Connect with us

Art & Culture

Max Perkins, Si Jenius Editor Para Jenius

mm

Published

on

“Seorang editor tidak menambah-nambahkan isi buku. Peran terbesar seorang editor adalah membantu penulis-nya. Jangan pernah merasa bahwa peran seorang editor itu teramat penting, karena apa yang kita lakukan adalah melepaskan sebuah energi. Tapi kita tetap tidak menciptakan apa-apa.” – Max Perkins

Nama-nama sastrawan seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Thomas Wolfe, tentu tak asing dalam khasanah (pembaca) sastra Indonesia, itu lantaran novelnya telah banyak diterjemahkan bahkan menjadi rujukan para penulis Indonesia. Kecuali nama terakhir, Thomas Wolfe, yang masih asing. Atau banyak dari kita melihat foto novelis Ernest Hemingway pada kapal dengan ikan besar hasil burunnya—di sebelahnya ada seorang lelaki, berwajah lembut, rapid an terlihat sebagai penyabar yang empatik. Dunia hampir tak memedulikannya, tapi lelaki itu sebenarnya adalah aktor kunci, seorang genius dalam dunia penerbitan dan editor.

Hadirnya film GENIUS besutan Michael Grandage yang disusun berdasar tokoh utamanya, novelis Thomas Wolfe, sedikit banyak memberi informasi tentang penulis kompluisif ini. Tapi bukan Thomas Wolfe yang sesungguhnya menjadi pesan utama dalam film tersebut, melainkan Max Perkins. Nama itu terdengar asing bukan? Tidak banyak yang mengenal nama itu, tapi dia sesungguhnya adalah legenda sastra Amerika khususnya angkatan lost generation; nama-nama novelis beken seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Thomas Wolfe, lahir dan besar di tangan dinginnya sebagai editor. Iya ini adalah cerita tentang editor genius yang menangani para penulis genius. Siapa Max Perkins? Mari sekilas berkenalan dengannya.

Melalui buku Max Perkins, Editor of Genius, memberi kita informasi yang berharga kalau tak bisa dibilang istimewa. Dalam buku yang menjadi pemenang National Book Award tersebut, penulisnya A Scott Berg menuturkan dengan gemilang sosok Max Perkins.

Maxwell Evarts Perkins mungkin tidak begitu dikenal oleh khalayak umum, demikian A. Scott Berg menulis dalam bab satu bukunya yang semula adalah tehisis kuliahnya, tetapi bagi sekian banyak individu yang bergulat di bidang penerbitan, ia tak ubahnya seorang pahlawan. Max adalah editor yang sangat handal. Di masa mudanya, ia telah memupuk sejumlah bakat-bakat baru yang berhasil menjadi figur raksasa di dunia sastra—seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, dan Thomas Wolfe. Ia bahkan mempertaruhkan kariernya sendiri untuk mereka, mendobrak tembok-tembok kesusastraan yang didirikan di abad sebelumnya dan memimpin sebuah revolusi yang mengubah wujud Sastra Amerika untuk selamanya.

Namanya lekat dengan Charles Scribner’s Sons—penerbitan bergengsi di kota New York yang sekarang beroperasi di bawah bendera Simon & Schuster—karena selama 36 tahun masa kerjanya disana, tak ada editor lain yang sanggup menyamai rekor-nya dalam “menemukan” para pengarang berbakat dan mencetak karya-karya besar mereka untuk dinikmati khalayak umum.

Tugas seorang editor, sudah banyak berubah sejak dulu; tidak melulu menangani kesalahan eja dan tanda baca, melainkan menentukan apa yang harus diterbitkan, bagaimana cara menerbitkannya, dan apa yang perlu dilakukan untuk meraih jumlah pembaca terbesar.

Untuk semua kriteria di atas, Max Perkins adalah yang terbaik. Penilaiannya akan karya-karya sastra condong memiliki pendekatan orisinil dan tepat sasaran; selebihnya, Max dipuji karena kemampuannya menyemangati para penulis untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Bagi para penulis yang ia bimbing, Max Perkins adalah seorang teman, bukan sekadar rekan kerja—dan ia akan berusaha untuk membantu mereka dalam segala hal. Misalnya, membantu menetapkan struktur pada karya tulisan, jika memang diperlukan; memikirkan judul-judul yang menarik, memberi ide-ide plot; dan mengambil peran penting sebagai seorang terapis, penasihat, manajer, dan peminjam uang.

Hanya ada segelintir editor yang rela menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan naskah tulisan, tapi Max Perkins tetap memegang teguh prinsipnya: “Sebuah buku akan selalu kembali kepada penulisnya.”

Dalam beberapa hal, Max Perkins tidak mencerminkan profesi-nya sebagai seorang editor: ejaannya sering salah, caranya membubuhkan tanda baca juga tak jarang meleset dari kurikulum penggunaan tanda baca yang baik dan benar, dan dia butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu naskah tulisan. “Seperti kerbau berjalan,” ujar Max perihal kecepatannya dalam membaca.

Walau begitu, ia memperlakukan karya sastra layaknya seorang dokter yang mempertimbangkan antara hidup dan mati seorang pasien. Suatu kali, ia menulis surat kepada Thomas Wolfe dan berkata: “Tak ada yang lebih penting di dunia ini daripada sebuah buku.”

  1. A. Scott Berg yang merupakan seorang penulis biografi dan jurnalis lulusan Princeton University yang pernah dianugerahi penghargaan Pulitzer, juga menuliskan:

Ketenaran Max sebagai seorang editor legendaris mungkin disebabkan oleh beberapa hal: a) di masanya, dia adalah editor paling ternama; b) para penulis-nya banyak yang menyandang predikat ganda sebagai selebriti; dan c) ia memiliki kepribadian eksentris—tapi hampir semua kisah-kisah seru tentang Max berakar pada kenyataan.

Banyak kisah gila tentang bagaimana Max “menemukan” F. Scott Fitzgerald; atau bagaimana istri Scott, Zelda, pernah berkendara bersama Max di dalam kendaraan milik Scott yang akhirnya terpuruk di Danau Long Island Sound; atau bagaimana Max membujuk rumah penerbitan tempatnya bekerja untuk meminjamkan uang sebesar ribuan dolar kepada Scott, dan bagaimana ia kemudian menyelamatkan si penulis dari gangguan depresi.

Kisah lain mengacu pada momen di mana Max pernah menyetujui penerbitan novel pertama karya Ernest Hemingway yang berjudul The Sun Also Rises tanpa membaca isinya terlebih dahulu, hingga ia sekali lagi harus mempertaruhkan kariernya di Charles Scribner’s Sons begitu naskah yang ditunggu tiba. Pasalnya, Ernest menggunakan bahasa kasar yang bagi perusahaan bergengsi seperti Charles Scribner’s Sons tergolong sebagai bahasa orang tak berpendidikan.

Maka tak heran bila kisah favorit tentang pertengkaran Max dengan Charles Scribner, pemilik Charles Scribner’s Sons, menyangkut penggunaan repetitif kata-kata slang empat huruf dalam novel ke-dua karya Ernest Hemingway yang berjudul A Farewell to Arms.

Menurut para saksi, Max menuliskan setiap kata yang ingin ia pertahankan—shit, fuck, piss—di kalender mejanya, tanpa mengindahkan kalimat yang tertera di atas kalender tersebut: “Things To Do Today”. Charles Scribner sempat berkomentar bahwa apabila Max perlu mengingatkan dirinya sendiri untuk melakukan ketiga hal tersebut, maka dia patut memeriksakan diri ke dokter.

Selain itu, kisah yang paling sering diasosiasikan dengan kepiawaian Max sebagai seorang editor umumnya terkait dengan hubungan editor-penulis antara dirinya dan Thomas Wolfe. Tulisan dan temperamen Thomas yang terkenal tanpa batas sudah lama menghantui dunia kesusastraan di AS.

Merujuk adegan dalam film Genius, kita bisa menyaksikan adegan bagaima Thomas menulis naskah Of Time and the River sambil bersandar di kulkas: dengan tinggi tubuh lebih dari 2 meter ia menggunakan permukaan kulkas sebagai meja, dan melempar setiap lembar kertas yang selesai ia tulis ke dalam kotak kayu tanpa dibaca ulang. Sebuah adegan unik di mana tiga orang pria berbadan besar menggotong kotak kayu berbobot berat itu ke dalam ruang kerja Max kerap diceritakan ulang oleh para saksi yang bekerja di Charles Scribner’s Sons dengan rasa takjub. Terutama karena Max berhasil mengubah tumpukkan kertas di dalam kotak itu menjadi buku-buku yang layak dibaca.

Begitulah  Max, ia begitu khas dan sederhana, semua kalangan pada zamannya bahkan sangat lekat pada sebuah topi fedora yang lusuh, yang ia pakai sepanjang hari, yang hanya ia lepas saat tidur.

Wajah Max yang lonjong menunjukkan bias warna semu merah muda, membuatnya tampak lebih lembut dari biasa. Kontur wajah Max memang sangat ke-Eropaan, dengan sudut-sudut tajam nan tegas: hidungnya mancung dengan ujung elok, seperti paruh unggas. Sementara matanya berwarna biru pastel.

Thomas Wolfe pernah menggambarkan mata Max sebagai tempat yang “sarat akan cahaya berkabut, seperti udara laut yang membumbung di kejauhan—sepasang mata milik seorang pelaut asal New England yang berlayar selama berbulan-bulan menuju Cina di atas rakit, seolah tengah meratapi seseorang atau sesuatu yang telah hilang dan tenggelam.”

Sisi lain Max adalah ia tidak pernah membuka diri untuk berbicara di depan orang banyak. Setiap tahun, ia menerima surat undangan untuk berbicara di depan umum, namun setiap tahun juga ia tolak undangan tersebut. Alasan pertama, pendengarannya sudah tidak begitu baik, maka itu ia condong menghindari kegiatan-kegiatan berkelompok. Alasan ke-dua, Max percaya bahwa peran seorang editor ada di belakang layar—apabila pihak publik merasakan kehadiran mereka, maka para pembaca akan hilang kepercayaan terhadap para penulis, yang mengakibatkan para penulis hilang kepercayaan diri. Lebih dari itu, Max tak ingin mendiskusikan kariernya—

Sesederhana Di Belakang Layar

Ia adalah seorang editor supel yang sangat populer, menerapkan prinsip ‘belakang layar’ dalam pekerjaannya, “Hal pertama yang harus kalian ingat,” katanya, tanpa secara langsung menatap para hadirin: “Seorang editor tidak menambah-nambahkan isi buku. Peran terbesar seorang editor adalah membantu penulis-nya. Jangan pernah merasa bahwa peran seorang editor itu teramat penting, karena apa yang kita lakukan adalah melepaskan sebuah energi. Tapi kita tetap tidak menciptakan apa-apa.”

Max mengakui bahwa, dalam kariernya, ia pernah mengusulkan beberapa ide buku kepada para penulis yang tak tahu hendak menulis apa saat itu. Namun karya-karya tersebut biasanya berkualitas standar, walau terkadang meraup keuntungan finansial yang signifikan dan menjadi juara di antara para kritikus.

“Karya terbaik seorang penulis,” ujar Max, “harus datang dari dirinya sendiri.”

Ia juga memperingati audiens-nya agar tidak menyelipkan sudut pandang mereka ke dalam karya seorang penulis, atau mencoba untuk mengubah si penulis menjadi sosok yang berbeda.

“Prosesnya sederhana,” lanjut Max. “Kalau kalian berhadapan dengan Mark Twain, jangan mengubah dia jadi Shakespeare, dan sebaliknya. Pada akhirnya, seorang editor hanya bisa mengeluarkan potensi seorang penulis sesuai dengan apa yang dimiliki si penulis.”

Suatu ketika Max  berada dalam sebuah forum diskusi tentang dunia buku dan penebrita, seorang bernama Kenneth memulai sesi tanya-jawab. Maka mengumaka pertanyaan pertama: “Apa rasanya bekerja dengan F. Scott Fitzgerald?”

Seutas senyum rapuh melintas di wajah Max. Ia memikirkan jawabannya untuk sesaat, lalu berkata, “Scott adalah seorang gentleman. Kadang dia butuh dukungan ekstra—dan kesabaran—namun tulisannya begitu kaya dan berwarna.” Max bercerita bahwa dibandingkan penulis lain, Scott cukup mudah ditangani dari segi pengeditan karena dia adalah seorang perfeksionis yang selalu mendorong dirinya sendiri untuk menghasilkan karya sempurna. Namun, terlepas dari itu, tambah Max, “Scott sangat sensitif terhadap kritikan. Ia bisa menerima kritikan, tapi sebagai seorang editor saya harus yakin akan setiap hal yang saya usulkan kepadanya.”

Setelah itu, diskusi beralih pada pribadi Ernest Hemingway. Max berkata bahwa di awal kariernya, Ernest membutuhkan banyak dorongan, dan lebih banyak lagi di masa-masa selanjutnya, “karena tulisan dan hidup Ernest memiliki kualitas petualangan yang sangat intens.”

Max yakin bahwa nilai yang dijunjung tinggi oleh para protagonis karya-karya Ernest tertera jelas dalam tulisannya, mencakupi tema “manusia yang berlaku mulia saat dihadapi pilihan sulit.” Tapi Ernest juga sangat rentan terhadap karyanya.

“Suatu kali, Ernest pernah mengeluh bahwa ia telah merevisi beberapa bagian dari A Farewell To Arms sebanyak 50 kali,” kata Max. “Sebelum seorang penulis menghancurkan kualitas alami dari tulisannya sendiri—itulah saat yang tepat bagi seorang editor untuk maju. Tapi tidak semenit pun sebelum itu.”

Yang terakhir, seolah menanti saat yang tepat, muncul pertanyaan tentang Alm. Thomas Wolfe, yang di penghujung ajalnya menyesali keretakan yang terjadi pada hubungannya dengan Max Perkins—moment yang juga sangat menyentuh terdapat dalam film Genius, maka sesi Tanya-jawab terkait Thomas Wolfe, seorang penulis yang notabene menguras tenaganya habis-habisan, mengemuka paling banyak dan intens.

Selama bertahun-tahun, gosip tentang hubungan Max dan Thomas diulas di berbagai media, di mana Max dituduh memiliki keterlibatan langsung dengan penulisan novel-novel Thomas Wolfe.

“Tom adalah seorang penulis dengan bakat luar biasa, bahkan jenius,” ujar Max. “Bakat seperti itu, bagaimana dia memandang negaranya sendiri, terlalu besar untuk dirangkum dalam sebuah buku atau satu masa kehidupan. Tak ada medium yang cukup besar untuk menampung semua yang hendak ia tulis.”

Saat Thomas mengolah dunianya ke dalam bentuk fiksi, Max merasa tugas utamanya sebagai seorang editor adalah untuk menciptakan batasan-batasan—baik itu dari segi panjang naskah maupun format tulisan. Max menambahkan, “Batasan-batasan tersebut adalah hal-hal praktis yang menjadi obsesi Thomas.”

“Tapi apakah dia menerima usulan Anda?” pertanyaan itu seperti kilat, dan…

Max tertawa untuk pertama kalinya malam itu. Ia mengisahkan suatu episode di mana ia mencoba untuk membujuk Thomas agar mau mencabut satu bagian besar dari naskah Of Time and the River.

“Saat itu malam musim panas,” ujarnya. “Udara sangat panas, dan waktu sudah amat larut—namun kami masih bekerja di kantor Charles Scribner’s Sons. Saya meletakkan tas saya di dekatnya, lalu saya duduk dalam kesunyian, membaca naskahnya.”

Max tahu bahwa pada akhirnya Thomas takkan keberatan menghapus bagian besar dari naskah tersebut, terutama karena alasan yang diberikan Max memang tepat. Tapi Thomas takkan menyerah segampang itu. Berlaku seperti anak kecil, Thomas menengadahkan kepalanya dan memutar kursi duduknya, matanya mengamati ruang kerja Max yang nyaris tak berperabot.

“Saya terus membaca selama kurang dari 15 menit,” lanjut Max, “dan saya sadar akan gerak-gerik Tom—sadar bahwa dia menatapi salah satu sudut ruang kerja saya dengan pandangan curiga, serius. Di sudut itu tergantung topi dan jas overcoat saya, dan di bawah topi, terselempang di pundak jas overcoat, adalah suvenir berbentuk kulit ular berbisa dengan tujuh simpul.” Suvenir itu merupakan hadiah dari Marjorie Kinnan Rawlings. Max menoleh ke arah Tom, yang masih menatapi topi, jas overcoat, dan si ular berbisa. “Aha!” seru Tom. “Sosok seorang editor!”

Setelah puas menggoda Max, Thomas setuju menghapus bagian besar dari naskahnya.

Tidak hanya cerita tentang para penulis besar ditanganinya menjadi begitu menarik, kisah Max sendiri begitu empatik. Seperti deceritakan Kenneth,  bahkan dalam menjawab pertanyan-pertanyaan, Max banyak terdiam di tengah-tengah kalimat. Ia berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan seelegan mungkin, namun ia seolah tersedot ke dalam masa lalu yang justru menjeratnya dalam kebingungan.

“Saat itu, Max seakan hilang di dunianya sendiri,” ujar Kenneth, bertahun-tahun kemudian. “Beliau masuk ke dalam ruang pikirannya, masa lalunya, dan menutup pintunya rapat-rapat.”

Setelah peritiwa diskusi yang membuat Max untuk pertama kalinya menceritakan begitu detail tentang dirinya dan juga pekerjaanya, buku Max Perkins: Editor of Genius, mengisahkan ketika akhirnya Max pulang dan tiba di kediaman keluarga Perkins di New Canaan, Connecticut, malam telah larut. Max menemukan putri sulungnya sedang menunggu kedatangannya. Putrinya melihat kelelahan yang menggantung di tubuh Max serta rasa sedih yang mendera. Ia bertanya kepada sang ayah apa yang membuatnya begitu lesu.

“Malam ini aku datang ke sebuah acara seminar dan mereka memanggilku ‘kepala dari semua editor di Amerika Serikat’,” jelas Max. “Saat mereka mengenalimu sebagai ‘kepala’ sesuatu, itu berarti tugasmu sudah selesai.”

“Duh, Yah: aku yakin maksud mereka bukan itu,” protes putri sulungnya. “Mereka hanya bermaksud untuk mengakui Ayah sebagai editor terbaik.”

“Tidak,” kata Max, datar. “Itu artinya tugasku sudah selesai.”

Yah, Max memang sudah selesai, tapi inspirasinya hidupnya tidak. Apakah Anda menyetujinya?

(Dari berbagai sumber. Editor: SC)

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Rekki Zakkia: Dalam Kehilangan dan Jalan Ketuhanan nun Indah

mm

Published

on

Saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya.

Oleh : Doel Rohim *)

Malam itu, saya berkesempatan bertemu Rekki Zakkia. Generasi saat ini tentu bertanya siapa nama dan sosok itu? Tapi pada akhir 90an atau awal tahun 2000an dia adalah salah satu sastrawan yang namanya juga turut beredar mengisi ruang sastra generasi saat itu.

Dia eorang sastrawan yang hampir kehilangan imaji sastranya, bahkan semangat hidupnya setelah sekian lama memerangi penyakit Skizofrenia yang di deritanya. Baru-baru ini ia seperti menemukan gairah hidupnya kembali,  setelah mengeluarkan sebuah kumpulan sajaknya yang sudah lama hilang. Kumpulan puisi yang ia sebut sebagai anak ruhaninya ini baru saja ia temukan, yang ternyata disimpan oleh sahabatnya yang ia pikir sudah tidak bisa diselamatkan.

Beberapa kumpulan puisi ini, merupakan catatan dirinya dalam menghayati dinamika sosial politik, agama hingga identitas dirinya sebagai manusia dalam priode tahun 1998-2009.

Waktu yang cukup menguras energinya dalam menapaki pergulatan batin yang lebih sering terbentur hingga akhirnya ia tak lagi punya daya untuk sekedar menulis sajak, yang pernah menjadi jalan sunyi yang digelutinya.

Kali ini saya ingin mengajak Rekki untuk menyusuri ingatannya kembali terkait proses kepenulisan dan kesustraanya kembali. Di temani segelas kopi dan sebungkus rokok saya pelan-pelan masuk dengan beberapa pertanyaan. Ia bicara pelan, tapi sepenuhnya masih sastrawan.

Sejak kapan anda mulai menulis?

Saya menulis sejak SMP, orang tua saya seorang seniman juga, bisa dikatakan pendakwah, akses buku di rumah sudah lumayan banyak, dari sana saya suka menulis. Begitupun orang tua saya tidak pernah mendorong untuk menjadi penulis, tetapi dengan apa yang dikerjakan ayah saya dengan pergaulanya bersama para kiai dan seniman, itu mendorong saya. Gairah menulis saya mulai muncul.

Apakah anda punya pengalaman terkait kepenulisan

di masa awal anda menggeluti dunia tulis menulis?

Ada, saat itu ketika saya masih SMP ada mahasiswa KKN dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang datang ke rumah saya, ia seorang sastrawan dari Teater Eska, saya memberanikan untuk tanya menggenai puisi, dan jawabanya hanya “pertanyaanmu itu puisi”, jawaban itu seperti petir yang menyambar kepalaku, dari sanalah saya yakin menulis menjadi jalan hidupku. Dari situ juga mulai mendalami kepenulisan mulai dari, puisi, esai dan cerpen.

Bisa di ceritakan peran ayah anda dalam proses kepenulisan anda?

Bapak saya sangat berperan dalam proses kepenulisan saya, beliau memberi kebebasan pada anak-anaknya dan memberi akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan, menyediakan banyak buku dan jaringan para sastrawan yang bisa saya kenal dari bapak saya. Selain itu bapak saya juga memberi tauladan dalam membicarakan gerakan sosial kepada masyarakat yang bagi saya luar biasa, ia selama hampir 30 tahun memasukan kultur santri yang sebelumnya sangat jauh dari masyarakat saya, hingga perubahanya bisa dirasakan sampai sekarang. Dari sanalah saya mulai tertarik dengan gerakan sosial sejak kecil, hingga waktu SMA saya menjadi aktifis Frond Perjuangan Pemuda Indonesia, basis pelajar di Yogyakarta.

Anda masuk sebuah basis gerakan sosial sejak SMA, apa yang anda fikirkan saat itu?

Saya tidak tahu itu mengalir saja, awalnya ketika saya memilih sekolah SMA 8 di Yogyakarta. Kondisi sosial politik di masa akhir orde baru saat itu sangat bergejolak termasuk di Yogya, hampir setiap hari ada demonstrasi, berbekal pengetahuan dari buku yang saya baca panggilan untuk terlibat dalam aksi-aksi itu tak bisa dihindarkan, dan akhirnya saya masuk ke forn pelajar Yogya bergabung dengan mahasiswa ikut aksi-aksi menggulingkan Soeharto.

Apakah kondisi seperti itu berpengaruh dalam beberapa puisi yang anda tulis?

Masa puncak priode kepenulisan saya terhitung sangat pendek, tahun 96 sampai 98. Saat itu tulisan saya banyak di muat media di Indonesia, bahkan esai saya pernah menjadi yang terbaik di majalah Horison. Jelas, dalam rentang waktu yang pendek dengan latar kondisi sosial politik yang panas seperti itu, saya juga meresponya dengan beberapa puisi. Namun saat puncak demonstrasi sekitar tahun 98, saya lebih sibuk ke gerakan hingga saya sudah jarang menulis kembali.

Saya membaca beberapa puisi dalam buku yang anda cetak,

bernuansa spiritual dan itu sekitar tahun 98, apakah ada hubungannya dengan situasi saat itu?

Secara langsung tidak, itu moment bulan puasa saja, dimana saat itu saya mengalami situasi batin yang teramat rumit, mempertanyakan identitas diri begitupan eksistensi Tuhan dan munculah beberapa puisi yang bisa anda baca tersebut.

Adakah pengalaman tragis yang bisa anda ceritakan terkait proses kepenulisan anda?

Ini yang saya katakan saya kehilangan anak ruhani saya. Saat itu saya sedang mencintai seorang wanita, cinta yang tidak hanya sekedar cinta monyet seperti anak SMA. Tapi lebih dalam dari pada itu, seperti getaran batin yang hanya ada untuknya, kalau anda pernah dengar kisah cinta penyair besar Umbu Landu Paranggi kira-kira seperti itulah gambaranya. Hingga akhirnya saya menuliskan beberapa surat puisi untuknya,  terhitung hampir ratusan yang saya berikan padanya. Dalam surat tersebut tidak hanya sekedar puisi cinta tapi termasuk catatan saya terkait sosial politik yang saya kemas melalui bait-bait sajak. Saat beberapa kali saya kasih tahu pada teman yang bergelut di dunia sastra terkait karya tersebut, ia merekomendasikan untuk menerbitkanya. Dan saya sendiri yakin itu master pice dari proses kepenulisan saya, saat itu juga saya sudah ingin menerbitkanya menjadi buku, bahkan sudah ada judulnya.

Namun naas, bebarengan perempuan yang saya cintai itu menikah, dan akhirnya karya itu juga tidak terselamatkan. Ketika saya tanyakan, ia tak pernah bisa menjawab, mungkin sudah di bakar. Mulai dari sana hancurlah sebagian dari hidup saya, seperti halnya kehilangan anak ruhani yang saya persiapkan kelahiranya, namun hal tersebut tak pernah terjadi. Semenjak itu saya tak sanggub menulis puisi lagi.

Saat menceritakan prihal di atas, anda begitu haru dan emosional,

apa pengaruhnya dalam hidup anda?

Setelah kejadian itu, saya tak punya daya lagi untuk sekedar menulis, aktifitas gerakan setelah jatuhnya rezim Soeharto pun berhenti, para aktivis tercerai berai. Di masa awal kejatuhan Soharto saya masih berusaha bangkit Bersama kawan-kawan saya menghidukan dan menjalani agenda gerakan social bersama FFPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia). Secara otomatis aktifitas menulis saya sudah tidak saya lakukan lagi. Tahun 2002 saya terkena sakit Skizofrenia, saat-saat seperti itu kegiatan intelektual saya berhenti karna takut mengganggu proses penyembuhan. Tahun  2009 saya berusaha bangkit dengan masuk kampus UNY jurusan sastra, baru dapat satu semester kondisi tidak setabil kembali.

Akhirnya saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya. (*)

____

Pewawancara: Doel Rohem—penulis lepas, menempa proses kreatif dunia menulis di LPM ARENA Yogyakarta. | Editor: Sabiq Carebesth.

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Art & Culture

Irfan Afifi dalam Kejawaan dan Keislaman Yang Gelisah

mm

Published

on

Kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa. –Irfan Afifi

Oleh; Doel Rohim *)

Baru-baru ini penulis Irfan Afifi mengeluarkan sebuah buku yang di bicarakan oleh banyak orang. Buku yang diberi judul Saya, Jawa, dan Islam ini, mengulas pergulatan batin Irfan mengenai identitas kejawaan dan keberislaman yang mulai luntur bahkan hilang dalam dirinya.

Sejak itulah ia mencari, membangun batu bata pengetahuanya kembali, untuk menemukan jawaban atas kegelisahanya tersebut. Buku Saya, Jawa dan Islam, merekam dengan baik perjalanan pencarian diri yang hilang, yang sampai buku ini diterbitkan  sebenarnya belum selesai ia susun. Lelaki yang keseharianya tinggal di Yogyakarya ini, sampai hari ini masih bergelut dengan pencarian dirinya, sambil terus menulis di media yang ia gawangi Langgar.co ia mendokumentasikan catatan perjalanan pencarianya yang filosofis.

Saya berkesempatan menemui Irfan secara langsung di rumahnya Kamis (30/4/2019), untuk mencari tahu bagaimana proses kreatif kepenulisan hingga kegelisahan semacam apa hingga buku ini dapat respon positif dari banyak kalangan. Berikut ‘obrolan’ lengkapnya:

Bisa anda jelaskan konteks personal kenapa anda menulis buku Saya, Jawa, dan Islam?

Awalnya tulisan yang ada di buku itu adalah kumpulan dari tulisan saya di beberapa kesempatan yang semuanya berasal dari kegelisahan saya atas ke Islaman dan  ke Jawa-an dalam diri saya, yang seperti hilang dalam hidup ini.  Rasa kehilangan yang begitu dalam membuat diri saya merasa kurang lengkap, jiwa saya kering, hingga akhirnya saya mulai mencari dan mengidentifikasi ulang diri saya. Dari sanalah peoses awal saya mendalami identitas Jawa dan Islam saya yang hilang, yang ternyata selama ini dikaburkan oleh proses pajang sejarah bangsa ini terutama masa kolonialisme.

Sebelum jauh membicarakan buku anda, anda sekarang tergolong produktif menulis di media termasuk media anda sendiri Langgar.co mungkin juga yang lainya, bisa ceritakan kapan anda pertama kali menggenal dunia tulis menulis?

Haha saya belajar menulis sejak kuliah tepatnya saat saya masuk di Lembaga Pers Mahasiswa Balairung UGM tahun 2000-an. Kalau ingget dulu, kelihatanya saat itu saya tergolong paling aktif di LPM, bahkan hampir separo masa kuliah di kampus saya habiskan di bilik kantor Balairung, berangkat ke kantor mulai sore, hingga menjelang subuh saya baru pulang ke kontrakan dan gak jadi kuliah (tertawa lepas). Mungkin itu, pertama kali saya bersingungan dengan dunia tulis menulis. Saya masih ingat sejak SMA bahkan sampai masuk kuliah saya tidak banyak punya uang untuk sekedar membeli buku. Paling-paling pinjam buku, tapi karna saya tumbuh di tradisi pesantren budaya literasi saya terbantu dengan terbiasa membaca kitab kuning ayah saya.

Sebelum anda menulis biasanya mempunyai ritual khusus atau tidak, sebelum menggoreskan kata pertama?

Apa ya, saya terbiasa menulis setiap pagi setelah habis shubuh. Selain itu harus minimal dua bungkus rokok gudang garam yang menemani. Hahah biasannya baru bisa mulai nulis, di saat yang tepat biasanya saya seperti kejatuhan ilmu Tuhan dari langit , hahah.

Saya akan masuk lebih dalam buku yang anda tulis, dalam bab pertama buku Saya Jawa dan Islam, tulisan anda terlihat begitu emosional menceritakan proses awal kepenulisan buku ini hingga bisa diterbitkan, bisa anda jelaskan?

Haha iya memang, dalam bab pertama tersebut sebenarnya saya sedikit banyak menceritakan bagaimana proses awal saya menemukan identitas kultural saya yang hilang, yang sebenarnya sudah lama saya gelisahkan.  Pada awal tahun 2007 saat saya dipertemukan dengan salah seorang tukang pijat disekitar kontrakan saya dekat UGM, tiba-tiba saya di beri wejangan untuk mulai mandeg pribadi, mengatur empat pribadi dalam diri sedulur papat limo pancer, agar juga tidak hanya keseimbangan diri yang terpenuhi melainkan juga menemukan “makna” atau “diri “ itu sendiri. Wejangan tersebut membuat saya terperangah. Selain juga menyentil identitas ke Jawaan saya. Hal itu juga setidaknya meruntuhkan seluruh bangunan filsafat yang saya pelajari secara kukuh saat berada di bangku kuliah filsafat UGM. Dari sanalah saya mulai putar arah, menengok kembali identitas ke Jawaan dan ke Islaman saya, dengan mulai masuk dan tenggelam ke dalam wacana yang tersimpan dalam kesustraan lama Jawa seperti serat, suluk, dan babad. Bagi saya pilihan tersebut sungguh tidak mudah, saya perlu menata bangunan pengetahuan saya dari awal kembali menyusun sedikit demi sedikit, mencarinya di berbagai tempat di tengah posisi saya sudah mulai memikirkan kebutuhan keluarga. Itu sungguh pilihan sulit bagi saya saat itu.

Anda sering menggatakan bahwa proses yang anda lakukan saat ini sebagai “suluk” kira-kira apa makna kata tersebut dalam perjalanan pencarian anda?

Kata suluk sebenarnya kata kunci dalam tradisi tasawuf yang mempunyai arti “berjalan” atau “perjalanan”.  Dan perjalanan yang dimaksut di sini adalah menuju sangkan paran, jadi dalam kerangka keber “ada” an hidup manusia Jawa ia sedang melakukan perjalanan besar dari Allah menuju Allah. Atau bisa dikatakan sebuah gerak yang di “ada” kan (dumadi/maujud) menuju yang “ada” atau yang meng ”ada”kan (dadai wujud). Gampangnya sebuah perjalanan manusia dari sejak ia dalam sebuah kandungan menuju kematian, atau perjalanan dari Nya menuju Nya. Konsep sebuah “perjalanan”  tersebut oleh para wali atau ulama di tanah Jawa dahulu dalam bhasa Jawanya sepadan dengan ata laku, mlaku, lelaku, lelakon yang mempunyai arti harfiah “berjalan” atau “perjalanan”. Lha kata tersebut sering diterjemahkan dalam sebuah istilah baru sebagai “suluk” yang juga kata kunci dalam tradisi tasawuf Islam. Saya memposisikan proses perjalanan saya saat ini kira-kira seperti itu, sebuah perjalanan besar yang nantinya juga akan kembali kepadaNya.

Dalam buku yang anda tulis ini, anda berusaha mendekonstruksi wacana Islam Jawa yang sudah mapan. Selain itu anda juga sering menggatakan bahwa pangkal permasalahan besar keberislaman kita hari ini adalah konstruksi para orientalis  terkait  Islam Jawa lebih jauh kebudayaan kita. Bagaimana anda menjelaskan itu semua?

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa.

Dari sana saya mencari penjelasan lain dengan sudut pandang “rasa” keislaman saya. Mulai dari para pemikir muslim Indonesia seperti Hamka, Rasyidi, hingga karya-karya  Simuh Islam Mistis Ranggawarsita, ternyata juga tidak bisa memuaskan saya dengan penjelasan yang kurang lebih hampir sama memposisikan Islam Jawa bercampur aduk, tidak jelas bahkan saling kontradiktif.

Dari hal tersebut saya tersuruk untuk kedua kalinya, identitas yang membentuk saya, Jawa dan Islam saat ini ternyata saling menegasikan. Ada perselisihan atau tepatnya saling berhadap-hadapan yang sempat mengguncang diri saya. Dari sana juga saya mulai menyadari bahwa ada narasi kolonialisme, yang sejak lama tertimbun dan membentuk bingkai keislaman kita, yang sayangnya hingga hari ini terus menerus menjadi narasi besar para sarjana maupun akademisi kita yang selalu direproduksi sedemikian rupa hingga Islam Jawa tak pernah menemukan esensinya.

Secara umum buku anda membicarakan problem identitas yang banyak di alami oleh anak muda saat ini, ada pesan bagi anak muda kayak saya ini?

Memang banyak anak muda hari ini gagal mendefinisikan identitas kulturalnya sendiri. Sehingga cendrung terjebak pada pola pikir Barat yang menawarkan kebebasan, universalitas, yang menggaburkan identitas dirinya sebagai orang Jawa, Nusantara dan Indonesia. Cara berfikir barat yang lebih dominan masuk ke alam fikir kita saat ini, yang diharapkan membawa kemajuan dan akan semakin menemukan esensi kemanusiaan, ternyata menggiring kita untuk hanya menjadi manusia mekanik robot-robot berjalan. Dan apa yang kita sebut sebagai kemajuan di sisi lain juga secara tidak sadar beriringan dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Hal tersebut secara tidak langsung bukan malah menuntun jalan kita untuk menemukan esensi kemanusiaan kita seutuhnya. Tapi kebalikanya kontraproduktif dengan jalan yang sebenarnya sudah digariskan oleh para leluhur kita melalui ekspresi tradisi budaya yang menyimpan pengetahuan untuk menemukan hakikat kemanusia kita. Temukan pancer dalam diri agar tegak, dapat menciptakan keseimbangan dalam diri, tahu dengan sangkan paran asal usul manusia dan akan dikembalikan kemana. Lha untuk menemukan pancer dalam diri di tradisi Jawa orang harus melakukan proses lelaku, laku, (suluk), dengan memaksimalkan semua potensi fakultas dirinya, dari lahir hingga batin mulai hati, jiwa, dan raganya. Dari sanalah manusia akan ketemu dengan hakikat hidup dan akan kemana hidup ini berjalan.

Kira-kira seperti itulah, doakan saya bisa istiqomah menjalankan proses lelaku perjalanan ini, yang entah sampai kapan dan dimana nanti ujungnya.

 

*) Doel Rohim: Penghuni Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

 

 

 

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending