Connect with us
MARIO VARGAS LLOSA MARIO VARGAS LLOSA

Budaya

Matinya Para Penulis Besar

mm

Published

on

Oleh : Mario Vargas Llosa

Dalam buku yang terbit baru-baru ini, Ia Mort du grand ecrivain, Henri Raczymow menyatakan bahwa kini tak ada lagi “para penulis besar”, lantaran demokrasi dan pasar bebas tak selaras dengan model para maestro intelek-tual sebagaimana direpresentasikan figure-figur seperti Voltaire, Zola, Gide, atau Sartre, dan –dengan demikian—membuktikan kematian sastra. Meski buku itu dialamatkan hanya untuk kasus Prancis saja, terang bahwa konklusi-konklusinya, jika ia kukuh, benar juga untuk seluruh masyarakat modern.

Argumen Raczymow sungguh koheren. Ia bertolak dari premis yang bisa diverivikasi: bahwa dimasa kita tiada figure tunggal dengan kebesaran yang setaraf dengan Victor Hugo, yang pancaran prestise dan otoritasnya melampaui lingkaran para pembaca dan soal-soal artistiknya dan membuatnya menjadi penjelmaan kesadaran public, sebuah artikep yang ide-idenya, pendapat-pendapatnya, cara hidupnya, gesturnya, dan obsesi-obsesinya menjadi model tauladan bagi masyarakat luas. Adakah para penulis yang hidup sekarang bisa menginspirasi bagi suatu pemujaan fanatic yang dapat membikin para pemuda pinggiran rela mati demi Hugo, sebagaimana dilaporkan Valery?

Menurut Raczymow, untuk menimbulkan pemujaan semacam itu berkembang, sastra mesti menempati wilayah suci, memendarkan aura magis dan memainkan peran bak agama, sesuatu yang, dia bilang, mulai berlangsung selama masa Pencerahan, saat filsuf-filsufikonoklastik, selepas merobek Tuhan dan para Santo, meninggalkan ruang kosong yang menunggu diisi oleh para pahlawan sekular.

Para penulis dan seniman adalah para nabi, mistikus, dan superman dari masyarakat baru yang terdidik dalam kepercayaan bahwa seni dan karya sastra mempunyai jawab untuk segalanya dan dapat mengekspresikan, lewat para praktisinya, dorongan-dorongan luhur spirit kemanusiaan. Atmosfer dan kepercayaan-kepercayaan ini membantu perkembangan karier-karier seperti halnya pahlawan-pahlawan religious, disertai dengan pemujaan, fanatisme dan ambisi yang nyaris adimanusiawi. Dari sini dapatlah dimengerti mencuatnya para pengarang besar seperti Flaubert, Proust, Balzac, dan Baudelaire—yang,meski berbeda satu sama lain—namun berbagi keyakinan antara mereka (yang juga dibagi dengan para pembacanya), bahwa mereka berkarya untuk generasi mendatang dan bahwa ouvre mereka akal hidup lebih lama ketimbang mereka sendiri, bakal melayani serta memperkaya kemanusiaan, atau, seperti yang dikatakan Rimbaud, untuk “merombak kehidupan”, dan akan menjustifikasi keberadaan mereka bahkan lama setelah mereka tiada.

Mengapa tak ada penulis yang kontemporer yang seperti para pendahulu mereka dengan semacam janji keabadian? Sebab semuanya percaya bahwa sastra tak kekal melainkan bisa binasa dan bahwa buku-buku ditulis, diterbitkan dan dibaca (kadang-kadang), dan kemuddian lenyap selamanya. Ini bukan ekspresi sebuah kepercayaan, seperti seseorang yang menganggap sastra sebagai sesuatu yang luhur dan baka dan sebuah pantheon bagi gelar-gelar yang tak dapat dihancurkan, melainkan suatu kenyataan objektif: hari-hari ini buku bukanlah paspor menuju keabadian melainkan budak-budak kakinian (“kedisinian dan kekinian”, kata Raczymow). Mereka yang menulis buku-buku macam begitu telah ditampik dari gunung Olympus di mana mereka dimahkotai, terlindung dari kesementaraan hidup yang sekedar ,dan setaraf dengan “masyarakat kota yang membeku” dalam demokrasi, yang memberontak pada aristokrasi Ruben—dan juga Flaubert, bagi siapa impian demokrasi berarti “mengangkat derajat kaum pekerja kepada taraf yang sama dengan bestise sebagi borjuis kecil”

Dua mekanisme masyarakat demokratif berkontribusi pada pengotoran sastra dan menjadikannya produk yang murni industrial. Pertama, bersifat sosiologis dan cultural. Pengangkatan derajat warga Negara, punahnya kaum elit, mantapnya toleransi – hak untuk “berbeda dan abai”—dan perkembangan selanjutnya dari individualism dan narsisme telah menghapuskan kesenangan kita akan masa lalu dan keasyikan kita dengan masa depan, memusatkan perhatian kita pada masa kini dan membeokkan kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan mendesak kita kedalam tujuan utama. Korban dari kekinian ini adalah ruang suci, realitas alternative yang tak lagi memiliki alternative yang terlagi memiliki alasan untuk hadir tatkala komunikasi, entah puas entah tidak, menerima dunia yang kita huni ini sebagai satu-satunya dunia yang mungkin dan menampik “kelainan” dalam mana kreasi-kreasi sastra ditandai dan beroleh ruang. Di suatu masyarakat yang semacam ini, buku-buku mungkin beredar, tetapi sastra mati.

Mekanisme yang lain bersifat ekonomi. “Duhai, tak ada demokrasi, yang terpisah dari pasar!” ujar Raczymow. Dengan kata lain, buku, yang digayuti statusnya sebagai objek religious dan mistik, menjadi semata barang dalam kemuliaan hingar-bingar naik dan turun,– hukum besi—dari permintaan dan penawaran, sehingga “buku adalah sebuah produk, dan sebuah produk menghilangkan produk lainnya, bahkan bila buku-buku itu ditulis pengarang yang sama”. Efek dari pusaran di mana tak ada buku yang tinggal, semuanya berlalu dan tak kembali lagi, adalah pendangkalan sastra; sejak ini karya sastra diperlakukan hanya sebagai produk bagi konsumsi sementara, hiburan remeh-temeh, atau sumber informasi yang lekas menjadi aus segera setelah dimunculkannya.

Tentunya, instrument penting demokrasi adalah televisi, bukan buku. Televisi membelokkan dan merontokka tingkatan-tingkatan masyarakat, menjejalkan pada kita humor, emosi, seks, sentiment yang kita butuhkan agar kita tak merasa jemu. Layar kecil telah disusun untuk memenuhi ambisi besar yang senantiasa menyala di jantung sastra dan tak pernah dipuaskan oleh sastra: untuk merengkuh setiap orang, untuk embuat seluruh masyarakat ambil bagian dalam “kreasi-kreasi”-nya.

Dalam “kerajaan permainan nartistik”, buku-buku akan sepenuhnya terbuang, walau tak berarti akan menghilang. Buku-buku akan terus menyebar, akan tetapi akan kosong dari substansinya yang dulu dan akan menikmati keberadaan dari kebaruan-kebaruan yang genting dan terapung, berbaur bersama dan dapat dipertukarkan dalam lautan yang khaos dimana sebuah kebaikan karya diputuskan oleh kampanye publisitas atau bakat-bakat teatrikal si pengarangnya. Demokrasi dan pasar telah merancang sebuah belokan lain: sekarang tak ada lagi opini public melainkan hanya public, munculah para penulis bintang—yang memberikan prestise   pada buku, dan bukan sebaliknya, sebagaimana terjadi pada masa lampau. Walhasil, kita sampai pada taraf degradasi yang suram yang telah diantisipasi dengan baik oleh Tocqueville: sebuah era para penulis yang “memilih sukses ketimbang jaya”.

Meskipun saya tak sepenuhnya berbagi pesimisme yang sama dengan pandanga Reczymow ihwal nasib sastra, saya membaca bukunya dengan sangat antusias, karena tampak bagi saya bahwa di menunjukan jemarinya pada persoalan yang kerap terabaikan: aturan baru jagat modern, masyarakat terbuka yang memaksakan norma-normanya pada para pengarang. Betul bahwa tipe penulis mandarin tak lagi punya tempat dalam dunia kita hari ini. Figur-figur seperti Sartre di Prancis atau Ortega y Gasset dan Unamuno di zaman mereka, atau Oktavio Paz, berlaku sebagai para pembimbing dan guru segala tentang segala isu penting dan memenuhi panggilan yang hanya “penulis besar” yang mampu memenuhinya, entah karena sedikitnya orang yang berpartisipasi dalam kehidupan public, karena demokrasi belum berjalan, atau karena sastra memiliki status mistik.

Dalam masyarakat bebas, pengaruh yang di pancarkan para penulis—yang terkadang bermanfaat—pada “masyarakat patuh” sungguh tak lagi berharga: kerumitan dan keanekaan masalah yang muncul mengakibatkan para penulis sekedar bual omong kosong jika dia mencoba memberikan opininya tentang segala ihwal. Opininya dan posisinya mungkin sangat layak dipikirkan, akan tetapi tak lebih layak dipikirkan ketimbang opini dan posisi dari propesi lainnya—saintis, para teknisi atau para professional—dan dalam banyak kasus, opini-opininya mesti ditimbang berdasarkan kebaikan-kebaikannya sendiri dan tak langsung diamini semata karena itu berasal dari seseorang yang tulisannya bagus. Pengotoran pribadi penulis ini tak terlihat buruk oleh saya, sebaliknya, ia mendudukan perkara pada tempatnya yang mustahak, sebab benar bahwa seseorang yang berbakat dalam penciptaan karya sastra dan mampu menulis novel-novel keren, atau sajak-sajak cantik, tak selalu secara umum berpikiran cerdas juga.

Saya pun tak percaya bahwa kita harus mengoyak pakaian kita karena,sebagaimana dikatakan Reczymow, dalam masyarakat demokrasi modern sebuah novel mestilah “membelokkan” dan “menghibur” untuk menjustifikasi keberadaannya. Bukankah karya-karya sastra yang paling kita kagumi selalu menjalankan fungsi itu dengan sungguh-sungguh –buku-buku seperti Don Quixote atau War and Peace atau The Human Condition yang kita baca dan baca lagi dan tiap-tiap menyihir kita seperti saat pertama kali membacanya? Betul bahwa dalam masyarakat terbuka dengan puspa ragam mekanisme untuk mempertunjukkan dan memperdebatkan aneka persoalan dan aspirasi kelompok-kelompok sosial,sastra mesti menghibur atau ia akan segera binasa. Akan tetapi, sesuatu yang menggelikan dan menghibur tak bisa dipertentangkan dengan keketatan intelektual, keberanian imajinatif, penerbangan bebas fantasi atau keanggunan ekspresi.

Alih-alih meluncur ke dalam depresi atau menganggap diri sebagai sesuatu yang aus yang ditampik modernitas, para penulis masa kini mestinya merasa terangsang oleh perubahan hebat dalam penciptaan sastra yang bermakna bagi zaman kita dan dapat merengkuh public pontensial yang luas, yang menunggu, dan mengetahui itu, bersyukurlah pada demokrasi dan pasar, sebab begitu banyak orang kini yang bisa membaca dan membeli buku, sesuatu yang tak bakal terjadi dimasa lampau ketika sastra dianggap agama dan penulis disebut Tuhan kecil terhadap siapa “minoritas tak tepermanai” mempersembahkan penghormatan dan pemujaannya. Tak diragukan lagi, tirai telah jatuh menimpa para penulis narsis dan para pemberi wejangan, namun pertunjukan dapat terus berlangsung bila para penggantinya berusaha untuk tak terlampau pretensius dan sangat menggelikan. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Budaya

Masih Adakah “Simfoni Hati” di Jakarta?

mm

Published

on

simponi hati di jakarta

Oleh: Sabiq Carebesth*

Selalu saja ada seseorang yang tertawa lepas dalam kegelapan, mengeluarkan serangkain lelucon dan sindiran-sindiran tajam–bahwa kota seharusnya jangan pernah disalah artikan oleh kata-kata yang menjelaskannya.

Itulah gambaran dan pengertian kota-kota “imajiner” milik Italo Calvino dalam bukunya “Invisible Cities”. Mirip dengan kota Jakarta milik (anda)? Apakah Jakarta memiliki tanda?

Di jakarta, tawa yang paling lepas adalah tawa dari mulut yang paling berbusa menyembunyikan derita. Tawa lepas dalam kegelapan nun muram rumah kontrakan, jembatan panjang, gubuk liar yang menunggu gusuran; tawa yang menertawai keterbahakannya sendiri pada apa yang terjadi dan ada di Jakarta. Rentetan ironi yang disampaikan melalui kebohongan benda-benda sebagai penanda yang membuat tawa lepas dan kebahagiaan berganti rupa menjadi keterasingan, dan tak jarang ketragisan.

Itulah tanda-tanda Jakarta yang tak pernah bohong; ke-tragis-an dan keterasingan jiwa modern yang ironis. Sementara  benda-benda yang berjuang menjadi “tanda” seperti halnya lukisan, kerap gagal menangkap kebohongan yang disampaikan oleh alasan keberadaan benda-benda tak terkecuali lukisan dan gagasan di dalamnya.

Lukisan tentang kota seperti Jakarta, mestinya adalah meditasi yang sublim yang dengan kemampuan meditasinya mengambil jarak dari realitas sekaligus pada saat yang sama menancapkannya lebih dalam ke dalam; kenyataan.  Zaman terus berubah, meninggalkan ironi dan ambivalensi, seni menangkapnya, tapi sekaligus memberinya harapan. Itulah kritik ringan saya sebagai penonton lukisan dalam pameran bersama Art Venture IV, bertemakan “Ada Apa Jakarta” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada 21-29 Agustus 2013.

SALAH ARTI

Simbol tentang Jakarta kerap atau bahkan selalu dihadirkan dalam medium visual seni yang muram (tapi nyatanya jakarta terang benderang), kumuh dan marjinal (tapi Jakarta adalah pusat dalam banyak pengertian dan anda bisa lihat berapa mega Mall yang setiap menit lantainya dibersihkan); jakarta adalah sungai dengan kanal-kanal air yang hitam, rentetan musim yang kerap berarti banjir, di Jakarta kita juga melihat kehidupan “Indonesia” di pinggir kali (keragaman etnik dimana wajah Indonesia kasat mata di bantaran CIliwung).

Secara khusus dan terbanyak Jakarta lazim dikenali sebagai simbol bagi kemacetan; baik jalan raya, atau juga kemacetan dalam hal sosio-kultural seperti kemacetan pikiran, keterbukaan, kemanusiaan yang sebenarnya bukan hanya macet, tapi bahkan nyaris involutif atau sebutlah, padat merayap (tapi Jakarta juga mimpi paling absah dari setiap impian yang progres, bahkan di Jakarta orang-orangnya berjalan cepat-cepat; dan semua yang serba cepat dari informasi, politik, bisnis, transaksi, mode) Jakarta adalah tempat yang menghendaki serba cepat, tapi kadang juga karena sempitnya tempat, Jakarta juga bisa berarti berhimpit-himpit, himpitan, atau terhimpit.

Hal terakhir misalnya tampak pada karya “Maaf…Ada Hajatan!” karya Afriani. Lukisan yang menggambarkan bagaimana orang di Jakarta tak memiliki tempat di halaman rumahnya untuk menggelar hajatan kecuali dengan menutup akses publik berupa jalan umum.

Dalam pameran Art Venture IV juga terlihat lukisan Rizal MS dan Triyono Budhi tentang keberadaan kaum marjinal di kota Jakarta. Gabriella Indira Satri yang menampilkan lukisan tentang banjir. Nisa Anggraini dengan gaya naif melukiskan jalan-jalan Jakarta yang macet. Yudi Hermunanto dengan lukisannya yang berjudul “Selamat Datang Aja Deh!”. Ada pula Arina Restu Handari yang menggambar ondel-ondel, serta R Sahyo yang menggambarkan suasana pasar rakyat. Lukisan yang lain hampir serupa dalam menggarap tema “Ada Apa Jakarta”, para perupa masih tampak menggambarkan Jakarta sebagaimana pandangan kebanyakan orang dimana bisa kita katakan: “demikianlah adanya jakarta.” Apakah nada itu terlihat pesimis dan “salah tafsir”?

Sebagai lukisan, teknik dan hasil yang tervisualkan lebih dari sekedar bagus, melainkan menampilkan suatu cita rasa estetik yang berhasil hampir dalam semua lukisan yang dipamerkan; dimana pengunjung, setidaknya saya, dibuat berdiri mematung menikmati keindahan, dan separuh dari tindakan mematung adalah merefleksikan Jakarta dengan segala apanya. Kemudian saya merasa bahwa tema dan gagasan dalam melihat Jakarta masih bergantung pada ungkapan-ungkapan aksara dan wicara yang lazim membuncah di Jakarta baik di berita koran, TV atau di kehidupan sehari-hari.

Ada sisi lain yang tak saya dapatkan dari Jakarta dimana saya berharap dunia lukis bisa memberikannya. Inilah yang saya sedikit merasa harus memberi catatan, sebagai pengunjung dan penduduk Jakarta. Saya ingin bertanya, selain kebohongan realitas melalui simbol-simbol aksara dan wicara, masih adakah romansa di Jakarta?  Dimana tempatnya cinta kasih di tengah ibu kota yang serba cepat, banjir, orang-orang yang terpinggirkan, masyarakat yang minim ruang publik, bagaimana kemanusiaan di jakarta di rawat bila tak dengan hati? Jadi masih adakah simfoni hati di Jakarta?

“SYIMPONI HATI”

Sampai di ruangan dalam di penghujung gedung Galeri Cipta memajang sebuah lukisan besar berjudul “Melawan Trend” karya Afriani yang dengan baik mewakili tema ironis dalam “ada apa jakarta”, juga gagal memberi saya kepastian bahwa di Jakarta, soal perasaan, hati dan kenangan dalam romansa; masih bisa dilukiskan.

Saya mencari dengan perasaan nyaris kecewa karena berpikir hanya akan mendapati jajaran lukisan dari kombinasi cat dan visualisasi ide yang kritis atas sebuah, sebenarnya—tema kehilangan, dari Jakarta yang terus berevolusi secara cepat sebagai kota metropolis yang super konsumtif dalam berbagai hal.

Namun harapan saya akhirnya lunas di hadapan sebuah dinding yang memajang tiga lukisan dengan media Acrylic on Canvas karya Yul Hendri. Salah satu dari tiga lukisan karya Yul berjudul “Syimponi Hati”. Dan rupanya “Syimponi Hati” masih ada di Jakarta yang serba ironis dan tragis, kebanyakan ambivalen dan dipenuhi paradoks pada realias dan simbol kehidupan sosial budayanya.

“Syimponi Hati” karya Yul Hendri mungkin bukan lukisan terbaik yang ada dalam ruangan besar Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki malam  itu, tapi lukisan itu menyelamatkan perasaan dan kognisi kehidupan Jakarta. Bahwa di atas segala perubahan sosial dan kultural sebuah kota yang nyaris sama imajinernya dengan mimpi-mimpi manusia di dalamnya sehiangga hampir sebagian dari realitas di kota seperti Jakarta adalah realitas yang bohong, hati tetap adalah monumen penting bagi penanda kehidupan kota yang jujur, sebuah syimponi tentang romansa zaman dari sebuah kota bernama Jakarta.

Akhirnya, apalah Jakarta bila tanpa syimponi dari hati manusia yang senantiasa bergetar pada seni? Barangkali memang benar, di kota kebohongan tak pernah terletak pada kata-kata, namun ada di antara benda-benda. Tanpa simfoni hati, Jakarta hanya akan menjadi benda-benda mati yang tak pernah bisa berkata-kata untuk menyusun kenangannya sendiri yang kerap sendu. Serupa kesenduan dari “syimphoni hati” Yul Hendri; kesenduan yang tak lagi mencari penawar kelapangan atau keluasan, tapi kesenduan yang sudah diterima sebagai bagian dari simfoni hati yang dibunyikan oleh biola jiwa, yang terhimpit di Jakarta.[]

SABIQ CAREBESTH

Penyair, Pecinta Buku dan Kesenian, Editor “Galeri Buku Jakarta”

*Artikel ini pernah dimuat di harian Jawa Pos, 2013.

Continue Reading

Budaya

Aroma Sastra dan Literasi di Paris

mm

Published

on

Sastra dan Literasi di Paris

Mbak Lona Hutapea, penulis buku Paris C’est Ma Vie dan Voila La France, yang juga pernah tinggal di Paris, merekomendasikan saya untuk merasakan aroma sastra di kafe-kafe kota Paris. Nah, saat berkesempatan mampir di Paris beberapa waktu lalu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat yang direkomendasikan mbak Lona tersebut.

Dari banyaknya kawasan, ada satu daerah yang wajib dikunjungi para pecinta literatur. Nama daerahnya Latin Quarter, yang menurut sejarah adalah tempat mangkal dan kongkow para sastrawan dan seniman Eropa selama beratus tahun. Dahulu, para filsuf. seniman, artis, dan sastrawan, berkumpul di kafe-kafe daerah itu dan melakukan aneka diskursus intelektual. Ada pemikiran yang melawan arus, bahkan ada yang revolusioner. Tak heran, pergerakan filsafat dan sastra marak dan kerap bangkit di Paris. Nama-nama filsuf besar seperti Sartre, Simone de Beauvior, Oscar Wilde, Voltaire, Victor Hugo, adalah deretan nama yang pernah nongkrong di berbagai kafe kota Paris.

Saya selalu meyakini bahwa perjalanan panjang diskursus intelektual di satu area adalah energi yang terus melekat selama bertahun-tahun. Karena itulah, saat memasuki kafe atau sudut-sudut tua kota Paris, aura dan nuansa sastra intelektual terasa begitu kental dan menyesap.

Saya kemudian berhenti di satu toko buku legendaris yang menjadi salah satu ikon literasi Paris. Bagi saya, inilah sanctuary for book and literature lover in Paris. Surga bagi pecinta buku dan literasi di Paris. Nama tokonya Shakespeare and Co. Sayapun pergi ke sana, dan hanyut tenggelam di toko buku itu. Meski terlihat kecil dan tua, toko buku yang didirikan sejak tahun 1922 ini sarat dengan kisah. Para sastrawan dan penulis dunia, seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald, dulu sering kongkow dan menelurkan karya2 dari toko kecil ini. Koleksi literaturnya juga luar biasa.

Sebenarnya, toko asli Shakespeare and Co didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, pada tahun 1919di Rue Dupuytren. Pada tahun 1921, toko buku ini pindah ke tempat yang lebih besar, dan buka hingga tahun 1940, sebelum Perang Dunia ke-II. Setelah itu toko buku ini ditutup. Barulah pada tahun 1951, David Whitman membuka kembali toko buku ini. Saat ini, toko buku dikelola oleh putri dari David Whitman, yaitu Sylvia Whitman.

Memasuki toko buku kecil, yang terletak di bawah bayang-bayang Gereja Notre Dame Paris tersebut, kita seolah diajak berjalan dalam mesin waktu. Suasana Bohemian langsung terasa. Rak-rak buku model kayu, klasik, dipenuhi oleh koleksi aneka buku second hand -berbahasa Inggris, yang ekstensif. Toko ini juga memiliki beberapa kamar kecil, yang dulu jadi tempat bermalam para sastrawan dan seniman. Kadang bayarannya bukan uang, melainkan kewajiban mereka membaca satu buku dalam sehari, dan mendiskusikan isinya bersama-sama. Sungguh sangat kaya literasi.

Bagi para pecinta literasi, perjalanan ke Paris wajib mampir ke Shakespeare and Company. Dari toko kecil ini kita bisa belajar, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang kaya membaca, menulis, dan budaya. Perancis dibangun juga oleh literasinya yang kaya. Tak banyak toko buku dan penerbit di Indonesia yang bisa berumur ratusan tahun. Tapi kita bisa memulai dan merawat yang sudah ada. Untuk Indonesia yang lebih baik dan kaya literasi.

Usai memilih buku, kita bisa duduk2 membaca di kafe2 bersejarah yang tersebar di seputaran situ. Ada satu kafe yang konon merupakan kafe tertua di sana, letaknya tak jauh dari Shakespeare. Namanya Le Procope. Silakan bungkus buku yang baru anda beli, bawa ke La Procope, kemudian pesanlah secangkir kopi. Nikmati aroma sastra dan literasi di Paris yang indah. (By: Junanto Herdiawan http://junantoherdiawan.com)

Continue Reading

Budaya

Menyusuri La Rambla, Barcelona

mm

Published

on

La Rambla Barcelona

BARCELONA , kota terbesar kedua di Spanyol, memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Ibu kota daerah otonom Catalan itu terletak di tepi Laut Mediterania dan memiliki sejarah panjang.

Salah satu tempat yang menarik dikunjungi adalah kawasan La Lambla. La Rambla merupakan jalan sepanjang 1,3 kilometer yang terbentang dari alun-alun Plaza Catalunya hingga pelabuhan lama Barcelona, Port Vell.

Plaza Catalunya merupakan pusat kota yang digunakan untuk berbagai kegiatan warga. Plaza ini digunakan warga mulai sekadar berjalan-jalan hingga berdemonstrasi.

Baik warga lokal maupun turis senang menyusuri jalan yang disebut-sebut sebagai jalan paling tersohor di Barcelona ini. Di ujung jalan yang paling dekat dengan Plaza Catalunya, ada air mancur. Menurut legenda, siapa yang minum dari air mancur ini akan terus kembali ke Barcelona. Tak heran kalau banyak turis mencobanya.

La Rambla memang nyaman untuk orang berjalan kaki. Jalan ini lebar dan bagian tengahnya khusus untuk pejalan kaki. Sementara di kanan kirinya untuk jalur mobil dan motor. Semua pemakai jalan ini tertib pada jalurnya.

Jadi, tak ada motor yang nyelonong masuk ke area pejalan kaki. Sepanjang tepian jalur mobil dan motor, banyak bangunan tua. Bagian bawah bangunan pun dimanfaatkan untuk toko, restoran, sampai tempat penukaran uang.

Meski nyaman, kita harus tetap waspada saat berjalan-jalan di kawasan ini. Maklum, seperti umumnya kota besar dunia, Barcelona pun tidak bebas dari para pencopet.

Musim semi

Pada hari Minggu akhir Februari lalu, walaupun matahari bersinar, suhu Barcelona pada musim semi berkisar 9-13 derajat celsius. Meski waktu itu siang hari, bagi warga Jakarta yang biasa hidup dengan suhu 27-30 derajat celsius, Bercelona terasa dingin.

Jaket dan topi wajib kita pakai untuk menahan angin. Selain menikmati pemandangan dan bangunan tua, berjalan-jalan di La Rambla juga memberi kita gambaran gaya berpakaian warga setempat.

Sementara di kanan kiri jalur pejalan kaki terdapat kafe-kafe kecil. Mereka menggelar meja-meja dengan payung. Untuk menahan dingin, beberapa kafe menyalakan perapian kecil di antara meja-meja. Beberapa kafe menambah tenda plastik transparan untuk menahan terpaan angin.

Tidak hanya kafe, di La Rambla juga banyak pelukis yang menawarkan jasa. Hanya dalam waktu sekitar 5 menit, gambar karikatur pemesan selesai mereka kerjakan.

Kios-kios suvenir juga banyak terdapat di La Rambla. Suvenir berbentuk magnet, misalnya, dibanderol seharga 3-10 euro. Suvenir khas dari Barcelona adalah salamander gaudi. Di sini tubuh salamander yang mirip kadal itu, ditempeli mozaik berwarna-warni.

Gaudi adalah nama arsitek terkenal Barcelona. Dia antara lain membuat Parc Guell. Di taman yang dilengkapi rumah ini, terdapat salamander raksasa, makhluk rekaan Gaudi yang disebut El Drag. Bentuk inilah yang kemudian menjadi salah satu suvenir khas Barcelona.

Setelah melewati deretan kios suvenir dan menyeberang jalan kita bertemu monumen Columbus atau Mirador de Colon, dalam bahasa setempat. Christopher Columbus adalah pelaut Genoa, Italia, yang mendapatkan dukungan dari raja-raja Spanyol untuk menemukan dunia baru. Tinggi monumen ini sekitar 50 meter dengan patung Columbus di puncaknya. Di dalam monumen ini ada lift yang membawa kita melihat pemandangan kota dari puncaknya.

Pelabuhan

Hanya beberapa meter dari monumen, kita menjumpai pintu masuk ke Port Vell, yang berarti pelabuhan lama dalam bahasa Catalan. Banyak keluarga menghabiskan akhir pekan di sini bersama burung-burung camar yang beterbangan. Jembatan gantung kayu, Rambla de Mar, menghubungkan ujung La Rambla dengan Moll d’Espanya.

Di mal tersebut terdapat restoran, toko, dan akuarium air laut yang diklaim terbesar di Eropa dengan koleksi 8.000 ekor ikan. Di kawasan pelabuhan ini, kita bisa menyewa becak wisata untuk berkeliling kawasan ini. Tarif becak wisata itu sekitar 65 euro per tiga jam untuk dua penumpang.

Selain La Rambla, tempat yang ”wajib” kita kunjungi adalah Camp Nou. Inilah markas klub sepak bola Barcelona, Barca. Merek klub sepak bola Barcelona ini dianggap sebagai yang paling kuat di seantero Spanyol.

Orang asing boleh bingung letak Spanyol, tetapi ketika disebut Barca, mereka biasanya langsung paham. Kabarnya rumput di lapangan sepak bola ini sering dicuri orang untuk dijadikan jimat pendukungnya. Mungkin karena itulah, kawasan ini dijaga ketat. Pada musim dingin rumputnya ditutup, bahkan diberi penghangat agar dapat tumbuh baik.

Matahari musim semi sudah tergelincir. Perjalanan Minggu siang di La Rambla dan Camp Nou cukup menjadi alasan kita untuk kembali ke Barcelona…. (Joice Tauris Santi)

Continue Reading

Trending