Connect with us

Tabloids

Mau Menulis?

mm

Published

on

Menulis itu bukan berbicara, dan membaca itu bukan mendengar. Karena itu, tujuan menulis itu bukan untuk membuat orang mengerti melainkan untuk membuat orang berfikir. Tetapi orang mau berfikir jika hatinya tersentuh. Karena itu sasaran tulisan bukan telinga tetapi mata, karena: “di matalah letaknya hati!

oleh; GUNAWAN WIRADI

Pengantar 

Dilihat dari kegiatan si penulis, yang dimaksud dengan “menulis” adalah “merangkai huruf-huruf menjadi kata, lalu meramu kata-kata menjadi kalimat, selanjutnya menyusun sejumlah kalimat menjadi paragraf, dan begitu seterusnya. Tetapi dari segi isi dan substansi/makna tulisan tersebut, maksud dan tujuannya berbeda-beda.

Membuat surat itu juga menulis, menyusun puisi itu juga menulis, menyusun laporan hasil penelitian itu juga menulis, membuat artikel untuk dimuat di surat kabar itu juga menulis, semua itu “menulis”, tetapi isi dan tujuannya kan berbeda-beda. Implikasinya, format yang diisyaratkan pun juga berbeda, dan ukuran untuk menilai mutu tulisan juga berbeda-beda.

Dalam soal surat-menyurat pun ada perbedaan mengenai format dan tata cara penulisan yang diisyaratkan. Surat untuk melamar pekerjaan tentu berbeda aturannya dibanding dengan surat untuk menawarkan barang dagangan, dan berbeda pula dengan surat lamaran cinta, dan sebagainya, dan seterusnya.

*) Artikel lain dari topik ini bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Perlu juga disini disinggung sedikit masalah karya tulis dibidang sastra, atau tulisan-tulisan yang bernada seni. Sastrawan dan seniman pada umumnya, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pertama, mereka yang berprinsip “seni demi untuk seni” dan kedua, mereka yang berprinsip “seni demi untuk masyarakat/kemanusiaan”. Dalam berkarya, aliran pertama bertujuan semata-mata agar cita-rasa seninya terekspresikan, terungkapkan. Demikian juga sastrawan (seniman tulis), mereka menulis sekedar mengungkapkan apa yang mereka rasakan atau yang mereka pikirkan. Artinya, mereka tidak mutlak membutuhkan pembaca awam. Dibaca ya syukur, tidak dibaca ya tidak apa-apa. Hal ini berbeda dengan dengan aliran yang kedua, karena prinsipnya “seni untuk Masyarakat”, maka karya tulisannya diusahakan untuk bisa dimengerti oleh pembaca awam. Dengan demikian, arti menulis dimaknai sebagai alat komunikasi, yaitu menyampaikan pesan, yang berarti mempunyai sasaran yaitu pembaca.

Demikianlah, seluk beluk tulis menulis itu memang bukan masalah yang mudah, sehingga ada yang berpendapat bahwa “menulis” itu lebih merupakan seni daripada sebagai ilmu. Manusia (termasuk aktivitas menulis), ada tiga faktor yang turut menentukan keberhasilannya, yaitu bakat, pengalaman, dan pengetahuan. Minimal dua bakat yang sama. Jadi, meskipun orang tidak berbakat menulis tapi jika ia mempunyai pengetahuan dan pengalaman, kemampuannya lambat laun akan berkembang. Begitu juga misalnya jika ia belum punya pengalaman, tapi berbakat dan berpengetahuan kemampuannya tentu berkembang. Demikian pula jika mereka yang belum punya pengetahuan, tapi berbakat dan berpengalaman, dapat juga kemampuannya berkembang.

Demikianlah, dengan pengantar ringkas tersebut di atas, uraian berikut ini merupakan panduan sederhana mengenai bagaimana menulis karya tulis ilmiah tapi secara populer.

  1. Modal Awal Bagi Penulis

Menulis itu ibarat orang mau menanam padi. Ada tiga hal yang harus dikuasai (melalui pengetahuan) lebih dulu. Kita harus memahami benar seluk beluk bibit yang akan kita tanam. Lalu kita juga harus mengetahui jenis dan kondisi tanah yang hendak kita tanam. Dan ketiga, kita juga perlu mengetahui lingkungan tanah tersebut serta iklimnya. Perumpamaan ini maknanya sebagai berikut.

Kalau kita mau menulis, kita harus benar-benar menguasai apa yang hendak kita tulis, dan hindari penggunaan istilah-istilah (termasuk terutama istilah bahasa asing) yang tidak kita pahami benar maknanya. Kita juga harus memahami siapa pembaca yang diharapkan untuk membaca tulisa kita (ibarat tanah). Dan ketiga, kita menentukan bagaimana teknik menuliskan pikiran-pikiran yang hendak kita sampaikan, agar sesuai dengan kondisi yang kita bayangkan. Ibaratnya, teknik menanam agar bibit itu bisa tumbuh dengan subur sesuai kondisi tanah dan iklimnya.

Seperti telah disinggung dalam pengantar, kemampuan orang menulis itu berbeda-beda (ingat tiga faktor tersebut di atas), demikian juga kemampuan pembaca untuk memahami apa yang dibacanya juga berbeda-beda, tergantung dari minat baca, dan tujuannya untuk apa orang itu membaca.

 

  1. Dua Aliran Penulis

Pada umumnya, kegiatan menulis itu diartikan sebagai alat berkomunikasi, melalui bahasa tulisan. Ringkasnya, menulis adalah “menyampaikan pesan”. Diluar bidang surat-menyurat dan diluar bidang seni sastra, secara garis besar karya tulis populer. Yang bersifat ilmiah, sasarannya jelas yaitu pembaca yang tingkat pendidikannya cukup tinggi, atau kalangan akademik. Sedangkan yang bersifat populer sasarannya adalah siapa saja.

Bagi tulisan ilmiah murni, tata-caranya secara teknis menuntut syarat-syarat yang rinci dan ketat (bagaimana membuat definisi, bagaimana membuat table, masalah kutip mengutip, masalah gaya, berbagai aspek kebahasaan, dll, semuanya ada syarat-syaratnya).

Jika didasarkan atas asumsi mengenai citra pembaca dimata penulis, dan dihubungkan dengan tujuan menulis, maka cara menulis itu dapat dibedakan adanya dua aliran. Sebut saja aliran A dan aliran B.

Selengkapnya baca dalam buku “Memikirkan Kata”, GBJ; 2019. 

______

*) DrHc. Ir. Gunawan Wiradi, M.Sc adalah penulis buku-buku ilmiah dalam bidang studi politik agraria indonesia. Selain penulis yang konsisten dan telah menulis begitu banyak artikel dan opini mau pun jurnal ilmiah di berbagai media, ia juga penyunting dan penerjemah beberapa karya klasik dunia dalam bidang sosiologi dan politik. Beliau lahir pada 28 Agustus 1932 di Solo, Jawa Tengah. Putra bungsu dari pasangan R.Pujo Sastrosupodo dan R.A Sumirah ini lulus dari sekolah Arjuna (sekarang sekolah dasar/SD) pada 1946. Pada 1953 Pak GWR sapaan akrab beliau, melanjutkan kuliah di IPB. Sambil bekerja beliau akhirnya menamatkan kuliahnya dan menjadi dosen di IPB tahun 1963 hingga mendapat gelar kehormatan Honoris Causa dari almamater tempatnya mengabdi.

Saat ini, beliau terus aktif dalam dunia penelitian dan penulisan, menjadi penasihat dan Dewan Pakar di berbagai lembaga penelitian dan advolasi non pemerintah.

Tabloids

Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

mm

Published

on

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.

Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya, dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir, “Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya, jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza, dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera setelahnya hal itu terlihat klasik.

Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri. Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.

Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah buku berjudul Love & Fame.

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada Arthur Crook di Times Literary Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan. Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.

Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari. Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi, menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku mengadopsi hampir semua saran.

Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok. Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus. Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan, tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,” dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga akan ditakuti dan dibenci.”

Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang yang dia maksud.

Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila. Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu banyak orang.

Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.

Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.

*) John Berryman

Continue Reading

Tabloids

Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa

mm

Published

on

Ya, itu bisa berwujud apa saja. Bisa saja sebuah suara, sebuah gambar; bisa jadi sebuah momen terdalam dari keputusasaan diri. Misalnya, dengan Ragtime aku sedang sangat putus asa untuk menulis, aku menghadap dinding ruang kerjaku di rumahku yang berada di New Rochelle dan jadilah aku mulai menulis tentang dinding itu. Itu salah satu jenis hari yang terkadang kita alami, sebagai penulis. Kemudian aku menulis tentang rumah yang menempel dengan dinding itu. Rumah itu dibangun tahun 1906, kau paham, jadi aku memikirkan tentang era itu dan bagaimana Broadview Avenue terlihat pada masa itu: mobil-mobil trem listrik berjalan melalui jalan raya yang berada dibawah bukit itu; orang-orang mengenakan baju berwarna putih pada musim panas agar tetap sejuk.

Waktu itu Teddy Roosevelt seorang presiden. Satu hal menuntun ke hal lain dan begitulah buku itu dimulai, melalui keputusasaan menuju gambaran-gambaran itu. Dengan Loon Lake, sangat berbeda, itu hanya sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah tempat, perasaan yang membuncah ketika aku menemukan diriku sendiri di Adirondacks setelah bertahun-tahun pergi jauh…dan semua ini sampai pada titik dimana aku melihat sebuah tanda, sebuah penanda jalan: danau Loon. Jadi itu bisa apa saja… aku menyukai bunyi dari dua kata yang bergandengan-danau Loon. Aku memiliki bayangan-bayangan pembuka itu tentang sebuah kereta dengan rel pribadi di atas trek tunggal di malam hari menanjak melalui Adirondacks dengan sekelompok gangster di dalamnya, dan seorang gadis cantiK berdiri, telanjang, memegangi sebuah busana berwarna putih tepat di hadapan cermin untuk mengetahui apakah dia harus mengenakannya.

Aku tak tahu darimana para gangster itu berasal. Aku tahu kemana mereka akan pergi-ke kamp seorang lelaki kaya. Bertahun-tahun lalu orang yang sangat kaya raya menemukan alam liar di pegunungan paling timur Amerika. Mereka membangun kamp yang sangat luar biasa itu-C. W. Post. Harriman, Morgan-mereka menjadikan alam liar itu kemewahan bagi mereka sendiri. Jadi aku membayangkan sebuah kamp semacam ini, dengan para gangster itu, orang-orang kelas bawah itu pergi ke atas menumpang sebuah kereta dengan rel pribadi. Itulah yang membuatku memulai. Aku mempublikasikan materi ini di Kenyon Review, tetapi aku tidak terpuaskan.

Aku terus berpikir tentang bayangan-bayangan itu dan merasa heran darimana hal itu berasal. Latar waktunya adalah tahun 1930an, benar-benar saat terakhir seseorang dapat memiliki jalur kereta mobil pribadi, seperti halnya saat ini orang-orang memiliki jalur jet pribadi. Terjadi sebuah krisis ekonomi saat itu, jadi orang yang menyaksikan kereta yang mengagumkan ini pastilah seorang tunawisma, seorang pejalan kaki. Lalu aku mendapatkan karakterku, Joe, diluar sana dalam kedinginan cuaca seperti ini, kegelapan semacam ini, melihat lampu utama mesin itu menuju kelokan dan membutakannya, dan kemudian selagi kereta itu berlalu menyaksikan orang-orang itu di meja-meja dengan tabir hijau disuguhi minuman-minuman dan gadis itu berdiri di sebuah kamar kompartemen menggenggam gaunnya. Dan pada saat fajar, dia mengikuti lintasan ke arah kereta itu berlalu. Dan dia pergi dan berlari, dan begitu pun diriku.

*) E. L. Doctorow

Continue Reading

Tabloids

Cara Terbaik agar Tidak Gagal Menulis Novel

mm

Published

on

Kecuali jika kau seorang Henry James, hal tersuit adalah memikirkan kalimat pertama.

Apa yang sulit dengan kalimat pertama hingga kau terjebak dengan itu. Segala hal yang lainnya akan mengalir dari kalimat itu. Dan saat kau sudah menuliskan dua kalimat pertama, pilihan-pilihanmu sudah menghilang.

Benar sekali, dan kalimat terakhir dalam sebuah karya adalah sebuah petualangan lain. Kalimat itu harus membuka ceritanya. Ia harus membuatmu kembali dan mulai membaca dari halaman pertama. Begitulah seharusnya, tapi itu tak selalu berhasil. Aku berpikir tentang menuliskan sesuatu apa pun itu sebagai semacam tindakan yang berisiko tinggi. Saat kau mulai membubuhkan kata-kata di atas kertas kau sedang menghapus kemungkinan-kemungkinan.

Kecuali jika kau seorang Henry James.

Kukira itu bagian dari dinamikanya. Aku memulai sebuah buku dan aku ingin membuatnya sempurna, ingin buku itu menghasilkan semua warna, ingin buku itu menjadi dunia itu sendiri. Sepuluh halaman berlalu, aku sudah menghancurkannya, membatasinya, membuatnya lebih sempit, merusaknya. Hal itu sangat mengecilkan hati. Aku membencinya pada saat itu. Setelah beberapa waktu aku tiba pada sebuah kesepakatan: baiklah, itu bukan buku yang ideal, itu bukan objek sempurna yang ingin kubuat, tetapi mungkin saja-jika aku terus melanjutkan dan menyelesaikannya-aku dapat memperbaikinya lain waktu. Mungkin aku bisa mendapatkan kesempatan lain.

*) Joan Didion

Continue Reading

Trending