Connect with us

Buku

Manusia dalam Belenggu Kecanggihan Teknologi

mm

Published

on

Pihak yang juga mengambil keuntungan dari teknologi ini adalah pemilik modal atau pengusaha. Sebab, kapitalisme saat ini tidak lagi berbasis alat produksi berat seperti mesin-mesin di pabrik. Kapitalisme saat ini adalah berbasis data. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dengan data yang terkumpul, pengusaha akan tahu apa keinginan konsumen, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh masyarakat, dan terus mengulangi fase itu. Bagaimana perkembangan teknologi informasi seperti halnya Facebook mengeksploitasi manusia? Apa manfaat dan nilai falsafi yang bisa dipetik manusia abad ini darinya?

______

Virdika Rizky Utama *)

Dalam sejarah, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Perubahan hadir dari interaksi atau konflik yang terjadi antarmanusia. Oleh sebab itu, manusia merupakan pelaku utama dalam terciptanya sejarah dan perubahan. Termasuk perubahan yang sedang terjadi di abad ke-21 atau sering dianggap sebagai abad teknologi.

Ketika teknologi menjadi sangat dominan di abad ke-21, apakah manusia masih dapat dikatakan sebagai aktor pembuat pembuat sejarah dan peradaban? Apa masalah saat manusia dalam menghadapi perubahan dan bagaimana menyikapi perubahan? Lantas, siapa yang diuntungkan dari kemajuan teknologi ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang menjadi tesis utama buku terbaru Harari ini. Tak seperti buku sebelumnya Sapiens (2011) yang membahas sejarah umat manusia dan Homo Deus (2015) yang membahas masa depan umat manusia, 21 Lessons for the 21st Century membahas situasi terkini yang dihadapi oleh manusia.

Kendati, banyak kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Harari menyatakan dunia sebenarnya sedang terjadi krisis, masalahnya tak banyak manusia yang menyadari krisis itu. Dari sekian banyak krisis yang disoroti oleh Harari, krisis interaksi antarmanusia layak menjadi perhatian utama. Hal itu tentu sangat mengherankan. Musababnya, interaksi dan kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan dasar yang membuat manusia bisa bertahan hidup dibandingkan dengan simpanse, bonobo, dan makhluk semacamnya.

Celakanya, awal dari krisis itu berawal dari sebuah penemuan besar manusia dalam bidang bioteknologi dan informasi teknologi yang menyatu dalam sebuah kecerdasan buatan. Menurut Nick Bostrom (2016), awal pembentukan kecerdasan buatan adalah untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi alat untuk memecahkan permasalahan yang ada. Hal yang harus diperhatikan juga, kata Nick, teknologi-teknologi itu saling berinteraksi, terhubung, dan terus menyempurnakan sehingga menjadikannya sangat kuat dan hampir tak pernah melakukan kesalahan.

Namun, seiring jalannya waktu, justru manusia yang terkontrol oleh kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan yang semestinya menjadi alat untuk memecahkan masalah, berubah menjadi tujuan. Mungkin kita sering dengar pernyataan “Apapun kebutuhan kita, tanyakan saja pada Mbah Google.” Hal ini menunjukkan, manusia sudah kehilangan otoritas dirinya dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Contoh sederhananya adalah Google Maps. Saat ini, manusia lebih percaya dengan Google Maps dibandingkan kemampuan manusia untuk mencari tahu sendiri jalan. Sekali kita melakukan aplikasi tersebut, sistem kecerdasan buatan di dalamnya—yang disebut algoritma— akan menyerap informasi tempat mana saja yang sering kita tuju. Tak butuh waktu sampai satu bulan, Google Maps dengan sendirinya akan memunculkan pilihan-pilihan tempat yang akan kita tuju. Sekali saja teknologi itu mengalami gangguan dan tak bisa digunakan, maka selesai sudah kemampuan manusia untuk mencari jalan.

Disadari atau tidak, contoh tersebut mengindikasikan bahwa manusia sedang dan terus dikontrol oleh teknologi yang terus berjejaring dan terakumulasi dalam Big Data (hlm.49). Akibatnya, teknologi jauh lebih mengetahui siapa diri kita dibandingkan diri sendiri. Sayangnya, Big Data sering dimanfaatkan oleh pemerintah dan pengusaha untuk mengetahui serta mengontrol kegiatan dan keinginan masyarakat atau warga negara. Bukan untuk mencipatakan kesejahteraan dengan menyerapkan keinginan masyarakat, melainkan untuk menjinakkan dan menjadikan masyarakat hanya sebagai konsumen.

Judul Buku : 21 Lessons for the 21st Century Penulis : Yuval Noah Harari Penerbit : Spiegel & Grau Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2018 Tebal : xix+372 halaman

Jadi, sebenarnya warga negara tak memiliki kehendak bebas atau kebebasan meskipun hidup di negara demokratis. Sebab, pemerintah akan selalu mengawasi setiap gerak warganya. Pemerintah juga akan mengetahui dan menjinakkan keinginan warga yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Bahkan, tak jarang, data-data tersebut akan dimanfaatkan oleh politisi untuk memetakan dukungan dan memenangkan kontestasi politik. Alhasil, kehendak bebas yang dimiliki manusia dan menjadi dasar demokrasi hanya tinggal mitos belaka.

Selain itu, pihak yang juga mengambil keuntungan dari teknologi ini adalah pemilik modal atau pengusaha. Sebab, kapitalisme saat ini tidak lagi berbasis alat produksi berat seperti mesin-mesin di pabrik. Kapitalisme saat ini adalah berbasis data. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dengan data yang terkumpul, pengusaha akan tahu apa keinginan konsumen, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh masyarakat, dan terus mengulangi fase itu.

Oleh sebab itu, kita sangat asyik dengan tawaran-tawaran yang hadir dihadapan layar gawai kita dibandingkan dengan berkomunikasi dengan manusia lainnya. Hasilnya, teknologi telah berhasil membentuk kehidupan manusia baik secara individu maupun secara masyarakat umum, bukan sebaliknya seperti tujuan utama dibuatnya teknologi.

Tentu hal tersebut cukup mengkhawatirkan, sebab manusia kini tak lagi dapat menyadari apa yang sedang dihadapinya di dunia nyata yang membutuhkan kerja sama. Bukan hanya kerja sama antarmanusia, melainkan juga antarnegara seperti pemanasan global, perang, dan pengungsi. Oleh sebab itu, Harari menegaskan bahwa nasionalisme atau paham apapun yang mengatasnamakan kepentingan nasional tak lagi berguna untuk menyelesaikan masalah dunia di abad ke-21 (hlm.111).

Akhir-akhir ini, kemampuan dan kualitas interaksi antarmanusia coba ingin dikuatkan kembali oleh Mark Zuckerberg, pemilik facebook. Ia menyadari kemampuan berinteraksi manusia dalam kurun waktu satu dekade terakhir berkurang cukup drastis. Oleh sebab itu, ia berencana untuk membentuk komunitas global. Tujuannya adalah kembali menguatkan interaksi antarmanusia untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi manusia (hlm 85-86).

Keinginan Mark, sebenarnya mirip dengan yang diungkapkan oleh Noam Chomksy dalam Optimism Over Despair (2017) yang menyatakan untuk menghadapi permasalahan dunia yang mengglobal dibutuhkan berdirinya komunitas warga yang saling terkoneksi untuk memperbaiki keadaan. Chomsky menilai, komunitas jauh lebih efektif dan kontekstual dengan kondisi saat ini jika dibandingkan dengan mendirikan partai politik untuk melakukan revolusi seperti di abad ke-20.

Sayangnya, facebook merupakan sebuah perusahaan global, bukan sebuah lembaga nonprofit. Kita tak kan bisa membangun komunitas global, jika masih memiliki sifat untuk mencari keuntungan. Terlebih facebook merupakan perusahaan yang memiliki banyak data manusia dan memungkinkan menjual data tersebut ke perusahaan iklan (hal.87).

Tak hanya itu, Mark juga mesti memikirkan, manusia memiliki tubuh untuk mendengar dan merasakan. Kedua hal itu merupakan yang dibutuhkan dan juga kekuatan yang dimiliki oleh manusia. Harari mennyitat sebuah studi bahwa dalam beberapa dekade terakhir, dua kemampuan itu menurun akibat manusia lebih mementingkan apa yang terjadi di dunia maya, dibandingkan apa yang terjadi di jalan raya (hlm.89).

Terlepas dari hal itu, secara keseluruhan Harari tak juga punya sikap atau metode yang jelas untuk menghadapi krisis dan perubahan yang terjadi saat ini. Harari terkesan naif dengan menyatakan bahwa kita mesti banyak berkontemplasi untuk menemukan dan memahami pemikiran kita sendiri, sebelum teknologi membentuk pemikiran kita. Ketika manusia coba memahami dirinya sendiri, manusia akan dapat membentuk jalan pikirannya sendiri (hlm.323).

Selain itu, cara lain yang ditawarkan Harari adalah menyiapkan mental, kemampuan adaptasi, dan mempelajari hal  baru untuk menghadapi perubahan abad ke-21 (hlm. 266). Patut dicatat, cara-cara itu bukan cara baru untuk menghadapi perubahan. Cara-cara tersebut sudah dipraktikkan oleh keluarga Medici pada saat renaissance abad ke-14. Padahal, Harari berpendapat bahwa perubahan yang akan terjadi nanti lebih cepat dan berbeda dibandingkan perubahan yang sudah terjadi sebelumnya seperti aufklarung, renaissance, dan revolusi industri.

Lima puluh persen isi buku yang terdiri dari 21 bab dan terbagi menjadi 5 bagian ini  merupakan penggabungan buku Sapiens dan Homo Deus. Oleh sebab itu, jika kita sudah membaca dua buku tersebut, buku terbaru Harari ini terkesan banyak pengulangan contoh dan narasi. Kendati demikian, argumentasi, data, dan analisis yang diungkapkan Harari tetap menarik.

Manusia sepertinya perlu menempatkan kembali teknologi sebagai alat, apabila kita tak ingin terus-menerus terdomestifikasi oleh teknologi dan perubahan dibentuk oleh teknologi. Selain itu, berjejaring dan berkomunitas di dunia nyata menjadi hal penting dalam menghadapi perubahan. Dengan cara itu pula, kita setidaknya dapat berharap kembali memiliki kehendak bebas sebagai manusia, bukan hanya memilih apa yang sudah disediakan oleh teknologi yang sudah dikuasai pemerintah dan pengusaha. (*)

*) Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.TV

Continue Reading
Advertisement

Buku

Anis Hidayah dan Memoar Gelap Buruh Migran Indonesia

mm

Published

on

Sejumlah Buruh Migran Wanita berada di penampungan Tenaga Kerja Indonesia di KBRI, Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Juni 2016. / Photo by TEMPO

Mayoritas tulisan dalam buku “Di Balik Remitansi: Realitas Pelanggaran HAM terhadap Buruh Migran Indonesia” ini merupakan respon terhadap kasus-kasus buruh migran yang masih terus terjadi dengan jutaan korban yang tak terhitung, sementara di sisi lain respon pemerintah seringnya bak pemadam kebakaran sembari menyalahkan korban. Macetnya proses pengambilan kebijakan terus berlaku, sementara kasus-kasus terus berjatuhan dan memakan korban. Inisiatif menyongsong hadirnya inisiatif baru dari berbagai daerah, terutama dari desa serta kebijakan baru  hadir dengan proses berkelok-kelok dan meletihkan. Sampai kapan?

Buku “Di Balik Remitansi: Realitas Pelanggaran HAM terhadap Buruh Migran Indonesia” merupakan karya terbaru aktivis buruh migran indonesia, Anis Hidayah. Buku terbitan KPG (2019) tersebut bersumber dari kumpulan artikel Anis Hidayah di berbagai media massa seperti Seperti Kompas, Jawa Pos, Koran Sindo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Koran Tempo dan Majalah Tempo.

Dipengantari Yuniyanti Chuzaifah dan mba Lia Sciortino Sumaryono, dilengkapi komentar singkat dari beberapa tokoh seperti Menlu Retno Marsudi dan mba Eva Kusuma Sundari, buku ini menjadi salah satu yang paling otoritatif dalam membincang persoalan buruh migran indonesia khususnya dari perspektif HAM. Buku ini akan memberi kontribusi pada wawasan yang lebih lapang dan mendalam karena ditulis oleh Anis Hdayah yang berpuluh tahun bekerja mendampingi dan mengadvokasi masalah-masalah buruh migran indonesia.

Tulisan-tulisan pada keseluruhan bab dalam buku ini merupakan ekspresi kegelisahan, amarah, geregetan, desakan melihat korban dan tingkah polah pemilik otoritas yang tak kunjung menunjukkan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan dari akarnya.

*

Penulis buku ini telah bekerja untuk buruh migran sejak tahun 1996 ketika masih kuliah di Universiatas Jember. Ia tergugah melihat berita koran tentang PRT migran asal Jember yang menjadi korban perkosaan di Saudi Arabia yang tidak mendapatkan keadilan. Kisah itu seperti melempar Anis ke masa kecil, dimana ia bermain dengan anak-anak sebaya yang mayoritas orang tuanya ke Malaysia dan Saudi Arabia. Mereka diasuh oleh kakek neneknya.

Di Kampung halamanya, dusun Bendo desa Sidorejo Kec Kedungadem Bojonegoro, merupakan desa sangat miskin, mayoritas petani dan buruh migran.

“Tetangga dekat saya semuanya buruh migran. Rumah-rumah mereka terbuat dari rakitan bambu dan berlantai tanah, Malaysia dan Saudi menjadi tumpuan kehidupan mereka, karena panen padi di kampung hanya bisa sekali setahun (sawah tadah hujan). Mengingat itu semua, rasanya berkemacuk semua perasaan. Dan itu menjadi dorongan kuat bagi saya kala itu untuk bergabung dalam Solidaritas Perempuan di Jawa Timur pada tahun 1998.” Ungkap Anis Hidayah.

Memoar Luka Buruh Migran

Ketika Migrant CARE didirikan pada tahun 2004, Anis menjadi salah satu pendirinya. Ia mempunyai mimpi besar untuk memperbaiki nasib buruh migran, terutama buruh migran perempuan.

Nirmala Bonat adalah kasus pertama yang ditangani Migrant CARE pada tahun 2004. Pada medio Mei 2004, masyarakat Indonesia terguncang dengan kabar seorang gadis yang hampir tidak bisa dikenali karena luka menganga di seluruh tubuhnya, kedua payudaranya, kedua pahanya, punggunya penuh luka dengan gambar setrika.

Peristiwa tragis dan memilukan itu membuat shock, terlebih penulis buku ini ketika itu berkesempatan untuk mendampingi secara langsung di Kualalumpur.

“Saya tidak bisa lupa aroma lukanya, lekat dalam jiwa saya. Manusia semacam apa Yim Pek Ha (majikan Nirmala) yang tega menganiaya manusia lainnya. Air mata saya bahkan menetes di keyboard komputer saat mengetik kalimat ini. Saat mendampingi Nirmala Bonat, saya juga memanfaatkan untuk melihat secara lebih dekat kasus-kasus lain yang ada di shelter KBRI kala itu, tepatnya gudang bukan shelter. Ratusan gadis ada di beberapa kamar belakang KBRI, aroma anyir menyengat. Saya dekati satu-satu, tidak hanya memasang telinga, tapi jiwa saya juga berlabuh bersama mereka. Banyak yang sakit kelamin karena menjadi korban trafficking yang dijadikan pekerja seks, namun tidak memperoleh perawatan signifikan. Banyak yang sakit kuning dan bahkan ada yang meninggal karena sakit tak kunjung diobati.” Kenang Anis Hidayah.

Anis bersama pak Alex ( Migrant CARE Malaysia) kala itu menuliskan semua yang lihat dan dengar, ia mengirim surat ke menteri kesehatan Malaysia, ke Parlemen Malaysia dan konferensi pers.

Rusdi Hardjo, Duta Besar RI untuk Malaysia kala itu marah besar dan mengatakan bahwa KBRI bukan puskesmas. Namun Tuhan berkata lain, KPK akhirnya membawanya dua tahun penjara karena menerima suap perpanjangan paspor buruh migran. Majikan Nirmala Bonat akhinya di vonis 12 tahun setelah proses hukum selama 8 tahun, entah berapa kali Migrant CARE berdemo di depan Keduataan Malaysia di Jakarta.

Tak berselang lama, Ceriyati juga mengalami hal serupa di negeri Jiran, ditemukan bergelantungan di lantai 7 setelah mencoba lari dari lantai 23 dengan kain yang diikat, namun nyangkut di lantai 7. Muka dan bibir Ceriyati luka menganga karena, setiap majikannya selesai menyiksa, selalu dilumuri garam. Tak bisa dibayangkan perihnya. Mendampingi  Ceriyati menjalani proses hukum di Malaysia kala itu setiap malam membuat Anis menangis, “saya simpan air mata saya untuk malam hari, karena siang harinya bersama Ceriyati dan keluarganya (anak sulungnya autis, anak bungsunya perempuan 4 tahun).” Kenangnya.

 

Tak terhitung, berapa kasus yang telah ditangani Anis bersama kolega di lembaga Migrant CARE yang ia ikut dirikan, dan selalu, dalam situasi tidak mudah. Marah, sedih, dan harus bicara dengan pengambil kebijakan yang bebal.

Menulis adalah salah satu cara untuk mengeskpresikan semua rasa yang berkecamuk ketika mendampingi para korban. Pun demikian saat menemukan secarik kertas di pinggir jalan di Kualalumpur yang bertuliskan “ Indonesain maid now on sale” (Pekerja Indonesia di obral) dan menteri tenaga kerja waktu hanya mengatakan bahwa itu iklan iseng seperti ikaln sedot WC di Indonesia.

Hingga buku ini ditulis, Anis masih tak secuil pun menyerah dan lelah. Ia masih berada dalam ruang buruh migran yang cenderung gelap dan suram. Maka ia tak berhenti bekerja.

Direktur Eksekutif Migrant Care dan Penulis Buku di “Di Balik Remitansi” saat menerima penghargaan pada Kamis (22/1). Anis Hidayah meraih penghargaan Yap Thiam Hien 2014 karena dianggap gigih dalam memperjuangkan hak-hak pekerja migran . | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.

Selain menangani kasus, Migrant CARE juga sangat aktif mendorong lahirnya kebijakan, antara UU Nomor 18/2017 dan ratifikasi konvensi PBB tentang perlindungan buruh migran. Berbagai upaya dilakukan, terutama bagimana membawa data-data kasus yang kami tangani kepada mereka untuk memperkuat desakan. Tak berhenti di tingkat nasional, advokasi di PBB dan ILO juga kita tempuh dengan mengangkat kasus-kasus buruh migran di forum dunia.

Buku Di Balik Remitansi

Kembali kepada buku ini, Bab I dalam buku ini bertema tentang PRT Migran, Pekerja yang Tak Pernah Dianggap, berisikan tentang potret perempuan pekerja rumah tangga migran yang selama ini tak pernah dianggap pekerja, namun realitas menunjukkan mereka yang tak nampak di balik kokohnya dinding rumah majikan sesungguhnya adalah penentu nasib dari berjuta kehidupan keluarga di berbagai penjuru dunia, termasuk para presiden, menteri dan pejabatan negara lainnya. Di banyak negara, termasuk di Indonesia masih banyak yang menyebutnya sebagai “Pembantu”, maka lahirlah tulisan “Pekerja Rumah Tangga bukan Pembantu”.

Sebagai pembuka dalam bab I. Selanjutnya dalam sub bab I, Nasib Malang PRT Migran masih mengupas tentang tak kunjungnya negara ini mengambil sikap yang tegas untuk segera melindungi PRT, tak hanya menghentikan penempatan mereka ketika ada diantara mereka yang dianaya majikan. Pun demikian dalam “Perdagangan Orang di bulan Ramadhan”, bulan yang suci dan sakral di banyak negara. Namun nun jauh di sebuah negeri yang diangagap sebagai holly land (tanah suci), bulan suci Ramadhan selama ini justeru jadi momentum untuk eksploitasi para pekerja rumah tangga migran mereka dengan modus ibadah umroh.   Begitu juga tulisan “PRT Tak berhak mudik”, “Berlindung di Hutan”, “Sesat Nalar Roadmap Penghentian PRT Migran” mengeksplorasi ironis para penyumbang devisa yang mencari perlindungan di hutan.

Sementara dalam Bab Bab II, Kematian yang Mengancam, memaparkan informasi tentang masih banyaknya buruh migran terancam hukuman mati di berabgai negara, bahkan beberapa diantara mereka yang telah di eksekusi mati, seperti Ruyati. Termasuk tingginya angka kematian buruh migran yang tiap tahun lebih dari seribu nyawa yang mati sia-sia, sebagian tercatat, sebagian lagi langsung di larung ke laut. Ini khusus yang menimpa ABK (anak Buah Kapal). Tulisan-tulisan di bab II “Bermain dengan Nyawa”,

“Realitas Ruyati di balik pidato SBY”,  “Menghindarkan Ancaman Hukuman Mati”, dan “Berpijak Di atas Ombak” semuanya mengisahkan tentang nyawa yang tak lagi bermakna meski konstitusi menjaminnya sebagai hak hidup warga negara. Dalam tulisan Relaitas Ruyati di Balik Pidato SBY, sesungguhnya merupakan ekspresi kegeraman saya dimana di ILO Geneva, dalam forum perburuhan internasional yang terhormat, retorikan tentang upaya-upaya perlindungan pemerintah Indonesia kontras dengan Ruyati yang di pancung di Saudi.

Melanjutkan bab selanjutnya, dalam bab III, tentang Diplomasi Setengah Hati, ada empat artikel tentang gambaran diplomasi kita dengan negara lain. Masih terkait dengan tulisan dalam bab sebelumnya tentang Ruyati, tak lama setelah kabar duka pasca Ruyati di pancung di negeri onta, Universitas negeri terkemuka di Indonesia obral gelar doktor honoris causa untuk sang raja dari negeri tersebut. Tentu sikap itu menimbulkan pertanyaan besar: bukankah mestinya kita mengibarkan bendera setengah tiang? Kemarahan saya yang semoga juga mewakili ekspresi sebagian masyarakat Indonesia tercermin dalam tulisan

“Gelar Sang Raja dan Tragedi Buruh Migran”. Masih dalam bab III, tragedi api di KJRI Jeddah saat ribuan buruh migran tidak berdokumen berdesakan dari pagi hingga pagi karena ingin memanfaatkan amnesti (pengampunan) berujung pada nestapa karena layanan pemerintah yang kurang memadahi. “Api di KJRI Jedah” memcoba menjelaskan cerita di balik tragedi tersebut. Di akhir bab III, berusaha mengakabrkan kabar gembira tentang perjuangan panjang untuk ratifikasi konvensi buruh migran yang setelah 13 tahun akhirnya diratifikasi. Saya ingat, malam sebelum DPR mengesahkan dalam sidang paripurna, saya nyaris tidak bisa memejamkan mata, menangis bahagia, mengingat masa-masa bagaimana proses itu berlangsung dan jelang subuh, lahirlah tulisan “Jalan Panjang Ratifikasi” yang di muat harian Kompas pada tahun 2012.

Sampul Buku “Di Balik Remitansi” | No. ISBN 9786024811648 | Mei, 2019

Bab IV yang berjudul Mengembalikan Makna Perlindungan, berisikan lima tulisan saya;  Ada TKI di Sebrang Lautan, Bukan Sekedar Menambal Genteng Bocor, Perlindungan Tanpa Evaluasi, Mimpi Perlindungan TKI dan Arah Baru Perlindungan Buruh Migran Indonesia.

Dua artikel diantara lima tulisan dalam bab ini, yaitu  Bukan Sekedar Menambal Genteng Bocor dan Arah Baru Perlindungan Buruh Migran Indonesia membahas tentang lama dan berlikunya proses revisi UU Nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI. “Ibarat rumah, UU ini fondasinya rapuh, gentengnya bocor di sana sini dan terancam ambruk yang dapat membahayakan keselamatan penghuninya. Sehingga renovasinya tidak sekedar membenahi gentengnya yang bocor, tetapi harus dimulai dengan membangun kembali fondasinya yang kuat untuk menjadi sebuah rumah yang kokoh dan memberikan keamanan, kenyamanan dan keselamatan bagi penghuninya”. Itu adalah kutipan dalam tulisan Bukan sekedar menambal genteng bocor.

Memungkasi bab dalam buku ini, bab V tentang peran masyarakat dan daerah,  memberikan apreasiasi dan pesan bahwa dibalik sengkarut masalah buruh migran, sudah ada secercah cahaya dari desa, sebuah area dimana merupakan pintu pertama bagi buruh migran (DESBUMI) yang akan menginjak kaki keluar rumah untuk mengadu nasib ke negeri impian. Desa Peduli buruh migran yang mulai lahir pada tahun 2014 semakin menujukkan bahwa perlindungan sesungguhnya harus dimuali dari hulu. Inovasi itu juga akhirnya dilihat dan dicatat oleh pengambil kebijakan, sehingga dalam UU Nomor 18/2017 tentang perlindungan pekerjha migran Indonesia, desa dalam pasal 41 diberikan kewenangan untuk melindungi warganya dari bahaya trafficking dan kejahatan lainnya yang mengancam buruh migran. DESBUMI juga sudah di dengar oleh PBB, baik melalui laporan bayangan Migrant CARE yang dikirimkan pada saat sesi 27 komite Pekerja Migran PBB berlangsung di Geneva 5-6 September 2017 dan dibawa langsung oleh salah satu kades DESBUMI Dukuhdempok Jember ke Geneva pada sesi tersebut. Selain itu, pada bulan Maret 2018, saya juga berkesempatan menyampaikan DESBUMI dalam UN Migration Dialogue di Markas Besar PBB di New York.

Cerita-cerita itu dapat di baca dalam sub bab “Desentralisasi Perlindungan Buruh Migran”, “Dari Desa, Peduli Buruh Migran” dan  “Catatan untuk laporan PBB”.

Dua puisi yang merupakan epilog dalam buku ini; Buruh migran perempuan dan PRT itu adalah aku, merupakan puisi yang lahir karena dua situasi yang berbeda. Puisi “PRT itu adalah aku” lahir karena saya marah setelah menghadiri sebuah pertemuan dengan pemerintah dimana dalam pertemuan tersebut, pengambil kebijakan menyebut PRT migran sebagai babu dan ingin menghentikan mereka ke luar negeri karena banyak masalahnya. Sementara puisi “Buruh migran perempuan” adalah ekspresi dari kontradiksi kasus yang menimpa buruh migran seperti Ruyati, Ceriyati dll dengan ambisi ketua DPR yang punya drama bakpau dan akhirnya di beku KPK.

Selamat membaca. (*)

 

Continue Reading

Journal

Gunawan Wiradi: Konsepsi Tentang Ilmu dalam Penelitian Masalah Agraria

mm

Published

on

“Ilmu (science) bukanlah masalah isi pengetahuan itu sendiri, melainkan suatu ‘metode pendekatan’, yaitu metode yang menghasilkan temuan yang dapat diuji kebenarannya, melalui penelitian.”

___

Oleh: DrHC. Ir. Gunawan Wiradi M.Sos.Sc

Di dalam membicarakan konsepsi tentang ilmu, maka sekedar sebagai titik tolak, akan disampaikan pandangan yang berasal dari aliran positivisme. Menurut kaum positivist, ilmu merupakan usaha untuk memperoleh bangunan pengetahuan yang dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena di dunia ini. Untuk itu, harus disusun teori-teori, yaitu pernyataan-pernyataan yang sangat umum sifatnya mengenai keteraturan hubungan-hubungan segala yang terdapat di dunia ini, yang memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena yang kita temukan melalui observasi dan eksperimen secara sistematis (Keat and Urry, 1980: 4).

Tujuan ilmu adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul sebagai akibat dari adanya “puzzles” (kejutan, keterheranan) yang dihadapi manusia (Kuhn, 1970). Dengan kalimat lain, tujuan ilmu adalah mencari kebenaran (truth), dalam hal ini adalah kebenaran ilmiah. Adapun yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah adalah kebenaran obyektif-positif, bukan kebenaran normatif. Jadi, bukan masalah right or wrong, tetapi masalah true or false. Untuk ini, semua kegiatan ilmiah dalam rangka mencari kebenaran dalam arti ini haruslah didasarkan pada suatu sikap berpikir secara ilmiah (scientific attitude of mind), dan bukan pada sikap dogmatis, misalnya.

Ada beberapa prinsip di kalangan ilmuwan yang biasanya dijadikan pegangan di dalam bersikap ilmiah ini, walaupun di antara prinsip-prinsip itu ada yang masih selalu menjadi perdebatan di antara mereka, bahkan memecah para ilmuwan menjadi dua atau lebih kelompok-kelompok yang saling silang pendapat atau sikap. Beberapa prinsip itu adalah sebagai berikut (Bierstedt, 1970):

  1. Obyektivitas (tetap menjadi debat, terutama secara filsafat).
  2. Netralitas etik atau “bebas nilai” (tetap menjadi debat, bahkan dalam hal ini ilmuwan terbelah menjadi dua kelompok).
  3. Relativisme, yakni bahwa “kebenaran ilmiah” itu sifatnya sementara. Artinya, sesuatu itu dianggap benar (setelah diuji dengan metode ilmiah), sepanjang belum ada bukti-bukti ilmiah yang lain uang membantahnya.
  4. Parsimony, maksudnya adalah “hemat” atau “secukupnya”. Artinya, cara menguraikan sesuatu itu jangan sampai berlebihan. Ini bukan soal panjang pendeknya uraian, melainkan bahwa menguraikannya jangan melebihi yang diperlukan.
  5. Skepstisime, maksudnya suatu sikap kritis, dengan selalu bertanya “benarkah begini”, “salahkah begitu”, “mengapa”, dan seterusnya.
  6. Kerendahan hati (humility).

Selain berpijak pada prinsip-prinsip sikap ilmiah di atas, kebenaran ilmiah lebih lanjut juga didasarkan atas kriteria tertentu. Ada berbagai teori tentang kriteria kebenaran ilmiah ini, tetapi pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua teori; dan pada umumnya kedua-duanya ini adalah aturan yang harus ditaati oleh semua cabang ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi.

Teori Koherensi. Kriterium koherensi menyatakan bahwa “sesuatu pernyataan itu dianggap benar apabila pernyataan itu ‘koheren’ dan konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar”. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa sumber kebenaran adalah rasio (reason). Pola pikir yang demikian ini biasa disebut sebagai pola deduktif-rasional.

Teori Korespondensi. Teori ini menyatakan bahwa “suatu pernyataan itu dianggap benar apabila materi yang dikandung oleh pernyataan itu ‘bersesuaian’ (corresponds) dengan obyek faktual yang dituju oleh pernyataan itu”. Artinya, isi pernyataan itu harus mempunyai manifestasi empiris (artinya, bersifat nyata dalam pengalaman atau pengamatan). Di sini yang dianggap sebagai sumber kebenaran adalah fakta. Pola berfikir ini bersifat induktif-empiris (faktual).

*) Gunawan Wiradi, adalah pakar politik agraria indonesia, Guru Besar IPB dan penasihat di berbagai organisasi penelitian dan jurnal.

Unduh Makalah Lengkpanya di sini 

Continue Reading

Buku

Memungut Welas Asih dari “The Adventures of Huckleberry Finn”  karya Mark Twain

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Sosok Finn istimewa karena ia digambarkan sebagai cerdik yang kemampuannya menggunakan akal begitu menonjol.Dia digambarkan selalu menggugat sesuatu yang tidak masuk akal buat dia. Misalnya suatu hari keluarga angkatnya, janda Douglas mengeluarkan buku dan mengajari Finn tentang Musa dan pengrajin rotan. Tubuh Finn mengucurkan keringat dingin karena ia takut bertemu dengan Musa. Janda Douglas kemudian mengatakan bahwa Musa telah lama mati. Finn lalu tak takut lagi karena dia tidak percaya kepada orang yang sudah mati.

Sementara Tom Sawyer sendiri identik dengan heroisme. Dia digambarkan ingin mengumpulkan semua budak, mengajak mereka berdansa, dan mengaraknya ke kota dengan iringan kelompok musik tiup. Dengan begitu dia akan menjadi pahlawan.

Mereka berdua sahabat karib yang tidak tahan berada di rumah. Mereka gemar berpetualang ke hutan, menyusuri lembah, berkumpul di gua, dan bermain-main.

“Aku merasa sangat kesepian dan nyaris berharap mati saja. Bintang-bintang berkilauan di langit, dan desau daun-daun di hutan terdengar begitu memilukan. Aku mendengar suara burung hantu di kejauhan, mengabarkan ada seseorang yang sedang mendekati ajalnya,” kata Finn.

Dia anak yang malang. Ayahnya suka memukuli Finn dalam kondisi mabuk berat. Finn terbiasa hidup susah dengan pakaian compang camping, penuh lumpur. Janda Douglas kemudian menjadi keluarga angkatnya. Dia tak tahan dikurung dan aturan rumah keluarga angkatnya.

Finn suka mengendap-endap keluar rumah menemui Tom. Suatu hari Tom mengajaknya pergi ke gua bersama rombongan anak-anak lainnya. Mereka merencanakan merampok orang-orang, menjarah barang-barang berharga, dan membunuh orang yang dirampok. Tentu saja ini cuma main-main.

Di dalam gua, mereka membikin janji sumpah setia sebuah geng berandalan. Melukai tangan dengan peniti lalu menggoreskan darah sebagai bentuk sumpah setia geng. Ketua geng si Tom Sawyer.

Kenakalan-kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Suatu hari mereka ingin berpetualang menggunakan rakit menyusuri sungai Mississippi bersama budak Jim.

Tapi, Jim budak yang dirantai oleh tuannya. Sebagian orang ingin menggantungnya untuk dijadikan contoh buat semua budak agar tidak coba-coba melarikan diri. Orang-orang memaki Jim sebagai tawanan. Tapi, Jim tidak membalas sedikitpun.

Tom dan Finn berusaha membebaskan Jim. Merencanakan pelarian Jim. “Mereka tak berhak mengurung dia. Bertindaklah, jangan buang-buang waktu lagi. Bebaskan dia. Dia bukan budak, dia bebas seperti makhluk lain yang hidup di atas bumi,” kata Tom.

The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain

Finn lalu berusaha membebaskan Jim. Alasan dia ingin membebaskan Jim karena ingin berpetualang bersama Jim di atas rakit menyusuri sungai Mississippi.

Jim dikurung di sebuah pondok dengan rantai pada pergelangan kakinya yang terluka dan nyaris membusuk. Finn mencuri kunci rantai. Mereka lari dikejar sejumlah orang dan anjing.

Finn yang tengil kemudian menyuruh Jimm melepas bajunya. Dia mengalihkan perhatian anjing pengendus. Sedangkan Jim berenang ke tengah sungai. Finn menaruh baju Jim di semak-semak. Dia memanjat pohon.

Jim bebas. Suatu hari Tom mengajak Finn pergi berpetualang. Tapi, Finn sedang memikirkan ayahnya yang menghabiskan uangnya untuk mabuk-mabukan. Kepada Finn, Jim berkata ayah Finn tidak akan kembali (mati).

“Kau ingat rumah yang hanyut di sungai itu, yang di dalamnya ada seorang laki-laki terjebak? Waktu itu aku masuk untuk melihatnya dan melarangmu ikut masuk,” kata Jim.

*

Apa yang terjadi berikutnya? Mereka merantai kedua tangan dan kakinya. Setelah kejadian itu, mereka bilang Jim hanya akan mendapatkan roti dan air hingga majikannya datang. Dia akan dijual ke pelelangan jika majikannya tidak datang dalam kurun waktu tertentu.

Kutipan yang ada dalam dua bab terakhir “The Adventures of Huckleberry Finn” itu karangan sastrawan penting Amerika Serikat Mark Twain. Karya sastra modern yang diterbitkan pertama kali pada 1884. Usia karya yang berkali-kali difilmkan itu sekarang 135 tahun.

Novel penuh petualangan seru bocah bandel ini berlatar perang sipil Amerika Serikat tahun 1860. Perbudakan, rasisme, segregasi kulit putih dan kulit hitam merajalela. Tragedi kemanusian yang mengerikan.

Mark Twain adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens, yang meninggal pada 1910 dalam usia 74 tahun. Dia dilahirkan sebagai anak dengan kondisi tubuh yang lemah. Ayah Mark Twain meninggal karena pneumonia saat dia berumur 13 tahun. Mark Twain meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di bidang percetakan.

“The Adventures of Huckleberry Finn” tak lepas dari karya lainnya berjudul “The Adventures of Tom Sawyer”. Keduanya saling bertautan, mengisahkan dua bocah panjang akal dan karenanya mungkin “bandel”. Finn yang istimewa karena akalnya, dan Tom yang heroik.

*

Karya ini membawa pesan mendalam tentang persahabatan Finn dengan budak Jim, pencarian kebebasan, dan melawan prasangka rasial. Saya ingin menekankan soal rasialisme yang kini jadi masalah kemanusian akut. Saya teringat beberapa masalah berlatar rasialisme yang menghentak jagad mental kewargaan kita akhir-akhir ini. Di Yogyakarta misalnya, praktik rasialisme gagah menjulang di tengah yogya yang damai dan istimewa.

Hanya gara-gara beragama Katolik, seorang seniman ditolak mengontrak di sebuah kampung dengan aturan hanya Muslim yang bisa tinggal di kampung itu. Alasannya kearifan lokal. Belum lagi masalah yang terjadi sebelumnya, nisan bersimbol Katolik dipotong dengan alasan itu kuburan kampung Muslim. Rasialisme lainnya juga menimpa orang-orang yang dianggap separatis (Papua Barat) dan orang-orang yang dilabeli sebagai preman. Betapa mudah menjalar rasialisme seperti urat syaraf manusia yang tak putus.

Dari The Adventures of Huckleberry Finn, kita bisa belajar kepada bocah yang sekuat tenaga melawan prasangka rasial dan arti kemanusiaan. Finn bocah bandel, miskin, gembel, pemberontak, tidak menyukai dunia sekolah, tapi pintar, dan suka menolong. Dia patut jadi inspirasi buat orang-orang dewasa untuk keberaniannya menolak rasisme. Kapan terakhir kita belajar dari dunia kanak-kanak yang bebas dan begitu tulus pada rasa kasih kemanusiaan?

Oh ya di negeri Abang Sam, karya ini sempat dilarang di sekolah-sekolah karena kritiknya terhadap situasi sosial negeri itu. (*)

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending