersifat pribadi.” Sapardi Djoko Damono telah kukuh sebagai pembaca dan pengajar sastra berpengaruh. Di hadapan buku puisi, ia merasa “enteng” untuk memuji ketimbang bertele-tele memasang sangkaan dan argumentasi. Pujian diberikan ke Goenawan Mohamad sebagai “penyair lirik terkemuka”. Resmilah dua orang itu saling memuji berkiblat lirik (1968 dan 1991). Kita mendapati dua tulisan itu membuktikan dua pujangga dalam perhitungan “saling” selama puluhan tahun.

Kini, Sapardi Djoko Damono telah pamitan dari dunia. Goenawan Mohamad memasuki babak tua tapi tetap keranjingan menulis puisi. Ia beranggapan belum ada penentuan “pensiun” atau leren di kesusastraan telah berabad XXI. Ulasan dari masa lalu itu mengingatkan kita bahwa Goenawan Mohamad pembaca serius puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Ulasan itu pun teringat saat kita menghormati kepergian tokoh berpengaruh dalam sastra di Indonesia. Begitu. (*)

*) Esais

Continue Reading

Milenia

Kritik Absurdis

mm

Published

on

by Sabiq Carebesth

Pertama-tama saya harus mencintainya sebelum mengkritiknya. Dan saya telah mencintai Albert Camus dan gagasan absurditasnya sejak waktu cukup lama. Bentuk cinta yang juga absurd, lambat dan penuh penyangkalan, tapi tekun dan terus menerus.

Maka demikianlah saya sejak awalnya untuk mengatakan bahwa gagasan absurditas Anda itu tidak bermakna—meski mungkin berguna—bahwa gagasan itu tidak ada kesimpulannya, atau kebenaran yang bisa dijadikan pedoman hidup atau pun jika hanya terbatas untuk sekadar memandu mengantisipasi rasa frsutasi dalam beberapa peristiwa sejarah yang telah dan akan datang.

Tetapi jelas itu tidak cukup. Bahwa setelah mencintai—sebelum saya membunuh cinta saya pada gagasan-gagasan absurdis milik Anda, yang dengan aneh tetap harus saya bunuh meski saya mencintai Anda dan gagasan yang anda telah susah payah gambarkan—adalah pertama-tama, hal itu sebagai bentuk cinta saya; sekalian keinginan membunuh cinta saya yang tekun itu–demi untuk mengungkapkan kerja penalaran dan kontribusi saya dengan mendeskripsikan gagasan-gagasan tidak masuk akal anda itu.

Sebab sebagaimana Anda siratkan bahwa “kesadaran” (akan mencinta) adalah tindak penerapan perhatian, dan bila menggunakan gambaran yang juga anda ambil dari Bregson, kesadaran mirip dengan pesawat proyektor yang setiap saat terpaku pada satu gambar. Perbedaanya adalah bahwa tidak ada skenario, melainkan suatu gambaran yang berturutan dan tidak bersambungan. Semua gambar itu adalah istimewa. Kesadaran menjadikan objek-objek perhatiannya menggantung dalam pengalaman. Dengan cara ajaib kesadaran memilah-milah obyek-obyek itu dan karena itu pula, obyek-obyek itu berada di luar segala penilaian. Dan dengan cara demikian pula saya akan memberikan perhatian kepada Anda sebagai objek yang saya cintai—sekaligus untuk saya sangkal karena tindakan perhatian itu hanya bersifat topografis.

Lagi pula Anda juga mengatakan bahwa “tidak ada lagi satu ide tunggal yang menjelaskan semuanya, melainkan esensi-esensi yang tak terbatas jumlahnya yang memberikan makna kepada obyek-obyek yang tak terbatas jumlahnya pula. Dunia berhenti bergrak pada moment itu tetapi menjadi terang”. Suatu realisme platonik yang intuitif dan anda kritik. Yang meski anda kritik, tapi anda katakan bahwa itu realisme juga. Bahwa bagi anda, bagi manusia absurd, “terdapat kebenaran dan sekaligus kegetiran dalam pendapat yang semata-mata bersifat psikologis, bahwa semua wajah di dunia ini adalah istimewa. Bahwa saat semua istimewa sama artinya dengan bahwa semua mempunyai nilai sama”. Dengan keyakinan dan penilain Anda yang demikian anda kira saya bisa mendapatkan apa dengan mencintai Anda?

Tapi meski demikian, keanehan dan keabsurdan itu harus saya katakan sebagai “wajar”, sebab itu pula yang mula-mula dan perlahan-lahan saya temukan dalam kurun mencintai Anda. Maksud saya adalah, bahwa saya tidak untuk mengatakan Anda adalah seorang yang wajar, justeru sebaliknya gagasan-gagasan absurd Anda itu yang memberikan nilai kewajaran bagi Anda sebagai penciptanya.

Bahwa Anda sebagai seorang filsuf, tetap lebih senang–jika pun harus mendapat label—sebagai seniman saja. Sebab apa yang anda lakukan adalah kerja seorang seniman; anda menjelaskan akibat-akiibat dengan menggambarkannya, menata gambaran-gambaran sebagai tanda dan teka-teki, tetapi sama sekali tidak untuk mencari kesimpulan apa-apa sebagaimana biasa dikerjakan para filsfuf.

Saya akan mengatakan kepada orang-orang tentang Anda dengan apa yang saya kenali selama waktu mencintai anda ini: bahwa tampakanya Anda, Albert Camus yang absurd, yang seniman, sungguh-sungguh tidak bertanggung jawab—tetapi saya juga akan katakan pada orang-orang bahwa gerak kerja seni semacam itu memang berguna untuk menjelaskan dan mungkin menginspirasi lahirnya sikap kehati-hatian dan juga penyangkalan-penyangkalan manusia pada bahaya-bahaya penyesalan dan rasa frustasi yang akan mendorong manusia memilih bunuh diri. Bahwa hal itu berguna justeru untuk mengatasi kehendak bunuh diri dan menggantinya dengan suatu bentuk “pemberontakan”—supaya manusia tidak diperdaya oleh harapan dan makna. Oleh kesimpulan-kesimpulan yang tak bisa digenggam sekarang atau tidak bisa dinalar akal budi. Bahwa semua yang di luar jangkau akal budi adalah ilusi—yang juga berarti tidak untuk mengatakan “tidak ada dan tidak benar”, tetapi itu “tidak nyata”, tidak sekarang, dan karenanya tidak bisa dinalar. Tetapi saat nalar menemukan titik nadir jangkaunnya, suatu kesadaran keterbatasan yang tak menyediakan jalan keluar,  tidak lantas berarti batas tanpa jalan keluar itu untuk membuat menyerah dan menyerahkan semua usaha pemaknaan pada apa-apa yang di luar nalar—dan demikianlah absurdnya absurdis?

Tampaknya pertanyaan itu membuat saya mulai melakukan kritik? Tunggu dulu.

Saya akan mengatakan lebih dulu bahwa tampaknya Anda, Albert Camus, dalam kekosongan dan ketiadaan pegangan semacam itu, gagasan absurditas memandu kesadaran justeru untuk menemu hidup dan menghidupi dengan penuh; dengan membayangkan penerimaan akan ketiadaan makna-makna dan juga kekosongan harapan-harapan—Bahwa anda mengatakan hidup adalah (barangkali akhirnya) untuk “menghayati absurditas”. Dan dalam penghayatan itulah terlihat seberapa jauh pengalaman absurd berbeda dengan bunuh diri. “Kita mungkin menduga bahwa pemberontakan diikuti oleh bunuh diri. Tetapi itu keliru. Karena bunuh diri tidak merupakan penyelesaian yang logis. Bunuh diri adalah kebalikannya, karena justeru memerlukan persetujuan si pelaku. Bunuh diri seperti halnya loncatan, adalah penerimaan akan batasnya”. Anda berkata demikian, baiklah. Bisa dipahami bahwa penggambaran demikian itu akan membuat tindakan-tindakan konkrit di dalam kekosongan dan ketiadaan sepenuhnya menjadi kesadaran dan bentuk tanggung jawab manusiawi untuk melibatkan diri, dan hakikatnya adalah suatu pemberontakan—yang mesti menuntut solidaritas tetapi berlangsung dengan suatu kesadaran mekanis yang soliter. Dan dari situ saya paham anda tidak ingin disamakan dengan eksistensialis yang memandu kesadaran akan diri otentik untuk mula mula menempuh jalan “menidak” liyan seperti Sartre; anda tampaknya juga tak ingin menjadi nihilis seperti Nietzsche yang memilih berlaku sebagai psikolog otonom di depan semua yang menyakiti dan tanpa harapan—dan Nietzsche sebagai psikolog ia konsisten mengambil jarak tetapi tidak menolak karena alasan untuk mengetahui. Sementara anda melibat untuk alasan pemberontakan dan menyaksi.

Tetapi sekali lagi, sebagai bentuk rasa cinta, saya harus menguji cinta itu dan karenanya saya harus mempertanyakan gambaran-gambaran yang anda lakukan dan telah membuat saya jatuh cinta itu—supaya saya juga tidak terperdaya oleh absurditas Anda.

Maka pertama-tama saya akan bertanya tentang “niat” seorang absurdis. (rupa pertanyaanya belum saya susun saat ini), pertanyaan berikutnya terkait dengan anjuran “membayangkan” perkara kebahagiaan dalam ketiadaan dan kekosongan itu. Apa Absurdis rupanya juga mencari kebahagiaan hidup yang terdengar sebagai hal ambisius untuk pemaparan panjang dan aneh yang selalu bernada pesimistis? Pertanyaan berikutnya belum saya siapkan, begitu juga pertanyaan berikutnya lagi juga belum saya siapkan. Saya masih terlalu mencintai Anda.

Pertanyaan-pertanyaan itu akan saya susun dan paparkan kemudian—mengingat sekarang saya belum meyakini atau belum punya mode epistemik yang terasa pas untuk membuat pertanyaan-pertanyaan. Juga karena saya, begitulah, masih terlalu mencintai Anda.

Lagi pula Tuan, tulisan pada bagian ini saya rencanakan sebagai tulisan penutupan—suatu epilog, dan sementara ini prolog dan pokok bahasannya malah belum saya mulai tuliskan kecuali secara gradual, random dan serampangan. Namanya juga menulis tentang absurditas—kiranya tidak mengapa bila juga dilakukan atau dikerjakan dengan cara-cara yang juga sama absurdnya—dan tidak mengapa juga bila akhirnya tidak untuk diselesaikan. Oh ya, paragraph terakhir ini tidak saya tujukan untuk Anda, Albert Camus—tapi untuk pembaca tulisan saya di facebook, blog atau kemayaan lain, mereka orang-orang absurd untuk sukarela membuang waktu membaca omong-kosong begini. (*)

Jakarta, 21 Mei 2020

Sabiq Carebesth

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending